Aku Pangeran

Aku Pangeran
#24 { persiapan sekolah }


__ADS_3

" Eh....... Kok malah nangis beneran , aduh... Gimana ni "


Sbastian mulai panik saat Sean mulai sesenggukan


" Papa ngak papa , ayo makan , kita ke bawah "


Sbastian tiba tiba menggendong Sean dan membuat Sean terkejut


" Papa ngak sakit lagi "


Sean memegang pipi Sbastian


" Ngak hehehehe , sekarang kita makan ikan ayam "


Sbastian Sbastian menggendong Sean menuruni kasur dan memasuki kamar mandi


" Kok ke kamar mandi "


Sean bertanya heran


" Sebelum makan kita haruuuuus "


Sbastian meletakkan jari telunjuknya di kening Sean


" Cuci tangan "


Sean mengatakan dengan riang dan memeluk leher Sbastian


Sbastian mengambil kursi tinggi agar Sean sampai di wastafel lalu mengambil sabun yang ada berada di rak di atas wastafel


" Cuci tangan , yey "


Sean membasuh tangannya dengan air , lalu mengolesi tangannya dengan sabun cair yang Sbastian berikan


Sean mulai bereksperimen dengan sabun cair di tangannya , melihat bagaimana Sbastian menunjukkan beberapa permainan menggunakan sabun


Setelah bosan bermain sabun , Sbastian menyuruh Sean mencuci tangannya dengan bersih


Setelah mencuci tangan , Sbastian membawa Sean untuk sarapan di bawah


" Selamat pagi kakeeeeek "


Sean mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengeraskan suaranya hingga membuat pak Sam dan yang lainnya menutup telinganya


" Pagi cucu kakek "


Pak Sam membalas sapaan Sean dan mengambil Sean dari gendongan Sbastian


" Sean berat kakek "


Sean menatap mata kakek nya yang sudah terlihat sayu


" Kakek masih kuat lho "


Pak Sam membanggakan diri


" Tapi kakek udah banyak keriputnya , rambut putihnya aja udah banyak , berarti kakek udah tua "


Penyataan Sean yang blak-blakan membuat orang yang ada di meja makan terkekeh


" Betul kan papa "


Sean menoleh melihat Sbastian


" Papa setuju "


Sbastian memberikan jempolnya


" Kakek belum tua anak nakal "


Pak Sam mencubit hidung Sean


" Sudah sudah , sekarang ayo makan "


Bi Aini menyiapkan piring milik Sean


" Yey ikan ayam "


Sean mulai berdoa dan makan dengan lahap


Kini sudah tiga tahun berlalu , Sean kini sudah berumur empat tahun setengah , Sean dan Sbastian tetap tinggal di Fila dan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah


Suasana yang nyaman membuat Sean enggan untuk meninggalkan laut yang terlihat sangat bersahabat dengan dirinya


Kini rutinitas Sean sudah berubah sejak Sean tinggal di Fila


Sejak bangun pagi Sean akan berlari menemui Sbastian lalu membangunkannya untuk melaksanakan ibadah sholat subuh setelah itu pergi menujh balkon dan melihat matahari terbit , lalu Sean akan menghampiri Sbastian dan mandi setelah itu berganti pakaian


Seperti pagi ini

__ADS_1


" Papa...... "


Sean mengguncang Sbastian dengan keras


" Lima menit lagi "


Sbastian menggumam


" Papa pasti begadang lagi kan "


Sean mencubit pipi Sbastian


" Tidak "


Sbastian menjawab dengan gumaman


" Sean ngak percaya "


Sean melipat tangannya di dada


" Serah "


Sbastian berbalik membelakangi Sean


" Ish.... Papa.... "


Sean mengguncang lengan Sbastian kembali


" Iya iya "


Sbastian duduk dan mengucek matanya


" Ayo sholat pa "


Sean menarik lengan Sbastian


"Iya ayo "


Sbastian turun dan berjalan gontai ke kamar mandi dan di ikuti Sean


" Hoam.... "


Sbastian menguap untuk ke sekian kalinya


" Ayo pa Sean udah wudhu"


Setelah beribadah Sean menarik sbastian menuju balkon untuk melihat matahari terbit sambil meminum susu dan camilan


Setelah matahari terbit , Sean berlari untuk mandi dan di ikuti oleh Sbastian


" Anak papa mau ikut ke kantor "


Sbastian bertanya kepada Sean yang sedang memilih pakaian


" Mau "


Sean melompat memeluk kaki Sbastian


" Kalau begitu , adek pakek pakaian formal ya "


Sbastian mengambilkan satu setel pakaian formal berwarna biru cerah dengan dasi biru langit bermotif ikan


" Yey ke kantor , yey ke kantor , yey ke kantor "


Sean menggoyangkan badannya sambil bersenandung riang


" Ini pakai "


Sbastian memakaikan kemeja dan celana hitam kepada Sean , lalu memakaikan dasi setelah itu jas dan kaos kaki


" Ayo makan "


Sbastian menggandeng tangan kecil Sean menuju meja makan


" Sepatu Sean di mana pa "


