
" Kita kita pada bawa bekal nih "
Teman-teman menunjukkan bekal yang mereka bawa
" Kami juga bawa "
Adimas mengeluarkan bekalnya
" Ayo makan di taman "
Adimas mengajak
" Oke , kita makan di bawah pohon gede ya"
Fahri mengusulkan
" Oke "
Semuanya setuju
" Sean "
Sebuah suara menggema di ruangan
" Jangan teriak-teriak "
Terlihat Fadlan menonyor kepala Reyhan
" Iya maap "
Reyhan menggosok kepalanya
" Woah... Itu senior Fadlan "
" Dia ngapain ya di sini "
" Kok di kelas junior ya "
" Mungkin ada adiknya "
" Tapi yang aku tau adiknya itu masih kecil"
" Hm..... "
Terdengar suara bising dari luar kelas Sean
" Kalian bawa bekal nih "
Reyhan tersenyum senang
" Aku juga bawa bekal , tapi di kelas "
Reyhan berkata dengan kecewa
" Iya di ambil lho "
Sean berdiri di ikuti Adimas
" Heumm.... Kelas ku jauh "
Reyhan terlihat putus asa
" Ayo kami antar "
Adimas menepuk pundak Reyhan
" Adimas terbaik hahaha "
Reyhan tertawa senang
" Ayo ambil adik adik kelas "
Reyhan menarik lengan Adimas hingga bekal Adimas ketinggalan
" Tunggu Reyhaaaan bekalku ketinggalaaaan"
Adimas yang tidak bisa lepas dari tarikan tangan Reyhan hanya berteriak pasrah
" Astaga anak itu "
Fadlan berkacak pinggang
*Nyuut
Kepala Sean berdenyut
" Ukh.... "
Sean memegangi kepalanya
" Uhuk...uhuk... "
Sean tiba-tiba terkulai lemas
" Sean kamu kenapa "
Fadlan menangkap tubuh Sean
" Tas ku... Tolong tas ku "
Sean menunjuk tas nya
" Ini "
Azam langsung mengambil tas Sean
" Seharusnya kamu istirahat saja "
Fadlan yang masih memeluk Sean , membantu Sean membuka tas nya untuk mengambil obat
" Yang kecil "
Sean membuka saku tas nya
" Kamu ini seharusnya jangan di paksakan..bla..bla"
Fadlan mengambil dan membantu Sean meminum obat dengan sedikit omelan
" Huft... "
Sean menghela nafas panjang
" Gimana "
Fadlan bertanya
" Lebih baik "
Sean mengangguk
" Lo kenapa "
Denis bertanya dan di angguki oleh yang lain
" Gue sakit "
Sean menjawab dengan singkat
" Ayo duduk "
Fadlan membawa Sean duduk di atas kursi di bantu Azam
" Tadi udah minum obat belum "
Fadlan membenarkan posisi Sean
" Udah "
Sean mengangguk
" Kata Adimas tadi malem kamu sakit lagi"
Fadlan duduk di samping Sean
" Udah minum obat "
Sean menjawab dengan jawaban yang sama
" Kamu jangan paksain diri "
Fadlan memegang bahu Sean
" AKU BILANG AKU SUDAH MINUM OBAT "
Sean berteriak tepat di depan wajah Fadlan
" Ah... Maaf "
Sean merebahkan kepalanya kembali
" Hei... kakak tau itu sakit , tak apa "
Fadlan mengusap punggung Sean
" Maafkan aku "
Sean memejamkan matanya
" Tidurlah "
Fadlan menyisihkan beberapa barang yang ada di atas meja
" Sean kenapa "
Adimas tiba-tiba datang tanpa suara
" Dia sakit lagi "
Fadlan menjawab
" Sudah minum obat "
Adimas mengusap kepala Sean yang tertutup kupluk
" Sudah "
Fadlan mengangguk
" Sean gapapa kan "
Reyhan bertanya
" Biar dia istirahat dulu "
Fadlan memberitahu
" Kakak bawa hp "
Adimas bertanya
" Bawa "
Fadlan mengeluarkan hp nya
" Kakak mau apa "
Sean bertanya
" Telpon bunda "
Adimas mulai menelfon adinda
" Pakek slot dua aja "
Fadlan memberitahu
"Iya "
Adimas mengiyakan
____________
Assalamualaikum bunda :
Adimas membuat Sean membuka matanya
Wa'alaikum salam , ini siapa :
Bunda bertanya
Ini kakak Bun , kakak pakek hp nya kak Fadlan :
Adimas menjawab
Iya... Ada apa nak :
Adinda bertanya
