
" Cium kakak dulu "
Sean menunjuk pipinya
*Cup
Aniel dan mutiara mencium pipi Sean satu persatu
" Satunya "
Sean menunjuk pipinya lagi
*Cup
" Udah mana "
Mereka berdua mengulurkan tangannya
" Pilih satu "
Sean menunjukkan beberapa amplop
" Eits... "
Sean menarik kembali amplopnya
" Di sini ada uang yang beda-beda , mulai dari seribu sampai seratus ribu , jika kalian udah ambil kakak akan tambah sesuai uang yang kalian ambil "
Sean menjelaskan
" Jadi halus milih bial dapet dua "
Aniel mengerti
" Iya "
Sean tersenyum
" Kami ikut "
Reyhan dengan antusias menghampiri Sean dan duduk di hadapan adik kecil
" Ingat , jika kalian dapat uang itu , akan aku lipat gandakan , jadi semoga beruntung "
Sean tersenyum
" Aniel mau ini "
Aniel mengambil satu amplop pink
" Ini Mutia "
Mutiara mengambil satu amplop hijau
" Nah kakak kakak silahkan pilih bergantian"
Sean membuat para kakak saling memelototi
" Kita suit "
Mereka bertiga saling mengadu suit dan akhirnya Reyhan yang pertama
" Yes haha "
Rehan terlihat senang
*Jeng...jeng
Adimas nomor dua dan Fadlan nomor tiga
" Ayo Rey cepet pilih "
Para saudara terlihat tegang
" Pilih ini aja kak , walnanya lucu "
Mutiara menunjuk salah satu amplop dengan warna biru
" Mutiara selalu beruntung "
Reyhan mengambil amplop biru
" Aniel pilih kakak dong "
Adimas meminta
" Ini aja "
Aniel menunjuk satu amplop dengan warna hitam
" Okey "
Adimas mengambil satu amplop hitam
" Kalian berdua pilihan kakak dong "
Fadlan tidak mau kalah
" Ini ya cantik "
" Iya "
Aniel dan mutiara menunjuk warna ungu
" Kalian kompak haha "
Semua orang tertawa
" Oke , silahkan dibuka "
Sean mempersilahkan
" Alin dapet belapa "
Mutiara bertanya
" Ngak bisa buka "
Aniel dan mutiara terlihat kesusahan
" Aku dapet lima puluh yeeey hahaha "
Reyhan terlihat senang
" Aku dua puluh "
Fadlan menunjukkan uangnya
" Aku tujuh puluh lima ribu "
Adimas terlihat terkejut
" Aku akan simpan "
Adimas langsung berlari ke atas
" Hahaha "
Semua orang tertawa melihat Adimas yang antusias
" Terus yang seratus ribu siapa "
Mereka bertanya-tanya
" Tia dapet uang melah "
Aniel membuat semua orang menoleh
" Wah mutiara beruntung "
Fadlan dan Reyhan terlihat iri
" Aku dapet olen Yeeee "
Aniel terlihat senang
" Tia mau olen juga "
Mutiara menunjuk uang Aniel
" Tapi ini punya Aniel "
Aniel tidak memeluk uang lima ribu miliknya
" Tapi Tia mau olen , kakak kasih Tia Olen"
Mutiara menghampiri Sean
" Sini tuker sama punya kakak "
Reyhan menghentikan langkah mutiara
" Ngak mau... Mau olen "
Mutiara menghampiri Sean
" Namanya anak kecil "
Sean terkekeh
" Mau olen aja nih "
Sean mengambil uang mutiara
" Iya "
Mutiara mengangguk
" Yaaah padahal kalau uang itu di tuker sama uang oranye pasti dapat banyak banget "
Ayu memanas manasi
" Bisa tukel "
Mutiara terkejut
" Bisa "
Sean mengangguk
" Mau tukel sama uang olen "
Mutiara terlihat gembira
" Hahaha tapi nanti ya , ini kamu bawa dulu"
Sean memberikan satu lagi uang merah untuk mutiara
" Aniel mana "
Aniel menunjukkan uang lima ribu miliknya
" Ini Aniel "
Sean memberikan satu lembar lima ribu lagi
" Aku "
Reyhan mengulurkan tangannya
" Nih "
Sean memberikan lima puluh
" Ekhem... "
Fadlan berdehem
" Nih buat kakak "
Sean memberikan uang dua puluh ribu
" Akuuuu "
