
" Neve "
Sean memanggil
" Iya ayah "
Neve menyahuti
" Siapa nama ayah Neve "
Sean bertanya
" Namanya Hantian Rudeus , kata kakak , Neve itu panggilan kecil dari ayah saat Neve masih bayi "
Neve menjawab
" Kamu benar , Neve itu panggilanmu saat bayi"
Tanpa sadar , air mata Sean luruh , membuat punggung kecil Neve sedikit basah
" Ayah "
Neve memanggil
" Kenapa "
Sean menyahuti
" Tidak... Neve sayang ayah "
Neve memeluk Sean dengan erat dan menelusupkan wajahnya di atas pundak Sean
" Ayah juga sayang Neve "
*Cup
Sean mencium kepala Neve
" Neve senang ketemu ayah "
Neve tersenyum manis
" Neve makan dengan benar kan "
Sean bertanya
" Tidak , Neve kadang tidak makan kalau tidak lapar , jadi kadang kakak yang paksa Neve makan "
Neve menjawab
" Kenapa di paksa "
Sean bertanya
" Karena kata kakak , Neve udah ngak makan tiga hari , Neve harus makan "
Neve menjawab
" Hm.... Neve hari ini udah makan belum "
Sean mengusap air matanya
" Belum... Neve ngak laper tadi pas sarapan"
Neve menjawab
" Terus kakak Neve paksa Neve ngak "
Sean bertanya
" Iya , kata kakak kemarin Neve seharian ngak makan "
Neve mengangguk
" Kalau makan sama ayah , Neve mau "
Sean menawari
" Mau mau "
Neve mengangguk dengan antusias
" Kita makan di mana ya "
Sean berbalik
*Deg
Sean melihat semua putranya berdiri di depannya dengan wajah yang pucat dan berlinang air mata
" Kakak... Neve di sini... hai kakak "
Neve melambaikan tangannya
" Ayah "
*Grep
Seorang pria berbadan tegap langsung masuk ke dalam pelukan Sean
" Bagaimana kabarmu Aine "
Sean mengusap kepala yang bersandar di pundaknya
" Baik... Baik... Aine baik "
Aine , jika kalian ingat , Aine putra pertama raja Tian
" Kamu mengenali ayah "
Sean tersenyum
" Gelang yang ayah berikan , itu bergetar saat ayah datang "
Aine melepaskan pelukannya dan menunjukkan gelang yang Sean berikan sebelum perpisahan
" Hm... Kamu sudah jadi raja ya "
Sean mengusap pundak Aine yang memakai pakaian resmi seorang raja yang khas dengan bulu perak di pundaknya
" Sesuai janji Aine kepada ayah "
Aine mengangguk
" Bagus... Ayah bangga padamu "
Sean menepuk pundak Aine dengan senyuman kebanggaan
" Ayah senang kalian baik-baik saja "
Sean tersenyum
" Ayah kemana saja "
Aine bertanya
" Ayah sudah pergi sebelum ini , kamu lihat kan kalau saat ini bukan wajah ayah "
Sean tersenyum
" Iya , Aine sadar "
Aine mengangguk
" Kalian tidak rindu dengan ayah "
Sean merentangkan tangan kanannya
" Bagaimana kami tau kalau kamu raja Hantian Rudeus ayah kami "
Putra ke lima Sean , Cinque mengerenyitkan keningnya
" Kalian tidak mengenali ayah , tapi ayah selalu mengenali bagaimanapun anak anak ayah "
Sean tersenyum
" Ayahku itu ayahku hehe "
*Cup
Neve mencium pipi Sean
" Putraku ya putraku "
*Cup
Sean mencium pipi Neve
" Aku sayang sama ayah , jangan pergi lagi ya ayah "
Neve menepuk pipi Sean
" Maaf sayang , ayah tidak bisa janji "
Sean mengusap pipi Neve
" Kalau begitu ayah harus selalu ada untuk Neve "
Neve menahan tangan Sean
" Ayah tidak bisa janji , tapi ayah akan selalu berdoa untuk malaikat kecil ayah "
Sean tersenyum
" Hehehehe "
Neve kembali memeluk leher Sean
" Hm.... Bagaimana kalau kita cari taman dan makan di sana "
Sean berbalik dan berjalan meninggalkan putranya yang lain
" Iya , ayah aku tau taman yang bagus "
Neve
" Di mana memangnya "
Sean
" Di sana , di rumah kakak "
Neve menunjuk arah kiri Sean
" Kamu pernah ke sana "
Sean berjalan mengikuti arahan putranya
" Pernah , tapi aku sembunyi-sembunyi "
Neve mengangguk
" Kenapa kamu sembunyi sembunyi "
Sean mengusap kepala Neve
" Para bibi yang jaga Neve gak ngebolehin Neve main ke sana , katanya nanti taman kakak jadi kotor "
Neve menjawab dengan enteng
*Brak... Gruduk... Gruduk...
