
Pukul 09.00 pagi ini
" Apa kamu siap "
Sean mengenakan sepatunya
" Aku udah siap dari tadi , kakak aja yang lelet "
Aniel memonyongkan bibirnya
" Iya iya maaf "
Sean menggandeng tangan Aniel dan membawa Aniel berjalan keluar dari rumah
Sean sekarang sudah kelas lima dan tinggi badannya sudah mencapai tinggi anak SMP umumnya , jadi Sean terlihat sudah benar-benar dewasa , tahun ini juga Sean akan di sunat sebelum operasi cangkok untuk Aniel di laksanakan
" Kakak mau sunat juga kan "
Aniel bertanya
" Iya "
Sean masuk ke dalam mobil dan Diablo ikut sebagai supir dan Mao sebagai kernet
" Kakak sunat sama paman Diablo ya "
Aniel bertanya
" Iya "
Sean mengiyakan
" Nanti kakak sunat kalau Aniel udah selesai di periksa , nanti adek pulang dulu terus kakak nyusul ya "
Sean memakaikan sabuk pengaman Aniel
" Iya "
Aniel mengangguk
" Kakak takut ya "
Aniel merasakan detak jantung Sean yang berdegup kencang
" Ya takut lha "
Sean menjawab
" Kata paman Diablo kayak di gigit semut kok "
Aniel terlihat mencoba menenangkan Sean
" Iya semut , tapi semutnya semut Amazon "
Sean mencibik kesal
" Semut ya semut kak , ngak ada semut Amazon "
Aniel menjentikkan jarinya
" Ada tau "
Sean dengan sewot menjawab
" Ngak ada kak "
Aniel menggeleng
" Ada kok "
Sean memulai pertengkaran
" Ngak ada , di Amazon cuma ada ular sama piranha "
Aniel melipat kedua tangannya di atas dada
" Idiiih di kasih tau kok ngeyel "
Sean terlihat jengkel
" Hahaha "
Terdengar tawa dari kedua manusia dewasa di depan eh... Mungkin
" Capek ngomong sama kakak "
Aniel terlihat kesal
" Idiiiih alay "
Sean melambaikan tangannya
*Ting
Terdengar suara dentingan logam
" Apa tuh "
Aniel tertarik
" Cuma kalung kakak "
Sean memasukkan lagi kalungnya yang tidak sengaja keluar
" Kakak dapet dari mana "
Aniel mulai kepo
" Dari ibu kakak "
Sean menjawab
" Dari bunda ya "
Aniel memaksudkan adinda
" Iya "
Di iya i saja oleh Sean
" Kenapa kakak bawa kalungnya "
Aniel menaikkan alisnya
" Kakak kan gugup , jadi biar gugupnya ilang"
Sean menjawab
" Kalungnya di sini ya "
Aniel menyentuh liontin Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Liontinnya bercahaya haha lucu "
Aniel tertawa
" Kamu liat liontinnya "
Sean keheranan
" Iya , liontinnya cantik "
Aniel tersenyum
Sesampainya di rumah sakit
Mao membawa Aniel ke dalam gendongannya dan Sean turun dari mobil bersama Diablo lalu mengikuti Mao yang sudah melangkah lebih dulu
Di ruang dokter mata setelah pemeriksaan
" Bagaimana dok "
Sean mendudukkan Aniel di atas kursi
" Semuanya stabil , kondisi nona juga sehat , dan pendonor untuk nona juga sudah ada "
Dokter memberitahu dengan senyuman
" Benarkah dok "
Sean terlihat senang
" Iya tuan "
Dokter mengangguk
" Syukurlah kamu tahun depan bisa di operasi "
Sean memeluk Aniel
" Benarkah... Kalau begitu nanti Aniel udah bisa liat kakak sama papa dong hahaha "
Aniel tertawa kegirangan
" Iya .. nanti bisa main kejar-kejaran lagi sama kakak "
Sean mencium pucuk kepala Aniel
" Saya berterimakasih dok "
Sean menyalami dokter
" Kami akan lakukan yang terbaik untuk pasien , anda tidak perlu seperti ini "
Dokter tersenyum
" Kalau begitu kami pamit "
Sean berdiri dan berjalan keluar sambil menggendong Aniel dengan senyuman yang lebar
" Kalian pulanglah dulu "
Sean memberikan Aniel kepada Mao
