Aku Pangeran

Aku Pangeran
#106 ( orang )


__ADS_3

" Bangun yuk , kita sarapan "


Sean duduk di samping Aniel


" Aniel "


Sean menepuk pipi Aniel


" Cantik ayo bangun sayang "


Sean menutup lubang hidung Aniel


" Aaaaaa kakaaaak "


Aniel menyingkirkan tangan Sean dan kembali tidur


" Kalau tidak bangun nanti kakak ngak akan tungguin Aniel sarapan lho ya "


Sean mengancam


" Nanti sama bunda "


Aniel menolak


" Astaga sayang , ayo bangun "


Sean mendudukkan Aniel


" Ngak mau "


Aniel memukul tangan Sean


" Ayo Aniel "


Sean mengusap wajah Aniel


" Ngaaaaaak bundaaaa "


Aniel berontak


" Ya udah "


Sean meletakkan kembali Aniel


" Ayo Mao kita turun "


Sean menutup kembali wajah Aniel


" Minta key kesini "


Sean menutup pintu kamar Aniel


" Baik tuan "


Mao mengangguk


Sean turun ke bawah dan terlihat salah satu maid tergesa-gesa datang


" Tuan , ada banyak orang yang mencari anda di ruang tamu "


Maid itu memberitahu


" Berapa orang "


Sean berlari turun di ikuti si maid


" Saya tidak menghitung "


Maid itu mengikuti langkah Sean


" Salam tuan "


Key memberi salam


" Langsung naik aja , jaga Aniel dan minta Mao turun


Sean berbicara namun masih berjalan turun


" Baik tuan "


Key berjalan naik


" Salam tuan "


Orang orang di sana memberi salam


" Ada apa kalian kesini "


Sean menghampiri


" Kami mau berbicara dengan Anda saja "


Mereka meminta


" Kenapa ini "


Sbastian dan lainnya datang


" Ngak kenapa-kenapa , mereka cuma mau bicara sama Sean "


Sean tersenyum


" Ayo keruang kerjaku "


Sean berjalan naik ke lantai atas bersama mereka semua


Setelah sampai di ruang kerja


" Ada apa "


Sean memencet tombol di atas mejanya dan beberapa pengawal masuk


*Klak...klak


Para pengawal membuka meja lipat yang tersimpan rapih di dalam tembok


" Silahkan duduk "


Sean duduk di kursi kerjanya


" Terimakasih tuan "


Mereka semua duduk di atas kursi yang telah di sediakan dan terlihat mereka duduk dengan rapih seperti seorang pelajar


" Pertama kenapa paman Diablo ikut ikutan rombongan mereka kesini "


Sean menunjuk Diablo


" Pertama saya ingin menunjukkan ini "


Diablo berdiri dan menunjukkan laptop yang dia pegang


Diablo berdiri dan berjalan menghampiri Sean dan menunjukkan sebuah vidio


*Prang


Fas bunga di sana pecah di dalam genggaman Sean


" Apa apaan vidio ini Diablo "


Sean menunjukkan api amarah di wajahnya yang selalu terlihat tenang


*Glup


Semua orang menelan ludahnya melihat amarah Sean


" Pergi ke lokasi sekarang "


Sean berjalan keluar ruang kerja di sambut Mao


" Sebentar "


Sean menuju lantai tiga dan membuka pintu kamar Aniel Sean melihat di sana benar-benar berantakan


" Key "


Sean membuka pintu dan mengobrak Abrik kamar Aniel


Sean mencari ke segala penjuru hingga ke dalam lemari


" Kamu di sini "


Sean menghembuskan nafas lega saat dirinya melihat kolong tempat tidur


" Aloe akan kesini , diamlah "


Sean menutup kembali kolong tempat tidur dan berlari keluar dengan sepatu yang dia tenteng


Sean berlari turun dari lantai atas dengan memakai sepatunya


" kEPALA PENJAGA "


Sean berteriak dengan keras


" JAGA DI SINI , jika ada yang lalai sedikit saja , jangan harap nyawa kalian terampuni"


Sean berbicara dengan nada yang seram


" Ada apa Sean "


Ayu bertanya


" Kalian di sini , jangan kemana-mana "


Sean dengan cepat meninggalkan ruangan


" Sean "


