
Pukul 7 malam sbastian melaksanakan sholat isya berjamaah bersama Sean
Setelah sholat isya , sbastian dan Sean turun untuk makan malam
"Malam ini kita makan sama kakek "
Kata sbastian kepada Sean
"Ati ean akan apa ya "
(Nanti Sean makan apa ya )
Gumam Sean
" Bubur lah , kan adek masih sakit "
Jawab sbastian
" Alo ean di asakin az-az bubul , ean dak au akan "
( Kalo Sean di masakin az-az bubur , Sean ngak mau makan )
Sean menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan jari telunjuknya
" Lho kok gitu "
Sbastian heran
" Tadi tu apapa "
( Tadi tuh papa )
Drama kolosal sehabis magrib
" Az ean au oklat "
( Az Sean mau coklat )
Sean meminta kepada sitter azza
" Tuan muda masih sakit belum boleh makan cokelat "
Larang sitter azza
" Kan , kalo aku maen sama orang ini , apa apa ngak bakal di turuti , dasar cewek "
Gerutu hati Sean
Sean yang saat itu sedang duduk di lantai bersama mobil mobilan miliknya , tiba tiba berdiri
" Tuan muda mau kemana "
Tanya sitter azza
" Au tatek "
( Mau kakek )
Jawab Sean pergi dan sitter azza mengikuti
" Tatek ean au oklat "
( Kakek Sean mau coklat )
Pinta Sean dengan wajah memelas
" Tanya ke sitter azza , boleh apa tidak "
Jawab kakek
" Dak au , ean dak oleh akan oklat ama az-az "
( Ngak mau , Sean ngak boleh makan coklat sama az-az )
Jawab Sean kesal
" Audah de , ean au ke ante iil "
( Yaudah deh , Sean mau ke Tante Sisil )
Sean berbalik dan hendak pergi
" Mau apa "
Tanya kakek
Sean berbalik
" Au tana , ean oleh makan oklat apa dak "
( Mau tanya , Sean boleh makan coklat apa tidak )
Jawab Sean berlalu pergi
Sean berlari menghampiri dokter Sisil yang sedang ada di taman bersama dokter Brian
" Ante iil "
( Tante Sisil )
Panggil Sean sambil berlari
" Lho , tuan muda belum sembuh , ngapain lari lari "
Dokter Sisil menghampiri lalu menggendong Sean
" Ean oleh dak akan oklat "
( Sean boleh ngak makan coklat )
Tanya Sean
" Maaf tuan muda , anda masih sakit , belum boleh makan coklat "
Jawab dokter Sisil
" Dak oleh ya , ya udah deh , ean mau ain lagi "
( Ngak boleh ya , ya udah deh , Sean mau main lagi )
Sean patuh dan menjawab dengan nada memelas
Sean di turunkan dari gendongan dokter Sisil dan berjalan masuk kembali ke rumah , saat sampai di dapur
" Paman , tadi tuan muda kesini ya , tanya boleh makan coklat apa enggak "
Tanya sitter azza kepada pak Sam
" Iya , terus tadi Sean pergi ke dokter Sisil , tanya boleh makan coklat apa enggak "
Jawab pak Sam menjelaskan
" Syukur deh "
Sitter azza bersyukur sambil mengelus dada
" Emang sukur kenapa "
__ADS_1
Tanya bi aini dan di angguki oleh pak Sam
" Tadi tuh , tuan muda tanya sama azza , boleh makan coklat apa enggak, terus azza ngelarang , soalnya azza ngak mau tuan muda kebanyakan makan manisan "
Jelas sitter azza
" Emang kenapa , kan seharian tuan muda tampan ku belom makan manis manis "
Bela bi Aini
" Iya , azza tau mbak , tapi nanti giginya keropos "
Azza membela diri
" Oh..... Gitu toh "
Bi Aini memberi oh yang panjang dan melanjutkan kegiatannya
Tiba tiba bi Ani menyambung kalimatnya kembali
" Awas lho ya "
Bi Aini memberi peringatan
" Eamang kenapa mbak ??"
