
" Aniel sayang "
Sbastian berteriak di ruang makan
" Iya papa "
Aniel dengan gaun balon merah se lutut dengan rambut di kepang satu di belakang berlari dari ruang tamu menuju Sbastian
" Pelan pelan nona , nanti nona jatuh "
Lao berusaha mengimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Aniel
" Sarapan sayang , ayo "
Suara Sbastian kembali menggema
" Ungu papa "
( Tunggu papa )
Aniel membalas teriakan Sbastian
" Aukna apa papa "
( Lauknya apa papa )
Aniel berhenti di samping Sbastian
" Ikan gurame "
Sbastian menaikkan Aniel ke atas kursinya
" Hali ni iel itut ke antol ya "
( Hari ini Aniel ikut ke kantor ya )
Aniel menatap Sbastian
" Iya sayang "
Sbastian mengiyakan
" Tak ean dah angun lum "
( Kak Sean udah bangun belum )
Aniel menatap Aloe , pertanyaan ini selalu di tanyakan Aniel setiap pagi sebelum sarapan dan setiap malam sebelum tidur
" Belum nona , tapi kata kak Mao tuan muda lebih baik sekarang "
Aloe memberitahu
" makan dulu nanti kita kek kak Sean "
Sbastian memberikan seporsi nasi bubur dan ikan gurame , aneh memang , tapi semua yang bisa di makan akan di makan oleh Aniel , umurnya memang tidak sesuai jika memakan makanan seperti itu , namun bagi Aniel dirinya tidak boleh mensia-siakan makanan
" yo pa yo , iel dah bis mam "
( Ayo pa ayo , Aniel udah habis makan )
Aniel meletakkan sendoknya
" Iya iya , minum dulu susunya "
Sbastian memberikan segelas susu dan Aniel langsung meminumnya hingga ludes tak tersisa
" Dah "
Aniel meletakkan susunya
" Biar kami bersihkan tuan "
Para maid mengambil alih piring kotor di atas meja
" Kalau begitu ayo "
Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya dan berjalan menuju lantai tiga di ikuti Aloe dan Lao menggunakan anak tangga
" Tuan "
Asisten John memanggil saat Sbastian saat Sbastian sudah separuh jalan
" Ada keadaan darurat "
Asisten John berlari menyusul Sbastian
" Ceritakan "
Sbastian tetap berjalan di ikuti asisten John
"Anak Perusahaan di Canada sedang dalam masalah , petinggi di sana banyak mengkorupsi dana suntikan dan anak perusahaan di sana terancam di tutup "
Asisten John menjelaskan dengan cepat
" Aku tidak bisa meninggalkan putraku "
Sbastian masuk ke dalam kamar Sbastian di ikuti asisten John
" Tapi kami tidak bisa mewakilkan , dan lagi rekan kerja di sana sudah tidak mempercayai anak perusahaan lagi "
Asisten John memberikan alasan
" Tapi Sean "
Sbastian keluar dari kamarnya dan berhenti saat hendak membuka pintu kamar rawat Sean
" Tak ean al ama iel aja "
( Kak Sean biar sama Aniel saja )
Aniel menatap Sbastian
" Papa ngak bisa tinggalin kalian berdua "
Sbastian masuk dan terlihat Sean yang baru selesai di seka dengan air hangat oleh Mao
" Iel bisa ko aga tak ean "
( Aniel bisa kok jaga kak Sean )
Aniel dengan percaya diri menepuk dadanya
" Bukannya gitu sayang , papa khawatir sama kalian berdua "
Sbastian membelai pipi Aniel
" Nini lho papa , tak ean da iel , da bi Mao , tak loe , pan ludi dan man mana "
( Gini lho papa , kak Sean ada Aniel , ada bi Mao , kak Aloe , paman Rudi dan teman temannya)
Aniel menepuk-nepuk pipi Sbastian
" Tetap saja sayang , jika bisa papa akan membawa kalian "
Sbastian duduk di samping Sean dan menggenggam tangan Sean
" Papa nih... Dala papa , papa lus inel , nan atal "
( Papa nih... Sudahlah papa , papa harus pinter , jangan nakal )
Aniel melipat tangannya di atas dada
" Baik baik , papa kalah sama anak papa "
Sbastian mencium pipi Aniel
" hahahaha , tak ean papa atal ya "
( Hahaha , kak Sean papa nakal ya )
Aniel terkekeh
" Baiklah , besok aku berangkat , tapi jangan sampai pekerjaan di tunda , aku harus segera pulang "
