
__________________
Assalamualaikum bunda :
Sean mengucap salam
Wa'alaikum salam , ini siapa :
Adinda bertanya
Ini Sean , Sean inzin pulang agak telat ya Bun , kami mau ke rumah temen :
Sean meminta izin
Mau ngapain :
Adinda bertanya
Kerja kelompok buat struktur organisasi kelas Bun , harus selesai besok :
Sean menjelaskan
Di rumah siapa :
Adinda bertanya
Di rumahnya em..... Julius bunda :
Sean menjawab setelah di berikan catatan nama si senior gendut oleh Sean
Teman mu kan :
Adinda memastikan
Kakak kelas Bun , dia bantu kami nanti :
Sean menjawab
Pulang jam berapa :
Suara adinda mengecil
Mungkin agak sore :
Sean menjawab
Jangan pulang malam lho ya :
Suara Sbastian keluar dari telpon
Papa dah pulang :
Sean terkejut
Bunda sama Aniel lagi di kantor papa :
Sbastian menjawab
Oke deh pa :
Sean mengiyakan
Langsung pulang nanti :
Sbastian mengingatkan
Iya papa :
Sean menjawab
______________
*Tuuut
Telfon langsung tidak terkontak
" Pasti mau wawe "
Sean menyipitkan matanya malas
" Aku siap "
Adimas keluar
" Hahaha "
Sean tertawa melihat Adimas yang terlihat sangat cocok dengan sweater yang dia berikan
" Kenapa "
Adimas memiringkan kepalanya
" Ayo deh "
Sean berdiri
Sean turun menuju lantai bawah bersama Adimas di ikuti Mao dan Aloe
Setelah sampai di lantai dasar , Sean bergegas menuju lobi kantor dengan tergesa-gesa
*Brak
Tidak sengaja Sean menabrak seseorang hingga kopi yang pria itu bawa tumpah semua ke bajunya
" Astaga.... "
Terlihat pria itu langsung saja mengelap jas dan kemejanya menggunakan tangannya
" Maaf saya tidak sengaja "
Sean mengelap Hoodie miliknya yang juga terkena sedikit percikan kopi
" Hei kamu "
Pria itu memanggil Sean
" Apa kamu tidak lihat pakaian saya yang mahal ini terkena kopi "
Pria itu geram lantaran Sean tidak melihat pakaiannya sama sekali
" Apa maksud anda... Saya sudah meminta maaf , dan saya akan mengganti kerugian anda"
Sean menjawab dengan sopan
" Jas ini seharga gedung ini , dan kamu ngak akan bisa ganti jas ini "
Seorang wanita berpenampilan terbuka merangkul lengan si laki-laki
" Saya akan ganti , tapi maaf saya buru-buru jadi saya permisi "
Sean berjalan melewati rombongan aneh di depannya
" Tunggu "
Pria itu memegang pundak Sean
" Kamu harus menggantinya , lagi pula apa apaan pakaianmu ini , wajahmu itu terlihat seperti staf OB , kamu magang ya "
Laki-laki itu menebak
" DIMANA KEPALA OB , SURUH KESINI "
Pria itu berteriak
" Memangnya anda siapa "
Sean bertanya dengan tidak suka
" Aku ini manager keuangan di sini , kau yang anak magang seharusnya lebih hormat kepadaku"
Pria itu terlihat sombong
" Manager.... Dimana manager sebelumnya"
Sean bertanya
" Nyonya manager sebelumnya sedang cuti hamil , jadi sebentar lagi nyonya manager akan melahirkan "
Mao menjawab
" Oh.... Lalu wanita ini "
Sean memaksudkan wanita seksi di depannya
" ekhem... Saya kurang tahu "
Mao menjawab
" Dimana Diablo "
Sean sedikit mengeraskan suaranya
" Apa apaan kamu berani memanggil tuan Diablo dengan namanya "
Pria itu menyentak Sean
" DIABLO... DIABLO... KEMARI SEKARANG"
Sean berteriak lantaran kesal dengan orang di depannya
" Kurang ajar "
*Plak
Wanita seksi itu menampar Sean kuat-kuat
" Sean "
Adimas memegang pundak Sean yang terlihat bergetar
" SIAPA YANG MENERIMA MEREKA... DIABLO... MATTY... TURUN SEKARANG!! "
