Aku Pangeran

Aku Pangeran
#84 ( cerita kereta )


__ADS_3

Esok hari pukul 07.00


" Papa , iel au tut "


( Papa , Aniel mau ikut )


Aniel menarik kaki Sbastian


" Aniel di rumah aja ya "


Sbastian mendudukkan Aniel di atas sofa ruang tamu


" Ndak.. iel Tut "


( Ndak.. Aniel ikut )


Aniel menggeleng keras hingga hijab kecilnya berantakan


" Jangan ya sayang , nanti papa belikan cake ya , tapi Aniel di rumah aja "


Sbastian merayu


" Au itut "


( Mau ikut )


Aniel menarik kerah kaos Sbastian


" Jangan dek , nanti papa ajak jalan-jalan habis dari rumah sakit "


Sbastian membenahi hijab Aniel yang hampir lepas


" Iel tuuut "


( Aniel ikuuuut )


Aniel melepaskan hijabnya dan membuang hijabnya dengan kasar


" Oke oke Aniel ikut "


Sbastian membenarkan rambut Aniel yang sudah berantakan


" Ote "


Aniel memberikan jempol dengan senyuman yang manis


" Gadis kecil polos yang licik "


Sean membatin


" Ayo berangkat "


Sbastian membenarkan hijab Aniel dan membawa Aniel ke dalam gendongannya


Sbastian berjalan terlebih dahulu bersama Sean yang melajukan kursi rodanya dan di ikuti ketiga pengawal pribadi mereka


" Mao "


Sean memanggil


" Saya tuan "


Mao mendekatkan kepalanya


" Apa Diablo menghubungi kembali tadi malam "


Sean berbisik


" Tuan Diablo bilang bahwa beliau sudah menyiapkan semuanya "


Mao berbisik


" Dan tuan Diablo mengirimkan surel di email saya "


Mao memberitahu


" Hm... "


Sean mengangguk


" Tatak "


( Kakak )


Aniel memanggil


" Tatak ik oil ma atu ya "


( Kakak naik mobil sama aku ya )


Aniel menunjuk dua mobil hitam yang sudah siap untuk Sbastian dan lainnya


" Lho , kita kan se mobil "


Sean menatap Aniel aneh


" Iya pi ti iel duuk ma tak ean "


( Iya tapi nanti Aniel duduk sama kak Sean )


Aniel memukul mukul pundak Sbastian


" Iya iya "


Sean mengangguk


" Yo pa yo yo "


( Ayo pa ayo ayo )


Aniel menarik kerah Sbastian agar Sbastian mendekat ke arah mobil


" Iya dek iya "


Sbastian membuka pintu mobil


" Surel apa yang dia kirim "


Sean terlihat berpikir


" Masalah kemarin sudah selesai tadi malam , apa lagi yang terjadi "


Sean terlihat melamun


" Hei.. melamunkan apa dirimu "


Sbastian membuat Sean tersadar


" Sean takut "


Sean tersenyum kecil


" Ada papa , jangan takut "


Sbastian membeli kepala Sean


" Iel uta "


( Aniel juga )


Aniel menarik tangan Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian mencium pucuk kepala Aniel


" Tayang papa "


( Sayang papa )


Aniel memeluk Sbastian


" Papa juga sayang sama Aniel "


Sbastian mencium pipi Aniel


Sbastian mendudukkan Aniel di tengah lalu memasukkan Sean ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman , setelah itu Sbastian masuk dari arah berlawanan dan mobil melaju menuju rumah sakit


Di dalam mobil penuh dengan ocehan Aniel yang membuat ricuh sepanjang perjalanan menuju rumah sakit


" Adek sama kak Lao aja ya , papa mau anterin kakak masuk "


Sbastian melepaskan Aniel dari kursi anaknya


" Mau tut papa "


( Mau ikut papa )


Aniel menggeleng


" Aduh sayang , ini rumah sakit kamu ngak boleh ikut , nanti papa ajak jalan-jalan deh abis kak Sean terapi "


Sbastian menjanjikan


" Tepat sekali "


Sean membatin


" Adek pernah naik kereta ngak "


Sean membuat Aniel yang sedari tadi berdebat dengan Sbastian menjadi terdiam dan menoleh


" Tata apa "


