Aku Pangeran

Aku Pangeran
#81 ( kejadian esok )


__ADS_3

" Ini paket yang lain untuk anda tuan "


Mao menunjukkan satu kardus kecil kepada Sean


" Tolong kamu buka lalu letakkan di atas meja belajar "


Sean melajukan kursi rodanya menuju pintu balkon


" Halo bulan , ngak ngantuk nih "


Sean bersandar di kursi rodanya sambil memandangi langit


" Tetap saja balkon papa terlihat lebih luas"


Sean menatap sinis balkon Sbastian yang di lengkapi taman mini dan sepasang kursi di sudut balkon


*Cklek


Terdengar suara pintu terbuka membuat Sean terkejut dan sedikit memundurkan kursi rodanya


" Papa ngapain "


Sean melihat Sbastian membawa satu kotak kecil sesuatu yang di letakkan di atas kursi


" Rokok "


Sean terkejut melihat Sbastian yang mengeluarkan sebatang rokok , menyalakannya dan menghisapnya dengan tenang


" Bagaimana kamu di sana sayang , apakah kamu tenang bersama putra kita "


Terlihat Sbastian yang berdiri di samping pagar besi sambil melihat bintang


" Adinda sayang "


Sbastian mulai menitikkan air matanya dan membiarkannya mengalir , itu membuat Sean mengerti bahwa hati dan pikiran Sbastian sedang kelelahan


" Papa lagi capek ya "


Sean membatin


" Kamu tau sayang , Sean tidak bisa berjalan lagi , aku harus bagaimana "


Sbastian memejamkan matanya dan kembali menghisap rokok dan menghembuskannya


" Haisss papa itu suka aneh-aneh , harus di awasi "


Sean menatap Sbastian sinis


" Kalau ada kamu di sini bagaimana ya rasanya "


Sbastian menghisap dan menghembuskan lagi rokoknya


" Pasti bahagia kalau Adimas , Sean dan Aniel berkumpul di atas satu tempat tidur bersama kita berdua "


Sbastian menghilangkan abu rokoknya


" Kamu di sana lagi ngapain "


Sbastian menghembuskan rokoknya kembali


" Ginjalnya lho pa "


Sean membuat Sbastian terkejut


" Papa terkejut haha "


Sbastian terkekeh


" Kenapa papa hisap rokok "


Sean menatap Sbastian sinis


" Ya... Cuma sekali kok "


Sbastian tersenyum


" Rindu bunda ya "


Sean tersenyum


" Sangat "


Sbastian menghapus air matanya


" Nangis aja , gapapa kok "


Sean mengejek


" Kamu emang ya hahaha "


Sbastian terkekeh


" Katanya , kalau orang yang sudah meninggal itu nanti jadi bintang di sana "


Sean menunjuk jajaran bintang bintang yang tergantung indah di langit


" Pasti bundamu dan kakakmu ada di sana "


Sbastian menatap apa yang Sean lihat


" Ngak lha "


Sean membuat Sbastian terkejut


" Apanya yang ngak "


Sbastian menoleh


" Sean yakin cinta bunda masih bersemi di hati kecil papa yang sangat lembut itu , selembut marshmellow "


Sean membuat senyum Sbastian merekah


" Kamu benar "


Sbastian mengangguk


" Sean punya puisi nih buat papa sama bunda "


Sean membuat Sbastian menoleh


" Apa puisinya "


Sbastian menyangga kepalanya dengan tangannya


" Ini bunga mawar yang indah "


Sean melirik Sbastian sekilas


" Cakep "


Sbastian mulai fokus mendengarkan


" Tunggu dulu , jangan di potong "


Sean membuat Sbastian terkekeh


" Ini bunga mawar yang indah


Bagai senyummu yang merekah


Tanah tempat berpijaknya


Hatikulah di tempatkan akarnya "


Sean tersenyum dan menjeda kalimatnya sebentar


" Wajahmu bagai kelopak mawarnya


Indah rupawan segala sudutnya


Tak kubiarkan ulat kan datang


Kau istriku


Kau hatiku


Kaulah segalanya untukku "


Sean terkekeh


" Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu "


Sbastian tersenyum


" Adadeh "