Ayu dan Adinda mencoba menyusul


" Maaf nyonya , tuan muda memerintahkan anda harus di jaga "


Lao mencegah kedua mama untuk mengejar Sean


" Ini jas anda tuan "


Mao datang memberikan satu jas untuk Sean


" Kecepatan penuh "


Sean masuk di susul Mao duduk di bangku depan


Di dalam Vidio yang di tunjukkan Diablo


____________


" Hai Sean.... Coba lihat "


Seorang wanita berpakaian sexy dan bertopeng berdiri di depan kamera


" KAKAAAAAK aku takut hiks... Kakak tolong aku "


Terlihat Aniel menangis dengan penutup mata yang sudah basah


" Ingat Sean , datanglah sendiri tanpa membawa seorangpun , lihat... Bom waktu ada di leher gadis kecil ini , jika aku mau aku akan meledakkan ini sekarang"


Wanita itu menunjukkan bom waktu yang terlihat seperti kalung budak


" Karena aku kasihan padamu jadi datanglah setelah melihat Vidio ini , bay Sean kecil , dan alamatnya ada di hp mu "


*Klip


Vidio mati


_______________


Mobil di iringi dengan banyak penjaga melaju dengan kecepatan penuh menuju tempat yang di janjikan


Mobil Sean dan rombongan membelah jalanan kota yang padat


" Di sana "


Mao menunjuk sebuah gang


" Apa mobil bisa masuk "


Diablo menggumam dan membelokkan mobil menuju tempat yang di tunjuk Mao


" Mao "


Sean memanggil


" Kenapa rasanya sangat sesak "


Sean menekan dadanya


" Ada apa tuan "


Mao melepas sabuk pengamannya dan melihat ke belakang


" Aku merasakannya , seperti hari itu , saat aku akan mati "


Sean menatap kosong ke depan


" Anda jangan bicara yang aneh-aneh tuan , kita harus menyelamatkan nona muda "


Mao memegang tangan Sean


" Semoga dia baik-baik saja "


Sean menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil


" Bagaimana cara mereka mendapatkan Aniel "


Sean memejamkan matanya dan suaranya menjadi lirih karena sakit kepalanya kambuh kembali


" Tuan Rudi , adalah penghianat "


Mao mengatakannya dengan lirih


*Prang


Kaca mobil anti peluru yang tebal itu pecah


" Aku akan membunuhnya nanti "


Sean menurunkan tangannya


" Kita sudah sampai tuan "


Diablo memberitahu


" Hm... "


Sean membuka pintu mobil dan terlihat sebuah rumah yang di bangun di tengah-tengah lapangan di tempat yang benar-benar tersembunyi


" Rumah ini memiliki banyak sekali cerita mistis "


Mao berjalan mendekati Sean


" Intinya rumah hantu kan "


Sean mengangkat tangannya dan mengecek kaca-kaca yang tertancap di sana dan mengeluarkannya satu persatu


" Rumah ini di ceritakan memakan banyak korban saat pembangunan "


Mao memperhatikan Sean yang mengambil semua pecahan keramik dan kaca yang menancap sangat dalam di telapak tangannya


" Hm.... Selesai "


Sean mengeluarkan pecahan terakhir


" Lihat tuan ada seseorang "


Mao menunjuk seseorang yang mencurigakan di pintu rumah


" Jangan ada yang ikut "


Sean memerintahkan agar anak buahnya berhenti


" Tuan saya ikut "


Mao meminta


" Tidak , tidak perlu "


Sean berjalan sendiri menuju rumah yang katanya berhantu tersebut


" Selamat datang tuan "


Seseorang mendekati Sean


" Nona muda Aniel ada di dalam dengan nyonya besar "


Pria itu berjalan di ikuti Sean


" Apa yang kalian lakukan dengan Aniel "


Sean bertanya dengan suara yang bergetar


" Tidak , kami tidak melakukan apapun "


Pria itu menjawab


" Silahkan ikuti saya tuan "


Pria itu masuk ke dalam rumah dan menuju lantai dua


" Silahkan di ruangan ini "


Laki-laki itu membuka pintu dan terlihat Aniel yang terikat di tiang bangunan dalam keadaan pingsan


" Aniel "


Sean berlari menghampiri Aniel yang terikat di tengah-tengah ruangan


" Apa yang kau mau "


