Aku Pangeran

Aku Pangeran
#70 ( satu Minggu )


__ADS_3

" Tolong percaya kepada kami "


Kakek tua pemimpin tersenyum


" Aku percaya... Hiks... Aku percaya "


Sbastian berlutut dan menutup wajahnya


" Tuan "


Mao mendekat dan memegang pundak Sbastian


" Anakku "


Sbastian berbalik dan menggenggam tangan Sean , menumpahkan seluruh rasa yang tidak tau harus bagaimana dia ungkapkan


Satu Minggu berlalu , semuanya terjadi seperti biasanya , setiap pagi Sbastian akan pergi bekerja dan setiap pulang dari bekerja dia akan selalu menuju ruang rawat Sean


" Hai anak papa , papa sudah pulang "


Sbastian meletakkan tasnya di sofa dan berbaring di sebelah Sean


" Bagaimana kabarmu anak papa "


Sbastian miring ke kanan menghadap Sean membuat derai air mata kembali luruh kesekian kalinya , sakit , itu yang dirasakannya , tidak ingin melihat putranya terbaring lemah , namun apalah daya dirinya yang hanya manusia , putraku , kalimat itu yang setiap saat selalu terucap


" Papa lupa sepatunya "


Sbastian mengusap air matanya dan melepaskan sepatunya


Di dalam ruangan , Sean terbaring sedangkan Mao tertidur tidak jauh dari tempat tidur Sean , dan Aloe ikut berbaring di sana bersama Mao di dalam bentuk macan mereka


" Papa sudah sholat isya' , maaf papa telat hari ini , banyak sekali pekerjaan dan pertemuan , hari ini papa bertemu dengan paman Lagardio , membicarakan tentang desain taman kesukaanmu , peri kecil yang akan menyirami taman "


Sbastian melepaskan jasnya


" Papa hari ini mampir di kedai kue kesukaanmu , tapi kue coklat birumu habis "


Sbastian membaringkan kembali tubuhnya


" Bisakah meninabobokan papa "


Sbastian meletakkan jari telunjuknya di telapak tangan Sean , dan seperti biasanya Sean merespon


" Papa sudah ngantuk , papa tidur dulu ya sayang , ntahlah papa hari ini tidak bisa menemanimu sampai malam "


Sbastian merosot ke bawah mensejajarkan kepalanya dengan tangan Sean , setelah itu Sbastian meletakkan tangan Sean di keningnya , luruh kembali air matanya , ntahlah sepertinya air mata itu tidak pernah mengering


*Tok..tok..tok


Sebuah ketukan pintu membuat Mao terbangun dan merubah wujudnya menjadi manusia berjalan membukakan pintu


" Siapa "


Mao membuka pintu


" Nona Mao , ada tamu di bawah untuk tuan Sbastian "


Salah satu penjaga berpakaian hitam memberitahu Mao


" Siapa "


Mao berjalan menelusuri lorong dan menuruni tangga hingga sampai di lantai bawah


" selamat malam "


Mao menemui orang-orang di ruang tamu , di sana ada mama dan papa Sbastian, liona juga beberapa orang asing


" Dimana Sbastian "


Mama berdiri


" Tuan sudah tidur "


Mao menjawab


" Maaf jika saya lancang , tetapi hari ini tuan agak tidak enak badan , bisakah pertemuan di undur esok hari "


Mao membungkuk


" Kamu tidak tau siapa aku "


Mama Sbastian berteriak


" Maaf nyonya , saya tau anda ibu dari tuan Sbastian , namun tuan Sbastian agak tidak enak badan , mohon pengertiannya , saya benar-benar minta maaf , tapi tuan Sbastian sudah tertidur "


Mao masih membungkuk hormat


" Lancang "


Mama mendekati Mao


*Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Mao , membuat pipi Mao yang putih sedikit memerah


" Ini tidak sakit sih , drama apalah daya "


Mao membatin


" Ny..nyonya "


Mao menatap mama dengan air mata yang sudah mengalir


" Siapa kamu berani memberitahu seperti itu dasar ****** murahan "


