Aku Pangeran

Aku Pangeran
#67 ( jangan khawatir kakek )


__ADS_3

" Aku akan mandi dulu "


Mama melepas pakaian luarnya dan hanya menyisakan pakaian dalam lalu masuk ke dalam kamar mandi


" Astaga "


Betapa terkejutnya mama melihat kamar mandi Sbastian yang bernuansa anak-anak , bebek karet di mana-mana , ada kapal pesiar dan alat mandi anak-anak


" Astaga anak itu sudah menguasai Sbastian kesayanganku "


Mama geleng-geleng kepala


Tanpa banyak komen lagi , mama menyalakan shower dan mandi dengan tenang , setelah itu mama mengganti bajunya dengan baju adinda


" Masih ada saja baju ini "


Mama mengingat baju biru langit yang dia hadiahkan kepada adinda sesaat setelah pernikahan Sbastian dan adinda


" Kata adinda ini kebesaran , tapi saat aku pakai ini masih pas "


Mama tersenyum dan mengikuti papa yang sudah tertidur sejak tadi


Esok pagi , mama , papa dan si kembar sudah ada di meja makan , mama memakai pakaian yang baru di belinya pagi ini karena semua pakaian adinda ukurannya kecil-kecil , papa sudah rapih dengan pakaian Sbastian yang cukup besar di tubuhnya , sedangkan si kembar sudah memakai pakaian biru putih ala anak SMP


" Sbastian di mana "


Mama celingukan mencari Sbastian


" Kakak masih tidur , badan kakak mungkin masih lemas , nanti biar lion kasih tau kakek Sam biar kakak makan "


Lion memakan makanannya sendiri dengan lahap


" Oh... Liona hari ini jadwal kontrol kan , ayo Mama antar "


Mama tersenyum


" Tidak perlu "


Liona menjawab dengan singkat


" Liona udah sembuh ma , cuma butuh waktu agar bisa berlarian seperti anak-anak lainnya , liona cuma perlu minum obat teratur agar cepat kuat badannya "


Lion menjelaskan


" Benarkah , liona sudah sembuh "


Papa terkejut


" Iya pa , lili udah sembuh "


Liona tersenyum


" Oh... Baguslah , liona sebentar lagi sudah bisa kegiatan dengan full seperti kak lion "


Mama tersenyum namun lili tidak menghiraukan mama sama sekali


" Dek.. mama itu khawatir sama kamu , ngak boleh gitu ya "


Liona mengingatkan


" Iya kak , maaf "


Liona menunduk


" Liona mau makan apa hari ini , biar papa belikan setelah dari kantor "


Papa mengalihkan topik pembicaraan


" Lili mau makan yang manis manis , puding busa kesukaan lili "


Liona memberitahu dengan senang


" Kakek Sam , kakek Sam "


Terlihat Sean berlari ke dapur dengan pakaian putih-putih ala perawat pria di rumah sakit yang datang membawa troli makanan


" Kenapa tuan muda "


Bi Aini keluar


" Apa bubur papa sudah siap , Sean mau menyuapi papa makan , biar bisa minum obat "


Sean menghampiri bi Aini


" Sudah tuan muda , apa mau saya antarkan"


Bi Aini menawari


" Tidak bi , taruh di troli makanan Sean saja"


Sean memberikan troli makanan khusus miliknya


" Ini untuk minum obatnya ya "


Bi Aini memberikan beberapa makanan lembut dan dua gelas air


" Makasih ya Bi "


Sean menarik kembali troli miliknya dan berjalan ke arah lift dan bibi mengirim satu maid yang mendampingi Sean sampai di kamarnya


" Makasih ya kak sudah mengantarkan Sean"


Sean menutup pintu kamarnya


" Papa , papa makan dulu yuk "


Sean duduk di atas kursi di samping nakas


" Papa "


Sean mengguncang Sbastian pelan hingga Sbastian membuka matanya


" Papa demam lagi , papa makan ya biar ngak demam , terus minum obat "


Sean mengambil bubur yang di buatkan Bi Aini


" Sean udah makan "


Sbastian bertanya


" Belum , Sean makan nanti saja "