Sean menoleh ke belakang dan terlihat seorang wanita memegang tongkat baseball di belakang Sean


" Hahahaha aku tau kau pintar "

__ADS_1


Wanita bertopeng itu menurunkan tongkat baseball miliknya


" Apa yang kau mau "


Sean berdiri


" Hm.... Harta itu , aku mau itu "


Wanita itu memeluk pinggang Sean


"Itu ada pada papa , aku tidak tau apalagi dia"


Sean menatap wanita itu tajam


" Tidak mungkin , kau harusnya tau "


Wanita itu mulai memasukkan tangannya ke dalam jas longgar milik Sean


" Aku akan memberikanmu yang lain , lepaskan dia "


Sean mencengkram tangan sang wanita


" Tidak bisa , dia kan Sandera , mana mungkin aku lepas begitu saja "


Wanita itu terlihat kesakitan namun dia menahannya


" Bagaimana kalau kita buat kesepakatan "


Wanita itu melepaskan salah satu tangannya yang masih memeluk pinggang Sean


" Jika baik aku akan kabulkan "


Sean melepaskan cengkraman tangannya


" Lepaskan Clara dan Stella , maka aku akan melepaskan dirinya yang kecil itu "


Wanita itu mengusap lengannya yang memerah


" Sepakat "


Sean mengangguk


" Bawa kedua wanita itu kemari lalu akan aku lepaskan gadis kecil ini "


Wanita itu menunjuk Aniel


*Tuuut


Sean menelfon seseorang dan memerintahkan agar Clara dan Stella di bawa ke lokasi sekarang juga


" Baiklah , setidaknya lepaskan dia , aku tidak akan keluar sebelum mereka datang"


Sean menunjukkan Aniel


" Hahaha kau kira aku percaya heh "


Wanita itu mengejek Sean


" Baiklah.... Mereka akan datang secepatnya"


Sean mengalah


Sean duduk di samping Aniel melepaskan ikatan Aniel dari tiang lalu duduk di atas kursi di sana yang di lengkapi dengan meja


" Apa yang kau lakukan "


Wanita itu terkejut , borgol yang dia pasang sudah lepas


" Aku sudah bilang tidak akan kemanapun"


Sean membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Baiklah , jika kau pergi aku akan langsung meledakkan bom nya "


Wanita itu tersenyum seram


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan melepaskan penutup mata Aniel


" Biasanya penyelamatan putri itu penuh dengan insiden , tapi sepertinya itu cuma ada di dalam novel ya "


Wanita itu memperhatikan Sean


" Apa boleh buat , jika kau tidak melibatkan putri kecilku , aku akan membuat markas ini hancur jadi debu "


Sean menatap wanita itu malas


" Rupanya kau itu pribadi yang tenang "


Wanita itu meletakkan dagunya di atas meja


" Aku tidak tenang , kau seharusnya mengenalku bibi "


Sean menatap wanita itu tajam


" Yaaah kau kan keponakanku yang berharga , bagaimana bisa aku tidak tau sifatmu "


Wanita itu tersenyum


" Bagaimana kabar ayahmu "


Wanita itu melepaskan topengnya


" Dia baik "


Sean mengalihkan pandangannya


" Lalu kakak ipar "


Wanita itu


" Dia baik "


Sean menjawab


" Hm... Keponakanku yang satunya bagaimana"


Wanita itu


" Dia baik.... Dan bisakah tidak banyak bicara bibi liona , kepalaku sakit "


Sean memegangi kepalanya


" Baiklah hehe "


Liona tersenyum manis


" Kau tau , aku yang merencanakan semuanya"


Liona bertanya


" Kenapa aku tidak tau , dari dulu memang kau yang paling terobsesi dengan harta papa"


Sean melirik liona


" Kau benar sekali hahaha "


Liona tertawa


" Apa yang terjadi setelah kau mematahkan tulang palsuku "


Liona penasaran


" Papa memarahiku habis habisan , dan lagi dia belum tau rencana pembunuhan yang kau rancang untuknya "


Sean


" Aku tau , dia memang polos "


Liona tersenyum


" Lalu bagaimana dengan kakak lion "


Liona


" Dia ada di rumah utama , nenek sangat sedih mendengar kamu menghilang , dan sebaiknya bibi kembali ke rumah dan minta maaf"