Pilar penyangga bangunan di samping Sean hancur lebur seketika
" Apa kakak juga ngak ngebolehin Neve ke sana "
Sean melanjutkan perjalanannya
" Boleh , kakak bilang Neve boleh main kapan aja , kakak juga bilang kalau mau sesuatu , Neve tinggal cari kakak "
Neve menjawab
" Begitu "
Sean membersihkan tangannya
" Iya , tapi kakak perempuan yang selalu sama kakak , ngak ngebolehin Neve main ke sana , Neve pernah denger dari kakak pengasuh "
Neve mengangguk
" Kata pengasuh bagaimana "
Sean mengusap kepala Neve
" Katanya , eee... Lau... Lau... Lau apa kak "
Neve menengok ke belakang
" Ratu "
Sean membenarkan
" Iya itu , kakak pengasuh pas bicara sama kakak pengasuh yang lain bilang kalau jangan sampai Neve masuk ke gebrang rumah kakak , gitu ayah "
Neve menjelaskan
" Begitu "
Sean mengusap pipi Neve
" Iya ayah , ayah percaya kan sama Neve "
Neve menatap Sean dengan penuh harapan
" Ayah percaya , sekarang kita ke mana "
Sean berhenti di persimpangan
" Ke sana ayah , lihat rumah besar itu , itu rumah kakak "
Neve menunjuk sebuah bangunan yang megah
" Hem... Sangat cantik ya "
Sean tersenyum
Sean menoleh ke belakang
" Jangan ikuti ayah "
Sean berbicara dengan seluruh putranya
" Baik ayah "
Aine mengangguk
Sean melanjutkan perjalanannya menuju bangunan yang di tunjuk Neve
Di gerbang kediaman
" Siapa kamu "
Para penjaga menghentikan langkah Sean
" Hm... Kita masuk "
Sean bertanya kepada Neve
" Ayo "
Neve mengangguk
" Tapi ada paman paman ini , pasti ngak di bolehin "
Neve terlihat kecewa
" Boleh dong "
Sean tersenyum
" Caranya... Ooo... Kita panggil kakak ya "
Neve menebak
" Tetot salah "
Sean memencet hidung Neve
" Terus "
Neve menaikkan alisnya
*Brak... Prang...
Sean menendang gerbang besi di hadapannya hingga gerbang itu roboh dan peyot
" Ayah hebat "
Neve ternganga
" Hahaha ayah ini hebat lho "
Sean tertawa mendengar pujian Neve
" Kakak Aine juga selalu cerita kalau papa itu hebat "
Neve memberitahu dengan antusias
" Benarkah "
Sean berjalan memasuki rumah Aine
" Iya ayah , kakak yang lain kalau lagi sama Neve juga selalu cerita soal ayah , apalagi kalau makan sama Neve , pasti ceritanya semua tentang ayah , Neve sampai hafal "
Neve
" Hahaha , cerita apa saja yang kamu dengar "
*Bug... Bug... Syut...
