Aku Pangeran

Aku Pangeran
#122 ( anak anak )


__ADS_3

" Neve "


Sean memanggil


" Iya ayah "


Neve menyahuti


" Siapa nama ayah Neve "


Sean bertanya


" Namanya Hantian Rudeus , kata kakak , Neve itu panggilan kecil dari ayah saat Neve masih bayi "


Neve menjawab


" Kamu benar , Neve itu panggilanmu saat bayi"


Tanpa sadar , air mata Sean luruh , membuat punggung kecil Neve sedikit basah


" Ayah "


Neve memanggil


" Kenapa "


Sean menyahuti


" Tidak... Neve sayang ayah "


Neve memeluk Sean dengan erat dan menelusupkan wajahnya di atas pundak Sean


" Ayah juga sayang Neve "


*Cup


Sean mencium kepala Neve


" Neve senang ketemu ayah "


Neve tersenyum manis


" Neve makan dengan benar kan "


Sean bertanya


" Tidak , Neve kadang tidak makan kalau tidak lapar , jadi kadang kakak yang paksa Neve makan "


Neve menjawab


" Kenapa di paksa "


Sean bertanya


" Karena kata kakak , Neve udah ngak makan tiga hari , Neve harus makan "


Neve menjawab


" Hm.... Neve hari ini udah makan belum "


Sean mengusap air matanya


" Belum... Neve ngak laper tadi pas sarapan"


Neve menjawab


" Terus kakak Neve paksa Neve ngak "


Sean bertanya


" Iya , kata kakak kemarin Neve seharian ngak makan "


Neve mengangguk


" Kalau makan sama ayah , Neve mau "


Sean menawari


" Mau mau "


Neve mengangguk dengan antusias


" Kita makan di mana ya "


Sean berbalik


*Deg


Sean melihat semua putranya berdiri di depannya dengan wajah yang pucat dan berlinang air mata


" Kakak... Neve di sini... hai kakak "


Neve melambaikan tangannya


" Ayah "


*Grep


Seorang pria berbadan tegap langsung masuk ke dalam pelukan Sean


" Bagaimana kabarmu Aine "


Sean mengusap kepala yang bersandar di pundaknya


" Baik... Baik... Aine baik "


Aine , jika kalian ingat , Aine putra pertama raja Tian


" Kamu mengenali ayah "


Sean tersenyum


" Gelang yang ayah berikan , itu bergetar saat ayah datang "


Aine melepaskan pelukannya dan menunjukkan gelang yang Sean berikan sebelum perpisahan


" Hm... Kamu sudah jadi raja ya "


Sean mengusap pundak Aine yang memakai pakaian resmi seorang raja yang khas dengan bulu perak di pundaknya


" Sesuai janji Aine kepada ayah "


Aine mengangguk


" Bagus... Ayah bangga padamu "


Sean menepuk pundak Aine dengan senyuman kebanggaan


" Ayah senang kalian baik-baik saja "


Sean tersenyum


" Ayah kemana saja "


Aine bertanya


" Ayah sudah pergi sebelum ini , kamu lihat kan kalau saat ini bukan wajah ayah "


Sean tersenyum


" Iya , Aine sadar "


Aine mengangguk


" Kalian tidak rindu dengan ayah "


Sean merentangkan tangan kanannya


" Bagaimana kami tau kalau kamu raja Hantian Rudeus ayah kami "


Putra ke lima Sean , Cinque mengerenyitkan keningnya


" Kalian tidak mengenali ayah , tapi ayah selalu mengenali bagaimanapun anak anak ayah "


Sean tersenyum


" Ayahku itu ayahku hehe "


*Cup


Neve mencium pipi Sean


" Putraku ya putraku "


*Cup


Sean mencium pipi Neve


" Aku sayang sama ayah , jangan pergi lagi ya ayah "


Neve menepuk pipi Sean


" Maaf sayang , ayah tidak bisa janji "


Sean mengusap pipi Neve


" Kalau begitu ayah harus selalu ada untuk Neve "


Neve menahan tangan Sean


" Ayah tidak bisa janji , tapi ayah akan selalu berdoa untuk malaikat kecil ayah "


Sean tersenyum


" Hehehehe "


Neve kembali memeluk leher Sean


" Hm.... Bagaimana kalau kita cari taman dan makan di sana "


