Aku Pangeran

Aku Pangeran
#72 ( Halo sayang )


__ADS_3

Sembilan bulan berlalu sejak kabar bahwa Stella sedang mengandung putra Sbastian , Sbastian selalu menuruti apa keinginan Stella saat mengandung , Sbastian memberikan apapun yang Stella minta untuk calon anak di perut Stella , Sbastian meminta pada Mao untuk mengirim dua penjaga wanita agar Stella tidak sampai melukai calon anaknya , Stella di berikan perawatan agar stres berat yang di deritanya sembuh


Pagi ini di rumah sakit pukul 05:00


" Bagaimana dokter "


Sbastian menghadap dokter spesialis kandungan


" Keadaan nyonya sehat dan stabil , menunggu pembukaan untuk melahirkan juga akan selesai sebentar lagi "


Dokter tersenyum


" Ngak , aku mau operasi , ngak mau ngelahirin biasa , aku ngak mau kalau aku ngak bisa jalan normal , pokoknya aku ngak mau "


Stella menolak meski dengan menahan rasa sakit pembukaan persiapan kelahiran


" Baiklah , lakukan apa yang dia minta dok"


Sbastian tersenyum


" Baik tuan "


Dokter mengangguk dan mempersiapkan operasi Caesar untuk Stella meski kondisinya baik untuk melahirkan secara normal


" Kamu memang sangat berbeda dari Adindaku sayang , Adindaku sayang lebih memilih melahirkan normal dan menikmati rasa sakit di saat akan melahirkan "


Sbastian menatap Stella


" Nyonya , tuan , ruangan operasi sudah siap"


Salah satu suster masuk dan memberitahu


" Baik , dia sudah siap , tolong lakukan sebaik mungkin "


Sbastian mempersilahkan suster


" Anakku akan lahir , aku akan menunggumu sayangnya papa "


Sbastian tersenyum senang


" Sean. Tunggu papa di rumah ya , papa akan pulang nanti "


Sbastian menatap foto Sean di layar hp nya


Stella di masukkan ke dalam ruang operasi selama kurang lebih dua jam hingga terdengar suara tangisan bayi yang sangat merdu di telinga Sbastian , tangisan yang membuat Sbastian tersenyum senang dan mengucapkan syukur sebesar-besarnya


Setelah beberapa saat keluarlah seorang perawat


" Tuan , anda di persilahkan masuk "


Perawat memberi jalan


" Terimakasih "


Sbastian yang sedari tadi menunggu di dekat pintu mengikuti arahan dari perawat untuk masuk ke dalam dan meninggalkan Aloe di luar


" Selamat tuan , anda memiliki seorang putri yang sangat cantik "


Dokter memberikan seorang bayi cantik yang terlihat tubuhnya masih merah


" Wah... Anak papa cantik sekali "


Sbastian mengadzani dan melafalkan iqomah di telinga putri kecilnya


" Apa dia sudah selesai "


Sbastian sambil menggendong putrinya , melihat Stella yang masih di jahit di bagian perutnya


" Mari saya letakkan adik bayi di box bayinya di ruang rawat nyonya , setelah ini saya akan meletakkan nyonya di ruang rawatnya "


Dokter mengambil bayi perempuan Sbastian dan menggendongnya menuju ruang rawat Stella


" Terimakasih "


Sbastian tersenyum kepada Stella


" Sama-sama suamiku "


Stella tersenyum manis


Stella di pindah ke ruang rawat di lantai atas bersama putri cantik Sbastian


" Nyonya , saatnya menyusui gadis kecil "


Salah satu perawat membawa gadis kecil Sbastian menuju Stella


" Terimakasih suster "


Stella tersenyum


" Siapa namanya "


Stella membelai lembut wajah putri kecilnya


" Namanya Alinda kana Sora "


Sbastian menamai putri kecilnya


" wah... Lalu kita memanggilnya apa "


Stella menyusui putri kecilnya sambil menatap Sbastian


" Aniel , kita memanggilnya Aniel "


