
" Berhenti "
Seorang penjaga menghentikan langkah Sean
" Aku sepertinya mengenal orang itu "
Seorang pria dari sebuah kios mendekat
" Astaga anda datang , mari saya antar "
Pria dari kios itu terkejut
" Anak anak , ini adalah paman comercant kalian bisa memanggilnya paman can "
Sean memberitahu
" Can ini adalah cucu kembarku dan dua anakku "
Sean memperkenalkan mereka
" Salam tuan muda , saya can penjaga kios"
Can memperkenalkan diri
" Apa dia di rumah "
Sean bertanya
" Sudah menunggu anda , silahkan tuan "
Can menuntun jalan
" Jangan lepaskan topeng kalian "
Sean memperingatkan
" Iya "
Cucu kembarnya mengangguk
" Ayo ayah gendong saja "
Atri membawa kedua anaknya ke dalam gendongannya
" Ayo Neve "
Sean berjalan sambil menggandeng Neve dan di ikuti Atri
" Hem... Banyak yang berubah ya "
Sean menggumam
" Tentu , nyonya merubahnya sesuai yang anda suka "
Can memberitahu
" Hem... Dia sangat imut haha "
Sean tertawa
" Bahkan kalian berdua sama-sama berpikir imut "
Can memberitahu
" Benarkah "
Sean terkejut
" Saat melewati lukisan anda , nyonya selalu bilang anda sangat imut "
Can menjawab
" Hahaha "
Sean terkekeh
" Sudah sampai tuan "
Can memberitahu
" Buka gerbangnya "
Can memerintahkan kepada dua penjaga di depan gerbang
" Kau belum memberikan kami uang "
Dua penjaga itu menundukkan badannya yang besar
" Oh... Sepertinya kedisiplinan di sini menjadi berkurang "
Sean angkat suara
" Memangnya siapa kau "
Kedua penjaga itu mendekati Sean
" Mereka baru tuan , maafkan kelalaian mereka "
Can memberitahu Sean
" Tetap bersama kakak Atri "
Sean melepaskan genggaman Neve
" Minggir "
Sean menyingkirkan tubuh gempal penjaga itu dan yang Sean lakukan membuat orang sekitar terkejut
" Can , potong saja tangannya "
Sean berjalan melewati dua orang itu
*Brak
Sean membuka pintu dengan tendangan paksa
*Sring
Semua pedang mengarah ke leher Sean
" Siapa kau "
Seorang penjaga yang kelihatannya setingkat lebih tinggi dari penjaga lain maju ke depan
" Kau yang siapa "
Sean melepaskan topengnya
*Brung..
Orang di depannya terjatuh dan ternganga
" N..Ny...nyonya... NYONYAAA "
Orang itu berlari menjauh
" Selamat datang tuan , maaf atas sambutan kami "
Semua orang menurunkan pedangnya dan membungkuk hormat
" Ayo anak anak "
Sean memanggil
" Ayo , Neve pegang tangan Terre "
Atri menurunkan kedua anaknya dan menggandeng ketiga anak kecil itu ke dalam
" RUDEUS "
Suara seorang wanita terdengar dari belakang
" Hai "
Sean tersenyum dan merentangkan tangannya
* Klang...
Wanita itu menjatuhkan pedang yang dia bawa dan berlari dengan senyuman
" Hahahaha "
*Grep....
