Aku Pangeran

Aku Pangeran
#110 ( kantin )


__ADS_3

" Kita kita pada bawa bekal nih "


Teman-teman menunjukkan bekal yang mereka bawa


" Kami juga bawa "


Adimas mengeluarkan bekalnya


" Ayo makan di taman "


Adimas mengajak


" Oke , kita makan di bawah pohon gede ya"


Fahri mengusulkan


" Oke "


Semuanya setuju


" Sean "


Sebuah suara menggema di ruangan


" Jangan teriak-teriak "


Terlihat Fadlan menonyor kepala Reyhan


" Iya maap "


Reyhan menggosok kepalanya


" Woah... Itu senior Fadlan "


" Dia ngapain ya di sini "


" Kok di kelas junior ya "


" Mungkin ada adiknya "


" Tapi yang aku tau adiknya itu masih kecil"


" Hm..... "


Terdengar suara bising dari luar kelas Sean


" Kalian bawa bekal nih "


Reyhan tersenyum senang


" Aku juga bawa bekal , tapi di kelas "


Reyhan berkata dengan kecewa


" Iya di ambil lho "


Sean berdiri di ikuti Adimas


" Heumm.... Kelas ku jauh "


Reyhan terlihat putus asa


" Ayo kami antar "


Adimas menepuk pundak Reyhan


" Adimas terbaik hahaha "


Reyhan tertawa senang


" Ayo ambil adik adik kelas "


Reyhan menarik lengan Adimas hingga bekal Adimas ketinggalan


" Tunggu Reyhaaaan bekalku ketinggalaaaan"


Adimas yang tidak bisa lepas dari tarikan tangan Reyhan hanya berteriak pasrah


" Astaga anak itu "


Fadlan berkacak pinggang


*Nyuut


Kepala Sean berdenyut


" Ukh.... "


Sean memegangi kepalanya


" Uhuk...uhuk... "


Sean tiba-tiba terkulai lemas


" Sean kamu kenapa "


Fadlan menangkap tubuh Sean


" Tas ku... Tolong tas ku "


Sean menunjuk tas nya


" Ini "


Azam langsung mengambil tas Sean


" Seharusnya kamu istirahat saja "


Fadlan yang masih memeluk Sean , membantu Sean membuka tas nya untuk mengambil obat


" Yang kecil "


Sean membuka saku tas nya


" Kamu ini seharusnya jangan di paksakan..bla..bla"


Fadlan mengambil dan membantu Sean meminum obat dengan sedikit omelan


" Huft... "


Sean menghela nafas panjang


" Gimana "


Fadlan bertanya


" Lebih baik "


Sean mengangguk


" Lo kenapa "


Denis bertanya dan di angguki oleh yang lain


" Gue sakit "


Sean menjawab dengan singkat


" Ayo duduk "


Fadlan membawa Sean duduk di atas kursi di bantu Azam


" Tadi udah minum obat belum "


Fadlan membenarkan posisi Sean


" Udah "


Sean mengangguk


" Kata Adimas tadi malem kamu sakit lagi"


Fadlan duduk di samping Sean


" Udah minum obat "


Sean menjawab dengan jawaban yang sama


" Kamu jangan paksain diri "


Fadlan memegang bahu Sean


" AKU BILANG AKU SUDAH MINUM OBAT "


Sean berteriak tepat di depan wajah Fadlan


" Ah... Maaf "


Sean merebahkan kepalanya kembali


" Hei... kakak tau itu sakit , tak apa "


Fadlan mengusap punggung Sean


" Maafkan aku "


Sean memejamkan matanya


" Tidurlah "


Fadlan menyisihkan beberapa barang yang ada di atas meja


" Sean kenapa "


Adimas tiba-tiba datang tanpa suara


" Dia sakit lagi "


Fadlan menjawab


" Sudah minum obat "


Adimas mengusap kepala Sean yang tertutup kupluk


" Sudah "


Fadlan mengangguk


" Sean gapapa kan "


Reyhan bertanya


" Biar dia istirahat dulu "


Fadlan memberitahu


" Kakak bawa hp "


Adimas bertanya


" Bawa "


Fadlan mengeluarkan hp nya


" Kakak mau apa "


Sean bertanya


" Telpon bunda "


Adimas mulai menelfon adinda


" Pakek slot dua aja "


Fadlan memberitahu


"Iya "


Adimas mengiyakan


____________


Assalamualaikum bunda :