Sbastian memutuskan dengan berat hati
" Sean , papa kerja dulu ya sayang , kamu cepat bangun ya "
Sbastian mencium kening Sean lama
" Dah.. dah.. iel lum ium tatak "
( Udah.. udah.. Aniel belum cium kakak )
Aniel terlihat merajuk
" Hahaha , cium kakak sana "
Sbastian menurunkan Aniel di samping Sean
Aniel mencium pipi Sean dengan hati-hati tanpa mengusik alat medis Sean
" Tak ean , aman lulu iel awa ya , li ni tatak ama umba-umba "
( Kak Sean , paman Lulu Aniel bawa ya , hari ini kakak sama lumba-lumba )
Aniel meletakkan boneka Lumba-lumba di samping Sean
" Tak ean petan adal , papa ma iel tunu tak ean "
( Kak Sean cepetan sadar , papa sama Aniel tunggu kak Sean )
Aniel mencium punggung tangan Sean
* Grep
Sean merespon , Sean menggenggam tangan Aniel dan membuat Aniel terkejut
" Mao Mao "
Sbastian memanggil
" Ini lebih baik , bukan hanya tuan , tapi nona muda juga , saya yakin tuan muda akan sadar sebentar lagi , ini ikatan batin yang kuat "
Mao tersenyum
" Benar Mao , anak anakku memiliki ikatan batin satu sama lain "
Sbastian tersenyum senang
" Ayo sayang , kita berangkat "
Sbastian melepaskan genggaman Sean
" Papa berangkat dulu "
Sbastian mencium tangan Sean dan berdiri membawa Aniel pergi
Sbastian masuk ke dalam mobil bersama asisten John dan Aloe mengemudikan mobil bersama Lao di bangku depan , setelah beberapa saat akhirnya Sbastian dan lainnya sampai di perusahaan
" Anak papa jangan rewel ya "
Sbastian memberikan Aniel kepada Lao
Sbastian berlarian kesana kemari mengurus semuanya agar cepat selesai , sedangkan Aniel berada di dalam ruang kantor Sbastian di lantai paling atas
" Lao Lao , iel osen , alu ada tak ean mana ya asanya "
( Lao Lao , Aniel bosen , kalau ada kak Sean gimana ya rasanya )
Aniel berguling-guling di atas sofa
" Nona muda mau main apa lho "
Lao berlutut di depan Aniel
" Humph... Gatau "
Aniel memejamkan matanya
" Nona muda tidur saja ya "
Lao meletakkan Aniel di dalam pangkuannya dan mulai meninabobokan Aniel hingga benar-benar tertidur
Sbastian berkali-kali keluar masuk kantor , pertemuan dengan kolega di cafe dekat kantor , meninjau kembali proyek , melihat barang jadi perusahaan , Sbastian benar-benar sibuk hingga melupakan Aniel yang sedang tidur di ruangannya
" Astagfirullah anakku masih di atas "
Sbastian yang sudah bersiap pulang di lobi kembali naik ke lantai atas
" Aniel "
Sbastian masuk dan melihat Lao tertidur sambil duduk menggendong Aniel
" Kak Lao , kak Lao "
Aloe membangunkan Lao
" Kemarikan Aniel , kamu bisa istirahat di mobil nanti "
Sbastian menggendong Aniel dan membawanya turun ke bawah menggunakan lift bersama Aloe dan Lao
" Tunggu tuan "
Saat hampir keluar dari pintu lobi , Aloe menghentikan Sbastian
* Syut
Aloe berubah menjadi macan dan membuat Sbastian dan Lao waspada
" Mereka datang "
Lao membuat Aloe melompat dan menghilang sedangkan Lao sendiri berdiri membawa pedang di depan Sbastian yang sudah terpojok di dinding
" Hahahaha , sepertinya tuan besar sedang sendiri tanpa pengawal "
Suara tawa para pria membuat Aniel terbangun
" Papa "
Aniel menatap Sbastian
" Sssttt jangan mengeluarkan suara sayang"
Sbastian memasukkan Aniel ke dalam jas nya dan memeluknya dengan erat
" Hehe saya kira tuan besar akan membawa banyak pasukan , ternyata hanya satu orang wanita "
Muncullah pria pria berotot yang keluar dari berbagai ruangan dan pintu membuat Sbastian terkejut
" Hahaha , aku kira singa ternyata hanya kecoa "
Lao memasukkan kembali pedangnya yang hilang ntah kemana
" Jangan meremehkan kami hai wanita muda , bagaimana jika kamu memuaskan kami , ini akan menjadi sesuatu yang setimpal dengan usaha kami ".