Suara Sean benar-benar menggema di ruangan yang hening
" APA APAAN KAMU ANAK KECIL... KALAU KAMU MASIH MAU BEKERJA DI SINI LEBIH BAIK DIAM LAGI PUN KAMU..bla..bla... "
Wanita seksi itu mencaci Sean dengan berbagai kalimat yang di larang di ucapkan di hadapan Sean yang sedang marah
" DIAM TUAN LAKSAMANA "
Suara Diablo menggema dari lift yang baru terbuka
" Tuan Diablo.... Anak ini kurang ajar di sini , dia menyebut nama anda tanpa sebutan tuan"
Pria itu membela dirinya
" Iya tuan , dia kan hanya staf OB , dia menumpahkan kopi di pakaian manager dan dia bilang akan bertanggung jawab , padahal kerja kerasnya seumur hidup tidak akan bisa membeli jas ini "
Wanita seksi itu ikut ikutan menjelekkan Sean dengan nada manja
" Siapa laki-laki ini Diablo "
Sean bertanya tanpa menatap Diablo
" I..itu... dia manager keuangan "
Diablo menjawab dengan nada bergetar
" Lalu wanita ini "
Sean bertanya kembali
" Wakil manager keuangan "
Diablo menjawab
" Siapa yang menerima mereka "
Sean melepas Hoodie miliknya dan hanya menyisakan kaos oblong putih
*Glup
Diablo menelan ludahnya kasar dan tidak berani menatap Sean sama sekali
" S..saya "
Diablo menjawab
" Fifeteen trust ada di sini , sedang apa kalian"
Sean memperhatikan noda di Hoodie miliknya
" Kami sedang rapat tuan "
Diablo menjawab
" Seingatku aku menerapkan aturan berpakaian untuk pegawai perempuan "
Sean memperhatikan noda di hoodinya yang sepertinya tidak akan hilang
" Saya yang bertanggung jawab "
Matty maju ke depan
" Lalu sudahkan itu di terapkan "
Sean melirik Matty
" Saya siap di hukum "
Matty membungkuk seratus delapan puluh derajat
" JIKA ORANG-ORANG SEPERTI INI TIDAK BISA MENGHORMATI KU , BAGAIMANA BISA DIA MENGHORMATI ORANG LAIN YANG MENJADI TAMU "
Sean berteriak di hadapan Diablo
" Kami siap di hukum "
Diablo dan Matty berbicara secara bersamaan
" AKU MENYERAHKAN TANGGUNG JAWAB KARYAWAN PADAMU , JIKA KAU INGIN DI PENGGAL KATAKAN SAJA DIABLO "
Sean benar-benar berteriak hingga telinga Adimas terasa sakit
" AMIR DIABLO RASYA... AKU MEMECATMU"
Sean menunjuk Diablo dengan jarinya
*Deg
Diablo terkejut begitu pula dengan para fifeteen trust lainnya
*Bruk
Semua fifeteen trust berlutut di hadapan Sean
" Saya mohon pertimbangan lagi tuan "
Fifeteen trust memohon
" Maafkan saya tuan "
Diablo membungkuk dengan sedalam-dalamnya hingga membuat keningnya menyentuh lantai
" Saya mohon tuan , pertimbangkan lagi "
Fifeteen trust yang lain menangkupkan kedua tangannya
" Tuan... Anda tidak boleh gegabah seperti ini , tuan Diablo adalah orang yang telah bersama anda sejak awal karir anda di mulai"
Mao mengingatkan
"Ugh... "
Sean memegangi kepalanya dan sedikit terhuyung
" Tuan "
Diablo dan Mao spontan menyangga Sean
" Kamu di hukum , renungkan semua kesalahanmu "
Sean berbicara dengan nada lembut
" Terimakasih banyak tuan "
Diablo terlihat terharu
" Ayo Mao , aku lapar "
Sean menegakkan dirinya dan berjalan di bantu Mao dan Adimas
" Kamu jangan gitu lagi , kasihan mereka "
Adimas mengomeli Sean sepanjang jalan hingga keluar dari kantor
" Syukurlah"
Diablo mengelus dadanya lega
" Huhu Diablo , aku takut "
Seilla , Ariana , Matty , Rena dan Alisya memeluk Diablo hingga menitikkan air mata
" Aku takut jika tuan benar-benar memecatku"
Diablo menghela nafas lega
