
" Aku akan mandi dulu "
Mama melepas pakaian luarnya dan hanya menyisakan pakaian dalam lalu masuk ke dalam kamar mandi
" Astaga "
Betapa terkejutnya mama melihat kamar mandi Sbastian yang bernuansa anak-anak , bebek karet di mana-mana , ada kapal pesiar dan alat mandi anak-anak
" Astaga anak itu sudah menguasai Sbastian kesayanganku "
Mama geleng-geleng kepala
Tanpa banyak komen lagi , mama menyalakan shower dan mandi dengan tenang , setelah itu mama mengganti bajunya dengan baju adinda
" Masih ada saja baju ini "
Mama mengingat baju biru langit yang dia hadiahkan kepada adinda sesaat setelah pernikahan Sbastian dan adinda
" Kata adinda ini kebesaran , tapi saat aku pakai ini masih pas "
Mama tersenyum dan mengikuti papa yang sudah tertidur sejak tadi
Esok pagi , mama , papa dan si kembar sudah ada di meja makan , mama memakai pakaian yang baru di belinya pagi ini karena semua pakaian adinda ukurannya kecil-kecil , papa sudah rapih dengan pakaian Sbastian yang cukup besar di tubuhnya , sedangkan si kembar sudah memakai pakaian biru putih ala anak SMP
" Sbastian di mana "
Mama celingukan mencari Sbastian
" Kakak masih tidur , badan kakak mungkin masih lemas , nanti biar lion kasih tau kakek Sam biar kakak makan "
Lion memakan makanannya sendiri dengan lahap
" Oh... Liona hari ini jadwal kontrol kan , ayo Mama antar "
Mama tersenyum
" Tidak perlu "
Liona menjawab dengan singkat
" Liona udah sembuh ma , cuma butuh waktu agar bisa berlarian seperti anak-anak lainnya , liona cuma perlu minum obat teratur agar cepat kuat badannya "
Lion menjelaskan
" Benarkah , liona sudah sembuh "
Papa terkejut
" Iya pa , lili udah sembuh "
Liona tersenyum
" Oh... Baguslah , liona sebentar lagi sudah bisa kegiatan dengan full seperti kak lion "
Mama tersenyum namun lili tidak menghiraukan mama sama sekali
" Dek.. mama itu khawatir sama kamu , ngak boleh gitu ya "
Liona mengingatkan
" Iya kak , maaf "
Liona menunduk
" Liona mau makan apa hari ini , biar papa belikan setelah dari kantor "
Papa mengalihkan topik pembicaraan
" Lili mau makan yang manis manis , puding busa kesukaan lili "
Liona memberitahu dengan senang
" Kakek Sam , kakek Sam "
Terlihat Sean berlari ke dapur dengan pakaian putih-putih ala perawat pria di rumah sakit yang datang membawa troli makanan
" Kenapa tuan muda "
Bi Aini keluar
" Apa bubur papa sudah siap , Sean mau menyuapi papa makan , biar bisa minum obat "
Sean menghampiri bi Aini
" Sudah tuan muda , apa mau saya antarkan"
Bi Aini menawari
" Tidak bi , taruh di troli makanan Sean saja"
Sean memberikan troli makanan khusus miliknya
" Ini untuk minum obatnya ya "
Bi Aini memberikan beberapa makanan lembut dan dua gelas air
" Makasih ya Bi "
Sean menarik kembali troli miliknya dan berjalan ke arah lift dan bibi mengirim satu maid yang mendampingi Sean sampai di kamarnya
" Makasih ya kak sudah mengantarkan Sean"
Sean menutup pintu kamarnya
" Papa , papa makan dulu yuk "
Sean duduk di atas kursi di samping nakas
" Papa "
Sean mengguncang Sbastian pelan hingga Sbastian membuka matanya
" Papa demam lagi , papa makan ya biar ngak demam , terus minum obat "
Sean mengambil bubur yang di buatkan Bi Aini
" Sean udah makan "
Sbastian bertanya
" Belum , Sean makan nanti saja "
Sean berdoa sebelum makan lalu menyuapi Sbastian
" Enak ngak pa "
