
" Kalau paman dulu gimana ya "
Muzan meletakkan jari telunjuknya di dagunya
Flashback on
" Aduh "
Adinda yang masih kelas delapan SMP menabrak muzan yang sudah kelas sembilan SMP
" Ah.. maaf , apa kamu baik "
Muzan membantu Adinda yang menjatuhkan banyak buku
" Saya baik , terimakasih sudah membantu"
Adinda berbicara dengan sopan yah... Seperti biasanya
Sbastian yang kebetulan lewat di ujung lorong dengan tergesa-gesa tiba-tiba berhenti saat sudah melewati lorong
" Hei , ayo kita sudah telat rapat nih "
John muda menarik dasi SMA Sbastian
" Aku melihat sesuatu "
Sbastian berjalan kebelakang
*Tuing
kepala Sbastian muncul dari balik tembok
" Astagfirullah "
Wajah adinda tiba-tiba muncul di depan Sbastian
" Kak.. jangan mengagetkan saja "
Adinda berjalan mundur dan berlutut memunguti kembali buku buku yang dia jatuhkan
" Astagaaaaa mamaaaaa aku sedekat itu dengan wajah adinda "
Sbastian membatin
* Tap..tap..tap..
Sbastian mundur tiga langkah ke belakang dan berlutut di depan adinda
" Hehehe maap ya , aku penasaran tadi kamu lagi samaaaa "
Sbastian tiba-tiba berhenti berbicara dan menunjukkan raut wajah tidak suka
" Sama "
Adinda memiringkan kepalanya
" Kak "
Adinda mengibaskan buku di depan mata Sbastian
" Kak OSIS "
Adinda melambaikan tangannya di depan wajah Sbastian
" Sama apa kak "
Adinda sedikit mengeraskan suaranya dan membuat Sbastian terkejut
" Kamu tadi sama siapa "
Sbastian tiba-tiba duduk bersila dan menatap adinda tajam
" Ngapain kakak duduk di situ , itu kotor kak"
Adinda mengambil buku terakhirnya
*Tak
Sbastian menahan buku LKS yang sudah di sentuh adinda hendak di angkat dan di bawa
" Kamu tadi sama siapa "
Sbastian semakin menatap adinda tajam
" Apa sih kak "
Adinda menarik bukunya , namun itu berat karena Sbastian menekannya di lantai
" Kak ayolah adinda mau balik ke kelas , bentar lagi pelajaran "
Adinda meletakkan bukunya yang lain di sisi kirinya dan menarik buku yang di tahan Sbastian dengan kedua tangannya
" Yaudah , lagian buku itu ngak penting "
Adinda melepaskan bukunya dan menoleh ke samping kiri hendak mengambil tumpukan buku yang lain
" Lho bukuku "
Adinda celingukan mencari bukunya
" Woah.. tebal tebal ya bukunya "
Sbastian melihat satu persatu buku buku milik adinda
" Kak itu bukuku kembalikan "
Adinda berdiri mencari Sbastian yang sudah menghilang dari pandangan
" Oh.. ayolah kawan kita ada rapat "
John muda tiba-tiba mengagetkan Sbastian yang sedang bersembunyi dari adinda
" Oke oke "
Sbastian keluar dari tempat persembunyiannya
" Kak OSIS "
Adinda menghampiri Sbastian yang ternyata bersembunyi di balik etalase piala
" Iya iya ini bukunya "
Sbastian memberikan buku adinda kembali
" Humph aku benci kak OSIS "
Adinda mengambil bukunya dengan kasar lalu pergi begitu saja
" Nah nah mampus Lo "
John menarik Sbastian yang terlihat tersenyum kecil
" Aduh "
John tidak sengaja menabrak seseorang dari pertigaan lorong di depan
" Astaga muzan "
John terkejut
" Lho kakak sepupu "
Muzan terkejut melihat John di depannya
*Syut
Sbastian menoleh
" Kamu tadi yang nabrak adinda kan "
Sbastian berdiri di depan muzan dengan sorot mata yang sangat tajam
" Ah.. kak Sbastian "
Muzan tersenyum
" Kenapa kamu dekat dekat dengan Dinda anak baru "
Sbastian menunjuk jidat muzan
" Hah "
Muzan menaikkan satu alisnya