Mama menampar Mao sekali lagi


" Aku ini macan tau , bukan ****** , meskipun harga diriku tidak tergores sama sekali , tapi nona muda pendiam ini akan melihat suatu yang langka "


Mao memejamkan matanya


" Mama "


Terdengar suara Sbastian dari ujung tangga di atas


" Dramanya ngak jadi "


Mao membatin dan menatap Sbastian


" Hati hati tuan "


Aloe menangkap Sbastian yang hendak terjatuh


" Kenapa mama di sini "


Sbastian menuruni tangga perlahan di bantu Aloe


" Salam tuan Sbastian "


Mao membungkuk seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya


" Kembalilah ke samping Sean "


Meski Sbastian belum turun dari tangga dan berada jauh di atas , pendengaran Mao yang tajam membuatnya mendengar kalimat Sbastian


" Saya pamit undur diri "


Mao membungkuk dan berjalan menaiki tangga dengan cepat


" Ada apa mama "


Sbastian menapakkan kakinya di tangga terakhir


" Nak... Kamu ngak papa "


Mama menangkup pipi Sbastian


" Sbastian baik "


Sbastian mengenggam tangan mamanya


" Kemari nak "


Mama menarik tangan Sbastian menuju sofa


" Ini sahabat mama , tante Lusi apa kamu ingat"


Mama menunjuk wanita yang terlihat seusia mama


" Ini anaknya tante Lusi , apa dia cantik "


Mama bertanya dengan bersemangat


" Masih cantikan adinda "


Sbastian menjawab


" Mama... Sudah ada adinda di hati Sbastian , jangan pernah menjodohkan Sbastian kembali "


Sbastian memegang tangan Aloe yang masih berada di pundaknya


" Ayo kembali , kepalaku sangat berat "


Sbastian berbicara dan seketika mereka menghilang membuat yang ada di ruang tamu terkejut , yah... Itu sebenarnya hanya kaki cepat Aloe , bukan menghilang


" Apa apaan mama , aku kira penting "


Sbastian kembali merebahkan dirinya di samping Sean


" Masalah bertambah "


Mao membuat Aloe menoleh


" Apanya "


Aloe memiringkan kepalanya


" Nanti kau juga tau "


Mao memejamkan matanya sambil berdiri


" Tidur lah kak , tuan Sbastian juga sudah memejamkan matanya "


Aloe menjadi macan lalu berbaring di karpet bulu di sebelah Sbastian


" Sesuatu akan terjadi "


Mao keluar dari pada kamar dan ikut berdiri bersama Rudi dan Ramlan


" Sudah ganti shift "


Mao menyandarkan tubuhnya di tembok di samping Rudi


" Sudah sejam yang lalu , oh ya tadi tuan kenapa "


Rudi mulai bertanya


" Tadi itu orang tua dan adik tuan , yang orang tiga yang salah satunya gadis dewasa aku tidak tau "


Mao menjawab


" Oh.... Aku kira siapa , tuan sampai tidak senang begitu "


Ramlan menyahuti


" Ntahlah "


Mao mengedikkan bahunya


" Aku masuk dulu , firasatku benar-benar buruk hari ini "


Mao kembali masuk ke dalam kamar


Mao mengeluarkan kotak gepengnya dan memainkannya di atas sofa


*Tuuuuuuuut


Terdengar suara yang nyaring dari komputer pendeteksi detak jantung milik Sean


" Tuan muda "


Mao melompat dan membuat Sbastian dan Aloe langsung terbangun


" Tolong tuan Sbastian keluar sekarang "


Mao mengeluarkan alat kejut jantung yang sudah di siapkan di dalam nakas


" Anakku "


Sbastian mengguncang Sean


" Ayo keluar tuan "


Aloe secara paksa membawa Sbastian kalimat dan Mao segera melakukan penanganan


" Buka pintu "


Aloe berteriak dan Rudi langsung membuka pintu


" Tidak putraku lepaskan aku "


Sbastian memberontak saat di bawa Aloe keluar ruangan


" Tutup pintunya cepat "

__ADS_1


Saat Sbastian sudah ada di luar Rudi cepat-cepat menutup pintu


" Ada apa "