" Jika tuan memecat kita , aku yakin kesalahannya benar-benar besar dan tidak bisa di maafkan "
Lucas menepuk pundak Diablo
" Kupluk tuan terjatuh "
Yulias sadar akan kupluk Sean
" Astaga , aku akan mengembalikannya "
Diablo mengambil kupluk Sean dan berlari keluar
" Meski tuan sakit , power tuan benar-benar besar "
Para fifeteen trust kagum
" Kalian berdua akan aku turunkan jabatan kalian , dan tugas lembur satu bulan kedepan akan kalian kerjakan "
Matty memperingatkan kedua manusia yang masih teronggok di sana
" LUPAKAN AMARAH TUAN HARI INI , ANGGAP SAJA KITA SEMUA BERUNTUNG , KEMBALILAH BEKERJA "
__ADS_1
Lucas memerintahkan kepada para karyawan
" Baik tuan "
Para karyawan kembali bekerja
" Tapi nona , kami tidak bersalah "
Pria itu memegang tangan Matty
" Jangan sentuh dia "
Mizaeil mencengkram erat lengan pria itu yang bernama Laksamana
"Ugh.. sialan "
Laksamana membatin
" Sakit sekali "
Laksamana menggumam
" Tapi kami memang tidak bersalah , kami hanya memberi pelajaran kepada anak itu"
Wanita seksi itu membela kekasihnya
" CUKUP... KALIAN DI PECAT "
Matty memberi keputusan
" Tapi nona apa salah kami...bla..bla.."
Kedua manusia itu tidak terima
" SERET MEREKA "
Aldo memerintahkan dan masuklah dua satpam dan segera saja ruangan kembali hening
Di dalam mobil
" Kita pulang aja ya "
Adimas menyentuh kening Sean dan terasa hangat di sana
" Sean cuma butuh makan siang "
Sean menyisihkan tangan Adimas
" Tapi kamu sakit "
Adimas menatap Sean iba
" Ngak papa kak "
Sean memejamkan matanya
" Gimana ya tadi orang yang kamu bentak "
Adimas terlihat gelisah
" Kasihan dia , terus yang lain yang kamu marahi tadi gimana , pasti mereka sedih "
Adimas mengerucutkan bibirnya
" Mulai sekarang kakak jangan terlalu kasihan ya sama orang , tidak semua orang perlu di kasihani "
Sean menasehati
" Tapi Sean "
Adimas mengelak
" Kakak emang persis sama papa "
Sean mengalihkan wajahnya
" Hahahaha anda selalu begitu saat di marahi"
Mao dan Aloe tertawa
" Aku tidak suka tau "
Sean mendengus kesal
Setelah sampai di rumah makan , Sean segera mengisi perutnya yang kosong sekalian membeli beberapa barang untuk di bawa ke rumah senior
" Kapan sampainya "
Sean bertanya
" Tinggal melewati komplek di depan dan kita sampai "
Mao memberitahu
" Hm.... "
Sean terlihat berfikir
" Kaka lihat rumah itu "
Sean menunjuk sebuah rumah mewah yang telah terlewati
" Rumah dengan air mancur itu "
Adimas melihatnya
" Iya... Itu rumah atas nama mutiara "
Sean membuat Adimas terkejut
" Serius "
Adimas tercengang
" Ya... Dan lihat rumah itu "
Sean menunjuk sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas dan terlihat rumah di sana seperti sebuah gubuk di tengah sawah.... Maksudku sangat kecil padahal besar
" Iya "
Adimas mengangguk
" Itu atas nama Alinda "
Sean membuat Adimas sekembali terkejut
" Tunggu... Papa belikan itu untuk Alinda "
Adimas bertanya
" Itu Sean yang siapkan , rumah Mutia yang tadi juga "
Sean membenarkan
" Serius "
Adimas tidak percaya
" Itu untuk masa depan mereka "
Sean mengangguk
" Jangan kasih tau mereka ya "
*Tup
Sean menutup mulut menganga Adimas
" Kenapa "
Adimas memiringkan kepalanya
" Itu kejutan "
Sean tersenyum
" Ugh... Kamu suka rahasia rahasiaan "
Adimas mendengus kesal
" Aku ngak suka nyimpen rahasia "
Adimas melipat tangannya di atas dada