Adek mana bunda :
Adimas mendekati Sean
Di sini :
Bunda menjawab
Mana adek :
Adimas mengalihkan ke panggilan vace came
Ini :
Bunda mengalihkan layar hp nya
Kakak :
Aniel yang terlihat masih di sekolahnya melambaikan tangannya dengan semangat
Halo , lihat ini kak Sean :
Adimas langsung mengalihkan layar ponsel yang dia pegang
Hai :
Sean yang tadinya hanya merebahkan kepalanya kini bangkit
Kakak ngapain , aku lagi belajal lho :
Aniel menunjukkan tulisan tangannya
Kakak Seaaan :
Terlihat mutiara ikut ke dalam vace came
Hai :
Sean melambaikan tangannya
Aku sama alin lagi belajal kak :
Mutiara menunjukkan hasil tulisan tangannya
Wah cantik , kalian jago banget nulisnya:
Sean memuji
Hahahaha makaci :
Mutiara dan Aniel tertawa senang
Nanti aku tulis nama kakak ya :
Mutiara menunjukkan kertasnya
Iya , tulis yang cantik ya :
Sean mengangguk
Aku juga , aku tulisin nama kakak juga :
Aniel memegang pundak mutiara
Iya , nanti kalau tulisannya cantik , akan kakak kasih hadiah :
Sean menjanjikan sesuatu
Benelan :
Aniel dan mutiara terlihat terkejut
Iya kakak janji :
Sean mengiyakan
Okey , ayo tulis ini :
Mutiara terlihat mulai menulis di ikuti Aniel
Sean sakit lagi :
Adinda bertanya
Dikit aja Bun :
Sean tersenyum
Obatnya sudah di minum :
Adinda bertanya
Sudah Bun :
Sean mengangguk
Bekalnya di makan , biar perutnya gak kosong , kamu istirahat saja nanti bunda minta papa jemput kamu :
Adinda terlihat khawatir
Iya bunda , maaf ya buat bunda khawatir:
Sean merasa bersalah
Tidak sayang , berikan ke kakak mu :
Adinda meminta
Iya bunda :
Sean memberikan hp nya kepada Adimas
Jaga Sean ya , nanti bunda sama papa jemput kalian :
Adinda
Iya Bun :
Adimas mengangguk
Ya sudah , kalian belajar yang rajin , bunda tutup dulu ya :
Adinda menunjukkan wajahnya
Iya :
Adimas mengangguk
Assalamualaikum :
Adinda hendak menutup
Wa'alaikum salam :
_____________
*Tuuuut
Adimas mematikan sambungan
" Langsung sehat aja "
Fadlan menoel pipi Sean
" Hehehe "
Sean hanya cengengesan
" Ayo makan "
Adimas membuka bekal makanan Sean
" Heumm... "
Sean langsung saja memakan bekal nya
" Ikuuut "
Denis langsung mengambil kursi dan makan di hadapan Sean di ikuti yang lain
__ADS_1
Setelah makan bekal yang mereka bawa , mereka mulai berbincang bincang
" Senior ini apanya Sean "
Fahri bertanya
" Dia kakaknya Sean yang nomor satu , aku nomor dua terus dia nomor tiga "
Reyhan yang masih sibuk dengan makanannya menjawab pertanyaan Fahri
" Lho kalian semua bersaudara "
Teman-teman terkejut
" Iya "
Adimas mengangguk
" Kereeeeen "
Teman-teman terlihat bersemangat
Setelah beberapa percakapan , akhirnya bel tanda istirahat telah selesai berdering
" Kami balik dulu "
Fadlan berdiri dan mengemasi kotak bekal Reyhan
" Makasih kakak "
Rehan dengan senyuman aneh menerima kotak bekalnya yang sudah rapih
" Hiii "
Fadlan bergidik ngeri
" Kakak jangan bilang mama ya "
Sean menghentikan Reyhan
" Tapi Sean... "
Fadlan hendak berbicara namun Sean menghentikan
" Ayolah kak , Sean mohon "
Sean memohon
" Tidak bisa , mama sama papa harus tau "
Reyhan mengusap kepala Sean
" Pliis ya kak ya "
Sean berdiri dan memeluk Fadlan yang lebih pendek darinya
Meski Sean lebih tinggi , tapi Sean menjadi lebih kurus dan otot-ototnya tidak terlihat kembali , tidak seperti sebelumnya.. itu karena penyakitnya
" Sean.. papa harus mengerti "
