Aku Pangeran

Aku Pangeran
#74 ( sayang )


__ADS_3

" Aniel sayang "


Sbastian berteriak di ruang makan


" Iya papa "


Aniel dengan gaun balon merah se lutut dengan rambut di kepang satu di belakang berlari dari ruang tamu menuju Sbastian


" Pelan pelan nona , nanti nona jatuh "


Lao berusaha mengimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Aniel


" Sarapan sayang , ayo "


Suara Sbastian kembali menggema


" Ungu papa "


( Tunggu papa )


Aniel membalas teriakan Sbastian


" Aukna apa papa "


( Lauknya apa papa )


Aniel berhenti di samping Sbastian


" Ikan gurame "


Sbastian menaikkan Aniel ke atas kursinya


" Hali ni iel itut ke antol ya "


( Hari ini Aniel ikut ke kantor ya )


Aniel menatap Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian mengiyakan


" Tak ean dah angun lum "


( Kak Sean udah bangun belum )


Aniel menatap Aloe , pertanyaan ini selalu di tanyakan Aniel setiap pagi sebelum sarapan dan setiap malam sebelum tidur


" Belum nona , tapi kata kak Mao tuan muda lebih baik sekarang "


Aloe memberitahu


" makan dulu nanti kita kek kak Sean "


Sbastian memberikan seporsi nasi bubur dan ikan gurame , aneh memang , tapi semua yang bisa di makan akan di makan oleh Aniel , umurnya memang tidak sesuai jika memakan makanan seperti itu , namun bagi Aniel dirinya tidak boleh mensia-siakan makanan


" yo pa yo , iel dah bis mam "


( Ayo pa ayo , Aniel udah habis makan )


Aniel meletakkan sendoknya


" Iya iya , minum dulu susunya "


Sbastian memberikan segelas susu dan Aniel langsung meminumnya hingga ludes tak tersisa


" Dah "


Aniel meletakkan susunya


" Biar kami bersihkan tuan "


Para maid mengambil alih piring kotor di atas meja


" Kalau begitu ayo "


Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya dan berjalan menuju lantai tiga di ikuti Aloe dan Lao menggunakan anak tangga


" Tuan "


Asisten John memanggil saat Sbastian saat Sbastian sudah separuh jalan


" Ada keadaan darurat "


Asisten John berlari menyusul Sbastian


" Ceritakan "


Sbastian tetap berjalan di ikuti asisten John


"Anak Perusahaan di Canada sedang dalam masalah , petinggi di sana banyak mengkorupsi dana suntikan dan anak perusahaan di sana terancam di tutup "


Asisten John menjelaskan dengan cepat


" Aku tidak bisa meninggalkan putraku "


Sbastian masuk ke dalam kamar Sbastian di ikuti asisten John


" Tapi kami tidak bisa mewakilkan , dan lagi rekan kerja di sana sudah tidak mempercayai anak perusahaan lagi "


Asisten John memberikan alasan


" Tapi Sean "


Sbastian keluar dari kamarnya dan berhenti saat hendak membuka pintu kamar rawat Sean


" Tak ean al ama iel aja "


( Kak Sean biar sama Aniel saja )


Aniel menatap Sbastian


" Papa ngak bisa tinggalin kalian berdua "


Sbastian masuk dan terlihat Sean yang baru selesai di seka dengan air hangat oleh Mao


" Iel bisa ko aga tak ean "


( Aniel bisa kok jaga kak Sean )


Aniel dengan percaya diri menepuk dadanya


" Bukannya gitu sayang , papa khawatir sama kalian berdua "


Sbastian membelai pipi Aniel


" Nini lho papa , tak ean da iel , da bi Mao , tak loe , pan ludi dan man mana "


( Gini lho papa , kak Sean ada Aniel , ada bi Mao , kak Aloe , paman Rudi dan teman temannya)


Aniel menepuk-nepuk pipi Sbastian


" Tetap saja sayang , jika bisa papa akan membawa kalian "


Sbastian duduk di samping Sean dan menggenggam tangan Sean


" Papa nih... Dala papa , papa lus inel , nan atal "


( Papa nih... Sudahlah papa , papa harus pinter , jangan nakal )


