
Pukul tiga sore waktu Swiss , Sbastian membuka matanya dan melihat sekeliling
" Hah.... Aku lupa ini bukan Fila hoam..."
Sbastian menguap dan mendudukkan dirinya
" Anakku ngak ada , pasti main Huft"
Sbastian memijat keningnya dan berjalan gontai menuju kamar mandi
Setelah mandi dan memakai pakaian santai , Sbastian turun ke bawah mencari keberadaan Sean yang di klaim pasti bersama kakeknya atau sitter azza
" Adeeeeek "
Sbastian berteriak hingga menggema ke seluruh ruangan dan membuat para pelayan terkejut
" Papa "
Dan muncullah kepala Sean dari balik dinding penyekat antara dapur dan ruang tamu
" Kamu ngapain anak papa "
Sbastian menghampiri Sean
" Sean lagi masak sama bunda az-az sama kak Yuka "
Sean tidak keluar dari balik dinding dan tetap mempertahankan posisinya
" Yuka udah Dateng , emang Yuka bisa masak "
Sbastian menggerutu dan memutuskan untuk menghampiri Sean dan hendak melihat apa yang mereka masak
" ASTAGHFIRULLAH , ada apa dengan dapur ini , aku melihat sebuah kapal pecah di sini , dapur ku berantakan , woooow kereeeen "
Sbastian melihat sekeliling dan matanya berhenti menatap ketiga manusia salju Made in tepung terigu yang cengar-cengir dengan wajah tidak bersalah
" Kenapa hanya adek yang wajahnya bersih"
Sbastian mengelus janggutnya yang tidak memiliki bulu
" Hehehehe adek udah di bersihin wajahnya"
Sean kecil menunjukkan tangannya dan badannya yang di penuhi dengan tepung putih bersih
" Astaga , kalian ini ya.... "
Sbastian memijat pelipisnya pelan
" ASTAGA kalian kenapa "
Asisten John mendekati Sbastian sambil ternganga heran melihat ketiga manusia salju di dalam rumah
" Ini permintaan nona azza "
Yuka menjawab dengan sopan
" Hehehehe "
Sitter azza cengengesan melihat suaminya yang keheranan melihat badannya penuh dengan tepung putih bersih
" Kalian ini mau buat apa "
Sbastian mendekat dan melihat meja dapur yang berantakan tak karuan
" Mau buat kue "
Sean kecil menunjuk adonan yang hampir jadi
" Kue apa "
Sbastian mendekati Sean dan mensejajarkan tingginya dengan Sean lalu membersihkan badan Sean yang di tempeli tepung terigu
" Gatau "
Sean menunjuk adonan kue di atas meja dan di samping adonan kue itu terdapat beberapa buku resep makanan Swiss
" Sini papa ajarin caranya buat kue sama makanan ala Swiss yang enak banget "
Sbastian berjalan menuju lemari di pojok dapur dan mengambil celemek berwarna merah muda dengan hiasan pinguin di tengah-tengah celemeknya
"Emang papa bisa masak "
Sean menghampiri Sbastian
" Liat aja "
Sbastian menggulung lengannya dan mulai mengambil adonan itu lalu menambahkan sedikit air
" Lho kok di kasih air sih pa "
Sean memprotes papanya
" Lho kok keliatan "
Sbastian menoleh mencari keberadaan Sean
" Astaga , sejak kapan kamu di atas meja"
Sbastian berkacak pinggang
" Di angkat paman John "
__ADS_1
Sean menunjuk asisten John yang berdiri di samping Sean
" Astaghfirullah "
Sbastian menepuk keningnya
" Ya sudah kalian semua lihat saja ya "
Sbastian berbalik kembali dan melai berkutat dengan berbagai macam alat di dapur dan membuat semua orang ternganga termasuk para pelayan yang sedari tadi ada di sana untuk membantu setelah beberapa saat Sbastian menyiapkan beberapa buah kentang
" Adek ngak suka kentang pa "
Sean mengomentari
" Kalo ini udah jadi , adek pasti suka kentang"
Sbastian melanjutkan masakannya
" Emang iya "
Sean bertanya
" Iya liat aja deh "
Sbastian menoleh kepada Sean sebentar
Setelah waktu yang cukup lama , sbastian menyajikan beberapa hidangan ala Indonesia dan dua hidangan khas Swiss yang terlihat aneh di mata Sean dan sitter azza
" Sejak kapan tuan bisa masak "
Sitter azza bingung melihat banyaknya hidangan yang di buat oleh Sbastian
" Tuan bisa memasak sejak muda , tuan sering sekali memasak jika ingin menenangkan diri , dulu tuan pernah mengikuti les dan lomba memasak , bahkan koki handal pun kalah dengan masakan tuan "
Yuka menjelaskan dengan detail mengenai Sbastian terhadap sitter azza dan penghuni dapur
" Aku tidak menyangka manusia es ini bisa memasak "
Asisten John sedikit terkejut mendengar pernyataan Yuka
" Ini apa papa "
Sean menunjuk sesuatu yang terlihat seperti pancake
" Itu rosti , pancake dari kentang , kamu pasti suka "
Sbastian memberikan satu pancake kentang kepada Sean lalu di berikan toping daging cincang dan telur orak-arik
" Ngak mau pa , ini sayur , Sean ngak suka "
Sean menutup mulutnya pertanda dia menolak makanan yang di berikan papanya
" Coba dek , kalo ngak di coba "
" Coba deh "
Sbastian memberikan sesendok pancake kentang itu kepada Sean dan perlahan Sean mengunyah pancake itu
" Gimana enak ngak "
Sbastian berkacak pinggang
" Hehehehe "
Sean kecil menunjukkan barisan gigi rapihnya yang putih
" Ni sendoknya "
Sbastian memberikan sendok itu kepada Sean