" Iya , kan kamu tadi di lorong dengan adinda "
Sbastian menatap muzan garang
" Oh... Jadi dia itu namanya adinda "
Muzan meletakkan ke tiga jarinya panjangnya di dagu
" jangan coba-coba mendekati dia "
Sbastian menunjukkan bogem miliknya
" Astaga iya iya , kak Sbastian galak banget kalo soal adinda "
Muzan menggumam kecil
" Dia ntuh calon istriku "
Sbastian berbicara dengan percaya diri
" Uhuk uhuk "
John tersedak ludahnya sendiri saat mendengar Sbastian mengatakan itu
" Jangan maen maen ah "
John memukul lengan Sbastian dan berlalu pergi
" Siapa juga yang maen maen "
Sbastian menggerutu dan menyusul John pergi
" Astaga... Kedua orang itu "
Muzan menggumam
" Oh iya kan tadi di suruh ke lapangan "
Muzan berjalan terkadang berlari kecil dan melompat-lompat seakan anak kecil yang sedang bermain
" Heh kita telat gara gara kau "
John menggerutu saat melihat semua anggota OSIS sudah berkumpul
" Biar "
Sbastian membuka pintu dan masuk dengan cueknya meski mendapat tatapan tajam dari seluruh anggota OSIS
" Terlambat "
Seluruh anggota OSIS serempak berbicara saat Sbastian duduk di kursi paling ujung
" Denger tuh "
John menonyor kepala Sbastian
" Maaf , saya ada sedikit urusan "
Sbastian berbicara dengan penuh wibawa
Rapat OSIS di berjalan lama mulai jam sembilan pagi hingga jam pulang sekolah yaitu jam satu siang
" astaga punggungku rasanya mau patah , kita tadi duduk lama sekali "
Percakapan anggota OSIS berlanjut hingga ruangan OSIS kosong dan menyisakan Sbastian bersama John
" Yaudah ayo pulang "
John mengambil tasnya yang tergeletak di sudut ruangan
" Iya bentar "
Sbastian menatap berkas berkas anggota OSIS yang akan di serahkan kepada kepala sekolah
" Astaga... Ini perasaan bukan kantor "
John berkacak pinggang saat melihat Sbastian menjadikan meja OSIS persis seperti meja kantor miliknya
" Baik baik "
Sbastian berdiri dan berjalan keluar di ikuti John
" Lho.. ada apa di sana "
Terlihat lapangan upacara yang berhadapan langsung dengan ruang OSIS terlihat sangat ramai
" Kenapa ya "
John penasaran dan menarik Sbastian yang berjalan bersama kekasih kecilnya yang gepeng
" Napa sih "
Sbastian menggerutu
" SIAPA SURUH KAMU TELAT DI PELAJARAN SAYA , JANGAN ADA YANG MENDEKAT , JIKA ADA YANG BERANI MENOLONG DIA , SIAPAPUN ITU AKAN SAYA KELUARKAN "
Terdengar suara teriakan guru paling garang di sekolah yang membuat Sbastian mulai penasaran
" Lho.. muzan di sini , siapa itu "
John mencoba melihat ke depan
" Ngak tau kak , tapi kayaknya cewek dari kelas IPA satu "
Muzan menjawab
*Deg
Sbastian terkejut mendengar kalimat muzan
" Di hukum apa "
Sbastian bertanya
" Katanya telat masuk kelas "
Muzan menjawab namun tidak menoleh
" Astaga , apa itu adinda "
Sbastian tiba-tiba menghilang dari pandangan John dan muzan
" Kemana kak Sbastian "
Muzan celingukan
" Lho iya ya , tadi di sini lho "
__ADS_1
John celingukan mencari Sbastian
Setelah beberapa saat akhirnya John memutuskan menyeret muzan untuk melihat inti keramaian yang padat siswa penasaran
" Astaga Sbastian "
John memijat keningnya saat melihat Sbastian berdebat dengan guru yang paling garang satu sekolah
" Kenapa apa ini bro "
John bertanya kepada Hans , teman sekelas Sbastian dan John yang berdiri paling depan