Sean membuat semua orang yang menghalangi jalannya menjadi pingsan
Saat Sean melakukan semua itu , Sean memastikan pandangan Neve kecil hanya terbatas di dalam pelukannya saja
" Apa kita sudah sampai "
Sean menurunkan Neve di bawah sebuah pohon
" Itu ayah , itu bunga yang Neve suka , ayo kesana "
Neve menarik tangan Sean menuju sebuah kolam yang cukup indah
*Sring
Sebuah pedang berhenti tepat di depan Neve
*Grep
Sean dengan spontan menarik Neve ke dalam pelukannya
__ADS_1
" Siapa kau "
Seorang laki-laki yang kelihatannya seperti penjaga dengan baju zirah yang lebih berkilau dan berkelas menghadang Sean
" Aku "
Sean menunjuk dirinya
" Kau mau membawa mahluk hina itu kemana"
Penjaga itu bertanya
" Memangnya kamu siapa "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya dan berdiri
" Aku panglima di sini sekaligus tangan kanan tuan Douxieme "
Penjaga itu memperkenalkan diri
" Ahahaha orang sepertimu di pilih sebagai tangan kanan Doux hahaha "
Sean terbahak-bahak mendengar pengakuan pria itu
" Kau pelayan rendahan "
*Plak
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Sean dan sedikit mengenai kepala Neve
" Ayah... "
Neve langsung bergetar hebat di dalam pelukan Sean
*Blar
Terlihat aura kemarahan menyelimuti tubuh Sean , membuat semua orang di kerajaan merasakan sebuah tekanan yang dahsyat
" Neve , ayah di sini , siapa yang memukul Neve nya ayah , maka akan ayah pukul balik"
Sean mengusap punggung Neve
Sean mengeluarkan sebuah kain gendongan atau orang Jawa lebih mengenalnya dengan sewek
" Neve jangan lihat ke depan ya "
Sean membuat Neve menggelantung di dadanya menggunakan kain panjang yang sudah dia ikatkan di pundaknya
Neve semakin erat memeluk Sean
" Kau harus membayarnya "
*Sring
Sean mengeluarkan sebilah pedang dari dalam dimensinya
*Syut
Sean tiba-tiba menghilang dari pandangan
" Lamban "
*Sring
Sean membuat punggung baju zirah prajurit itu tergores
" Dia cepat sekali "
Penjaga itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dari mana arah Sean berasal
" Lambat "
Suara Sean kembali menggema di telinga laki-laki itu
" Lambat "
*Sret... Sret...
Sean berkali kali muncul dan menghilang di sekitar prajurit itu
*Sret
Sean tiba-tiba muncul di hadapan prajurit itu
" Kau , sudah membuat putraku ketakutan , setidaknya kau harus merasakan hal yang sama "
Sean tersenyum dan berbalik meninggalkan prajurit itu
" Aku kira aku akan mati "
Prajurit itu mengusap keningnya dengan tangan kanannya
*Crasss...
Tangan kanan pria itu jatuh dan darahnya menyembur membuat wajah pria itu penuh dengan cairan merah berbau amis menjijikkan
" AAARRRGGGG TANGANKU "
Teriakan pria itu menggema di seluruh penjuru istana
" Ayah "
Aine mendekat
" Aku memutuskan tangannya , kau marah "
Sean mengusap kepala Neve
" Tentu tidak , Neve sudah banyak mencari bukti untuk menghukumnya , tapi Aine masih kekurangan bukti , terimakasih ayah "
Aniel tersenyum
" Aine kau harus tegas dan tangkas jika menjadi seorang raja , ayah akan mengajarimu banyak hal "
Sean menepuk pundak Aine
" Ayah "
Douxi mendekat
" Kemari kecil "
Aine mengambil Neve dari gendongan Sean
" Kami merindukanmu ayah "
Semua putranya masuk ke dalam pelukan Sean
" Maaf ayah , kami tidak percaya dengan ayah"
Salah satu putranya memeluk Sean dengan erat
" Kalian sudah melakukan apa yang ayah minta "
Sean bertanya
*Srob
Semua putranya mengusap ingus yang keluar
" Hahaha kalian ini "
Sean mengusap kepala salah satu putranya
" Kami sudah melakukan semua perintah ayah , kami tau ayah tidak akan pernah kembali setelah waktu itu "
Troisième putra ketiga Sean menjawab
" Ayah bisa melihatnya "
Sean tersenyum
" Nah... Ini waktu makan siang , kalian sudah makan "
Sean mengambil Neve dari gendongan Anie
" Belum ayah "
Semua serempak menjawab pertanyaan Sean
" Ayahanda "
Terdengar suara teriakan kecil dari beberapa arah yang berlawanan
" Jangan lari-lari nanti jatoh adek "
Suara yang lain menyahuti
" Putri ayah "
Aine , duexi dan troisi menyambut beberapa gadis kecil yang datang
" Hm... Siapa gadis gadis manis ini "
Sean bertanya
