
"Wah.... Putraku tampan sekali , suster aku mau mengazani putraku , bisa tolong di keluarkan " pinta sbastian kepada suster
"Baik tuan " suster mengeluarkan putra sbastian
Setelah mengazani putranya sbastian mengikuti suster untuk memindahkan kotak bayi milik putranya ke ruang rawat adinda
"Apa adinda sudah sadar ayah " tanya sbastian kepada pak Sam
" Belum Tian " pak Sam menjawab
"Kemana kedua orang itu " tanya sbastian kepada pak Sam
"Nak , tidak boleh seperti itu , bagaimanapun mereka tetap orangtuamu " nasehat pak Sam untuk sbastian
"Baik ayah " jawab sbastian
Lalu sbastian kembali meninggalkan adinda dan pak Sam untuk pergi keruangan dokter yang menangani adinda
Setelah kembali dari ruangan dokter sbastian terlihat sangat lesu dan langsung mengambil tempat duduk di samping bangkar adinda
"Kenapa Tian " pak Sam bertanya
" Bagaimana ini ayah " sbastian menceritakan semua kepada pak Sam tanpa ada yang terlewat
"Kamu harus banyak berdoa nak , umur manusia tidak ada yang tau " nasehat pak Sam
"Iya ayah " jawab sbastian
Namun tidak lama Sbastian merasakan tangan adinda yang ia genggam bergerak
"Adinda" sbastian mengusap kepala adinda
Adinda perlahan membuka kelopak matanya
"Abi" panggil adinda
Adinda membuka mata perlahan , pandangannya kabur , dia mengenali sbastian karena suara yang tadi memanggilnya
"Iya sayang " sbastian memencet tombol nurse bell yang ada di dekat ranjang untuk memanggil perawat
"Dimana anak kita Abi " tanya adinda kepada sbastian
"Iya , anak kita ada di sana " ucap sbastian sambil menunjuk arah dimana putranya di letakkan
"Kenapa di taruh di dalam kotak seperti itu Abi "tanya adinda
"Anak kita lahir di usia kandungan 6 bulan sayang , maka dari itu harus di letakkan di dalam situ agar tetap hangat " jelas sbastian
Tak lama suster datang dan adinda di cek suhu badan dan segala yang perlu di tanyakan
Setelah suster keluar
__ADS_1
" Abi , Adin mau di foto sama anak kita , boleh ya Abi " adinda meminta hal itu kepada sbastian
"Eh.... Memang kenapa sayang , kita bisa foto setelah kita keluar dari rumah sakit " nasehat sbastian kepada adinda
"Tapi Abi , Adin mau foto , boleh ya Abi " adinda merayu sbastian agar mengijinkannya berfoto dengan putranya
Dan terjadilah perdebatan yang membuat pak Sam menutup telinganya
"Sudah sudah , Tian bilang saja ke dokter , tanyakan boleh atau tidak " lerai pak Sam
" Baik ayah " akhirnya sbastian mengalah karena pak Sam menasehati
Lalu.....
" Dokter mengizinkan , ini susternya dia akan bantu " Sbastian memberitahu
"Yey , aku sayang Abi hehehe " adinda berterimakasih dan memeluk sbastian yang berdiri di samping bangkitnya
"Maaf nyonya , tapi anda belum boleh banyak bergerak , nanti jahitannya bisa terbuka lagi " suster mengingatkan
"Hehehehe" adinda hanya cengengesan mendengar peringatan suater
Setelah waktu yang lam akhirnya adinda menyelesaikan sesi berfoto yang panjang itu
"Abi nanti di cetak ya " pinta adinda
"Sudah kamu istirahat , aku mau pulang dulu , sekalian ngantar ayah , biar ayah istirahat , kamu di sini sama bibi dulu " kata sbastian kepada adinda
"Besok bisa sayang , aku mau cepat kesini , menemanimu dan anak kita " kata sbastian
"Abi udah punya nama belum buat anak kita" adinda bertanya pada sbastian
"Sudah dong , namanya Dimas Ken Sora"
Timpal sbastian
"Bagus bi namanya hehehe " kekeh adinda
"Iya dong kan suamimu ini yang pilih , kalo nggak bagus bukan sbastian namanya " sombong sbastian
"Yeeee , udah deh cepat sana pulang terus balik sini , jangan lupa , nanti kalo Abi sendirian Abi makan teratur , jangan tidur kemalaman , di minum vitamin nya , jangan mikirin kerjaan terus , kesehatan harus di jaga " adinda mengatakan apa yang ingin Ida katakan sambil menghitung jarinya ada berapa perintah untuk sbastian yang dia keluarkan
