
Di rumah sakit
" Sean "
Sbastian tadi tertidur terlonjak kaget karena mendengar suara nyaring Sean di telinganya
" Anakku "
Sbastian menoleh dan tersenyum melihat Sean yang masih terpejam di sebelahnya
" Muach.. "
Sbastian mencium kening Sean lalu melihat jam
" Baru Lima menit aku tertidur "
Sbastian bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu
Bersama Sean
" Dasar kamu ya... Kalo aku jatuh gimana "
Sean berteriak-teriak dan menghentakkan kakinya dengan keras
" Maaf..maaf aku salah "
Makhluk itu merubah tampilannya menjadi manusia seukuran Sbastian dengan dua tanduk rusa yang sangat besar menempel di kepalanya dan ekor seperti buaya yang ada di belakang tubuhnya
" Hah "
Sean terkejut bukan main
" Ini wujud manusiaku... Tidak perlu terkejut seperti itu "
Makhluk itu memotong batang bunga merah besar yang menangkap Sean dari ketinggian
" Kamu ini siapa sih "
Sean turun dari atas bunga besar itu di bantu oleh makhluk itu
" Duduklah "
Makhluk itu meminta Sean duduk di atas kelopak bunga yang ia petik dan ia letakkan di atas tanah
" baiklah "
Sean merangkak ke atas kelopak bunga yang sebesar tempat tidur miliknya lalu duduk di sana dengan tenang
" Apakah kamu putra dari Sbastian Ken Sora"
Tiba-tiba makhluk itu bertanya dan membuat Sean mengerutkan keningnya
" Itu benar , papaku Sbastian Ken Sora , dan aku Sean Ken Sora "
Sean menjelaskan dengan gamblang
" Jadi benar yang di katakan nenek peyot itu"
Makhluk itu menggumam
" Nenek siapa "
Sean mengerenyitkan keningnya kembali
" Itu nenek peyot yang suka sama air "
Makhluk itu dengan senang memberitahu
" Ntahlah , serah kau , ku tak peduli "
Sean menggelengkan kepalanya
" Eh..... "
Tiba-tiba Sean memegang keningnya
" Kenapa "
Makhluk itu memiringkan kepalanya
" Aku merasa ada yang mencium keningku , ini sudah dua kali "
Sean menggosok keningnya
" Mungkin itu papamu "
Makhluk itu memberikan kemungkinan
" Benarkah... Itu papaku.... Kereeen "
Sean mengagumi keningnya yang bisa merasakan ciuman papanya Dari dimensi lain
" Kalau begitu aku mau pulang , papa pasti menungguku "
Sean berdiri dan turun dari atas kelopak bunganya
" Tunggu dulu... "
Makhluk itu menahan Sean yang hendak pergi
" Kenapa "
Sean memiringkan kepalanya
" Kata nenek peyot itu... Kamu harus memecahkan telur api di gunung itu "
Makhluk itu menunjuk gunung yang terbelah setengah karena batas dimensi
" Telur sapi ?? "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Telor api woe , bukan telor sapi , lagian sapi ngak bertelur "
Makhluk itu berdiri lalu membenarkan pakaiannya
" Oh.... Telor api "
Sean memanggut-manggutkan kepalanya
" Iya... Aku akan membawamu , ini pesan dari nenek peyot itu "
Makhluk itu mengeluarkan sayapnya yang sangat besar
" Woah... Kereeen "
Sean menatap sayap itu kagum
" Ayo pergi "
Makhluk itu menggendong Sean dan membawanya terbang ke langit lalu dengan kecepatan penuh menuju gunung itu
" Kamu ini sebenarnya apa sih "
Sean berbicara dengan keras karena angin menerbangkan suaranya
" Aku ini seekor naga "
Makhluk itu menambah kecepatannya
__ADS_1
" KAMU APA... AKU NGAK DENGER "
Sean berteriak
" NANTI SAJA "
Makhluk itu semakin menambah kecepatannya
" BAIKLAH "
Sean mengangguk faham
Sesampainya di atas gunung setengah itu , Sean di turunkan
" Waaaw... Hehehe tadi seru... "
Sean sempoyongan ke kanan dan ke kiri , tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya lalu jatuh terduduk di atas tanah
" baru pertama kali terbang ya "
Makhluk itu membantu Sean berdiri dan membersihkan pakaian Sean dari tanah
" Iya... Kalau renang udah pernah "
Sean mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya
" baiklah.... Pergilah ke sana "
Makhluk itu menunjuk tempat yang sepertinya tertimpa longsoran salju
" Kesana "
Sean menaikkan alisnya
" Iya... Pergilah sendiri "
Makhluk itu mengangguk
" Kesana... Sendiri nih ??"