Salah satu pria di sana terlihat berjalan mendekat
" Lao "
Sbastian berbisik
__ADS_1
" Tidak perlu panik tuan , silahkan duduk dan nikmati semua yang anda lihat "
Lao memberikan satu kursi terdekat
" Baik baik "
Sbastian duduk dan mengeluarkan Aniel dari balik jas nya
" Papa "
Aniel menatap Sbastian
" Aniel , mainkan saja hp papa "
Sbastian memberikan teman gepengnya
" Meka da pa "
( Mereka ada apa )
Aniel bertanya saat menoleh dan melihat banyak sekali orang-orang yang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah
" Mereka.... Temannya kak Lao , apa Aniel tau sesuatu "
Sbastian mengalihkan pembicaraan
" Apa "
Aniel menatap papanya
" Aniel mirip lho dengan seseorang "
Sbastian mengusap kepala Aniel
" Capa "
( Siapa )
Aniel memiringkan kepalanya
" Hm..... Papa dong , kan Aniel anak papa "
Sbastian menoel pipi Aniel
" Hemmm... "
Aniel menatap papanya datar
" Iya iya , anak papa mau tanya apa "
Sbastian tau candaannya garing
" Pa mama iel cama,cama mama tak ean "
( Apa mama Aniel sama , sama mama kak Sean )
Aniel membuat Sbastian terdiam sejenak
" Beda sayang , mamanya kak Sean di panggil bunda "
Sbastian mengambil hp dari tangan Aniel
" Papa punya fotonya "
Sbastian menunjukkan foto pernikahannya dengan Adinda
" Waaaahhhh , mama tak ean tantik nget , tok mama tak ean atek ini "
( Waaaahhhh , mama kak Sean cantik banget , kok mama kak Sean pakek ini )
Aniel menunjuk kerudung adinda
" Ini namanya kerudung "
Sbastian menunjukkan foto foto Adinda yang lain hingga berhenti di foto terakhir adinda dengan putra kecilnya
" apa ni tak ean "
( Apa ini kak Sean )
Aniel menunjuk Adimas
" Hahaha , apa dia tampan "
Sbastian membelai rambut Aniel
" Iya , api eda tayak oto di tamal papa "
( Iya , tapi beda kayak foto di kamar papa )
Aniel mengingat ada foto bayi di kamar papanya dengan dengan tulisan Sean Ken Sora
" Dari mana Aniel tau nama di foto itu namanya kak Sean "
" Iel anya bi Mao "
( Aniel tanya bi Mao )
" Iel au oba tayak mama tak ean "
( Aniel mau coba kayak mama kak Sean )
Aniel menunjuk kerudung Adinda
" Aniel mau coba "
Sbastian terkejut
" Ya , apa dak ole "
( Ya , apa ngak boleh )
Aniel menunduk lesu
" Boleh dong sayang , nanti papa belikan "
Sbastian tersenyum senang
" Oya papa , iel lum olat Isak "
( Oh ya papa , Aniel belum sholat isya' )
Aniel menepuk keningnya
" Nanti sholat sama papa ya "
Sbastian tersenyum , putri kecilnya tidak seperti Stella yang benar-benar tidak mau di ajak untuk berhijrah ke dalam Islam
" Otey "
Aniel tersenyum senang
" Tuan , mari pulang , kami sudah selesai "
Lao membuat Sbastian menoleh ke sekeliling
" Kalian kemanakan mereka "
Sbastian menatap Aloe dan Lao heran
" Mereka semua di depan tuan "
Aloe menunjuk halaman kantor
" Ayo sayang , kita pulang "
Sbastian membawa Aniel yang masih melihat lihat foto dan video adinda
" Kami lalai tuan , kami minta maaf "
Para manusia yang terlihat seperti seorang bodyguard meminta maaf secara bersamaan
" Kalian ini siapa "
Sbastian menatap tiga orang yang terlihat memimpin di depan
" Lapor tuan , saya memimpin kesatuan unit empat "
Salah satu dari pria yang paling ujung berdiri dan memberi hormat