Sean berdoa sebelum makan lalu menyuapi Sbastian


" Enak ngak pa "


Sean membersihkan noda bubur di bibir Sbastian


" Enak kok "


Sbastian tersenyum


" Kakak "


Suara liona memasuki kamar


" Kakak masih pusing "


Lion dan liona masuk bersama kedua orang tua Sbastian


" Lili berangkat dulu ya sama kak lion "


Liona memeluk tubuh Sbastian


" Salim dong "


Lion dan liona mencium tangan Sbastian


" Belajar yang rajin ya "


Papa mengusap kepala sang singa kembar saat mereka berdua mencium tangan papa


" liona "


Suara Sbastian dan lion bersahutan saat liona melewati mama begitu saja


" Kenapa liona ngak suka sama mama "


Mama tidak memberikan tangannya saat liona hendak menyalaminya


" Lili mau berangkat "


Liona menatap mamanya tajam


" Lili "


Sbastian mencoba untuk duduk dan lion juga Sean langsung membantu


" kesini "


Sbastian melambaikan tangannya


" Iya kak "


Liona mendekat


" Ngak boleh gitu sama mama , mama itu yang melahirkan kamu , jadi jangan gitu ya , gimanapun itu mamanya lili , mama yang udah rawat lili sejak bayi , apa lili mengerti "


Sbastian membenarkan kerudung abu-abu liona yang sedikit bergeser


" Tapi kak , mama.. "


Belum sempat liona melanjutkan kalimatnya namun Sbastian sudah membungkam mulut lili dengan jari telunjuknya


" Setahu kakak , adik perempuan kakak itu anak yang penurut , anak baik , tapi sepertinya adik kakak itu belum bangun pagi ini , apa adik kakak masih tidur "


Sbastian tersenyum dan menjeda kalimatnya


" Lili sayang , ngak boleh gitu ya "


Sbastian mengusap pipi liona yang sudah meneteskan air matanya


" Tapi mama... Mama "


Lidah liona Kelu untuk mengeluarkan kalimat yang ingin dia katakan


" duduklah "


Sbastian menarik lili duduk dan memeluknya


" Kamu masih lebih beruntung dari Sean , lihatlah Sean yang hanya punya kakak , dia membutuhkan kasih sayang mama , tapi kakak hanya bisa memberikannya kasih sayang seorang mama sebisa kakak , Sean sering sekali menangis dan bertanya kenapa bunda tinggalin papa , kenapa orang tua Sean ngak mau sama Sean , jadi kamu harus bersyukur ya "


Sbastian membuat liona menatap Sean


" Maaf kak , lili salah "


Liona memeluk Sbastian dengan erat


" Minta maaf ke mama "


Sbastian melepaskan liona


" Maaf ma "


Liona melepaskan Sbastian lalu memeluk mamanya dengan erat


" Kamu ngak usah nangis , ngak usah pedulikan kata kakakmu , masa anak mama di samain sama anak pungut "


Mama mengusap air mata liona dan memeluk liona erat


" Anak pungut itu mungkin di buang orang tuanya karena dia cacat , kamu itu anak mama yang cantik , jangan di ambil hati , dia itu pantes ngak punya mama "


Mama melirik Sean sinis


" Ngak papa ya Sean , ada papa "


Sbastian tersenyum dan mengelus kepala Sean


" Sean ngak papa kok , Sean kan kuat "


Sean tersenyum namun air matanya mengalir menuruni bendungan yang sedari kemarin sudah susah payah di bangun kini runtuh kembali


" Sini sayang , papa mau makan "


Sbastian memangku Sean dan mengambil buburnya


" Suapin papa ya "


Sbastian bersandar dengan nyaman lalu membiarkan Sean menyuapinya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir


" Kak , lion berangkat ya "


Lion menoel pipi Sean yang gembul


" Mama , lion berangkat "


Lion dan liona mencium tangan mama dan berlalu keluar di ikuti papa dan mama


" Sbastian "


Sebelum papa keluar dari pintu , papa berbalik dan menghampiri Sbastian


" Anak papa sangat tangguh "