Sean berbalik dan berjalan meninggalkan putranya yang lain


" Iya , ayah aku tau taman yang bagus "


Neve


" Di mana memangnya "


Sean


" Di sana , di rumah kakak "


Neve menunjuk arah kiri Sean


" Kamu pernah ke sana "


Sean berjalan mengikuti arahan putranya


" Pernah , tapi aku sembunyi-sembunyi "


Neve mengangguk


" Kenapa kamu sembunyi sembunyi "


Sean mengusap kepala Neve


" Para bibi yang jaga Neve gak ngebolehin Neve main ke sana , katanya nanti taman kakak jadi kotor "


Neve menjawab dengan enteng


*Brak... Gruduk... Gruduk...


Pilar penyangga bangunan di samping Sean hancur lebur seketika


" Apa kakak juga ngak ngebolehin Neve ke sana "


Sean melanjutkan perjalanannya


" Boleh , kakak bilang Neve boleh main kapan aja , kakak juga bilang kalau mau sesuatu , Neve tinggal cari kakak "


Neve menjawab


" Begitu "


Sean membersihkan tangannya


" Iya , tapi kakak perempuan yang selalu sama kakak , ngak ngebolehin Neve main ke sana , Neve pernah denger dari kakak pengasuh "


Neve mengangguk


" Kata pengasuh bagaimana "


Sean mengusap kepala Neve


" Katanya , eee... Lau... Lau... Lau apa kak "


Neve menengok ke belakang


" Ratu "


Sean membenarkan


" Iya itu , kakak pengasuh pas bicara sama kakak pengasuh yang lain bilang kalau jangan sampai Neve masuk ke gebrang rumah kakak , gitu ayah "


Neve menjelaskan


" Begitu "


Sean mengusap pipi Neve


" Iya ayah , ayah percaya kan sama Neve "


Neve menatap Sean dengan penuh harapan


" Ayah percaya , sekarang kita ke mana "


Sean berhenti di persimpangan


" Ke sana ayah , lihat rumah besar itu , itu rumah kakak "


Neve menunjuk sebuah bangunan yang megah


" Hem... Sangat cantik ya "


Sean tersenyum


Sean menoleh ke belakang


" Jangan ikuti ayah "


Sean berbicara dengan seluruh putranya


" Baik ayah "


Aine mengangguk


Sean melanjutkan perjalanannya menuju bangunan yang di tunjuk Neve


Di gerbang kediaman


" Siapa kamu "


Para penjaga menghentikan langkah Sean


" Hm... Kita masuk "


Sean bertanya kepada Neve


" Ayo "


Neve mengangguk


" Tapi ada paman paman ini , pasti ngak di bolehin "


Neve terlihat kecewa


" Boleh dong "


Sean tersenyum


" Caranya... Ooo... Kita panggil kakak ya "


Neve menebak


" Tetot salah "


Sean memencet hidung Neve


" Terus "


Neve menaikkan alisnya


*Brak... Prang...


Sean menendang gerbang besi di hadapannya hingga gerbang itu roboh dan peyot


" Ayah hebat "


Neve ternganga


" Hahaha ayah ini hebat lho "


Sean tertawa mendengar pujian Neve


" Kakak Aine juga selalu cerita kalau papa itu hebat "


Neve memberitahu dengan antusias


" Benarkah "


Sean berjalan memasuki rumah Aine


" Iya ayah , kakak yang lain kalau lagi sama Neve juga selalu cerita soal ayah , apalagi kalau makan sama Neve , pasti ceritanya semua tentang ayah , Neve sampai hafal "


Neve


" Hahaha , cerita apa saja yang kamu dengar "


*Bug... Bug... Syut...


