
" Bangun yuk , kita sarapan "
Sean duduk di samping Aniel
" Aniel "
Sean menepuk pipi Aniel
" Cantik ayo bangun sayang "
Sean menutup lubang hidung Aniel
" Aaaaaa kakaaaak "
Aniel menyingkirkan tangan Sean dan kembali tidur
" Kalau tidak bangun nanti kakak ngak akan tungguin Aniel sarapan lho ya "
Sean mengancam
" Nanti sama bunda "
Aniel menolak
" Astaga sayang , ayo bangun "
Sean mendudukkan Aniel
" Ngak mau "
Aniel memukul tangan Sean
" Ayo Aniel "
Sean mengusap wajah Aniel
" Ngaaaaaak bundaaaa "
Aniel berontak
" Ya udah "
Sean meletakkan kembali Aniel
" Ayo Mao kita turun "
Sean menutup kembali wajah Aniel
" Minta key kesini "
Sean menutup pintu kamar Aniel
" Baik tuan "
Mao mengangguk
Sean turun ke bawah dan terlihat salah satu maid tergesa-gesa datang
" Tuan , ada banyak orang yang mencari anda di ruang tamu "
Maid itu memberitahu
" Berapa orang "
Sean berlari turun di ikuti si maid
" Saya tidak menghitung "
Maid itu mengikuti langkah Sean
" Salam tuan "
Key memberi salam
" Langsung naik aja , jaga Aniel dan minta Mao turun
Sean berbicara namun masih berjalan turun
" Baik tuan "
Key berjalan naik
" Salam tuan "
Orang orang di sana memberi salam
" Ada apa kalian kesini "
Sean menghampiri
" Kami mau berbicara dengan Anda saja "
Mereka meminta
" Kenapa ini "
Sbastian dan lainnya datang
" Ngak kenapa-kenapa , mereka cuma mau bicara sama Sean "
Sean tersenyum
" Ayo keruang kerjaku "
Sean berjalan naik ke lantai atas bersama mereka semua
Setelah sampai di ruang kerja
" Ada apa "
Sean memencet tombol di atas mejanya dan beberapa pengawal masuk
*Klak...klak
Para pengawal membuka meja lipat yang tersimpan rapih di dalam tembok
" Silahkan duduk "
Sean duduk di kursi kerjanya
" Terimakasih tuan "
Mereka semua duduk di atas kursi yang telah di sediakan dan terlihat mereka duduk dengan rapih seperti seorang pelajar
" Pertama kenapa paman Diablo ikut ikutan rombongan mereka kesini "
Sean menunjuk Diablo
" Pertama saya ingin menunjukkan ini "
Diablo berdiri dan menunjukkan laptop yang dia pegang
Diablo berdiri dan berjalan menghampiri Sean dan menunjukkan sebuah vidio
*Prang
Fas bunga di sana pecah di dalam genggaman Sean
" Apa apaan vidio ini Diablo "
Sean menunjukkan api amarah di wajahnya yang selalu terlihat tenang
*Glup
Semua orang menelan ludahnya melihat amarah Sean
" Pergi ke lokasi sekarang "
Sean berjalan keluar ruang kerja di sambut Mao
" Sebentar "
Sean menuju lantai tiga dan membuka pintu kamar Aniel Sean melihat di sana benar-benar berantakan
" Key "
Sean membuka pintu dan mengobrak Abrik kamar Aniel
Sean mencari ke segala penjuru hingga ke dalam lemari
" Kamu di sini "
Sean menghembuskan nafas lega saat dirinya melihat kolong tempat tidur
" Aloe akan kesini , diamlah "
Sean menutup kembali kolong tempat tidur dan berlari keluar dengan sepatu yang dia tenteng
Sean berlari turun dari lantai atas dengan memakai sepatunya
" kEPALA PENJAGA "
Sean berteriak dengan keras
" JAGA DI SINI , jika ada yang lalai sedikit saja , jangan harap nyawa kalian terampuni"
Sean berbicara dengan nada yang seram
" Ada apa Sean "
Ayu bertanya
" Kalian di sini , jangan kemana-mana "
Sean dengan cepat meninggalkan ruangan
" Sean "
Ayu dan Adinda mencoba menyusul
" Maaf nyonya , tuan muda memerintahkan anda harus di jaga "
Lao mencegah kedua mama untuk mengejar Sean
