
Setelah Sean baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah di siapkan
" Tuan muda "
Terdengar suara bi Aini
" Bibi "
Sean tersenyum
" Ya Allah tuan mudaku sudah sebesar ini"
Bi Aini menangkup pipi Sean dan memeluk Sean
" Bibi baik baik kan "
Sean bertanya
" Bibi baik "
Bi Aini mengangguk
" Ayah "
Suara Neve terdengar lirih
" Ah bibi , itu anakku "
Sean berjalan menghampiri Neve di ikuti bi Aini
" Anaknya tuan muda "
Bi Aini terkejut
" Nanti ku ceritakan "
Sean memberitahu
" Ayah kemana "
Neve bertanya
" Ayah ganti baju "
Sean mengusap kepala Neve
" Neve laper "
Neve mengerjapkan matanya
" Hem... Iya sih , ini kan sudah jam makan siang "
Sean melihat jam dinding
" Neve di sini dulu ya , ayah pergi sebentar "
Sean meminta
" Kemana "
Neve bertanya
" Naik ke atas , apa Neve mau ikut "
Sean bertanya
" Mau "
Sean mengangguk
" Tuan , sebentar lagi tuan besar dan lainnya akan pulang "
Mao menghampiri
" Kalau begitu akan ku bangunkan istri kecilku "
Sean berdiri dan membawa Neve ke dalam gendongannya
" Makanan untuk siang ini sudah siap "
Bi Aini memberitahu
" Makasih ya Bi "
Sean tersenyum
" Dan ya , jangan bilang kalau aku sudah pulang , akan ku berikan kejutan untuk mereka "
Sean memerintahkan
" Baik tuan muda "
Semua orang serempak menjawab
Sean berjalan meninggalkan semua orang dan naik ke lantai tiga melalui lift
Terdengar samar-samar suara orang-orang di belakang
" Tuan muda ngak di kasih tau "
Suara bi Aini
" Biar saja , biar anak itu terkejut , salah sendiri "
Suara pak Sam terdengar kesal
" Astaga jangan panggil tuan muda lagi , panggil tuan saja , kan sudah punya istri dan anak"
Bi Aini terdengar bersemangat
" Bibi yang paling semangat ya hahaha "
Para penjaga dan maid tertawa
*Ting
Lift terbuka
" Ini apa ayah "
Neve bertanya
" Namanya lift "
Sean memberitahu
" Apa itu fit "
Neve memiringkan kepalanya
" Lift sayang , ini di pakai untuk naik ke lantai atas tanpa naik tangga "
Sean menjelaskan
" Apa ini seperti naganya ayah yang di rumah"
Neve bertanya
" Tidak , ini berbeda "
Sean menjelaskan
*Ting
Lift terbuka
" Lihat , kita tadi dari lantai bawah yang jauh di sana "
Sean menunjuk lantai dasar yang terlihat lumayan jauh
" Jadi kalau naik naga , kita bisa cepat "
Neve menebak
" Hahaha bisa di bilang begitu "
Sean tertawa
Sean berjalan masuk ke dalam kamarnya
*Ckelek
Sean membuka kamarnya dan terkejut melihat istri kecilnya yang tidur dengan posisi yang acak
" Itu siapa yah "
Neve bertanya
" Itu ibu "
*Ckelek
Sean menutup pintu
" Neve duduk di sini dulu ya "
Sean mendudukkan Neve di atas sofa
*Tap..tap..tap..