" Kakak jangan takut ya , kayak di gigit semut kok "
Aniel mengejek
" Awas kamu ya "
Sean mencubit pipi Aniel
" Hahaha babay kakak "
Aniel melambaikan tangannya saat merasakan Mao sudah berjalan
" Babay kecil "
Sean membalas lambaian tangan Aniel
" Aku senang sekali paman , makasih ya "
Sean memeluk Diablo yang membantu mencari pendonor mata untuk Aniel
" Sama sama tuan "
Diablo tersenyum
Diablo membawa Sean menuju ruang khusus sunat yang ada di lorong kedua rumah sakit
" Ini ruang sunatnya "
Diablo berhenti di depan salah satu ruangan
" Banyak yang antri paman "
Sean menunjuk anak-anak yang di dampingi orang tuanya sedang mengantri di bangku tunggu
" Kita ambil nomor antri dulu "
Diablo pergi ke tempat yang di sediakan semacam loket dan mengambil nomor antrian
" Nomor berapa paman "
Sean menghampiri Diablo
" Nomor lima puluh , ini akan memakan waktu yang lama "
Diablo memonyongkan bibirnya
" Hahaha "
Sean tertawa
" Ayo paman "
Sean duduk di ujung barisan bersama Diablo
" Anda belum makan kan tuan , saya akan belikan anda mau apa "
Diablo melepaskan jasnya
" Aku mau susu sama buah sama roti "
Sean memberi request
" Baik tuan tunggu di sini ya "
Diablo mengusap kepala Sean
" Babay paman "
Sean melambaikan tangannya
" Jangan lama-lama ya paman "
Sean sedikit berteriak
*Ting
Diablo memberikan jempolnya
" Huaaaaaa huaaaaaa IBUUUU sakit "
Terdengar suara anak yang keluar dari kamar sunat
" Sakit a pak "
Anak di sebelah Sean bertanya kepada ayahnya
" Mboten le , rasane mek clekit "
( Tidak nak , rasanya cuma clekit )
Si ayah menjawab
" Ngeh ta pakde "
( Iya kah paman )
Sean bertanya
" Engge "
( Iya )
Orang itu menjawab Sean
" Awakmu dewe ta le "
( Kamu sendiri nak )
Orang itu bertanya
" Mboten , Kulo kale paklek "
( Tidak , saya sama paman )
Sean menjawab
" Neng endi lho lek mu le "
( Di mana lho paman mu nak )
Orang itu bertanya lagi
" Nikuwau terose numbasaken Kulo maem "
( Tadi katanya membelikan saya makanan )
Sean menjawab
" Jenengmu sopo "
( Namamu siapa )
Anak kecil itu bertanya
" Aku Sean , nek awakmu "
( Aku Sean , kalau kamu )
Sean membalas
" Aku Denis , awakmu gak wedi ta "
( Aku Denis , kamu ngak takut kah )
Denis bertanya
" Enggak , jare paklek gak loro , cuma koyok di cokot semot "
( Ngak , kata paman ngak sakit , cuma seperti di gigit semut )
Sean tersenyum
Percakapan panjang Sean berakhir saat Diablo datang membawa satu kantong plastik besar
" Paman bawa apa "
Sean menyambut kantong plastik Diablo
" Beli banyak "
Diablo membiarkan Sean membuka kantong plastiknya
Sean berbagi dengan Denis , bercanda dan bercakap-cakap hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang dan nomor antrian masih sampai di angka tiga puluh dua
" Ayo sholat dulu paman "
Sean mengajak
" Iya tuan "
Diablo berdiri dan membantu Sean membawa barang-barang
" Pe neng ndi "
( Mau kemana )
__ADS_1
Denis bertanya
" Pe sembahyang "
( Mau beribadah )
Sean menjawab
Sean menuju musholla di sana dan mengikuti jamaah Dzuhur lalu setelah selesai Sean memakai sepatu di serambi musholla bersama Diablo
" Ayo paman "
Sean berdiri
" Iya "
Diablo berdiri
" Apa Aniel tidak menelepon paman "
Sean berjalan beriringan dengan Diablo
" Tidak ada panggilan , namun ada pesan dari nona Mao , dia bilang nona langsung tidur siang begitu sampai di rumah "
Diablo membacakan pesan