"Sayang aku cuma pulang sebentar terus balik sini lagi , bukan mau pergi jauh " kata sbastian kepada adinda
"Iya , tapi Adin tetep khawatir aja , Abi kan cerobohnya minta ampun " ejek adinda
"sayang itu kan dulu , sekarang udah beda " timpal sbastian
"Sudah sudah , kalian ini mau debat sampai kapan . Biasanya orang itu kalo mau di tinggal pasangannya keluar , itu pesen nya yang romantis . Ini malah kayak mau berantem , yang satu nggak mau ngalah, yang satunya sembuh aja , belum , staminanya gede banget " bibi Ainin melerai
Pak Sam hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil
__ADS_1
Bibi Aini sendiri sudah seperti seorang kakak bagi sbastian . Sedari kecil jika pak Sam tidak ada maka bibi Ainin lah yang menemani sbastian , usia bibi hanya terpaut 5 tahun lebih tua dari sbastian , sbastian ingin memanggil bibi Ainin kakak , namun bibi Ainin menolak dan tetap ingin di panggil bibi saja , karena ia merasa panggilan itu tidak pantas untuk dirinya
"Iya bibi " sbastian dan adinda mengatakan itu secara bersamaan
Sbastian meninggalkan rumah sakit bersama pak Sam dan atas perintah adinda segala sesuatu yang di pesan harus di bawa
Waktu itu pukul 11.31 sbastian sampai di rumah hanya 20 menit di rumah dan dia sudah kembali ke rumah sakit . Bagi sbastian 20 menit sudah sangat lama , karena ada yang menunggunya , jika tidak ada yang menunggunya sbastian bisa menghabiskan waktu sampai setengah jam hanya untuk mandi , dan itu belum berganti pakaian
Sesampainya di rumah sakit
"Assalamualaikum " sbastian mengucapkan salam saat di pintu masuk ruang rawat adinda
"Waalaikumsalam" adinda dan bi Ainin menjawab bersama
"Belum tidur adinda " tanya sbastian kepada adinda
" Udah liat belum kok masih nanya . Hehehehe " adinda menjawab dengan cengengesan
" Aku baru liat ada istri di tanya suami jawabnya gini , hadeh " sbastian hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adinda
" Sini Abi , Adin mau ngomong sama Abi "
Panggil adinda
"Iya bentar , tarok ini dulu " jawab sbastian sambil melangkah mendekati sofa yang ada di ruangan itu dan meletakkan beberapa makanan dan pakaian ganti
Setelah itu Sbastian melangkah mendekati bangkar adinda
" Abi nanti kalo sendiri jangan lupa sholatnya di jaga , banyak sholawat , ingat Allah , kalo udah azan jangan kerja terus , sholatnya dahulukan , makan teratur , nggak boleh begadang , jangan kebanyakan minum kopi , dengerin kata ayah , vitaminnya jangan lupa minum " cerocos adinda begitu sbastian duduk
" Sudah sudah , Abi ini ngak pergi jauh , nggak ninggalin kamu yang selalu ngingetin itu semua " sbastian menimpali kalimat adinda
"Lho bukan gitu bi , kan Adin masih sakit , kalo Adin ngak ngingetin sekarang kapan lagi Adin ngingetin " adinda menjawab
" Sudah ah , kamu udah berkali kali ngomong gitu , sekarang istirahat aja gih " titah sbastian
"Iya , iya , kan Adin cuma ngingetin " gerutu adinda
" Ngingetinnya udah Sampek sini aja sekarang kamu istirahat " nasehat sbastian "tadi udah makan belum " tanya sbastian
"Udah sama bibi " jawab Adinda
"Adin mau tidur kalo Abi di Deket Adin "
Kata adinda
"Iya aku di sini Sampek kamu bangun , sekarang tidur anak nakal " kata sbastian sambil mencubit hidung adinda
"Iya jelek , hehehe " adinda membalas ejekan sbastian dengan di iringi kekehan kecil
"Sudah nanti ngak tidur tidur " kata sbastian "muach.... Selamat tidur sayang " sbastian mencium kening adinda dan membiarkan adinda menggenggam tangannya selagi dirinya tidur
__ADS_1