( Kereta apa )


Aniel memiringkan kepalanya


" Kereta yang Tut tuuuuut , gerbongnya panjaaaang banget , kayak Thomas yang sering adek liat di tv itu lho "


Sean mengingatkan


" Iya , kalau adek nurut , nanti papa bawa naik kereta api "


Sbastian mengiyakan


" Aik omas "


( Naik Thomas )


Aniel memelototkan matanya


" Iya nanti naik Thomas "


Sbastian mengangguk


" Bel ya "


( Bener ya )


Aniel memberikan jari kelingkingnya


" Iya , papa ngak bohong "


Sbastian menautkan jari kelingkingnya


" Ote "


Aniel mengangguk setuju


Sbastian menyerahkan Aniel kepada Lao dan membawa Sean masuk ke dalam rumah sakit


" Apa kamu takut "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan menyerahkan kursi roda Sean kepada Aloe


" Sedikit "


Sean tersenyum


" Nanti kita beli cake , kamu mau cake yang bagaimana "


Sbastian mencoba mengalihkan perhatian Sean


" Papa lucu sekali , mencoba membuatku tidak takut hahaha "


Sean membatin dan terkekeh


" Kenapa "


Sbastian menatap Sean heran


" Papa lucu deh "


Sean menoel pipi Sbastian


" Papa kan emang lucu "


Sbastian berbangga diri


" Papa kepedean "


Sean memutar matanya malas


" Kita sudah sampai tuan "


Mao menyadarkan Sbastian yang masih asyik tertawa


" Ayo masuk "


Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi rodanya


" Selamat datang tuan "


Dokter kureha menyambut


" Hai dokter "


Sean melambaikan tangannya


" Hai tuan muda , bagaimana kabar anda "


Dokter kureha berlutut di depan Sean


" Baik "


Sean tersenyum


" Ah.. mari masuk "


Dokter kureha mempersilahkan


Sean memulai terapi di dampingi oleh Sbastian hingga terapi selesai


" Papa "


Sean menarik lengan kaos Sbastian


" Kenapa sayang "


Sbastian yang sedang mendengarkan penjelasan dokter kureha menoleh ke arah Sean


" Sean mau bab "


Sean memegangi perutnya


" Di sini kamar mandinya "


Dokter kureha menunjukkan jalan


" Mau papa tungguin "


Sbastian melepas celana Sean dan mendudukkan Sean di atas WC duduk lalu memasangkan sebuah alat agar Sean tidak terjatuh


" Sean nanti panggil papa kalau selesai "


Sean menggeleng


Sbastian keluar dan menutup pintu kamar mandi


" Ouch... Perutku mual banget "


Sean memegangi perutnya


*Sreeet


Keluar darah dari hidung Sean


" Astaga , untung udah di sini "


Sean mengeluarkan tisu yang selalu dia bawa dan mengusap hidungnya lalu membuangnya ke dalam tong sampah di dekatnya


Setelah beberapa saat , Sean menghabiskan waktu hanya dengan mengusap mimisan yang tidak berhenti keluar dari hidungnya


" Papaaaa "


Sean memanggil


" Iya "


Sbastian masuk


" Udah selesai tapi cuma buang air kecil , Sean ngak bisa bab "


Sean menunjukkan wajah memelas


" Nanti papa pijit ya "


Sbastian membersihkan Sean dan memakaikan celana Sean hingga selesai dan membawa Sean keluar

__ADS_1


" Papa , perutnya sakit "


Sean memeluk leher Sbastian


" Dokter , saya minta minyak kayu putih "


Sbastian duduk di atas sofa


" Apa perlu saya periksa tuan "


Dokter kureha menawarkan karena Sean terlihat sedikit pucat


" Tidak perlu , dia hanya masih belum terbiasa , ini terapi pertama untuknya , jadi ini wajar "


Sbastian melaburkan minyak kayu putih di atas perut Sean


" Gimana rasanya hm.. "


Sbastian memijit pelan perut Sean


" Iya pa , sakitnya mendingan "


Sean memejamkan matanya


" Jadwal terapinya sudah saya berikan kepada nona Mao "


Dokter kureha duduk di sofa yang berseberangan dengan Sbastian


" Apa ada larangan-larangan untuk Sean kedepannya "