" Saya kesatuan unit lima "
" Saya kesatuan unit enam "
Ketiga pria itu memberi hormat
" Kalian dari perusahaan mana "
Sbastian menatap mereka heran
" Kami datang cabang dari perusahaan Doble L "
Mereka menjawab
" Siapa yang mengirim kalian "
Sbastian mulai penasaran
" Siap , yang mengirim kami tuan Concealing "
Kepala unit empat menjawab
" Kenapa dia mengirim kalian "
Sbastian memincingkan matanya
" Siap , tuan Concealing bilang beliau mengenal anda dengan sangat baik "
Kepala unit empat menjawab
" Kenapa namanya sangat panjang dan rumit "
Sbastian menggerutu
" Siap , biasanya beliau di panggil tuan Coce"
Unit empat kembali menjawab
" Coce , kenapa namanya jadi lucu haha "
Sbastian terkekeh
" Apa aku bisa bertemu dengan tuan Coce "
Sbastian bertanya
" Siap tuan , kami ke sini dengan harapan Anda tau tentang tuan Coce "
Unit empat menjawab
" Aku bahkan baru mendengar namanya , dan kalian anak buahnya tidak tau bos kalian sendiri "
Sbastian menjawab dengan datar
" Siap maafkan kami tuan "
Kepala unit empat kembali menjawab
" Apa kalian tidak lelah hormat dan berlutut seperti itu "
Sbastian menaikkan alisnya
" Siap , kami sudah terbiasa "
Unit empat menjawab lagi
" Terbiasa "
Sbastian membayangkan pelatihan mereka seperti tentara
" Siap , kami sudah di latih untuk hormat kepada sang saka merah putih selama tiga jam berturut-turut "
Kepala unit empat menjawab
" Itu bentuk penyiksaan "
Sbastian membatin
" Sudah sudah , bersikaplah seperti biasa saja , tidak perlu terlalu formal "
Sbastian berjalan
" Siap , terimakasih tuan "
Ketiga kepala unit menurunkan tangannya dan di ikuti seluruh anggota unit
" Tuan "
Asisten John tiba dan turun dari mobilnya
" Maaf saya telat , apa anda baik-baik saja "
Asisten John membungkuk
" Tidak , terimakasih kamu sudah datang , ayo pulang "
Sbastian menepuk pundak asisten John
" Maaf tuan "
Unit empat menghampiri
" Saya di tugaskan untuk menjadi sopir pribadi anda sejak saat ini "
Kepala unit empat membungkuk
" Apa buktinya "
Sbastian agak was-was
" Ini rekaman suara dari tuan Coce "
Unit empat memberikan rekaman suara
`` Selamat malam tuan Sbastian , maaf saya masih belum bisa bertemu anda , namun saya mengirimkan unit empat , lima dan enam , mereka unit elit kami untuk menjaga anda mulai sekarang , dan saya memerintahkan kepada kepala unit tiga untuk menjadi sopir dan bodyguard untuk anda , saya tau kita belum pernah bertemu , namun anda bisa percaya kepada saya , saat ini saya masih belum bisa menemui anda , saya hanya bisa membalas Budi anda dengan cara seperti ini , salam hormat dari perusahaan Doble L , saya Concealing memberi hormat kepada tuan Sbastian ``
Rekaman suara berakhir , suara tuan Coce sangatlah lucu , mungkin menggunakan efek , menjadikan suaranya seperti anak kecil berusia lima tahun dan itu membuat Sbastian terkekeh
" Suaranya jadi seperti Sean hahaha "
Sbastian terkekeh kecil
" Oh... Tuan muda Sean , tuan Coce juga banyak menceritakan tentang tuan muda , kata tuan Coce tuan muda adalah anak yang cerdas "
Kepala unit empat berkata dengan serius dengan penuh kekaguman
" Tuan Coce juga bercerita tentang Sean "
