Aku Pangeran

Aku Pangeran
Anakku dan istriku


__ADS_3

Flashback on


Adinda Putri ayu adalah istri Sbastian , Dimas Ken Sora adalah anak pertama sbastian . setelah kelahiran Dimas , putra pertama sbastian . Adinda , meminta untuk di foto bersama putranya . Namun selang 7 jam setelah itu , Adinda kritis , 2 jam dokter berusaha menyelamatkan adinda , namun Tuhan berkehendak lain , adinda meninggalkan sbastian dan putranya , penyakit yang sudah lama sembuh kembali menyerang


Pagi di hari itu


" Adinda kamu kenapa , Adinda bangun Adinda , sayang bangun "


Sbastian mengguncang badan Adinda dan berteriak memanggil nama Adinda


"Astaga darah , Adinda , sayang bangun , kamu kenapa " sbastian memeluk Adinda di depan pintu kamar mandi , Adimda pingsan dengan darah membasahi gaun tidur kuning yang di kenakan Adinda , sbastian berlari dan menggendong Adinda keluar kamar , sbastian berteriak-teriak memanggil pak Sam


" Ayah , ayah , bantu aku ayah , kita ke rumah sakit sekarang ayah " sbastian. Berteriak sambil menuruni tangga , pak Sam yang sedang mengangkat sofa , bersama aji , supir sbastian , langsung menurunkan sofa dan bergegas menyuruh supir pribadi sbastian , aji , untuk menyiapkan mobil sekarang


Sbastian berlari keluar dengan pakaian kantor tanpa jas dan dasi yang belum rapih berlari keluar rumah menuju mobil tanpa alas kaki memasuki mobil , di dalam mobil sbastian memeluk Adinda dan memohon agar Adinda dan putranya bisa selamat


" Adimda , sayang bertahanlah kita akan ke rumah sakit . Cepatlah paman , ini terlalu lama , kasihan Adinda ku , cepat paman "


Sbastian memerintahkan pak supir agar bergegas


" Iya tuan " pak supir membuat mobil yang biasanya berjalan normal , kini seperti mobil balap yang meluncur di arena balap , menerobos lampu merah dan melanggar rambu rambu


Sesampainya di rumah sakit


" Salam tuan " para staf rumah sakit memberi hormat , sbastian berlari menuju ruang operasi di iringi dokter operasi terbaik yang sudah menunggu sbastian sedari asisten John menelfon rumah sakit untuk menyiapkan semua yang di perlukan oleh Adinda , setelah sbastian meletakkan istrinya di atas ranjang operasi, sbastian di minta untuk keluar , awalnya sbastian menolak dan Kekeh ingin menemani istrinya sampai operasi selesai , namun pak Sam menasehati sbastian agar dia segera keluar dan operasi bisa di laksanakan


" Maaf tuan , tolong anda keluar dari ruangan Operasi " pinta dokter yang menangani istri Sbastian


" Tidak , aku mau menemani istriku " sbastian kekeh untuk menemani istrinya

__ADS_1


" Sbastian kita keluar dulu agar istrimu bisa segera di operasi " pak Sam tiba tiba memasuki ruang operasi


" Tidak ayah aku mau menemaninya , biarkan aku menemaninya ayah , aku mohon ayah " pinta sbastian kepada pak Sam


Sbastian meronta ingin lepas dari pelukan pak Sam dan menemani Adinda ,


Asisten John masuk untuk membantu pak Sam membawa sbastian keluar dari ruang operasi


" Aku mohon ayah biarkan aku menemaninya , ayah hiks ... dia membutuhkan aku hiks.... Adinda ku sendirian ayah , biarkan aku hiks... menemaninya hiks... Aku mohon ayah , Adindaku hiks... Sendirian " sbastian mulai melemah dan menangis sesenggukan di pelukan pak Sam , mereka ber tiga berjalan keluar dari ruang operasi dan mendudukkan sbastian di bangku tunggu , pintu ruang operasi di tutup oleh dokter dan lampu tanda operasi di nyalakan


"Tian , berdoa saja untuk istrimu , semoga anak dan istrimu selamat , berdoalah nak " nasehat pak Sam untuk sbastian