Sbastian membelai lembut kepala botak Aniel


Seminggu Stella di rawat di RS , seminggu juga Sbastian bolak-balik rumah - RS - kantor , untuk melakukan semua tugasnya sebagai ayah , Sbastian melakukan semua itu dengan ikhlas dan sabar , Stella terlihat berbeda setelah melahirkan , terlihat wajah keibuannya sangat menyayangi Aniel , yah... Tidak ada yang tau isi hati manusia


" Ayo , hati-hati "


Sbastian membawa Stella pulang ke rumah dengan di sambut keluarga besar Sbastian dan Stella


" Wah... Lihat cucuku , sangat cantik "


Para nenek mendekati Stella yang sedang menggendong Aniel


" Dia itu anakku "


Sbastian mengambil Aniel dari gendongan Stella


" Bantu Stella duduk "


Sbastian menyerahkan Stella kepada para maid


" Mari nyonya "


Para maid membantu Stella duduk di sofa


" Mama mau melihatnya "


Mama Sbastian mendekati Sbastian


" Menantu , mama juga mau melihatnya "


Nyonya rose yang notabenenya ibu dari Stella ikut mengejar Sbastian


" Dia anakku , tidak boleh , nanti aku tidak melihat anakku seharian "


Sbastian berlari dari kejaran para wanita di sana hingga paviliun pak Sam di belakang bersama Aloe


" Assalamualaikum ayah "


Sbastian masuk di ikuti Aloe


" Wa'alaikum salam anakku "


Pak Sam berdiri


" Ini cucu ayah , namanya Aniel "


Sbastian menunjukkan Aniel kepada pak Sam


" Mirip sepertimu "


Pak Sam tersenyum dan mencium pipi merah Aniel


" Ayah , Tian selama Stella hamil selalu berpuasa dan berdoa agar anakku tidak mewarisi sifat ibunya dan ayahnya yang buruk , Tian mengikuti perintah Abah yai dulu saat adinda sedang mengandung Adimas dan juga Tian berpuasa dan meminta saat Sean hadir selama satu tahun penuh , Tian tidak akan melupakan semua itu , doa orang tua adalah yang terbaik untuk anak anaknya , Tian ingin anak anak Tian menjadi anak yang mulia "


Sbastian tersenyum


" Kamu benar anakku , kamu benar "


Pak Sam tersenyum


" Pergilah temui Sean , kamu sering meninggalkan Sean selama seminggu ini "


Pak Sam membelai lembut kepala Aniel


" Tian tau ayah , Tian akan kesana sekarang"


Sbastian mencium tangan pak Sam dan berlalu pergi


" Mas... Kemana "


Stella bertanya saat Sbastian hendak menaiki lift


" Mau ke kamar tiga "


Sbastian masuk dan memencet tombol lift


" Mas "


Stella berdiri hendak menyusul namun lift sudah bergerak


" Apa itu kamar tiga "


Ibu Stella bertanya


" Kamar tempat putranya di rawat "


Stella menjawab


" Anak buangan itu "


Mama mengangguk-angguk


" Anak buangan "


Nyonya rose menoleh


" Ya.... Sbastian menemukan anak itu dan dia memungutnya , setelah itu dia merawatnya dan sekarang anak buangan itu sedang koma "


Mama menyeruput secangkir teh di atas meja


Di kamar rawat


" Assalamualaikum anak papa , papa datang "


Sbastian masuk ke dalam kamar rawat Sean dengan senyum yang merekah


" Lihat adik kecilmu , dia sangat cantik , namanya Aniel"


Sbastian duduk dan membelai kepala Sean , rambut Sean kini sudah agak panjang , tubuhnya bertumbuh sedikit lebih tinggi dari beberapa bulan yang lalu


" Jangan tidur terus dong sayang , kasihan adiknya nanti kesepian "


Sbastian meletakkan putri kecilnya di samping Sean


" Papa namakan dia Aniel itu di ambil dari nama bundamu Adin , adinda dan alinda tapi papa lebih suka panggil Aniel , ntah hehehe"


Sbastian tersenyum senang


" Kamu tau sayang , papa sangat menunggu kehadirannya , hari ini hari terakhir papa puasa untuk adik , dan papa akan kembali berpuasa untuk kesembuhanmu "


Sbastian mencium tangan Sean , seperti sebelumnya , Sean merespon , menggenggam tangan Sbastian dengan erat