Adimas membuat Sean membuka matanya


Wa'alaikum salam , ini siapa :


Bunda bertanya


Ini kakak Bun , kakak pakek hp nya kak Fadlan :


Adimas menjawab


Iya... Ada apa nak :


Adinda bertanya


Adek mana bunda :


Adimas mendekati Sean


Di sini :


Bunda menjawab


Mana adek :


Adimas mengalihkan ke panggilan vace came


Ini :


Bunda mengalihkan layar hp nya


Kakak :


Aniel yang terlihat masih di sekolahnya melambaikan tangannya dengan semangat


Halo , lihat ini kak Sean :


Adimas langsung mengalihkan layar ponsel yang dia pegang


Hai :


Sean yang tadinya hanya merebahkan kepalanya kini bangkit


Kakak ngapain , aku lagi belajal lho :


Aniel menunjukkan tulisan tangannya


Kakak Seaaan :


Terlihat mutiara ikut ke dalam vace came


Hai :


Sean melambaikan tangannya


Aku sama alin lagi belajal kak :


Mutiara menunjukkan hasil tulisan tangannya


Wah cantik , kalian jago banget nulisnya:


Sean memuji


Hahahaha makaci :


Mutiara dan Aniel tertawa senang


Nanti aku tulis nama kakak ya :


Mutiara menunjukkan kertasnya


Iya , tulis yang cantik ya :


Sean mengangguk


Aku juga , aku tulisin nama kakak juga :


Aniel memegang pundak mutiara


Iya , nanti kalau tulisannya cantik , akan kakak kasih hadiah :


Sean menjanjikan sesuatu


Benelan :


Aniel dan mutiara terlihat terkejut


Iya kakak janji :


Sean mengiyakan


Okey , ayo tulis ini :


Mutiara terlihat mulai menulis di ikuti Aniel


Sean sakit lagi :


Adinda bertanya


Dikit aja Bun :


Sean tersenyum


Obatnya sudah di minum :


Adinda bertanya


Sudah Bun :


Sean mengangguk


Bekalnya di makan , biar perutnya gak kosong , kamu istirahat saja nanti bunda minta papa jemput kamu :


Adinda terlihat khawatir


Iya bunda , maaf ya buat bunda khawatir:


Sean merasa bersalah


Tidak sayang , berikan ke kakak mu :


Adinda meminta


Iya bunda :


Sean memberikan hp nya kepada Adimas


Jaga Sean ya , nanti bunda sama papa jemput kalian :


Adinda


Iya Bun :


Adimas mengangguk


Ya sudah , kalian belajar yang rajin , bunda tutup dulu ya :


Adinda menunjukkan wajahnya


Iya :


Adimas mengangguk


Assalamualaikum :


Adinda hendak menutup


Wa'alaikum salam :


_____________


*Tuuuut


Adimas mematikan sambungan


" Langsung sehat aja "


Fadlan menoel pipi Sean


" Hehehe "


Sean hanya cengengesan


" Ayo makan "


Adimas membuka bekal makanan Sean


" Heumm... "


Sean langsung saja memakan bekal nya


" Ikuuut "


Denis langsung mengambil kursi dan makan di hadapan Sean di ikuti yang lain

__ADS_1


Setelah makan bekal yang mereka bawa , mereka mulai berbincang bincang


" Senior ini apanya Sean "


Fahri bertanya


" Dia kakaknya Sean yang nomor satu , aku nomor dua terus dia nomor tiga "


Reyhan yang masih sibuk dengan makanannya menjawab pertanyaan Fahri


" Lho kalian semua bersaudara "


Teman-teman terkejut


" Iya "


Adimas mengangguk


" Kereeeeen "


Teman-teman terlihat bersemangat


Setelah beberapa percakapan , akhirnya bel tanda istirahat telah selesai berdering


" Kami balik dulu "


Fadlan berdiri dan mengemasi kotak bekal Reyhan


" Makasih kakak "


Rehan dengan senyuman aneh menerima kotak bekalnya yang sudah rapih


" Hiii "


Fadlan bergidik ngeri


" Kakak jangan bilang mama ya "


Sean menghentikan Reyhan


" Tapi Sean... "


Fadlan hendak berbicara namun Sean menghentikan


" Ayolah kak , Sean mohon "


Sean memohon


" Tidak bisa , mama sama papa harus tau "