Fadlan mendudukkan Sean
" Tapi nanti mama khawatir "
Sean memonyongkan bibirnya
" Ngak apa kalau mama khawatir , asalkan jangan sembunyikan apapun dari mama dan papa "
Fadlan memegang pundak Sean
" Tapi nanti mama jadi sedih"
Sean menatap Fadlan
" Sean , mama dan papa membiarkan kamu tinggal dengan papa Sbastian karena mereka itu sayang sama kamu , mereka ngak mau kalau kamu sedih , jadi jangan buat mama dan papa sedih "
Fadlan
" Tapi nanti mama beneran jadi sedih "
Sean terlihat lesu
" Hei "
Fadlan mengusap kepala Sean
" Jangan bilang "
Sean memeluk perut Fadlan
*Cling.. cling
Sean mengedipkan matanya
" Haissss.... Iya baiklah "
Fadlan terpaksa mengangguk
" Kakak balik dulu ya "
Fadlan berlalu dengan menggeret Reyhan
Setelah itu Bu guru masuk dan pelajaran di mulai
Di tengah-tengah pelajaran
*Brak
Pintu kelas yang sebelumnya di tutup sekarang terbuka dan terlihat seorang anak SMA laki-laki terjatuh dan tersungkur
" Sialan Lo jangan dorong-dorongan lah "
Senior SMA itu mengumpat
" Permisi Bu guru "
Seorang anak yang memakai bet dan jas OSIS masuk , melangkahi si kak OSIS yang sedang duduk-duduk dan menghampiri Bu guru
" Kenapa ini "
Bu guru bertanya
" Ini Bu , saya mau memberikan formulir pendaftaran ekskul "
Si kak OSIS memberikan banyak kertas
" Oh terimakasih "
Bu guru menerimanya
" Saya pamit ya Bu "
Si siswa OSIS berlalu
" Nah anak-anak , siang ini kalian akan pulang terlambat ya , sekarang kalian wajib pilihlah satu ekskul untuk kalian sendiri , jika mau mengikuti ekskul yang lain juga boleh"
Bu guru membagikan kertas
" Kita ikut yang mana "
Terlihat Adimas sangat antusias
" Terserah deh , Sean ikut aja "
Sean memperhatikan kertas Adimas
" Wah ekskul beladiri "
Adimas terkejut
" Aku mau ikut ini , tapi kamu ngak boleh ikut , kamu ikut yang lain aja , yang ngak terlalu banyak gerak "
Adimas melihat kertas Sean
" Heumm... "
Sean melirik Adimas
" Khekhe "
Adimas terkekeh kecil
" Kakak ngak adil "
Sean mengambil bulpoin dan mengisi formulirnya dengan ekskul melukis dan ekskul musik
" Hahaha "
Adimas tertawa melihat Sean yang kesal dengannya
" Aku ikut musik juga ah "
Adimas juga mencentang kotak untuk ekskul musik dan melukis
" Hidih "
Sean mencibir
" Kan seru gitu lho "
Adimas menaik turunkan alisnya
" Terserah "
Sean membuang bulpoinnya
" Aku kasih ke Bu guru ya "
Adimas berdiri
" Hm... "
Sean hanya berdehem pendek
" Wah dia udah selesai "
" Keren ya bisa langsung ambil keputusan "
" Iya , padahal kita kesusahan "
" Iya dia keren "
Bisik ria para wanita di belakang tidak mengusik Adimas sama sekali
" Kakak ini polos apa gimana sih "
Sean membatin saat melihat Adimas yang duduk sambil cengar-cengir
" Kenapa "
Sean bertanya
Adima menjawab pertanyaan Sean
Sepulang sekolah
" Anak-anak jangan lupa hari ini bimbingan lho , jangan pulang dulu , kumpul di lapangan"
Bu guru mengingatkan
" Iya Bu "
Semua siswa mengemasi barangnya
Setelah itu para siswa langsung menuju lapangan dan berkumpul di sana
" Selamat siang semua "
Terlihat senior OSIS yang khas dengan jas OSIS miliknya menyapa
" Siang kak "
Semua menjawab
" Jadi kalian sudah memilih ekstra kurikuler masing masing kan "
Kak OSIS memastikan
" Sudah kak "
Semua menjawab
" Sekarang di sini akan di mulai untuk ekskul pertama ada seni beladiri , semuanya tolong menepi "