Papa mencium kening Sbastian lama , setelah itu papa menatap Sean


" Cucu kakek , kakek kerja dulu ya , jaga papamu baik-baik , jangan biarkan dia bekerja , atau berjalan kemana-mana , jika papamu bandel , pukul saja , apa Sean mengerti "


Papa menangkup pipi Sean


" Iya kakek , Sean ngerti "


Sean mengangguk


" Papamu itu bandel , jangan jadi bendel kayak papamu "


Papa berbisik


" Iya , papa itu bandel "


Sean ikut berbisik


" Hahahaha "


Sean dan papa tertawa bersama membuat Sbastian tersenyum kecil

__ADS_1


" Papa berangkat dulu "


Papa tersenyum , Sbastian mencium tangan papa di ikuti Sean


" Assalamualaikum cucu kakek "


Papa melambaikan tangan dan di balas lambaian tangan oleh Sean


" Wa'alaikum salam kakek "


Sean dan Sbastian tersenyum


" Ayo papa makan "


Sean menyuapi Sbastian hingga mangkuk bubur Sbastian habis tidak tersisa


" Sekarang minum obat "


Sean turun dari tempat duduknya dan mengambil obat di dalam nakasnya yang paling bawah


" Untung obat untuk papa sudah Sean amankan , jika tidak , botol racun ini akan papa minum nanti "


Sean membatin


" Kenapa Sean "


Sbastian bertanya karena Sean cukup lama di bawah sana


" Ambil obatnya pa "


Sean berdiri dan membawa obat obatan Sbastian yang harus di minum


" Sean tadi malem ngompres papa semalaman ya "


Sbastian mengelus kepala Sean


" Iya pa , tadi malam badan papa panas banget , jadi Sean kompres papa , Sean takut nanti kalau badan papa sangat panas , itu kan bahaya "


Sean memberikan beberapa butir obat dan Sbastian langsung meminum semuanya


" Untung Sean memeriksa dulu obat papa , jika tidak , obat itu akan benar-benar tertukar "


Sean membatin dan memperhatikan papanya yang setelah meminum obat langsung memejamkan matanya


" Papa ngantuk "


Sean memegang lengan Sbastian dengan khawatir


" Enggak , cuma ngerasain obatnya , agak pait ya "


Sbastian tersenyum


" Ngak tau , kan papa yang minum "


Sean sedikit terkekeh


" Oh iya ya , kan papa yang minum hehehe "


Sbastian cengengesan


" Sekarang Sean makanlah "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Baik "


Sean makan dengan tenang sambil di perhatikan oleh Sbastian


" Kenapa papa senyum-senyum sendiri "


Sean menatap Sbastian aneh


" Kamu lucu kalau makan "


Sbastian mengusap nasi yang tertinggal di pipi Sean


Sambil makan , Sean bersyukur atas apa yang dia lakukan semalam


" Dia ngak main-main buat ngeracuni papa , dosisnya tinggi banget , kalau papa minum , Sean jamin papa bakal wasted , semoga Mao bisa menemukan racun yang sama "


Sean melahap makanannya hingga tidak tersisa


" Papa... Sean taruh piringnya di bawah dulu ya , papa istirahat saja "


Sean mencium pipi Sbastian setelah itu Sean keluar kamar menuju dapur


" Sekarang disini tidak tau siapa kawan siapa lawan , tapi semoga paman bisa mengendalikan semua , paman satu-satunya harapan Sean , jika paman di kalahkan Sean tidak tau harus apa lagi "


Sean membatin sepanjang lift turun ke bawah


" Kakek "


Sean memanggil pak Sam yang sedang lewat di depannya


" Sean , bagaimana , kakek tadi ketiduran , dia memberi kakek obat "


Pak Sam dengan geram mengingat kejadian bahwa minuman yang dia minum mengandung obat tidur


" Sean memakan sedikit hijau hijau di daging yang di siapkan , mungkin Sean akan mengantuk sebentar lagi "


Sean mulai menguap


" Dia sangat kejam kakek "


Sean berbisik-bisik


" Sudah , sekarang Sean mandi ya "


Pak Sam berdiri dan menggendong Sean saat ada beberapa maid lewat


" Sean sudah mandi , ayo ke papa "