" Ini jas anda tuan "
Mao datang memberikan satu jas untuk Sean
" Kecepatan penuh "
Sean masuk di susul Mao duduk di bangku depan
Di dalam Vidio yang di tunjukkan Diablo
____________
" Hai Sean.... Coba lihat "
Seorang wanita berpakaian sexy dan bertopeng berdiri di depan kamera
" KAKAAAAAK aku takut hiks... Kakak tolong aku "
Terlihat Aniel menangis dengan penutup mata yang sudah basah
" Ingat Sean , datanglah sendiri tanpa membawa seorangpun , lihat... Bom waktu ada di leher gadis kecil ini , jika aku mau aku akan meledakkan ini sekarang"
Wanita itu menunjukkan bom waktu yang terlihat seperti kalung budak
" Karena aku kasihan padamu jadi datanglah setelah melihat Vidio ini , bay Sean kecil , dan alamatnya ada di hp mu "
*Klip
Vidio mati
_______________
Mobil di iringi dengan banyak penjaga melaju dengan kecepatan penuh menuju tempat yang di janjikan
Mobil Sean dan rombongan membelah jalanan kota yang padat
" Di sana "
Mao menunjuk sebuah gang
" Apa mobil bisa masuk "
Diablo menggumam dan membelokkan mobil menuju tempat yang di tunjuk Mao
" Mao "
Sean memanggil
" Kenapa rasanya sangat sesak "
Sean menekan dadanya
" Ada apa tuan "
Mao melepas sabuk pengamannya dan melihat ke belakang
" Aku merasakannya , seperti hari itu , saat aku akan mati "
Sean menatap kosong ke depan
" Anda jangan bicara yang aneh-aneh tuan , kita harus menyelamatkan nona muda "
Mao memegang tangan Sean
" Semoga dia baik-baik saja "
Sean menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil
" Bagaimana cara mereka mendapatkan Aniel "
Sean memejamkan matanya dan suaranya menjadi lirih karena sakit kepalanya kambuh kembali
" Tuan Rudi , adalah penghianat "
Mao mengatakannya dengan lirih
*Prang
Kaca mobil anti peluru yang tebal itu pecah
" Aku akan membunuhnya nanti "
Sean menurunkan tangannya
" Kita sudah sampai tuan "
Diablo memberitahu
" Hm... "
Sean membuka pintu mobil dan terlihat sebuah rumah yang di bangun di tengah-tengah lapangan di tempat yang benar-benar tersembunyi
" Rumah ini memiliki banyak sekali cerita mistis "
Mao berjalan mendekati Sean
" Intinya rumah hantu kan "
Sean mengangkat tangannya dan mengecek kaca-kaca yang tertancap di sana dan mengeluarkannya satu persatu
" Rumah ini di ceritakan memakan banyak korban saat pembangunan "
Mao memperhatikan Sean yang mengambil semua pecahan keramik dan kaca yang menancap sangat dalam di telapak tangannya
" Hm.... Selesai "
Sean mengeluarkan pecahan terakhir
" Lihat tuan ada seseorang "
Mao menunjuk seseorang yang mencurigakan di pintu rumah
" Jangan ada yang ikut "
Sean memerintahkan agar anak buahnya berhenti
" Tuan saya ikut "
Mao meminta
" Tidak , tidak perlu "
Sean berjalan sendiri menuju rumah yang katanya berhantu tersebut
" Selamat datang tuan "
Seseorang mendekati Sean
" Nona muda Aniel ada di dalam dengan nyonya besar "
Pria itu berjalan di ikuti Sean
" Apa yang kalian lakukan dengan Aniel "
Sean bertanya dengan suara yang bergetar
" Tidak , kami tidak melakukan apapun "
Pria itu menjawab
" Silahkan ikuti saya tuan "
Pria itu masuk ke dalam rumah dan menuju lantai dua
" Silahkan di ruangan ini "
Laki-laki itu membuka pintu dan terlihat Aniel yang terikat di tiang bangunan dalam keadaan pingsan
" Aniel "
Sean berlari menghampiri Aniel yang terikat di tengah-tengah ruangan