Sean berjalan menghampiri Fleur yang sedang tidur dengan posisi acak acakan hingga sang penulis sulit menjelaskan
" Fleur sayang "
Sean mengusap kepala Fleur
" Eum... "
Fleur menyisihkan tangan Sean
" Oeeekkk....oeeekkk "
Terdengar suara tangisan bayi
" Suara bayi "
Sean terkejut
" Ayah ayah , ada adek bayi di sini "
Suara Neve memanggil
*Deg
Sean terkejut
*Srak
Sean membuka selimut yang di kenakan Fleur dan terlihat perut Fleur telah rata
" Oeeekkk oeeekkk oeeekkk "
Suara tangisan bayi itu terdengar semakin keras
Sean menoleh ke belakang dan terlihat box bayi di sana
" Adeknya ada dua "
Neve memberitahu
Sean berlari menghampiri Neve dan terlihat dua makhluk kecil mungil saling berhadapan
*Cring
Terdengar suara lonceng kecil dari tangan dua bayi di sana
" Etiez , Levent "
Sean membaca nama yang tertera di gelang si kecil mungil
" Hai anak ayah "
Sean mengangkat salah satu bayi yang ada di sana
" Neve mau lihat "
Neve meminta
" Lihat , ini adik Etiez "
Sean menunjukkan bayi itu kepada Neve
" Adeknya laki laki ya "
Neve bertanya
" Tidak tau , nanti kita tanya ibu "
Sean tersenyum
" Eh tangannya Neve di gigit "
Neve terkejut saat dia menyodorkan jarinya dan si kecil langsung menghisapnya dan tangisan si kecil langsung berhenti
" Adeknya laper "
Sean memberitahu
*Tes
Jatuh setetes air mata Sean dan itu langsung masuk ke dalam mulut Etiez
" Ayah nangis "
Neve menyentuh hidung Sean
" Ayah bahagia sayang "
*Cup
Sean mengecup kening Neve
" Jangan nangis ayah "
Neve menyentuh pipi Sean
" Hei kamu kok ikut nangis sih haha "
__ADS_1
Sean terkekeh
" Jangan nangis hiks... Jangan nangis ayah"
Air mata Neve turun bak hujan dan terdengar suara isakan dari mulut Neve
" Oh anak ayah yang paling besar ini masih suka nangis ya "
Sean mengusap air mata Neve
" Ayah udah ngak sedih "
Neve bertanya
" Enggak "
Sean tersenyum
" Bisa ayah minta tolong "
Sean mengusap kepala Neve
" Apa "
Neve mengusap air matanya
" Bisa Neve turun ke bawah , lalu bilang sama paman penjaga , bi Aini di suruh ayah naik ke atas "
Sean menjelaskan
" Bisa "
Neve mengangguk
" Nanti kalau sudah di bawah , tunggu aja bi Aini , nanti naik sama bi Aini , mengerti "
Sean melepaskan jari Neve dari mulut si bayi
" Ngerti "
Neve mengangguk
" Ayo ayah antar "
Sean berdiri dan membawa Neve keluar
Di lift
" Tekan ini ya "
Sean menunjukkan tombolnya
" Iya "
Neve mengangguk
Saat Sean keluar , Neve menekan tombol yang di tunjukkan Sean
*Ting
Lift menutup dan berjalan turun
Setelah itu Sean bergegas kembali ke kamar , karena menurut pengalamannya jika anak kembar yang satu di bawa maka yang lain akan membuka mata
Di bawah bersama Neve
*Ting
Lift terbuka dan itu menyita perhatian para pengawal
" Paman "
Neve menghampiri seseorang yang ada di samping lift
" Itu di bawah "
Bisik penjaga lainnya
" Eh.. iya "
Penjaga itu melihat Neve
" Paman kenal ngak sama bibi Aini "
Neve bertanya
" Kenal "
Pengawal itu mengangguk
" Ayahku bilang , bibi Aini di suruh naik ke atas , soalnya adek bayinya nangis "
Neve menjelaskan
" Ah adek kecil , siapa ayahmu "
Penjaga itu bertanya
" Eum... "
Neve mengerenyitkan keningnya dan menoleh kesana kemari mencari sesuatu
" Itu ayahku "
Neve menunjuk potret Sean dan Adimas yang terlihat memakai seragam SMP
" Ayahmu yang mana "
Penjaga itu ragu
" Yang itu "
* Tap... Tap... Tap...