Sean membuat semua orang yang menghalangi jalannya menjadi pingsan


Saat Sean melakukan semua itu , Sean memastikan pandangan Neve kecil hanya terbatas di dalam pelukannya saja


" Apa kita sudah sampai "


Sean menurunkan Neve di bawah sebuah pohon


" Itu ayah , itu bunga yang Neve suka , ayo kesana "


Neve menarik tangan Sean menuju sebuah kolam yang cukup indah


*Sring


Sebuah pedang berhenti tepat di depan Neve


*Grep


Sean dengan spontan menarik Neve ke dalam pelukannya

__ADS_1


" Siapa kau "


Seorang laki-laki yang kelihatannya seperti penjaga dengan baju zirah yang lebih berkilau dan berkelas menghadang Sean


" Aku "


Sean menunjuk dirinya


" Kau mau membawa mahluk hina itu kemana"


Penjaga itu bertanya


" Memangnya kamu siapa "


Sean membawa Neve ke dalam gendongannya dan berdiri


" Aku panglima di sini sekaligus tangan kanan tuan Douxieme "


Penjaga itu memperkenalkan diri


" Ahahaha orang sepertimu di pilih sebagai tangan kanan Doux hahaha "


Sean terbahak-bahak mendengar pengakuan pria itu


" Kau pelayan rendahan "


*Plak


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Sean dan sedikit mengenai kepala Neve


" Ayah... "


Neve langsung bergetar hebat di dalam pelukan Sean


*Blar


Terlihat aura kemarahan menyelimuti tubuh Sean , membuat semua orang di kerajaan merasakan sebuah tekanan yang dahsyat


" Neve , ayah di sini , siapa yang memukul Neve nya ayah , maka akan ayah pukul balik"


Sean mengusap punggung Neve


Sean mengeluarkan sebuah kain gendongan atau orang Jawa lebih mengenalnya dengan sewek


" Neve jangan lihat ke depan ya "


Sean membuat Neve menggelantung di dadanya menggunakan kain panjang yang sudah dia ikatkan di pundaknya


Neve semakin erat memeluk Sean


" Kau harus membayarnya "


*Sring


Sean mengeluarkan sebilah pedang dari dalam dimensinya


*Syut


Sean tiba-tiba menghilang dari pandangan


" Lamban "


*Sring


Sean membuat punggung baju zirah prajurit itu tergores


" Dia cepat sekali "


Penjaga itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dari mana arah Sean berasal


" Lambat "


Suara Sean kembali menggema di telinga laki-laki itu


" Lambat "


*Sret... Sret...


Sean berkali kali muncul dan menghilang di sekitar prajurit itu


*Sret


Sean tiba-tiba muncul di hadapan prajurit itu


" Kau , sudah membuat putraku ketakutan , setidaknya kau harus merasakan hal yang sama "


Sean tersenyum dan berbalik meninggalkan prajurit itu


" Aku kira aku akan mati "


Prajurit itu mengusap keningnya dengan tangan kanannya


*Crasss...


Tangan kanan pria itu jatuh dan darahnya menyembur membuat wajah pria itu penuh dengan cairan merah berbau amis menjijikkan


" AAARRRGGGG TANGANKU "


Teriakan pria itu menggema di seluruh penjuru istana


" Ayah "


Aine mendekat


" Aku memutuskan tangannya , kau marah "


Sean mengusap kepala Neve


" Tentu tidak , Neve sudah banyak mencari bukti untuk menghukumnya , tapi Aine masih kekurangan bukti , terimakasih ayah "


Aniel tersenyum


" Aine kau harus tegas dan tangkas jika menjadi seorang raja , ayah akan mengajarimu banyak hal "


Sean menepuk pundak Aine


" Ayah "


Douxi mendekat


" Kemari kecil "


Aine mengambil Neve dari gendongan Sean


" Kami merindukanmu ayah "


Semua putranya masuk ke dalam pelukan Sean


" Maaf ayah , kami tidak percaya dengan ayah"


Salah satu putranya memeluk Sean dengan erat


" Kalian sudah melakukan apa yang ayah minta "


Sean bertanya


*Srob


Semua putranya mengusap ingus yang keluar


" Hahaha kalian ini "


Sean mengusap kepala salah satu putranya


" Kami sudah melakukan semua perintah ayah , kami tau ayah tidak akan pernah kembali setelah waktu itu "


Troisième putra ketiga Sean menjawab


" Ayah bisa melihatnya "


Sean tersenyum


" Nah... Ini waktu makan siang , kalian sudah makan "


Sean mengambil Neve dari gendongan Anie


" Belum ayah "


Semua serempak menjawab pertanyaan Sean


" Ayahanda "


Terdengar suara teriakan kecil dari beberapa arah yang berlawanan


" Jangan lari-lari nanti jatoh adek "


Suara yang lain menyahuti


" Putri ayah "