Sean memeluk pak Sam


" Sean mengantuk ya , ayo tidur "


Pak Sam menepuk-nepuk punggung Sean pelan


" Tolong bawa ini ke belakang "


Sbastian memerintahkan kepada salah satu maid yang lewat


Pak Sam membawa Sean menuju lantai atas dimana kamarnya di tempatkan


" Sbastian "


Pak Sam masuk dan melihat Sbastian yang sedang membuka layar gepengnya


" Sean "


Sbastian terduduk


" Dia mungkin mengantuk , semalaman dia mengompres mu , saat ayah akan ke sini pukul tiga pagi untuk mengecek kondisimu Sean masih terjaga "


Pak Sam merebahkan Sean di samping Sbastian


" Tapi pukul dua belas dia sudah tidur "


Sbastian menaikkan selimut Sean


Pak Sam duduk di samping Sbastian


" Benarkah , sepertinya putraku lelah "


Sbastian memeluk Sean dengan sayang dan ikut merebahkan dirinya


" Dia memang seperti sudah dewasa , tapi sifat anak-anaknya masih sangat kental , kamu tau , tadi malam saat ayah tanya kenapa tidak memanggil ayah atau yang lain dia menjawab hahaha "


Pak Sam sedikit terkekeh


" Tenang saja kakek , aku ini lebih berpengalaman dari pada yang lain , Sean ini ahli medis , lihat saja pakaian Sean seperti seorang perawat di rumah sakit , dia berbangga diri menunjukkan pakaiannya hahaha "


Pak Sam terkekeh di ikuti Sbastian


" Benar-benar mirip seperti adinda "


Sbastian tersenyum dan menatap Sean penuh kasih sayang


" Kamu jangan selalu bersedih , Sean juga membutuhkanmu "


Pak Sam membelai rambut tebal Sbastian


" Aku bukan anak anak lagi ayah "


Sbastian menyisihkan tangan pak Sam


" Kamu tetap Tian kecilku yang polos dan tidak tau apa apa "


Pak Sam menatap Sbastian dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ayah


" Aku memang Tian kecil ayah , dan akan selalu menjadi Tian kecil ayah "


Sbastian tersenyum


" Muanch... "


Ayah mencium kening Sbastian lama


" Tidurlah Tian "


Pak Sam tersenyum dan membenarkan selimut Sbastian dan cucu kesayangannya


" Membuat anak dan cucuku seperti ini , sepertinya harus ada perhitungan hari ini "


Pak Sam membatin dengan geram


Pukul tiga sore , Sean terbangun karena suhu tubuh Sbastian meningkat


" Astagfirullah "


Sean terkejut saat melihat jam dan ternyata dirinya melewatkan jam makan dan minum obat Sbastian di siang hari


" Papa... Paaaa "


Sean mengguncang Sbastian hingga Sbastian membuka matanya


" Papa , kita makan ya , lalu minum obat "


Sean menyentuh dahi papanya yang terasa sangat panas


" Kita kompres dulu ya "


Sean turun dari tempat tidur dan naik ke atas kursi


" Papa berbaring "


Sean menarik Sbastian yang masih dalam posisi miring ke kanan , setelah Sbastian berbaring , Sbastian langsung di kompres oleh Sean menggunakan air dingin di baskom


" Ini baru sebentar langsung panas "


Sean merasa bersalah karena suhu tubuh Sbastian semakin panas karena dirinya yang lupa jam makan siang Sbastian


" Padahal Sean sudah janji rawat papa , kenapa Sean ketiduran "


Sean mengusap air matanya yang mengalir dengan perasaan bersalah yang besar , Sean menahan suaranya agar tidak membangunkan Sbastian


" Hiks... Maaf pa "


Akhirnya isakan isakan kecil lolos dari mulut Sean yang mungil


" Sean "


Sbastian terbangun


" Jangan menangis "


Sbastian menyentuh pipi Sean


" Maaf... Sean salah pa "


Sean mengusap air matanya dan melanjutkan mengompres Sbastian


" Papa ngak apa-apa , jangan khawatir "


Sbastian tersenyum


" Sean akan mengambil makanan "