Sbastian membenarkan pakaian Sean


" Tidak tuan , tapi saya sarankan untuk perlahan lahan berlatih berjalan , dan tidak memanjakan tuan muda dengan alat-alat khusus saat buang air besar atau lainnya agar otot tuan muda kembali seperti semula "


Dokter kureha menyarankan


" Saya mengerti dokter "


Sbastian mengangguk


Pasalnya selama ini Sean selalu di bantu dengan alat saat duduk sendiri di kursi atau di tempat-tempat lain agar Sean bisa duduk dengan seimbang


" Saya pamit "


Sbastian berdiri dan membuat Sean terbangun


" kita pulang ya "


Sbastian tersenyum


" Makasih dokter "


Sean melambaikan tangannya saat Sbastian melenggang pergi dari ruangan terapi


" Kita jadi naik kereta kan pa "


Sean menagih


" Papa kan sudah janji "


Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi rodanya


" Kita cari adek di taman "


Sbastian membawa Sean menuju taman rumah sakit di ikuti oleh Mao dan Aloe


" Hari ini kalian waspada sekali "


Sbastian menyadari gelagat Mao dan Aloe yang terlihat benar-benar siaga dan mengikuti mereka berdua kemanapun dia pergi dengan sikap siap , tidak seperti biasanya


" Itu adek "


Sean mengalihkan perhatian Sbastian dari Aloe dan Mao


" Papa "


Aniel berlari menghampiri Sbastian di ikuti Lao


" Halo sayang "


Sbastian menangkap Aniel dan membawanya ke dalam gendongannya


" Tatak dah cai "


( Kakak udah selesai )


Aniel menunjuk Sean


" Udah "


Sean mengangguk


" Habis main apa tadi "


Sbastian membenarkan hijab Aniel yang sedikit berantakan


" Ain lali lali ma tak ao "


( Main lari lari sana kak Lao )


Aniel menunjuk Lao


" Baiklah , kita pergi ke stasiun kereta dan kita pergi jalan-jalan ke kebun binatang "


Sbastian memberitahu dengan antusias


" Beneran pa "


Sean terkejut


" Bener "


Sbastian mengangguk


" Tatn pa "


( Kebun binatang apa )


Aniel memiringkan kepalanya


" Kebun binatang sayang , tempat kita lihat banyak sekali bintang-bintang yang ada , nanti papa kasih tau "


Sbastian memulai sebuah percakapan dengan Aniel yang terlihat sangat seru


" Ayo pa , nanti keburu malem "


Sean menyadarkan Sbastian


" Iya iya ayo "


Sbastian berjalan bersama Aniel di ikuti Sean yang di dorong oleh Mao


Sean mengisyaratkan untuk berjalan lebih lambat dan kembali mengisyaratkan agar Mao lebih mendekat kepadanya


" Bagaimana laporan mata-mata kita "


Sean berbisik


" Tuan Diablo mengirimnya lewat email dua menit yang lalu , pesan di kirim untuk tuan muda Sean , bukan tuan besar "


Mao menjawab


" Imbangi papa "


Sean memerintahkan


" Papa papa "


Sean memanggil


" Iya "


Sbastian menoleh


" Boleh Sean pinjam hp ngak , Sean mau main game "


Sean menjulurkan tangannya


" Nanti ya sayang , di mobil "


Sbastian melarang


" Okey "


Sean menunjukkan raut wajah kecewa


" Baiklah , ini game mu "


Sbastian akhirnya memberikan hp nya


" Makasih papa , Sean ngak lama kok "


" Iya "


Sbastian tersenyum dan membiarkan Sean bermain dengan hp nya


Sbastian berjalan terlebih dahulu bersama Aniel dan Sean mengisyaratkan untuk berjalan lebih lambat


Sean membuka akun email atas nama Mao dan terdapat sebuah pesan dari Diablo


____________________


" Nona Mao , ini pesan untuk tuan Sbastian..