Terlihat Adimas turun dari lantai atas dengan terburu-buru
" Karena uang tadi kakak simpen , jadi Sean kasih yang pecahan aja "
Sean memberikan satu uang biru , satu uang hijau dan satu uang oranye
" Woaaaaaahhh kakak Adimas hebat "
Aniel dan mutiara terlihat terkesan dengan uang yang di pegang oleh Adimas
" Hehehe "
Terlihat hidung Adimas memanjang
Setelah itu para anak-anak terlihat sibuk dengan uang yang mereka dapat dari jalan-jalan hari raya
" Sbastian "
Suara seorang wanita membuat se isi ruang tamu menoleh
" Mama "
Sbastian berdiri dan langsung saja melompati sofa menghampiri mamanya
" Kamu sudah sehat nak "
Terlihat mama lebih kurus dan tidak terawat
" Mama kenapa jadi begini "
Sbastian membawa nama duduk di sofa
" Kakek "
Sean berdiri menyambut papa Sbastian
" Kamu Sean "
Papa mengenali Sean
" Ini Sean kek , kakek duduk dulu "
Sean membawa papa duduk di samping Mama
" Kamu sudah besar "
Kakek membelai wajah Sean
" Pelayan ambilkan minuman hangat "
Sbastian berteriak
" Baik tuan "
Mereka yang ada di sana membungkuk hormat
" Kakak "
Suara seorang pria membuat se isi ruangan terkejut
" Leon "
Sbastian berdiri dan menghampiri Leon
" Kamu sudah besar "
Sbastian menangkup pipi Leon
" Leon rindu sama kakak "
Leon memeluk Sbastian dengan erat
" Di..dimana liona "
Sbastian melihat sekeliling
" Liona ngak bisa dateng "
Lion menjawab
" Mao... Mao "
Sean berteriak dan beranjak naik
" Saya tuan "
Terlihat Mao bergegas turun
" Kalian turunlah "
Sean meminta
" Baik tuan "
Mao mengangguk
" Sean ambilkan minumannya "
Sbastian meminta
" Iya papa "
Sean berjalan ke arah dapur
" Apa yang terjadi "
Sbastian berlutut di depan mamanya
" Salam tuan "
Terlihat Rohit datang dengan melodi
" Rohit kemari "
Sean memanggil Rohit
" Nah melodi main sama yang lain dulu ya "
Sean membawa melodi menuju Aniel
" Ayo semua masuk dulu "
Sean membawa Aniel dan lainnya ke dalam ruang belajar
" Ada apa Sean "
Fadlan menahan Sean
" Kakak akan tau nanti "
Sean menggiring masuk semua saudaranya
" Kak lodi... Aniel kangen "
Aniel memeluk melodi
" Aniel kenal ya sama kakak "
Melodi membalas pelukan Aniel
" Aniel inget bau kakak hehehe "
Aniel duduk di karpet bulu dan memulai percakapan antara anak-anak
" Tuan "
Mao masuk bersama key , Aloe dan Lao
" Kalian jaga anak-anak "
Sean memberi perintah
" Siap tuan "
Mereka terlihat bersiap
" Jika terjadi masalah bawa anak-anak menuju kakek tua "
__ADS_1
Sean mencium kening Aniel dan mutiara
" Saya mengerti "
Mao mengangguk
" Sean ada apa ini "
Reyhan memegang lengan Sean
" Kakak tetap di sini jaga anak-anak , Sean akan kembali nanti "
Sean menepuk pundak Reyhan dan berlalu keluar
*Cklek...greeet
setelah terdengar pintu terkunci , terlihat sebuah pintu besi menutupi pintu kayu di sana
" Mao kenapa ini "
Adimas terlihat panik
" Anda jangan panik tuan , jangan buat tuan dan nona muda panik "
Mao menenangkan
" Tapi Mao "
Adimas terlihat tidak bisa tenang
" Ini adalah bankar darurat yang di buat oleh tuan Sean , di sini sudah di lengkapi banyak barang , anda harus tetap di sini hingga tuan Sean yang datang menjemput "
Mao menjelaskan
" Tolong tuan , jangan buat yang lain panik "
Mao memegang pundak Adimas dan Fadlan
" Baik aku mengerti "
Reyhan terlihat tenang
" Adik adik ayo main "
Reyhan berlari dan memeluk Aniel juga mutiara