Aniel melipat tangannya di atas dada


" Baik baik , papa kalah sama anak papa "


Sbastian mencium pipi Aniel


" hahahaha , tak ean papa atal ya "


( Hahaha , kak Sean papa nakal ya )


Aniel terkekeh


" Baiklah , besok aku berangkat , tapi jangan sampai pekerjaan di tunda , aku harus segera pulang "


Sbastian memutuskan dengan berat hati


" Sean , papa kerja dulu ya sayang , kamu cepat bangun ya "


Sbastian mencium kening Sean lama


" Dah.. dah.. iel lum ium tatak "


( Udah.. udah.. Aniel belum cium kakak )


Aniel terlihat merajuk


" Hahaha , cium kakak sana "


Sbastian menurunkan Aniel di samping Sean


Aniel mencium pipi Sean dengan hati-hati tanpa mengusik alat medis Sean


" Tak ean , aman lulu iel awa ya , li ni tatak ama umba-umba "


( Kak Sean , paman Lulu Aniel bawa ya , hari ini kakak sama lumba-lumba )


Aniel meletakkan boneka Lumba-lumba di samping Sean


" Tak ean petan adal , papa ma iel tunu tak ean "


( Kak Sean cepetan sadar , papa sama Aniel tunggu kak Sean )


Aniel mencium punggung tangan Sean


* Grep


Sean merespon , Sean menggenggam tangan Aniel dan membuat Aniel terkejut


" Mao Mao "


Sbastian memanggil


" Ini lebih baik , bukan hanya tuan , tapi nona muda juga , saya yakin tuan muda akan sadar sebentar lagi , ini ikatan batin yang kuat "


Mao tersenyum


" Benar Mao , anak anakku memiliki ikatan batin satu sama lain "


Sbastian tersenyum senang


" Ayo sayang , kita berangkat "


Sbastian melepaskan genggaman Sean


" Papa berangkat dulu "


Sbastian mencium tangan Sean dan berdiri membawa Aniel pergi


Sbastian masuk ke dalam mobil bersama asisten John dan Aloe mengemudikan mobil bersama Lao di bangku depan , setelah beberapa saat akhirnya Sbastian dan lainnya sampai di perusahaan


" Anak papa jangan rewel ya "


Sbastian memberikan Aniel kepada Lao


Sbastian berlarian kesana kemari mengurus semuanya agar cepat selesai , sedangkan Aniel berada di dalam ruang kantor Sbastian di lantai paling atas


" Lao Lao , iel osen , alu ada tak ean mana ya asanya "


( Lao Lao , Aniel bosen , kalau ada kak Sean gimana ya rasanya )


Aniel berguling-guling di atas sofa


" Nona muda mau main apa lho "


Lao berlutut di depan Aniel


" Humph... Gatau "


Aniel memejamkan matanya


" Nona muda tidur saja ya "


Lao meletakkan Aniel di dalam pangkuannya dan mulai meninabobokan Aniel hingga benar-benar tertidur


Sbastian berkali-kali keluar masuk kantor , pertemuan dengan kolega di cafe dekat kantor , meninjau kembali proyek , melihat barang jadi perusahaan , Sbastian benar-benar sibuk hingga melupakan Aniel yang sedang tidur di ruangannya


" Astagfirullah anakku masih di atas "


Sbastian yang sudah bersiap pulang di lobi kembali naik ke lantai atas


" Aniel "


Sbastian masuk dan melihat Lao tertidur sambil duduk menggendong Aniel


" Kak Lao , kak Lao "


Aloe membangunkan Lao


" Kemarikan Aniel , kamu bisa istirahat di mobil nanti "


Sbastian menggendong Aniel dan membawanya turun ke bawah menggunakan lift bersama Aloe dan Lao


" Tunggu tuan "


Saat hampir keluar dari pintu lobi , Aloe menghentikan Sbastian


* Syut


Aloe berubah menjadi macan dan membuat Sbastian dan Lao waspada


" Mereka datang "


Lao membuat Aloe melompat dan menghilang sedangkan Lao sendiri berdiri membawa pedang di depan Sbastian yang sudah terpojok di dinding


