Aku Pangeran

Aku Pangeran
#39 { terbang }


__ADS_3

Di rumah sakit


" Sean "


Sbastian tadi tertidur terlonjak kaget karena mendengar suara nyaring Sean di telinganya


" Anakku "


Sbastian menoleh dan tersenyum melihat Sean yang masih terpejam di sebelahnya


" Muach.. "


Sbastian mencium kening Sean lalu melihat jam


" Baru Lima menit aku tertidur "


Sbastian bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu


Bersama Sean


" Dasar kamu ya... Kalo aku jatuh gimana "


Sean berteriak-teriak dan menghentakkan kakinya dengan keras


" Maaf..maaf aku salah "


Makhluk itu merubah tampilannya menjadi manusia seukuran Sbastian dengan dua tanduk rusa yang sangat besar menempel di kepalanya dan ekor seperti buaya yang ada di belakang tubuhnya


" Hah "


Sean terkejut bukan main


" Ini wujud manusiaku... Tidak perlu terkejut seperti itu "


Makhluk itu memotong batang bunga merah besar yang menangkap Sean dari ketinggian


" Kamu ini siapa sih "


Sean turun dari atas bunga besar itu di bantu oleh makhluk itu


" Duduklah "


Makhluk itu meminta Sean duduk di atas kelopak bunga yang ia petik dan ia letakkan di atas tanah


" baiklah "


Sean merangkak ke atas kelopak bunga yang sebesar tempat tidur miliknya lalu duduk di sana dengan tenang


" Apakah kamu putra dari Sbastian Ken Sora"


Tiba-tiba makhluk itu bertanya dan membuat Sean mengerutkan keningnya


" Itu benar , papaku Sbastian Ken Sora , dan aku Sean Ken Sora "


Sean menjelaskan dengan gamblang


" Jadi benar yang di katakan nenek peyot itu"


Makhluk itu menggumam


" Nenek siapa "


Sean mengerenyitkan keningnya kembali


" Itu nenek peyot yang suka sama air "


Makhluk itu dengan senang memberitahu


" Ntahlah , serah kau , ku tak peduli "


Sean menggelengkan kepalanya


" Eh..... "


Tiba-tiba Sean memegang keningnya


" Kenapa "


Makhluk itu memiringkan kepalanya


" Aku merasa ada yang mencium keningku , ini sudah dua kali "


Sean menggosok keningnya


" Mungkin itu papamu "


Makhluk itu memberikan kemungkinan


" Benarkah... Itu papaku.... Kereeen "


Sean mengagumi keningnya yang bisa merasakan ciuman papanya Dari dimensi lain


" Kalau begitu aku mau pulang , papa pasti menungguku "


Sean berdiri dan turun dari atas kelopak bunganya


" Tunggu dulu... "


Makhluk itu menahan Sean yang hendak pergi


" Kenapa "


Sean memiringkan kepalanya


" Kata nenek peyot itu... Kamu harus memecahkan telur api di gunung itu "


Makhluk itu menunjuk gunung yang terbelah setengah karena batas dimensi


" Telur sapi ?? "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Telor api woe , bukan telor sapi , lagian sapi ngak bertelur "


Makhluk itu berdiri lalu membenarkan pakaiannya


" Oh.... Telor api "


Sean memanggut-manggutkan kepalanya


" Iya... Aku akan membawamu , ini pesan dari nenek peyot itu "


Makhluk itu mengeluarkan sayapnya yang sangat besar


" Woah... Kereeen "


Sean menatap sayap itu kagum


" Ayo pergi "


Makhluk itu menggendong Sean dan membawanya terbang ke langit lalu dengan kecepatan penuh menuju gunung itu


" Kamu ini sebenarnya apa sih "


Sean berbicara dengan keras karena angin menerbangkan suaranya


" Aku ini seekor naga "


Makhluk itu menambah kecepatannya

__ADS_1


" KAMU APA... AKU NGAK DENGER "


