
" Tolong percaya kepada kami "
Kakek tua pemimpin tersenyum
" Aku percaya... Hiks... Aku percaya "
Sbastian berlutut dan menutup wajahnya
" Tuan "
Mao mendekat dan memegang pundak Sbastian
" Anakku "
Sbastian berbalik dan menggenggam tangan Sean , menumpahkan seluruh rasa yang tidak tau harus bagaimana dia ungkapkan
Satu Minggu berlalu , semuanya terjadi seperti biasanya , setiap pagi Sbastian akan pergi bekerja dan setiap pulang dari bekerja dia akan selalu menuju ruang rawat Sean
" Hai anak papa , papa sudah pulang "
Sbastian meletakkan tasnya di sofa dan berbaring di sebelah Sean
" Bagaimana kabarmu anak papa "
Sbastian miring ke kanan menghadap Sean membuat derai air mata kembali luruh kesekian kalinya , sakit , itu yang dirasakannya , tidak ingin melihat putranya terbaring lemah , namun apalah daya dirinya yang hanya manusia , putraku , kalimat itu yang setiap saat selalu terucap
" Papa lupa sepatunya "
Sbastian mengusap air matanya dan melepaskan sepatunya
Di dalam ruangan , Sean terbaring sedangkan Mao tertidur tidak jauh dari tempat tidur Sean , dan Aloe ikut berbaring di sana bersama Mao di dalam bentuk macan mereka
" Papa sudah sholat isya' , maaf papa telat hari ini , banyak sekali pekerjaan dan pertemuan , hari ini papa bertemu dengan paman Lagardio , membicarakan tentang desain taman kesukaanmu , peri kecil yang akan menyirami taman "
Sbastian melepaskan jasnya
" Papa hari ini mampir di kedai kue kesukaanmu , tapi kue coklat birumu habis "
Sbastian membaringkan kembali tubuhnya
" Bisakah meninabobokan papa "
Sbastian meletakkan jari telunjuknya di telapak tangan Sean , dan seperti biasanya Sean merespon
" Papa sudah ngantuk , papa tidur dulu ya sayang , ntahlah papa hari ini tidak bisa menemanimu sampai malam "
Sbastian merosot ke bawah mensejajarkan kepalanya dengan tangan Sean , setelah itu Sbastian meletakkan tangan Sean di keningnya , luruh kembali air matanya , ntahlah sepertinya air mata itu tidak pernah mengering
*Tok..tok..tok
Sebuah ketukan pintu membuat Mao terbangun dan merubah wujudnya menjadi manusia berjalan membukakan pintu
" Siapa "
Mao membuka pintu
" Nona Mao , ada tamu di bawah untuk tuan Sbastian "
Salah satu penjaga berpakaian hitam memberitahu Mao
" Siapa "
Mao berjalan menelusuri lorong dan menuruni tangga hingga sampai di lantai bawah
" selamat malam "
Mao menemui orang-orang di ruang tamu , di sana ada mama dan papa Sbastian, liona juga beberapa orang asing
" Dimana Sbastian "
Mama berdiri
" Tuan sudah tidur "
Mao menjawab
" Maaf jika saya lancang , tetapi hari ini tuan agak tidak enak badan , bisakah pertemuan di undur esok hari "
Mao membungkuk
" Kamu tidak tau siapa aku "
Mama Sbastian berteriak
" Maaf nyonya , saya tau anda ibu dari tuan Sbastian , namun tuan Sbastian agak tidak enak badan , mohon pengertiannya , saya benar-benar minta maaf , tapi tuan Sbastian sudah tertidur "
Mao masih membungkuk hormat
" Lancang "
Mama mendekati Mao
*Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Mao , membuat pipi Mao yang putih sedikit memerah
" Ini tidak sakit sih , drama apalah daya "
Mao membatin
" Ny..nyonya "
Mao menatap mama dengan air mata yang sudah mengalir
" Siapa kamu berani memberitahu seperti itu dasar ****** murahan "
Mama menampar Mao sekali lagi