" Hahahaha , sepertinya tuan besar sedang sendiri tanpa pengawal "


Suara tawa para pria membuat Aniel terbangun


" Papa "


Aniel menatap Sbastian


" Sssttt jangan mengeluarkan suara sayang"


Sbastian memasukkan Aniel ke dalam jas nya dan memeluknya dengan erat


" Hehe saya kira tuan besar akan membawa banyak pasukan , ternyata hanya satu orang wanita "


Muncullah pria pria berotot yang keluar dari berbagai ruangan dan pintu membuat Sbastian terkejut


" Hahaha , aku kira singa ternyata hanya kecoa "


Lao memasukkan kembali pedangnya yang hilang ntah kemana


" Jangan meremehkan kami hai wanita muda , bagaimana jika kamu memuaskan kami , ini akan menjadi sesuatu yang setimpal dengan usaha kami ".


Salah satu pria di sana terlihat berjalan mendekat


" Lao "


Sbastian berbisik

__ADS_1


" Tidak perlu panik tuan , silahkan duduk dan nikmati semua yang anda lihat "


Lao memberikan satu kursi terdekat


" Baik baik "


Sbastian duduk dan mengeluarkan Aniel dari balik jas nya


" Papa "


Aniel menatap Sbastian


" Aniel , mainkan saja hp papa "


Sbastian memberikan teman gepengnya


" Meka da pa "


( Mereka ada apa )


Aniel bertanya saat menoleh dan melihat banyak sekali orang-orang yang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah


" Mereka.... Temannya kak Lao , apa Aniel tau sesuatu "


Sbastian mengalihkan pembicaraan


" Apa "


Aniel menatap papanya


" Aniel mirip lho dengan seseorang "


Sbastian mengusap kepala Aniel


" Capa "


( Siapa )


Aniel memiringkan kepalanya


" Hm..... Papa dong , kan Aniel anak papa "


Sbastian menoel pipi Aniel


" Hemmm... "


Aniel menatap papanya datar


" Iya iya , anak papa mau tanya apa "


Sbastian tau candaannya garing


" Pa mama iel cama,cama mama tak ean "


( Apa mama Aniel sama , sama mama kak Sean )


Aniel membuat Sbastian terdiam sejenak


" Beda sayang , mamanya kak Sean di panggil bunda "


Sbastian mengambil hp dari tangan Aniel


" Papa punya fotonya "


Sbastian menunjukkan foto pernikahannya dengan Adinda


" Waaaahhhh , mama tak ean tantik nget , tok mama tak ean atek ini "


( Waaaahhhh , mama kak Sean cantik banget , kok mama kak Sean pakek ini )


Aniel menunjuk kerudung adinda


" Ini namanya kerudung "


Sbastian menunjukkan foto foto Adinda yang lain hingga berhenti di foto terakhir adinda dengan putra kecilnya


" apa ni tak ean "


( Apa ini kak Sean )


Aniel menunjuk Adimas


" Hahaha , apa dia tampan "


Sbastian membelai rambut Aniel


" Iya , api eda tayak oto di tamal papa "


( Iya , tapi beda kayak foto di kamar papa )


Aniel mengingat ada foto bayi di kamar papanya dengan dengan tulisan Sean Ken Sora


" Dari mana Aniel tau nama di foto itu namanya kak Sean "


" Iel anya bi Mao "


( Aniel tanya bi Mao )


" Iel au oba tayak mama tak ean "


( Aniel mau coba kayak mama kak Sean )


Aniel menunjuk kerudung Adinda


" Aniel mau coba "


Sbastian terkejut


" Ya , apa dak ole "


( Ya , apa ngak boleh )


Aniel menunduk lesu


" Boleh dong sayang , nanti papa belikan "


Sbastian tersenyum senang


" Oya papa , iel lum olat Isak "


( Oh ya papa , Aniel belum sholat isya' )


Aniel menepuk keningnya


" Nanti sholat sama papa ya "


Sbastian tersenyum , putri kecilnya tidak seperti Stella yang benar-benar tidak mau di ajak untuk berhijrah ke dalam Islam


" Otey "


Aniel tersenyum senang


" Tuan , mari pulang , kami sudah selesai "