Sean menaik turunkan alisnya


" Hatimu bagai buah kelapa


Aku yang bagaikan daging buahnya


Kau melindungiku dari segalanya


Aku melihatmu seperti dewa "


Sean membuat Sbastian terkekeh kecil


" Jika purnama mengalahkan cantiknya rupamu


Akan ku abaikan purnama untukmu


Jika mereka bilang purnama itu sempurna


Maka ku katakan kau yang paling indah "


Sean membuat Sbastian tertawa kecil


" Benar tidak "


Sean menunjuk Sbastian


" Memang hahaha "


Sbastian tertawa dan mematikan rokoknya


" Masih ada lagi kah "


Sbastian menggeret kursi dan duduk di ujung balkon di samping Sean


" Banyak dong , papa mau yang gimana nanti Sean buatin "


Sean menghadapkan kursi rodanya kepada Sbastian


" Papa mau bunda di ibaratkan seperti ratu Mesir "


Sbastian menjentikkan jarinya


" Ratu Mesir tercantik Cleopatra namanya


Para pria sangat mencintainya


Hingga bunuh diri di buatnya


Aku pun sama


Tapi aku bukan mereka


Akan ku perjuangkan semua


Ku korbankan harta dan tahta


Cleopatra era SMA


Aku mencintaimu selamanya "


Sean membuat Sbastian terbahak-bahak


" Apa apaan Hahaha "


Sbastian tertawa sambil memegangi perutnya melihat putranya memperagakan gerakan yang estetik di lihatnya


" Sekarang ibaratkan papa seperti kaca yang pecah karena bundamu meninggalkan papa "


Sbastian sedikit tersenyum ketir namun menunggu kalimat baru Sean


" Okay , tunggu ya "


Sean melipat tangannya di atas dada


" Udah belum "


Sbastian menunggu


" Iya iya "


Sean terlihat bersiap


" Kau tau


Aku bagai kaca


Kau tau


Kau tinggalkan aku begitu saja


Kau harus tau


Hancurnya kaca hatiku melihat semua


Sakit di sini


Meski ku bilang jangan pergi


Meski ku bilang tetaplah di sini


Meski ku bilang ku mengunggu


Kenapa kau tak mendengarku


Datanglah untukku


Malam ini saja


Aku meminta


Aku ingin memelukmu sekali saja


Hanya malam ini saja


Aku merindukanmu my sweet heart, Adinda"


Sean membuat Sbastian menitikkan air mata


" Kau hebat sayang "


Sbastian tersenyum


" Sean rasa kata katanya kurang indah "


Sean menggeleng


" Itu cukup , sekarang tidurlah "


Sbastian berdiri


" Papa "


Sean memanggil


" Bunda baik-baik saja "


Sean tersenyum


" Papa tau sayang "


Sbastian berjalan masuk ke dalam ruangan


" Hei "


Sbastian berhenti sejenak di pintu masuk


" My sweet heart , cepatlah tidur "


Sbastian tersenyum


" Yes papa "


Sean mengangguk dan memberikan sebuah senyuman yang indah


" Tuan , tuan Diablo menelfon "


Mao memanggil dengan sedikit berbisik


" Apa Diablo saja "


Sean berbalik dan masuk ke dalam kamar


" Semuanya memanggil dalam satu panggilan "


Mao menutup pintu saat Sean sudah masuk

__ADS_1


" Di kamar papa ada siapa "


Sean menuju meja belajarnya


" Saya letakkan Lao di pintu masuk dan Aloe di balkon "


Mao melihat Aloe berdiri di balkon


" Baiklah "


Sean membuka lap top mini buatannya


" Selamat malam tuan "


Terlihat banyak hologram muncul di depan Sean


" Ada apa "


Sean mulai menggunakan penyamarannya


"Selamat malam tuan , Kami hanya ingin tau kabar anda "


Ariana salah satu wanita yang berpenampilan cantik menyapa Sean


" Malam Ariana , apakah kamu menanyakan hasil desain yang sedikit kamu rubah "


Sean membuat Ariana terkejut


" Hehehe anda tau saja tuan "


Ariana menggaruk wajahnya kikuk


" Aku menemukan satu model kecil "