Sean mengambil hp nya dan menelfon seseorang


: Bi Aini


: Iya tuan muda Sean


: Tolong antarkan makanan ke sini , papa belum makan


: Lho bagaimana bisa , saya sudah mengirim makanan tadi siang


: Kirim bubur ya Bi , setelah papa makan Sean akan turun


: Iya tuan muda


Bi Aini memutuskan sambungan teleponnya


*Tok..tok..tok


Suara ketukan pintu membuat Sean teralih , Sean turun dari kursi dan berlari membuka pintu


" Bi... "


Sean mempersilahkan masuk


" Saya tadi sudah mengirimkan bubur dan nasi untuk tuan muda di sini "


Bibi langsung masuk


" Kita bicara saja nanti bi , sekarang Sean akan merawat papa dulu "


Sean meminta bi Aini mengambil buburnya dan Sean duduk di samping Sbastian di bantu bi Aini


" Papa... Makan dulu yuk , ini udah ada bubur "


Sean mengguncang Sbastian hingga Sbastian membuka matanya


" bi Aini "

__ADS_1


Sbastian melihat bi Aini berdiri di sebelah Sean


" Bi.. buburnya "


Sean meminta bubur yang di bawa bi Aini


" Apa kembar sudah pulang "


Sbastian bertanya dengan singkat


" Nona muda sudah pukul dua siang , sedangkan tuan muda mengabari akan pulang telat karena ada kegiatan "


Bi Aini memberikan chatnya dengan lion


" Bisakah menjemput lion , aku khawatir bi "


Sbastian memegangi lengan bi Aini


" Nanti Sean akan jemput , papa makan dulu ya "


Sean menenangkan Sbastian


" Papa akan menjemput kakak lion "


Sbastian mencoba untuk duduk


" Papa makan dulu ya "


Sean memberikan suapan pertama


" Papa makan sendiri "


Sbastian mengambil mengakuk bubur dari Sean dan memakan buburnya cepat-cepat


Setelah menghabiskan buburnya , Sbastian langsung meminta obatnya yang lokasi peletakannya di ubah lagi oleh Sean


" Nakas ini berantakan , dasar ****** sialan"


Sean membatin


Kedua nakas di samping tempat tidur sudah berantakan , namun sepertinya sang pencuri tidak pernah berfikir bahwa obat milik Sbastian dia simpan di dalam boneka yang sedari tadi berada di tengah-tengah pelukan Sean dan Sbastian


" Ini pa obatnya "


Sean memberikan obat untuk Sbastian dan dia segera mengganti baju , setelah itu Sean mengemas obat Sbastian di dalam tas kecilnya


" Ayo Sean , papa mau ganti baju "


Sbastian berdiri dari tempat tidur di bantu bi Aini


" Sbastian "


Kakek Sam masuk dengan penampilan yang terlihat baru bangun tidur


" Kakek ketiduran lagi"


Pak Sam duduk di atas tempat tidur


" Kamu mau kemana "


Pak Sam menatap Sbastian yang berlalu


" Mau ganti baju , bi Aini di sini saja "


Sbastian berjalan masuk ke dalam ruang ganti di ikuti pak Sam


" Tuan muda , tadi saya sudah menyuruh pelayan untuk mengirim makanan dan membangunkan Anda tadi siang , dan dia kembali dengan piring kosong , dia bilang tuan muda dan tuan Sbastian sudah makan"


Bi Aini menjelaskan dengan cepat


" Ini tidak masuk akal , Sean akan menyelidiki nanti "


Sean menggumam dan melihat Sbastian dengan lemas berjalan ke arah mereka


" Papa yakin akan menjemput kak lion "


Sean bertanya


" Papa khawatir jika kak lion akan semakin sakit "


Sbastian duduk di sofa dan menghela nafas panjang


" Kepala papa masih sakit ya di rumah saja pa , biar yang lain yang jemput "


Sean memeluk kaki Sbastian


" Papa kuat kok , papa mau jemput kakakmu "


Sbastian tersenyum


" Tapi pa , jangan ya "


Sean melarang


" Papa ngak apa-apa kok "


Sbastian memakai sepatunya di bantu Sean


Sbastian turun ke bawah di bantu pak Sam dan bi Aini


" Tuan "