Rudi dan Ramlan membantu menahan Sbastian


" Lapas anakku di dalam , lepaskan aku"


Sbastian menendang Rudi hingga terpental


" Tuan , tenang tuan , tenang "


Aloe memeluk Sbastian dengan erat


" Tuan anda harus berdoa , jangan seperti ini "


Rudi membuat Sbastian seketika berhenti memberontak


" Lepas "


Sbastian berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar adinda , di sana Sbastian masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil wudhu , seketika Sbastian menggelar sajadah dan bersujud dengan isakan yang terdengar jelas


Setengah jam Sbastian bersujud , menangis dan memohon , terdengar jelas oleh Rudi dan lainnya isakan tangis Sbastian di dalam sujudnya , itu sungguh menyentuh hati hingga Mao memanggil


" Tuan muda sudah stabil "


Mao duduk di samping Sbastian


" Alhamdulillah ya Allah "


Sbastian bersujud lebih dalam dan mengucap syukur kepada Tuhannya , setelah itu Sbastian berlari memasuki kamar Sean


" Anakku "


Sbastian seketika lumpuh melihat detak jantung Sbastian yang kembali stabil , syukur sebesar-besarnya kepada Tuhannya , dia benar-benar bersyukur Tuhan tidak mengambil anak semata wayangnya


" Tuan "


Aloe di bantu Rudi membantu Sbastian berdiri


" Anda istirahatlah "


Aloe membaringkan Sbastian di samping Sean


" Jangan membuat papa khawatir "


Sbastian menggenggam tangan Sean , terkejutnya Sbastian karena Sean memberikan respon lebih , tangannya di genggam balik oleh Sean namun lebih kuat dari sebelumnya


" Mao Mao "


Sbastian terduduk


" Tuan "


Mao mendekat


" Sean menggenggam tanganku , ini lebih erat dari kemarin "


Sbastian tersenyum senang


" Ini respon yang baik , saya sarankan anda terus mengajak tuan muda mengobrol , mungkin itu akan membuat tuan muda segera sadar "


Mao memberitahu


" Iya "


Sbastian mengangguk senang


Satu Minggu telah berlalu , keadaan Sean kian membaik dan membuat Sbastian kembali bersemangat menjalani hari-harinya yang berat


" John "


Sbastian saat ini baru saja pulang dari kantor bersama John dan Aloe saat Sbastian memasuki pintu gerbang , Sbastian meminta mobil di hentikan


" Aku akan berjalan "


Sbastian turun dari mobil di ikuti Aloe


" Tuan , ini masih jauh dari kediaman "


Asisten John ikut turun


" Dua hari lalu baru rampung renovasi rumah , aku ingin melihatnya "


Sbastian meletakkan jasnya di dalam mobil dan mulai berjalan di ikuti Aloe dan asisten John


" Kamu naik mobil saja John , kita akan bertemu di sana "


Sbastian berjalan dengan santai


"Saya akan mengikuti anda "


Asisten John Keukeh


" Terserah saja "


Sbastian berjalan dengan satuy meninggalkan asisten John


" Bagaimana keadaan tuan muda "


Asisten John memulai pembicaraan


" Dia lebih baik dari kemarin-kemarin , dan ini semua kejutan untuknya saat dia bangun nanti "


Sbastian tersenyum melihat sore itu rumput hijau dan berbagai macam bunga yang di tanam di taman mini sedang di sirami oleh robot yang keluar dari tanah dengan bentuk peri , ikan dan naga , mereka semua menyirami tanaman dengan berterbangan di udara beberapa centimeter dari tanah


Para penjaga yang di tempatkan di segala penjuru membungkuk hormat saat Sbastian lewat , terlihat sedikit guratan senyum di wajah Sbastian yang terlihat acak-acakan , meski Sbastian terlihat tidak terawat sejak Sean koma , namun Sbastian hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya


" Ada tamu , siapa di sana "


Sbastian mempercepat langkahnya menuju pintu utama kediamannya


" Mama "


Terkejutnya Sbastian melihat seorang wanita yang memakai pakaian pengantin sedang duduk di sofa kediamannya dan ruang tamunya memiliki tulisan yang besar di dinding HAPPY WEDDING