" Aku ini macan tau , bukan ****** , meskipun harga diriku tidak tergores sama sekali , tapi nona muda pendiam ini akan melihat suatu yang langka "
Mao memejamkan matanya
" Mama "
Terdengar suara Sbastian dari ujung tangga di atas
" Dramanya ngak jadi "
Mao membatin dan menatap Sbastian
" Hati hati tuan "
Aloe menangkap Sbastian yang hendak terjatuh
" Kenapa mama di sini "
Sbastian menuruni tangga perlahan di bantu Aloe
" Salam tuan Sbastian "
Mao membungkuk seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya
" Kembalilah ke samping Sean "
Meski Sbastian belum turun dari tangga dan berada jauh di atas , pendengaran Mao yang tajam membuatnya mendengar kalimat Sbastian
" Saya pamit undur diri "
Mao membungkuk dan berjalan menaiki tangga dengan cepat
" Ada apa mama "
Sbastian menapakkan kakinya di tangga terakhir
" Nak... Kamu ngak papa "
Mama menangkup pipi Sbastian
" Sbastian baik "
Sbastian mengenggam tangan mamanya
" Kemari nak "
Mama menarik tangan Sbastian menuju sofa
" Ini sahabat mama , tante Lusi apa kamu ingat"
Mama menunjuk wanita yang terlihat seusia mama
" Ini anaknya tante Lusi , apa dia cantik "
Mama bertanya dengan bersemangat
" Masih cantikan adinda "
Sbastian menjawab
" Mama... Sudah ada adinda di hati Sbastian , jangan pernah menjodohkan Sbastian kembali "
Sbastian memegang tangan Aloe yang masih berada di pundaknya
" Ayo kembali , kepalaku sangat berat "
Sbastian berbicara dan seketika mereka menghilang membuat yang ada di ruang tamu terkejut , yah... Itu sebenarnya hanya kaki cepat Aloe , bukan menghilang
" Apa apaan mama , aku kira penting "
Sbastian kembali merebahkan dirinya di samping Sean
" Masalah bertambah "
Mao membuat Aloe menoleh
" Apanya "
Aloe memiringkan kepalanya
" Nanti kau juga tau "
Mao memejamkan matanya sambil berdiri
" Tidur lah kak , tuan Sbastian juga sudah memejamkan matanya "
Aloe menjadi macan lalu berbaring di karpet bulu di sebelah Sbastian
" Sesuatu akan terjadi "
Mao keluar dari pada kamar dan ikut berdiri bersama Rudi dan Ramlan
" Sudah ganti shift "
Mao menyandarkan tubuhnya di tembok di samping Rudi
" Sudah sejam yang lalu , oh ya tadi tuan kenapa "
Rudi mulai bertanya
" Tadi itu orang tua dan adik tuan , yang orang tiga yang salah satunya gadis dewasa aku tidak tau "
Mao menjawab
" Oh.... Aku kira siapa , tuan sampai tidak senang begitu "
Ramlan menyahuti
" Ntahlah "
Mao mengedikkan bahunya
" Aku masuk dulu , firasatku benar-benar buruk hari ini "
Mao kembali masuk ke dalam kamar
Mao mengeluarkan kotak gepengnya dan memainkannya di atas sofa
*Tuuuuuuuut
Terdengar suara yang nyaring dari komputer pendeteksi detak jantung milik Sean
" Tuan muda "
Mao melompat dan membuat Sbastian dan Aloe langsung terbangun
" Tolong tuan Sbastian keluar sekarang "
Mao mengeluarkan alat kejut jantung yang sudah di siapkan di dalam nakas
" Anakku "
Sbastian mengguncang Sean
" Ayo keluar tuan "
Aloe secara paksa membawa Sbastian kalimat dan Mao segera melakukan penanganan
" Buka pintu "
Aloe berteriak dan Rudi langsung membuka pintu
" Tidak putraku lepaskan aku "
Sbastian memberontak saat di bawa Aloe keluar ruangan
" Tutup pintunya cepat "
__ADS_1
Saat Sbastian sudah ada di luar Rudi cepat-cepat menutup pintu
" Ada apa "
Rudi dan Ramlan membantu menahan Sbastian
" Lapas anakku di dalam , lepaskan aku"