Sean menasehati


" Tidak bisa , jika aku pulang maka nanti si lion akan mengurungku "


Liona


" Itu salahmu sendiri "


Sean tidak perduli


" Kau tau "


Liona menaikkan alisnya


" Hm... "


Sean menoleh


" Rumah ini di penuhi bom lho jeng jeng "


Liona memberitahu dengan antusias


Sean membuang muka


" Sean ngak seru deh "


Liona mendengus kesal


" Sudahlah , jika mereka berdua datang , kau harus benar-benar melepaskan Aniel "


Sean menatap liona tajam


" Iya iya "


Liona menjawab dengan kesal


Berjam-jam berlalu hingga Aniel terbangun dan langsung saja menangis di pelukan Sean


" Mereka sudah datang "


Sean berdiri


" Benarkah "


Liona tersenyum senang


" Lepaskan Aniel "


Sean menatap liona tajam


" Tidak... Mereka harus ada di hadapanku sekarang "


Liona menolak


" MAO.... MAO... "


Sean memanggil dari jendela lantai atas


" BAWA KEDUA BAJINGAN ITU NAIK KESINI"


Sean benar-benar berteriak


" Setidaknya lebih sopanlah sedikit "


*Jlep


Sesuatu menusuk punggung Sean


" Uhuk..sialan kau , sekarang lepaskan Aniel"


Sean memuntahkan sedikit darah


" Tunggu dulu "


Wanita itu melepaskan pisau yang ia gunakan untuk menusuk punggung Sean


" Tuan "


Mao datang dari arah pintu


" Kakakku huhuhu "


Liona memeluk kedua wanita yang sudah tidak waras di depannya


" Lepaskan Aniel "


Sean mengajukan Aniel


" Okey "


Liona melepaskan bom bunuh diri dari Aniel


" Ayo Mao , kita pulang "


Sean dengan punggung yang penuh darah berjalan perlahan menuju lantai bawah


Setelah sampai di bawah


" Tuan "


Para pengawal menangkap tubuh Sean


*Stap


Aniel melompat ke bawah dan memeluk kaki Sean


" Maaf tuan hiks... Maafkan saya "


Key menunduk dalam-dalam


*Boing


yang tadinya Aniel sekarang menjadi key yang berantakan


" Tak apa , kau juga mempertaruhkan nyawamu untuk Aniel , aku berterimakasih"


Sean tersenyum


" Jangan lepaskan mereka "


Sean memerintahkan


*Brug


Sean pingsan dan para pengawal langsung melarikan Sean ke rumah sakit setelah Mao memberikan pertolongan pertama untuk Sean


" Salam nona Mao "


Satu pleton pasukan khusus Sean memberi salam


" Urus di sini sesuai rencana , aku akan bawa tuan ke rumah sakit "


Mao masuk ke dalam mobil


" Siap tuan "


Mereka mulai mengurus yang ada di lokasi dan Sean langsung menuju rumah sakit


Di rumah sakit


"MAO...MAO "


Ayu berlari menghampiri Mao bersama Adinda


" Bagaimana Sean "


Adinda langsung saja bertanya


" Tuan baik , mari saya antarkan "


Mao membawa keluarga menuju kamar rawat Sean


Setelah sampai di kamar


" Mama , bunda "


Sean mendudukkan dirinya


" Jangan duduk , berbaring saja "


Ayu membaringkan Sean kembali


" Apa yang terjadi "


Sbastian masuk di susul Bram dan Fadlan


" Ngak ada apa apa "


Sean tersenyum


*Cup


"Jangan buat kami khawatir"


Adinda mencium kening Sean


" Maaf bunda "


Sean memegang tangan Adinda


" Kamu beneran baik kan sayang "


Ayu memegang tangan Sean


" Sungguh mama "


Sean meyakinkan


" Apa yang terjadi "


Sbastian dan Bram bertanya


" Aniel baik kan "


Sean bertanya

__ADS_1


" Dia di rumah "


Sbastian mengangguk


" Haaaah... "


Sean menghela nafas panjang


" Sean kira rencananya gagal "


Sean memejamkan matanya


" Maksudnya "


Bram bertanya


" Itu semua sudah di rencanakan dua hari yang lalu oleh orang orang itu , dan Sean tidak ada persiapan sama sekali "