" Kamu melodi kan "
Reyhan menunjuk melodi
" Iya "
Melodi mengangguk
" Dia cepat bisa mengerti situasi "
Adimas menatap Reyhan
" Itu kemampuannya "
Fadlan mengangguk
" Mama papa sama lainnya baik baik aja kan Mao "
Fadlan bertanya
" Mereka akan baik-baik saja tuan "
Mao mengangguk
Waktu berlalu dan keheningan antara orang dewasa melanda
" Kakak "
Aniel menghampiri Adimas yang sedang duduk bersama Fadlan
" Kenapa , kamu ngantuk "
Adimas membawa Aniel ke dalam pangkuannya
" Iya , Aniel mau bunda "
Aniel menggosok matanya yang mulai menyipit
" Tidur sama kakak aja , bunda lagi terima tamu tadi "
Adimas berdiri dan menggendong Aniel
" Saya siapkan tempat tidur dulu "
Key membuka lemari yang ada di sana dan mengambil beberapa spray bulu tebal sebagai alas
" Tidurlah Aniel "
Adimas meletakkan Aniel di atas spray bulu yang di siapkan oleh key
" Mau di gendong kayak kak Sean "
Aniel yang sudah di tidurkan kembali bangun
" Mau gendong "
Adimas terkejut
" Sini saya gendong nona "
Mao dan key menghampiri
" Mau kak Dimas "
Aniel menggeleng
" Oke "
Adimas kembali menggendong Aniel dan meninabobokan Aniel namun itu gagal
" Mau gendong kayak kak Sean "
Aniel merengek
" Seperti ini tuan "
Mao datang dan membenarkan cara Adimas menggendong Aniel
" Begini "
Adimas di ajarkan cara untuk menggendong anak bayi
" Iya , lalu anda harus berayun kecil seperti ini"
Mao mempraktekkan
" Aku mengerti "
Adimas dengan kaku menggendong Aniel dan meninabobokan Aniel
" Aku mau juga kayak alin "
Mutiara menghampiri Fadlan
" Iya "
Fadlan menggendong mutiara dengan di bantu Mao
Setelah beberapa saat
" Capeknya , padahal Sean sering begini sampai berjam-jam "
Adimas merenggangkan bahunya yang terasa pegal setelah setengah jam menggendong Aniel
" Pijat di sini "
Fadlan terlihat langsung meminta di pijat oleh Reyhan
" Secapek itu kah "
Reyhan bertanya dengan penasaran
" Kakak Sean biasanya menggendong adik sampai pagi "
Melodi berbicara
" APA SAMPAI PAGI "
Reyhan terkejut dan berteriak
" Diamlah "
Fadlan memukul kepala Reyhan
" Apa sampai pagi "
Reyhan berbisik
" Iya , melodi kalau di suruh menginap di sini sama kakak , melodi sering lihat kak Sean kayak gini di ruang tamu sampai pagi"
Melodi menunjukkan cara Sean menggendong Aniel
" Wow keren "
Mereka bertiga terlihat kagum
" Apalagi kalau nona muda sedang sakit , tuan muda tidak bisa melepaskan nona muda seharian "
Mao dan lainnya duduk di sekitar Fadlan
" Benarkah "
Reyhan menatap Mao
" Tuan muda bahkan tidak bisa kemana-mana saat nona muda sedang sakit ataupun ingin di perhatikan "
Mao mengangguk
" Kalau begitu dia manja ya "
Adimas mengusap kening Aniel
Mao menjelaskan
" Jadi dia begitu kalau mau perhatian "
Reyhan menyimpulkan
" Nona jarang seperti itu , nona pernah bilang aku akan mengganggu kakak jika sudah satu Minggu kakak tidak bermain denganku "
Mao tersenyum
" Dia bilang padamu begitu "
Adimas penasaran
" Bahkan nona muda selalu pergi jika mendengar bahwa tuan Sean masih bekerja atau merawat tuan Sbastian "
Key menjawab penasaran Adimas
" Apa ini lama "
Adimas merebahkan tubuhnya di samping Aniel
" Kita bisa bertahan di sini lebih dari sebulan , anda tidak perlu khawatir "
Mao menenangkan
" Aku tidak khawatir pada diriku , aku khawatir pada orang tuaku "
