Aku Pangeran

Aku Pangeran
#104 ( hari raya )


__ADS_3

" Cium kakak dulu "


Sean menunjuk pipinya


*Cup


Aniel dan mutiara mencium pipi Sean satu persatu


" Satunya "


Sean menunjuk pipinya lagi


*Cup


" Udah mana "


Mereka berdua mengulurkan tangannya


" Pilih satu "


Sean menunjukkan beberapa amplop


" Eits... "


Sean menarik kembali amplopnya


" Di sini ada uang yang beda-beda , mulai dari seribu sampai seratus ribu , jika kalian udah ambil kakak akan tambah sesuai uang yang kalian ambil "


Sean menjelaskan


" Jadi halus milih bial dapet dua "


Aniel mengerti


" Iya "


Sean tersenyum


" Kami ikut "


Reyhan dengan antusias menghampiri Sean dan duduk di hadapan adik kecil


" Ingat , jika kalian dapat uang itu , akan aku lipat gandakan , jadi semoga beruntung "


Sean tersenyum


" Aniel mau ini "


Aniel mengambil satu amplop pink


" Ini Mutia "


Mutiara mengambil satu amplop hijau


" Nah kakak kakak silahkan pilih bergantian"


Sean membuat para kakak saling memelototi


" Kita suit "


Mereka bertiga saling mengadu suit dan akhirnya Reyhan yang pertama


" Yes haha "


Rehan terlihat senang


*Jeng...jeng


Adimas nomor dua dan Fadlan nomor tiga


" Ayo Rey cepet pilih "


Para saudara terlihat tegang


" Pilih ini aja kak , walnanya lucu "


Mutiara menunjuk salah satu amplop dengan warna biru


" Mutiara selalu beruntung "


Reyhan mengambil amplop biru


" Aniel pilih kakak dong "


Adimas meminta


" Ini aja "


Aniel menunjuk satu amplop dengan warna hitam


" Okey "


Adimas mengambil satu amplop hitam


" Kalian berdua pilihan kakak dong "


Fadlan tidak mau kalah


" Ini ya cantik "


" Iya "


Aniel dan mutiara menunjuk warna ungu


" Kalian kompak haha "


Semua orang tertawa


" Oke , silahkan dibuka "


Sean mempersilahkan


" Alin dapet belapa "


Mutiara bertanya


" Ngak bisa buka "


Aniel dan mutiara terlihat kesusahan


" Aku dapet lima puluh yeeey hahaha "


Reyhan terlihat senang


" Aku dua puluh "


Fadlan menunjukkan uangnya


" Aku tujuh puluh lima ribu "


Adimas terlihat terkejut


" Aku akan simpan "


Adimas langsung berlari ke atas


" Hahaha "


Semua orang tertawa melihat Adimas yang antusias


" Terus yang seratus ribu siapa "


Mereka bertanya-tanya


" Tia dapet uang melah "


Aniel membuat semua orang menoleh


" Wah mutiara beruntung "


Fadlan dan Reyhan terlihat iri


" Aku dapet olen Yeeee "


Aniel terlihat senang


" Tia mau olen juga "


Mutiara menunjuk uang Aniel


" Tapi ini punya Aniel "


Aniel tidak memeluk uang lima ribu miliknya


" Tapi Tia mau olen , kakak kasih Tia Olen"


Mutiara menghampiri Sean


" Sini tuker sama punya kakak "


Reyhan menghentikan langkah mutiara


" Ngak mau... Mau olen "


Mutiara menghampiri Sean


" Namanya anak kecil "


Sean terkekeh


" Mau olen aja nih "


Sean mengambil uang mutiara


" Iya "


Mutiara mengangguk


" Yaaah padahal kalau uang itu di tuker sama uang oranye pasti dapat banyak banget "


Ayu memanas manasi


" Bisa tukel "


Mutiara terkejut


" Bisa "


Sean mengangguk


" Mau tukel sama uang olen "


Mutiara terlihat gembira


" Hahaha tapi nanti ya , ini kamu bawa dulu"


Sean memberikan satu lagi uang merah untuk mutiara


" Aniel mana "


Aniel menunjukkan uang lima ribu miliknya


" Ini Aniel "


Sean memberikan satu lembar lima ribu lagi


" Aku "


Reyhan mengulurkan tangannya


" Nih "


