Aku Pangeran

Aku Pangeran
#127 ( adek kembar dan end )


__ADS_3

Setelah Sean baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah di siapkan


" Tuan muda "


Terdengar suara bi Aini


" Bibi "


Sean tersenyum


" Ya Allah tuan mudaku sudah sebesar ini"


Bi Aini menangkup pipi Sean dan memeluk Sean


" Bibi baik baik kan "


Sean bertanya


" Bibi baik "


Bi Aini mengangguk


" Ayah "


Suara Neve terdengar lirih


" Ah bibi , itu anakku "


Sean berjalan menghampiri Neve di ikuti bi Aini


" Anaknya tuan muda "


Bi Aini terkejut


" Nanti ku ceritakan "


Sean memberitahu


" Ayah kemana "


Neve bertanya


" Ayah ganti baju "


Sean mengusap kepala Neve


" Neve laper "


Neve mengerjapkan matanya


" Hem... Iya sih , ini kan sudah jam makan siang "


Sean melihat jam dinding


" Neve di sini dulu ya , ayah pergi sebentar "


Sean meminta


" Kemana "


Neve bertanya


" Naik ke atas , apa Neve mau ikut "


Sean bertanya


" Mau "


Sean mengangguk


" Tuan , sebentar lagi tuan besar dan lainnya akan pulang "


Mao menghampiri


" Kalau begitu akan ku bangunkan istri kecilku "


Sean berdiri dan membawa Neve ke dalam gendongannya


" Makanan untuk siang ini sudah siap "


Bi Aini memberitahu


" Makasih ya Bi "


Sean tersenyum


" Dan ya , jangan bilang kalau aku sudah pulang , akan ku berikan kejutan untuk mereka "


Sean memerintahkan


" Baik tuan muda "


Semua orang serempak menjawab


Sean berjalan meninggalkan semua orang dan naik ke lantai tiga melalui lift


Terdengar samar-samar suara orang-orang di belakang


" Tuan muda ngak di kasih tau "


Suara bi Aini


" Biar saja , biar anak itu terkejut , salah sendiri "


Suara pak Sam terdengar kesal


" Astaga jangan panggil tuan muda lagi , panggil tuan saja , kan sudah punya istri dan anak"


Bi Aini terdengar bersemangat


" Bibi yang paling semangat ya hahaha "


Para penjaga dan maid tertawa


*Ting


Lift terbuka


" Ini apa ayah "


Neve bertanya


" Namanya lift "


Sean memberitahu


" Apa itu fit "


Neve memiringkan kepalanya


" Lift sayang , ini di pakai untuk naik ke lantai atas tanpa naik tangga "


Sean menjelaskan


" Apa ini seperti naganya ayah yang di rumah"


Neve bertanya


" Tidak , ini berbeda "


Sean menjelaskan


*Ting


Lift terbuka


" Lihat , kita tadi dari lantai bawah yang jauh di sana "


Sean menunjuk lantai dasar yang terlihat lumayan jauh


" Jadi kalau naik naga , kita bisa cepat "


Neve menebak


" Hahaha bisa di bilang begitu "


Sean tertawa


Sean berjalan masuk ke dalam kamarnya


*Ckelek


Sean membuka kamarnya dan terkejut melihat istri kecilnya yang tidur dengan posisi yang acak


" Itu siapa yah "


Neve bertanya


" Itu ibu "


*Ckelek


Sean menutup pintu


" Neve duduk di sini dulu ya "


Sean mendudukkan Neve di atas sofa


*Tap..tap..tap..


Sean berjalan menghampiri Fleur yang sedang tidur dengan posisi acak acakan hingga sang penulis sulit menjelaskan


" Fleur sayang "


Sean mengusap kepala Fleur


" Eum... "


Fleur menyisihkan tangan Sean


" Oeeekkk....oeeekkk "


Terdengar suara tangisan bayi


" Suara bayi "


Sean terkejut


" Ayah ayah , ada adek bayi di sini "


Suara Neve memanggil


*Deg


Sean terkejut


*Srak


Sean membuka selimut yang di kenakan Fleur dan terlihat perut Fleur telah rata


" Oeeekkk oeeekkk oeeekkk "


Suara tangisan bayi itu terdengar semakin keras


Sean menoleh ke belakang dan terlihat box bayi di sana


" Adeknya ada dua "