Sean tertawa saat wanita itu memeluknya dengan erat
" Kau lama sekali sih "
*Plak
Wanita cantik itu memukul lengan Sean
" Hei kau itu sama saja ya "
Sean mencubit pipi wanita itu
" Oh ya , ini putraku Neve dan Atri "
Sean menunjuk Neve dan Atri
" Lalu anak manis ini pasti cucuku "
Wanita itu mengusap kepala anak anak Atri
" Benar sekali "
Sean mengangguk
" Anak anak , ini adalah nenek Bref , dia adiknya kakek "
Sean menepuk kepala wanita itu
Bref : adik kembaran raja Tian , wanita pendek yang imut dengan bulu mata lentik dan rambut panjangnya yang hitam membuatnya menjadi seorang wanita yang cantik
" Bibi... Neve tau foto bibi "
Neve menunjuk wanita itu
" Memang fotoku masih ada "
Bref menunjuk dirinya
" Masih , ada satu foto keluarga di kamar Neve "
Sean mengangguk
" Namamu Neve ya , Hem... Dia sepertinya mirip dengan ku "
Bref menggumam
" Jangan samakan dia denganmu yang psayco itu "
Sean menoel pipi Bref
" Oh ayolah kakak , baik menjadi raja Tian ataupun Sean , kau memang sama suka membunuh orang "
Bref berkacak pinggang
" Haissss kau itu , namamu saja Bref , jadi ya wajar kau pendek "
Sean mengejek
" KAKAAAAK TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN NAMAKU "
Bref berteriak
" Lagian itu kan hanya julukan yang kau berikan saja "
Bref menggerutu
" Oh ya , ada apa kalian di sini "
Bref bertanya
" Aku mau meminta bantuanmu "
Sean menjelaskan niatnya
" Bantuan apa "
Bref bertanya
" Bisakah bicara di dalam "
Sean meminta
" Boleh , ayo "
Bref mengambil pedangnya
" Ayo anak anak "
Sean menggiring anak anak kecil berjalan terlebih dahulu
" Apa benar dia kembaran ayah , kenapa Atri tidak pernah tau "
Atri menggerutu
" Kami berdua ini memang kembar , dan dia adikku "
Sean menjawab pertanyaan Atri
" Benarkah "
Atri terkejut
" Salah... Ayahmu ini yang adikku "
Bref menyangkal
" Kau itu adikku "
Sean berkacak pinggang
" Aku yang lahir lebih dulu tau "
Bref menatap Sean tajam
" Aku ini laki laki , jadi aku yang jadi kakak "
Sean membalas pelototan Sean
" Itu tidak adil "
Bref menghentakkan kakinya
" Ayah dan ibu ratu juga bilang gitu kan dulu, ibu asuh juga setuju "
Sean tidak mau mengalah
" Itu kan dulu "
Bref mengguncang lengan Sean
" Tetap saja "
Sean berkacak pinggang
" Ini akan lama tuan muda "
Seseorang mendekati Atri
*Deg
" Terkejut aku "
Atri mengelus dadanya
" Hehe maaf tuan muda , mari kita istirahat saja dulu , anda pasti lelah , nanti tuan dan nyonya pasti menyusul anda "
Laki laki itu menunjukkan jalan
Setelah banyak perdebatan
" Anda sudah selesai "
Laki laki yang tadi mengantar Atri kini bertanya kepada Sean dan Bref
" Kemana anak anakku "
Sean melihat sekeliling
" Saya mengantarkan mereka untuk istirahat "
Laki laki itu menjawab
" Ayo kesana "
Sean berkacak pinggang
" Mari tuan "
Laki laki itu menunjukkan jalan
" Ngomong ngomong kau mau minta bantuan apa "
Bref bertanya
" Kau lihat anakku Atri kan "
Sean bertanya
" Iya... Apa yang aneh "
Bref mengangguk
" Atri itu jagonya pedang , dia sangat baik dalam bertarung , tapi dia menjadi seorang yang sangat lemah lembut "
Sean menjelaskan
" Apa karena itu dia kehilangan istrinya "
Bref bertanya
" Iya , bisakah kau buat dia sedikit lebih tegas agar dia bisa melindungi anak anaknya"
Sean meminta
" Akan ku usahakan "
Bref mengangguk
" Aku sampai sekarang masih berpikir, haruskah ku bawa anak anakku pergi "
Sean memberitahu keluh kesahnya kepada Bref
" Tapi masamu dan masa mereka berbeda "
Bref menjelaskan
" Aku tau , aku memang lemah terhadap anak anakku "
Sean menggelengkan kepalanya
" Bawa Neve saja "
Bref memberi saran
" Hah "
Sean berhenti dan menatap Bref
" Ayolah , anakmu yang paling kecil itu masih sangat membutuhkanmu "
Bref menjelaskan
" Kau benar , aku bawa saja ya "
Sean meletakkan tangannya di atas dagunya
" Ayah "
Suara Neve membuat Sean terkejut
" Ayah lama "
Neve berlari dan memeluk kaki Sean
" Maaf ya "
Sean mengusap kepala Neve dan tersenyum
" Adik kembar di mana "
Sean bertanya
" Adek kembar udah tidur "
__ADS_1
Neve menjawab
" Kalau kak Atri "
Sean bertanya kembali
" Kak Atri tungguin adek kembar "
Neve menjawab kembali
" Baik , ayo temui kakak "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya
" Neve kalau ayah ajak mau ngak "
Sean mulai berjalan di iringi Bref
" Kemana "
Neve bertanya
" Kemana aja , tugas ayah masih banyak "
Sean menjawab
" Mau , Neve mau ikut ayah aja "
Neve memeluk leher Sean
" Kalau gitu besok kita berangkat "
Sean memberitahu
" Cepat sekali "
Bref memprotes
" Aku punya firasat buruk , aku harus pulang"
Sean memberitahu
" Baiklah "
Bref memonyongkan bibirnya
" Ayolah "
Sean mengusap kepala Bref
" Sudah sampai tuan "
Pria itu memberitahu
" Siapkan makan malam "
Bref memerintahkan
" Baik nyonya "
Pria itu berlalu dan pergi
*Griet...