Sean menoleh ke arah yang di tunjuk oleh makhluk itu
" Iya lah , aku ngak bisa ikut , batasku cuma sampai di sini saja , aku akan menunggumu hingga kamu kembali "
Makhluk itu duduk dan mendorong tubuh kecil Sean memasuki perbatasan antara tempat bersalju dan tempatnya
" Dimana tempatnya "
Sean menoleh untuk bertanya namun makhluk itu dan dunia indah itu menghilang
" Lho dimana dia "
Sean melihat sekeliling dan menyadari dia di kelilingi oleh salju tebal yang putih
" Lho.. tadi kan di belakang sini bukan salju"
Sean menggaruk kepalanya kebingungan
" Terus....Sean pulangnya gimana "
Sean menoleh ke berbagai arah untuk mencari tempatnya semula
" Anda sudah datang tuan "
Sebuah suara mengejutkan Sean
" Siapa tuan "
Sean celingukan mencari sumber suara itu
" Dia itu tuanku "
" Sejak kapan dia tuan mu "
Suara awal yang menyambutnya tadi terdengar kembali
" Lho dia itu tuanku "
Suara anak kecil perempuan itu terdengar kembali
Dan Sean baru sadar bahwa kedua suara itu adalah suara anak-anak , berbeda dari suara si makhluk aneh yang tadi menunggunya , suaranya sangat besar dan menggelegar
" siapa tuannya "
Sean meletakkan telunjuknya di dagu untuk berfikir
" Tuan saya sudah menunggu ada sangat lama "
Suara anak perempuan itu kembali terdengar
" Tuan saya lebih lama menunggu ada daripada dia "
Suara anak laki-laki itu kembali menyahuti
" Iya deh gapapa , aku lebih muda , pasti tuan suka sama aku yang masih muda "
Suara anak perempuan itu menyombongkan diri
" Maksudnya lho "
Sean membatin
" Tapi aku lebih kuat dari mu , tuan pasti menyukaiku "
Suara anak laki-laki itu tidak mau kalah
" Tunggu-tunggu... Ini siapa sih tuannya "
Sean mengerjapkan matanya kebingungan
" Anda adalah tuan saya.... Tuan Sean , putra dari Sbastian "
Suara anak laki-laki itu menjawab
" Enak saja , dia itu tuan ku "
Suara anak perempuan itu membantah
" Aku itu anak buah tuan Sean "
Suara anak Laki-laki itu memberitahu dengan bangga
" Lho..lho..lho.. aku ini cewek cantik , pasti tuan Sean lebih milih aku "
Suara anak perempuan itu menyombongkan dirinya
" Cewek cantik ?? Aku ini masih lima tahun lho "
Sean membatin
" Kalian ini siapa... Kok ngak ada orangnya tapi kok ngaku-ngaku anak buah ku , emang aku kenal "
Sean berteriak-teriak kepada suara-suara aneh itu
" Eh ...... Hehehehe "
Kedua suara itu tertawa kaku
" Tuan tolong kami "
__ADS_1
Suara anak perempuan itu terdengar menyedihkan
" Dia benar tuan mohon belas kasih anda... Kami sudah di sini selama bertahun-tahun untuk menunggu tuan menjemput kami "
Suara anak laki-laki itu mengiyakan suara anak perempuan itu
" Jika tuan berkenan kami akan menunjukkan jalan menuju tempat kami "
Suara anak perempuan itu menyahuti
" Namun jika tuan tidak berkenan , kami akan menunggu tuan hingga tuan berkenan membebaskan kami "
Suara anak laki-laki itu mengiyakan
" Lha... Bisa akur ternyata , aku kira kerjaan mereka cuma berantem "
Sean membatin
" Baiklah.... Kalian dimana "
Sean melihat tangannya di atas dada
" Kami ada di dekat pohon besar di tengah-tengah Padang salju tuan "
Suara anak perempuan itu memberitahu
" Aku baru dengar ada Padang salju "
Sean membatin
" Baiklah.... Aku akan mencarinya "
Sean mulai beranjak dari tempatnya
" Maaf tuan... Kami ada di arah sebaliknya "
Suara anak laki-laki itu menghentikan langkah kaki Sean
" Baiklah..."