" Itu John , adinda telat masuk kelas , dan Bu guru bilang kalau adinda itu ngak pernah sekolah , kenapa sekali sekolah malah bolos kelas , terus kata Bu guru adinda itu calon wanita malam yang sukanya keluyuran gak jelas "
Hans menjelaskan
" hehehe mampus tuh guru , dia cari masalah sama orang yang gak tepat "
John terkekeh
" Saya akan membawanya , meski saya di keluarkan saya tidak takut "
Sbastian membawa adinda yang kelihatannya sudah di jemur cukup lama di bawa terik matahari hingga kerudung putihnya berlumuran darah yang mengalir dari hidungnya
" Anda keterlaluan "
Sbastian melirik Bu guru galak sebentar lalu menggendong adinda pergi dari sana
" Maaf merepotkan kakak "
Adinda mulai menitikkan air matanya
" Ngak papa "
Sbastian berjalan cukup cepat hingga tidak sadar sudah ada empat makhluk yang mengikuti di belakang
Setelah melewati dua lorong , akhirnya Sbastian dan yang lain sampai di ruang UKS
" Dokter "
Sbastian meletakkan adinda di bankar
" Astaga , kenapa ini "
Dokter praktek terkejut melihat adinda yang sudah mimisan sangat banyak hingga baju putihnya terkena noda darah
" Dia di hukum "
Sbastian menjawab dengan singkat
" Di mana "
Dokter yang notabenenya salah satu dokter pribadi adinda yang di samarkan di sekolahan mulai menyeka darah di hidung adinda
" di lapangan "
Bella menjawab
" Buat terkejut aja lu "
Sbastian memukul lengan Bella
" Anjrot sakit woe "
Bella menggosok lengannya kuat
" Ngak keras keras kok "
Sbastian memukul sekali lagi
" Gue pukul baru mampus Lo "
Bella mencubit pinggang Sbastian
" Diam diam "
Dokter memukul Sbastian dan menjewer telinga Bella
" Iya dok "
Bella dan Sbastian duduk di bankar di samping adinda namun mereka berseberangan
" apa kepalanya sakit "
Dokter menyentuh dahi adinda
" Iya , adinda mau telfon ayah saja "
Adinda meminta hp kepada Bella
" Adinda lupa , ayah ada di luar kota "
Adinda meletakkan hp nya
" Lalu di rumah ada siapa "
Bella turun dari bankar dan mendekati adinda
" Ngak ada siapa siapa yang bisa jemput , supir ayah pasti ikut ayah , supir ibu lagi pulang kampung , kalau minta jemput bibi nanti ibu malah khawatir , terus suami bibi pasti lagi nganter ibu ke pasar "
Adinda menghentakkan kakinya kesal
" Kenapa ngak telfon ibu aja , kan pasarnya Deket sama sini "
John menyahuti
" Ngak bisa , ibu ke pasar di luar kota , jadi kalau jam segini masih belanja , kasihan kalau ibu harus ke sini jauh jauh , tapi badan aku lemes nanti yang gendong siapa huhu "
Adinda mengeluarkan seluruh keluh kesahnya di atas pundak Bella
" Hei kan masih ada ayah aku , nanti aku minta ayah anter kita sampai ke rumahmu "
Bella menenangkan
" Makasih "
Adinda tersenyum
" Bajumu terkena darah , pakai ini saja "
Sbastian memberikan jas kantornya yang berwarna abu-abu
" Makasih "
Adinda menerimanya dengan senang hati dan di iringi senyuman manis
" Astaga gue leleh "
Sbastian meletakkan kepalanya di atas pundak John yang berdiri di sebelahnya
" Cih.. berat bego "
John menjauhkan kepala Sbastian
" Begini saja , aku antar kalian pulang , ngak usah telfon siapa siapa "
Sbastian berdiri dan berkata dengan semangat
" Ngak kak , makasih , nanti ngerepotin kak OSIS "
Adinda menolak dengan sopan
" Panggil aku Tian , aku punya nama tau "
Sbastian melipat tangannya di atas dada
" Hahaha "
" Hehehe "
Adinda cengengesan saat di tegur Sbastian
" Ekhem.. udah sana pulang , nanti kesorean"