Sean membuka pintu dan terlihat Atri tertidur di dekat anak anaknya
" Neve juga tidurlah "
Sean menepuk nepuk pundak Neve
" Ngak mau "
Neve menggeleng
" Neve mau main sama ayah "
Neve menepuk wajah Sean dengan tangan kecilnya
" Main apa "
Sean bertanya
" Lari lari mau "
Neve menawari
" Boleh "
Sean mengiyakan
" Kalian bisa main di taman belakang "
Bref menunjuk taman belakang yang terlihat jelas berada di balik kaca kamar
" Ayo kesana "
Neve menunjuk tempat itu
" iya "
Sean mengiyakan
Di taman setelah bermain dengan Neve
" Neve capek "
Sean bertanya
" Iya "
Neve mengangguk
" Kalau gitu ayo bobok siang "
Sean membawa Neve masuk ke dalam kamar Atri
Di kamar
" Ayah "
Atri terbangun
" Istirahatlah , ini masih jam tidur siang "
Sean meletakkan Neve yang baru saja selesai mengganti pakaian di samping Terre
" Iya "
Atri mengangguk
" Tidurlah di sana "
Sean menunjuk tempat tidur yang baru di sediakan di sudut yang lain
" Ayah juga istirahat "
Atri mengingatkan
" Iya , kamu tidurlah dulu "
Sean mengiyakan
Setelah itu Sean mulai beribadah dan tidur di samping Atri setelahnya
" Ayah "
Terdengar suara Neve di dekat telinga Sean
" Hm.. "
Sean yang sedang tidur pun hanya berdehem kecil
" Neve laper "
*Bugh..
Terasa tubuh kecil Neve berbaring di atas perut Sean
" Anak ayah laper "
Sean memeluk Neve dan membuka matanya
" Iya , mau makan "
Neve meminta
" Mau makan apa "
Sean bertanya
" Mau makan buah aja "
Neve meletakkan kepalanya di atas dada Sean
" Anak ayah manja sekali ya "
Sean mengusap kepala Neve
" Neve biasanya makan sendiri , karena sekarang ada ayah , jadi Neve mau makan sama ayah , kan besok ayah udah pergi "
Neve menjelaskan
*Deg
Hati Sean berdenyut
" Neve tau dari mana kalau ayah besok mau pergi "
Sean mengusap kepala Neve
" Neve dengar sendiri "
Neve menjawab
" Neve ngak mau di tinggal ayah , boleh ngak kalau Neve ikut ayah aja "
Neve memandangi Sean dengan air mata yang siap tumpah kapan saja
" Boleh "
Sean tersenyum
" Beneran "
Neve terkejut
" Iya "
Sean mengangguk
Neve memeluk Sean dan terkekeh kecil
" Dasar anak ayah "
Sean tersenyum
Malam harinya di meja makan
" Kakek ngak makan "
Terre bertanya
" Tuan putrinya kakek makan aja dulu , nanti kakek makan terakhir "
Sean memberikan paha ayam ke atas piring Terre
" Tapi nanti kakek ngak kebagian makan "
Terre memegang tangan Sean
" Tuan putri , di sini itu makanannya banyak sekali , dan makanan yang di atas meja boleh tuan putri habiskan sendiri "
Bref memberitahu
" Beneran nek "
Terre terkejut
" Iya "
Bref mengangguk
" Kalau gitu ayah juga boleh makan "
Terre memastikan
" Boleh , kakak Cieux , kamu , ayah dan kakak Neve juga boleh "
Bref mengangguk
" Makasih nek , nenek baik deh "
Terre turun dari kursinya dan memeluk kaki Bref
" Kak Ux kita makan yuk , kata nenek yang ada di sini boleh di makan semua "
Terre menghampiri Cieux yang baru saja datang dengan Atri
" Iya , kamu harus makan yang banyak "
Cieux mengusap kepala Terre