Sbastian menendang Rudi hingga terpental
" Tuan , tenang tuan , tenang "
Aloe memeluk Sbastian dengan erat
" Tuan anda harus berdoa , jangan seperti ini "
Rudi membuat Sbastian seketika berhenti memberontak
" Lepas "
Sbastian berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar adinda , di sana Sbastian masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil wudhu , seketika Sbastian menggelar sajadah dan bersujud dengan isakan yang terdengar jelas
Setengah jam Sbastian bersujud , menangis dan memohon , terdengar jelas oleh Rudi dan lainnya isakan tangis Sbastian di dalam sujudnya , itu sungguh menyentuh hati hingga Mao memanggil
" Tuan muda sudah stabil "
Mao duduk di samping Sbastian
" Alhamdulillah ya Allah "
Sbastian bersujud lebih dalam dan mengucap syukur kepada Tuhannya , setelah itu Sbastian berlari memasuki kamar Sean
" Anakku "
Sbastian seketika lumpuh melihat detak jantung Sbastian yang kembali stabil , syukur sebesar-besarnya kepada Tuhannya , dia benar-benar bersyukur Tuhan tidak mengambil anak semata wayangnya
" Tuan "
Aloe di bantu Rudi membantu Sbastian berdiri
" Anda istirahatlah "
Aloe membaringkan Sbastian di samping Sean
" Jangan membuat papa khawatir "
Sbastian menggenggam tangan Sean , terkejutnya Sbastian karena Sean memberikan respon lebih , tangannya di genggam balik oleh Sean namun lebih kuat dari sebelumnya
" Mao Mao "
Sbastian terduduk
" Tuan "
Mao mendekat
" Sean menggenggam tanganku , ini lebih erat dari kemarin "
Sbastian tersenyum senang
" Ini respon yang baik , saya sarankan anda terus mengajak tuan muda mengobrol , mungkin itu akan membuat tuan muda segera sadar "
Mao memberitahu
" Iya "
Sbastian mengangguk senang
Satu Minggu telah berlalu , keadaan Sean kian membaik dan membuat Sbastian kembali bersemangat menjalani hari-harinya yang berat
" John "
Sbastian saat ini baru saja pulang dari kantor bersama John dan Aloe saat Sbastian memasuki pintu gerbang , Sbastian meminta mobil di hentikan
" Aku akan berjalan "
Sbastian turun dari mobil di ikuti Aloe
" Tuan , ini masih jauh dari kediaman "
Asisten John ikut turun
" Dua hari lalu baru rampung renovasi rumah , aku ingin melihatnya "
Sbastian meletakkan jasnya di dalam mobil dan mulai berjalan di ikuti Aloe dan asisten John
" Kamu naik mobil saja John , kita akan bertemu di sana "
Sbastian berjalan dengan santai
"Saya akan mengikuti anda "
Asisten John Keukeh
" Terserah saja "
Sbastian berjalan dengan satuy meninggalkan asisten John
" Bagaimana keadaan tuan muda "
Asisten John memulai pembicaraan
" Dia lebih baik dari kemarin-kemarin , dan ini semua kejutan untuknya saat dia bangun nanti "
Sbastian tersenyum melihat sore itu rumput hijau dan berbagai macam bunga yang di tanam di taman mini sedang di sirami oleh robot yang keluar dari tanah dengan bentuk peri , ikan dan naga , mereka semua menyirami tanaman dengan berterbangan di udara beberapa centimeter dari tanah
Para penjaga yang di tempatkan di segala penjuru membungkuk hormat saat Sbastian lewat , terlihat sedikit guratan senyum di wajah Sbastian yang terlihat acak-acakan , meski Sbastian terlihat tidak terawat sejak Sean koma , namun Sbastian hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya
" Ada tamu , siapa di sana "
Sbastian mempercepat langkahnya menuju pintu utama kediamannya
" Mama "