Sean memberikan lima puluh


" Ekhem... "


Fadlan berdehem


" Nih buat kakak "


Sean memberikan uang dua puluh ribu


" Akuuuu "


Terlihat Adimas turun dari lantai atas dengan terburu-buru


" Karena uang tadi kakak simpen , jadi Sean kasih yang pecahan aja "


Sean memberikan satu uang biru , satu uang hijau dan satu uang oranye


" Woaaaaaahhh kakak Adimas hebat "


Aniel dan mutiara terlihat terkesan dengan uang yang di pegang oleh Adimas


" Hehehe "


Terlihat hidung Adimas memanjang


Setelah itu para anak-anak terlihat sibuk dengan uang yang mereka dapat dari jalan-jalan hari raya


" Sbastian "


Suara seorang wanita membuat se isi ruang tamu menoleh


" Mama "


Sbastian berdiri dan langsung saja melompati sofa menghampiri mamanya


" Kamu sudah sehat nak "


Terlihat mama lebih kurus dan tidak terawat


" Mama kenapa jadi begini "


Sbastian membawa nama duduk di sofa


" Kakek "


Sean berdiri menyambut papa Sbastian


" Kamu Sean "


Papa mengenali Sean


" Ini Sean kek , kakek duduk dulu "


Sean membawa papa duduk di samping Mama


" Kamu sudah besar "


Kakek membelai wajah Sean


" Pelayan ambilkan minuman hangat "


Sbastian berteriak


" Baik tuan "


Mereka yang ada di sana membungkuk hormat


" Kakak "


Suara seorang pria membuat se isi ruangan terkejut


" Leon "


Sbastian berdiri dan menghampiri Leon


" Kamu sudah besar "


Sbastian menangkup pipi Leon


" Leon rindu sama kakak "


Leon memeluk Sbastian dengan erat


" Di..dimana liona "


Sbastian melihat sekeliling


" Liona ngak bisa dateng "


Lion menjawab


" Mao... Mao "


Sean berteriak dan beranjak naik


" Saya tuan "


Terlihat Mao bergegas turun


" Kalian turunlah "


Sean meminta


" Baik tuan "


Mao mengangguk


" Sean ambilkan minumannya "


Sbastian meminta


" Iya papa "


Sean berjalan ke arah dapur


" Apa yang terjadi "


Sbastian berlutut di depan mamanya


" Salam tuan "


Terlihat Rohit datang dengan melodi


" Rohit kemari "


Sean memanggil Rohit


" Nah melodi main sama yang lain dulu ya "


Sean membawa melodi menuju Aniel


" Ayo semua masuk dulu "


Sean membawa Aniel dan lainnya ke dalam ruang belajar


" Ada apa Sean "


Fadlan menahan Sean


" Kakak akan tau nanti "


Sean menggiring masuk semua saudaranya


" Kak lodi... Aniel kangen "


Aniel memeluk melodi


" Aniel kenal ya sama kakak "


Melodi membalas pelukan Aniel


" Aniel inget bau kakak hehehe "


Aniel duduk di karpet bulu dan memulai percakapan antara anak-anak


" Tuan "


Mao masuk bersama key , Aloe dan Lao


" Kalian jaga anak-anak "


Sean memberi perintah


" Siap tuan "


Mereka terlihat bersiap


" Jika terjadi masalah bawa anak-anak menuju kakek tua "

__ADS_1


Sean mencium kening Aniel dan mutiara


" Saya mengerti "


Mao mengangguk


" Sean ada apa ini "


Reyhan memegang lengan Sean


" Kakak tetap di sini jaga anak-anak , Sean akan kembali nanti "


Sean menepuk pundak Reyhan dan berlalu keluar


*Cklek...greeet


setelah terdengar pintu terkunci , terlihat sebuah pintu besi menutupi pintu kayu di sana


" Mao kenapa ini "


Adimas terlihat panik


" Anda jangan panik tuan , jangan buat tuan dan nona muda panik "


Mao menenangkan


" Tapi Mao "


Adimas terlihat tidak bisa tenang


" Ini adalah bankar darurat yang di buat oleh tuan Sean , di sini sudah di lengkapi banyak barang , anda harus tetap di sini hingga tuan Sean yang datang menjemput "


Mao menjelaskan


" Tolong tuan , jangan buat yang lain panik "