" Apa apaan ini "


Suara Sbastian membuat semuanya menoleh


" APA APAAN INI MA "


Sbastian menggenggam erat tas kantornya yang masih belum dia lepas


" Sbastian ini pernikahanmu , mama sudah bilang kan "


Mama berdiri


" KAPAN MAMA BILANG , KAPAN SBASTIAN BILANG IYA , KAPAN SBASTIAN BILANG MAU , KAPAN MA "


" MAAFKAN KAMI TUAN "


Para maid menunduk merasa bersalah


" KENAPA KENAPA , INI RUMAH ADINDA , SEMUA SUDUT DI RUMAH INI MILIK ADINDA , INI RUMAH ADIMAS INI RUMAH SEAN , INI RUMAHKU PERGI DARI SINI , INI RUMAH ADINDA , RUMAH INI IMPIAN ADINDA PERGI , PERGI "


Sbastian menjadi sangat histeris melihat seorang wanita memakai gaun pengantin di depannya


" panggil nona Mao sekarang "


Aloe memegangi Sbastian dan para prajurit berlari memanggil Mao di kamar Sean


" Tuan "


Mao melompat dari tangga atas dan langsung menyuntik Sbastian dengan obat penenang


" Mama "


Liona terkejut melihat mama memegang dadanya


" Panggil ambulance , bawa tuan ke kamar tuan Sean sekarang "


Mao menangani mama dengan memberikan pertolongan pertama


" Ambilkan oksigen kecil di ruang bawah "


Mao membaringkan mama


" Ini nona "


Salah satu maid memberikan oksigen dalam tabung kecil


Sbastian di baringkan di sebelah Sean , sedangkan mama di bawa ke rumah sakit


" Huft... Maaf tuan tuan dan nyonya sekalian "


Mao membungkuk hormat kepada orang-orang yang ada di ruang tamu


" Tuan Sbastian sedang sakit , dan di sini ada seseorang yang juga sedang berjuang melawan kematian , maaf sebesar-besarnya tapi saya mohon untuk tuan dan nyonya sekalian segera pulang , saya benar-benar minta maaf "


Mao menunduk hormat


" Penghinaan ini tidak akan pernah kami lupakan "


Pria tua di sana berteriak


" Sudah kakek sudah , ini kecelakaan bukan di sengaja , sudah ya "


Pria yang lebih muda darinya menenangkan dan membawanya pergi


" Ba.. bagaimana keadaan tuan Sbastian "


Wanita bergaun putih itu bertanya dengan takut


" Tuan Sbastian sudah lebih baik , maaf jika hal tidak mengenakkan terjadi "


Mao membungkuk hormat


" Tidak , ini juga tidak di sengaja , kami yang meminta maaf , kami permisi "


Wanita yang terlihat seperti ibu dari sang wanita bergaun pengantin menunduk membalas hormat Mao


" Kami permisi "


Semuanya pergi satu persatu dari ruang tamu


" Bersihkan ini semua , tata kembali menjadi seperti semula , tuan tidak akan suka jika rumahnya di ubah "


Mao berkata lalu meninggalkan mereka


" Astaga... Aku takut , tuan Sbastian benar-benar marah "


Para maid mengelus dada


Sbastian tidak sadarkan diri hingga malam menjemput


" Augh.... "


Penghujan Sbastian membuat Mao mendekat


" Tuan "


Aloe membantu Sbastian untuk duduk


" Dimana wanita itu "


Sbastian sadar bahwa ada wanita bergaun pengantin di ruang tamunya


" Mereka sudah pulang tuan "


Mao menjawab


" Apa yang tuan rasakan "


Mao bertanya


" Kepalaku pusing "


Sbastian memegangi kepalanya


" Apa yang terjadi padaku "


Sbastian bertanya saat dirinya kembali di baringkan di dekat Sean


" Anda terkena stres ringan , anda tidak boleh terlalu memikirkan hal-hal seperti itu , tadi nyonya terkena serangan jantung , syukurlah nyonya masih sempat di tangani "