Terkejutnya Sbastian melihat seorang wanita yang memakai pakaian pengantin sedang duduk di sofa kediamannya dan ruang tamunya memiliki tulisan yang besar di dinding HAPPY WEDDING
" Apa apaan ini "
Suara Sbastian membuat semuanya menoleh
" APA APAAN INI MA "
Sbastian menggenggam erat tas kantornya yang masih belum dia lepas
" Sbastian ini pernikahanmu , mama sudah bilang kan "
Mama berdiri
" KAPAN MAMA BILANG , KAPAN SBASTIAN BILANG IYA , KAPAN SBASTIAN BILANG MAU , KAPAN MA "
" MAAFKAN KAMI TUAN "
Para maid menunduk merasa bersalah
" KENAPA KENAPA , INI RUMAH ADINDA , SEMUA SUDUT DI RUMAH INI MILIK ADINDA , INI RUMAH ADIMAS INI RUMAH SEAN , INI RUMAHKU PERGI DARI SINI , INI RUMAH ADINDA , RUMAH INI IMPIAN ADINDA PERGI , PERGI "
Sbastian menjadi sangat histeris melihat seorang wanita memakai gaun pengantin di depannya
" panggil nona Mao sekarang "
Aloe memegangi Sbastian dan para prajurit berlari memanggil Mao di kamar Sean
" Tuan "
Mao melompat dari tangga atas dan langsung menyuntik Sbastian dengan obat penenang
" Mama "
Liona terkejut melihat mama memegang dadanya
" Panggil ambulance , bawa tuan ke kamar tuan Sean sekarang "
Mao menangani mama dengan memberikan pertolongan pertama
" Ambilkan oksigen kecil di ruang bawah "
Mao membaringkan mama
" Ini nona "
Salah satu maid memberikan oksigen dalam tabung kecil
Sbastian di baringkan di sebelah Sean , sedangkan mama di bawa ke rumah sakit
" Huft... Maaf tuan tuan dan nyonya sekalian "
Mao membungkuk hormat kepada orang-orang yang ada di ruang tamu
" Tuan Sbastian sedang sakit , dan di sini ada seseorang yang juga sedang berjuang melawan kematian , maaf sebesar-besarnya tapi saya mohon untuk tuan dan nyonya sekalian segera pulang , saya benar-benar minta maaf "
Mao menunduk hormat
" Penghinaan ini tidak akan pernah kami lupakan "
Pria tua di sana berteriak
" Sudah kakek sudah , ini kecelakaan bukan di sengaja , sudah ya "
Pria yang lebih muda darinya menenangkan dan membawanya pergi
" Ba.. bagaimana keadaan tuan Sbastian "
Wanita bergaun putih itu bertanya dengan takut
" Tuan Sbastian sudah lebih baik , maaf jika hal tidak mengenakkan terjadi "
Mao membungkuk hormat
" Tidak , ini juga tidak di sengaja , kami yang meminta maaf , kami permisi "
Wanita yang terlihat seperti ibu dari sang wanita bergaun pengantin menunduk membalas hormat Mao
" Kami permisi "
Semuanya pergi satu persatu dari ruang tamu
" Bersihkan ini semua , tata kembali menjadi seperti semula , tuan tidak akan suka jika rumahnya di ubah "
Mao berkata lalu meninggalkan mereka
" Astaga... Aku takut , tuan Sbastian benar-benar marah "
Para maid mengelus dada
Sbastian tidak sadarkan diri hingga malam menjemput
" Augh.... "
Penghujan Sbastian membuat Mao mendekat
" Tuan "
Aloe membantu Sbastian untuk duduk
" Dimana wanita itu "
Sbastian sadar bahwa ada wanita bergaun pengantin di ruang tamunya
" Mereka sudah pulang tuan "
Mao menjawab
" Apa yang tuan rasakan "
Mao bertanya
" Kepalaku pusing "
Sbastian memegangi kepalanya
" Apa yang terjadi padaku "
Sbastian bertanya saat dirinya kembali di baringkan di dekat Sean
" Anda terkena stres ringan , anda tidak boleh terlalu memikirkan hal-hal seperti itu , tadi nyonya terkena serangan jantung , syukurlah nyonya masih sempat di tangani "
Mao melepas infus Sbastian
*Deg
