
Beberapa hari setelah insiden demam itu , Sean sudah kembali membuat masalah bagi papanya di mansion dan menyusahkan para maid
Sean memakai pakaian lengan panjang berwarna hitam dengan garis putih di padukan dengan celana hitam dan tas miliknya yang berwarna biru dengan motif ikan-ikan kecil yang lucu
Seperti pagi ini , Sean berteriak-teriak dan mengobrak-abrik isi mansion karena sepatunya untuk sekolah tidak ada di tempatnya
" Kamu tarok mana lho dek "
Sbastian berkacak pinggang di depan Sean
" Adek ngak tau pa... Tadi pagi masih di sini , Sean tadi pagi bersihin sepatunya , tadi juga adek masukin kaos kaki nya ke dalam sepatu "
Sean mengobrak Abrik tempat sepatu sampai semua sepatu terbang kemana-mana
" Pakek sepatu yang lain aja , yang itu nanti di carikan kak Yuka , udah ayo berangkat , nanti kamu telat "
Sbastian menarik tas Sean yang menempel di punggung Sean
" Bentar papa , adek mau cari sepatunya dulu "
Sean melepaskan tasnya yang di tahan oleh Sbastian dan berlari menuju arah dapur
" KAKAK ada yang tau sepatu Sean ngak "
Sean berteriak-teriak dengan bahasa jerman hingga membuat para maid terkejut
" Sepatu yang mana tuan muda "
Kira-kira sepuluh maid mendekati Sean dan berjongkok di depan Sean
" Sepatu yang item terus ada garis birunya , tali sepatunya ada ikan nemo nya "
Sean menjelaskan detail sepatunya
" Oh.... Ini ya "
Salah satu maid mengambil sepatu yang ada di atas kursi makan
" O.... Dasar sepatunya suka ngilang , makasih ya kakak cantik "
Sean mengambil sepatunya lalu memberikan senyum terbaiknya
" Sama-sama tuan muda "
Semua maid serempak menjawab
" Ayo papa , adek udah nemu sepatunya "
Sean berlari keluar pintu mansion dan bergegas memakai sepatunya
" Ayo..... Tadi katanya mau naik motor , kalo telat kita naik mobil "
Sbastian menaiki motornya lalu menyalakan mesin motor itu
" Sebenarnya kebalik sih khekhekhe "
Sbastian membatin dan terkekeh jahat
" Bentar pa dikit lagi "
Sean mempercepat proses pemakaian sepatunya
" Ayo "
Sbastian menaikkan Sean ke atas motor dan melajukannya pelan
" Pegangan ya "
Sbastian melajukan motornya dengan pelan hingga sampai di gerbang utama
" Halo paman "
Sean melambaikan tangannya ke pak satpam yang sedang berjaga
" Selamat pagi tuan muda "
Pak satpam menjawab dengan ramah lalu membukakan gerbang untuk Sbastian
" Ayo pa , yang cepet jangan lama-lama naik motornya "
Sean memegang erat pakaian Sbastian
" Iya-iya "
Sbastian keluar dari gerbang rumahnya lalu melajukan motor dengan kecepatan normal
Setelah memakan waktu lima belas menit , mereka sudah memasuki area parkir sekolahan
" Woah.... Sekolahnya besar "
Sean di turunkan dari atas motor lalu memarkirkan motornya di antara motor yang lain
" Udah ayo masuk "
Sbastian melepaskan helmnya lalu membawa Sean masuk ke gedung sekolah
" Ini TK aja pa "
Sean menatap gedung bertingkat tiga yang berwarna putih
" Ada SD nya "
Sbastian membawa Sean masuk ke dalam ruang kepala sekolah
" Permisi "
Sbastian mengetuk pintu lalu setelah mendapat sahutan dari dalam Sbastian masuk membawa Sean
" Tuan Sbastian "