Aine , duexi dan troisi menyambut beberapa gadis kecil yang datang


" Hm... Siapa gadis gadis manis ini "


Sean bertanya


" Ini putri kami "


Aine menjawab


" Hem... Kalian bertiga "


Sean menunjuk putra pertama , kedua dan ketiganya


" Iya "


Mereka mengangguk


Sean melirik putranya yang lain


" Ekhem... Aku sudah lapar "


" Ah ya benar aku tebak di meja makan sudah penuh "


" Ayo pergi "


Putra Sean yang lain segera pergi dari pertanyaan pernikahan Sean


" Hahaha dasar kalian "


Sean tertawa


" Ya begitulah ayah , mereka selalu menghindar jika di minta menikah "


Aine memberitahu


" Ayah "


Seorang anak laki-laki menarik celana panjang Duexi ( putra kedua Sean )


" Iya "


Duexi menyahuti


" Siapa kakak ini "


Anak itu menunjuk Sean


" Siapa namanya "


Sean balik bertanya


" Namamu siapa , kakek bertanya padamu "


Duexi melihat pangeran kecil di sampingnya


" Namaku Brave "


Anak laki-laki itu menjawab dengan berani


" Hm... Anak yang pemberani , siapa ayahmu "


Sean bertanya


" Ayahku Fils Troisieme Rudeus , orang yang memegang kendali perdagangan di kerajaan"


Anak kecil bernama Brave itu menjawab dengan bangga


" Hem... Asal kau tau ayahmu itu dulu penakut "


Sean berjalan meninggalkan kerumunan


" A..ayah jangan cerita "


Troisieme mengejar Sean


" Jika kalian bisa tunjukkan dimana ruang makannya , maka kakek akan cerita semua tentang ayah kalian saat masih kecil "


Sean memancing anak-anak yang ada di sekitar putranya


" Woah.... Mau mau "


Semua anak di sana berlarian mengikuti langkah Sean


" Kakek "


Seorang anak laki-laki dan perempuan menghentikan langkah Sean


" Aku Brave Rudeus dan ini Belle violent kembaranku , kami akan memandu kakek sampai ke ruang makan "


Kedua kembaran itu terlihat bersemangat


" Anak siapa kalian "


Sean bertanya


" Kami putra putri pangeran Troisieme Rudeus "


Brave berbangga diri


" Iya iya "


Sean tersenyum


" Kamu beneran kakek "


Anak yang lain bertanya


" Iya , bener "


Sean mengangguk


" Tapi kok kakeknya masih muda "


Anak yang lain terlihat masih meragukan


" Iya , ayahku keliatan lebih tua "


Brave mengangguk


" Hahaha , kalian lihat paman kalian ini , dia seperti kalian padahal lebih tua "


Sean menunjuk putra kecilnya yang sepertinya menikmati gendongan Sean


" Oh iya , paman kan sama pendeknya kayak Belle "


Brave menunjuk saudari kembarnya


" Kakek mau kenal kalian satu-satu "


Sean meminta


" Aku kek aku , aku pangeran Armes Blances Rudeus , aku putra yang mulia raja Aine "


Seorang anak laki-laki kecil dengan wajah tampan memperkenalkan diri


" Kau putra Aine "


Sean bertanya


" Iya kek , aku putra Fils Aine Rudeus "


Pangeran Armes dengan bangga memperkenalkan diri


" Aku kek , aku Etoile Filante , putri dari ayah Aine "


Gadis kecil yang terlihat berpakaian seperti saudara laki-lakinya memperkenalkan diri


" Dia ini adikku kek "


Pangeran Armes menunjuk putri Etoile


" Kalian dua bersaudara "


Sean bertanya


" Iya kek , dan nanti kami mau punya adek bayi kek "


Pangeran Armes mengangguk


" Hm... Bagus , rawat adik Kalian baik-baik ya"


Sean berpesan


" Iya kakek "


Kedua anak itu mengangguk


" Saya Mois Rudeus , putra Fils Douxieme Rudeus"


Seorang anak laki-laki yang terlihat lembut dan tegas


" Hm.. kamu terlihat berwibawa , seperti ayahmu "


Sean tersenyum


" Terimakasih kakek "


Pangeran Mois tersenyum lembut


" Saya Plaina Luna , saya putri dari Fils Douxieme Rudeus , dan dia kakak saya "