Tanya sitter azza
" Tuan muda bisa marah sama kamu "
Kata bi Aini
" Ngak mungkin lah mbak , orang tuan muda belum tau kalo saya yang ngelarang dokter Sisil untuk ngebolehin tuan muda makan coklat "
Kata sitter azza dengan pelan
Mereka tidak tau bahwa ucapan mereka di dengar oleh Sean kecil dari balik dinding
"Az-az nyebelin , awas aja kamu ya , coklat jatah dua hari ke depan aku hilangin semuanya "
Gerutu Sean dalam hati
Drama end
" Gitu apapa , apapa anan asi au ya ssssttt.... "
( Gitu papa , papa jangan kasih tau ya ssssttttt... )
Sean meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dan memajukan bibirnya
" Emang apa yang mau kamu lakuin "
Tanya sbastian
"Ada deh "
Jawab Sean
" Anak papa udah fasih ya bicaranya "
Sbastian memuji
" Iya dong , anak apapa itu loh "
( Iya dong , anak papa gitu loh)
Sean memukul dadanya dengan bangga
" Hahaha iya iya anak papa , paling pinter "
Makan malam di meja makan Fila itu sangat menyenangkan , Sean makan bersama pak Sam dan sbastian dengan penuh kehangatan keluarga
Bagaikan cucu dan kakeknya , Sean dan pak Sam saling menyuapi
Terkadang Sean akan menyuapi pak Sam dengan buburnya
Bayang bayang putranya yang meninggalkannya kembali terngiang
Putranya yang baru berusia beberapa jam yang meninggalkannya
" Andai kalian masih hidup , putraku , kamu pasti menjadi teman main Sean , dan aku yakin bunda mu akan menyayangi kalian berdua , kita makan bersama , bunda mu akan menyuapi kalian saat makan , bunda mu akan duduk di depan papa , kamu akan di samping Sean , setelah makan kita bermain bersama , dan bunda mu akan memarahi papa jika papa membuat kalian terluka , bunda dan Sean akan menyambut kamu dan papa ketika sampai di rumah , papa akan memeluk bunda dan Sean saat pulang , kalian akan tidur siang bersama . andai nak . andai . Andai tuhan "
Sbastian menitikkan air mata ketika membayangkan itu semua
" Apapa kenapa "
Tanya Sean melihat mata sbastian berkaca-kaca
" Papa ngak papa , ayo makan lagi , Sean mau susu apa nanti , biar papa yang buatin"
Jawab sbastian mengusap air matanya
" Apapa boong ama ean , apapa enapa "
( Papa bohong sama Sean , papa kenapa)
Sean mulai menarik ujung pakaian sbastian
"Ngak papa nak , makan lagi ya "
Sbastian mengalihkan perhatian
" Apapa kek , apapa nanis "
( Papa kek , papa nangis )
Sean menarik lengan pak Sam dan mulai mengeluarkan air matanya
" Apapa napa "
( Papa kenapa )
Sean mulai menangis
" Papa ngak kenapa kenapa sayang "
Sbastian menggendong dan memeluk Sean yang mulai menangis
" Apapa , ean inta maap alo alah "
( papa , Sean minta maaf kalo salah )
Sean mulai menangis dengan keras dan memeluk leher sbastian
" Nggak bukan salah Sean , Sean ngak salah , cup cup cup , Sean ngak salah "
Sbastian menenangkan Sean yang sudah mulai sesenggukan
" Maap apapa hiks..."
(Maaf papa hiks...)
Sean meminta maaf kepada sbastian
" Anak papa , cup cup , anak papa kan pinter kenapa nangis "
Sbastian menenangkan Sean
__ADS_1
Cukup lama sbastian menenangkan Sean hingga Sean tertidur
" Nak , kamu ngak papa "
Pak Sam bertanya kepada
" Ngak papa ayah , Tian baik "
Sbastian menenangkan pak Sam
" Yasudah , Ayah bawakan obat Sean ke kamar , kamu ke kamar saja dulu "
Perintah ayah
" Ayah istirahat saja , biar azza saja yang bawa "
Sbastian meminta pak Sam beristirahat
" sitter Azza "
Sbastian memanggil nama azza
" Iya tuan "
Sitter azza muncul
" Kamu bawakan obat Sean ke kamar "
Sbastian memerintahkan
" Baik tuan "
Jawab sitter azza
" Ayah istirahat saja "
Sbastian tersenyum
" Iya nak , tidak usah di pikirkan "
Pak Sam mengelus kepala sbastian
Sbastian melenggang pergi meninggalkan pak Sam
" Lho , aku lupa sama John "
Gerutu sbastian
Sbastian mendekati pintu ruang kerja miliknya dan membukanya
" John , kamu belum makan "
Tanya sbastian
" Belum tuan "
Jawab asisten John
" Makan dulu sana "
Perintah sbastian
" Em...... Nanti saja , tanggung hehehe "
Asisten John cengengesan
" Astaga kalo Lo sakit , gue gak ikut ikut lho ya "
Sbastian berkata dengan acuh
" Tenang bro , daya tahan tubuh gua gak bisa di ragukan "
Sahut asisten John bangga
" Heh tuan asisten , sakit baru tau rasa Lo"
Sbastian ngegas
" Wow selow men , ngak usah ngegas , hahaha"
Asisten John tertawa
" Ssssttt... Anak gua tidur , mau gua bunuh Lo ya "
Sbastian memelototi asisten John
" Ups , maaf tuan , hamba salah "
Asisten John sedikit membungkuk , bukan tanda hormat , melainkan ejekan
" Untung gue masih butuh Lo "
Sbastian melenggang pergi
" Sukur Lo masih butuh gua "
Asisten John mengikuti sampai sbastian menaiki tangga
Setelah sampai di kamar sbastian meletakkan Sean di atas tempat tidur
Tak lama ada yang mengetuk pintu
" Ini saya tuan "
Sitter azza memberitahu
Sbastian membuka pintu dan menerima nampan dari sitter azza
" Pergilah , ambil makanan dan antarkan kepada asisten John , kasian dia belum makan , kamu tau dia sukanya apa kan , sitter azza "
Sbastian menekan kalimat terakhirnya
" Iya tuan , saya tau "
Sitter azza menunduk
" Baiklah , kalian segeralah menikah , aku pusing dengan percintaan kalian "
Sbastian memijat keningnya
" Hehehe , maaf tuan , hais kalian berdua ini , sudah turunlah "
Titah sbastian
" Baik tuan , terimakasih "
Sitter azza turun dengan riang
" Dasar anak baru puber , meresahkan "
Sbastian meletakkan nampan di atas nakas
Sbastian merebahkan dirinya di samping Sean dan memeluk Sean dari samping
" Malam anak papa , muach "
Sbastian mencium rambut Sean
__ADS_1