Sean menunjukkan foto Aniel yang mengenakan berbagai macam pakaian


" Awaw comelnya "


Ariana


" Hm... Cantik cantik "


Alisya


" Gaunnya bisa untuk model nanti "


Rena


" Kita bisa luncurkan secepatnya "


Matty


" Aku rasa model model pakaian ini cocok untuk pergi ke dalam pesta yang mewah "


Seilla


Kelima wanita di sana memberi komentar


" Kalian suka para pria "


Sean meminta pendapat


" Kami suka tuan "


Para pria di sana mengangguk saja


" Jadi tinggal membuat desain untuk jas nya yang cocok saja "


Mulai lah perdebatan dan pengajuan ide-ide baru untuk brand perusahaan pakaian hingga satu jam berlalu


" Sudah sudah , jangan ribut lagi "


Sean menghentikan pertikaian ke-lima belas anak buahnya yang jauh dan berbeda tempat


" Bagaimana perusahaan di luar "


Sean mulai membahas perusahaan


" Dari London baik-baik saja tuan "


Amaji


" Ada sedikit kendala di Mesir , namun sudah terkendali "


Rendra


" Sedikit kendala dana di Jawa barat namun sudah mendapatkan suntikan dari pusat "


Aldo


" Tidak bermasalah di Jepang "


Lucas


" Di Sumatra semuanya terkendali "


Mizaeil


" Tidak bermasalah di butiq pusat namun di salah satu cabang yang di kita miliki di Amerika Utara sedikit terkendala namun tuan Diablo sudah mengatasinya "


Alisya dan Rena


" Untuk penggarapan beberapa sekolahan dan univ masih terkendala dengan cuaca , namun saya pastikan akan selesai sebelum akhir tahun ajaran baru tahun depan "


Seila dan mas artian


" Perusahaan penyewaan bodyguard berjalan dengan baik dan berkembang pesat"


Ariana


" Di Bengkulu semuanya berjalan aman "


Yulias dan Matias


" Aku tidak tau bagaimana lagi caraku berterimakasih kepada kalian "


Sean menghembuskan nafas


" Tuan , anda penyelamat hidup kami , kami berhutang nyawa kepada anda "


Diablo menenangkan Sean


" Tuan Diablo benar , jika bukan karena anda maka adik-adik saya tidak akan bisa sekolah sampai sekarang "


Rendra tersenyum


" Saya tidak tau jika harus kehilangan ibu jika anda tidak menolong saya waktu itu , saya berhutang nyawa kepada anda "


Aldo tersenyum


" Anda jangan merasa begitu tuan , kami ini sangat menghormati anda "


Yulias membuat Sean sedikit lebih tenang


" Kenapa kalian mau bekerja denganku hingga seperti ini "


Sean membuat mereka semua terkekeh


" Kami hanya meneruskan , semua yang melakukan dari awal itu anda , ini tidak berat bagi kami "


Diablo terkekeh


" Hahaha aku tidak percaya pemikiran tuan lebih salah dari yang aku kira hahaha "


Semua tertawa melihat tingkah laku Sean yang sangat dewasa


" Ayo kapan-kapan kita berkumpul "


Matias sang raja lawak memberi pendapat


" Setuju "


Semua orang menyetujui usul Matias


" Apa tuan bisa ikut "


Aldo membuat Sean berhenti terkekeh


" Maaf ya , untuk tahun ini aku masih masa pemulihan , kakiku masih belum bisa untuk leluasa bergerak "


Sean membuat ekspresi kecewa di wajah anak buahnya


" Hei hei , tak apa jangan sedih , saat tuan sudah sembuh kita akan berkumpul di satu tempat nanti "


Matias mencoba menghibur


" Bagaimana kalau ulang tahun perusahaan , ulang tahun perusahaan akan di adakan setiap akhir tahun "


Ariana menunjukkan tanggalnya


Sean mengambil keputusan


" Lalu kapan tuan akan datang "


Amaji bertanya dengan sedikit kecewa


" Maaf ya , aku akan datang kapan-kapan , tapi aku janji akan datang dan memberi kalian kejutan "


Sean menunjukkan jari kelingkingnya


" Tuan besar , di Jepang jari kelingking itu keramat lho "