" Ini pelajaran pertama untuk kakak , jika kakak sudah bisa menyimpan rahasia ini , nanti akan Sean akan tingkatkan mapel nya"
Sean mengetuk kening Adimas
" Buat apa sih "
Adimas terlihat kesal
" Terkadang ada sesuatu yang lebih baik di sembunyikan "
Sean tersenyum
" Aku benci rahasia aaarrrgggg.... "
Adimas berteriak kesal
" Hahahaha "
Sean tertawa
Adimas memalingkan wajahnya
" Ingat ya kak , rahasia rumah tadi tidak boleh di ceritakan kepada siapapun , hanya kita berdua yang tau "
Sean membuat Adimas menoleh
" Tapi mereka berdua "
Adimas menunjuk dua orang di depan
" Kalian dengar apa "
Sean bertanya
" Kami dari tadi mengobrol tuan , jadi tidak mendengarkan percakapan tuan "
Mao menjawab
" Kamu terlalu menggunakan kuasamu "
Adimas terlihat kesal
" Hahaha kakak akan tau nanti "
Sean terkekeh kecil
" Sudah sampai tuan "
Mao memberitahu
" Ingat kak , ini ujiannya... Kakak harus memperhatikan semua hal yang janggal di sana... Kakak ngerti "
Sean bertanya
" Hal yang janggal... Ok "
Adimas mengangguk
" Ah.. ayo turun "
Sean mengambil jas kantor cadangannya dan turun di ikuti Adimas
Terlihat beberapa orang berdiri di depan pintu utama rumah
" Kita tadi lewat gerbang "
Adimas tidak sadar
" Iya "
Sean mengangguk
" Selamat datang tuan "
Tuan Juan menyapa
" Selamat pagi tuan Juan "
Sean tersenyum
" Ini saya ada bawa sedikit oleh-oleh "
Sean mengambil satu parsel dari tangan Mao
" Anda terlalu repot tuan "
Tuan Juan menerima dengan senang hati
" Mari masuk tuan "
Tuan Juan mempersilahkan
" Terimakasih "
Sean masuk mengikuti tuan Juan dan keluarganya
" Ini rumah yang berdiri berkat anda yang baik hati dan pemurah "
Tuan Juan menyamakan langkahnya dengan Sean
" Benarkah "
Sean memperhatikan sekeliling dan terlihat banyak barang mewah di sana
" Iya tuan , awalnya saya kira anda itu sudah berusia , tetapi ternyata anda masih sangat muda "
Tuan Juan memuji Sean
" Anda itu sangat baik dan tampan , sehingga keluarga saya berterimakasih kepada anda...bla..bla..bla.. "
Tuan Juan terus terusan memberi pujian untuk Sean berharap Sean akan luluh dengan pujiannya
" Dimana Julius "
Sean bertanya
" Ah... Itu tadi putra bodoh saya berkelahi di sekolahan , jadi sekarang dia sedang istirahat"
Tuan Juan menjelekkan putranya sendiri
" Memangnya berkelahi dengan siapa "
Sean bertanya
" Saya dengar dari putra bodoh saya bahwa yang memukulnya itu badannya kecil namun tinggi dan dia baru kelas satu SMP"
Tuan Juan memberitahu semua yang di ceritakan Julius
" Oh... "
Sean ber oh ria
" Ah iya tuan , saya memiliki satu permintaan "
Tuan Juan duduk di hadapan Sean yang sudah duduk di atas sofa
" Apa itu "
Sean menyeruput secangkir kopi yang di sediakan
" Bisakah anda menandatangani kontrak ini"
Tuan Juan mengajukan selembar kertas
" Hm.... "
Sean mengambil kertas yang ada di atas meja dan membacanya dengan seksama
" Seribu pujian untuk sebuah tanda tangan , sangat bodoh "
Sean membatin
" Apa ini tuan "
Sean membacanya kembali seolah dirinya tidak mengerti
" Sepertinya tuan muda ini tidak tau ada jebakan di sana"
Tuan Juan membatin dan terlihat senang
" Ah... Itu hanya persetujuan proyek tahun ini , saya membutuhkan tanda tangan anda saat ini
" Hm.... Berikan aku bulpoin "
Sean meminta
" Ah iya... Ambilkan "
Tuan Juan memerintahkan putri kecilnya
" Iya "