Laki-laki paruh baya dengan setelan khas seorang guru dengan kepala botak di atas berdiri menyambut Sbastian yang memakai pakaian sederhana ala bapak-bapak yang mengantarkan anaknya sekolah
" Woah... Keren kayak hutan gundul "
Sean membatin
" Tuan navoe , ini anak saya namanya Sean"
Sbastian memberi kode agar Sean memberi salam dengan sopan
" Wah... Ini ya yang namanya tuan Sean "
Tuan navoe berjongkok dan mengulurkan tangannya dan Sean menerimanya dengan senang hati
__ADS_1
" Maaf tuan , nama saya Sean bukan tuan Sean , Sean di sini hanya siswa "
Sean menjelaskan dengan berani
" Baiklah , saya yang salah , maafkan saya ya "
Pak kepala sekolah berbicara dengan bahasa yang formal
" Pak kepala sekolah... Tolong berbicara layaknya murid dengan kepala sekolah , tolong "
Sean memegang tangan pak kepala sekolah lalu tersenyum ramah
" Baik "
Pak kepala sekolah tersenyum ramah
" Mari saya antarkan ke kelas anda "
Pak kepala sekolah berdiri dan keluar dari ruangan dan di ikuti oleh Sbastian dan Sean
Setelah melewati tiga ruangan dari ruangan pak kepala sekolah , Sean masuk ke dalam sebuah kelas yang sangat luas dengan dekorasi nuansa hutan ala anak TK
" Selamat pagi "
Pak kepala sekolah masuk dengan penuh wibawa lalu di sambut oleh seorang guru wanita yang ada di sana
" Selamat pagi pak kepala sekolah "
Guru wanita itu berdiri dari kursinya lalu mendekati mereka
" Ini murid baru yang saya ceritakan , tolong bimbingannya ya "
Pak kepala sekolah menunjukkan Sean yang berdiri di samping Sbastian
" Halo "
Bu guru itu berjongkok lalu menyapa Sean dengan ramah
" Siapa namanya "
Bu guru itu bertanya dengan ramah
" Sean "
Sean menjawab dengan singkat padat dan jelas
" Owh..... Baiklah , apakah anda ayah siswa "
Bu guru berdiri lalu bertanya kepada Sbastian
" Ya "
Sbastian mengangguk
" Bisa ngak jawab lebih panjang "
Bu guru hanya membatin
" Baiklah.. ayah tolong duduk di bangku sebelah sana , dan adik Sean mari ikut Bu guru "
Bu guru membawa Sean menuju teman-temannya
" Tunggu "
" Kenapa "
Sbastian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sean
" Muach "
Sean mencium pipi Sbastian lalu berlari kembali ke Bu guru yang sudah menunggunya
" Sepertinya tuan muda sangat menyayangi anda "
Pak kepala sekolah tersenyum
" Sangat "
Sbastian tersenyum dan melambaikan tangannya saat Sean menoleh ke belakang
" Siapa nama Bu guru "
Sean melihat gurunya
" Aniel , nama Bu guru aniel "
Bu guru memperkenalkan namanya
" Owh... "
Sean hanya ber oh ria dan mengikuti langkah kaki bu guru
" Anak-anak kenalkan ini murid baru di sini"
Bu aniel menyuruh Sean berdiri di depan kelas
" Perkenalkan namamu "
Bu guru mendorong Sean agar lebih maju ke depan
" Namaku Sean , dan itu papaku "
Sean menunjuk Sbastian yang duduk di antara ibu-ibu yang sedang mengaguminya
Pasalnya Sbastian memakai kaos oblong putih dengan celana jeans hitam dan sepatu kets hitam , rambutnya yang berantakan dan hanya di sisir dengan jari-jarinya , masker hitamnya yang di lipat ke bawah dengan telinga kanannya yang tidak lepas dari headset bluetooth , dan gaya duduknya yang layaknya seperti seorang model