Saya sudah mengatur semuanya , pihak musuh juga sudah kami sadap semua aksesnya , mata mata yang di kirim memberi kabar bahwa tepat pukul enam pagi tadi sudah ada di depan rumah anda dan sudah mempersiapkan semuanya"


___________________


Setelah Sean membuka satu pesan dari Diablo , Sean membuka pesan kedua


_____________


" Saya mendengar anda akan menaiki kereta setelah dari rumah sakit , dan tuan besar mengirim kami untuk mengikuti anda dari awal , kami sekarang sudah di sekitar anda , nanti anda tidak perlu khawatir "


________________


" Bilang kepada Diablo untuk selalu memperhatikan papa dan Aniel hingga semuanya berakhir , ini perintah tuan besar"


Sean menghapus semua jejak email nya


" Saya mengerti tuan "


Mao mengangguk


" Tuan , ini kapsul penambah darah anda "


Mao memberikan sebuah pil


" Kamu tau Mao "


Sean terkejut


" Saya di beri tahu peri "


Mao menjawab


" Terimakasih "


Sean meminum kapsulnya dengan bantuan air mineral yang diberikan Mao


Sean membuka game miliknya dan memainkannya sebentar


" Papa "


Sean memanggil saat hampir sampai di mobil


" Ya "


Sbastian menoleh


" Makasih pa "


Sean mengembalikan hp Sbastian


Sean di naikkan Sbastian ke dalam mobil di susul Aniel


" Papa jangan duduk depan ya "


Sean menahan pintu mobil Sbastian


" Iya , papa duduk di belakang "


Sbastian mengangguk


" Tatak tatak , nti bun tan iat pa "


( Kakak kakak , nanti di kebun binatang lihat apa )


Aniel mengguncang lengan Sean


" liat teman kamu "


Sean menjawab asal


" Man iel "


( Teman Aniel )


Aniel memiringkan kepalanya


" Kenapa ini "


Sbastian duduk di samping Aniel


" Ta tatak , nti bun tan iat man iel "


( Kata kakak , nanti di kebun binatang liat teman Aniel )


Aniel membuat Sbastian ternganga


" Kau menyesatkan anak kecil "


Sbastian menjewer telinga Sean


" Hehe "


Sean menunjukkan Gigi rapihnya


" Oh.. hehe "


Aniel mengikuti Sean


" Hehe "


Sbastian ikut ikutan terkekeh


" Hahahaha "


Tawa memecahkan suasana keheningan antara mereka bertiga


" Apa sudah siap tuan "


Aloe masuk ke dalam mobil


" Goooooo "


Sean dengan semangat mengangkat tangannya


" Tooooo "


Aniel ikut mengangkat kedua tangannya


" Hahahaha ayo Aloe kita berangkat "


Sbastian memeluk Aniel dengan gemas


Perjalanan menuju stasiun kereta di penuhi gelak tawa Aniel


" Pa tu "


( Apa itu )


Aniel menunjuk gerbang tol


" Itu agar kita cepat sampai "


Sbastian menjelaskan


" Waaaahhhh len "


( Waaaahhhh keren )


Aniel menatap sekitar yang jarang terdapat sebuah bangunan rumah , yang ada hanya beberapa rest area yang memiliki beberapa toko dan tempat beribadah


Selama perjalanan Sean tertidur untuk mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras habis karena mimisan yang cukup banyak tadi


Setelah dia jam mengemudi dan beberapa kali istirahat , akhirnya mereka keluar dari jalan tol dan sampai di tempat parkir stasiun kereta api


" Kita sudah sampai nih "


Sbastian melepaskan sabuk pengaman Aniel


" Papa papa , omas omas "


( Papa papa , Thomas Thomas )


Aniel menunjuk banyak kereta yang berjejer rapih di stasiun


" Wah keren "

__ADS_1


Sean ikut ikutan bersemangat


" Wah elen "


( Wah keren )


Aniel mengikuti Sean


" Ayo turun "


Sbastian turun bersama Aniel dan memutari mobil untuk menurunkan Sean dari dalam mobil


" Kita naik jurusan Surabaya saja agar agak jauh "


Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi roda


" Baik tuan "


Aloe mengangguk dan pergi mengambil tiket yang sudah di pesan


" Wah.. jang naaaa "


( Wah.. panjangnyaaaaa )


Aniel menatap gerbong kereta dengan kagum


" Papa sama adek aja , Sean sama Mao "


Sean membuat Sbastian menoleh


" Kita sama-sama sayang "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Maksudnya papa masuk duluan baru Sean di bantu Mao , adek udah ngak sabar tuh "