Adimas memegang tangan Aniel dan memainkannya sedikit
" Mao "
Fadlan memanggil
" Iya tuan "
Mao menyahuti
" Apa masalah ini benar-benar parah , dan siapa yang membuat semua seperti ini "
Fadlan bertanya seolah dirinya mengatakan ' jelaskan sedetail mungkin kepadaku '
" Tuan Sean menyembunyikan banyak hal dari keluarga dan banyak orang , saya tidak berhak memberitahu "
Mao berkata seolah ' mohon jangan bertanya apapun itu '
" Aku mengerti "
Fadlan mengangguk
" Nah nona melodi juga pasti lelah , anda istirahat saja ya "
Key menidurkan melodi di samping mutiara
Sudah lama sejak Sean menggiring mereka masuk ke dalam bankar , tidak ada jendela ataupun pintu lain di sana , beberapa hal tersimpan rapih di dalam tembok , bahkan sofa di sana bisa di rubah menjadi tempat tidur
" Mao "
Aniel menarik tangan Mao
" Kenapa nona "
Mao yang sedang menyiapkan makanan di meja makan lipat menanggapi Aniel
" Ini sudah berapa hari "
Aniel membuat Mao tersentak
" Nona muda memang sangat pintar "
Mao mendudukkan Aniel di atas meja
" Hanya saya yang membawa jam di sini , jadi jangan beri tahu yang lain ya "
Mao menyentuh mulut kecil Aniel dengan telunjuknya seakan bilang ' saya akan mengatakan pada anda tapi anda harus diam'
" Aniel mengerti "
Aniel mengangguk
" Lihat , kita sudah lima hari di sini "
Aniel menunjukkan jam saku miliknya yang di samarkan menjadi Bros yang selalu ia pakai
" Kakak kok lama ya "
Aniel meletakkan kepalanya di atas pundak Mao
" Karena tuan harus melakukan beberapa hal lain untuk orang yang disayanginya "
Mao menjelaskan
" Aku rindu papa sama bunda "
Aniel memeluk erat Mao
" Kenapa "
Adimas menghampiri Aniel
" Nona hanya rindu dengan tuan muda Sean , bunda dan papa "
Mao menjelaskan
" Aku juga rindu sama mereka , kita sama Aniel "
Adimas mengambil Aniel dari pelukan Mao
*Greeet
Suara pintu membuat semua menoleh dan terlihat sedikit demi sedikit pintu terbuka
*Clang
Mao dan key mengamankan para tuan dan nona muda di belakang sedangkan di depan sudah siap Aloe dan Lao yang membawa senjata tajam
*Griet
Pintu berhenti dan hanya terbuka setengah
" Kakaaaak "
Aniel turun dari gendongan Adimas dan berlari memeluk kaki Sean yang masih ada di luar pintu
Terlihat di sana Sean berdiri di bantu Rohit , meski pintu terbuka setengah , namun mereka tidak dapat melihat luar pintu sedikitpun karena ke empat macan di sana menghalangi pandangan
" Ayo masuk dulu "
Sean menggandeng Aniel masuk ke dalam dan kembali menutup pintu
" Saya ambilkan p3k dulu "
Mao menghampiri Sean dan segera membawa Sean menuju sofa
" Kakak "
*Grep
Melodi memeluk kaki Rohit
" Hai sayang "
Rohit tersenyum
" Kakak bedalah "
Aniel memegang tangan Sean
" Kakak ngak papa "
Sean tersenyum
" Kamu kenapa "
Adimas melihat tangan Sean yang penuh darah
" Huaaaaaa papaaaaa "
Mutiara yang tidak terbiasa dengan darah menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Fadlan
" Tuan Rohit kemari dulu "
Aloe membawa Rohit dan melodi menuju anak-anak lain
" Kakak sakit "
Aniel naik ke atas sofa dan menyentuh pipi Sean
" Tidak "
Sean tersenyum
" Saya obati dulu "
Mao duduk di samping Sean
" Tuan buka pakaian anda , saya harus memastikan anda tidak terluka di lain tempat "
Mao mengeluarkan beberapa perban dan obat luka
" Kepalaku sakit , berikan obatku "