Seorang gadis kecil dengan penuh wibawa menunjuk pangeran Mois


" Hahaha kalian berdua pasti belajar dari ibu kalian "


Sean tertawa


" Tidak kakek , yang mengajari kami adalah ayah , karena ibu masih memiliki adik kecil , jadi jarang bisa membantu kami belajar "


Putri Luna menjawab


" Oh... Seharusnya kalian tau kelakuan ayah kalian "


Sean memonyongkan bibirnya


" Ayah jangan cerita "


Douxieme mengejar Sean

__ADS_1


" Diam anak nakal "


Sean melirik Douxieme


" Kakek Kakek lihat aku , aku Solide Rudeus , putra Fils Douxieme Rudeus , aku putra kedua "


Anak kecil dengan penampilan acak acakan memperkenalkan diri dengan semangat


" Kau adiknya mereka "


Sean menunjuk Luna dan Mois


" Iya "


Solide mengangguk


" Kau berbeda nak hahaha "


Sean tertawa


" Ayah tertawa hahaha "


Neve menepuk pipi Sean dan ikut tertawa


" Ayah tertawa "


*Cup... Cup...cup...


Sean menciumi seluruh wajah Neve


" Kyahahaha "


Neve tertawa dan menjauhkan wajah Sean


" Kakek kakek "


Sebuah suara mengalihkan pandangan Sean dan Neve


" Si kembar "


Neve menunjuk dua anak yang berdiri di samping Sean


" Neve kenal "


Sean bertanya


" Si kembar sering ke tempat Neve sambil bawa coklat "


Neve mengangguk


" Siapa nama kalian "


Sean bertanya


" Aku Cieux Rudeus "


Anak laki-laki kecil menepuk dadanya


" Saya Terre "


Anak perempuan yang terlihat berwajah sama dengan Cieux memberi hormat


" Cieux dan Terre , Kalian anaknya siapa "


Sean bertanya


" Kami putra dan putri pangeran ke empat , pangeran Quatrième Rudeus "


Cieux memberi hormat


" Kalian putra putrinya Atri "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Iya , tapi ibu kami hanya orang biasa "


Mereka mengangguk


" Lalu apa hubungannya "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Kata orang-orang kami hanya darah campuran jadi... "


Cieux berhenti berkata


" Atri "


Sean memanggil


" Iya ayah "


Pangeran ke empat mendekat


" Aine "


Sean memanggil


" Saya ayah "


Aine mendekat


" Kau menikahi ibu anak ini "


Sean berhenti


" Iya ayah , dan Atri membawanya kemari karena... Ibu mereka sudah "


Pangeran Atri berhenti berbicara


" Sudah tidak ada "


Sean menebak


" Iya "


Atri mengangguk


" Kau mencintainya Atri "


Sean kembali bertanya


" Iya ayah , Atri tidak mau menikah lagi "


Atri menunduk


" Kau dengan Aine "


Sean melirik Aine


" Iya ayah , Aine tau dan Aine tidak memaksa , yang memaksa itu para menteri"


Aine menjawab


" Anak anak "


Sean memanggil


" Kami kakek "


Mereka semua menjawab


" Bisakah kalian semua masuk ke dalam ruang makan dulu , kakek mau bicara dengan ayah kalian "


Sean meminta


" Iya , ayo Terre "


Brave menarik Terre dan Cieux di tarik oleh Mois sedangkan yang lain berlari di belakang mereka


Setelah anak-anak menghilang


" Aine "


Sean memakaikan penutup telinga di telinga Neve dan memberikan boneka untuk Neve


" Saya ayah "


Aine mendekat


" Kamu raja "


Sean bertanya


" Iya ayah "


Aine mengangguk


" Lalu kamu di atur oleh para Mentri "


Sean menatap Aine dengan tajam


" ..... "


Aine diam


" Kamu itu raja , kamu itu pemimpin , bagaimana bisa kamu di atur oleh bawahanmu"


Sean bertanya


"...."