Sean membersihkan noda bubur di bibir Sbastian
" Enak kok "
Sbastian tersenyum
" Kakak "
Suara liona memasuki kamar
" Kakak masih pusing "
Lion dan liona masuk bersama kedua orang tua Sbastian
" Lili berangkat dulu ya sama kak lion "
Liona memeluk tubuh Sbastian
" Salim dong "
Lion dan liona mencium tangan Sbastian
" Belajar yang rajin ya "
Papa mengusap kepala sang singa kembar saat mereka berdua mencium tangan papa
" liona "
Suara Sbastian dan lion bersahutan saat liona melewati mama begitu saja
" Kenapa liona ngak suka sama mama "
Mama tidak memberikan tangannya saat liona hendak menyalaminya
" Lili mau berangkat "
Liona menatap mamanya tajam
" Lili "
Sbastian mencoba untuk duduk dan lion juga Sean langsung membantu
" kesini "
Sbastian melambaikan tangannya
" Iya kak "
Liona mendekat
" Ngak boleh gitu sama mama , mama itu yang melahirkan kamu , jadi jangan gitu ya , gimanapun itu mamanya lili , mama yang udah rawat lili sejak bayi , apa lili mengerti "
Sbastian membenarkan kerudung abu-abu liona yang sedikit bergeser
" Tapi kak , mama.. "
Belum sempat liona melanjutkan kalimatnya namun Sbastian sudah membungkam mulut lili dengan jari telunjuknya
" Setahu kakak , adik perempuan kakak itu anak yang penurut , anak baik , tapi sepertinya adik kakak itu belum bangun pagi ini , apa adik kakak masih tidur "
Sbastian tersenyum dan menjeda kalimatnya
" Lili sayang , ngak boleh gitu ya "
Sbastian mengusap pipi liona yang sudah meneteskan air matanya
" Tapi mama... Mama "
Lidah liona Kelu untuk mengeluarkan kalimat yang ingin dia katakan
" duduklah "
Sbastian menarik lili duduk dan memeluknya
" Kamu masih lebih beruntung dari Sean , lihatlah Sean yang hanya punya kakak , dia membutuhkan kasih sayang mama , tapi kakak hanya bisa memberikannya kasih sayang seorang mama sebisa kakak , Sean sering sekali menangis dan bertanya kenapa bunda tinggalin papa , kenapa orang tua Sean ngak mau sama Sean , jadi kamu harus bersyukur ya "
Sbastian membuat liona menatap Sean
" Maaf kak , lili salah "
Liona memeluk Sbastian dengan erat
" Minta maaf ke mama "
Sbastian melepaskan liona
" Maaf ma "
Liona melepaskan Sbastian lalu memeluk mamanya dengan erat
" Kamu ngak usah nangis , ngak usah pedulikan kata kakakmu , masa anak mama di samain sama anak pungut "
Mama mengusap air mata liona dan memeluk liona erat
" Anak pungut itu mungkin di buang orang tuanya karena dia cacat , kamu itu anak mama yang cantik , jangan di ambil hati , dia itu pantes ngak punya mama "
Mama melirik Sean sinis
" Ngak papa ya Sean , ada papa "
Sbastian tersenyum dan mengelus kepala Sean
" Sean ngak papa kok , Sean kan kuat "
Sean tersenyum namun air matanya mengalir menuruni bendungan yang sedari kemarin sudah susah payah di bangun kini runtuh kembali
" Sini sayang , papa mau makan "
Sbastian memangku Sean dan mengambil buburnya
" Suapin papa ya "
Sbastian bersandar dengan nyaman lalu membiarkan Sean menyuapinya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir
" Kak , lion berangkat ya "
Lion menoel pipi Sean yang gembul
" Mama , lion berangkat "
Lion dan liona mencium tangan mama dan berlalu keluar di ikuti papa dan mama
" Sbastian "
Sebelum papa keluar dari pintu , papa berbalik dan menghampiri Sbastian
" Anak papa sangat tangguh "
Papa mencium kening Sbastian lama , setelah itu papa menatap Sean