Mao memegang pundak Adimas dan Fadlan


" Baik aku mengerti "


Reyhan terlihat tenang


" Adik adik ayo main "


Reyhan berlari dan memeluk Aniel juga mutiara


" Kamu melodi kan "


Reyhan menunjuk melodi


" Iya "


Melodi mengangguk


" Dia cepat bisa mengerti situasi "


Adimas menatap Reyhan


" Itu kemampuannya "


Fadlan mengangguk


" Mama papa sama lainnya baik baik aja kan Mao "


Fadlan bertanya


" Mereka akan baik-baik saja tuan "


Mao mengangguk


Waktu berlalu dan keheningan antara orang dewasa melanda


" Kakak "


Aniel menghampiri Adimas yang sedang duduk bersama Fadlan


" Kenapa , kamu ngantuk "


Adimas membawa Aniel ke dalam pangkuannya


" Iya , Aniel mau bunda "


Aniel menggosok matanya yang mulai menyipit


" Tidur sama kakak aja , bunda lagi terima tamu tadi "


Adimas berdiri dan menggendong Aniel


" Saya siapkan tempat tidur dulu "


Key membuka lemari yang ada di sana dan mengambil beberapa spray bulu tebal sebagai alas


" Tidurlah Aniel "


Adimas meletakkan Aniel di atas spray bulu yang di siapkan oleh key


" Mau di gendong kayak kak Sean "


Aniel yang sudah di tidurkan kembali bangun


" Mau gendong "


Adimas terkejut


" Sini saya gendong nona "


Mao dan key menghampiri


" Mau kak Dimas "


Aniel menggeleng


" Oke "


Adimas kembali menggendong Aniel dan meninabobokan Aniel namun itu gagal


" Mau gendong kayak kak Sean "


Aniel merengek


" Seperti ini tuan "


Mao datang dan membenarkan cara Adimas menggendong Aniel


" Begini "


Adimas di ajarkan cara untuk menggendong anak bayi


" Iya , lalu anda harus berayun kecil seperti ini"


Mao mempraktekkan


" Aku mengerti "


Adimas dengan kaku menggendong Aniel dan meninabobokan Aniel


" Aku mau juga kayak alin "


Mutiara menghampiri Fadlan


" Iya "


Fadlan menggendong mutiara dengan di bantu Mao


Setelah beberapa saat


" Capeknya , padahal Sean sering begini sampai berjam-jam "


Adimas merenggangkan bahunya yang terasa pegal setelah setengah jam menggendong Aniel


" Pijat di sini "


Fadlan terlihat langsung meminta di pijat oleh Reyhan


" Secapek itu kah "


Reyhan bertanya dengan penasaran


" Kakak Sean biasanya menggendong adik sampai pagi "


Melodi berbicara


" APA SAMPAI PAGI "


Reyhan terkejut dan berteriak


" Diamlah "


Fadlan memukul kepala Reyhan


" Apa sampai pagi "


Reyhan berbisik


" Iya , melodi kalau di suruh menginap di sini sama kakak , melodi sering lihat kak Sean kayak gini di ruang tamu sampai pagi"


Melodi menunjukkan cara Sean menggendong Aniel


" Wow keren "


Mereka bertiga terlihat kagum


" Apalagi kalau nona muda sedang sakit , tuan muda tidak bisa melepaskan nona muda seharian "


Mao dan lainnya duduk di sekitar Fadlan


" Benarkah "


Reyhan menatap Mao


" Tuan muda bahkan tidak bisa kemana-mana saat nona muda sedang sakit ataupun ingin di perhatikan "


Mao mengangguk


" Kalau begitu dia manja ya "


Adimas mengusap kening Aniel


Mao menjelaskan


" Jadi dia begitu kalau mau perhatian "


Reyhan menyimpulkan


" Nona jarang seperti itu , nona pernah bilang aku akan mengganggu kakak jika sudah satu Minggu kakak tidak bermain denganku "


Mao tersenyum


" Dia bilang padamu begitu "


Adimas penasaran


" Bahkan nona muda selalu pergi jika mendengar bahwa tuan Sean masih bekerja atau merawat tuan Sbastian "


Key menjawab penasaran Adimas


" Apa ini lama "


Adimas merebahkan tubuhnya di samping Aniel


" Kita bisa bertahan di sini lebih dari sebulan , anda tidak perlu khawatir "