Sean bertanya


" Sepatu adek sudah di bawah "


Sbastian menjawab


Sean di dudukan di kursi dan memulai sarapan dengan doa sebelum makan


Setelah sarapan selesai , Sean dan Sbastian berangkat ke kantor bersama asisten John


" Hati hati ya "


Sitter azza menyalami tangan asisten John

__ADS_1


" Iya sayang , kamu baik baik ya sama dedek bayi muach.. "


Asisten John mencium kening sitter azza


" Anak papa baik-baik ya , jangan buat mama susah "


Asisten John berjongkok mencium perut sitter azza yang sudah terlihat membesar


" Iya papa "


Sitter azza menirukan suara anak kecil yang sedang di nasehati oleh papanya


" Hahaha anak baik "


Asisten John mengelus kepala sitter azza


" Udah ah dramanya , ayo berangkat "


Sbastian mengeluarkan kepalanya dari jendela kaca mobil


" Hehehe "


Asisten John berjalan menuju mobil sambil cengengesan


" Adek kecil jangan ganggu bunda az-az ya.... Babay adek kecil "


Sean melambaikan tangan dari dalam mobil


" Iya tuan , hati hati ya tuan sean sayang "


Sitter azza membalas lambaian tangan Sean


Satu tahun yang lalu asisten John dan sitter azza memutuskan untuk menikah , pernikahan mereka di adakan dengan sangat megah , sebenarnya sitter azza di minta berhenti bekerja oleh asisten John , namun sitter azza tetap Keukeh untuk melayani Sean kecil , lalu Sbastian memerintahkan sitter azza hanya untuk melayani Sean jika di perlukan dan mereka semua menyetujui itu


Sitter azza dan asisten John tinggal di bangunan belakang Fila yang tidak kalah mewah dari Fila , sebenarnya Sean meminta sitter azza untuk tetap tinggal di Fila , namun asisten John menolak dengan halus dan beralasan Sean akan tetap mengganggu sitter azza saat kelelahan jika tetap tinggal di Fila , meskipun alasan itu mendapat pelototan tajam dari Sbastian , namun alasan itu ampuh untuk Sean


Setelah sampai di kantor Sean di bawa menuju ruangan Sbastian


" Adek duduk di sini ya , jangan kemana-mana , kamu pilih aja ya , nanti papa pesankan "


Sbastian memberikan beberapa foto perlengkapan sekolah agar Sean memilih yang dia suka


" Iya papa "


Sean memberikan hormat kepada Sbastian


" Papa rapat dulu ya "


Sbastian memencet hidung Sean


" Ok papa "


Sean memberikan jempol


" Nanti kamu panggil kak Nia aja ya kalau mau kemana-mana jangan sendirian , ingat"


Sbastian kembali mengingatkan


" Iya papa "


Sean kembali memberikan jempolnya


" Anak pintar "


Sbastian mengelus rambut Sean


Sbastian keluar dari ruangan dan meninggalkan Sean yang sibuk memilih perlengkapan sekolah yang berbagai macam


Tahun ini Sean akan memulai sekolahnya , sbastian sendiri sudah mencari sekolah yang terbaik untuk putranya


Sekolah Sean tidak terlalu jauh dari kantor , dan Sean akan di antar jemput oleh Sbastian saat sekolah nanti


Meskipun Sean masih di pendidikan taman kanak-kanak , namun Sean sudah mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan , Sean percaya bahwa jika apa saja yang di larang oleh Sbastian maka itu buruk untuknya dan apa saja yang di perintahkan papanya , maka Sean menganggap itu adalah hal baik yang di perintahkan papanya


Sean memilih banyak sekali barang untuk sekolah dengan warna dominan biru laut dan biru langit , mulai dari pensil sampai sepatu , Sean memilih warna biru laut dan biru langit dengan motif ikan dan motif awan


Sean menghabiskan waktu dengan serius hanya untuk memilih warna sampul buku antara biru laut dengan motif ikan atau polos


Kantor sendiri kini sudah semakin banyak berkembang semenjak Sbastian membawa ide ide Sean kecil yang terkadang sengaja atau tidak sengaja di katakan oleh Sean kecil


Sbastian juga semakin sibuk akhir-akhir ini , namun Sbastian tetap mengatur waktu agar bisa bermain bersama putranya , pengalamannya saat di tinggalkan bermain di rumah sendirian , meskipun banyak pengasuh yang di sewakan untuknya tetap saja dirinya merasa kesepian , karena itu Sbastian tidak mau putranya merasakan hal yang sama , biasanya Sbastian akan membawa Sean ikut keluar kota jika harus mengurus pekerjaannya yang jauh dari rumah dan perlu untuk menginap


Sbastian terkadang membawa Sean keluar negri untuk mengurus pekerjaan yang ada di luar negeri sekalian berlibur


Sean sendiri mengerti kondisi ayahnya yang terlampau sibuk dan terkadang melupakannya walau hanya sebentar


maaf untuk visual belum ada


aku nya lagi seret ide buat visual

__ADS_1


__ADS_2