" Cucu kakek , kakek kerja dulu ya , jaga papamu baik-baik , jangan biarkan dia bekerja , atau berjalan kemana-mana , jika papamu bandel , pukul saja , apa Sean mengerti "
Papa menangkup pipi Sean
" Iya kakek , Sean ngerti "
Sean mengangguk
" Papamu itu bandel , jangan jadi bendel kayak papamu "
Papa berbisik
" Iya , papa itu bandel "
Sean ikut berbisik
" Hahahaha "
Sean dan papa tertawa bersama membuat Sbastian tersenyum kecil
__ADS_1
" Papa berangkat dulu "
Papa tersenyum , Sbastian mencium tangan papa di ikuti Sean
" Assalamualaikum cucu kakek "
Papa melambaikan tangan dan di balas lambaian tangan oleh Sean
" Wa'alaikum salam kakek "
Sean dan Sbastian tersenyum
" Ayo papa makan "
Sean menyuapi Sbastian hingga mangkuk bubur Sbastian habis tidak tersisa
" Sekarang minum obat "
Sean turun dari tempat duduknya dan mengambil obat di dalam nakasnya yang paling bawah
" Untung obat untuk papa sudah Sean amankan , jika tidak , botol racun ini akan papa minum nanti "
Sean membatin
" Kenapa Sean "
Sbastian bertanya karena Sean cukup lama di bawah sana
" Ambil obatnya pa "
Sean berdiri dan membawa obat obatan Sbastian yang harus di minum
" Sean tadi malem ngompres papa semalaman ya "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Iya pa , tadi malam badan papa panas banget , jadi Sean kompres papa , Sean takut nanti kalau badan papa sangat panas , itu kan bahaya "
Sean memberikan beberapa butir obat dan Sbastian langsung meminum semuanya
" Untung Sean memeriksa dulu obat papa , jika tidak , obat itu akan benar-benar tertukar "
Sean membatin dan memperhatikan papanya yang setelah meminum obat langsung memejamkan matanya
" Papa ngantuk "
Sean memegang lengan Sbastian dengan khawatir
" Enggak , cuma ngerasain obatnya , agak pait ya "
Sbastian tersenyum
" Ngak tau , kan papa yang minum "
Sean sedikit terkekeh
" Oh iya ya , kan papa yang minum hehehe "
Sbastian cengengesan
" Sekarang Sean makanlah "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Baik "
Sean makan dengan tenang sambil di perhatikan oleh Sbastian
" Kenapa papa senyum-senyum sendiri "
Sean menatap Sbastian aneh
" Kamu lucu kalau makan "
Sbastian mengusap nasi yang tertinggal di pipi Sean
Sambil makan , Sean bersyukur atas apa yang dia lakukan semalam
" Dia ngak main-main buat ngeracuni papa , dosisnya tinggi banget , kalau papa minum , Sean jamin papa bakal wasted , semoga Mao bisa menemukan racun yang sama "
Sean melahap makanannya hingga tidak tersisa
" Papa... Sean taruh piringnya di bawah dulu ya , papa istirahat saja "
Sean mencium pipi Sbastian setelah itu Sean keluar kamar menuju dapur
" Sekarang disini tidak tau siapa kawan siapa lawan , tapi semoga paman bisa mengendalikan semua , paman satu-satunya harapan Sean , jika paman di kalahkan Sean tidak tau harus apa lagi "
Sean membatin sepanjang lift turun ke bawah
" Kakek "
Sean memanggil pak Sam yang sedang lewat di depannya
" Sean , bagaimana , kakek tadi ketiduran , dia memberi kakek obat "
Pak Sam dengan geram mengingat kejadian bahwa minuman yang dia minum mengandung obat tidur
" Sean memakan sedikit hijau hijau di daging yang di siapkan , mungkin Sean akan mengantuk sebentar lagi "
Sean mulai menguap
" Dia sangat kejam kakek "
Sean berbisik-bisik
" Sudah , sekarang Sean mandi ya "