Mao melepas infus Sbastian


*Deg


Jantung Sbastian berdebar , mamanya seperti itu karenanya


" Apa yang terjadi , kenapa mama seperti itu"


Sbastian menatap Mao meminta penjelasan


" Anda tadi histeris hingga saya terpaksa menyuntikkan obat tidur , setelah itu dada nyonya sakit dan saya segera memberikan pertolongan pertama dan memerintahkan beberapa orang untuk membawa nyonya menuju rumah sakit "


Mao menggulung selang infus Sbastian


" Lalu... Apa mama baik baik saja "


Sbastian masih mencari penjelasan dari Mao


" Dari orang-orang yang saya kirim , nyonya baik baik saja "

__ADS_1


Mao tersenyum


" Aku mau melihat mama , tapi "


Sbastian menatap Sean yang menggenggam jarinya


" Saya akan tetap bersama tuan muda , jika tuan Sbastian mau kesana "


Mao memberi solusi


" Baiklah , aku akan ke sana , tolong jaga sayangku "


Sbastian turun dari tempat tidur


" Anak papa sayang , papa mau menjenguk nenek , kamu baik-baik ya di sini , jangan nakal sayang "


Sbastian mencium lama tangan Sean , luruh kembali air matanya


" Aku pergi "


Sbastian mengusap air matanya dan mengambil sepatunya dan pergi dengan berat hati


Sbastian masuk ke dalam mobil dan Aloe mengambil alih kemudi , kondisi Sbastian tidak baik , karena itu Aloe memaksa agar dirinya saja yang membawa mobil


Sbastian bersama Aloe menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan mamanya di rawat


* Brak


Sbastian menabrak pintu


" Mama "


Sbastian melihat mamanya yang masih memejamkan mata di atas bankar


" Kakak membuat mama seperti ini , apa salah mama , kenapa kakak tega "


Liona berlari menghampiri Sbastian dan memukul dada Sbastian dengan kasar


" Maafkan kakak "


Sbastian memeluk liona erat


" Kakak jahat kakak jahat "


Liona memberontak namun Sbastian semakin erat mendekap liona


" Sbastian "


Papa menghampiri


" Bagaimana keadaan mama "


Sbastian memeluk papa


" Mamamu baik , bagaimana cucuku "


Papa membalas pelukan Sbastian


" Dia lebih baik , aku bersyukur "


Sbastian sedikit tersenyum


" Apa mama sudah sadar "


Sbastian melepaskan pelukan liona


" Sudah "


Papa mengangguk


" Mama "


Sbastian berjalan menghampiri mamanya


" Maafkan Sbastian "


Sbastian berlutut dan memegang tangan mama


*Syut


Mama menarik tangannya dan berbalik membelakangi Sbastian


*Deg


"Mama mama Sbastian minta maaf "


Hal yang paling di takuti Sbastian , mamanya marah dan tidak menginginkan keberadaan dirinya di sampingnya


" Sbastian minta maaf , Sbastian mohon "


Sbastian berlari menuju arah satunya namun mama berbalik


" Sbastian minta maaf ma , Sbastian minta maaf , Sbastian mohon jangan begini , Sbastian minta maaf , a..apa yang mama mau , Sbastian akan lakukan "


Sbastian berlari dan berlutut di depan mamanya


" Apa saja "


Mama membuka matanya


" Iya iya , asal Sbastian mampu akan Sbastian lakukan "


Sbastian mengangguk cepat


" Nikahi wanita pilihan mama , mama cuma mau itu"


Mama membuat Sbastian terkejut dan terpaku


" Ma , jangan membuat Sbastian seperti ini , mama jangan selalu memaksakan kehendak mama "


Papa membela Sbastian


" Iya iya , Sbastian mau , asal mama memaafkan Sbastian , Sbastian minta maaf "


Sbastian mengangguk cepat


" Nikahi dia besok , mama sudah mempersiapkan semuanya termasuk resepsi kalian akan mama gelar di gedung keluarga "


Mama terlihat tersenyum dan itu membuat Sbastian lega


" Apapun untuk mama "


Sbastian tersenyum


" Kasihan anakku , kamu benar-benar sangat menyayangi mamamu , meski bukan mama kandungmu "