" Lho... "
Sean berhenti dan menoleh ke kanan dan ke kiri
" Dimana liontin ku "
Sean merogoh semua sakunya dan membuka kantong plastik yang di bawa Diablo bahkan kantong Diablo pun di rogoh oleh Sean
" Mungkin tertinggal di kamar mandi "
Diablo memberi kemungkinan
" Mungkin "
Sean berlari di ikuti oleh Diablo
" tidak ada paman "
Sean masuk ke dalam kamar mandi yang tadi dia masuki , mengelilingi musholla bahkan sampai bertanya kepada takmir musholla yang belum pulang
" Bagaimana "
Diablo bertanya
" Ngak ada "
Sean terlihat berkaca-kaca
" Kita cari pelan-pelan tuan "
Diablo menenangkan Sean
*Cling
Sean melihat sebuah Kilauan
" Lihat itu liontin Sean "
Sean berlari menghampiri seorang ibu-ibu dengan gamis panjang yang berdiri di depan serambi musholla
" Permisi bibi "
Sean memanggil namun wanita itu tidak memperdulikan Sean
" A..anu bi itu liontin saya "
Sean menjadi anak anak yang normal pada umumnya
" Bibi "
Sean memanggil lagi karena bibi itu tidak menyahuti
" Ada apa ini "
Suara seorang laki-laki membuat Sean dan wanita itu tersentak kaget
" Mas mas ini lihat "
Wanita itu berlari menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari musholla
" Kenapa kenapa "
Pria itu memeluk istrinya
" Ini liontin anak kita mas , lihat ini "
Wanita itu menyerahkan liontin milik Sean kepada suaminya
" Iya ini persis seperti milik anak kita "
Laki-laki itu mengeluarkan hp nya dan membuka galerinya menyamakan liontin di foto dan liontin milik Sean
" Berarti anak kita ada di sini mas "
Wanita itu dengan antusias mengguncang suaminya
" Maaf.. itu liontin saya "
Sean membuat pria itu menoleh
" Liontin mu nak "
Laki-laki itu memperhatikan Sean
" Dari mana kamu dapat liontin ini "
Laki-laki itu kembali bertanya
" Ini pemberian orang tua saya "
Sean menjelaskan
" Maksudmu orang tuamu sudah meninggal"
Laki-laki itu terkejut
" T..tidak tidak bukan begitu "
Sean menggeleng
" Tuan Bram "
Suara Diablo membuat semua orang menoleh
" Tuan Diablo"
Tuan Bram terkejut
" Anda di sini "
Diablo menyalami tuan Bram
" Saya sedang melakukan cek up rutin untuk istri saya "
Tuan Bram tersenyum
" Anda sendiri "
Tuan Bram bertanya kembali
" Saya mengantarkan tuan Sean untuk sunat"
Diablo menjawab
" Oh... Saya kira anak anda haha "
Tuan Bram terkekeh
" Tuan Sean apa mengenal tuan Bram "
Diablo membuat Sean mengerenyitkan keningnya
" Enggak paman "
Sean menggeleng
" Begini.. apa anda mengingat majalah terakhir yang anda baca tadi pagi "
Diablo mengingatkan
" Iya "
Sean mengangguk
" Apa tuan mengingat sampul halaman dari majalahnya "
Diablo bertanya lagi
" Pengusaha dunia nomor satu itu kan "
Sean mengingat
" Dan tuan Bram ini orangnya "
Diablo membuat Sean ternganga
" Kereeen aku menemui tuan besar yang kereeen... tapi itu kalung milikku "
Sean tiba-tiba merubah sikapnya dan memelototi kedua orang itu
" A..anu tuan muda "
" KEMBALIKAN LIONTINKU , ITU MILIKKU KEMBALIKAN "
Sean berteriak dan mencoba meraih liontin miliknya
" Iya iya ini "
Tuan Bram memberikan liontin Sean
" Maaf jika paman mengambil liontin milikmu , tapi apa paman boleh bertanya "
Tuan Bram mengelus kepala Sean
" Iya "
Sean mengusap kalungnya dan memakainya kembali
" Mari duduk di kafe depan.. itu akan lebih nyaman "
Tuan Bram menunjuk kafe di depan musholla
" Kamu tidak perlu khawatir , aku tidak akan mengambil liontin mu lagi "