Pak Sam berdiri dan menggendong Sean saat ada beberapa maid lewat
" Sean sudah mandi , ayo ke papa "
Sean memeluk pak Sam
" Sean mengantuk ya , ayo tidur "
Pak Sam menepuk-nepuk punggung Sean pelan
" Tolong bawa ini ke belakang "
Sbastian memerintahkan kepada salah satu maid yang lewat
Pak Sam membawa Sean menuju lantai atas dimana kamarnya di tempatkan
" Sbastian "
Pak Sam masuk dan melihat Sbastian yang sedang membuka layar gepengnya
" Sean "
Sbastian terduduk
" Dia mungkin mengantuk , semalaman dia mengompres mu , saat ayah akan ke sini pukul tiga pagi untuk mengecek kondisimu Sean masih terjaga "
Pak Sam merebahkan Sean di samping Sbastian
" Tapi pukul dua belas dia sudah tidur "
Sbastian menaikkan selimut Sean
Pak Sam duduk di samping Sbastian
" Benarkah , sepertinya putraku lelah "
Sbastian memeluk Sean dengan sayang dan ikut merebahkan dirinya
" Dia memang seperti sudah dewasa , tapi sifat anak-anaknya masih sangat kental , kamu tau , tadi malam saat ayah tanya kenapa tidak memanggil ayah atau yang lain dia menjawab hahaha "
Pak Sam sedikit terkekeh
" Tenang saja kakek , aku ini lebih berpengalaman dari pada yang lain , Sean ini ahli medis , lihat saja pakaian Sean seperti seorang perawat di rumah sakit , dia berbangga diri menunjukkan pakaiannya hahaha "
Pak Sam terkekeh di ikuti Sbastian
" Benar-benar mirip seperti adinda "
Sbastian tersenyum dan menatap Sean penuh kasih sayang
" Kamu jangan selalu bersedih , Sean juga membutuhkanmu "
Pak Sam membelai rambut tebal Sbastian
" Aku bukan anak anak lagi ayah "
Sbastian menyisihkan tangan pak Sam
" Kamu tetap Tian kecilku yang polos dan tidak tau apa apa "
Pak Sam menatap Sbastian dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ayah
" Aku memang Tian kecil ayah , dan akan selalu menjadi Tian kecil ayah "
Sbastian tersenyum
" Muanch... "
Ayah mencium kening Sbastian lama
" Tidurlah Tian "
Pak Sam tersenyum dan membenarkan selimut Sbastian dan cucu kesayangannya
" Membuat anak dan cucuku seperti ini , sepertinya harus ada perhitungan hari ini "
Pak Sam membatin dengan geram
Pukul tiga sore , Sean terbangun karena suhu tubuh Sbastian meningkat
" Astagfirullah "
Sean terkejut saat melihat jam dan ternyata dirinya melewatkan jam makan dan minum obat Sbastian di siang hari
" Papa... Paaaa "
Sean mengguncang Sbastian hingga Sbastian membuka matanya
" Papa , kita makan ya , lalu minum obat "
Sean menyentuh dahi papanya yang terasa sangat panas
" Kita kompres dulu ya "
Sean turun dari tempat tidur dan naik ke atas kursi
" Papa berbaring "
Sean menarik Sbastian yang masih dalam posisi miring ke kanan , setelah Sbastian berbaring , Sbastian langsung di kompres oleh Sean menggunakan air dingin di baskom
" Ini baru sebentar langsung panas "
Sean merasa bersalah karena suhu tubuh Sbastian semakin panas karena dirinya yang lupa jam makan siang Sbastian
" Padahal Sean sudah janji rawat papa , kenapa Sean ketiduran "
Sean mengusap air matanya yang mengalir dengan perasaan bersalah yang besar , Sean menahan suaranya agar tidak membangunkan Sbastian
" Hiks... Maaf pa "
Akhirnya isakan isakan kecil lolos dari mulut Sean yang mungil
" Sean "
Sbastian terbangun
" Jangan menangis "
Sbastian menyentuh pipi Sean
" Maaf... Sean salah pa "
Sean mengusap air matanya dan melanjutkan mengompres Sbastian