Kak OSIS memerintahkan agar menepi
Semua siswa menepi dan beberapa kakak senior maju ke depan dengan pakaian putih dan band yang berwarna hitam
" Ini untuk kalian yang memilik okspek bela diri tolong perhatikan"
Kakak OSIS dari kelas bela diri menunjukkan beberapa trik yang membuat semua orang terkagum-kagum
" Aku duduk ya "
Sean menepuk pundak Adimas
" Iya aku mau lihat dulu "
Adimas mengangguk
Sean meninggalkan Adimas dan duduk di bangku taman yang lumayan jauh dari sana
" Sean "
Reyhan datang dan duduk di sana
" Belum pulang "
Sean bertanya
" Belum , kan kak Fadlan masih di sini , dia anggota OSIS , jadi pulangnya bareng aja "
Reyhan memberikan sebotol air minum
" Makasih "
Sean menerima botol minum dari Reyhan dan langsung meminumnya
" Kak ehan ngak pengen jadi OSIS "
Sean bertanya
" Aku gini-gini udah banyak yang suka , jadi ngak usah jadi anggota OSIS udah populer aku "
Reyhan berbangga diri
" Iya terserah deh "
Sean kembali meminum minuman yang dia bawa
" Tadi kata kak Fadlan nanti papa Tian jemputanya telat "
Reyhan memberitahu pesan Fadlan
" Iya "
Sean mengangguk
" Tadi papa Sbastian chat kakak , tanya kabar kamu , terus kak Fadlan bilang kalau kamu udah baik-baik aja "
Reyhan memberitahu semuanya
" Syukur deh , papa ngak akan terlalu khawatir"
Sean kembali meminum minumannya
" Kyaaaaaaa "
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari seorang gadis
" Ayo liat "
Reyhan menarik Sean menuju sumber suara
" Kenapa kak "
Sean menepuk pundak Adimas yang ada di barisan depan
" Tangannya sakit , katanya tulangnya bengkok "
Adimas menjawab
" Cewek itu "
Sean menunjuk seorang gadis manis yang di peluk oleh teman-temannya di tengah-tengah lapangan
" Iya "
Adimas mengiyakan
" Aku tau ngak boleh ambil perhatian , tapi aku ngak tega kalau cewek "
Sean membatin dan melangkah mendekati sang gadis
" Mau kemana "
Reyhan menghentikan langkahnya Sean
" Kasihan "
Sean menghampiri sang gadis
" Permisi , saya saya akan berikan pertolongan pertama "
Sean duduk di depan si gadis
" Emangnya kamu bisa "
Beberapa laki-laki menghentikan Sean
" Tolong menjauh "
Sean melepaskan dasinya
" Nah saya lihat ya "
Sean menyentuh siku si gadis
" Ja..jangan sakit "
Gadis itu menghentikan Sean
" Gigit ini , jangan sampai lidah kamu ke gigit "
Sean memberikan dasinya yang sudah di jadikan kotak kecil
" Kamu beneran bisa "
Gadis lain bertanya
" Saya sering seperti ini saat latihan , saya bisa sedikit menolong "
Sean mengangguk
" Jika tidak segera di tangani , nanti makin parah "
Sean meyakinkan
" Baiklah , tolong ya "
Senior senior memberi ruang
" Tahan ya "
Sean memegang lengan si gadis
" Tolong kalian pegangi ya "
Sean memegang lengan dan pundak si gadis
*Krak
Sena tiba-tiba membuat lengan si gadis berbunyi
"Eum.... "
Si gadis manis terlihat akan berteriak namun tidak bisa karena sumpal di mulutnya
" Sebentar lagi selesai "
Sean tidak tega melihat air mata si gadis
*Krak..krak
Sean mengotak Atik lengan si gadis
" Sudah , nanti jangan terlalu banyak bergerak ya"
__ADS_1
Sean terlihat sedikit memijat di area siku si gadis
" Dasinya bisa di lepas "
Sean memberitahu dan para gadis melepas dasi yang di gigit si gadis manis
" Gerakkan pelan-pelan "
Sean membantu si gadis
" Sakit "
Si gadis menelusupkan wajahnya di pelukan temannya
" Iya , tahan ya "