Putri kecil itu berlari masuk ke dalam suatu ruangan
" Pelmisi "
Terlihat seorang anak perempuan yang kira-kira usianya seperti Aniel menghampiri dengan membawa beberapa cemilan dengan pakaian maid
" Wah.. gadis cantik... Rajin sekali kamu , namamu siapa sayang "
Sean bertanya
" Ca..Camelia "
Gadis itu menjawab
" Nama yang cantik , siapa yang memberikanmu nama "
Sean bertanya
" Aya...ah... Maksud saya kakak saya "
Gadis itu tergagap
" Pergilah , kakakmu memanggil "
__ADS_1
Tuan Juan memerintahkan gadis kecil itu dan memang terlihat seorang maid yang lebih dewasa berdiri di balik tembok
" Siapa dia tuan "
Sean bertanya
" Ada seorang pelayan yang memiliki adik kecil , saat bekerja dia di bawa ke sini beberapa hari yang lalu , jadi saya suruh dia menginap karena putri kecil saya ingin teman bermain "
Tuan Juan menjawab
" Oh begitu "
Sean mengangguk
" Ini bulpoinnya ayah "
Gadis kecil itu kembali dengan berlari dan langsung memberikan bulpoinnya
" Terima kasih kecil "
Sean tersenyum
" Sama-sama "
Gadis kecil itu menjawab dengan malu-malu
" Oh iya , saya dengar nona kecil akan di kirim ke asrama "
Sean menuliskan sesuatu di atas kertasnya
" Iya tuan , saya akan mengirimnya esok , agar dia menjadi pintar dan bisa menjadi penerus saya nanti "
Tuan Juan mengangguk
" Hm... Hebat sekali "
Sean tersenyum
" Makasih "
Gadis kecil itu tersenyum malu
" Anda bacalah dulu , lalu nanti anda bisa memberitahu jika ada yang salah "
Sean memberikan berkas yang sudah dia coret-coret
" Jika besok kamu ke asrama , jadi gadis kecil itu akan kesepian dong "
Sean memperhatikan putri kecil tuan Juan
" Dia akan pulang nanti , dia akan pulang ke rumahnya "
Putri tuan Juan menjawab dengan nada agak kasar
" Ekhem... "
Tuan Juan berdehem kecil
" M..maksud saya dia tidak akan kesepian , karena dia akan menemui ayah dan ibunya"
Putri kecil tuan Juan menjawab dengan malu-malu
" Hm.... Baiklah "
Sean tersenyum kecil
" Saya sepakat tuan "
Tuan Juan mengembalikan kertasnya
Setelah beberapa waktu akhirnya TTD sudah selesai dengan beberapa percakapan
" Kami kembali "
Sean berdiri di ikuti Adimas
Sean berjalan menuju pintu masuk dengan sedikit obrolan
" Sean... "
Adimas memanggil
" Hm.. "
Sean menoleh
" Kenapa anaknya yang laki-laki ngak keluar ya"
Adimas penasaran
" Hm.... Dia lagi jalan-jalan mungkin"
Sean berbisik
" Katanya istirahat "
Adimas mengerenyitkan keningnya
" Hahaha "
Sean tertawa
" Kalau begitu kami pamit tuan "
Sean menjabat tangan tuan Juan dan masuk ke dalam mobil
" Hati
" Hm.... Gadis itu terlihat aneh "
Sean memperhatikan di sudut rumah , gadis kecil tadi memperhatikan dengan derai air mata
" Hm.... Berhenti "
Sean memerintahkan dan mobil berhenti tepat di tengah gerbang
*Blak
Sean keluar dari mobil
" Ada apa tuan "
Tuan Juan segera menghampiri
" Apa aku boleh membawa gadis kecil yang tadi menjadi pelayan , karena di rumahku ada anak kecil di sana , jadi aku pikir dia akan senang "
Sean meminta
" Ah... Tentu tentu , sayang siapkan anak itu"
Tuan Juan memerintahkan
" Mari duduk dulu di dalam "
Tuan Juan mempersilahkan Sean
" Kenapa "
Adimas turun menghampiri Sean
" Tunggu kak , Sean mau bawa sesuatu "
Sean berjalan masuk di ikuti Adimas
" Silahkan duduk tuan "
Tuan Juan mempersilahkan
" Ah iya terimakasih "
Sean duduk dengan tenang
" Tuan "
Mao mendekat