Sean menunjuk Aniel yang sudah menarik-narik kerah kaos Sbastian meminta agar segera masuk ke dalam kereta


" Baik baik , sabar dong "


Sbastian mencium kening Sean dan membawa Aniel mendekati Aloe


" Mao "


Sean memanggil dan Mao mendekat


" Dimana jam tanganku "


Sean bertanya dan Mao memberikan jam tangan Sean


" Ayo kita susul papa "


Sean memerintahkan dan Mao mendorong Sean menuju Sbastian yang sudah masuk ke dalam kereta


" Itu tuan Diablo "


Mao menunjuk Diablo yang duduk di belakang kursi yang di tempati oleh Sbastian dan Aniel


" Wow , dia benar-benar bersiap "


Sean terkejut melihat banyak sekali antek anteknya yang menyembunyikan senjatanya agar tidak terlihat


" Dimana lawan "


Sean di dudukkan di atas kursi yang berhadapan dengan Sbastian


" Membaur di sini "


Mao menjawab dengan singkat dan menempatkan Sean di tepi jendela


" Tuan "


Aloe masuk dan membawa satu tas kecil


" Apa itu "


Sean menunjuk tas yang di bawa Aloe


" Makanan yang di pesan nona muda "


Aloe memberikan tas yang berisi Snack kepada Aniel yang duduk di dekat jendela


Mao melipat kursi roda Sean , memasukkannya ke dalam tas khusus dan meletakkannya di tempat untuk meletakkan tas


" Kalian duduklah "


Sbastian memerintahkan dan Mao juga Lao duduk di samping Sean sedangkan Aloe duduk di samping Sbastian


" Tak ean ini men "


( Kak Sean ini permen )


Aniel mengeluarkan beberapa permen dan membaginya dengan Sean


" Adek beli apa aja "


Sean membuka tas yang di letakkan di atas meja yang menjadi pembatas di antara mereka


" Bi anyak "


( Beli banyak )


Aniel mengeluarkan banyak sekali Snack yang di pesan olehnya


" Kapan kita berangkat pa "


Sean bertanya


" Sebentar lagi "


Sbastian menjawab


" Waaah lihat ayah , banyak sekali orang "


Sebuah suara dari seseorang yang terlihat berumur dua puluh lebih membuat seisi kereta menoleh


" Apa kita akan berangkat ayah "


Laki-laki itu duduk di bangku yang berseberangan dengan Sbastian


" Iya nak , kita akan berangkat sebentar lagi"


Sang ayah ayah menjawab dengan senyuman kecil


" Wow sangat hebat "


Pria itu mengagumi isi kereta yang ia tumpangi


" Papa.. paman itu kenapa ya "


Sean memanggil Sbastian


" Sayang.. ada suatu hal yang harusnya tidak kita tanyakan , waktu akan menjawab rasa penasaran yang kamu miliki , apa putra papa paham "


Sbastian membelai kepala Sean


" Iya "


Sean mengangguk


" Dak "


( Enggak )


Aniel menggeleng


" Hahahaha "


Mereka tertawa melihat kepolosan Aniel


" Lima menit lagi kereta api jurusan stasiun Surabaya akan segera berangkat , di mohon untuk duduk di tempat masing-masing "


Suara kakak operator terdengar menggema


" Wah... Kita berangkat cuchuuuuu "


Sean memperagakan seolah dirinya sedang menarik tuas agar peluit kereta berbunyi


" Tuuuuuuuut "


Aniel menirukan Sean


" Ngeeeeng nanti jalan "


Sean memperagakan seolah dirinya mengemudikan kereta


" Neeen tutuuuu lan lan tak ean tooo "


( Ngeeng tutuuu jalan jalan kak Sean gooo "


Aniel dengan bersemangat menirukan gerakan Sean


" Tuan muda memang masih anak-anak haha "


Mao terkekeh melihat Sean yang tadinya benar-benar waspada dan terlihat seperti orang dewasa kini menjelma menjadi anak-anak yang masih sangat polos sedang bermain ria


" Permisi "


Terlihat pasangan suami-istri yang duduk di depan paman tadi


" Wah.. mereka terlambat "