Reyhan mengusap kepala Sean


" Pliis ya kak ya "


Sean berdiri dan memeluk Fadlan yang lebih pendek darinya


Meski Sean lebih tinggi , tapi Sean menjadi lebih kurus dan otot-ototnya tidak terlihat kembali , tidak seperti sebelumnya.. itu karena penyakitnya


" Sean.. papa harus mengerti "


Fadlan mendudukkan Sean


" Tapi nanti mama khawatir "


Sean memonyongkan bibirnya


" Ngak apa kalau mama khawatir , asalkan jangan sembunyikan apapun dari mama dan papa "


Fadlan memegang pundak Sean


" Tapi nanti mama jadi sedih"


Sean menatap Fadlan


" Sean , mama dan papa membiarkan kamu tinggal dengan papa Sbastian karena mereka itu sayang sama kamu , mereka ngak mau kalau kamu sedih , jadi jangan buat mama dan papa sedih "


Fadlan


" Tapi nanti mama beneran jadi sedih "


Sean terlihat lesu


" Hei "


Fadlan mengusap kepala Sean


" Jangan bilang "


Sean memeluk perut Fadlan


*Cling.. cling


Sean mengedipkan matanya


" Haissss.... Iya baiklah "


Fadlan terpaksa mengangguk


" Kakak balik dulu ya "


Fadlan berlalu dengan menggeret Reyhan


Setelah itu Bu guru masuk dan pelajaran di mulai


Di tengah-tengah pelajaran


*Brak


Pintu kelas yang sebelumnya di tutup sekarang terbuka dan terlihat seorang anak SMA laki-laki terjatuh dan tersungkur


" Sialan Lo jangan dorong-dorongan lah "


Senior SMA itu mengumpat


" Permisi Bu guru "


Seorang anak yang memakai bet dan jas OSIS masuk , melangkahi si kak OSIS yang sedang duduk-duduk dan menghampiri Bu guru


" Kenapa ini "


Bu guru bertanya


" Ini Bu , saya mau memberikan formulir pendaftaran ekskul "


Si kak OSIS memberikan banyak kertas


" Oh terimakasih "


Bu guru menerimanya


" Saya pamit ya Bu "


Si siswa OSIS berlalu


" Nah anak-anak , siang ini kalian akan pulang terlambat ya , sekarang kalian wajib pilihlah satu ekskul untuk kalian sendiri , jika mau mengikuti ekskul yang lain juga boleh"


Bu guru membagikan kertas


" Kita ikut yang mana "


Terlihat Adimas sangat antusias


" Terserah deh , Sean ikut aja "


Sean memperhatikan kertas Adimas


" Wah ekskul beladiri "


Adimas terkejut


" Aku mau ikut ini , tapi kamu ngak boleh ikut , kamu ikut yang lain aja , yang ngak terlalu banyak gerak "


Adimas melihat kertas Sean


" Heumm... "


Sean melirik Adimas


" Khekhe "


Adimas terkekeh kecil


" Kakak ngak adil "


Sean mengambil bulpoin dan mengisi formulirnya dengan ekskul melukis dan ekskul musik


" Hahaha "


Adimas tertawa melihat Sean yang kesal dengannya


" Aku ikut musik juga ah "


Adimas juga mencentang kotak untuk ekskul musik dan melukis


" Hidih "


Sean mencibir


" Kan seru gitu lho "


Adimas menaik turunkan alisnya


" Terserah "


Sean membuang bulpoinnya


" Aku kasih ke Bu guru ya "


Adimas berdiri


" Hm... "


Sean hanya berdehem pendek


" Wah dia udah selesai "


" Keren ya bisa langsung ambil keputusan "


" Iya , padahal kita kesusahan "


" Iya dia keren "


Bisik ria para wanita di belakang tidak mengusik Adimas sama sekali


" Kakak ini polos apa gimana sih "


Sean membatin saat melihat Adimas yang duduk sambil cengar-cengir


" Kenapa "


Sean bertanya


Adima menjawab pertanyaan Sean


Sepulang sekolah


" Anak-anak jangan lupa hari ini bimbingan lho , jangan pulang dulu , kumpul di lapangan"


Bu guru mengingatkan


" Iya Bu "


Semua siswa mengemasi barangnya


Setelah itu para siswa langsung menuju lapangan dan berkumpul di sana


" Selamat siang semua "