" Apa yang kau mau "
Sean menoleh ke belakang dan terlihat seorang wanita memegang tongkat baseball di belakang Sean
" Hahahaha aku tau kau pintar "
__ADS_1
Wanita bertopeng itu menurunkan tongkat baseball miliknya
" Apa yang kau mau "
Sean berdiri
" Hm.... Harta itu , aku mau itu "
Wanita itu memeluk pinggang Sean
"Itu ada pada papa , aku tidak tau apalagi dia"
Sean menatap wanita itu tajam
" Tidak mungkin , kau harusnya tau "
Wanita itu mulai memasukkan tangannya ke dalam jas longgar milik Sean
" Aku akan memberikanmu yang lain , lepaskan dia "
Sean mencengkram tangan sang wanita
" Tidak bisa , dia kan Sandera , mana mungkin aku lepas begitu saja "
Wanita itu terlihat kesakitan namun dia menahannya
" Bagaimana kalau kita buat kesepakatan "
Wanita itu melepaskan salah satu tangannya yang masih memeluk pinggang Sean
" Jika baik aku akan kabulkan "
Sean melepaskan cengkraman tangannya
" Lepaskan Clara dan Stella , maka aku akan melepaskan dirinya yang kecil itu "
Wanita itu mengusap lengannya yang memerah
" Sepakat "
Sean mengangguk
" Bawa kedua wanita itu kemari lalu akan aku lepaskan gadis kecil ini "
Wanita itu menunjuk Aniel
*Tuuut
Sean menelfon seseorang dan memerintahkan agar Clara dan Stella di bawa ke lokasi sekarang juga
" Baiklah , setidaknya lepaskan dia , aku tidak akan keluar sebelum mereka datang"
Sean menunjukkan Aniel
" Hahaha kau kira aku percaya heh "
Wanita itu mengejek Sean
" Baiklah.... Mereka akan datang secepatnya"
Sean mengalah
Sean duduk di samping Aniel melepaskan ikatan Aniel dari tiang lalu duduk di atas kursi di sana yang di lengkapi dengan meja
" Apa yang kau lakukan "
Wanita itu terkejut , borgol yang dia pasang sudah lepas
" Aku sudah bilang tidak akan kemanapun"
Sean membawa Aniel ke dalam pelukannya
" Baiklah , jika kau pergi aku akan langsung meledakkan bom nya "
Wanita itu tersenyum seram
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan melepaskan penutup mata Aniel
" Biasanya penyelamatan putri itu penuh dengan insiden , tapi sepertinya itu cuma ada di dalam novel ya "
Wanita itu memperhatikan Sean
" Apa boleh buat , jika kau tidak melibatkan putri kecilku , aku akan membuat markas ini hancur jadi debu "
Sean menatap wanita itu malas
" Rupanya kau itu pribadi yang tenang "
Wanita itu meletakkan dagunya di atas meja
" Aku tidak tenang , kau seharusnya mengenalku bibi "
Sean menatap wanita itu tajam
" Yaaah kau kan keponakanku yang berharga , bagaimana bisa aku tidak tau sifatmu "
Wanita itu tersenyum
" Bagaimana kabar ayahmu "
Wanita itu melepaskan topengnya
" Dia baik "
Sean mengalihkan pandangannya
" Lalu kakak ipar "
Wanita itu
" Dia baik "
Sean menjawab
" Hm... Keponakanku yang satunya bagaimana"
Wanita itu
" Dia baik.... Dan bisakah tidak banyak bicara bibi liona , kepalaku sakit "
Sean memegangi kepalanya
" Baiklah hehe "
Liona tersenyum manis
" Kau tau , aku yang merencanakan semuanya"
Liona bertanya
" Kenapa aku tidak tau , dari dulu memang kau yang paling terobsesi dengan harta papa"
Sean melirik liona
" Kau benar sekali hahaha "
Liona tertawa
" Apa yang terjadi setelah kau mematahkan tulang palsuku "
Liona penasaran
" Papa memarahiku habis habisan , dan lagi dia belum tau rencana pembunuhan yang kau rancang untuknya "
Sean
" Aku tau , dia memang polos "
Liona tersenyum