Dokter mengemasi obat-obatan yang di gunakan untuk mengobati adinda
" Ayo Bella , papah aku , kan kamu kuat hehehe "
Adinda turun dari bankar
" Pakai dulu itu jas nya "
Bella membantu adinda memakai jas Sbastian
" Kami permisi dok "
Mereka semua keluar dari UKS satu persatu
" Bentar deh , mana ya tas aku "
Adinda baru sadar
" Halo "
Suara dari belakang membuat mereka menoleh
" Eh... Ini tasnya nyampek "
John mengambil tas adinda yang di bawa oleh Hans
" wah.. makasih ya kak Hans "
Adinda mengambil dan memeluk tasnya
" Sini deh Lo gua gendong , kelamaan "
Bella tiba-tiba menggendong adinda ala Putri duyung
" Bella , aku kan berat "
Adinda memberontak mencoba untuk turun
" Kamu ... Berat... Jangan ngimpi "
Bella membawa adinda di dalam pelukannya hingga parkiran
" Cepet naek "
Sbastian masuk di kursi samping kemudi
" Terus yang kemudiin siapa "
John menyipitkan matanya
" Kamu lha , ini ada panggilan dari pusat "
Sbastian mulai sibuk dengan hp nya dan handset miliknya hingga tidak tau siapa saja yang sudah masuk ke dalam mobilnya
Flashback off
" lalu papa nganterin bunda sampai rumah "
Sean berbicara dengan mulut yang penuh krim kue
" Iya "
Sbastian mengusap krim kue yang menempel hampir di seluruh pipi Sean
" Hahahaha "
Ruang rapat di hiasi canda tawa dengan reoni dadakan
Sean dan yang lain berada di kantor hingga pukul sembilan malam karena Sbastian mengerjakan banyak kertas kertas tebal bersama lion dan asisten Nia , asisten Sbastian yang lain karena wafi di rumah sedang rewel dan sitter azza kelelahan karena hari ini wafi memang sangat rewel
" Dek.. ayo pulang dek "
Sbastian menepuk-nepuk pipi liona yang sudah tertidur pulas sambil memeluk Sean di dalam kamar pribadi Sbastian yang menjadi satu dengan ruangannya
" biar Leon gendong saja , kasian jika di bangunkan "
Leon berlutut di samping liona
" Kamu kan capek , hari ini bantu kakak sampai malam , emang tanganmu ngak serasa mau lepas "
Sbastian menaikkan satu alisnya
" Iya sih... Tapi... Kasian kak "
Lion meletakkan kepalanya di tepi tempat tidur
" Kalau begitu kakak yang gendong lili , kamu gendong Sean saja "
Sbastian menyingkirkan tangan lili dari Sean
" Ambil kerudung lili "
Sbastian mendudukkan lili yang tertidur sangat pulas hingga terdengar dengkuran halus dari mulutnya
" Ini kak "
Lion memberikan kerudung liona dan Sbastian memakaikannya
" Ayo kak , kita pulang "
Lion menggendong Sean dan Sbastian membawa liona turun dari lantai atas
" Papa.. "
Sean membuka matanya saat mereka sampai di dalam lift
" Kita pulang ya "
Sean meletakkan dagunya di pundak lion
" Iya "
Sbastian tersenyum
" Langsung pulang kah.. "
Sean menatap papanya
" Iya"
Sbastian mengangguk
*Ting
Pintu lift terbuka
" Papa Ini jam berapa "
Sean melihat jam tangan kecilnya
" Jam sembilan lewat lima belas "
Lion menjawab
" Oh... "
Sean ber oh ria
__ADS_1
Mereka berjalan dengan suasana cukup hening , di sana hanya mereka ber lima , yaitu Sean , Sbastian , si kembar dan asisten Nia
" kamu pulang dengan siapa Nia "
Sbastian bertanya
" Saya di tunggu suami di depan "
Asisten Nia menjawab dengan sopan
" Maaf ya membuatmu menunggu hingga malam "
Sbastian merasa tidak enak
" Selamat malam tuan "
Pak satpam memberi hormat
" Hai paman "
Sean melambaikan tangannya
" Iya tuan muda "
Pak satpam menjawab dengan ramah