Sean menghiraukan Mao
" Ini tuan "
Mao memberikan beberapa obat untuk Sean
" Kakak halus di obati "
Aniel memeluk lengan Sean
" Jangan , nanti kamu kotor "
__ADS_1
Sean melepaskan pelukan Aniel
" Kemari Aniel "
Adimas mengambil Aniel
" Tapi kakak halus di obati "
Aniel menarik lengan pakaian Sean
" Iya "
Sean langsung saja melepaskan pakaiannya
*Deg
Adimas terkejut merlihat banyak luka tebasan benda tajam , luka baru dan luka yang hampir kering di sekujur tubuh Sean
*Srek
Aloe dan Lao memasang dan menutup kelambu agar yang lain tidak melihat luka di tubuh Sean
" Tuan muda keluar saja "
Key memegang bahu Adimas yang terlihat bergetar
" Aku sama kakak "
Aniel masuk ke dalam gendongan Aloe
" Bagaimana luka itu kamu dapat "
Adimas dengan suara bergetar bertanya kepada Sean
*Glup
Sean langsung menelan semua pil yang Mao berikan tadi
" Sean baik kak "
Sean tersenyum
" Sean akan di obati dulu , kakak keluar ya"
Sean menunjukkan sebuah senyuman kecil
" Ayo tuan , tenangkan diri anda dulu "
Key membawa Adimas menuju tempat anak-anak yang lain
" Kepala kakak sakit lagi "
Aniel bertanya
" Iya , tapi lebih baik sekarang "
Sean membiarkan Mao mengobati luka yang menganga di punggungnya
" Bagaimana dengan papa dan bunda "
Aniel bertanya
" Papa , bunda , mama , kakek dan lainnya sudah kakak kirim ke tempat yang aman"
Sean tersenyum
" Makasih kakak "
Air mata Aniel mengalir
" Kemarilah "
Sean meminta dan Aniel di letakan di depan Sean
" Kakak baik-baik saja cantik "
Sean mengusap air mata Aniel
" Tuan , bagian depannya belum "
Mao membuat Sean duduk menghadapnya
" Pasti sakit "
Aniel memegang tangan Sean
" Tidak "
Sean mengelak
" Mari saya perban "
Mao membuat Sean menghadap ke depan dan membalut luka Sean dengan perban hampir di sekujur tubuh Sean
" Kakak sudah makan "
Aniel merebahkan kepalanya di atas paha Sean
" Kakak tidak lapar "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Tidurlah kecil "
Sean meninabobokan Aniel dengan nada kecil yang halus
" Sudah "
Mao menyelesaikan perban Sean
" Ini pakaian anda "
Aloe memberikan satu kaos yang cukup longgar untuk Sean
" Hm... "
Sean memakainya dan perlahan merebahkan tubuhnya di atas sofa bulu yang dia duduki
" Perlahan tuan "
Mao membantu Sean
Tidak sadar Sean tertidur dengan posisi duduk di atas sofa dan tangannya yang masih ada di atas tubuh mungil Aniel
" Aku mau makan "
" Belikan aku cake "
" Kak lodi mau puding aja "
" Makaci "
Suara anak-anak membuat Sean terusik dan terbangun
" Kakak bangun "
Saat Sean membuka mata , terlihat Aniel berdiri di depannya
" Pagi "
Sean tersenyum
" Pagi hahaha "
Aniel memeluk kaki Sean
*Cup
Sean mengecup kening Aniel
" Ayo makan kak "
Aniel menarik tangan Sean
" Wah makan apa nih "
Sean berdiri dan mengikuti tarikan tangan Aniel
" Makan enak , Mao bilang masak banyak"
Aniel menarik Sean menuju meja lipat di sana
" Kakak "
Terlihat mutiara menatap Sean dengan takut dari balik tubuh Fadlan
" Hai cantik "
*Cup
Sean mengecup kening mutiara
" Tuan "
Rohit terkejut melihat Sean terhuyung
*Bruk
" Huuuhh... Mana obatku Mao "
Sean tiba-tiba duduk di kursi dan menghela nafas panjang
" Ini tuan "
Aloe memberikan obat Sean
*Glup
Sean menelan obat yang di berikan
" Obat apa itu "
Adimas bertanya
" Pereda nyeri "
Sean tersenyum