" Ini putri kami "
Aine menjawab
" Hem... Kalian bertiga "
Sean menunjuk putra pertama , kedua dan ketiganya
" Iya "
Mereka mengangguk
Sean melirik putranya yang lain
" Ekhem... Aku sudah lapar "
" Ah ya benar aku tebak di meja makan sudah penuh "
" Ayo pergi "
Putra Sean yang lain segera pergi dari pertanyaan pernikahan Sean
" Hahaha dasar kalian "
Sean tertawa
" Ya begitulah ayah , mereka selalu menghindar jika di minta menikah "
Aine memberitahu
" Ayah "
Seorang anak laki-laki menarik celana panjang Duexi ( putra kedua Sean )
" Iya "
Duexi menyahuti
" Siapa kakak ini "
Anak itu menunjuk Sean
" Siapa namanya "
Sean balik bertanya
" Namamu siapa , kakek bertanya padamu "
Duexi melihat pangeran kecil di sampingnya
" Namaku Brave "
Anak laki-laki itu menjawab dengan berani
" Hm... Anak yang pemberani , siapa ayahmu "
Sean bertanya
" Ayahku Fils Troisieme Rudeus , orang yang memegang kendali perdagangan di kerajaan"
Anak kecil bernama Brave itu menjawab dengan bangga
" Hem... Asal kau tau ayahmu itu dulu penakut "
Sean berjalan meninggalkan kerumunan
" A..ayah jangan cerita "
Troisieme mengejar Sean
" Jika kalian bisa tunjukkan dimana ruang makannya , maka kakek akan cerita semua tentang ayah kalian saat masih kecil "
Sean memancing anak-anak yang ada di sekitar putranya
" Woah.... Mau mau "
Semua anak di sana berlarian mengikuti langkah Sean
" Kakek "
Seorang anak laki-laki dan perempuan menghentikan langkah Sean
" Aku Brave Rudeus dan ini Belle violent kembaranku , kami akan memandu kakek sampai ke ruang makan "
Kedua kembaran itu terlihat bersemangat
" Anak siapa kalian "
Sean bertanya
" Kami putra putri pangeran Troisieme Rudeus "
Brave berbangga diri
" Iya iya "
Sean tersenyum
" Kamu beneran kakek "
Anak yang lain bertanya
" Iya , bener "
Sean mengangguk
" Tapi kok kakeknya masih muda "
Anak yang lain terlihat masih meragukan
" Iya , ayahku keliatan lebih tua "
Brave mengangguk
" Hahaha , kalian lihat paman kalian ini , dia seperti kalian padahal lebih tua "
Sean menunjuk putra kecilnya yang sepertinya menikmati gendongan Sean
" Oh iya , paman kan sama pendeknya kayak Belle "
Brave menunjuk saudari kembarnya
" Kakek mau kenal kalian satu-satu "
Sean meminta
" Aku kek aku , aku pangeran Armes Blances Rudeus , aku putra yang mulia raja Aine "
Seorang anak laki-laki kecil dengan wajah tampan memperkenalkan diri
" Kau putra Aine "
Sean bertanya
" Iya kek , aku putra Fils Aine Rudeus "
Pangeran Armes dengan bangga memperkenalkan diri
" Aku kek , aku Etoile Filante , putri dari ayah Aine "
Gadis kecil yang terlihat berpakaian seperti saudara laki-lakinya memperkenalkan diri
" Dia ini adikku kek "
Pangeran Armes menunjuk putri Etoile
" Kalian dua bersaudara "
Sean bertanya
" Iya kek , dan nanti kami mau punya adek bayi kek "
Pangeran Armes mengangguk
" Hm... Bagus , rawat adik Kalian baik-baik ya"
Sean berpesan
" Iya kakek "
Kedua anak itu mengangguk
" Saya Mois Rudeus , putra Fils Douxieme Rudeus"
Seorang anak laki-laki yang terlihat lembut dan tegas
" Hm.. kamu terlihat berwibawa , seperti ayahmu "
Sean tersenyum
" Terimakasih kakek "
Pangeran Mois tersenyum lembut
" Saya Plaina Luna , saya putri dari Fils Douxieme Rudeus , dan dia kakak saya "
Seorang gadis kecil dengan penuh wibawa menunjuk pangeran Mois
" Hahaha kalian berdua pasti belajar dari ibu kalian "
Sean tertawa
" Tidak kakek , yang mengajari kami adalah ayah , karena ibu masih memiliki adik kecil , jadi jarang bisa membantu kami belajar "
Putri Luna menjawab
" Oh... Seharusnya kalian tau kelakuan ayah kalian "
Sean memonyongkan bibirnya
" Ayah jangan cerita "
Douxieme mengejar Sean
__ADS_1
" Diam anak nakal "
Sean melirik Douxieme
" Kakek Kakek lihat aku , aku Solide Rudeus , putra Fils Douxieme Rudeus , aku putra kedua "
Anak kecil dengan penampilan acak acakan memperkenalkan diri dengan semangat
" Kau adiknya mereka "
Sean menunjuk Luna dan Mois
" Iya "
Solide mengangguk
" Kau berbeda nak hahaha "
Sean tertawa
" Ayah tertawa hahaha "
Neve menepuk pipi Sean dan ikut tertawa
" Ayah tertawa "
*Cup... Cup...cup...