" Hehe kakak juga "
Terre memeluk Cieux
" Atri "
Bref memanggil
" Iya bibi "
Atri menyahuti
" Mulai besok kau harus sekolah lagi dengan bibi "
Bref menunjuk Atri
" Iya bibi "
Atri menurut
" Ayah jadi pulang besok "
Atri duduk di samping Sean setelah mendudukkan anak anaknya
" Iya , besok ayah juga bawa Neve "
Sean mengangguk
" Iya , Atri mengerti "
Atri mengangguk
Setelah makan malam , Sean mengajak cucu dan anaknya bermain pedang di taman belakang hingga larut malam
" Yeeeey Terre menang lagi "
Terre bangga bisa mengalahkan Cieux untuk kedua kalinya
" Ingat Cieux , pedang yang kau pegang harus kau gunakan hanya untuk menjaga teritorial daerahmu dari musuh "
Sean mengingatkan
" Teritorial daerahku adalah dimana keluargaku berada , Cieux mengerti "
Cieux mengangguk
" Lalu siapa itu keluarga "
Sean bertanya
" Terre yang jawab "
Terre mengangkat tangannya
" Silahkan putri kakek "
Sean mempersilahkan
" Keluarga itu semua yang di anggap berharga "
Terre menjawab
" Bagus kamu pandai sekali "
Sean mengusap kepala Terre
" Kak Neve ayo tanding lagi sama Cieux "
Cieux mengajak
" Boleh "
Neve mengiyakan
Setelah banyak pertandingan , akhirnya jam untuk tidur pun tiba
" Hem.. cucu kakek ketiduran di sini "
Sean membawa Terre yang tertidur di bangku taman
" Ayah kemana kek "
Cieux bertanya
" Ayahmu sedang bersama nenek "
Sean berjalan masuk di ikuti Cieux dan Neve
" Ngapain "
Neve bertanya
" Belajar "
Sean menjawab
Setelah itu anak cucu Sean tidur bersama di atas ranjang yang empuk di kamar yang di siapkan untuk anak anak dan di berikan tiga tempat tidur yang berbeda
" Empuk ya kak "
Cieux merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya sendiri
" Iya "
Neve mengangguk
" Nanti Cieux sendiri dong kalau kakak ikut sama kakek "
Cieux berbaring terlentang sambil menatap langit langit kamar
" Kan ada Terre "
Neve ikut terlentang
" Iya , tapi kan Terre itu adik , apalagi Terre itu perempuan , jadi nanti aku ngak ada teman buat main "
Cieux memberitahu bahwa dia tidak rela jika Neve pergi
" Nanti aku akan minta ayah untuk kesini sesekali "
Neve menepuk kepala Cieux
" Tidak bisa sering sering ya "
Cieux bertanya
" Kan ini antar ruang dan waktu , akan bahaya kalau sering sering , aku dengar itu dari ayah "
Neve menjelaskan
" Hei sudah waktunya tidur "
Sean datang menghampiri
" Adek kembar emang ngak boleh ikut ya ayah "
Neve bertanya
" Maaf sayang , adik kembar harus bersama ayahnya "
Sean mengusap kepala Neve
" Tapi adik kembar pasti lebih senang kalau sama kita , Neve kan selalu bersama adik kembar "
Neve memonyongkan bibirnya
__ADS_1
" Neve boleh milih , kalau Neve mau sama adik kembar mungkin ayah bisa jenguk Neve nanti "
Sean memberitahu
" Tapi Neve mau sama ayah terus "
Neve duduk dan memeluk Sean
" Kalau gitu nanti kita bisa ke sini sesekali"
Sean mengusap kepala Neve
" Neve bingung "
Neve mencibikkan bibirnya
" Neve punya waktu sampai sarapan besok "
Sean memberitahu
" Iya , Neve akan pikirkan "