Sean berteriak


" NANTI SAJA "


Makhluk itu semakin menambah kecepatannya


" BAIKLAH "


Sean mengangguk faham


Sesampainya di atas gunung setengah itu , Sean di turunkan


" Waaaw... Hehehe tadi seru... "


Sean sempoyongan ke kanan dan ke kiri , tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya lalu jatuh terduduk di atas tanah


" baru pertama kali terbang ya "


Makhluk itu membantu Sean berdiri dan membersihkan pakaian Sean dari tanah


" Iya... Kalau renang udah pernah "


Sean mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya


" baiklah.... Pergilah ke sana "


Makhluk itu menunjuk tempat yang sepertinya tertimpa longsoran salju


" Kesana "


Sean menaikkan alisnya


" Iya... Pergilah sendiri "


Makhluk itu mengangguk


" Kesana... Sendiri nih ??"


Sean menoleh ke arah yang di tunjuk oleh makhluk itu


" Iya lah , aku ngak bisa ikut , batasku cuma sampai di sini saja , aku akan menunggumu hingga kamu kembali "


Makhluk itu duduk dan mendorong tubuh kecil Sean memasuki perbatasan antara tempat bersalju dan tempatnya


" Dimana tempatnya "


Sean menoleh untuk bertanya namun makhluk itu dan dunia indah itu menghilang


" Lho dimana dia "


Sean melihat sekeliling dan menyadari dia di kelilingi oleh salju tebal yang putih


" Lho.. tadi kan di belakang sini bukan salju"


Sean menggaruk kepalanya kebingungan


" Terus....Sean pulangnya gimana "


Sean menoleh ke berbagai arah untuk mencari tempatnya semula


" Anda sudah datang tuan "


Sebuah suara mengejutkan Sean


" Siapa tuan "


Sean celingukan mencari sumber suara itu


" Dia itu tuanku "


" Sejak kapan dia tuan mu "


Suara awal yang menyambutnya tadi terdengar kembali


" Lho dia itu tuanku "


Suara anak kecil perempuan itu terdengar kembali


Dan Sean baru sadar bahwa kedua suara itu adalah suara anak-anak , berbeda dari suara si makhluk aneh yang tadi menunggunya , suaranya sangat besar dan menggelegar


" siapa tuannya "


Sean meletakkan telunjuknya di dagu untuk berfikir


" Tuan saya sudah menunggu ada sangat lama "


Suara anak perempuan itu kembali terdengar


" Tuan saya lebih lama menunggu ada daripada dia "


Suara anak laki-laki itu kembali menyahuti


" Iya deh gapapa , aku lebih muda , pasti tuan suka sama aku yang masih muda "


Suara anak perempuan itu menyombongkan diri


" Maksudnya lho "


Sean membatin


" Tapi aku lebih kuat dari mu , tuan pasti menyukaiku "


Suara anak laki-laki itu tidak mau kalah


" Tunggu-tunggu... Ini siapa sih tuannya "


Sean mengerjapkan matanya kebingungan


" Anda adalah tuan saya.... Tuan Sean , putra dari Sbastian "


Suara anak laki-laki itu menjawab


" Enak saja , dia itu tuan ku "


Suara anak perempuan itu membantah


" Aku itu anak buah tuan Sean "


Suara anak Laki-laki itu memberitahu dengan bangga


" Lho..lho..lho.. aku ini cewek cantik , pasti tuan Sean lebih milih aku "


Suara anak perempuan itu menyombongkan dirinya


" Cewek cantik ?? Aku ini masih lima tahun lho "


Sean membatin


" Kalian ini siapa... Kok ngak ada orangnya tapi kok ngaku-ngaku anak buah ku , emang aku kenal "


Sean berteriak-teriak kepada suara-suara aneh itu


" Eh ...... Hehehehe "


Kedua suara itu tertawa kaku


" Tuan tolong kami "