Sbastian terkejut
" Iya tuan , namun saya tidak pernah mendengar tentang nona muda ini "
__ADS_1
Kepala unit tiga menunjuk Aniel
" Ini putriku "
Sbastian tersenyum dan mencium kening Aniel
" Ekhemm... Ekhem.. "
Unit enam dan lima berdehem
" Napa leka "
( Kenapa mereka )
Aniel menatap kedua orang yang habis berdehem di belakang
" Ngak tau sayang "
Sbastian tersenyum
" Seltina aman aman tu abis akan bis an antut di tenlokan "
(Sepertinya paman paman itu habis makan bis dan nyangkut di tenggorokan )
Aniel menatap kepala unit lima dan enam
" Hahahaha ada ada saja putriku ini "
Sbastian tertawa terbahak-bahak
" Maaf jika saya banyak berbicara , itu kebiasaan buruk saya , maaf tuan "
Kepala unit tiga membungkuk
" Sudah sudah , ayo pulang "
Sbastian masuk ke dalam mobil asisten John di ikuti kepala unit empat , Sbastian duduk di bangku belakang posisi tengah dan di apit oleh Aloe dan Lao , di depan di isi asisten John dan kepala unit empat menjadi supir
" Papa papa napa aman ni itut "
( Papa papa , kenapa paman ini ikut )
Aniel menunjuk kepala unit empat
" Itu benar tuan , kenapa anda percaya padanya "
Aloe dan Lao berbisik
" Hm.... Hanya firasat saja , kalian tenanglah"
Sbastian merebahkan dirinya di sandaran kursi mobil
" Papa pek "
( Papa capek )
Aniel meletakkan hp Sbastian
" Iya , papa capek , bisakah Aniel membuat papa tidak capek lagi "
Sbastian tersenyum
" Iya "
Aniel berdiri
*Cup
Aniel mencium pipi Sbastian
" Asi pek "
( Masih capek )
Aniel menepuk pipi Sbastian
" Tidak , papa sudah tidak capek lagi haha "
Sbastian terkekeh kecil
" Papa mau akan "
( Papa mau makan )
Aniel duduk lagi
" Boleh , adek masak apa "
Sbastian duduk dengan benar
" Asak asi leng ama tan ame "
( Masak nasi goreng sama ikan gurame )
Aniel menunjukkan tangannya sebagai ikan gurame
" Wah.... Papa jadi laper "
Sbastian mengambil angin dari atas tangan Aniel
" Nan papa , tan ame lum di asak "
( Jangan papa , ikan gurame belum di masak )
Aniel mengambil lagi angin dari tangan Sbastian
" Baik baik , bisakah masak lebih cepat "
Sbastian menemani Aniel bermain
" Tak Lao anan adi ajan "
( Kak Lao tangannya jadi wajan )
Aniel mengambil tangan Lao dan tangan Aloe menjadi tempat mainannya
Setelah sampai di rumah , hanya mobil yang di tumpangi Sbastian yang boleh masuk , namun mobil mobil dan motor lainnya yang mengawal Sbastian di cegat oleh pak satpam dan para pengawal yang lain
" Kalian siapa "
Pak satpam menghadang di gerbang
" Paman "
Sbastian mendekat
" Salam tuan "
Pak satpam membungkuk hormat
" Biar mereka masuk , mereka semua orang orangku "
Sbastian membuat pak satpam membiarkan mereka semua masuk
" Kepala unit "
Begitu Sbastian berbicara , ketiga kepala unit sudah berdiri di hadapan Sbastian
" Siap tuan "
Kepala unit memberi hormat
" Nanti berkumpullah di halaman depan dengan seluruh anak buahmu , aku ingin mengenalkan seseorang "
Setelah berbicara Sbastian kembali sibuk dengan Aniel yang belum selesai bermain
" Papa maem "
( Papa makan )
Aniel menyendokkan sendok angin kepada Sbastian
" Aem.... Enak banget nasinya , lagi dong "
Sbastian berbalik dan meninggalkan mereka semua