Bram menenangkan Sean
Di dalam kafe
" Apa paman boleh tanya di mana orang tua kamu "
Bram membuat Sean menatapnya tajam
" Sean di temukan papa di dalam kotak di lautan luas "
Sean membuat wanita itu terbelalak
" Aku di bawa dan dirawat oleh papa hingga saat ini , dan kalung ini sudah Sean pakai sejak Sean di temukan di dalam kotak "
Sean menjelaskan dengan tatapan mata
" Kapan kamu di temukan nak "
Istri tuan Bram bertanya
" Memangnya kenapa "
Sean melirik istri Bram tajam
" Tuan muda , jangan begitu beliau hanya bertanya "
Diablo mengusap kepala Sean
" Tidak apa , kami tadi mengambil barang berharganya jadi sudah normal kalau dia waspada "
Bram menepuk pundak Diablo
" Tanggal tujuh Januari dan kata papa ulang tahun Sean tanggal tiga satu Desember karena perkiraan dokter Sean masih satu Minggu lahir "
Sean membuat tuan Bram dan istrinya terkejut
" Sekarang kamu umur berapa nak "
Tuan Bram bertanya lagi
" Sekarang saya sebelas tahun "
Sean menjawab dan terlihat istri tuan Bram menitikkan air mata
" B..bibi kenapa "
Sean terlihat khawatir
" Usiamu persis sekali dengan putraku "
Istri tuan Bram memeluk tuan Bram
" M..maaf Sean tidak berniat membuat bibi sedih "
Sean turun dari kursi dan menghampiri istri tuan Bram
" Apa namamu Sean hm.. "
Istri tuan Bram menangkup pipi Sean
" Iya "
Sean mengangguk
*Cup
" Andai putraku ada di sini "
Istri tuan Bram memeluk Sean dan menangis membuat Sean ikut menitikkan air mata
" Sejak kecil tuan muda hanya di rawat oleh tuan Sbastian dan sekarang tuan Sbastian sedang koma jadi tuan pasti kesepian "
Diablo membuat tuan Bram menoleh
" Karena apa "
Tuan Bram bertanya
" Kecelakaan yang di rencanakan dan itu juga membuat adik kecilnya tidak bisa melihat lagi "
Diablo menatap Sean yang terlihat menenangkan istri tuan Bram
" Kasihan sekali "
Tuan Bram menatap Sean iba
" Apa bibi lebih baik "
Sean mengusap air mata istri tuan Bram
" Iya... Terimakasih sayang "
Istri tuan Bram mencium kening Sean
" Anak bibi itu dulu di culik dan kami tidak menemukan petunjuk sampai sekarang , meski bibi selalu di kelilingi ketiga anak bibi , tapi bibi selalu teringat anak bini yang di culik "
Istri tuan Bram menepuk kursi di sebelahnya dan Sean duduk di sana
" Ini foto anak bibi waktu masih bayi "
Istri tuan Bram menunjukkan potret anaknya yang hilang
*Deg
Sean terkejut
" Kenapa nak "
Istri tuan Bram mengguncang Sean
Tiba-tiba Sean mengeluarkan hp nya dan membuka galeri miliknya
" Apa iya "
Sean menyamakan foto di hpnya dan di hp istri tuan Bram
" Ini foto siapa nak "
Istri tuan Bram mengambil hp Sean
" Tidak mungkin , apa mereka orang tuaku , jangan gegabah Sean.. jika iya kau akan beruntung.. jika tidak kau hanya akan berharap "
Sean membatin
" Paman Diablo , Sean minta mengusut kasus anak bibi sampai tuntas "
Sean mengambil hp dari tangan istri tuan Bram dan berlalu pergi tanpa mengucap salam
" Tuan muda "
Diablo membungkuk sebentar lalu mengikuti Sean yang sudah berlalu keluar dari cafe
" Kenapa sayang "
Tuan Bram memeluk istrinya
" Itu anak kita mas , foto anak kita dan masa kecil Sean sama mas , dia anak kita mas "
Istri tuan Bram mengguncang tubuh tuan Bram
" Tenang sayang , aku akan menyelidikinya"
Tuan Bram memeluk istrinya
Di lorong rumah sakit
" Tuan Sean pelan pelan "