Neve memberitahu


Sean berlari menghampiri Neve dan terlihat dua makhluk kecil mungil saling berhadapan


*Cring


Terdengar suara lonceng kecil dari tangan dua bayi di sana


" Etiez , Levent "


Sean membaca nama yang tertera di gelang si kecil mungil


" Hai anak ayah "


Sean mengangkat salah satu bayi yang ada di sana


" Neve mau lihat "


Neve meminta


" Lihat , ini adik Etiez "


Sean menunjukkan bayi itu kepada Neve


" Adeknya laki laki ya "


Neve bertanya


" Tidak tau , nanti kita tanya ibu "


Sean tersenyum


" Eh tangannya Neve di gigit "


Neve terkejut saat dia menyodorkan jarinya dan si kecil langsung menghisapnya dan tangisan si kecil langsung berhenti


" Adeknya laper "


Sean memberitahu


*Tes


Jatuh setetes air mata Sean dan itu langsung masuk ke dalam mulut Etiez


" Ayah nangis "


Neve menyentuh hidung Sean


" Ayah bahagia sayang "


*Cup


Sean mengecup kening Neve


" Jangan nangis ayah "


Neve menyentuh pipi Sean


" Hei kamu kok ikut nangis sih haha "

__ADS_1


Sean terkekeh


" Jangan nangis hiks... Jangan nangis ayah"


Air mata Neve turun bak hujan dan terdengar suara isakan dari mulut Neve


" Oh anak ayah yang paling besar ini masih suka nangis ya "


Sean mengusap air mata Neve


" Ayah udah ngak sedih "


Neve bertanya


" Enggak "


Sean tersenyum


" Bisa ayah minta tolong "


Sean mengusap kepala Neve


" Apa "


Neve mengusap air matanya


" Bisa Neve turun ke bawah , lalu bilang sama paman penjaga , bi Aini di suruh ayah naik ke atas "


Sean menjelaskan


" Bisa "


Neve mengangguk


" Nanti kalau sudah di bawah , tunggu aja bi Aini , nanti naik sama bi Aini , mengerti "


Sean melepaskan jari Neve dari mulut si bayi


" Ngerti "


Neve mengangguk


" Ayo ayah antar "


Sean berdiri dan membawa Neve keluar


Di lift


" Tekan ini ya "


Sean menunjukkan tombolnya


" Iya "


Neve mengangguk


Saat Sean keluar , Neve menekan tombol yang di tunjukkan Sean


*Ting


Lift menutup dan berjalan turun


Setelah itu Sean bergegas kembali ke kamar , karena menurut pengalamannya jika anak kembar yang satu di bawa maka yang lain akan membuka mata


Di bawah bersama Neve


*Ting


Lift terbuka dan itu menyita perhatian para pengawal


" Paman "


Neve menghampiri seseorang yang ada di samping lift


" Itu di bawah "


Bisik penjaga lainnya


" Eh.. iya "


Penjaga itu melihat Neve


" Paman kenal ngak sama bibi Aini "


Neve bertanya


" Kenal "


Pengawal itu mengangguk


" Ayahku bilang , bibi Aini di suruh naik ke atas , soalnya adek bayinya nangis "


Neve menjelaskan


" Ah adek kecil , siapa ayahmu "


Penjaga itu bertanya


" Eum... "


Neve mengerenyitkan keningnya dan menoleh kesana kemari mencari sesuatu


" Itu ayahku "


Neve menunjuk potret Sean dan Adimas yang terlihat memakai seragam SMP


" Ayahmu yang mana "


Penjaga itu ragu


" Yang itu "


* Tap... Tap... Tap...


Neve berlari mendekati potret di sana


" Ayahku yang ini "


Neve menunjuk potret Sean


" Siapa anak ini "


Suara Sbastian terdengar menggelegar di ruangan yang tenang membuat semua orang menoleh


" Aku Neve "


Neve menjawab


" Anak siapa kamu "


Aniel yang terlihat agak besar , kini menghampiri Neve


" Aku anaknya ayah "


Neve menjawab dengan polos


" Siapa papa "


Terdengar suara Adimas dari belakang


Sbastian menjawab


" Namanya Neve kak "


Aniel mengadu


" Woah... Kamu Neve "


Adimas terkejut


*Bugh


Adimas membuang tas nya di atas sofa


" Iya , aku Neve anaknya ayah "


Neve mengangguk


" Ini ayahmu ya "