" Papa di sini , cepat sadar ya , papa menunggumu "


Sbastian mencium kening Sean lama dan membawa Aniel ke dalam gendongannya


Sbastian membawa Aniel turun ke lantai bawah dan di sambut oleh keluarga besar yang tiba-tiba menyerbu Sbastian


" Lho..lho.. ini anak Sbastian , yang lain ngak boleh gendong "


Sbastian memeluk Aniel erat


" Kakak jahat , lion kan cuma mau gendong adek bayi , kakak jahat "


Leon menginjak kaki Sbastian dengan keras


" Hahahaha "


Tawa pecah di ruang tamu , para saudara yang berkumpul terlihat senang melihat pertengkaran kecil antara ketiga saudara yang sedari dulu jarang berkumpul


" Bentar aja lho "


Sbastian memberikan Aniel kepada liona


" Mama , lucu ya adek nya "

__ADS_1


Lion langsung berbagi Aniel dengan sepupunya yang lain


" Bagaimana keadaanmu "


Sbastian menatap Leon


" Kemonya udah selesai , dan lion sekarang sedang menjalankan pengobatan terakhir , Leon hanya perlu minum vitamin dan menjaga kesehatan saja "


Leon menjawab dengan senyuman


" Jangan sakit lagi , cukup sudah Sean yang menderita sekarang , kakak tidak tega melihat kalian jika dalam kondisi lemah "


Sbastian memeluk Leon


" Apa mama tau "


Sbastian melirik mamanya yang terlihat bahagia


" Tidak , papa juga , meski rencananya mau kasih tau papa , tapi ngak jadi , Leon ngak bisa , Leon takut mereka bersedih , cukup kakak saja yang tau "


Leon tersenyum


" Kamu memang pandai "


Sbastian menepuk-nepuk kepala lion


Satu tahun berlalu , saat ini ocehan-ocehan seorang anak yang di harapkan Sbastian tidak sesuai dengan yang dia bayangkan saat Sean masih kecil dulu , Aniel lebih banyak diam dan tidak menatap Sbastian tiga bulan terakhir , Aniel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Stella yang selalu keluar dari kediaman sejak pagi dan kembali malam hari dengan membawa banyak barang belanjaan


Seperti malam ini , Sbastian yang sedang sibuk duduk dan meluruhkan air matanya di atas sajadah panjang di samping ranjang Sean di kejutkan dengan Mao yang memberitahu bahwa istrinya malam ini sedang ada di bar terkenal di pusat kota


" Dimana Aniel "


Sbastian menghapus air matanya dan berdiri


" Nona sedang ada di ruang tamu "


Mao menjawab


" Papa turun dulu sayang "


Sbastian mencium kening Sean penuh kasih sayang


Sbastian menuruni tangga dengan cepat , dari lantai tiga menuju lantai dasar tempat Aniel berada


" Aniel "


Sbastian memanggil


" Ya papa "


Aniel menoleh


Aniel , anak gadis Sbastian yang pendiam , gadis berumur satu tahun yang tidak banyak bicara itu terasa tidak normal di mata Sbastian , tidak pernah mau mandi jika tidak dengan mamanya , bahkan selalu memakai baju dengan lengan dan kerah yang panjang yang sama , terkadang baju yang sama di pakai dalam dua hari


" Dimana mamamu "


Sbastian berlutut di depan Aniel


" Ndak "


Anie tidak berani menatap manik mata Sbastian


" Nak.. kenapa kamu seperti ini , apa salah papa hingga kamu tidak pernah mau berbicara dengan papa , papa itu sangat sayang dengan kamu , setidaknya terbukalah dengan papa , kenapa nak "


Sbastian membelai lembut kepala Aniel


" Ni apapa , ni au tidul kalang "


( Anie ngak papa , Anie mau tidur sekarang )


Aniel turun dari sofa dan beranjak pergi


" ANIE BERHENTI , AKU LELAH , PIJIT AKU DI KAMAR "


Suara teriakan Stella membuat Aniel yang tadinya berjalan menjadi berhenti


" ya mama "


Aniel menghampiri Stella


" Ayo Anie l, aku tidak suka berlama-lama "