Papa menitikkan air mata namun segera menghapusnya


" Papa "


Liona menyadari itu


" Papa cuma salut dengan kakakmu "


Papa memeluk liona


" Kapan resepsinya di gelar "


Sbastian bertanya dengan sedikit bergetar


" Setelah akad nikah kalian "


Mama tersenyum lebar


" I..iya kalau begitu Sbastian pulang dulu ya, Sbastian tidak bisa menemani mama , Sbastian ingin istirahat , Sbastian harus menyiapkan diri besok "


Sbastian berdiri dengan bergetar


" Tuan "


Aloe segera membantu Sbastian berdiri


" Ayo pulang "


Sbastian mencium tangan mama dan papa lalu memeluk liona sebentar


" Kami pulang dulu "


Sbastian melambaikan tangan dengan sedikit senyum


Sbastian berjalan keluar dari kamar mama dengan langkah gontai , Sbastian menoleh sebentar , hatinya tenang melihat mamanya kembali tersenyum


*Cklek


Sbastian menatap pintu


*Grep


Aloe menangkap tubuh Sbastian yang tiba-tiba terjatuh


" Tuan "


Aloe mendudukkan Sbastian di lantai


" Aku bersalah "


Sbastian mencengkram erat rambutnya


" Tenanglah tuan , ingatlah tuan muda "


Aloe mengingatkan


" Kamu benar "


Sbastian memejamkan matanya sebentar


" Ayo pulang , Sean ku menunggu "


Sbastian berdiri di bantu Aloe


" Ada apa tuan "


Salah satu perawat pria menghampiri Sbastian dan Aloe


" Hanya terlalu lelah "


Aloe menjawab


" Mari saya bantu "


Perawat itu membantu Aloe memapah Sbastian hingga mobil


Sepanjang perjalanan pulang Sbastian hanya diam , menitikkan air mata , itu yang dia bisa , di satu sisi mamanya , di sisi lain hatinya untuk adinda di lain hal ada Sean yang sedang membutuhkannya


Pukul 09.00 malam mobil Sbastian memasuki pelataran rumah adinda , rumah yang selalu membuat Sbastian menjadi tenang , rumah dimana Sean di rawat , Sbastian menghentikan Aloe


" Aku ingin berjalan "


Sbastian turun dari mobil di ikuti Aloe


" Paman , tolong bawa mobilnya ke garasi ya "


Aloe berbicara dengan salah satu pengawal


" Baik "


Pengawal mengikuti perintah Aloe


Kediaman Sbastian menjadi lebih indah saat malam hari , hamparan bunga terlihat sangat cantik , di tengah-tengah hamparan bunga terdapat sebuah kastil indah , mirip seperti kartun Disney yang di impikan adinda


" Apa lampu-lampu sudah di pasang "


Sbastian berbicara dengan Aloe


" Setau saya sudah tuan "


Aloe mengangguk


*Klip


Lampu-lampu kecil menyala , lampu-lampu besar di matikan , terlihat di taman bunga banyak sekali lampu-lampu kuning yang lebih terlihat seperti kunang-kunang berterbangan di sekitar bunga yang di tanam dengan rapih , terlihat kemerlap kastil adinda , lampu-lampu berwarna-warni ditata dengan rapih membuat seperti kastil Cinderella


" Salam tuan "


Para maid menyambut di ikuti Mao


" Bagaimana , apa ada perkembangan dari putraku "


Sbastian menghampiri Mao


" Kondisi tuan muda masih sama seperti saat tuan muda pergi "


Mao mengikuti Sbastian menuju lift


Sbastian berjalan dengan keheningan , para penjaga di sepanjang lorong di lantai tiga yang luas membungkuk hormat


" Assalamualaikum anak papa "


Sbastian membuka pintu dan melihat Sean yang masih terbaring di atas ranjang seperti beberapa saat yang lalu sebelum dirinya pergi


" Papa memiliki masalah sayang "


Sbastian duduk dan melepas sepatunya


" Papa di suruh menikah dengan nenek , apa yang harus papa lakukan "

__ADS_1


Sbastian berbaring menghadap Sean


__ADS_2