" Iya "
Sean menoleh
" Tuan apa anda yakin "
Mao berbisik
" Cari kupu-kupunya "
Sean berbisik
" Baik "
Mao berjalan keluar
Setelah beberapa saat di temani obrolan dan beberapa perjanjian kembali , akhirnya dua anak keluar dari dalam
" Ini adalah kakak dari Camelia "
Tuan Juan memperkenalkan seorang gadis yang masih kecil juga
" Baiklah kalau begitu saya pamit "
Sean berdiri di ikuti Adimas
" Ayo nona muda "
Sean berjalan keluar di ikuti Adimas dan kedua pelayan baru itu
" Ayo masuk "
Sean membuka pintu mobil dan kursi mobil
" Kalian duduklah di belakang "
Sean membantu kedua anak perempuan itu membawa barang-barangnya
" Tuan "
Mao kembali
" Bagaimana "
Sean menutup kembali pintu
" Untuk beberapa hal sudah saya periksa , sisanya saya akan hubungi tuan Diablo nanti "
Mao menjawab
" Saya benar-benar berterimakasih kepada anda karena sudah berbaik hati mau menampung mereka , Anda benar-benar malaikat berhati emas "
Tuan Juan sedikit membungkuk
" Kalau begitu saya permisi "
Sean menjabat tangan tuan Juan dan istrinya
" Sampai jumpa kecil "
Sean mengusap kepala putri kecil tuan Juan
" Iya "
Gadis kecil itu tersenyum malu
" Ayo "
Sean masuk ke dalam mobil dan terlihat Adimas terus memandangi gadis kecil di belakang
" Kita ngak ketemu sama anak itu "
Adimas berkata dengan kecewa
" Ya... Seperti yang Sean bilang , dia tidak di rumah "
Sean memakai set belt nya
" Tapi kata ayahnya dia tidak bisa datang karena hidungnya berdarah "
Adimas mendengus kesal
" Apa kakak sudah melakukan tugas yang Sean berikan "
Sean bertanya
" Sudah... Di sana sangat aneh , jangan bawa aku kesana lagi tau "
Adimas terlihat kesal
" Memang hahaha "
Sean tertawa
" Tuan muda Adimas , sebenarnya tuan tadi adalah seorang penjilat berbakat yang sudah terkenal "
Mao menjawab
" Penjilat "
Adimas membayangkan bahwa tuan Juan seperti seekor anjing yang menjilati tulang
" Bukan penjilat seperti itu kakak "
Sean menyadarkan
" Nah Camelia , ini ada permen untukmu "
Sean memberikan setoples permen
" Terimakasih "
Anak perempuan yang lebih besar menerima toples permen yang di berikan
" Siapa namamu "
Sean bertanya
" Saya Kanesya namun saya lebih sering di panggil nesa "
Anak yang lebih besar menjawab
" Baiklah , rumah kalian di mana "
Sean bertanya
*Deg
Kanesya terkejut
" Kak "
Si kecil Camelia mengguncang lengan kakaknya
" Ah iya , saya tidak memiliki rumah , karena itu ayah... Maksud saya tuan Juan membawa saya ke rumahnya "
Kanesya menjawab dengan gelagapan
" Dimana orang tuamu "
Sean bertanya kembali
" Ibu sudah tiada saat Camelia hadir , dan ayah saya... "
Kalimat Kanesya berhenti
" Tidak usah di jawab kalau kamu keberatan"
Adimas membuat Kanesya terkejut
" Ah maaf "
Kanesya menunduk
" Baiklah Kanesya , kamu akan aku bawa pulang ke rumahku "
Sean memberitahu
" Apa papa dan bunda ngebolehin "
Adimas bertanya
" Ke rumah Sean kak , bukan ke rumah papa"
Sean tersenyum
" Hah ?? "
Adimas masing bingung
" Mao "
Sean memanggil
" Baik tuan "
Mao mengangguk
" Rahasiakan ya kakak "
Sean tersenyum polos
" Tch... Selalu saja "
Adimas mendengus kesal
" Oh ya , kamu sekarang usianya berapa "
Sean bertanya
" Saya empat mau lima "
Camelia menjawab senyuman manis
" Saya delapan tahun "
Kanesya menjawab
" Kamu sekolah Nesa "
Sean bertanya
" Tidak tuan "
__ADS_1
Kanesya menjawab