Jantung Sbastian berdebar , mamanya seperti itu karenanya
" Apa yang terjadi , kenapa mama seperti itu"
Sbastian menatap Mao meminta penjelasan
" Anda tadi histeris hingga saya terpaksa menyuntikkan obat tidur , setelah itu dada nyonya sakit dan saya segera memberikan pertolongan pertama dan memerintahkan beberapa orang untuk membawa nyonya menuju rumah sakit "
Mao menggulung selang infus Sbastian
" Lalu... Apa mama baik baik saja "
Sbastian masih mencari penjelasan dari Mao
" Dari orang-orang yang saya kirim , nyonya baik baik saja "
__ADS_1
Mao tersenyum
" Aku mau melihat mama , tapi "
Sbastian menatap Sean yang menggenggam jarinya
" Saya akan tetap bersama tuan muda , jika tuan Sbastian mau kesana "
Mao memberi solusi
" Baiklah , aku akan ke sana , tolong jaga sayangku "
Sbastian turun dari tempat tidur
" Anak papa sayang , papa mau menjenguk nenek , kamu baik-baik ya di sini , jangan nakal sayang "
Sbastian mencium lama tangan Sean , luruh kembali air matanya
" Aku pergi "
Sbastian mengusap air matanya dan mengambil sepatunya dan pergi dengan berat hati
Sbastian masuk ke dalam mobil dan Aloe mengambil alih kemudi , kondisi Sbastian tidak baik , karena itu Aloe memaksa agar dirinya saja yang membawa mobil
Sbastian bersama Aloe menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan mamanya di rawat
* Brak
Sbastian menabrak pintu
" Mama "
Sbastian melihat mamanya yang masih memejamkan mata di atas bankar
" Kakak membuat mama seperti ini , apa salah mama , kenapa kakak tega "
Liona berlari menghampiri Sbastian dan memukul dada Sbastian dengan kasar
" Maafkan kakak "
Sbastian memeluk liona erat
" Kakak jahat kakak jahat "
Liona memberontak namun Sbastian semakin erat mendekap liona
" Sbastian "
Papa menghampiri
" Bagaimana keadaan mama "
Sbastian memeluk papa
" Mamamu baik , bagaimana cucuku "
Papa membalas pelukan Sbastian
" Dia lebih baik , aku bersyukur "
Sbastian sedikit tersenyum
" Apa mama sudah sadar "
Sbastian melepaskan pelukan liona
" Sudah "
Papa mengangguk
" Mama "
Sbastian berjalan menghampiri mamanya
" Maafkan Sbastian "
Sbastian berlutut dan memegang tangan mama
*Syut
Mama menarik tangannya dan berbalik membelakangi Sbastian
*Deg
"Mama mama Sbastian minta maaf "
Hal yang paling di takuti Sbastian , mamanya marah dan tidak menginginkan keberadaan dirinya di sampingnya
" Sbastian minta maaf , Sbastian mohon "
Sbastian berlari menuju arah satunya namun mama berbalik
" Sbastian minta maaf ma , Sbastian minta maaf , Sbastian mohon jangan begini , Sbastian minta maaf , a..apa yang mama mau , Sbastian akan lakukan "
Sbastian berlari dan berlutut di depan mamanya
" Apa saja "
Mama membuka matanya
" Iya iya , asal Sbastian mampu akan Sbastian lakukan "
Sbastian mengangguk cepat
" Nikahi wanita pilihan mama , mama cuma mau itu"
Mama membuat Sbastian terkejut dan terpaku
" Ma , jangan membuat Sbastian seperti ini , mama jangan selalu memaksakan kehendak mama "
Papa membela Sbastian
" Iya iya , Sbastian mau , asal mama memaafkan Sbastian , Sbastian minta maaf "
Sbastian mengangguk cepat
" Nikahi dia besok , mama sudah mempersiapkan semuanya termasuk resepsi kalian akan mama gelar di gedung keluarga "
Mama terlihat tersenyum dan itu membuat Sbastian lega
" Apapun untuk mama "
Sbastian tersenyum