Lao membuat Sbastian menoleh ke sekeliling


" Kalian kemanakan mereka "


Sbastian menatap Aloe dan Lao heran


" Mereka semua di depan tuan "


Aloe menunjuk halaman kantor


" Ayo sayang , kita pulang "


Sbastian membawa Aniel yang masih melihat lihat foto dan video adinda


" Kami lalai tuan , kami minta maaf "


Para manusia yang terlihat seperti seorang bodyguard meminta maaf secara bersamaan


" Kalian ini siapa "


Sbastian menatap tiga orang yang terlihat memimpin di depan


" Lapor tuan , saya memimpin kesatuan unit empat "


Salah satu dari pria yang paling ujung berdiri dan memberi hormat


" Saya kesatuan unit lima "


" Saya kesatuan unit enam "


Ketiga pria itu memberi hormat


" Kalian dari perusahaan mana "


Sbastian menatap mereka heran


" Kami datang cabang dari perusahaan Doble L "


Mereka menjawab


" Siapa yang mengirim kalian "


Sbastian mulai penasaran


" Siap , yang mengirim kami tuan Concealing "


Kepala unit empat menjawab


" Kenapa dia mengirim kalian "


Sbastian memincingkan matanya


" Siap , tuan Concealing bilang beliau mengenal anda dengan sangat baik "


Kepala unit empat menjawab


" Kenapa namanya sangat panjang dan rumit "


Sbastian menggerutu


" Siap , biasanya beliau di panggil tuan Coce"


Unit empat kembali menjawab


" Coce , kenapa namanya jadi lucu haha "


Sbastian terkekeh


" Apa aku bisa bertemu dengan tuan Coce "


Sbastian bertanya


" Siap tuan , kami ke sini dengan harapan Anda tau tentang tuan Coce "


Unit empat menjawab


" Aku bahkan baru mendengar namanya , dan kalian anak buahnya tidak tau bos kalian sendiri "


Sbastian menjawab dengan datar


" Siap maafkan kami tuan "


Kepala unit empat kembali menjawab


" Apa kalian tidak lelah hormat dan berlutut seperti itu "


Sbastian menaikkan alisnya


" Siap , kami sudah terbiasa "


Unit empat menjawab lagi


" Terbiasa "


Sbastian membayangkan pelatihan mereka seperti tentara


" Siap , kami sudah di latih untuk hormat kepada sang saka merah putih selama tiga jam berturut-turut "


Kepala unit empat menjawab


" Itu bentuk penyiksaan "


Sbastian membatin


" Sudah sudah , bersikaplah seperti biasa saja , tidak perlu terlalu formal "


Sbastian berjalan


" Siap , terimakasih tuan "


Ketiga kepala unit menurunkan tangannya dan di ikuti seluruh anggota unit


" Tuan "


Asisten John tiba dan turun dari mobilnya


" Maaf saya telat , apa anda baik-baik saja "


Asisten John membungkuk


" Tidak , terimakasih kamu sudah datang , ayo pulang "


Sbastian menepuk pundak asisten John


" Maaf tuan "


Unit empat menghampiri


" Saya di tugaskan untuk menjadi sopir pribadi anda sejak saat ini "


Kepala unit empat membungkuk


" Apa buktinya "


Sbastian agak was-was


" Ini rekaman suara dari tuan Coce "


Unit empat memberikan rekaman suara


`` Selamat malam tuan Sbastian , maaf saya masih belum bisa bertemu anda , namun saya mengirimkan unit empat , lima dan enam , mereka unit elit kami untuk menjaga anda mulai sekarang , dan saya memerintahkan kepada kepala unit tiga untuk menjadi sopir dan bodyguard untuk anda , saya tau kita belum pernah bertemu , namun anda bisa percaya kepada saya , saat ini saya masih belum bisa menemui anda , saya hanya bisa membalas Budi anda dengan cara seperti ini , salam hormat dari perusahaan Doble L , saya Concealing memberi hormat kepada tuan Sbastian ``


Rekaman suara berakhir , suara tuan Coce sangatlah lucu , mungkin menggunakan efek , menjadikan suaranya seperti anak kecil berusia lima tahun dan itu membuat Sbastian terkekeh