Lucas memberitahu


" Aku tau paman Yakuza "


Sean menaik turunkan tangannya


" Hahahaha "


Semua tertawa melihat Sean yang terkadang bertingkah layaknya anak kecil


" Janji semua "


Matias mengajukan jari Kelingkingnya


" Janji hahaha "


Semuanya mengangkat jari kelingkingnya ke depan seakan berjanji satu sama lain


" Ini sudah malam , istirahatlah "


Sean menyangga kepalanya di atas meja


" Baik tuan "


Mereka semua mengangguk


" Selamat malam semua , malam kawan "


" Malam kawan "


" Mimpi indah "


" Bulan menunggu "


" Hehe "


" Kami pamit tuan "


Mereka semua terlihat berdiri dan sedikit membungkuk


" Selamat malas semua , mimpi indah "


Sean mengangguk dan mematikan hologramnya


" Tidurlah Mao , ini sudah malam "


Sean mengambil berkas-berkasnya dan mulai memeriksanya satu persatu hingga pagi menjelang


" Tuan "


Mao membangunkan Sean yang tertidur di atas meja belajarnya


" Ini sudah pagi tuan , saatnya berangkat ke sekolah "


Mao mengguncang Sean lembut


" Iya Mao "


Sean bangun dan pergi ke kamar mandi hanya untuk mencuci muka dan menggosok gigi


" Mao "


Sean mendekati Mao yang sudah menyiapkan seragam sekolahnya


" Mari saya bantu tuan "


Mao memberikan baju putih Sean


" Jangan Mao , keluarlah , aku akan keluar saat sudah selesai "


Sean mengambil seragam sekolahnya


" Baik tuan "


Mao membungkuk dan berjalan keluar


Setelah beberapa saat Sean sudah rapih dengan seragamnya dan tas sekolahnya yang sudah di pangku


" Nanti tolong kirimkan berkas-berkas kantor yang aku kerjakan semalam kepada Diablo "


Sean berbicara saat melihat Mao masuk ke dalam kamarnya


" Baik tuan "


Mao mengangguk dan mendorong kursi roda Sean keluar


" Papa mana "


Sean melihat pintu kamar Sbastian yang terbuka


" Tuan sudah di bawah bersama nona Aniel"


Mao membawa Sean menaiki lift dan turun ke lantai dasar


" Dimana papa "


Sean celingukan


" Di ruang makan "


Mao membawa Sean menuju ruang makan


" Papa "


Sean melihat Sbastian tidak memakai pakaian kantor


" Papa ngak ngantor "


Sean berhenti di dekat Sbastian yang sedang memangku Aniel


" Adek badannya panas , papa ngak ke kantor dulu , kamu berangkat sendiri ya "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Adek udah di periksa Mao "


Sean menyentuh kening Aniel


" Sudah , adek demam aja "


Sbastian memberikan porsi makan Sean


" Makasih pa "


Sean menaikkan kursi rodanya agar lebih tinggi dan makan sarapannya dengan tenang


" Ini bekalmu sayang "


Sbastian memberikan bekal Sean dengan kotak makan berwarna biru


" Nanti yang ke sekolahmu paman John , papa tunggu kamu di rumah "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Iya pa "


Sena mengangguk


Setelah menghabiskan sarapannya Sean mengambil tas dan mengemasi bekal makan siangnya


" Oh ya , ini sisa uang Sean kemarin , cuma Sean pakai lima ribu "


Sean memberikan satu lembar lima ribu


" Nanti papa catat , ini uang saku kamu "


Sbastian memberikan selembar uang sepuluh ribu


" Sean berangkat "

__ADS_1


Sean mencium tangan Sbastian dan mencium kening Aniel yang terlihat sedang tidur


" Hati hati ya sayang "


Sbastian mengantarkan Sean sampai pintu utama


" Babay papa "


Sean melambaikan tangannya saat sudah di dalam mobil


" Paman supir "


Sean manggil


" iya tuan "


Paman supir menoleh ke belakang


" Bisakah kita ke rumah paman Rudi , kemarin Sean bilang mau jemput bintang "


Sean meminta


" Baik tuan "