" Papa ngak apa-apa , jangan khawatir "
Sbastian tersenyum
" Sean akan mengambil makanan "
Sean mengambil hp nya dan menelfon seseorang
: Bi Aini
: Iya tuan muda Sean
: Tolong antarkan makanan ke sini , papa belum makan
: Lho bagaimana bisa , saya sudah mengirim makanan tadi siang
: Kirim bubur ya Bi , setelah papa makan Sean akan turun
: Iya tuan muda
Bi Aini memutuskan sambungan teleponnya
*Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu membuat Sean teralih , Sean turun dari kursi dan berlari membuka pintu
" Bi... "
Sean mempersilahkan masuk
" Saya tadi sudah mengirimkan bubur dan nasi untuk tuan muda di sini "
Bibi langsung masuk
" Kita bicara saja nanti bi , sekarang Sean akan merawat papa dulu "
Sean meminta bi Aini mengambil buburnya dan Sean duduk di samping Sbastian di bantu bi Aini
" Papa... Makan dulu yuk , ini udah ada bubur "
Sean mengguncang Sbastian hingga Sbastian membuka matanya
" bi Aini "
__ADS_1
Sbastian melihat bi Aini berdiri di sebelah Sean
" Bi.. buburnya "
Sean meminta bubur yang di bawa bi Aini
" Apa kembar sudah pulang "
Sbastian bertanya dengan singkat
" Nona muda sudah pukul dua siang , sedangkan tuan muda mengabari akan pulang telat karena ada kegiatan "
Bi Aini memberikan chatnya dengan lion
" Bisakah menjemput lion , aku khawatir bi "
Sbastian memegangi lengan bi Aini
" Nanti Sean akan jemput , papa makan dulu ya "
Sean menenangkan Sbastian
" Papa akan menjemput kakak lion "
Sbastian mencoba untuk duduk
" Papa makan dulu ya "
Sean memberikan suapan pertama
" Papa makan sendiri "
Sbastian mengambil mengakuk bubur dari Sean dan memakan buburnya cepat-cepat
Setelah menghabiskan buburnya , Sbastian langsung meminta obatnya yang lokasi peletakannya di ubah lagi oleh Sean
" Nakas ini berantakan , dasar ****** sialan"
Sean membatin
Kedua nakas di samping tempat tidur sudah berantakan , namun sepertinya sang pencuri tidak pernah berfikir bahwa obat milik Sbastian dia simpan di dalam boneka yang sedari tadi berada di tengah-tengah pelukan Sean dan Sbastian
" Ini pa obatnya "
Sean memberikan obat untuk Sbastian dan dia segera mengganti baju , setelah itu Sean mengemas obat Sbastian di dalam tas kecilnya
" Ayo Sean , papa mau ganti baju "
Sbastian berdiri dari tempat tidur di bantu bi Aini
" Sbastian "
Kakek Sam masuk dengan penampilan yang terlihat baru bangun tidur
" Kakek ketiduran lagi"
Pak Sam duduk di atas tempat tidur
" Kamu mau kemana "
Pak Sam menatap Sbastian yang berlalu
" Mau ganti baju , bi Aini di sini saja "
Sbastian berjalan masuk ke dalam ruang ganti di ikuti pak Sam
" Tuan muda , tadi saya sudah menyuruh pelayan untuk mengirim makanan dan membangunkan Anda tadi siang , dan dia kembali dengan piring kosong , dia bilang tuan muda dan tuan Sbastian sudah makan"
Bi Aini menjelaskan dengan cepat
" Ini tidak masuk akal , Sean akan menyelidiki nanti "
Sean menggumam dan melihat Sbastian dengan lemas berjalan ke arah mereka
" Papa yakin akan menjemput kak lion "
Sean bertanya
" Papa khawatir jika kak lion akan semakin sakit "
Sbastian duduk di sofa dan menghela nafas panjang
" Kepala papa masih sakit ya di rumah saja pa , biar yang lain yang jemput "
Sean memeluk kaki Sbastian
" Papa kuat kok , papa mau jemput kakakmu "
Sbastian tersenyum
" Tapi pa , jangan ya "
Sean melarang