__ADS_1


Suara anak perempuan itu terdengar menyedihkan


" Dia benar tuan mohon belas kasih anda... Kami sudah di sini selama bertahun-tahun untuk menunggu tuan menjemput kami "


Suara anak laki-laki itu mengiyakan suara anak perempuan itu


" Jika tuan berkenan kami akan menunjukkan jalan menuju tempat kami "


Suara anak perempuan itu menyahuti


" Namun jika tuan tidak berkenan , kami akan menunggu tuan hingga tuan berkenan membebaskan kami "


Suara anak laki-laki itu mengiyakan


" Lha... Bisa akur ternyata , aku kira kerjaan mereka cuma berantem "


Sean membatin


" Baiklah.... Kalian dimana "


Sean melihat tangannya di atas dada


" Kami ada di dekat pohon besar di tengah-tengah Padang salju tuan "


Suara anak perempuan itu memberitahu


" Aku baru dengar ada Padang salju "


Sean membatin


" Baiklah.... Aku akan mencarinya "


Sean mulai beranjak dari tempatnya


" Maaf tuan... Kami ada di arah sebaliknya "


Suara anak laki-laki itu menghentikan langkah kaki Sean


" Baiklah..."


Sean memutar badannya dan mulai berjalan


" Apa arah ini benar "


Sean bertanya


" Iya tuan... Anda hanya harus lurus "


Suara anak perempuan itu membenarkan langkah Sean


" Okeh "


Sean melangkah perlahan menuju arah yang di tunjukkan oleh suara itu


" Tadi Sean belum tanya siapa nama paman bersayap tadi , nanti Sean pulangnya gimana ya "


Sean berbicara dalam hati sambil berjalan terus mengikuti instruksi suara anak-anak itu


" Sean kan anak-anak juga... Gimana sih kak Thor "


Sean berbicara dalam hati


" Apa sudah dekat "


Sean berbicara kepada suara itu


" Sudah tuan , anda hampir sampai "


Suara anak perempuan itu menyahuti


" Apakah anda melihat sebuah pohon besar tuan "


Suara anak laki-laki itu bertanya


" Sebentar "


Sean menajamkan pengelihatannya


" Itu aku melihatnya "


Sean melihat sebuah pohon yang sangat besar dan di bawah pohon itu tumbuh rerumputan dan beberapa bunga


" Hanya di bawah pohon itu yang tidak terkena salju , ada apa ya "


Sean mempercepat langkahnya


" Kalian dimana "


Sean semakin dekat dengan pohon itu


" Kami ada di lubang di bawah pohon "


Suara anak laki-laki itu memberitahu


" Lubang...lubang...lubang..."


Sean mengelilingi pohon persik yang sangat besar itu


" Wah... Ketemu "


Sean menemukan lubang yang cukup untuk dimasukinya


" Apa kalian di dalam "


Sean memastikan


" Iya tuan... Kami di dalam "


Kedua suara itu meyakinkan


" Hehehe... Bagaimana aku bisa percaya kepada kalian "


Sean duduk di bawah pohon di samping lubang gua


" A..a..apa maksud anda tuan "


Suara itu terkejut karena pertanyaan Sean


" Bagaimana aku bisa percaya dengan orang yang baru aku temui , bahkan hanya suaranya , siapa tau kau itu sesuatu yang di kurung di sini karena sebuah kesalahan , lalu kalian memanfaatkan ku untuk bebas dari sini "


Sean menjelaskan dengan gamblang dan duduk merebahkan dirinya di bawah pohon persik itu


" Tuan.. kami sudah berjanji dan bersumpah akan selalu setia kepada anda "


Suara mereka saling sahut menyahut


" Siapa yang membuat kalian bersumpah "


Sean memejamkan matanya menikmati kesejukan pohon persik itu


" Orang tua anda "


Suara anak wanita itu menjawab


" Orang tuaku "


Sean duduk dan mengerenyitkan keningnya


" Ya... Orang tua anda "

__ADS_1


Suara itu meyakinkan


__ADS_2