Sbastian berjalan dengan perlahan bersama Aniel menikmati kunang-kunang buatan di taman bunga yang terbentang luas di halaman
" Papa dak apek "
( Papa ngak capek )
Permainan makam Aniel sudah selesai
" Ndak sayang , apasih yang ngak buat anak papa "
Sbastian mencium pipi Aniel
" Ayo pa , ita ke tak ean "
( Ayo pa , kita ke kak Sean )
Aniel mengajak
" Sebentar ya sayang "
Sbastian mendudukkan Aniel di kursi kayu yang ada di teras
" Siap tuan "
Unit empat , lima dan enam memberi hormat
" Aloe , panggilkan kepala Rudi , Ramlan dan luga ke sini , jaga Sean dan panggil Mao ke sini "
Sbastian memerintahkan kepada Aloe
" Siap tuan "
Aloe pergi dan tidak lama datanglah Rudi , Ramlan dan luga bersama Mao yang memimpin jalan
" Salam tuan "
Rudi , Ramlan dan luga memberi hormat
" Berdirilah di sana "
Sbastian menunjuk unit empat , lima dan enam
" Baik "
Mereka bertiga berdiri dengan tegak di samping ketiga kepala unit
" Kalian sekarang jadilah rekan yang baik , mereka dari perusahaan Doble L , ya... Aku pernah mendengar perusahaan Doble L adalah perusahaan yang menyewakan bodyguard , dan mereka di kirim oleh atasan mereka untuk menjaga putraku di sini , kalian tentu tau berapa banyak percobaan pembunuhan yang dilakukan kepada putraku , salinglah mempercayai , firasatku mengatakan mereka adalah orang-orang yang baik "
Sbastian tersenyum
" Baik tuan "
Mereka berenam memberi hormat kepada Sbastian
" Dan kalian semua "
Sbastian mengeraskan suaranya
" Siap pak "
Para anak buah memberi hormat
" Aku meminta tolong untuk menjaga anak-anakku ketika aku tidak ada , kalian bisa bertukar pengalaman dengan yang lain yang lebih lama di sini , dan dia adalah Mao , kepala pimpinan keamanan di sini , jika ada apa-apa diskusikan dengan Mao "
Sbastian menunjuk Mao yang memakai baju tidur berwarna pink
" Siap pak "
Meski mereka memberi hormat , namun bisik bisik mulai terdengar saat Sbastian berbalik
" Apa saya perlu meyakinkan mereka tuan"
Mao bertanya kepada Sbastian
" Terserah kau saja , aku mau istirahat "
Sbastian menghampiri Aniel dan membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Maaf , apa saya boleh bertanya nona Mao"
Unit lima mengangkat tangannya
" Silahkan "
Mao mempersilahkan
" Apakah anda... Ekhem... Bukannya lancang , namun apakan anda mampu mengatur pasukan sebanyak ini "
Unit lima sedikit meragukan kemampuan Mao
" Mau mencoba kah "
Mao memberi kesempatan
" Saya sarankan jangan "
Rudi yang berdiri di samping unit empat berbisik
" Tuan Rudi , sepertinya anda sudah kapok"
Mao menyindir Rudi
" Maaf nona , tapi saya tidak ingin bertanding dengan seorang wanita "
Rudi membuat Mao terkekeh
" Oh... "
Mao mengangguk
Di dalam kamar
" Papa papa "
Aniel melihat dari jendela kaca kamar Sean , terjadi beberapa pertandingan di bawah
" Iya sayang "
Sbastian menoleh
" Napa leka "
( Kenapa mereka )
Aniel yang masih mengenakan mukena anak-anak melepaskan mukenanya
" biarkan sayang "
Sbastian mulai membaca kitabnya di samping telinga Sean
" Tatak ean , eleka ucu hahaha "
( Kakak Sean , mereka lucu hahaha )
Aniel berbicara dengan Sean meski matanya masih melihat ke bawah
__ADS_1