" Ya Allah selamatkan anak dan istriku , ya Allah mereka hidupku tolong selamatkan mereka ya Allah " sbastian berdoa di pelukan pak Sam , punggung pakaian pak Sam telah basah karena air mata sbastian yang tidak berhenti mengalir , sbastian tiada henti berdoa kepada Tuhannya agar Tuhan menjaga anak dan istrinya selamat saat operasi


3 jam berlalu , sbastian hanya duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu kanan pak Sam , hati nya tidak berhenti berdoa agar anak dan istrinya di lindungi oleh tuhan , matanya menerawang jauh ke depan , sbastian meminta pak Sam untuk mengelus kepalanya , agar hatinya menjadi sedikit lebih tenang , tangan kanannya memegang tasbih , mulutnya selalu mengucap takbir , tangan kirinya memegang tangan kiri pak sam , sebelumnya sbastian sudah mengganti pakaian yang penuh bercak darah Adinda dengan pakaian yang di bawakan asisten John


Dari bandara orang tua sbastian menuju ke rumah sakit yang di kabarkan oleh asisten ayah sbastian , dari bandara memakan waktu 1 jam , mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu sudah sampai di rumah sakit . Orang tua sbastian langsung menuju ruang operasi yang di tunjukkan oleh salah satu staf rumah sakit


Orang tua sbastian berlari saat melihat sbastian duduk di bangku yang ada di ujung lorong bersama pak Sam


Saat melihat tuan dan nyonya besarnya , pak Sam hendak berdiri memberi hormat namun tangan pak Sam di pegang erat oleh sbastian , menandakan bahwa sbastian tidak mau pak Sam berpindah posisi


" Tuan , ada tuan besar " pak Sam memberitahu sbastian namun sbastian tidak bergeming dan tetap melanjutkan Zikir


"Ada apa dengan adinda pak Sam " ayah sbastian bertanya kepada pak Sam .


Pak Sam menceritakan semua yang terjadi kepada adinda . air mata yang berusaha di bendung sbastian jatuh kembali , bahkan menjadi lebih deras dari sebelumnya . Sbastian menangis sesenggukan di pelukan pak Sam


Setelah 30 menit tangis sbastian mereda , mata sbastian membengkak . sbastian sama sekali tidak menggubris keberadaan kedua orangtuanya

__ADS_1


Tidak lama dokter yang di tugaskan menangani adinda keluar


" Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya " tanya sbastian kepada dokter


" selamat tuan , putra anda lahir dengan selamat dan keadaannya sehat , dan keadaan nyonya saat ini masih dalam pengaruh obat bius , kami akan memindahkan nyonya ke ruang rawat"


"Baik dokter , terimakasih banyak " sbastian berterimakasih kepada dokter itu


" aku mau melihat anakku " pinta sbastian


"Tunggu tuan , setelah tuan melihat tuan muda , saya ingin berbicara dengan anda di ruangan saya " pinta dokter kepada sbastian


"Aku saja dok " papa sbastian menyahuti


"Tidak perlu papa , aku bisa sendiri " sahut sbastian tanpa menoleh kepada papa nya . sbastian mengikuti suster yang menunjukkan jalan kepada sbastian menuju ruangan anak


" Baiklah , mama akan ke ruangan Adinda" sahut mama sbastian , namun sbastian tidak menyahuti dan hanya berpamitan kepada pak Sam


"Ayah Tian mau melihat putra Tian , ayah tolong jaga Adinda saja " sbastian meminta kepada pak Sam untuk menjaga Adinda di ruang inap , Tian sendiri adalah panggilan kecil yang sering di pakai pak Sam untuk memanggil sbastian dulu sewaktu kecil , sbastian akan menyebut dirinya Tian saat suasana hatinya bahagia , meskipun nadanya terkesan datar dan tidak peduli


" Apa dia belum bisa melupakan masalah itu Sam " tanya papa sbastian


"Saya tidak pernah menyinggung tentang itu tuan , waktu itu saya pernah menyinggung masalah itu maka tuan sbastian tidak akan berbicara dengan saya selama satu Minggu" pak Sam menjelaskan betapa berbahayanya jika menyinggung masalah yang paling tidak di sukai sbastian


"Huh.... Baiklah ayo kita ke ruangan Adinda saja Sam " papa sbastian berbicara


"Baik tuan "


pak Sam berjalan di belakang mengikuti papa sbastian

__ADS_1


__ADS_2