Sean menenangkan
" Hiks... Iya "
Si gadis manis menganggukkan kepalanya
" Nah sudah "
Sean sedikit menggerakkan lengan si gadis
" Makasih "
Si gadis perlahan menggerakkan tangannya sesuai arahan Sean
" Nah... Nanti di periksa di rumah sakit juga , mungkin sedikit lebam atau bengkak , tapi kalau ngak di periksa ya di kompres aja pakek air hangat "
Sean
" Iya , aku mengerti "
Si gadis mengangguk
" Ada air minum ngak "
Sean bertanya
" Sebentar "
Salah seorang laki-laki di sana berlari menjauh
" Eh katanya itu adiknya kak Fadlan "
" Iya , katanya dia botak , makanya pakek kupluk "
" Beneran , kenapa ya "
" Kena kanker kali hahaha "
" Jangan becanda deh "
Terdengar banyak bisik-bisik dari para wanita
" Baru dia dua hari di sini , udah di gosipin aja"
Fadlan membatin
" Adoh.... "
Seorang kakel terjatuh dan menimpa Sean hingga kupluk Sean terjatuh
*Syut
Rambut panjang Sean yang indah tergerai hingga pundaknya
" Astaga "
Sean segera mengambil kupluknya dan membatu si kakel berdiri
" Kamu gapapa "
Sean membantu si kakel berdiri
" Makasih... Sialan Lo , jangan dorong-dorongan lha "
Si kakel memarahi temannya
" Maap , gue kedorong dari belakang "
Si teman kakel membantu si kakel berdiri
" Ini minumnya "
Laki-laki tadi kembali membawa sebotol air mineral
" Kamu minum pelan-pelan "
Sean memberikan botol minum kepada si gadis manis
Hening....
Si gadis manis hanya menatap Sean takjub
" Hei "
Sean menempelkan botol minuman di pipi si gadis manis
" Ah iya maaf "
Si gadis manis terkejut
" Minum ini "
Sean memberikan botolnya
" Makasih "
Si gadis manis meminumnya perlahan
Sean memakai kupluknya dan itu membuat Sean tersadar
" Aku ngak pakek wig "
Sean mengarahkan rambutnya ke depan
" Apa ini "
Sean melihat rambutnya sendiri
*Jeng..jeng
Terlihat dua ekor kucing berdiri di antara gerombolan
" Astaga si telur kembar udah balik "
Sean tersenyum senang
" Kamu siapa namanya "
Si gadis manis bertanya kepada Sean
" Aku Sean "
Sean menjawab
" Makasih Sean "
Gadis itu berdiri di bantu temannya
" Nanti jangan lupa di kompres ya "
Sean ikut berdiri
*Jeng..jeng
Sean lebih tinggi di banding cewe-cewe di situ
" Astaga dia tinggi "
Si gadis manis membatin
" Aku pergi dulu bye "
Sean melambaikan tangannya dan berbalik menuju Adimas dan kedua kakaknya yang sudah menunggu
" Bay "
Para ciwi-ciwi di sana membalas lambaian tangan Sean dan si gadis manis hanya tersenyum kecil
" Kamu keren "
Reyhan langsung menyambut Sean
" Hahaha "
Sean tertawa kecil
" Kakak bawa karet gak "
Sean bertanya
" Bawa "
Fadlan memberikan satu karet gelang
" Makasih "
Sean langsung saja mengikat rambutnya dan memakai kupluknya
" Sean "
Adimas menggeser Reyhan dan berdiri di samping Sean
" Kenapa "
Sean memakai kupluknya kembali
" Rambut kamu gimana bisa jadi gini "
Adimas menatap Sean penasaran
" Nanti Sean kasih tau "
Terlihat senyum Sean yang mengembang
" Itu papa "
Adimas menunjuk Sbastian yang berdiri di gerbang sekolah
" Ayo , papa Sbastian pasti khawatir "
Fadlan menarik saudaranya menuju Sbastian
Setelah sampai di gerbang utama
" Papa "
Adimas memanggil
" Kalian dari mana aja , papa cariin "
Sbastian mengusap kepala putranya
" Dari sana , kami ngak tau kalau ada ekskul , jadi baru selesai "
Adimas menjawab
" KAKAAAAAK "
Teriakan Aniel memekakkan telinga Sean