Stella yang sedang dalam keadaan mabuk menarik rambut panjang Aniel


" Aaf... Ma aaf... "


( Maaf... Ma maaf... )


Aniel meringis kesakitan


*Plak


Sbastian memukul tangan Stella dan membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Apa apaan kamu , kembalikan Aniel , dia itu pelayanku "


Stella menarik tangan Aniel


* Plak


Sbastian kembali menepis tangan Stella


" Kenapa dia melunjak "


Sbastian mundur ke belakang


" Epas... Epasin atu..MAMA MAMA , EPASIN NI EPAS EPAS "


( Lepas... Lepasin aku..MAMA MAMA , LEPASIN ANIEL LEPAS )


Anie memberontak di dalam gendongan Sbastian


" Nak nak , tenang nak tenang "


Sbastian memeluk Aniel namun Aniel semakin memberontak dan berteriak


" Panggil Mao sekarang "


Sbastian memeluk Aniel dengan erat dan menjauh dari Stella yang terlihat masih terpengaruh minuman keras


" Epas...epas... EPASIN NI AAAAA "


( Lepas...lepas... LEPASIN ANIE AAAAA )


Aniel berteriak dan memukul mukul Sbastian , membuat Sbastian kewalahan


* Pluk


" Mao "


Sbastian terkejut melihat Mao yang mendekati Stella


*Bug


Mao memukul tengkuk Stella dan membuat Stella pingsan


" Apa yang terjadi dengan Aniel "


Sbastian mendekati Mao


" Saya membuat nona muda pingsan , sebentar lagi nona muda akan bangun "


Mao menggendong Stella


" Tuan bawa nona ke atas , saya akan memeriksanya "


Mao dengan cepat membawa Stella ke dalam kamarnya dan membiarkan para maid mengurusnya


Sbastian dengan segera membawa Aniel ke dalam kamarnya di ikuti Aloe dan membaringkan Aniel di atas tempat tidur


" Tuan "


Mao mengetuk pintu


" Masuk Mao "


Sbastian menyahuti


Mao masuk dan di sana sudah ada Aloe berdiri di samping Sbastian


" Aloe , panggilkan bi Aini ya "


Sbastian memerintahkan


" Baik tuan "


Aloe keluar


" Ada apa dengannya "


Sbastian membelai lembut kepala Aniel


" Permisi tuan "


Mao menyingkap rok panjang Aniel dan betapa terkejutnya Sbastian melihat kaki Anie yang terdapat banyak luka gores , luka terbuka dan lebam-lebam


" Buka bajunya "


Sbastian di bantu Mao membuka seluruh pakaian Aniel


*Deg


Sakit hati Sbastian melihat sekujur tubuh putri kecilnya di penuhi banyak luka


" Oh anakku , seharusnya papa tidak mempercayai wanita keji itu "


Sbastian mengangkat dan memeluk tubuh Aniel


" Luka ini adalah luka lama dan luka baru "


Mao melihat banyak luka di sekujur tubuh Aniel


" Tuan "


Bi Aini masuk


" Bi.. "


Sbastian menatap bi Aini dengan derai air mata


" Astaga "


Bi Aini terkejut melihat luka-luka di tubuh nona mudanya yang dia rawat mulai bayi sampai Anie berumur sembilan bulan dan setelah itu Stella sendiri yang merawatnya


" Ada apa dengannya tuan "


Bi Aini melihat tubuh kecil Aniel yang bertaburkan luka


" Anakku bi anakku , hiks... Anakku "


Sbastian meletakkan Aniel di atas ranjang dan menciumi seluruh wajah Aniel


" Aku gagal bi , aku terlalu fokus dengan Sean dan pekerjaan hingga tidak tau anakku seperti ini , aku bersalah , aku bersalah "


Sbastian memeluk Aniel dengan perasaan penuh sesal


" Saya akan mengobatinya "


Mao mengambil alih Aniel dari Sbastian dan mengobati luka-luka Aniel


" Ini luka baru , luka robek ini sepertinya dari sebuah cambuk "


Mao melihat luka besar yang menganga di lengan Aniel


" Anakku sayang , maafkan papa , maaf nak maaf "