" Lalu bagaimana dengan kakak lion "
Liona
" Dia ada di rumah utama , nenek sangat sedih mendengar kamu menghilang , dan sebaiknya bibi kembali ke rumah dan minta maaf"
Sean menasehati
" Tidak bisa , jika aku pulang maka nanti si lion akan mengurungku "
Liona
" Itu salahmu sendiri "
Sean tidak perduli
" Kau tau "
Liona menaikkan alisnya
" Hm... "
Sean menoleh
" Rumah ini di penuhi bom lho jeng jeng "
Liona memberitahu dengan antusias
Sean membuang muka
" Sean ngak seru deh "
Liona mendengus kesal
" Sudahlah , jika mereka berdua datang , kau harus benar-benar melepaskan Aniel "
Sean menatap liona tajam
" Iya iya "
Liona menjawab dengan kesal
Berjam-jam berlalu hingga Aniel terbangun dan langsung saja menangis di pelukan Sean
" Mereka sudah datang "
Sean berdiri
" Benarkah "
Liona tersenyum senang
" Lepaskan Aniel "
Sean menatap liona tajam
" Tidak... Mereka harus ada di hadapanku sekarang "
Liona menolak
" MAO.... MAO... "
Sean memanggil dari jendela lantai atas
" BAWA KEDUA BAJINGAN ITU NAIK KESINI"
Sean benar-benar berteriak
" Setidaknya lebih sopanlah sedikit "
*Jlep
Sesuatu menusuk punggung Sean
" Uhuk..sialan kau , sekarang lepaskan Aniel"
Sean memuntahkan sedikit darah
" Tunggu dulu "
Wanita itu melepaskan pisau yang ia gunakan untuk menusuk punggung Sean
" Tuan "
Mao datang dari arah pintu
" Kakakku huhuhu "
Liona memeluk kedua wanita yang sudah tidak waras di depannya
" Lepaskan Aniel "
Sean mengajukan Aniel
" Okey "
Liona melepaskan bom bunuh diri dari Aniel
" Ayo Mao , kita pulang "
Sean dengan punggung yang penuh darah berjalan perlahan menuju lantai bawah
Setelah sampai di bawah
" Tuan "
Para pengawal menangkap tubuh Sean
*Stap
Aniel melompat ke bawah dan memeluk kaki Sean
" Maaf tuan hiks... Maafkan saya "
Key menunduk dalam-dalam
*Boing
yang tadinya Aniel sekarang menjadi key yang berantakan
" Tak apa , kau juga mempertaruhkan nyawamu untuk Aniel , aku berterimakasih"
Sean tersenyum
" Jangan lepaskan mereka "
Sean memerintahkan
*Brug
Sean pingsan dan para pengawal langsung melarikan Sean ke rumah sakit setelah Mao memberikan pertolongan pertama untuk Sean
" Salam nona Mao "
Satu pleton pasukan khusus Sean memberi salam
" Urus di sini sesuai rencana , aku akan bawa tuan ke rumah sakit "
Mao masuk ke dalam mobil
" Siap tuan "
Mereka mulai mengurus yang ada di lokasi dan Sean langsung menuju rumah sakit
Di rumah sakit
"MAO...MAO "
Ayu berlari menghampiri Mao bersama Adinda
" Bagaimana Sean "
Adinda langsung saja bertanya
" Tuan baik , mari saya antarkan "
Mao membawa keluarga menuju kamar rawat Sean
Setelah sampai di kamar
" Mama , bunda "
Sean mendudukkan dirinya
" Jangan duduk , berbaring saja "
Ayu membaringkan Sean kembali
" Apa yang terjadi "
Sbastian masuk di susul Bram dan Fadlan
" Ngak ada apa apa "
Sean tersenyum
*Cup
"Jangan buat kami khawatir"
Adinda mencium kening Sean
" Maaf bunda "
Sean memegang tangan Adinda
" Kamu beneran baik kan sayang "
Ayu memegang tangan Sean
" Sungguh mama "
Sean meyakinkan
" Apa yang terjadi "
Sbastian dan Bram bertanya
" Aniel baik kan "
Sean bertanya
__ADS_1
" Dia di rumah "
Sbastian mengangguk
" Haaaah... "
Sean menghela nafas panjang
" Sean kira rencananya gagal "
Sean memejamkan matanya
" Maksudnya "
Bram bertanya
" Itu semua sudah di rencanakan dua hari yang lalu oleh orang orang itu , dan Sean tidak ada persiapan sama sekali "