Sean membatin


* Cusssss


Terdengar suara mesin kereta mulai melaju dengan lambat membuat pemandangan di sekitar perlahan terlewati


" Wah.. ayah lihat pohonnya berjalan melewati kita "


Pria di sebrang bangku Sbastian menatap jendela kereta dengan kagum


" Lihat ayah awannya juga ikut berjalan "


Pria itu terlihat bersemangat dan ayah dari pria itu hanya tersenyum lalu membelai lembut kepala putranya


" Halo halo "


Pria itu melambaikan tangannya saat melihat beberapa orang yang ada di sekitar rel kereta


" Lihat , ibu menelfon "


Sang ayah terlihat memberikan ponsel kepada putranya


" Wah.. halo ibu , ayah apa ini ibu.. "


Pria itu dengan semangat melambaikan tangannya saat melihat ibunya di balik layar


" Iya , itu ibu "


Sang ayah mengangguk


" Wah.. seperti kata ayah , ibu cantik "


Pria itu terlihat berbicara sendiri dengan layar ponselnya


" Hei "


Sbastian tidak sengaja menangkap air mata yang sudah di usap oleh Sean


" Ngak papa ya , kan ada papa , ada adek juga "


Sbastian mengusap air mata Sean


" Hei pak "


Terdengar suara dari sepasang suami istri yang duduk di depan anak dan ayah tersebut


" Anda sebaiknya memeriksakan kesehatan anak bapak "


Pria itu berkata dengan sinis


" Sudah , hari ini dia baru sembuh , kami baru saja pulang dari dokter "


Sang ayah membelai lembut kepala putranya


" Ini pertama kalinya putraku melihat dunia , dia buta sejak lahir , dan di umurnya yang ke dua puluh empat hari ini , kami baru saja selesai pemulihan pasca operasi "


Sang ayah membuat laki-laki di depannya terdiam


" Lihat sayang , sesuatu yang kamu tanyakan sudah terjawab , hanya menunggu waktu "


Sbastian membelai kepala Sean


" Iya papa , Sean mengerti "


Sean mengangguk


*Tuk


Terdengar sebuah suara kecil


" Adududuh adek ngantuk ya "


Sbastian melihat Aniel yang terbentur-bentur kaca kereta


Setelah beberapa jam , akhirnya Sbastian dan rombongan sudah sampai di stasiun kereta


" Sean sama papa "


Sbastian menawari


" Sama Mao aja , kan adek lagi tidur "


Sean masuk ke dalam gendongan Mao


" Baiklah , kita istirahat dulu di hotel "


Sbastian berdiri dan keluar bergantian dengan Aloe


Setelah semua orang keluar dari kereta , Sbastian baru keluar bersama rombongan dan di susul ayah dan anak yang dari tadi masih bersemangat melihat sekitar


" Mao "


Sean mengisyaratkan agar Mao memperlambat laju kursi rodanya


" Dimana Diablo "


Sean berbisik


" Tuan Diablo ada di belakang "


Mao menjawab


" Kira-kira kapan rencana mereka di mulai "


Sean bertanya


" Belum ada tanda-tanda untuk menyerang "


Mao menjawab


" Huft.... Ini penyerangan besar besaran yang aku alami untuk pertama kalinya , lainnya hanyalah sebuah rencana di dalam sarang "


Sean memijit pelipisnya pelan


" Tenanglah tuan , saya sudah sering seperti ini , saya akan selalu ada bersama anda sampai akhir "


Mao menenangkan


" Terimakasih Mao "


Sean tersenyum


" Sudah tugas saya tuan "


Mao mengangguk


" Permisi "


Laki-laki yang sedari tadi heboh di dalam kereta menghampiri Sean


" Iya "


Sean menoleh


" Apa kamu namanya Sean "


Pria itu berlutut di depan Sean


" Iya "


Sean mulai waspada


" Tidak perlu takut , dia bilang padaku bahwa kamu tuannya "


Pria itu mengeluarkan sebuah makhluk kecil dari balik sakunya


" Tuan Sean "


Suara mungil jiji membuat Sean terkejut


" Paman bisa melihatnya "


Sean terkejut


" Aki memiliki sedikit mata batin , jadi aku bisa melihatnya , dia menangis saat kamu keluar tadi "


Pria itu tersenyum

__ADS_1


__ADS_2