Sean memberitahu


" Mao , bagaimana "


Sean mendudukkan dirinya saat melihat Mao datang


" Saya sudah membawa mereka semua ke markas utama , anda bisa datang kesana sekarang"


Mao memberitahu


" Ayo pa , Sean mau tunjukkan sesuatu "


Sean beranjak dari tempat tidur


" Mau kemana nak , kamu masih terluka "


Bram menghentikan


" Ini juga untuk kalian semua , Sean akan temukan kalian dengan dokter kureha"


Sean melepaskan infusnya di bantu Mao


" Dokter kureha sudah menyiapkan semua kan"


Sean memastikan


" Sudah tuan "


Mao mengangguk


" Ayo pa "


Sean menarik Sbastian dan Bram


Sean menarik orang tuanya menuju lab pemeriksaan bersama Mao


" Salam tuan "


Dokter kureha membungkuk memberi hormat


" Silahkan duduk "


Dokter kureha mempersilahkan


" Bagaimana dokter "


Sean duduk di atas sofa di ikuti yang lain


" Begini... Untuk penyakit tuan muda "


Dokter kureha mengambil berkas di atas meja kerjanya


" Kenapa "


Sbastian terlihat mendengarkan dengan serius


" Ini berkasnya "


Dokter kureha memberikan sebuah berkas kepada Sbastian


" Sean pikir tidak ada lagi yang bisa di sembunyikan , Sean akan ajak papa Sbastian saja untuk hal setelah ini , maaf jika Sean lancang "


Sean berterus terang


Setelah membaca berkas-berkas yang Sean berikan , pecah tangis histeris Sbastian di dalam pelukan Adinda dan itu membuat ayu langsung pingsan di tempat


___________


Kanker otak tuan muda , sudah mencapai stadium akhir dan terapi harus terus berjalan dengan teratur


____________


Kalimat pendek di berkas yang paling terngiang di otak Sbastian dan itu sangatlah tidak di harapkan


" Dan... "


*Srek


Sean menarik rambutnya yang masih panjang


" Ini wig khusus yang Sean pesan "


Dan setelah itu di lepas , terlihat rambut Sean yang tipis dan tidak beraturan


" Kenapa kamu tidak bilang "


Sbastian membawa Sean ke dalam pelukannya


" Sean ngak tega liat papa kayak gini karena Sean "


Sean membalas pelukan hangat Sbastian


" Hari ini sebenarnya jadwal Sean terapi , dan Sean minta papa temani Sean ya "


Sean meminta


" Papa akan temani , akan papa temani sampai selesai "


Sbastian mengangguk dan terlihat


senyuman kecil untuk menghibur Sean


" Mama sama papa pulang aja , Sean baik kok"


Sean menghampiri ayu dan memeluk ayu


" Mama sama papa di sini , temani kamu "


Bram menolak


" Jangan pa , kakak sama adek pasti nungguin , papa pulang aja ya , mama juga kayak gini "


Sean mengusap keringat dingin yang mulai membasahi kening ayu


" Tapi nak "


Bram menolak


" Papa juga harus mikirin mama , di sini ada bunda sama papa , jangan khawatir ya "


Sean tersenyum lembut


" Jaga dirimu sayang "


Bram mencium kening Sean


" Iya pa "


Sean tersenyum dan mengangguk


" Mari tuan "


Beberapa pengawal masuk atas isyarat Sean dan membawa Bram dan ayu pulang


*Grep


Sbastian memeluk Sean dengan erat di depan pintu


" Papa.... Jangan khawatir "


Sean merasakan tubuh Sbastian bergetar


" Putra papa seperti ini bagaimana papa tidak khawatir "


Sbastian berkata dengan lirih


" Sean "


Adinda memanggil


" Iya Bun "


Sean dan Sbastian menghampiri Adinda


" Kemarilah "


Adinda menepuk pahanya


" Hm... Kenapa Bun "


Sean duduk di dekat adinda namun dirinya tidak mengerti


" Kepalamu sakit kan "


Adinda menuntun kepala Sean agar di letakkan di pangkuannya


" Makasih bunda "


Sean tersenyum dan memejamkan matanya


Setelah beberapa saat keheningan melanda


" Tuan "