Sbastian memegang tangan Mungil Aniel dan menciumnya berkali-kali


" Tuan , bersabarlah "


Bi Aini meski air matanya luruh , masih tetap menenangkan Sbastian yang terlihat benar-benar menyesal


" Papa akan merawatmu mulai sekarang , papa tidak akan membiarkanmu di sentuh wanita murahan itu "


Sbastian mencium kening Aniel lama


Mao mengobati seluruh luka Aniel dan membalutnya , terlihat hampir seluruh tubuh Aniel penuh dengan perban, setelah itu bi Aini memakaikan pakaian yang terlihat sangat longgar


" Aku akan membawanya tidur di kamar rawat , Aloe ambilkan satu tempat tidur dan letakkan di samping ranjang Sean "


Sbastian memerintahkan


" Baik tuan "


Aloe membungkuk dan pergi meminta kepada beberapa pengawal untuk menyiapkan tempat tidur di samping ranjang Sean


" Ayo sayang , kita tidur "


Sbastian menggendong Aniel keluar kamar

__ADS_1


" Maaf bi , tapi aku tidak mau Sean di lihat oleh orang lain , aku takut beritanya akan menyebar hingga ayah , maaf ya Bi "


Sbastian menatap bi Aini


" Bibi mengerti tuan "


Bi Aini mencium kening Aniel dan turun ke bawah


" Tempat tidur nona sudah siap "


Aloe memberitahu


" Hm... "


Sbastian hanya berdehem


Sbastian masuk dan meletakkan putri kecilnya perlahan di atas tempat tidur berwarna pink


" Ambilkan tigaboneka Sean di dalam lemari kamarku "


Sbastian memerintahkan dan Aloe pergi mengambilkan apa yang Sbastian minta


" Ini tuan "


Aloe membawakan boneka Lumba-lumba , boneka ikan Hiu juga boneka berang-berang milik Sean yang sudah masuk ke dalam etalase


" kemarikan "


Sbastian meletakkan ketiga boneka di samping dan di atas Aniel


Sbastian memeluk Aniel semalaman hingga alarm membangunkan Sbastian pukul lima pagi


" Nyenyak sekali tidur putri papa "


Sbastian mencium kening Aniel


" Anak papa , papa sholat dulu "


Sbastian mencium kening Sean dan berlalu pergi


Sbastian sholat di kamar adinda sampai waktu menunjukkan pukul enam pagi , Sbastian menyudahi duduk ikhtiarnya dan bergegas mandi , Sbastian hari ini memakai pakaian santai untuk di rumah


" Anak anak papa masih tidur "


Sbastian tersenyum


" Cepat bangun sayang "


Sbastian mencium pipi Sean dan berlalu menuju Aniel


" Aloe , panggilkan asisten John kemari "


Sbastian menoleh ke arah Aloe


" Baik , tuan apa anda masih berpuasa "


Aloe bertanya


" Ya "


Sbastian mengangguk


Aloe pergi memanggil asisten John dan kembali bersama asisten John dalam beberapa menit kemudian


" Salam tuan "


Asisten John masuk dan memberi salam


" Aku tidak bekerja hari ini "


Sbastian to the point


" Tuan muda "


Asisten terkejut dan John terpaku menatap Sean yang terpasang banyak sekali alat kedokteran yang membantunya bertahan hidup lebih lama hingga dirinya sadar


" Kamu baru melihatnya ya "


Sbastian membuat asisten John sadar


" Ah... Saya baru melihatnya setelah sekian lama "


Asisten John tersenyum


" Wajah tuan muda kini sedikit berbeda "


Asisten John memperhatikan wajah Sean


" Dia tumbuh bodoh "


Sbastian menendang kaki asisten John


" Aduh... Sakit tuan "


Asisten John menggosok kakinya


" Hahahaha aku sudah lama tidak seperti ini"


Sbastian dan asisten John terkekeh kecil


" MAMA MAAF "


Suara teriakan Aniel membuat Sbastian terkejut


" Sayang ini papa , ini bukan mama , ini papa tenanglah , Aniel "


Sbastian mencoba meraih Aniel namun Aniel malah melempar semua yang ada di dekatnya sambil berteriak , Aniel berdiri menempel di sandaran tempat tidur dengan mimik wajah ketakutan