Adimas menunjuk potret Sean


" Iya , itu ayahku "


Neve mengangguk


" Hahahaha kamu memang lucu hahaha "


Adimas tiba-tiba tertawa membuat semua orang heran


" Kakak jangan ketawa keras keras , nanti adek yang satunya bangun "


Neve menghentikan suara Neve


" Begitu ya , lalu kenapa kamu di sini "


Adimas membawa Neve ke dalam gendongannya


" Di suruh ayah cari bibi Aini , adeknya nangis"


Neve menjelaskan


" Okeh ayo cari bibi "


Adimas membawa Neve pergi dari sana


" Siapa mas "


Adinda datang dengan membawa beberapa kantong belanjaan


" Neve , dia bilang anaknya Sean "


Sbastian menyipitkan matanya tanda dia masih kebingungan


" Mungkin anak salah satu pelayan "


Adinda memungkinkan


" Tapi ada anak kecil , Aniel suka nanti bisa Aniel ajak main "


Aniel menarik celana Sbastian


" Iya , nanti biar papa bilang sama ibunya agar anak tadi tinggal lebih lama "


Sbastian membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Hehe makasih papa "


Aniel memeluk leher Sbastian


" Tuan muda katanya lapar "


Bi Aini , Adimas dan Neve terlihat berjalan menuju lift


" Iya , tapi nanti Neve makan sama ayah "


Neve yang ada di dalam gendongan Adimas menjawab pertanyaan bi Aini


" Tau gitu bi Aini bawa makanan sekalian "


Bi Aini masuk ke dalam lift bersama dua anak laki laki yang berbeda usia


*Ting


Lift berjalan menuju lantai atas


Di kamar Sean


" Ayah "


Neve masuk di susul yang lain


" Masuk aja "


Sean mempersilahkan saat melihat bi Aini dan Adimas


" Hai Sean "


Adimas masuk


" Jangan ramai "


Sean berdiri sambil menggendong kedua bayinya


" Ouch... Cucu bibi , sini sayang "


Bi Aini membawa Etiez dan memberikannya susu formula


Dan Sean membawa Levent untuk di beri susu formula


" Hai bayi kecil "


Adimas menoel pipi Levent


" Jangan di ganggu paman "


Sean menyisihkan tangan Adimas dengan sikunya


" Kau adikku tapi kau sudah menikah lebih dulu "


Adimas melipat tangannya di atas dada


" Kau kakakku tapi kau ngak nikah nikah"


Sean membalas ejekan Adimas


" Aku anaknya ayah "


Neve tiba-tiba menyahuti


" Hahaha "


Adimas dan Sean tertawa


" Bi Aini "


Terdengar suara Fleur yang lirih

__ADS_1


" Bawa bayiku "


Sean menyerahkan anaknya ke dalam gendongan Adimas


" Mas Sean "


Fleur terkejut


" Hai cantik "


*Grep


Sean menghampiri Fleur dan langsung saja membawa Fleur ke dalam pelukannya


" Mas kapan datang , Fleur rindu "


Fleur menelusupkan wajahnya di atas pundak Sean


" Mas baru sampai , terus anak anaknya mas nangis , karena kamu tidur mas jadi ngak tega bangunin "


Sean mengusap lembut kepala Fleur


" Harusnya mas bangunin Fleur "


Suara Fleur terdengar lirih


" Mas ngak mau "


Sean terdengar lebih lirih dan menelusupkan wajahnya ke dalam rambut panjang Fleur


" Mas jahat hiks... Fleur takut "


Terdengar suara isakan yang lirih


" Maafkan aku sayang "


Sean membawa Fleur ke dalam pangkuannya dan memeluknya erat erat


" Jangan pergi lagi ya "


Suara Fleur meminta


" Mas ngak bisa janji "


*Pluk


Sean membuat Fleur berbaring di atas dadanya yang bidang


" Untuk anak kita "


Suara Fleur terdengar seakan memohon kepada Sean


" Maaf "


Sean mengusap kepala Fleur


Hening....