Neve berbaring
" Sekarang tidurlah anak anak "
*Cup
Sean mengecup kening Cieux dan Neve
" Malam kakek "
" Malam ayah "
Cieux dan Neve berbicara dengan bersamaan
" Selamat malam "
Sean berdiri dan menutup kelambu nyamuk yang ada di sana
Setelah itu Sean menyingkirkan nyamuk nyamuk di sekitar Terre dengan cara mengibaskan kain di atas Terre hingga dengungan nyamuk menjauh
Setelah itu Sean mengecup kening cucu perempuannya dan menutup kelambu nyamuk Terre
Esok hari di meja makan setelah sarapan
" Jadi Neve mau gimana hari ini "
Sean bertanya
" Neve ikut ayah , nanti kita sering sering kesini ya ayah "
Neve meminta
" Iya "
Sean tersenyum dan mengusap kepala Neve
" Kau yakin mau kembali sekarang "
Bref bertanya kepada Sean
" Aku yakin "
Sean mengangguk
Setelah banyak percakapan , akhirnya Sean berangkat ke bibir pantai
" Hati hati ya ayah "
Atri memeluk Sean
" Jadilah kuat , itu yang ayah harapkan "
Sean menepuk pundak Atri
" Iya , Atri mengerti "
Atri mengiyakan
" Nak cucu kakek , ini dari kakek untuk kalian "
Sean mengeluarkan dua gelang berlian yang dia buat sendiri dari berlian desa Tiger
" Wah cantiknya "
Terre menerima gelang dari Sean
" Cieux kan laki laki "
Cieux menunjuk dirinya
" Kak Neve juga punya yang seperti itu , kalian bisa bertukar surat nanti "
Sean berbisik
" Benarkah kek "
Cieux terkejut
" Jangan beritahu ayah ya "
Sean menoel pipi Cieux dan Terre
" Iya hehe "
Cieux terkekeh
" Ini untuk kalian "
Sean memberikan sekantong kecil sesuatu
" Apa ini kek "
Terre bertanya
" Suatu saat kalian akan membutuhkan ini , simpan baik baik "
Sean memberikan masing masing satu kantong kulit kecil untuk cucunya
" Makasih kakek "
Cieux dan Terre memeluk Sean
" Kakek pergi ya "
Sean berdiri
" Kak Neve jangan lupa kirim surat ya "
Cieux dan Terre memeluk Neve dan berbisik
" Kalian juga "
Neve membalas bisikan si kembar
" Babay "
Neve melambaikan tangannya dan pergi menuju perahu
" Hati hati kakak dadah "
Cieux dan Terre melambaikan tangannya
Sean menaikkan Neve ke atas perahu dan mendorong perahu turun ke air
" Kamu siap "
Sean bertanya
" Siap "
Neve mengangguk
" Kita berangkat "
Sean mendorong perahu dari bibir pantai menuju laut di bantu oleh Atri
" JANGAN LUPAKAN KAMI YA KAKAK "
Terlihat Cieux dan Terre berteriak dan melambaikan tangannya
" SELAMAT TINGGAL PAMAN DAN ADEK KEMBAR "
Neve membalas teriakan si kembar dan melambaikan tangannya
Setelah pulau menghilang dari pandangan , akhirnya Neve terdengar tenang dan Sean sibuk membenarkan posisi layar
Saat Sean menoleh , terlihat Neve berdiri diam sambil melihat pulau yang sudah menghilang dari pandangan
" Neve "
Sean memanggil
" Hei "
Sean menepuk pundak Neve
" Nanti kita bisa kembali kan yah "
Sean bertanya
" Sesekali kita akan kesini nanti "
Sean mengusap kepala Neve
" Neve akan merindukan si kembar "
Neve memeluk Sean
" Anak ayah coba makan ini "
Sean mengeluarkan sebuah roti kecil dari dalam kantong kulitnya
*Aem...