" Papa ngak apa-apa kok "
Sbastian memakai sepatunya di bantu Sean
Sbastian turun ke bawah di bantu pak Sam dan bi Aini
" Tuan "
Asisten John datang dengan pakaian rumahan bersama sitter azza dan wafi
" Biar saya bantu , tuan muda di rumah saja ya "
Asisten John mengambil alih Sbastian
" Kakak mau kemana "
Liona turun dari lantai atas
" Kakak mau ke rumah sakit , mau periksa "
Sbastian tersenyum
" Lili ikut , lili sama kakak "
Liona berlari menuruni tangga
" Jangan ya , kamu di rumah saja "
Sbastian melarang
" Tapi... "
Liona mengelak
" Kamu jangan ikut , angin malam tidak baik untukmu , kamu baru sembuh kan "
Sbastian tersenyum
" Tapi kakak juga ngak pakek jaket "
Liona menyadarkan Sbastian
" Oh iya "
Sbastian menatap pakaiannya yang hanya memakai kaos oblong dan celana panjang
" Ini jaketnya "
Sean menyeret jaket tebal yang sangat besar dari dalam lift
" Makasih sayang "
Sbastian tersenyum
" Sean ikut , Sean mau ikut "
Sean memeluk kaki Sbastian
" Kamu di rumah saja , firasat papa ngak enak "
Sbastian berlutut dan membelai kepala Sean
" Firasat Sean juga ngak enak , tapi Sean mau ikut , Sean ngak mau terjadi apa apa dengan papa "
Sean ngotot
" Jangan sayang , ini hampir magrib "
Sbastian melarang
" Ngak pa , Sean ikut "
Sean Keukeh atas keputusannya
" Baik baik , Sean ikut "
Sbastian berdiri sambil di bantu asisten John
Sbastian , asisten John dan Sean keluar di antar segenap keluarga yang hadir
" Kita langsung ke sekolah lion "
Sbastian berbicara begitu mereka sudah ada di dalam mobil
" Baik tuan "
Asisten John mengangguk
" Papa dingin ngak "
Sean menyentuh pipi Sbastian
" Kalau peluk Sean pasti hangat "
Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya dan memeluk Sean yang terasa se dingin es
" Papa panas lho , pake kompres ya , yang di tempel "
Sean menyentuh kening Sbastian
" Iya deh , papa nurut sama pak dokter "
Sbastian tersenyum
" Ini kompresnya "
Sean mengeluarkan kompres tempel dan menempelkannya di kening Sbastian dengan lembut
" Papa ngantuk ngak "
Sean menyentuh pipi Sbastian
" Ngak , papa baik-baik aja kok "
Sbastian tersenyum
" Papa pucet banget lho "
Sean menepuk-nepuk pipi Sbastian
" Benarkah "
Sbastian tersenyum
" Iya pa , papa pucet "
Sean mengangguk
Perjalanan menuju sekolah lion terasa agak macet karena kendaraan para pekerja yang baru pulang dari tempat kerjanya
" Telfon aja ya "
Sean mengambil handphone
*Tuut... Tuuut...
Berkali kali Sean menelfon Leon , namun hanya suara operator yang menyahuti
" Ngak di angkat lho sama kak lion "
Sean berkali-kali mencoba menelpon lion
" Sudah sampai tuan "
Asisten John memberitahu
" Ayo papa "
Sean turun
" Mari tuan "
Asisten John membantu Sbastian untuk keluar dan berjalan di ikuti Sean
" Permisi kakak "
Sean berlari saat melihat anak laki-laki yang memakai seragam OSIS
" Hai adik , adik sendiri "
Kakak OSIS berlutut di depan Sean
" Aku sama papa , apa kakak OSIS tau dimana kak lion Ken Sora "
Sean menunjukkan foto Leon
" Oh.. tadi dia ada di UKS , dia mimisan "
Anak laki-laki itu memberitahu
" Sejak kapan dia mimisan "
Sbastian tiba-tiba ada di samping mereka
" Sejak tadi tuan , Leon ada di ruang OSIS setengah jam yang lalu , mungkin sedang istirahat "
Anak OSIS itu memberitahu
" Terimakasih ya "
Sbastian berlari meninggalkan asisten John dan Sean di belakang
__ADS_1