Di dalam keheningan , Sean mengusap dan mengecup kepala Fleur dengan penuh kasih sayang


" Fleur tadi lihat ada anak kecil "


Fleur bertanya


" Iya , itu anaknya mas "


Sean menjawab


" Mas nikah lagi "


Terdengar bergetar suara Fleur


" Nggak "


Sean menjawab dengan singkat


" Lalu "


Fleur mengangkat wajahnya dan menatap manik mata Sean yang tajam


" Kalau mas ceritakan , kamu harus janji ngak akan marah sama mas "


Sean mengusap wajah Fleur


" Iya "


Fleur mengangguk


" Dengarkan mas baik baik "


Sean duduk dan memeluk Fleur dengan tangan kanan dan tangan kirinya sibuk menggenggam tangan Fleur


Setelah banyak cerita....


" Hiks... Mas lakuin semua itu untuk aku "


Fleur menatap Sean


" He'em "


Sean mengusap air mata Fleur


" Mas ngak bohong kan "


Fleur bertanya


" Kamu pernah dengar kalau mas bohong "


Sean menyatukan keningnya dengan kening Fleur


" Enggak "


Fleur menggeleng


" He'em "


Sean tersenyum


" Huaaaaaa mas ku "


Tangisan Fleur makin jadi di dalam pelukan hangat Sean


" Mas itu sayang banget sama kamu , anak kita , anaknya mas , keluarganya mas "


Sean mengusap kepala Fleur dengan lembut


" Fleur ..hiks.... Ngerti "


Fleur mengangguk


" Hahaha , oh sayang "


Sean tertawa kecil melihat Fleur yang lebih manja dari pada Aniel dulu


" Fleur laper "


Fleur melepaskan pelukannya


" Hahaha istriku ini ya "


Sean mencubit pipi Fleur


" Jangan ganggu hiks... "


Fleur mengusap air matanya yang masih mengalir


" Ayo turun "


Sean berdiri dan meletakkan Fleur di atas tempat tidurnya


" Hijab aku ada di situ "


Fleur menunjuk meja rias


" Mas ambilkan "


Sean mengambil hijab instan Fleur


Sesampainya di bawah


" KAKAAAAK "


Terdengar suara nyaring Aniel


" Apa sih adek , adek bayinya nanti nangis lagi tau "


Adimas menyahuti suara Aniel


" Aku mau lihat adek bayinya , siniin "


Aniel menghentakkan kakinya


" Itu lho sama papa "


Adimas membawa bayi yang di gendongannya menjauh dari Aniel


" Ngak mau , nanti papa ngak bolehin aku cium adeknya "


Aniel terdengar menggerutu


" Iya lha , kalau kamu udah nyium sekali , ngak bakal berhenti kalau ngak nangis "


Adimas membenarkan


" Ayolah kak "


Aniel mengejar Adimas


" Kenapa ini "


Suara Sean mengejutkan semua orang


" Ayah "


Neve yang tadinya ada di atas sofa langsung berlari ke dalam pelukan Sean


" Kenapa ini "


Sean membawa Neve ke dalam gendongannya


" Kakak "


Aniel mendekat


" Hai cantik "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Kakak Aniel rindu "


Aniel memeluk leher Sean


" Kakak juga "


Sean menyahuti Aniel


" Kapan kamu datang "


Sbastian menghampiri Sean sambil membawa salah satu anak Sean


" Baru saja pa "


Sean menurunkan kedua anak kecil yang dia gendong dan memeluk Sbastian


" Dia mirip sama kamu "


Sbastian memaksudkan bayi yang dia gendong


" Kan anaknya Sean "


Sean berbangga diri


" Hahaha , kamu itu ya "


*Cup


Sbastian mencium kening Sean


" Bagaimana kabar bunda "


Sean memeluk adinda


" Baik , kamu sendiri "


Adinda mengusap punggung Sean


" Sean baik "


Sean tersenyum


" Putramu ini mirip dengan ibunya ya "


Adinda memaksudkan bayi yang di gendong Adimas


" Hahaha bunda benar sekali "


Sean tertawa


End......


Hai readers


Novel Sean sampai di sini dulu ya , akunya lagi males ngelanjutin dan ada rencana buat revisi adek Sean unyu mulai eps 1 again


Dan di sini kalian boleh tunjukkan semua opini kalian tentang orang orang yang coba buat sakiti keluarga Sean


Siapa si otak


Siapa tersangka 1


Siapa tersangka 2


Siapa tersangka 3


Dan siapa tuan cookie yang membantu Sbastian saat Sean koma


Dan untuk season 2 mungkin Sean akan kembali menjadi remaja SMA yang normal dengan istri kesayangannya nyonya Fleur yang menjadi gadis SMA terpopuler

__ADS_1


__ADS_2