Asisten John datang dengan pakaian rumahan bersama sitter azza dan wafi


" Biar saya bantu , tuan muda di rumah saja ya "


Asisten John mengambil alih Sbastian


" Kakak mau kemana "


Liona turun dari lantai atas


" Kakak mau ke rumah sakit , mau periksa "


Sbastian tersenyum


" Lili ikut , lili sama kakak "


Liona berlari menuruni tangga


" Jangan ya , kamu di rumah saja "


Sbastian melarang


" Tapi... "


Liona mengelak


" Kamu jangan ikut , angin malam tidak baik untukmu , kamu baru sembuh kan "


Sbastian tersenyum


" Tapi kakak juga ngak pakek jaket "


Liona menyadarkan Sbastian


" Oh iya "


Sbastian menatap pakaiannya yang hanya memakai kaos oblong dan celana panjang


" Ini jaketnya "


Sean menyeret jaket tebal yang sangat besar dari dalam lift


" Makasih sayang "


Sbastian tersenyum


" Sean ikut , Sean mau ikut "


Sean memeluk kaki Sbastian


" Kamu di rumah saja , firasat papa ngak enak "


Sbastian berlutut dan membelai kepala Sean


" Firasat Sean juga ngak enak , tapi Sean mau ikut , Sean ngak mau terjadi apa apa dengan papa "


Sean ngotot


" Jangan sayang , ini hampir magrib "


Sbastian melarang


" Ngak pa , Sean ikut "


Sean Keukeh atas keputusannya


" Baik baik , Sean ikut "


Sbastian berdiri sambil di bantu asisten John


Sbastian , asisten John dan Sean keluar di antar segenap keluarga yang hadir


" Kita langsung ke sekolah lion "


Sbastian berbicara begitu mereka sudah ada di dalam mobil


" Baik tuan "


Asisten John mengangguk


" Papa dingin ngak "


Sean menyentuh pipi Sbastian


" Kalau peluk Sean pasti hangat "


Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya dan memeluk Sean yang terasa se dingin es


" Papa panas lho , pake kompres ya , yang di tempel "


Sean menyentuh kening Sbastian


" Iya deh , papa nurut sama pak dokter "


Sbastian tersenyum


" Ini kompresnya "


Sean mengeluarkan kompres tempel dan menempelkannya di kening Sbastian dengan lembut


" Papa ngantuk ngak "


Sean menyentuh pipi Sbastian


" Ngak , papa baik-baik aja kok "


Sbastian tersenyum


" Papa pucet banget lho "


Sean menepuk-nepuk pipi Sbastian


" Benarkah "


Sbastian tersenyum


" Iya pa , papa pucet "


Sean mengangguk


Perjalanan menuju sekolah lion terasa agak macet karena kendaraan para pekerja yang baru pulang dari tempat kerjanya


" Telfon aja ya "


Sean mengambil handphone


*Tuut... Tuuut...


Berkali kali Sean menelfon Leon , namun hanya suara operator yang menyahuti


" Ngak di angkat lho sama kak lion "


Sean berkali-kali mencoba menelpon lion


" Sudah sampai tuan "


Asisten John memberitahu


" Ayo papa "


Sean turun


" Mari tuan "


Asisten John membantu Sbastian untuk keluar dan berjalan di ikuti Sean


" Permisi kakak "


Sean berlari saat melihat anak laki-laki yang memakai seragam OSIS


" Hai adik , adik sendiri "


Kakak OSIS berlutut di depan Sean


" Aku sama papa , apa kakak OSIS tau dimana kak lion Ken Sora "


Sean menunjukkan foto Leon


" Oh.. tadi dia ada di UKS , dia mimisan "


Anak laki-laki itu memberitahu


" Sejak kapan dia mimisan "


Sbastian tiba-tiba ada di samping mereka


" Sejak tadi tuan , Leon ada di ruang OSIS setengah jam yang lalu , mungkin sedang istirahat "


Anak OSIS itu memberitahu


" Terimakasih ya "


Sbastian berlari meninggalkan asisten John dan Sean di belakang

__ADS_1


__ADS_2