Paman supir mengubah tujuan dari sekolahan menjadi rumah Rudi


Setelah beberapa saat akhirnya mobil Sean sudah terparkir di depan rumah bintang


" bintang , bintang "


Sean melambaikan tangan saat melihat bintang baru keluar dari rumahnya bersama Rudi dan mawar


" Sean "


Bintang mendekati Sean


" Paman paman , biar bintang berangkat sama Sean aja "


Sean melambaikan tangannya saat Rudi berjalan mendekat


" Bintang mundur , pintunya mau Sean buka"


Sean mengisyaratkan agar bintang menjauh


" Biar saya buka "


Paman supir membuka pintu mobil


" Biar bintang ikut Sean , dan paman Rudi ini perintah "


Sean berbicara dengan tegas


" Baik tuan muda , saya laksanakan "


Rudi membungkuk


" Yey hahaha "


Sean tertawa


Bintang mencium tangan Rudi dan mawar setelah itu Sean mencium tangan Rudi dan mawar


" Ayo naik "


Sean mempersilahkan bintang masuk


" Ayo paman kita berangkat "


Sean berbicara dengan paman supir


" Mari tuan "


Paman supir menutup pintu dan berlari masuk ke dalam bangku kemudi


" Babay ayah babay ibu "


Bintang melambaikan tangannya di ikuti Sean dan di balas lambaian tangan Rudi dan istrinya


" Kamu lihat revenge malam tadi ngak "


Sean memulai percakapan


" Liat liat "


Bintang mengangguk


Selama perjalanan , mobil di penuhi obrolan Sean dan bintang hingga tidak sadar perjalanan sudah melenceng jauh dari tempat tujuan


" Mau kemana paman , sekolahan kan ngak kesini "


Sean membuat pak supir terkekeh


" Tadi ada polisi tuan , jadi kita agak memutar , apa anda tidak melihatnya "


Paman supir menjawab


" Oh... "


Sean mengangguk


" Sean "


Bintang mengguncang Sean


" Sssttttt "


Sean meletakkan telunjuknya di bibirnya


" Aku takut "


Bintang berbisik


" Jangan takut "


Sean mengusap kepala bintang


" mau di peluk "


Sean merentangkan tangannya


" Jangan takut , ada aku "


Sean memeluk bintang


" Hm... "


Bintang mendekat dan memeluk Sean erat


" Kamu masih kecil ya hahaha "


Sean tertawa merasakan detak jantung bintang yang berdebar debar bahkan terasa dari punggung bintang


" Aku sudah mengirim pesan kepada Diablo , tenanglah "


Sean menepuk punggung Aniel


___________________________


: Halo :


Sean mengangkat telfon di jam tangan hologramnya


: Anda tenang saja tuan :


Suara Diablo memasuki pendengaran


: Aku tidak takut paman , ini temanku yang takut :


Sean menjawab dengan suara aslinya


: Apakah anda tuan Sean :


Diablo bertanya


: Iya , paman memberikan jam ini pada Sean:


Sean mengiyakan


: Baiklah , tolong anda tenang saja ya tuan :


Diablo menenangkan


: Iya paman , tolong agak cepat kami hampir terlambat ke sekolah :


Sean


: Baik tuan muda :


Diablo mengangguk


__________________________


" Apa kamu dengar "


Sean nepuk pundak bintang


" Saya juga haha "


Pak supir terkekeh sinis


" Mari kita bunuh diri bersama "


Pak supir membanting kemudi dan menabrakkan mobilnya ke pagar pembatas mencoba meledakkan mobil agar nyawa kedua anak kecil di sana melayang


* Dum


Mobil meledak membuat semua pengendara berhenti melihat apa yang terjadi


Terlihat ledakan besar dan mobil terbakar mualai depan sampai bagian belakang mobil , damkar tiba membantu para penjaga yang sudah dari tadi datang untuk mematikan api di badan mobil


" Tenanglah , kita selamat "


Suara Sean berbisik di telinga bintang


" Gelap Sean , kenapa gelap , aku takut..hiks.. "


Bintang memeluk Sean makin erat hingga Sean merasakan pakaiannya sudah basah


" Kamu menangis "


Sean bertanya


" Hiks... Aku takut "


Bintang makin erat memeluk Sean


" Tenanglah , tak apa "