" Makasih pa , aku mau maen aja "
Sean kecil turun dari meja dan berlari menjauhi Sbastian
" Astaga dek , gimana caranya biar kamu bisa makan sayur "
Sbastian tepok jidat melihat Sean yang hanya mau memakan sedikit jenis sayur
Setelah lelah memasak Sbastian mencari Sean untuk mandi , ibadah sholat magrib lalu pergi makan malam bersama-sama
Saat semua sudah berkumpul di dapur , Sbastian mulai serius dalam berbicara
" Duduklah Yuka "
Sbastian memerintahkan Yuka yang berdiri menyiapkan makanan
" Maaf tuan "
Yuka tidak mengerti
" Duduklah Yuka , kita akan makan bersama-sama "
Sbastian menunjuk kursi kosong di sebelah pak Sam
" Baik tuan "
Yuka membungkuk sedikit dan berjalan lalu duduk di kursi sebelah pak Sam
" Kita akan lama di sini , maaf aku belum bisa memastikan kapan kita kembali , dan mungkin sitter azza akan melahirkan di sini , adek juga sekolah TK di sini , nanti papa pesankan semua yang adek udah pilih gambarnya ya , dan Yuka aku meminta bantuan mu untuk merawat dan mengajar Sean selama di sini aku yakin adaptasinya akan sulit karena di sini memakai bahasa asing "
Sbastian mengelus kepala Sean
__ADS_1
" Baik tuan saya akan melakukan yang terbaik untuk tuan muda "
Yuka sedikit membungkuk lalu menegakkan kembali badannya
" Papa Sean nanti jadi sekolah di sini ya"
Sean mulai mengeluarkan air matanya dan membuat Sbastian kalang kabut
" Iya , nanti papa yang antar , hari pertama sekolah nanti papa tunggu sampai selesai"
Jawaban Sbastian malah membuat tangisan Sean semakin keras
" Eh.... Itu...itu nanti papa ...papa... Nanti papa bawa jalan-jalan ke danau..e....nanti kita mancing "
Sbastian mencoba menenangkan Sean tapi itu tidak berhasil
Sbastian mulai berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir mencari ide terbaik untuk menenangkan Sean
" Itu deh.... Eh... Ah kita nanti liat ikan di akuarium besar , atau nanti papa belikan ikan di taruh di sini ikannya ... Mau "
Sbastian berbalik melihat ke arah Sean Dan karena Sean tidak mau berhenti menangis hingga akhirnya Sbastian mulai menyerah
" Maafkan papa nak , papa tidak mau kamu terluka lagi "
Sbastian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sean dan mengelus kepala Sean
" Iya pa...hiks.. ngak apa-apa..hiks...tapi di sini semua kakak-kakak ngak pakek bahasa Sean , Sean ngak ngerti hiks.. adek ngak bisa ngajak kakak-kakak nya main"
Pernyataan Sean membuat Sbastian tertawa lepas hingga terguling-guling dan membuat semua pelayan yang ada di situ termasuk Yuka terkejut melihat tuan mereka yang tidak pernah tersenyum saat ini tertawa lepas hingga membuat semua orang di dapur ikut tertawa riang
" Nanti papa bilangin biar mereka belajar bahasanya adek ya "
Sbastian berhenti tertawa dan mengusap air matanya
" Besok kita liat sekolah Sean , mau?? "
Sbastian mengelus rambut Sean
" Mau , tapi adek ngak bisa bahasa di sini nanti adek ngak punya temen di sekolah "
Sean mengusap air matanya
" Besok habis kita liat sekolah adek , terus kita pulang , nanti kak Yuka ajarin adek bahasa sini , bahasa Jepang juga , gimana adek mau ?? "
Sbastian menunjuk Yuka
" Emang kak Yuka bisa bahasa Jepang "
Sean melihat Yuka
" Kak Yuka itu asli Jepang , tapi pindah ke sini karena papa yang minta "
Sbastian menjelaskan
" Lho nanti kak Yuka di cariin papa sama mamanya dong "
Sean melihat Sbastian intens dan membuat Sbastian tersenyum lembut
" Mama sama papa kak Yuka sudah bahagia , mama dan papa kak Yuka sekarang lagi liat kak Yuka dari tempat yang jauh , seperti bunda dan kakak "
Sbastian membelai pipi Sean
" Jadi kakak Yuka ngak punya siapa-siapa ya papa "
Sean melihat Yuka yang tertunduk sedih
" Kak Yuka ngak perlu sedih , kan ada Sean , sekarang Sean adiknya kak Yuka "
Sean turun dari kursinya dan menghampiri Yuka melewati bawah meja dan memeluk kaki Yuka membuat Yuka terkejut
" Tuan muda "
Yuka menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak sedih
" Papa "
Sean memandang Sbastian dan hanya di balas senyuman lembut Sbastian
" kaaaaak kakak "
Sbastian menarik narik pakaian panjang Yuka
" Maaf tuan muda saya terbawa suasana"
Yuka mundur perlahan dan mendorong kursi ke belakang lalu duduk bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan Sean lalu sedikit membungkukkan badannya
" Terimakasih tuan muda , saya sangat menghargainya "
Yuka kembali menegakkan badannya
" Hehehe kakak jangan sedih lagi ya"
Sean memeluk Yuka
" Iya tuan muda "
Yuka membalas pelukan Sean
" Sekarang kita makaaaan "
Sean melepaskan pelukannya dan berlari kembali duduk di kursinya dan membuat semua orang terkekeh kecil melihat kelakuannya
__ADS_1
untuk kawan-kawan readrs sekalian tolong kritik dan saran ya jika ada kekurangan yang saya berikan saya mohon maaf
salah hangat author