Mao menenangkan


" Aku tidak khawatir pada diriku , aku khawatir pada orang tuaku "


Adimas memegang tangan Aniel dan memainkannya sedikit


" Mao "


Fadlan memanggil


" Iya tuan "


Mao menyahuti


" Apa masalah ini benar-benar parah , dan siapa yang membuat semua seperti ini "


Fadlan bertanya seolah dirinya mengatakan ' jelaskan sedetail mungkin kepadaku '


" Tuan Sean menyembunyikan banyak hal dari keluarga dan banyak orang , saya tidak berhak memberitahu "


Mao berkata seolah ' mohon jangan bertanya apapun itu '


" Aku mengerti "


Fadlan mengangguk


" Nah nona melodi juga pasti lelah , anda istirahat saja ya "


Key menidurkan melodi di samping mutiara


Sudah lama sejak Sean menggiring mereka masuk ke dalam bankar , tidak ada jendela ataupun pintu lain di sana , beberapa hal tersimpan rapih di dalam tembok , bahkan sofa di sana bisa di rubah menjadi tempat tidur


" Mao "


Aniel menarik tangan Mao


" Kenapa nona "


Mao yang sedang menyiapkan makanan di meja makan lipat menanggapi Aniel


" Ini sudah berapa hari "


Aniel membuat Mao tersentak


" Nona muda memang sangat pintar "


Mao mendudukkan Aniel di atas meja


" Hanya saya yang membawa jam di sini , jadi jangan beri tahu yang lain ya "


Mao menyentuh mulut kecil Aniel dengan telunjuknya seakan bilang ' saya akan mengatakan pada anda tapi anda harus diam'


" Aniel mengerti "


Aniel mengangguk


" Lihat , kita sudah lima hari di sini "


Aniel menunjukkan jam saku miliknya yang di samarkan menjadi Bros yang selalu ia pakai


" Kakak kok lama ya "


Aniel meletakkan kepalanya di atas pundak Mao


" Karena tuan harus melakukan beberapa hal lain untuk orang yang disayanginya "


Mao menjelaskan


" Aku rindu papa sama bunda "


Aniel memeluk erat Mao


" Kenapa "


Adimas menghampiri Aniel


" Nona hanya rindu dengan tuan muda Sean , bunda dan papa "


Mao menjelaskan


" Aku juga rindu sama mereka , kita sama Aniel "


Adimas mengambil Aniel dari pelukan Mao


*Greeet


Suara pintu membuat semua menoleh dan terlihat sedikit demi sedikit pintu terbuka


*Clang


Mao dan key mengamankan para tuan dan nona muda di belakang sedangkan di depan sudah siap Aloe dan Lao yang membawa senjata tajam


*Griet


Pintu berhenti dan hanya terbuka setengah


" Kakaaaak "


Aniel turun dari gendongan Adimas dan berlari memeluk kaki Sean yang masih ada di luar pintu


Terlihat di sana Sean berdiri di bantu Rohit , meski pintu terbuka setengah , namun mereka tidak dapat melihat luar pintu sedikitpun karena ke empat macan di sana menghalangi pandangan


" Ayo masuk dulu "


Sean menggandeng Aniel masuk ke dalam dan kembali menutup pintu


" Saya ambilkan p3k dulu "


Mao menghampiri Sean dan segera membawa Sean menuju sofa


" Kakak "


*Grep


Melodi memeluk kaki Rohit


" Hai sayang "


Rohit tersenyum


" Kakak bedalah "


Aniel memegang tangan Sean


" Kakak ngak papa "


Sean tersenyum


" Kamu kenapa "


Adimas melihat tangan Sean yang penuh darah


" Huaaaaaa papaaaaa "


Mutiara yang tidak terbiasa dengan darah menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Fadlan


" Tuan Rohit kemari dulu "


Aloe membawa Rohit dan melodi menuju anak-anak lain


" Kakak sakit "


Aniel naik ke atas sofa dan menyentuh pipi Sean


" Tidak "


Sean tersenyum


" Saya obati dulu "


Mao duduk di samping Sean


" Tuan buka pakaian anda , saya harus memastikan anda tidak terluka di lain tempat "


Mao mengeluarkan beberapa perban dan obat luka


" Kepalaku sakit , berikan obatku "