" Itu suami saya , saya pamit dulu tuan "
Asisten Nia membungkuk
" Aku ikut sebentar "
Sbastian berjalan di belakang asisten Nia namun sambil menggendong liona
" Selamat malam tuan "
Sbastian sedikit membungkuk
" Maaf , saya membuat Nia bekerja hingga malam hari , saya benar-benar minta maaf "
Sbastian berkata dengan tidak enak
" Tidak apa tuan , saya faham , lagi pun dari tadi Nia telfon saya dengan Nia tidak putus , jadi saya mengerti "
Suami asisten Nia menjawab dengan ramah
" Saya benar-benar minta maaf , saya tau ini tidak sopan , namun saya benar-benar minta maaf , saya sangat tidak sopan jika seperti ini , saya benar-benar minta maaf , saya tidak enak dengan anda dan Nia , saya benar-benar meminta maaf "
Sbastian berkali-kali meminta maaf hingga membuat suami asisten Nia merasa tidak enak
" Tidak perlu seperti ini tuan , saya mengerti , saya percaya dengan Nia "
Suami asisten Nia tersenyum sambil menatap Nia
" Kami pamit "
Suami asisten Nia naik ke atas motornya dan asisten Nia duduk di boncengan motor
" Saya sekali lagi meminta maaf "
Sbastian membungkuk kecil
" Iya tuan , kami pamit "
Suami asisten Nia melajukan motornya
" Papa papa "
Sean memanggil papanya cukup keras
" Kenapa "
Sbastian mendekat
" Bukakan pintunya "
Sbastian meminta lion dan lion mematuhi perintah
" Papa , banyak ya pekerjanya di bangunan sebelah , kayaknya mereka lembur deh "
Sean menunjuk proyek yang belum selesai di tanah kosong di sebelah kantor pusat
" Di sana kosong nak , sudah lima hari belum di bangun "
Sbastian jika ikut melihat bangunan dari arah mobil
" Oh..... Paling Sean masih ngantuk "
Sean menyandarkan kepalanya di atas pundak lion
Sbastian dan lion saling bertatapan dan melihat kembali bangunan di sebelah gedung hingga di kejutkan dengan aji yang tiba-tiba datang
" Tuan "
Aji membungkuk hormat
" Lho kamu belum pulang aji , perasaan udah saya suruh pulang dari siang "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Pak sopir kalau ngak pulang sekarang nanti Sean bakar lho "
Sean menunjuk aji
" Apaan kamu Sean "
Sbastian menepis telunjuk Sean yang di tujukan untuk aji
" Pak sopir pulang deh , jangan bikin Sean ngak suka sama pak sopir "
Sean menatap aji dingin namun aji hanya diam tidak bergeming
" Kamu kira Sean ngak tau "
Sean menatap aji sinis
" Hehe "
Aji tersenyum seram
" Mari saya antar pulang den "
Aji menjulurkan tangannya ke arah Sean namun lion segera mundur satu langkah
" emang kamu kira Sean mau sama kamu "
Sean menatap aji tidak senang
" MAOOOO , KAKEK TUAAAA "
Sean berteriak hingga sebuah angin kencang berhembus
Aji tidak bergeming dari tempatnya , hanya angin yang menghembuskan sedikit pakaiannya , namun Sbastian memeluk lion yang membawa Sean , mereka hampir terhempas karena angin jika mereka tidak berpegangan di gagang pintu mobil yang jendelanya terbuka
" Kamu mau apakan tuan mudaku "
Suara kakek tua memasuki pendengaran , perlahan angin bertiup lebih pelan dan membuat Sbastian melepaskan pelukannya
" Siapa kamu "
Aji bertanya dengan nada suara yang berat dan menyeramkan
" Kamu sendiri "
Kakek menatap aji sinis
" Hahahaha memangnya siapa kamu , berani bertanya kepadaku "
Rupa aji berubah , wajahnya menjadi hitam dengan banyak luka gores yang berdarah dengan bau bangkai mayat juga ada sedikit bau tanah basah kuburan
" Astaga "