Sean menciumi seluruh wajah Neve
" Kyahahaha "
Neve tertawa dan menjauhkan wajah Sean
" Kakek kakek "
Sebuah suara mengalihkan pandangan Sean dan Neve
" Si kembar "
Neve menunjuk dua anak yang berdiri di samping Sean
" Neve kenal "
Sean bertanya
" Si kembar sering ke tempat Neve sambil bawa coklat "
Neve mengangguk
" Siapa nama kalian "
Sean bertanya
" Aku Cieux Rudeus "
Anak laki-laki kecil menepuk dadanya
" Saya Terre "
Anak perempuan yang terlihat berwajah sama dengan Cieux memberi hormat
" Cieux dan Terre , Kalian anaknya siapa "
Sean bertanya
" Kami putra dan putri pangeran ke empat , pangeran Quatrième Rudeus "
Cieux memberi hormat
" Kalian putra putrinya Atri "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Iya , tapi ibu kami hanya orang biasa "
Mereka mengangguk
" Lalu apa hubungannya "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Kata orang-orang kami hanya darah campuran jadi... "
Cieux berhenti berkata
" Atri "
Sean memanggil
" Iya ayah "
Pangeran ke empat mendekat
" Aine "
Sean memanggil
" Saya ayah "
Aine mendekat
" Kau menikahi ibu anak ini "
Sean berhenti
" Iya ayah , dan Atri membawanya kemari karena... Ibu mereka sudah "
Pangeran Atri berhenti berbicara
" Sudah tidak ada "
Sean menebak
" Iya "
Atri mengangguk
" Kau mencintainya Atri "
Sean kembali bertanya
" Iya ayah , Atri tidak mau menikah lagi "
Atri menunduk
" Kau dengan Aine "
Sean melirik Aine
" Iya ayah , Aine tau dan Aine tidak memaksa , yang memaksa itu para menteri"
Aine menjawab
" Anak anak "
Sean memanggil
" Kami kakek "
Mereka semua menjawab
" Bisakah kalian semua masuk ke dalam ruang makan dulu , kakek mau bicara dengan ayah kalian "
Sean meminta
" Iya , ayo Terre "
Brave menarik Terre dan Cieux di tarik oleh Mois sedangkan yang lain berlari di belakang mereka
Setelah anak-anak menghilang
" Aine "
Sean memakaikan penutup telinga di telinga Neve dan memberikan boneka untuk Neve
" Saya ayah "
Aine mendekat
" Kamu raja "
Sean bertanya
" Iya ayah "
Aine mengangguk
" Lalu kamu di atur oleh para Mentri "
Sean menatap Aine dengan tajam
" ..... "
Aine diam
" Kamu itu raja , kamu itu pemimpin , bagaimana bisa kamu di atur oleh bawahanmu"
Sean bertanya
"...."