Diablo mengikuti langkah kaki Sean yang secepat kilat
" Halo Sean "
Denis melambaikan tangannya saat Sean semakin dekat dengannya
" Hai "
Sean tersenyum sebentar dan duduk di samping Denis
" Saiki wes nomer piro "
( Sekarang sudah sampai nomer berapa )
Sean bertanya
__ADS_1
" Marengunu aku "
( Bentar lagi aku )
Denis menjawab
" Muhammad Denis "
Nama Denis di panggil oleh suster
" Aku disek Yo "
Denis melambaikan tangan
" Ok "
Sean membalas lambaian tangan Denis
" Tuan "
Diablo duduk di samping Sean
" Bagaimana kalau mereka benar-benar orang tuaku "
Sean menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" Saya akan menyelidikinya tuan , anda jangan khawatir "
Diablo menenangkan
" Hm.. "
Sean mengangguk
Hening dengan waktu yang cukup lama hingga suster memanggil nama Sean
" Sean Ken Sora "
Suara suster menggema
" Ayo paman "
Sean berjalan di ikuti oleh Diablo
" Mari ta , saket ya "
Sean yang berpapasan dengan Denis menyapa Denis yang terlihat habis menangis
" Hehehe "
Denis terkekeh
" Silahkan duduk di sini "
Suster menunjuk bankar di tengah ruangan
" Hai adek di pakai dong sarungnya "
Pak dokter menunjuk sarung yang di bawa Diablo
" Sejak kapan Diablo bawa sarung "
Sean menatap Diablo penuh tanda tanya
" Hehehe "
Diablo tertawa
Sean masuk ke dalam kamar mandi dan keluar mengenakan sarung dengan warna hijau
" Ayo naek "
Pak dokter membawa Sean naik ke atas bankar dan menidurkan Sean
" Adek namanya siapa "
Pak dokter mulai basa basi
" Sean "
Sean menjawab
" Rumahnya di mana "
Pak dokter bertanya
" Rumahnya ngak Sean bawa "
Sean membuat pak dokter terkejut
" Maksudnya ngak di bawa "
Pak dokter menaikkan alisnya sebelah
" Kan rumahku berat , aku juga bukan siput jadi rumahnya aku tarok di tanah "
Jawaban Sean membuat pak dokter tertawa
" Astagfirullah dek hahaha "
Pak dokter dan Diablo terbahak-bahak melihat mendengar jawaban Sean
" Alamatnya dek "
Pak dokter kembali bertanya
" Galaksi Bimasakti tepatnya di pelanet bumi "
Sean menjawab kembali
" Adek ini lucu ternyata "
Pak dokter tersenyum
" Udah belom pak dokter.. Sean mau pulang nih "
Sean membuat pak dokter tertawa lagi
" Haisss.... Baru ketemu pasien kayak kamu dek "
Pak dokter geleng-geleng kepala
" Hehe "
Sean cengengesan melihat pak dokter geleng-geleng kepala
" Sudah "
Pak dokter berdiri
" Udah pak dokter , cepet banget "
Sean mengintip miliknya sendiri
" Hahahaha anak lucu hahaha "
Pak dokter tertawa melihat kelakuan Sean
" Pakek ini tuan "
Diablo memberikan CD khusus anak yang baru selesai sunat
" Makasih paman , tapi pakeknya gimana "
Sean melihat CD anehnya
" Sini paman pakein "
Diablo menawari
" Ngak makasih , Sean malu tau "
Sean memalingkan wajahnya
" Hahahaha "
Pak dokter tertawa dan menunjukkan cara memakai CD khususnya dengan benar
" Makasih pak dokter "
Sean mencium tangan pak dokter dan berlalu keluar di ikuti Diablo
" Dia ngak nangis ya buk , berarti emang ngak sakit "
Salah satu anak membicarakan Sean dengan ibunya
" Huh bangganya aku "
Sean berjalan keluar dengan angkuh
" Coba kalau biusnya abis khekhekhe "
Diablo terkekeh dalam hatinya
Sean pulang dengan lancar dan sesampainya di rumah , Sean di sambut bi Aini , pak Sam dan bintang yang membawa adik dan ibunya
" Waaaah rame nih "
Sean duduk di atas sofa dengan hati-hati
" Cucu kakek tadi nangis ngak "