Neve berlari mendekati potret di sana
" Ayahku yang ini "
Neve menunjuk potret Sean
" Siapa anak ini "
Suara Sbastian terdengar menggelegar di ruangan yang tenang membuat semua orang menoleh
" Aku Neve "
Neve menjawab
" Anak siapa kamu "
Aniel yang terlihat agak besar , kini menghampiri Neve
" Aku anaknya ayah "
Neve menjawab dengan polos
" Siapa papa "
Terdengar suara Adimas dari belakang
Sbastian menjawab
" Namanya Neve kak "
Aniel mengadu
" Woah... Kamu Neve "
Adimas terkejut
*Bugh
Adimas membuang tas nya di atas sofa
" Iya , aku Neve anaknya ayah "
Neve mengangguk
" Ini ayahmu ya "
Adimas menunjuk potret Sean
" Iya , itu ayahku "
Neve mengangguk
" Hahahaha kamu memang lucu hahaha "
Adimas tiba-tiba tertawa membuat semua orang heran
" Kakak jangan ketawa keras keras , nanti adek yang satunya bangun "
Neve menghentikan suara Neve
" Begitu ya , lalu kenapa kamu di sini "
Adimas membawa Neve ke dalam gendongannya
" Di suruh ayah cari bibi Aini , adeknya nangis"
Neve menjelaskan
" Okeh ayo cari bibi "
Adimas membawa Neve pergi dari sana
" Siapa mas "
Adinda datang dengan membawa beberapa kantong belanjaan
" Neve , dia bilang anaknya Sean "
Sbastian menyipitkan matanya tanda dia masih kebingungan
" Mungkin anak salah satu pelayan "
Adinda memungkinkan
" Tapi ada anak kecil , Aniel suka nanti bisa Aniel ajak main "
Aniel menarik celana Sbastian
" Iya , nanti biar papa bilang sama ibunya agar anak tadi tinggal lebih lama "
Sbastian membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Hehe makasih papa "
Aniel memeluk leher Sbastian
" Tuan muda katanya lapar "
Bi Aini , Adimas dan Neve terlihat berjalan menuju lift
" Iya , tapi nanti Neve makan sama ayah "
Neve yang ada di dalam gendongan Adimas menjawab pertanyaan bi Aini
" Tau gitu bi Aini bawa makanan sekalian "
Bi Aini masuk ke dalam lift bersama dua anak laki laki yang berbeda usia
*Ting
Lift berjalan menuju lantai atas
Di kamar Sean
" Ayah "
Neve masuk di susul yang lain
" Masuk aja "
Sean mempersilahkan saat melihat bi Aini dan Adimas
" Hai Sean "
Adimas masuk
" Jangan ramai "
Sean berdiri sambil menggendong kedua bayinya
" Ouch... Cucu bibi , sini sayang "
Bi Aini membawa Etiez dan memberikannya susu formula
Dan Sean membawa Levent untuk di beri susu formula
" Hai bayi kecil "
Adimas menoel pipi Levent
" Jangan di ganggu paman "
Sean menyisihkan tangan Adimas dengan sikunya
" Kau adikku tapi kau sudah menikah lebih dulu "
Adimas melipat tangannya di atas dada
" Kau kakakku tapi kau ngak nikah nikah"
Sean membalas ejekan Adimas
" Aku anaknya ayah "
Neve tiba-tiba menyahuti
" Hahaha "
Adimas dan Sean tertawa
" Bi Aini "
Terdengar suara Fleur yang lirih
__ADS_1
" Bawa bayiku "
Sean menyerahkan anaknya ke dalam gendongan Adimas
" Mas Sean "
Fleur terkejut
" Hai cantik "
*Grep
Sean menghampiri Fleur dan langsung saja membawa Fleur ke dalam pelukannya
" Mas kapan datang , Fleur rindu "
Fleur menelusupkan wajahnya di atas pundak Sean
" Mas baru sampai , terus anak anaknya mas nangis , karena kamu tidur mas jadi ngak tega bangunin "
Sean mengusap lembut kepala Fleur
" Harusnya mas bangunin Fleur "
Suara Fleur terdengar lirih
" Mas ngak mau "
Sean terdengar lebih lirih dan menelusupkan wajahnya ke dalam rambut panjang Fleur
" Mas jahat hiks... Fleur takut "
Terdengar suara isakan yang lirih
" Maafkan aku sayang "
Sean membawa Fleur ke dalam pangkuannya dan memeluknya erat erat
" Jangan pergi lagi ya "
Suara Fleur meminta
" Mas ngak bisa janji "
*Pluk
Sean membuat Fleur berbaring di atas dadanya yang bidang
" Untuk anak kita "
Suara Fleur terdengar seakan memohon kepada Sean
" Maaf "
Sean mengusap kepala Fleur
Hening....