Sean memberitahu
" Mao , bagaimana "
Sean mendudukkan dirinya saat melihat Mao datang
" Saya sudah membawa mereka semua ke markas utama , anda bisa datang kesana sekarang"
Mao memberitahu
" Ayo pa , Sean mau tunjukkan sesuatu "
Sean beranjak dari tempat tidur
" Mau kemana nak , kamu masih terluka "
Bram menghentikan
" Ini juga untuk kalian semua , Sean akan temukan kalian dengan dokter kureha"
Sean melepaskan infusnya di bantu Mao
" Dokter kureha sudah menyiapkan semua kan"
Sean memastikan
" Sudah tuan "
Mao mengangguk
" Ayo pa "
Sean menarik Sbastian dan Bram
Sean menarik orang tuanya menuju lab pemeriksaan bersama Mao
" Salam tuan "
Dokter kureha membungkuk memberi hormat
" Silahkan duduk "
Dokter kureha mempersilahkan
" Bagaimana dokter "
Sean duduk di atas sofa di ikuti yang lain
" Begini... Untuk penyakit tuan muda "
Dokter kureha mengambil berkas di atas meja kerjanya
" Kenapa "
Sbastian terlihat mendengarkan dengan serius
" Ini berkasnya "
Dokter kureha memberikan sebuah berkas kepada Sbastian
" Sean pikir tidak ada lagi yang bisa di sembunyikan , Sean akan ajak papa Sbastian saja untuk hal setelah ini , maaf jika Sean lancang "
Sean berterus terang
Setelah membaca berkas-berkas yang Sean berikan , pecah tangis histeris Sbastian di dalam pelukan Adinda dan itu membuat ayu langsung pingsan di tempat
___________
Kanker otak tuan muda , sudah mencapai stadium akhir dan terapi harus terus berjalan dengan teratur
____________
Kalimat pendek di berkas yang paling terngiang di otak Sbastian dan itu sangatlah tidak di harapkan
" Dan... "
*Srek
Sean menarik rambutnya yang masih panjang
" Ini wig khusus yang Sean pesan "
Dan setelah itu di lepas , terlihat rambut Sean yang tipis dan tidak beraturan
" Kenapa kamu tidak bilang "
Sbastian membawa Sean ke dalam pelukannya
" Sean ngak tega liat papa kayak gini karena Sean "
Sean membalas pelukan hangat Sbastian
" Hari ini sebenarnya jadwal Sean terapi , dan Sean minta papa temani Sean ya "
Sean meminta
" Papa akan temani , akan papa temani sampai selesai "
Sbastian mengangguk dan terlihat
senyuman kecil untuk menghibur Sean
" Mama sama papa pulang aja , Sean baik kok"
Sean menghampiri ayu dan memeluk ayu
" Mama sama papa di sini , temani kamu "
Bram menolak
" Jangan pa , kakak sama adek pasti nungguin , papa pulang aja ya , mama juga kayak gini "
Sean mengusap keringat dingin yang mulai membasahi kening ayu
" Tapi nak "
Bram menolak
" Papa juga harus mikirin mama , di sini ada bunda sama papa , jangan khawatir ya "
Sean tersenyum lembut
" Jaga dirimu sayang "
Bram mencium kening Sean
" Iya pa "
Sean tersenyum dan mengangguk
" Mari tuan "
Beberapa pengawal masuk atas isyarat Sean dan membawa Bram dan ayu pulang
*Grep
Sbastian memeluk Sean dengan erat di depan pintu
" Papa.... Jangan khawatir "
Sean merasakan tubuh Sbastian bergetar
" Putra papa seperti ini bagaimana papa tidak khawatir "
Sbastian berkata dengan lirih
" Sean "
Adinda memanggil
" Iya Bun "
Sean dan Sbastian menghampiri Adinda
" Kemarilah "
Adinda menepuk pahanya
" Hm... Kenapa Bun "
Sean duduk di dekat adinda namun dirinya tidak mengerti
" Kepalamu sakit kan "
Adinda menuntun kepala Sean agar di letakkan di pangkuannya
" Makasih bunda "
Sean tersenyum dan memejamkan matanya