Pak Sam duduk dan memeluk Sean
" Boro boro nangis , dokternya aja ketawa liat tuan Sean "
Diablo meletakkan satu kantong kresek di atas meja
" Apa ini "
Bi Aini membukanya
" Oalah buat tuan Sean toh , tapi ya jangan tarok di sini dong "
Bi Aini melemparkan kantong plastik kepada Diablo
" Iya iya maap , saya letakkan ini di kamar dulu "
Diablo menangkap kantong plastiknya dan membawanya naik
" Kakak "
Suara Aniel membuat Sean menoleh
" Halo "
Sean berteriak karena Aniel masih jauh darinya
Malam harinya tahlilan di adakan mengundang tetangga sekitar untuk Sean dan Sbastian agar cepat sadar , Sean mengurangi penjaga agar tidak terlihat aneh namun penjaga bayangan makin di perketat oleh Mao
Esok harinya bi Aini mengajak ibu-ibu pengajian agar melaksanakan khataman Al-Qur'an dan manaqib di sore harinya
Pukul 09.00
" Papaaaa Sean bosen "
Sean meletakkan kepalanya di atas kursi
Sean duduk di lantai dan bersandar di sofa single , awalnya Sean duduk di atas kursi namun Sean merosot dan akhirnya duduk di bawah
" Kakak kakak "
Aniel datang bersama Mao
" Sini sini "
Sean memanggil
" Kakak pain "
( Kakak ngapain )
Aniel di dudukkan di samping Sean dan Mao berlalu untuk membantu di dapur
" Kakak bosen "
Sean mencium pipi Aniel
" Iel juga "
Aniel memonyongkan bibirnya
" Kakak Seaaan "
Suara anak laki-laki yang lebih kecil dari Sean memanggil
" Wafiii "
Sean terkejut
" Waaah bunda datang "
Sean senang dengan kedatangan sitter azza yang membawa wafi
" Assalamualaikum "
Masuk juga bintang bersama keluarganya
" Halo Sean "
Bintang membawa adiknya duduk bersama Sean dan lainnya
" Permisi "
Suara seorang anak wanita membuat semua menoleh
" Ana "
Sean terkejut
" Halo Seaaan "
Ana berlari dan langsung duduk di sekitar Sean bersama anak-anak yang lain
" Paman "
Sean mencium tangan Lagardio
" Bagaimana kondisi papamu "
Lagardio bertanya
" Lebih baik dari sebelumnya "
Sean tersenyum
" Yang sabar ya Sean "
Lagardio mencium kening Sean
" Makasih paman "
Sean tersenyum
" Paman Kelvin "
Sean melihat Kelvin masuk ke dalam rumah
" Kelvin "
Lagardio terkejut
" Kakak senior "
Kelvin masuk dan menjabat tangan Lagardio
" Lama ngak ketemu "
Lagardio menjabat tangan Kelvin
" Dimana ayahku "
Kelvin membuat Sean terbelalak
" Mau ketemu kakek "
Sean memastikan
" Paman sudah memutuskan "
Kelvin tersenyum
" Di dapur tadi , soalnya Sean mau puding terus katanya kakek aja yang ambil , paling bentar lagi kesini "
Sean memberitahu
" Paman jemput aja sekalian bawa puding buat semuanya "
Kelvin berlalu pergi
" Assalamualaikum "
Terdengar suara serempak banyak orang yang membuat semua menoleh
" Astaga fifeteen trust beneran dateng dong"
Sean terkejut
" Kamu yang minta mereka dateng "
Bintang berbisik
" Aku bilang kalau bisa aja , lagian aku bilang juga jadi tuan besar bukan Sean "
Sean berbisik
*Tung
Bintang menonyor kepala Sean
" Dasar bodoh "
Bintang mencubit lengan Sean
" Hahahaha "
Aniel tertawa mendengar kakaknya di katai seperti itu
" Bintang jahat sumpah "
Sean menggosok lengannya
" Selamat tuan muda , udah besar nih ya "
Para fifeteen trust memberikan banyak kado untuk Sean
" Makasih paman bibi "
Sean tersenyum dan mencium tangan mereka satu persatu
" Pantas aja tuan besar minta kita dateng , orang di sini tokoh utamanya ganteng "
Alisya membuat semuanya tertawa
__ADS_1