Di dalam keheningan , Sean mengusap dan mengecup kepala Fleur dengan penuh kasih sayang
" Fleur tadi lihat ada anak kecil "
Fleur bertanya
" Iya , itu anaknya mas "
Sean menjawab
" Mas nikah lagi "
Terdengar bergetar suara Fleur
" Nggak "
Sean menjawab dengan singkat
" Lalu "
Fleur mengangkat wajahnya dan menatap manik mata Sean yang tajam
" Kalau mas ceritakan , kamu harus janji ngak akan marah sama mas "
Sean mengusap wajah Fleur
" Iya "
Fleur mengangguk
" Dengarkan mas baik baik "
Sean duduk dan memeluk Fleur dengan tangan kanan dan tangan kirinya sibuk menggenggam tangan Fleur
Setelah banyak cerita....
" Hiks... Mas lakuin semua itu untuk aku "
Fleur menatap Sean
" He'em "
Sean mengusap air mata Fleur
" Mas ngak bohong kan "
Fleur bertanya
" Kamu pernah dengar kalau mas bohong "
Sean menyatukan keningnya dengan kening Fleur
" Enggak "
Fleur menggeleng
" He'em "
Sean tersenyum
" Huaaaaaa mas ku "
Tangisan Fleur makin jadi di dalam pelukan hangat Sean
" Mas itu sayang banget sama kamu , anak kita , anaknya mas , keluarganya mas "
Sean mengusap kepala Fleur dengan lembut
" Fleur ..hiks.... Ngerti "
Fleur mengangguk
" Hahaha , oh sayang "
Sean tertawa kecil melihat Fleur yang lebih manja dari pada Aniel dulu
" Fleur laper "
Fleur melepaskan pelukannya
" Hahaha istriku ini ya "
Sean mencubit pipi Fleur
" Jangan ganggu hiks... "
Fleur mengusap air matanya yang masih mengalir
" Ayo turun "
Sean berdiri dan meletakkan Fleur di atas tempat tidurnya
" Hijab aku ada di situ "
Fleur menunjuk meja rias
" Mas ambilkan "
Sean mengambil hijab instan Fleur
Sesampainya di bawah
" KAKAAAAK "
Terdengar suara nyaring Aniel
" Apa sih adek , adek bayinya nanti nangis lagi tau "
Adimas menyahuti suara Aniel
" Aku mau lihat adek bayinya , siniin "
Aniel menghentakkan kakinya
" Itu lho sama papa "
Adimas membawa bayi yang di gendongannya menjauh dari Aniel
" Ngak mau , nanti papa ngak bolehin aku cium adeknya "
Aniel terdengar menggerutu
" Iya lha , kalau kamu udah nyium sekali , ngak bakal berhenti kalau ngak nangis "
Adimas membenarkan
" Ayolah kak "
Aniel mengejar Adimas
" Kenapa ini "
Suara Sean mengejutkan semua orang
" Ayah "
Neve yang tadinya ada di atas sofa langsung berlari ke dalam pelukan Sean
" Kenapa ini "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya
" Kakak "
Aniel mendekat
" Hai cantik "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Kakak Aniel rindu "
Aniel memeluk leher Sean
" Kakak juga "
Sean menyahuti Aniel
" Kapan kamu datang "
Sbastian menghampiri Sean sambil membawa salah satu anak Sean
" Baru saja pa "
Sean menurunkan kedua anak kecil yang dia gendong dan memeluk Sbastian
" Dia mirip sama kamu "
Sbastian memaksudkan bayi yang dia gendong
" Kan anaknya Sean "
Sean berbangga diri
" Hahaha , kamu itu ya "
*Cup
Sbastian mencium kening Sean
" Bagaimana kabar bunda "
Sean memeluk adinda
" Baik , kamu sendiri "
Adinda mengusap punggung Sean
" Sean baik "
Sean tersenyum
" Putramu ini mirip dengan ibunya ya "
Adinda memaksudkan bayi yang di gendong Adimas
" Hahaha bunda benar sekali "
Sean tertawa
End......
Hai readers
Novel Sean sampai di sini dulu ya , akunya lagi males ngelanjutin dan ada rencana buat revisi adek Sean unyu mulai eps 1 again
Dan di sini kalian boleh tunjukkan semua opini kalian tentang orang orang yang coba buat sakiti keluarga Sean
Siapa si otak
Siapa tersangka 1
Siapa tersangka 2
Siapa tersangka 3
Dan siapa tuan cookie yang membantu Sbastian saat Sean koma
Dan untuk season 2 mungkin Sean akan kembali menjadi remaja SMA yang normal dengan istri kesayangannya nyonya Fleur yang menjadi gadis SMA terpopuler
__ADS_1