Terlihat senior OSIS yang khas dengan jas OSIS miliknya menyapa


" Siang kak "


Semua menjawab


" Jadi kalian sudah memilih ekstra kurikuler masing masing kan "


Kak OSIS memastikan


" Sudah kak "


Semua menjawab


" Sekarang di sini akan di mulai untuk ekskul pertama ada seni beladiri , semuanya tolong menepi "


Kak OSIS memerintahkan agar menepi


Semua siswa menepi dan beberapa kakak senior maju ke depan dengan pakaian putih dan band yang berwarna hitam


" Ini untuk kalian yang memilik okspek bela diri tolong perhatikan"


Kakak OSIS dari kelas bela diri menunjukkan beberapa trik yang membuat semua orang terkagum-kagum


" Aku duduk ya "


Sean menepuk pundak Adimas


" Iya aku mau lihat dulu "


Adimas mengangguk


Sean meninggalkan Adimas dan duduk di bangku taman yang lumayan jauh dari sana


" Sean "


Reyhan datang dan duduk di sana


" Belum pulang "


Sean bertanya


" Belum , kan kak Fadlan masih di sini , dia anggota OSIS , jadi pulangnya bareng aja "


Reyhan memberikan sebotol air minum


" Makasih "


Sean menerima botol minum dari Reyhan dan langsung meminumnya


" Kak ehan ngak pengen jadi OSIS "


Sean bertanya


" Aku gini-gini udah banyak yang suka , jadi ngak usah jadi anggota OSIS udah populer aku "


Reyhan berbangga diri


" Iya terserah deh "


Sean kembali meminum minuman yang dia bawa


" Tadi kata kak Fadlan nanti papa Tian jemputanya telat "


Reyhan memberitahu pesan Fadlan


" Iya "


Sean mengangguk


" Tadi papa Sbastian chat kakak , tanya kabar kamu , terus kak Fadlan bilang kalau kamu udah baik-baik aja "


Reyhan memberitahu semuanya


" Syukur deh , papa ngak akan terlalu khawatir"


Sean kembali meminum minumannya


" Kyaaaaaaa "


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari seorang gadis


" Ayo liat "


Reyhan menarik Sean menuju sumber suara


" Kenapa kak "


Sean menepuk pundak Adimas yang ada di barisan depan


" Tangannya sakit , katanya tulangnya bengkok "


Adimas menjawab


" Cewek itu "


Sean menunjuk seorang gadis manis yang di peluk oleh teman-temannya di tengah-tengah lapangan


" Iya "


Adimas mengiyakan


" Aku tau ngak boleh ambil perhatian , tapi aku ngak tega kalau cewek "


Sean membatin dan melangkah mendekati sang gadis


" Mau kemana "


Reyhan menghentikan langkahnya Sean


" Kasihan "


Sean menghampiri sang gadis


" Permisi , saya saya akan berikan pertolongan pertama "


Sean duduk di depan si gadis


" Emangnya kamu bisa "


Beberapa laki-laki menghentikan Sean


" Tolong menjauh "


Sean melepaskan dasinya


" Nah saya lihat ya "


Sean menyentuh siku si gadis


" Ja..jangan sakit "


Gadis itu menghentikan Sean


" Gigit ini , jangan sampai lidah kamu ke gigit "


Sean memberikan dasinya yang sudah di jadikan kotak kecil


" Kamu beneran bisa "


Gadis lain bertanya


" Saya sering seperti ini saat latihan , saya bisa sedikit menolong "


Sean mengangguk


" Jika tidak segera di tangani , nanti makin parah "


Sean meyakinkan


" Baiklah , tolong ya "


Senior senior memberi ruang


" Tahan ya "


Sean memegang lengan si gadis


" Tolong kalian pegangi ya "


Sean memegang lengan dan pundak si gadis


*Krak


Sena tiba-tiba membuat lengan si gadis berbunyi


"Eum.... "


Si gadis manis terlihat akan berteriak namun tidak bisa karena sumpal di mulutnya


" Sebentar lagi selesai "


Sean tidak tega melihat air mata si gadis


*Krak..krak


Sean mengotak Atik lengan si gadis


" Sudah , nanti jangan terlalu banyak bergerak ya"

__ADS_1


Sean terlihat sedikit memijat di area siku si gadis


" Dasinya bisa di lepas "


Sean memberitahu dan para gadis melepas dasi yang di gigit si gadis manis


" Gerakkan pelan-pelan "