Aine menundukkan kepalanya
" Kapan pertemuan selanjutnya "
Sean bertanya
" Setelah makan siang "
Aine menjawab
" Ayah akan itu pertemuan nanti , siapkan banyak pensil di atas meja ayah "
Sean meminta
" Aine mengerti ayah "
Aine mengangguk
" Dan kalian semua harus hadir "
Sean menunjuk semua putranya
" Baik ayah "
Mereka mengangguk
" Dan Atri , mulai sekarang ayah mau kamu lebih menguatkan posisimu di sini , jika tidak anak-anakmu yang akan mendapat imbasnya "
Sean berjalan meninggalkan putranya
" Iya... Ayah "
Atri menunduk
" Sekian lama tidak bertemu ayah dan kita langsung di marahi "
Pangeran Huitieme menggerutu
Fils Huitieme Rudeus : putra ke delapan Sean
" Kamu belum menikah , jadi tidak akan tau"
Aine menonyor kepala pangeran eme
" Kakak , apa aku harus pergi dari istana "
Atri membuat langkah Aine berhenti
" Tidak Atri , kamu itu terlalu lembut saat ini , ayah benar... Kamu harus menguatkan posisimu di sini "
Aine mengangguk
" Iya , kasihan anakmu , yah meski jika kau tidak ada masih ada kami sih "
Pangeran Huitieme menepuk pundak Atri
" Aku tau , tapi.... "
Atri menundukkan kepalanya
" Pikirkan keputusan yang terbaik untuk anak anakmu , menjadi seperti yang lain atau kau memilih jalanmu sendiri , itu ada di tanganmu "
Douxi merangkul pundak Atri
" Sudah , ayo pergi ke ruang makan , aku yakin terjadi sesuatu di sana "
Pangeran sixieme , pangeran ke enam menarik saudara saudaranya
Di ruang makan
" Ada apa ini "
Aine terkejut melihat semua orang sangat ribut
" salam matahari kekaisaran , Ini yang mulia , ada seorang pria yang duduk di tempat anda "
Pelayan di sana menjawab
" Maksudmu pria yang menggendong pangeran Neve "
Aine bertanya
" Iya yang mulia "
Mereka mengangguk
" Ya sudah , memang kenapa "
Aine masuk dan melihat pemandangan yang menghebohkan
Sean duduk di kursi paling ujung tempat untuk raja , dan para pangeran juga putri kecil duduk di sekitarnya , berbeda dari aturan biasanya
" Masukkan makananya "
Aine memerintahkan
" Baik yang mulia "
Para pelayan membungkuk
Aine duduk di ujung bersama saudaranya dan menyisakan beberapa kursi kosong milik para wanita
Selama menunggu hidangan di sajikan , para tuan dan nona kecil saling mengajukan pertanyaan untuk Sean secara bergantian
" Ayah "
Neve memanggil
" Iya "
Sean menyahuti
" Kenapa adik adik kecil ini tidak berhenti berbicara "
Neve menunjuk para pangeran dan putri
" Kenapa ya "
Sean mengusap kepala Neve
" Kakek "
Brave memanggil
" Iya "
Sean Menoleh
" Kenapa kakek ngak tua tua kayak kakeknya teman teman "
Brave bertanya dan di angguki yang lain , bahkan si duo pendiam ikut mengiyakan
" Kenapa ya "
Sean tersenyum
" Kenapa kek "
Semua serempak bertanya
" Hahaha kalian mau tau "
Sean balik bertanya
" Iya "
Semua mengangguk
" Rahasia haha "
Sean terkekeh
" Yaaaaa kakek , kok rahasia sih "
Semua cucu Sean memonyongkan bibirnya
" Hahaha "
Sean tertawa di ikuti tawa Aine dan saudaranya
Setelah selesai makan
" Kalian waktunya tidur siang "
Aine berdiri dari meja makannya
" Iya ayah raja hoam.... "
Semua cucu turun dari kursi perlahan dan berjalan mengikuti ayah mereka masing-masing
" Biarkan mereka tidur di satu ruangan "
Sean meminta
" Kalau begitu di ruang main saja "
Aine dan lainnya menggiring anak-anaknya ke tempat bermain yang tidak jauh dari ruang makan
Di dalam ruang bermain terlihat satu tempat tidur di lantai yang sangat luas dan hampir memenuhi seluruh ruangan
" Ayo semua , kita tidur "
Aine dan saudaranya menggiring anak anak agar tidur dengan rapih dan benar
" Nah Neve tidur di sini "
Aine mengambil Neve dari gendongan Sean dan meletakkannya di samping Solide
__ADS_1