Lion terkejut
" Jangan di lihat "
Sbastian memeluk lion namun dia lupa bahwa Sean menghadap ke belakang
" Wahahahahaha kamu lucu "
Sean tertawa dan membuat kakek tua dan Sbastian terkejut
" Tuan muda ku emang aneh "
Suara Mao tiba-tiba muncul
" Mao kamu comel deh "
Sean berbicara seperti itu karena Mao memakai pakaian maid yang masih membawa pisau
" Saya tidak sempat ganti baju , tuan muda keburu manggil sih "
Mao memonyongkan bibirnya
" Hahahaha "
Sena tertawa senang
" Astaga anakku "
Sbastian menepuk jidatnya cukup keras
" Jangan pa , nanti sakit "
Sean menggosok kening Sbastian
" Kita pergi saja , dia bukan ancaman "
Kakek tua memalingkan pandangannya menuju Sean
" Oh ya tuan muda , saya baru ke sini lho , ini tempat apa "
Kakek tua memandang sekitar , terlihat jalan raya yang agak jauh dari kantor namun cukup ramai dengan lampu-lampu yang berada di segala tempat
" Ini namanya kota , Sean tinggal di sini "
Sean berkata dengan bangga
" Apa dia sudah hilang kak "
Lion memandang kakaknya
" Tidak apa kakaknya tuan muda , makhluk itu sudah saya kurung , nanti akan saya kembalikan ke tempatnya "
Kakek tua itu menunjukkan sebuah botol bening yang berembun
" Ayo pulang kak "
Lion yang terlihat masih ketakutan memeluk Sbastian namun tangannya yang satunya masih menggendong Sean
" Baiklah "
Sbastian melepaskan lion
" Apa kakek mau mampir ke rumah kami "
Sbastian menawarkan
" Tidak , saya pulang saja , Mao jaga tuan muda "
Kakek tua menepuk pundak Mao
" Sudah tugas saya kek "
Mao mengangguk
" Ayo kita pulang "
Sbastian membuka pintu dan lion duduk di kursi sebelah sopir dengan Sean
" Mao , kamu duduk dengan lili di belakang"
Sbastian berjalan memutar dan duduk di bangku kemudi
" Apa sudah semua "
Sbastian melihat ke belakang , di sana Mao menempatkan kepala lili di pangkuannya
" Kita berangkat "
Sbastian melajukan mobilnya menelusuri jalanan yang tidak cukup ramai , Sbastian mengemudikan mobilnya dengan santai dan sesekali berhenti di lampu merah , supermarket dan pom bensin Hingga mobil Sbastian memasuki sebuah komplek perumahan
*Tiin
Sbastian membunyikan klakson mobil dan keluarlah pak satpam dari pos nya
" Lho , tuan Sbastian , kok tumben pulangnya malam "
Pak satpam membuka portal
" Iya paman , tadi di kantor sangat sibuk , mari paman "
Sbastian melakukan mobil memasuki kompleks perumahan yang sudah cukup sepi di jam sepuluh malam
*Tin
Sbastian membunyikan klakson mobil di depan gerbang rumahnya
" Sebentar tuan "
Pak satpam membuka gerbang dan membungkuk hormat saat Sbastian lewat
" Kamu masuk saja dulu , bawa barang barang belanjaan , aku akan membawa anak-anak "
Sbastian membuka pintu dan membiarkan Mao membuka bagasi lalu membawa semua barang barang yang Sbastian beli masuk ke dalam
" Lion , kamu bawa Sean ke kamarnya , kakak akan bawa adik ke kamarnya "
Sbastian menggendong liona dari kursi belakang dan menutup pintu
" Lion "
Sbastian mengulangi kalimatnya karena lion tidak menyahuti
" Astaga "
Sbastian tersenyum kecil melihat lion yang sudah terlelap sambil memeluk Sean
" Sbastian "
Suara pak Sam terdengar
" Ayah "
Sbastian berputar dan melihat pak Sam datang
" Di mana adek dan lion "
Pak Sam berhenti di samping Sbastian
" Itu mereka , kasihan mereka , lion hari ini membantu seharian di kantor "
__ADS_1
Sbastian tersenyum