Sean membantu si gadis


" Sakit "


Si gadis menelusupkan wajahnya di pelukan temannya


" Iya , tahan ya "


Sean menenangkan


" Hiks... Iya "


Si gadis manis menganggukkan kepalanya


" Nah sudah "


Sean sedikit menggerakkan lengan si gadis


" Makasih "


Si gadis perlahan menggerakkan tangannya sesuai arahan Sean


" Nah... Nanti di periksa di rumah sakit juga , mungkin sedikit lebam atau bengkak , tapi kalau ngak di periksa ya di kompres aja pakek air hangat "


Sean


" Iya , aku mengerti "


Si gadis mengangguk


" Ada air minum ngak "


Sean bertanya


" Sebentar "


Salah seorang laki-laki di sana berlari menjauh


" Eh katanya itu adiknya kak Fadlan "


" Iya , katanya dia botak , makanya pakek kupluk "


" Beneran , kenapa ya "


" Kena kanker kali hahaha "


" Jangan becanda deh "


Terdengar banyak bisik-bisik dari para wanita


" Baru dia dua hari di sini , udah di gosipin aja"


Fadlan membatin


" Adoh.... "


Seorang kakel terjatuh dan menimpa Sean hingga kupluk Sean terjatuh


*Syut


Rambut panjang Sean yang indah tergerai hingga pundaknya


" Astaga "


Sean segera mengambil kupluknya dan membatu si kakel berdiri


" Kamu gapapa "


Sean membantu si kakel berdiri


" Makasih... Sialan Lo , jangan dorong-dorongan lha "


Si kakel memarahi temannya


" Maap , gue kedorong dari belakang "


Si teman kakel membantu si kakel berdiri


" Ini minumnya "


Laki-laki tadi kembali membawa sebotol air mineral


" Kamu minum pelan-pelan "


Sean memberikan botol minum kepada si gadis manis


Hening....


Si gadis manis hanya menatap Sean takjub


" Hei "


Sean menempelkan botol minuman di pipi si gadis manis


" Ah iya maaf "


Si gadis manis terkejut


" Minum ini "


Sean memberikan botolnya


" Makasih "


Si gadis manis meminumnya perlahan


Sean memakai kupluknya dan itu membuat Sean tersadar


" Aku ngak pakek wig "


Sean mengarahkan rambutnya ke depan


" Apa ini "


Sean melihat rambutnya sendiri


*Jeng..jeng


Terlihat dua ekor kucing berdiri di antara gerombolan


" Astaga si telur kembar udah balik "


Sean tersenyum senang


" Kamu siapa namanya "


Si gadis manis bertanya kepada Sean


" Aku Sean "


Sean menjawab


" Makasih Sean "


Gadis itu berdiri di bantu temannya


" Nanti jangan lupa di kompres ya "


Sean ikut berdiri


*Jeng..jeng


Sean lebih tinggi di banding cewe-cewe di situ


" Astaga dia tinggi "


Si gadis manis membatin


" Aku pergi dulu bye "


Sean melambaikan tangannya dan berbalik menuju Adimas dan kedua kakaknya yang sudah menunggu


" Bay "


Para ciwi-ciwi di sana membalas lambaian tangan Sean dan si gadis manis hanya tersenyum kecil


" Kamu keren "


Reyhan langsung menyambut Sean


" Hahaha "


Sean tertawa kecil


" Kakak bawa karet gak "


Sean bertanya


" Bawa "


Fadlan memberikan satu karet gelang


" Makasih "


Sean langsung saja mengikat rambutnya dan memakai kupluknya


" Sean "


Adimas menggeser Reyhan dan berdiri di samping Sean


" Kenapa "


Sean memakai kupluknya kembali


" Rambut kamu gimana bisa jadi gini "


Adimas menatap Sean penasaran


" Nanti Sean kasih tau "


Terlihat senyum Sean yang mengembang


" Itu papa "


Adimas menunjuk Sbastian yang berdiri di gerbang sekolah


" Ayo , papa Sbastian pasti khawatir "


Fadlan menarik saudaranya menuju Sbastian


Setelah sampai di gerbang utama


" Papa "


Adimas memanggil


" Kalian dari mana aja , papa cariin "


Sbastian mengusap kepala putranya


" Dari sana , kami ngak tau kalau ada ekskul , jadi baru selesai "


Adimas menjawab


" KAKAAAAAK "