Sean menghiraukan Mao


" Ini tuan "


Mao memberikan beberapa obat untuk Sean


" Kakak halus di obati "


Aniel memeluk lengan Sean


" Jangan , nanti kamu kotor "

__ADS_1


Sean melepaskan pelukan Aniel


" Kemari Aniel "


Adimas mengambil Aniel


" Tapi kakak halus di obati "


Aniel menarik lengan pakaian Sean


" Iya "


Sean langsung saja melepaskan pakaiannya


*Deg


Adimas terkejut merlihat banyak luka tebasan benda tajam , luka baru dan luka yang hampir kering di sekujur tubuh Sean


*Srek


Aloe dan Lao memasang dan menutup kelambu agar yang lain tidak melihat luka di tubuh Sean


" Tuan muda keluar saja "


Key memegang bahu Adimas yang terlihat bergetar


" Aku sama kakak "


Aniel masuk ke dalam gendongan Aloe


" Bagaimana luka itu kamu dapat "


Adimas dengan suara bergetar bertanya kepada Sean


*Glup


Sean langsung menelan semua pil yang Mao berikan tadi


" Sean baik kak "


Sean tersenyum


" Sean akan di obati dulu , kakak keluar ya"


Sean menunjukkan sebuah senyuman kecil


" Ayo tuan , tenangkan diri anda dulu "


Key membawa Adimas menuju tempat anak-anak yang lain


" Kepala kakak sakit lagi "


Aniel bertanya


" Iya , tapi lebih baik sekarang "


Sean membiarkan Mao mengobati luka yang menganga di punggungnya


" Bagaimana dengan papa dan bunda "


Aniel bertanya


" Papa , bunda , mama , kakek dan lainnya sudah kakak kirim ke tempat yang aman"


Sean tersenyum


" Makasih kakak "


Air mata Aniel mengalir


" Kemarilah "


Sean meminta dan Aniel di letakan di depan Sean


" Kakak baik-baik saja cantik "


Sean mengusap air mata Aniel


" Tuan , bagian depannya belum "


Mao membuat Sean duduk menghadapnya


" Pasti sakit "


Aniel memegang tangan Sean


" Tidak "


Sean mengelak


" Mari saya perban "


Mao membuat Sean menghadap ke depan dan membalut luka Sean dengan perban hampir di sekujur tubuh Sean


" Kakak sudah makan "


Aniel merebahkan kepalanya di atas paha Sean


" Kakak tidak lapar "


Sean membelai lembut kepala Aniel


" Tidurlah kecil "


Sean meninabobokan Aniel dengan nada kecil yang halus


" Sudah "


Mao menyelesaikan perban Sean


" Ini pakaian anda "


Aloe memberikan satu kaos yang cukup longgar untuk Sean


" Hm... "


Sean memakainya dan perlahan merebahkan tubuhnya di atas sofa bulu yang dia duduki


" Perlahan tuan "


Mao membantu Sean


Tidak sadar Sean tertidur dengan posisi duduk di atas sofa dan tangannya yang masih ada di atas tubuh mungil Aniel


" Aku mau makan "


" Belikan aku cake "


" Kak lodi mau puding aja "


" Makaci "


Suara anak-anak membuat Sean terusik dan terbangun


" Kakak bangun "


Saat Sean membuka mata , terlihat Aniel berdiri di depannya


" Pagi "


Sean tersenyum


" Pagi hahaha "


Aniel memeluk kaki Sean


*Cup


Sean mengecup kening Aniel


" Ayo makan kak "


Aniel menarik tangan Sean


" Wah makan apa nih "


Sean berdiri dan mengikuti tarikan tangan Aniel


" Makan enak , Mao bilang masak banyak"


Aniel menarik Sean menuju meja lipat di sana


" Kakak "


Terlihat mutiara menatap Sean dengan takut dari balik tubuh Fadlan


" Hai cantik "


*Cup


Sean mengecup kening mutiara


" Tuan "


Rohit terkejut melihat Sean terhuyung


*Bruk


" Huuuhh... Mana obatku Mao "


Sean tiba-tiba duduk di kursi dan menghela nafas panjang


" Ini tuan "


Aloe memberikan obat Sean


*Glup


Sean menelan obat yang di berikan


" Obat apa itu "


Adimas bertanya


" Pereda nyeri "