" Kakak sakit "
Aniel menarik celana Sean
" Sudah enggak , ayo makan "
Sean membawa Aniel ke atas kursi
Setelah makan berakhir
" Ada apa ini Sean "
Fadlan bertanya
" Tidak baik untuk mereka "
Sean mengusap kepala Aniel seakan Sean bilang ' aku akan cerita nanti saat adik tertidur '
" Baiklah "
Fadlan mengerti
" Ayo main "
Aniel mengajak melodi dan mutiara bermain dengan boneka yang ada di sana
" Kakak duduk di sini ya , nanti Aniel beli di sini "
Aniel dan mutiara memberikan beberapa boneka kepada Sean dan meminta Sean duduk di atas karpet
" Kakak harus apa "
Sean bertanya
" Kakak harus jadi orang jualan "
Melodi menjelaskan
" Iya iya , nanti kami yang beli "
Aniel mengangguk
" Iya "
Sean tersenyum
" Jadi ada apa Sean "
Fadlan dan Reyhan duduk di sebelah kanan Sean , sedangkan Adimas duduk di sebelah kiri Sean
" Ini masalah yang sudah cukup lama "
Sean menyelonjorkan kakinya
" Masalah apa "
Adimas penasaran
" Menyangkut pemalsuan kematian bunda dan kakak juga "
Sean membuat Adimas menjadi serius
" Dia... Maksudku orang yang merencanakan semua ini ingin mengambil harta yang papa miliki "
Sean menjelaskan
" Apa mereka miskin "
Reyhan memberikan pertanyaan random
" Hahaha mereka kaya "
Sean tertawa
" Lalu kenapa mau harta papa "
Adimas bertanya
" Hm.... Ada satu benda yang papa pegang hingga sekarang , itu adalah sesuatu untuk menuntun mereka menuju harta tersembunyi "
Sean menjawab
" Harta itu berupa emas atau apa "
Fadlan bertanya
" Kakak cerdas , harta itu bukan berupa emas atau lainnya yang bernilai uang "
Sean menerima boneka dari Aniel
" Lalu "
Mereka bertiga mendekat kepada Sean
" Sean ngak bisa bilang haha "
Sean tertawa kecil
" Kenapa "
Mereka bertiga kompak bertanya
" Sebaiknya kalian tidak tau atau kalian yang akan menjadi sasaran empuk para serigala "
Sean menoel hidung Fadlan
" Aku mengerti "
Fadlan dan Adimas mengangguk
" Enggak ngerti "
Reyhan menatap Sean jengkel
" Kakak harus menggunakan logika dan hati secara bersamaan "
Sean menaik turunkan alisnya
" Aaarrrgggg aku tidak suka teka teki "
Reyhan mengacak rambutnya frustasi
" Bukan teka teki kak "
Sean tersenyum
" Paman beli bonekanya "
Aniel menghampiri Sean
" Iya nona , saya jual boneka "
Sean meladeni anak-anak kecil bermain dan membiarkan ketiga saudaranya berpikir
Setelah beberapa saat bermain permainan yang melelahkan
" Aniel ngantuk "
Aniel menghampiri Sean
" Mutiala mau tidul "
Mutiara tiba-tiba saja tidur di atas paha Sean
" Aniel juga "
Aniel mengikuti mutiara
" Kemari cantik , tidurlah "
Rohit memanggil melodi
" Aku rindu kakak "
Melodi masuk ke dalam pelukan Rohit
" Setelah mereka bangun , kita akan keluar "
Sean memejamkan matanya
" Kakak istirahatlah "
Sean memerintahkan namun masih menutup matanya
" Dia keren "
Reyhan berbisik
" Iya , aku tau "
Adimas dan Fadlan mengangguk
Setelah beberapa saat , mereka sudah bersiap untuk keluar bertemu dengan keluarga
*Griet
Pintu perlahan terbuka setelah password di sana di buka oleh Sean , terlihat ruang tamu yang sama namun sepertinya perabotan telah banyak berubah
" Papa bunda "
Aniel dan Adimas memeluk orang tuanya dengan rindu
" Mama papa "
Mutiara , Fadlan dan Reyhan memeluk kedua orang tuanya
" Sean "
Sbastian menatap Sean tajam
" Iya papa "
Sean menunduk
__ADS_1