Sean mengusap kepala bintang


" Tutup matamu dan bayangkan banyak bintang kecil bercahaya mengelilingi kita , dan tidurlah , jangan dengarkan apapun , di sini tidak ada suara apapun , hanya ada bintang kecil dan laut kecil yang saling menyapa , apa kamu bisa bayangkan "


Sean berbisik dan di angguki bintang , Sean mengusap usap kerudung bintang hingga Sean tidak merasakan bintang bergerak sedikitpun


" Apa kamu sudah tidur "


Sean sedikit mengguncang bintang namun tidak mendapatkan respon apapun


" Cepat sekali tidurnya hahaha "


Sean terkekeh


" Lama sekali mereka , sudah keram tanganku ini "


Sean membatin


Satu jam berlalu


" Tuan Sean "


Diablo membuka paksa pintu dan terlihat sebuah bola besar di bangku belakang


*Tuut


Terdengar suara bel dari dalam bola besar yang terletak di bangku belakang


" Pasti ini tuan "


Diablo berusaha membuka bola hitam itu perlahan dan terlihat dua anak kecil saling berpelukan


" Sssttttt bintang sudah tidur , paman jangan ramai "


Sean berbisik


" Sempat-sempatnya berbisik "


Diablo menatap Sean datar


" Mari saya bantu keluar "


Diablo membawa bintang keluar dari dalam mobil dan menyerahkan bintang kedalam gendongan Ariana


" Mari tuan muda "


Diablo melepaskan sabuk pengaman Sean yang masih terpasang dan mengeluarkan Sean dari dalam sana


" Wow , mobilnya benar-benar hancur "


Sean melihat ke arah belakang saat dia di gandong oleh Diablo


" Bagaimana dengan pak supir itu "


Sean menepuk pundak Diablo


" Supir itu sudah hangus dan beberapa bagian tubuhnya tidak utuh , sebaiknya anda tidak melihat "


Diablo menutup mata Sean


" Lalu apa mayatnya akan di bawa ambulance "


Sean menyingkirkan tangan Diablo dan melihat ke belakang


" Siapa bibi itu "


Sena menunjuk Ariana


" Itu kepala keamanan dari kantor kami "


Diablo memasukkan Sean ke dalam mobil yang terpisah dari bintang


" Apa paman sudah memberitahu papaku "


Sean menahan tangan Diablo


" Kami sudah menghubungi orang tua anda dan nona muda di sana , jadi anda jangan khawatir "


Diablo tersenyum dan menutup mobil


*Niiiiuuuuuu


Suara ambulance membelah padatnya aktivitas di jalanan


" Tuan muda , ini susu untuk anda , kata tuan Diablo saya di suruh memberikannya kepada anda "


Pak supir yang terlihat masih muda memberikan segelas susu kepada Sean


" Maaf , tapi kenapa tuan muda dari tadi hanya berbaring "


Pak supir melihat Sean yang terus berbaring bahkan saat menerima susu yang dia berikan


" Sean ini kakinya sakit paman , Sean habis ngak bisa jalan , dua duanya Sean ngak bisa gerakin , jadi ya... Sean ngak bisa jalan , intinya Sean ini lumpuh "


Sean membuat pak supir terkejut


" Maaf ya tuan , biar saya benarkan duduk Tian , tuan pasti tidak nyaman "


Pak supir menepikan mobilnya di ikuti mobil mobil yang lain yang berisi setengah bodyguard


" Maaf ya tuan "


Pak supir mendudukkan Sean dan membenarkan posisi Sean agar Sean merasa nyaman


*Tok..tok..tok


Terlihat kaca mobil di ketuk oleh Diablo


" Ada apa "


Diablo bertanya saat kaca mobil di buka oleh pak supir


" Ini tuan , saya membenarkan duduk tuan Sean "


Pak supir menunjuk Sean


" jadi terhambat ya paman , maaf ya "


Sean tersenyum


" Mengapa tidak duduk sendiri "


Diablo menatap Sean tidak suka

__ADS_1


" Kaki Sean sakit , jadi ngak bisa duduk sendiri , Sean udah ngak bisa jalan"


Sean membuat Diablo terkejut dan meminta maaf


__ADS_2