Neve memakan dan menelannya
" Rasanya aneh "
Neve memegang mulutnya
" Ayah menambahkan sedikit bubuk batu biru milik ayah , itu akan membuatmu beradaptasi "
Sean menoel hidung Neve
" Neve ngantuk "
Neve mengusap matanya
" Tidurlah "
Sean mengambil sebuah selimut dan memakaikannya untuk Neve
Setelah beberapa saat akhirnya Sean keluar dari perbatasan dimensi dan terlihat sebuah perahu dengan seseorang di atasnya
" Selamat datang tuan "
Terlihat Alula menyambut
" Apa keluargaku kau antarkan dengan selamat"
Sean bertanya
" Saya hanya mengantarkan mereka sampai batas air , setelah itu Mao yang mengambil alih lainnya "
Alula menjawab
Sean naik ke atas perahu Alula sambil menggendong Neve yang masih tidur
" Kalau begitu langsung pulang "
Sean memerintahkan
" Baik "
Alula mulai menggerakkan perahunya
" Aku tidak melihat Roux "
Sean menggumam
" Kyung "
Dari perahu keluar Roux yang terlihat sedikit lebih besar dari terakhir kali
" Hahaha kau dari mana "
Sean tertawa
" Kyuung "
Roux melompat
" Aku tidak mengerti "
Sean menggumam
" Silahkan duduk dulu tuan "
Alula memberikan satu kursi untuk Sean
" Saya akan siapkan tempat tidur untuk tuan muda "
Alula beranjak pergi
" Tidak usah , ku gendong saja "
Sean melarang
" Baiklah tuan "
Alula mengangguk dan beranjak pergi
Setelah beberapa waktu , akhirnya terlihat sebuah portal di depan perahu
" Apa saya perlu siapkan perahu "
Alula menawari
" Ya , agar putraku tidak kedinginan "
Sean mengiyakan
Setelah itu Alula menurunkan sebuah perahu kecil yang hanya muat untuk satu orang
" Beritahu kepada yang lain untuk segera kembali ke rumah bunda "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Alula mengangguk
Sean turun ke atas perahu kecil dan Alula memerintahkan ombak laut untuk membawa Sean masuk ke dalam portal
*Ctas... Sring...
Sean memejamkan matanya dan saat cahaya menyambut kelopak mata Sean , Sean membuka mata
" Sudah lama sekali ya "
Sean tersenyum melihat dirinya berdiri di kolam renang rumah adinda
" Cepat ambilkan handuk "
Para pengawal langsung berlarian kesana kemari mengambilkan handuk dan minuman hangat untuk Sean
" Dimana papa "
Sean bertanya
" Tuan sedang tidak di rumah , beliau sedang di kantor "
Salah satu penjaga menjawab
" Sean "
Terdengar suara pak Sam dari arah pintu
" Kakek "
Sean tersenyum dan naik ke atas di bantu para pengawal
" Kamu baik baik saja kan "
Pak Sam mengusap kepala Sean
" Sean baik kek "
Sean tersenyum
" Siapa ini nak "
Pak Sam memaksudkan Neve kecil
" Namanya Neuvieme , dia sering di panggil Neve "
Sean memberitahu
" Ayo masuk , kamu basah kuyup "
Pak Sam mengambil selimut yang di bawa oleh para pengawal
" Salam tuan "
Luga , Ramlan dan kepala pengawal lainnya membungkuk hormat
" Dimana bunda "
Sean bertanya
" Adinda sedang di sekolahannya Aniel "
Pak Sam menjawab
" Kakek sudah lihat istriku "
Sean berbisik
" Kau ini , kau berhutang penjelasan kepada kakek ya "
Pak Sam menunjuk wajah Sean
" Iya kakek hahaha "
Sean tertawa
" Tuan "
Mao datang dengan Aloe dan Lao
" Dimana istriku "
Sean bertanya
" Nyonya sedang istirahat siang di kamar anda"
Mao menjawab
" Mari saya bantu dengan tuan muda "
Lao menawari
" Tidak perlu "
Sean menolak
" Apa kamarku masih sama , nuansa ikan "
Sean bertanya
" Masih tuan , hanya tempat tidurnya yang berubah ukuran "
Mao menjawab
Setelah itu Sean berjalan dan meletakkan Neve di atas sofa di dekat meja makan
" Ini pakaian anda "
Aloe memberikan satu setel pakaian
Setelah itu Sean berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya
" Tuan muda "
Terdengar suara bi Aini
__ADS_1
" Bibi "
Sean tersenyum