" Suaranya jadi seperti Sean hahaha "


Sbastian terkekeh kecil


" Oh... Tuan muda Sean , tuan Coce juga banyak menceritakan tentang tuan muda , kata tuan Coce tuan muda adalah anak yang cerdas "


Kepala unit empat berkata dengan serius dengan penuh kekaguman


" Tuan Coce juga bercerita tentang Sean "


Sbastian terkejut


" Iya tuan , namun saya tidak pernah mendengar tentang nona muda ini "

__ADS_1


Kepala unit tiga menunjuk Aniel


" Ini putriku "


Sbastian tersenyum dan mencium kening Aniel


" Ekhemm... Ekhem.. "


Unit enam dan lima berdehem


" Napa leka "


( Kenapa mereka )


Aniel menatap kedua orang yang habis berdehem di belakang


" Ngak tau sayang "


Sbastian tersenyum


" Seltina aman aman tu abis akan bis an antut di tenlokan "


(Sepertinya paman paman itu habis makan bis dan nyangkut di tenggorokan )


Aniel menatap kepala unit lima dan enam


" Hahahaha ada ada saja putriku ini "


Sbastian tertawa terbahak-bahak


" Maaf jika saya banyak berbicara , itu kebiasaan buruk saya , maaf tuan "


Kepala unit tiga membungkuk


" Sudah sudah , ayo pulang "


Sbastian masuk ke dalam mobil asisten John di ikuti kepala unit empat , Sbastian duduk di bangku belakang posisi tengah dan di apit oleh Aloe dan Lao , di depan di isi asisten John dan kepala unit empat menjadi supir


" Papa papa napa aman ni itut "


( Papa papa , kenapa paman ini ikut )


Aniel menunjuk kepala unit empat


" Itu benar tuan , kenapa anda percaya padanya "


Aloe dan Lao berbisik


" Hm.... Hanya firasat saja , kalian tenanglah"


Sbastian merebahkan dirinya di sandaran kursi mobil


" Papa pek "


( Papa capek )


Aniel meletakkan hp Sbastian


" Iya , papa capek , bisakah Aniel membuat papa tidak capek lagi "


Sbastian tersenyum


" Iya "


Aniel berdiri


*Cup


Aniel mencium pipi Sbastian


" Asi pek "


( Masih capek )


Aniel menepuk pipi Sbastian


" Tidak , papa sudah tidak capek lagi haha "


Sbastian terkekeh kecil


" Papa mau akan "


( Papa mau makan )


Aniel duduk lagi


" Boleh , adek masak apa "


Sbastian duduk dengan benar


" Asak asi leng ama tan ame "


( Masak nasi goreng sama ikan gurame )


Aniel menunjukkan tangannya sebagai ikan gurame


" Wah.... Papa jadi laper "


Sbastian mengambil angin dari atas tangan Aniel


" Nan papa , tan ame lum di asak "


( Jangan papa , ikan gurame belum di masak )


Aniel mengambil lagi angin dari tangan Sbastian


" Baik baik , bisakah masak lebih cepat "


Sbastian menemani Aniel bermain


" Tak Lao anan adi ajan "


( Kak Lao tangannya jadi wajan )


Aniel mengambil tangan Lao dan tangan Aloe menjadi tempat mainannya


Setelah sampai di rumah , hanya mobil yang di tumpangi Sbastian yang boleh masuk , namun mobil mobil dan motor lainnya yang mengawal Sbastian di cegat oleh pak satpam dan para pengawal yang lain


" Kalian siapa "


Pak satpam menghadang di gerbang


" Paman "


Sbastian mendekat


" Salam tuan "


Pak satpam membungkuk hormat


" Biar mereka masuk , mereka semua orang orangku "


Sbastian membuat pak satpam membiarkan mereka semua masuk


" Kepala unit "


Begitu Sbastian berbicara , ketiga kepala unit sudah berdiri di hadapan Sbastian


" Siap tuan "


Kepala unit memberi hormat


" Nanti berkumpullah di halaman depan dengan seluruh anak buahmu , aku ingin mengenalkan seseorang "


Setelah berbicara Sbastian kembali sibuk dengan Aniel yang belum selesai bermain


" Papa maem "