Dokter kureha tiba-tiba masuk


" Maaf , tapi kita harus melaksanakan terapi"


Dokter kureha menjelaskan


Sean berdiri dan memasang kembali wig miliknya , setelah itu Sean berjalan menuju kamar terapi bersama Sbastian dan Adinda


" Kamu takut "


Sbastian bertanya


" Tidak , ini terapi Sean yang kesekian kalinya , Sean tidak takut lagi "


Sean menjawab Sbastian


" Kamu memang sudah besar "


Sbastian merangkul pundak Sean dan istrinya


Selama terapi berlangsung , Sbastian ada dan menggenggam tangan Sean yang sudah lemas karena obat bius , hingga beberapa jam terapi Sean berakhir


" Tuan tidak boleh banyak berpikir , tidak boleh terlalu banyak bergerak , tidak boleh stres dan tuan harus menjaga pola makan sehat "


Dokter kureha menjelaskan apa saja yang harus Sean lakukan dan apa yang di sarankan untuk Sean


" Saya mengerti dok "


Sbastian mengambil catatan kecilnya untuk kegiatan sehari-hari Sean


Setelah selesai , Sean membawa keluarganya pulang ke rumah


" Kakak "


Aniel berlari memeluk kaki Sean


" Apa kamu tadi keluar "


Sean bertanya


" Tidak sampai Aloe jemput Aniel "


Aniel menggeleng


" Bagus "


Sean mengusap kepala Sean


" Kamu baik kan , kata Lao kamu terluka "


Adimas bertanya


" Baik kak "


Sean tersenyum


Beberapa bulan berlalu dan kini sudah waktunya memasuki tahun ajaran baru


Pagi ini Aniel , Sean , Adimas dan Sbastian terlihat sudah bersiap untuk berangkat menuju tempatnya masing-masing


" Ayo anak-anak "


Adinda berteriak dari arah dapur


" Iya bunda "


Mereka semua mengiyakan


" Sean dasi mu "


Adimas melempar dasi SMP Sean


Sean memutuskan untuk loncat kelas dan sekarang Sean akan satu sekolah dengan Adimas , sama-sama SMP kelas satu


" Makasih "


Sean mengambil kupluk rajut yang di belikan oleh ayu dan memakainya dengan cepat


" Ada yang lihat kaos kaki papa "


Sbastian membuka kamar Adimas


" Ngak "


Sean dan Adimas menggeleng


" Tas nya Aniel mana "


Aniel masuk ke dalam kamar Sbastian


" Lama sekali kalian "


Adinda naik ke atas melewati lift


" Kaos kaki aku mana sayang "


Sbastian bertanya


" Di atas nakas "


Adinda mengambil Aniel dari dalam kamar


" Tas Aniel ngak ada "


Aniel mengguncang tubuh Adinda


" Ada di bawah "


Adinda membawa Aniel turun


" Tas nya ketuker "


Sean berlari turun menyusul Adimas


Sbastian , Adimas dan Sean berlari menuju dapur


" Ini bekalnya "


Adinda memberikan tiga kotak bekal


" Aniel bawa bekal ngak "


Aniel bertanya


" Iya bawa "


Adinda memakaikan tas Aniel


" Sepatuku mana "


Adimas berlari menuju pintu utama dan kembali


Sbastian sama sekali tidak memperbolehkan para maid ikut serta dalam kegiatan pribadi keluarga , termasuk ikut menyiapkan pakaian dan perlengkapan lain


Setelah sedikit sarapan , Sean dan Adimas naik ke dalam mobil putih , sedangkan Sbastian dan Adinda yang akan mengantarkan Aniel sekolah naik ke mobil hitam Sbastian


" Langsung pulang lho , jangan keluyuran "


Sbastian mengingatkan


" Iya pa "


Mereka berdua mengangguk mengiyakan


Mobil Sbastian berjalan terlebih dahulu di ikuti mobil Sean yang di supir oleh Aloe


" Bekalnya ketuker kak "


Sean menukar bekal nya dengan Adimas


" Nih ikat pinggang mu "


Adimas memberikan ikat pinggang Sean


Setelah beberapa waktu , akhirnya mereka berdua sampai di sekolahan


" Kamu mirip anak SMA yang pakek baju SMP"


Adimas keluar dari mobil

__ADS_1


__ADS_2