" Kasihan anakku , kamu benar-benar sangat menyayangi mamamu , meski bukan mama kandungmu "
Papa menitikkan air mata namun segera menghapusnya
" Papa "
Liona menyadari itu
" Papa cuma salut dengan kakakmu "
Papa memeluk liona
" Kapan resepsinya di gelar "
Sbastian bertanya dengan sedikit bergetar
" Setelah akad nikah kalian "
Mama tersenyum lebar
" I..iya kalau begitu Sbastian pulang dulu ya, Sbastian tidak bisa menemani mama , Sbastian ingin istirahat , Sbastian harus menyiapkan diri besok "
Sbastian berdiri dengan bergetar
" Tuan "
Aloe segera membantu Sbastian berdiri
" Ayo pulang "
Sbastian mencium tangan mama dan papa lalu memeluk liona sebentar
" Kami pulang dulu "
Sbastian melambaikan tangan dengan sedikit senyum
Sbastian berjalan keluar dari kamar mama dengan langkah gontai , Sbastian menoleh sebentar , hatinya tenang melihat mamanya kembali tersenyum
*Cklek
Sbastian menatap pintu
*Grep
Aloe menangkap tubuh Sbastian yang tiba-tiba terjatuh
" Tuan "
Aloe mendudukkan Sbastian di lantai
" Aku bersalah "
Sbastian mencengkram erat rambutnya
" Tenanglah tuan , ingatlah tuan muda "
Aloe mengingatkan
" Kamu benar "
Sbastian memejamkan matanya sebentar
" Ayo pulang , Sean ku menunggu "
Sbastian berdiri di bantu Aloe
" Ada apa tuan "
Salah satu perawat pria menghampiri Sbastian dan Aloe
" Hanya terlalu lelah "
Aloe menjawab
" Mari saya bantu "
Perawat itu membantu Aloe memapah Sbastian hingga mobil
Sepanjang perjalanan pulang Sbastian hanya diam , menitikkan air mata , itu yang dia bisa , di satu sisi mamanya , di sisi lain hatinya untuk adinda di lain hal ada Sean yang sedang membutuhkannya
Pukul 09.00 malam mobil Sbastian memasuki pelataran rumah adinda , rumah yang selalu membuat Sbastian menjadi tenang , rumah dimana Sean di rawat , Sbastian menghentikan Aloe
" Aku ingin berjalan "
Sbastian turun dari mobil di ikuti Aloe
" Paman , tolong bawa mobilnya ke garasi ya "
Aloe berbicara dengan salah satu pengawal
" Baik "
Pengawal mengikuti perintah Aloe
Kediaman Sbastian menjadi lebih indah saat malam hari , hamparan bunga terlihat sangat cantik , di tengah-tengah hamparan bunga terdapat sebuah kastil indah , mirip seperti kartun Disney yang di impikan adinda
" Apa lampu-lampu sudah di pasang "
Sbastian berbicara dengan Aloe
" Setau saya sudah tuan "
Aloe mengangguk
*Klip
Lampu-lampu kecil menyala , lampu-lampu besar di matikan , terlihat di taman bunga banyak sekali lampu-lampu kuning yang lebih terlihat seperti kunang-kunang berterbangan di sekitar bunga yang di tanam dengan rapih , terlihat kemerlap kastil adinda , lampu-lampu berwarna-warni ditata dengan rapih membuat seperti kastil Cinderella
" Salam tuan "
Para maid menyambut di ikuti Mao
" Bagaimana , apa ada perkembangan dari putraku "
Sbastian menghampiri Mao
" Kondisi tuan muda masih sama seperti saat tuan muda pergi "
Mao mengikuti Sbastian menuju lift
Sbastian berjalan dengan keheningan , para penjaga di sepanjang lorong di lantai tiga yang luas membungkuk hormat
" Assalamualaikum anak papa "
Sbastian membuka pintu dan melihat Sean yang masih terbaring di atas ranjang seperti beberapa saat yang lalu sebelum dirinya pergi
" Papa memiliki masalah sayang "
Sbastian duduk dan melepas sepatunya
" Papa di suruh menikah dengan nenek , apa yang harus papa lakukan "
__ADS_1
Sbastian berbaring menghadap Sean