" ROAR... "


Suara auman macan membuat Aniel terdiam


Macan putih dengan corak hitam perlahan-lahan mendekat


*Bruk


Saat Sbastian menoleh terlihat asisten John sudah pingsan di tempat


" Au apa amu "


( Mau apa kamu )


Aniel jatuh terduduk dan meraih boneka berang-berang Sean yang masih ada di dekatnya


" Mao ternyata "


Sbastian membatin setelah melihat sekitar dan hanya ada Aloe di sana


" Anan akan aku "


( Jangan makan aku )


Aniel menutup seluruh tubuhnya dengan boneka berang-berang Sean yang lumayan besar untuk ukuran seorang Aniel


" Roar.... "


Mao naik ke atas tempat tidur dan duduk melingkari Aniel yang meringkuk di balik boneka


" Ja..jan man aku "


( Ja...jangan makan aku )


Aniel mulai menitikkan air mata


Mao menatap tajam Aniel dan meletakkan kepalanya di samping kiri Aniel membuat Aniel mulai menitikkan air matanya


" Hei... "


Sbastian mencolek tangan Aniel


" Kemarilah "


Sbastian berbisik dan menjulurkan tangannya , Awalnya Aniel menatap Sbastian dengan tatapan ketakutan


* Sring


Aniel terkejut saat Mao kembali membuka matanya


" Kemarilah sayang , jangan takut "


Sbastian mendekatkan uluran tangannya , dan akhirnya Aniel menerima uluran tangan Sbastian


" Jangan bergerak ok "


Sbastian mengangkat Aniel perlahan dan Aniel mengangguk , seakan macan putih di depannya sangatlah berbahaya


" Tutup matamu "


Sbastian berbisik saat air mata Aniel semakin deras


Aniel di peluk oleh Sbastian dan Aniel membalas pelukan Sbastian dengan tubuh yang bergetar hebat


" Sudah , jangan takut "


Sbastian berbisik dan memeluk Aniel


*Puk..puk


Sbastian menepuk punggung Mao


" Berubahlah menjadi macan dan duduk di dekat kakiku , suruh Aloe juga "


Sbastian berbisik kepada Mao


" Tuanku kejam kepada anaknya sendiri "


Mao menatap Sbastian sinis


" Sudah sudah sayang , kamu aman "


Sbastian membelai lembut kepala Aniel


" Apa acannya udah egi "


( Apa macannya sudah pergi )


Aniel berbisik


" Lihatlah "


Sbastian melepas pelukan Aniel


" Papa "


Aniel terkejut saat melihat satu macan lagi di dekat kaki papanya


" Mereka baik "


Sbastian duduk di karpet lantai di dekat kedua macan putih yang sangat sangat besar terlihat sedang berbaring di atas karpet berbulu


" Hahaha "


Sbastian tertawa saat melihat Aniel semakin erat memeluknya


" Mao , ambilkan boneka berang-berang di sana "


Sbastian menunjuk tuan berang-berang yang sedang salto di atas tempat tidur


Di mata Anie , papanya bisa memerintahkan seekor macan yang sangat besar mengambil mainan yang tadi di peluknya , itu sangat keren


" Papa hebat sekali "


Aniel membatin sambil menatap papanya


" Ini bonekamu sayang "


Sbastian memberikan boneka berang-berang yang di bawakan oleh Mao


" Ucapkan terimakasih kepadanya "


Sbastian menunjuk Mao namun Aniel menggeleng dan memeluk Sbastian makin erat


" lihat sayang , dia baik "


Sbastian membuat Aniel menoleh dan melihat Mao tidur di pangkuan Sbastian


Anie sedikit bergeser ke arah kanan karena kepala besar Mao yang mengambil tempatnya


" Kemarilah , elus dia "


Sbastian menuntun perlahan tangan kecil Aniel untuk membelai kepala Mao yang lembut penuh bulu


* Pluk


Tangan Aniel sudah berada di atas kepala lembut Mao


" Tuh... Dia baik "


Sbastian tersenyum melihat Aniel yang mulai mendekat

__ADS_1


__ADS_2