Teriakan Aniel memekakkan telinga Sean


" Kalian dari mana , bunda cari sampai kelas"


Adinda langsung bertanya


" Tadi ada ekskul , maaf ya bunda "


Adimas terlihat merasa bersalah


" Astaga.... Dari mana kalian "


Ayu tiba-tiba nongol dan menjewer telinga Fadlan dan Reyhan


" Aduh..aduh... Maaf ma maaf "


Reyhan mengaduh sedangkan Fadlan diam saja menatap mamanya


" Sayang jangan di cubit ah "


Bram menghentikan istrinya


" Mama "


Sean melambaikan tangannya


" Sean.. kata kakak kamu sakit "


Ayu membelai lembut pipi Sean


" Udah ngak sakit kok "


Sean tersenyum manis


" Beneran "


Sbastian bertanya


" Bener "


Sean mengangguk


" Kakak "


Terlihat mutiara menarik celana Sean


" Hai "


Sean mensejajarkan tingginya dengan kedua adiknya


" Tadi adek tulis nama kakak lho "


Mutiara meletakkan tas nya di tanah dan membuka tas miliknya


" Iel juga "


Aniel mengikuti tingkah mutiara


Terdengar suara para kakak saling mengadukan apa yang terjadi kepada Sean , namun Sean pura-pura tidak mendengar apapun


" Wah cantiknya "


Sean menerima dua kertas yang bertuliskan namanya


" Makasih ya , akan kakak simpan "


Sean melipat kertas yang dia terima dan memasukannya ke dalam saku pakaiannya


" Hadiah "


Mereka berdua menodongkan tangannya


" Eum... Mama.. bunda boleh ngak kalau Sean main "


Sean bertanya dengan hati-hati


" Sean akan ajak kakak semua sama adik "


Sean mengedipkan matanya dengan lucu


" Kenapa kamu masih bertingkah seperti Sean kecil "


Sbastian geleng-geleng kepala melihat putranya yang benar-benar memohon


" Ouch... Putraku memang lucu "


Ayu mencubit pipi tirus Sean


" Iya boleh "


Bram memperbolehkan


" Yeeey sayang papa Bram "


Sean memeluk Bram dengan erat


" Cayang papa Blam "


Kedua anak kecil di sana mengikuti tingkah Sean


" Huft... Jangan pulang malam "


Sbastian menghela nafas panjang


" Beneran pa... Makasih "


Sean memeluk Sbastian


" Maaci hahaha "


Kedua putri kecil kini memeluk Sbastian


" Ya sudah , ayo pulang "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Ayo hahaha "


Sean berlari kembali ke dalam sekolahan


" Astaga anak itu "


Sbastian berkacak pinggang


" Hahaha dasar Sean "


Reyhan tertawa dan berlari mengikuti Sean


" Kami akan ambil tas dulu "


Fadlan bersama Adimas berjalan menyusul kedua saudaranya


" Ntahlah Sean itu seperti siapa "


Ayu menghembuskan nafas panjang


" Sean juga tidak mempelajari sifat suamiku"


Adinda melipat tangannya di atas dada


" Suamiku itu kekanak-kanakan , sampai-sampai tidak mau mengalah dengan putrinya sendiri "


Ayu mendekati adinda


" Suamiku itu sangat dewasa , bahkan dia tidak pernah bermain dulu , sekarang saja dia kalau bermain dengan Aniel , Aniel yang akan mengaturnya "


Adinda mengikuti langkah ayu


" Istriku sangat menyebalkan "


Bram menggerutu


" Istriku itu sangat cantik "


Sbastian tersenyum sendiri


" Ya kan dia istrimu , kalau kamu bilang dia jelek ya pasti ngambek lha.. gimana sih "


Bram memukul punggung Sbastian


" Istriku ngak akan ngambek walau ku bilang dia jelek "


Sbastian menaik turunkan alisnya


" Ngak percaya "


Bram mengibaskan tangannya


" Mau taruhan "


Sbastian menantang


" Kalau istrimu gak ngambek , aku akan bilang ke istriku kalau dia itu wanita paling jelek sedunia "


Bram membuat Sbastian ternganga


" Kenapa , ngak berani "


Bram mengejek


" Awas ya kalau nanti ngak berani bilang "


Sbastian mengulurkan tangannya

__ADS_1


" Siapa takut "


Bram menjabat tangan Sbastian


__ADS_2