Aine menundukkan kepalanya


" Kapan pertemuan selanjutnya "


Sean bertanya


" Setelah makan siang "


Aine menjawab


" Ayah akan itu pertemuan nanti , siapkan banyak pensil di atas meja ayah "


Sean meminta


" Aine mengerti ayah "


Aine mengangguk


" Dan kalian semua harus hadir "


Sean menunjuk semua putranya


" Baik ayah "


Mereka mengangguk


" Dan Atri , mulai sekarang ayah mau kamu lebih menguatkan posisimu di sini , jika tidak anak-anakmu yang akan mendapat imbasnya "


Sean berjalan meninggalkan putranya


" Iya... Ayah "


Atri menunduk


" Sekian lama tidak bertemu ayah dan kita langsung di marahi "


Pangeran Huitieme menggerutu


Fils Huitieme Rudeus : putra ke delapan Sean


" Kamu belum menikah , jadi tidak akan tau"


Aine menonyor kepala pangeran eme


" Kakak , apa aku harus pergi dari istana "


Atri membuat langkah Aine berhenti


" Tidak Atri , kamu itu terlalu lembut saat ini , ayah benar... Kamu harus menguatkan posisimu di sini "


Aine mengangguk


" Iya , kasihan anakmu , yah meski jika kau tidak ada masih ada kami sih "


Pangeran Huitieme menepuk pundak Atri


" Aku tau , tapi.... "


Atri menundukkan kepalanya


" Pikirkan keputusan yang terbaik untuk anak anakmu , menjadi seperti yang lain atau kau memilih jalanmu sendiri , itu ada di tanganmu "


Douxi merangkul pundak Atri


" Sudah , ayo pergi ke ruang makan , aku yakin terjadi sesuatu di sana "


Pangeran sixieme , pangeran ke enam menarik saudara saudaranya


Di ruang makan


" Ada apa ini "


Aine terkejut melihat semua orang sangat ribut


" salam matahari kekaisaran , Ini yang mulia , ada seorang pria yang duduk di tempat anda "


Pelayan di sana menjawab


" Maksudmu pria yang menggendong pangeran Neve "


Aine bertanya


" Iya yang mulia "


Mereka mengangguk


" Ya sudah , memang kenapa "


Aine masuk dan melihat pemandangan yang menghebohkan


Sean duduk di kursi paling ujung tempat untuk raja , dan para pangeran juga putri kecil duduk di sekitarnya , berbeda dari aturan biasanya


" Masukkan makananya "


Aine memerintahkan


" Baik yang mulia "


Para pelayan membungkuk


Aine duduk di ujung bersama saudaranya dan menyisakan beberapa kursi kosong milik para wanita


Selama menunggu hidangan di sajikan , para tuan dan nona kecil saling mengajukan pertanyaan untuk Sean secara bergantian


" Ayah "


Neve memanggil


" Iya "


Sean menyahuti


" Kenapa adik adik kecil ini tidak berhenti berbicara "


Neve menunjuk para pangeran dan putri


" Kenapa ya "


Sean mengusap kepala Neve


" Kakek "


Brave memanggil


" Iya "


Sean Menoleh


" Kenapa kakek ngak tua tua kayak kakeknya teman teman "


Brave bertanya dan di angguki yang lain , bahkan si duo pendiam ikut mengiyakan


" Kenapa ya "


Sean tersenyum


" Kenapa kek "


Semua serempak bertanya


" Hahaha kalian mau tau "


Sean balik bertanya


" Iya "


Semua mengangguk


" Rahasia haha "


Sean terkekeh


" Yaaaaa kakek , kok rahasia sih "


Semua cucu Sean memonyongkan bibirnya


" Hahaha "


Sean tertawa di ikuti tawa Aine dan saudaranya


Setelah selesai makan


" Kalian waktunya tidur siang "


Aine berdiri dari meja makannya


" Iya ayah raja hoam.... "


Semua cucu turun dari kursi perlahan dan berjalan mengikuti ayah mereka masing-masing


" Biarkan mereka tidur di satu ruangan "


Sean meminta


" Kalau begitu di ruang main saja "


Aine dan lainnya menggiring anak-anaknya ke tempat bermain yang tidak jauh dari ruang makan


Di dalam ruang bermain terlihat satu tempat tidur di lantai yang sangat luas dan hampir memenuhi seluruh ruangan


" Ayo semua , kita tidur "


Aine dan saudaranya menggiring anak anak agar tidur dengan rapih dan benar


" Nah Neve tidur di sini "


Aine mengambil Neve dari gendongan Sean dan meletakkannya di samping Solide

__ADS_1


__ADS_2