" Aku sempat terpesona sebentar tadi , aku kira kakaknya Sean , tapi syukurlah suamiku lebih tampan di mataku"
Bu guru hanya membatin sambil mengelus dada
" Baiklah anak-anak , ada yang mau bertanya "
Bu guru terdiam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yang mau bertanya
" Apa namamu hanya Sean "
Salah satu anak perempuan di sana mengangkat tangannya
" Tidak , namaku Sean Ken "
Sean menjawab dengan ekspresi yang sulit di jelaskan
" Sean Ken , bolehkah aku memanggilmu Ken "
__ADS_1
Anak perempuan itu bertanya kembali
" Boleh "
Sean menjawab dengan singkat
" Terimakasih "
Anak perempuan itu tersenyum ramah
" Bu guru Bu guru "
Anak laki-laki yang duduk di ujung mengangkat tangannya
" Iya Alex "
Bu guru tersenyum
" Bolehkah dia duduk di sebelahku "
Anak laki-laki yang bernama Alex itu menunjuk kursi kosong di sebelahnya
" Boleh jika Sean mau "
Bu guru menatap Sean
" Baiklah , Sean akan duduk di situ "
Sean mengangguk
" Tapi Elis juga mau duduk sama Sean "
Seorang anak wanita yang duduk di tengah-tengah mengangkat
" Ami juga mau "
Anak wanita yang duduk paling depan juga mengangkat tangannya
" Apa Sean boleh memilih "
Sean menatap Bu guru
" Boleh , semuanya tolong diam "
Bu guru mengetuk meja dengan bulpoin dan membuat mereka semua kembali tertib
" Sean mau duduk sama dia "
Sean menunjuk anak perempuan yang duduk paling belakang
" Boleh.. silahkan "
Bu guru mempersilahkan lalu Sean berjalan menuju bangku belakang
" Hai "
Sean berdiri di samping anak perempuan itu yang sedang asik membaca buku
" Hm.. "
Anak perempuan itu mengambil tasnya yang ada di bangku sebelahnya lalu mempersilahkan Sean duduk
" Terimakasih "
Sean duduk lalu meletakkan tasnya di atas meja
" Hai Ken "
Anak perempuan yang ada di depannya menyapa dengan ramah
" Oh... Kamu tadi yang minta manggil aku Ken ya "
Sean menebak
" Iya , namaku kira "
Anak perempuan itu mengulurkan tangannya dan di sambut ramah oleh Sean
" Namamu siapa "
Sean menoleh kepada anak perempuan yang dari tadi mengabaikan keberadaannya
" Ana "
Anak itu menjawab dengan singkat
" anak ini lebih dari diriku yang polos ini "
Sean membatin lalu mengeluarkan semua mata pelajarannya
Bruak
Terdengar suara pintu yang terbuka dengan kasar hingga membuat semua orang terkejut
" Maaf saya terlambat , tadi ada urusan sedikit "
Seorang wanita memasuki ruangan dengan pakaian khas seorang guru dan hijab panjangnya yang membuatnya mencuri perhatian Sbastian
" Maaf ya , hai semuanya saya Bu guru kalian sekarang , nama saya Clara , panggil saja Bu Clara "
Gadis itu berdiri di depan para siswa dan memperkenalkan diri dengan ramah
" what "
Sean yang sedari tadi masih sibuk dengan tasnya langsung mengangkat kepalanya saat mendengar nama guru yang baru memasuki kelas itu
" Woah... Kakak cantik "
Sean membatin
" Kamu kenal dia "
Ana , anak perempuan di sampingnya bertanya
" Eh... Iya.. eh.... Enggak "
Sean menjawab dengan gelagapan
" Aneh "
Ana mengabaikan Sean lalu melanjutkan membaca bukunya kembali
" Yang aneh di sini siapa coba "
__ADS_1
Sean menggerutu lalu mengeluarkan pensilnya dan mulai menulis sesuai apa yang di ajarkan oleh Bu guru