Setelah beberapa saat keheningan melanda
" Tuan "
Dokter kureha tiba-tiba masuk
" Maaf , tapi kita harus melaksanakan terapi"
Dokter kureha menjelaskan
Sean berdiri dan memasang kembali wig miliknya , setelah itu Sean berjalan menuju kamar terapi bersama Sbastian dan Adinda
" Kamu takut "
Sbastian bertanya
" Tidak , ini terapi Sean yang kesekian kalinya , Sean tidak takut lagi "
Sean menjawab Sbastian
" Kamu memang sudah besar "
Sbastian merangkul pundak Sean dan istrinya
Selama terapi berlangsung , Sbastian ada dan menggenggam tangan Sean yang sudah lemas karena obat bius , hingga beberapa jam terapi Sean berakhir
" Tuan tidak boleh banyak berpikir , tidak boleh terlalu banyak bergerak , tidak boleh stres dan tuan harus menjaga pola makan sehat "
Dokter kureha menjelaskan apa saja yang harus Sean lakukan dan apa yang di sarankan untuk Sean
" Saya mengerti dok "
Sbastian mengambil catatan kecilnya untuk kegiatan sehari-hari Sean
Setelah selesai , Sean membawa keluarganya pulang ke rumah
" Kakak "
Aniel berlari memeluk kaki Sean
" Apa kamu tadi keluar "
Sean bertanya
" Tidak sampai Aloe jemput Aniel "
Aniel menggeleng
" Bagus "
Sean mengusap kepala Sean
" Kamu baik kan , kata Lao kamu terluka "
Adimas bertanya
" Baik kak "
Sean tersenyum
Beberapa bulan berlalu dan kini sudah waktunya memasuki tahun ajaran baru
Pagi ini Aniel , Sean , Adimas dan Sbastian terlihat sudah bersiap untuk berangkat menuju tempatnya masing-masing
" Ayo anak-anak "
Adinda berteriak dari arah dapur
" Iya bunda "
Mereka semua mengiyakan
" Sean dasi mu "
Adimas melempar dasi SMP Sean
Sean memutuskan untuk loncat kelas dan sekarang Sean akan satu sekolah dengan Adimas , sama-sama SMP kelas satu
" Makasih "
Sean mengambil kupluk rajut yang di belikan oleh ayu dan memakainya dengan cepat
" Ada yang lihat kaos kaki papa "
Sbastian membuka kamar Adimas
" Ngak "
Sean dan Adimas menggeleng
" Tas nya Aniel mana "
Aniel masuk ke dalam kamar Sbastian
" Lama sekali kalian "
Adinda naik ke atas melewati lift
" Kaos kaki aku mana sayang "
Sbastian bertanya
" Di atas nakas "
Adinda mengambil Aniel dari dalam kamar
" Tas Aniel ngak ada "
Aniel mengguncang tubuh Adinda
" Ada di bawah "
Adinda membawa Aniel turun
" Tas nya ketuker "
Sean berlari turun menyusul Adimas
Sbastian , Adimas dan Sean berlari menuju dapur
" Ini bekalnya "
Adinda memberikan tiga kotak bekal
" Aniel bawa bekal ngak "
Aniel bertanya
" Iya bawa "
Adinda memakaikan tas Aniel
" Sepatuku mana "
Adimas berlari menuju pintu utama dan kembali
Sbastian sama sekali tidak memperbolehkan para maid ikut serta dalam kegiatan pribadi keluarga , termasuk ikut menyiapkan pakaian dan perlengkapan lain
Setelah sedikit sarapan , Sean dan Adimas naik ke dalam mobil putih , sedangkan Sbastian dan Adinda yang akan mengantarkan Aniel sekolah naik ke mobil hitam Sbastian
" Langsung pulang lho , jangan keluyuran "
Sbastian mengingatkan
" Iya pa "
Mereka berdua mengangguk mengiyakan
Mobil Sbastian berjalan terlebih dahulu di ikuti mobil Sean yang di supir oleh Aloe
" Bekalnya ketuker kak "
Sean menukar bekal nya dengan Adimas
" Nih ikat pinggang mu "
Adimas memberikan ikat pinggang Sean
Setelah beberapa waktu , akhirnya mereka berdua sampai di sekolahan
" Kamu mirip anak SMA yang pakek baju SMP"
Adimas keluar dari mobil
__ADS_1