Sean memutar badannya dan mulai berjalan
" Apa arah ini benar "
Sean bertanya
" Iya tuan... Anda hanya harus lurus "
Suara anak perempuan itu membenarkan langkah Sean
" Okeh "
Sean melangkah perlahan menuju arah yang di tunjukkan oleh suara itu
" Tadi Sean belum tanya siapa nama paman bersayap tadi , nanti Sean pulangnya gimana ya "
Sean berbicara dalam hati sambil berjalan terus mengikuti instruksi suara anak-anak itu
" Sean kan anak-anak juga... Gimana sih kak Thor "
Sean berbicara dalam hati
" Apa sudah dekat "
Sean berbicara kepada suara itu
" Sudah tuan , anda hampir sampai "
Suara anak perempuan itu menyahuti
" Apakah anda melihat sebuah pohon besar tuan "
Suara anak laki-laki itu bertanya
" Sebentar "
Sean menajamkan pengelihatannya
" Itu aku melihatnya "
Sean melihat sebuah pohon yang sangat besar dan di bawah pohon itu tumbuh rerumputan dan beberapa bunga
" Hanya di bawah pohon itu yang tidak terkena salju , ada apa ya "
Sean mempercepat langkahnya
" Kalian dimana "
Sean semakin dekat dengan pohon itu
" Kami ada di lubang di bawah pohon "
Suara anak laki-laki itu memberitahu
" Lubang...lubang...lubang..."
Sean mengelilingi pohon persik yang sangat besar itu
" Wah... Ketemu "
Sean menemukan lubang yang cukup untuk dimasukinya
" Apa kalian di dalam "
Sean memastikan
" Iya tuan... Kami di dalam "
Kedua suara itu meyakinkan
" Hehehe... Bagaimana aku bisa percaya kepada kalian "
Sean duduk di bawah pohon di samping lubang gua
" A..a..apa maksud anda tuan "
Suara itu terkejut karena pertanyaan Sean
" Bagaimana aku bisa percaya dengan orang yang baru aku temui , bahkan hanya suaranya , siapa tau kau itu sesuatu yang di kurung di sini karena sebuah kesalahan , lalu kalian memanfaatkan ku untuk bebas dari sini "
Sean menjelaskan dengan gamblang dan duduk merebahkan dirinya di bawah pohon persik itu
" Tuan.. kami sudah berjanji dan bersumpah akan selalu setia kepada anda "
Suara mereka saling sahut menyahut
" Siapa yang membuat kalian bersumpah "
Sean memejamkan matanya menikmati kesejukan pohon persik itu
" Orang tua anda "
Suara anak wanita itu menjawab
" Orang tuaku "
Sean duduk dan mengerenyitkan keningnya
" Ya... Orang tua anda "
__ADS_1
Suara itu meyakinkan