( Papa makan )


Aniel menyendokkan sendok angin kepada Sbastian


" Aem.... Enak banget nasinya , lagi dong "


Sbastian berbalik dan meninggalkan mereka semua


Sbastian berjalan dengan perlahan bersama Aniel menikmati kunang-kunang buatan di taman bunga yang terbentang luas di halaman


" Papa dak apek "


( Papa ngak capek )


Permainan makam Aniel sudah selesai


" Ndak sayang , apasih yang ngak buat anak papa "


Sbastian mencium pipi Aniel


" Ayo pa , ita ke tak ean "


( Ayo pa , kita ke kak Sean )


Aniel mengajak


" Sebentar ya sayang "


Sbastian mendudukkan Aniel di kursi kayu yang ada di teras


" Siap tuan "


Unit empat , lima dan enam memberi hormat


" Aloe , panggilkan kepala Rudi , Ramlan dan luga ke sini , jaga Sean dan panggil Mao ke sini "


Sbastian memerintahkan kepada Aloe


" Siap tuan "


Aloe pergi dan tidak lama datanglah Rudi , Ramlan dan luga bersama Mao yang memimpin jalan


" Salam tuan "


Rudi , Ramlan dan luga memberi hormat


" Berdirilah di sana "


Sbastian menunjuk unit empat , lima dan enam


" Baik "


Mereka bertiga berdiri dengan tegak di samping ketiga kepala unit


" Kalian sekarang jadilah rekan yang baik , mereka dari perusahaan Doble L , ya... Aku pernah mendengar perusahaan Doble L adalah perusahaan yang menyewakan bodyguard , dan mereka di kirim oleh atasan mereka untuk menjaga putraku di sini , kalian tentu tau berapa banyak percobaan pembunuhan yang dilakukan kepada putraku , salinglah mempercayai , firasatku mengatakan mereka adalah orang-orang yang baik "


Sbastian tersenyum


" Baik tuan "


Mereka berenam memberi hormat kepada Sbastian


" Dan kalian semua "


Sbastian mengeraskan suaranya


" Siap pak "


Para anak buah memberi hormat


" Aku meminta tolong untuk menjaga anak-anakku ketika aku tidak ada , kalian bisa bertukar pengalaman dengan yang lain yang lebih lama di sini , dan dia adalah Mao , kepala pimpinan keamanan di sini , jika ada apa-apa diskusikan dengan Mao "


Sbastian menunjuk Mao yang memakai baju tidur berwarna pink


" Siap pak "


Meski mereka memberi hormat , namun bisik bisik mulai terdengar saat Sbastian berbalik


" Apa saya perlu meyakinkan mereka tuan"


Mao bertanya kepada Sbastian


" Terserah kau saja , aku mau istirahat "


Sbastian menghampiri Aniel dan membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Maaf , apa saya boleh bertanya nona Mao"


Unit lima mengangkat tangannya


" Silahkan "


Mao mempersilahkan


" Apakah anda... Ekhem... Bukannya lancang , namun apakan anda mampu mengatur pasukan sebanyak ini "


Unit lima sedikit meragukan kemampuan Mao


" Mau mencoba kah "


Mao memberi kesempatan


" Saya sarankan jangan "


Rudi yang berdiri di samping unit empat berbisik


" Tuan Rudi , sepertinya anda sudah kapok"


Mao menyindir Rudi


" Maaf nona , tapi saya tidak ingin bertanding dengan seorang wanita "


Rudi membuat Mao terkekeh


" Oh... "


Mao mengangguk


Di dalam kamar


" Papa papa "


Aniel melihat dari jendela kaca kamar Sean , terjadi beberapa pertandingan di bawah


" Iya sayang "


Sbastian menoleh


" Napa leka "


( Kenapa mereka )


Aniel yang masih mengenakan mukena anak-anak melepaskan mukenanya


" biarkan sayang "


Sbastian mulai membaca kitabnya di samping telinga Sean


" Tatak ean , eleka ucu hahaha "


( Kakak Sean , mereka lucu hahaha )


Aniel berbicara dengan Sean meski matanya masih melihat ke bawah

__ADS_1


__ADS_2