" Kalian dari mana , bunda cari sampai kelas"
Adinda langsung bertanya
" Tadi ada ekskul , maaf ya bunda "
Adimas terlihat merasa bersalah
" Astaga.... Dari mana kalian "
Ayu tiba-tiba nongol dan menjewer telinga Fadlan dan Reyhan
" Aduh..aduh... Maaf ma maaf "
Reyhan mengaduh sedangkan Fadlan diam saja menatap mamanya
" Sayang jangan di cubit ah "
Bram menghentikan istrinya
" Mama "
Sean melambaikan tangannya
" Sean.. kata kakak kamu sakit "
Ayu membelai lembut pipi Sean
" Udah ngak sakit kok "
Sean tersenyum manis
" Beneran "
Sbastian bertanya
" Bener "
Sean mengangguk
" Kakak "
Terlihat mutiara menarik celana Sean
" Hai "
Sean mensejajarkan tingginya dengan kedua adiknya
" Tadi adek tulis nama kakak lho "
Mutiara meletakkan tas nya di tanah dan membuka tas miliknya
" Iel juga "
Aniel mengikuti tingkah mutiara
Terdengar suara para kakak saling mengadukan apa yang terjadi kepada Sean , namun Sean pura-pura tidak mendengar apapun
" Wah cantiknya "
Sean menerima dua kertas yang bertuliskan namanya
" Makasih ya , akan kakak simpan "
Sean melipat kertas yang dia terima dan memasukannya ke dalam saku pakaiannya
" Hadiah "
Mereka berdua menodongkan tangannya
" Eum... Mama.. bunda boleh ngak kalau Sean main "
Sean bertanya dengan hati-hati
" Sean akan ajak kakak semua sama adik "
Sean mengedipkan matanya dengan lucu
" Kenapa kamu masih bertingkah seperti Sean kecil "
Sbastian geleng-geleng kepala melihat putranya yang benar-benar memohon
" Ouch... Putraku memang lucu "
Ayu mencubit pipi tirus Sean
" Iya boleh "
Bram memperbolehkan
" Yeeey sayang papa Bram "
Sean memeluk Bram dengan erat
" Cayang papa Blam "
Kedua anak kecil di sana mengikuti tingkah Sean
" Huft... Jangan pulang malam "
Sbastian menghela nafas panjang
" Beneran pa... Makasih "
Sean memeluk Sbastian
" Maaci hahaha "
Kedua putri kecil kini memeluk Sbastian
" Ya sudah , ayo pulang "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Ayo hahaha "
Sean berlari kembali ke dalam sekolahan
" Astaga anak itu "
Sbastian berkacak pinggang
" Hahaha dasar Sean "
Reyhan tertawa dan berlari mengikuti Sean
" Kami akan ambil tas dulu "
Fadlan bersama Adimas berjalan menyusul kedua saudaranya
" Ntahlah Sean itu seperti siapa "
Ayu menghembuskan nafas panjang
" Sean juga tidak mempelajari sifat suamiku"
Adinda melipat tangannya di atas dada
" Suamiku itu kekanak-kanakan , sampai-sampai tidak mau mengalah dengan putrinya sendiri "
Ayu mendekati adinda
" Suamiku itu sangat dewasa , bahkan dia tidak pernah bermain dulu , sekarang saja dia kalau bermain dengan Aniel , Aniel yang akan mengaturnya "
Adinda mengikuti langkah ayu
" Istriku sangat menyebalkan "
Bram menggerutu
" Istriku itu sangat cantik "
Sbastian tersenyum sendiri
" Ya kan dia istrimu , kalau kamu bilang dia jelek ya pasti ngambek lha.. gimana sih "
Bram memukul punggung Sbastian
" Istriku ngak akan ngambek walau ku bilang dia jelek "
Sbastian menaik turunkan alisnya
" Ngak percaya "
Bram mengibaskan tangannya
" Mau taruhan "
Sbastian menantang
" Kalau istrimu gak ngambek , aku akan bilang ke istriku kalau dia itu wanita paling jelek sedunia "
Bram membuat Sbastian ternganga
" Kenapa , ngak berani "
Bram mengejek
" Awas ya kalau nanti ngak berani bilang "
Sbastian mengulurkan tangannya
__ADS_1
" Siapa takut "
Bram menjabat tangan Sbastian