Sean tersenyum


" Kakak sakit "


Aniel menarik celana Sean


" Sudah enggak , ayo makan "


Sean membawa Aniel ke atas kursi


Setelah makan berakhir


" Ada apa ini Sean "


Fadlan bertanya


" Tidak baik untuk mereka "


Sean mengusap kepala Aniel seakan Sean bilang ' aku akan cerita nanti saat adik tertidur '


" Baiklah "


Fadlan mengerti


" Ayo main "


Aniel mengajak melodi dan mutiara bermain dengan boneka yang ada di sana


" Kakak duduk di sini ya , nanti Aniel beli di sini "


Aniel dan mutiara memberikan beberapa boneka kepada Sean dan meminta Sean duduk di atas karpet


" Kakak harus apa "


Sean bertanya


" Kakak harus jadi orang jualan "


Melodi menjelaskan


" Iya iya , nanti kami yang beli "


Aniel mengangguk


" Iya "


Sean tersenyum


" Jadi ada apa Sean "


Fadlan dan Reyhan duduk di sebelah kanan Sean , sedangkan Adimas duduk di sebelah kiri Sean


" Ini masalah yang sudah cukup lama "


Sean menyelonjorkan kakinya


" Masalah apa "


Adimas penasaran


" Menyangkut pemalsuan kematian bunda dan kakak juga "


Sean membuat Adimas menjadi serius


" Dia... Maksudku orang yang merencanakan semua ini ingin mengambil harta yang papa miliki "


Sean menjelaskan


" Apa mereka miskin "


Reyhan memberikan pertanyaan random


" Hahaha mereka kaya "


Sean tertawa


" Lalu kenapa mau harta papa "


Adimas bertanya


" Hm.... Ada satu benda yang papa pegang hingga sekarang , itu adalah sesuatu untuk menuntun mereka menuju harta tersembunyi "


Sean menjawab


" Harta itu berupa emas atau apa "


Fadlan bertanya


" Kakak cerdas , harta itu bukan berupa emas atau lainnya yang bernilai uang "


Sean menerima boneka dari Aniel


" Lalu "


Mereka bertiga mendekat kepada Sean


" Sean ngak bisa bilang haha "


Sean tertawa kecil


" Kenapa "


Mereka bertiga kompak bertanya


" Sebaiknya kalian tidak tau atau kalian yang akan menjadi sasaran empuk para serigala "


Sean menoel hidung Fadlan


" Aku mengerti "


Fadlan dan Adimas mengangguk


" Enggak ngerti "


Reyhan menatap Sean jengkel


" Kakak harus menggunakan logika dan hati secara bersamaan "


Sean menaik turunkan alisnya


" Aaarrrgggg aku tidak suka teka teki "


Reyhan mengacak rambutnya frustasi


" Bukan teka teki kak "


Sean tersenyum


" Paman beli bonekanya "


Aniel menghampiri Sean


" Iya nona , saya jual boneka "


Sean meladeni anak-anak kecil bermain dan membiarkan ketiga saudaranya berpikir


Setelah beberapa saat bermain permainan yang melelahkan


" Aniel ngantuk "


Aniel menghampiri Sean


" Mutiala mau tidul "


Mutiara tiba-tiba saja tidur di atas paha Sean


" Aniel juga "


Aniel mengikuti mutiara


" Kemari cantik , tidurlah "


Rohit memanggil melodi


" Aku rindu kakak "


Melodi masuk ke dalam pelukan Rohit


" Setelah mereka bangun , kita akan keluar "


Sean memejamkan matanya


" Kakak istirahatlah "


Sean memerintahkan namun masih menutup matanya


" Dia keren "


Reyhan berbisik


" Iya , aku tau "


Adimas dan Fadlan mengangguk


Setelah beberapa saat , mereka sudah bersiap untuk keluar bertemu dengan keluarga


*Griet


Pintu perlahan terbuka setelah password di sana di buka oleh Sean , terlihat ruang tamu yang sama namun sepertinya perabotan telah banyak berubah


" Papa bunda "


Aniel dan Adimas memeluk orang tuanya dengan rindu


" Mama papa "


Mutiara , Fadlan dan Reyhan memeluk kedua orang tuanya


" Sean "


Sbastian menatap Sean tajam


" Iya papa "


Sean menunduk

__ADS_1


__ADS_2