Aku Pangeran

Aku Pangeran
#65 ( sssttttt )


__ADS_3

" Rudi "


Sbastian memulai percakapan


" Iya tuan "


Rudi menyahuti


" Apa kamu suka dengan pekerjaanmu "


Sbastian menatap Rudi


" Iya tuan , di sana rekan rekan saya sangat ramah , saya benar-benar betah "


Rudi


" Semoga kamu betah berlama-lama di sana , Sean yang menyarankan ku untuk memberimu tempat di sana "


Sbastian mengusap keringat Sean


" tuan muda Sean benar-benar baik , saya sangat berterimakasih "


Rudi tersenyum


" Kami akan pulang dulu , bintang kecil , paman pulang dulu ya "


Sbastian berdiri di ikuti singa kembar dan Clara juga asisten John


" Kami permisi "


Sbastian berjalan keluar di antarkan Rudi


" Paman "


Bintang berdiri di atas bankar ibunya


" Bolehkan nanti bintang bermain dengan Sean "


Bintang dengan berani berbicara


" Boleh , nanti paman antar Sean ke rumah mu ya "


Sbastian tersenyum


" Makasih paman "


Bintang tersenyum


" Sama-sama "


Sbastian tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan


" Kak "


Lion dan liona menghampiri Sbastian


" Kenapa "


Sbastian menoleh


" Kenapa kakak ngak nikah lagi , biar Sean punya ibu "


Liona memegang lengan Sbastian


" Tidak semudah itu mencari yang cocok dengan Sean , kakak bimbang , kakak juga masih belum melupakan kakak iparmu , kau harusnya tau kan "


Sbastian tersenyum


" Maaf kak , liona menyinggung perasaan kakak "


Liona memeluk lengan Sbastian


" Ngak papa "


Sbastian tersenyum


" Oh ya , kita ke kantor dulu ya , kalian mau ikut apa ngak "


Sbastian menatap mereka berdua


" Iya ikut aja , liona mau belajar berkas kantor juga kayak kak lion "


Liona memeluk lion


" Baiklah , kita semua ke kantor "


Sbastian tersenyum


Sbastian membawa mereka semua kembali ke kantor dan memulangkan Clara ke rumahnya , setelah sampai di kantor , Sean di taruh di ruangan istirahat Sbastian setelah itu Sbastian memberi pelajaran tentang berkas berkas kepada liona sebentar


" Apa sudah paham lili "


Sbastian memberikan lima berkas yang akan di tangani lili


" lili paham , kakak ke ruangan paman John aja , liona akan urus sisanya di sini "


Liona memberikan senyum cerahnya


" Nanti kalau tidak bisa langsung saja ke ruang meeting ,kakak di sana "


Sbastian berdiri dan di ikuti lion


" Katanya ke ruangan paman John "


Liona menatap Sbastian


" Iya , kesana cuma mengambil berkas , setelah itu langsung ke ruang meeting "


Sbastian mengambil bulpoin miliknya di atas meja


" Kalau Sean bangun nanti antar saja ke ruang meeting , kalau dia cari kakak , kalau enggak ya ngak usah , kamu istirahat saja setelah menghabiskan berkas ini , kakak akan panggilkan asisten Nia untuk membimbing mu "


Sbastian keluar dari ruangan di ikuti lion


" Nia "


Sbastian menghampiri asisten Nia yang terlihat menata beberapa kertas tebal


" Iya tuan "


Asisten Nia menoleh


" Tolong kamu bimbing liona untuk mengerjakan beberapa berkas di dalam sana , aku akan ke ruang meeting "


Setelah Sbastian berbicara, Sbastian berlalu ke ruang meeting


" apa yang ingin kakak bicarakan"


Leon bertanya


" Nanti dulu "


Sbastian masuk ke dalam ruangan asisten John


" Iya tuan "


Asisten John berdiri


" Mana berkasnya "


Sbastian mendekat


" Ini sudah saya kemas "


Asisten John memberikan map coklat besar kepada Sbastian


" Ayo lion "


Sbastian merangkul pundak lion dan berjalan keluar dari ruangan asisten John


" Ada apa ya , padahal aku lihat di jadwal kak Sbastian tadi ngak ada meeting "


Lion membatin


" Ayo masuk "


Sbastian membawa lion masuk ke dalam lift


" Lho , katanya ke ruang meeting , kan ruang meeting ada di sana "


Lion menunjuk ujung lorong


" Kamu harus bertemu seseorang "


Sbastian menarik tangan lion


" Kemana kak "


Lion yang di tarik dan di rangkul oleh Sbastian hanya bisa pasrah


" Ada apa kak "


Lion menatap Sbastian dengan penasaran


" Ikut saja "


Sbastian mencium pucuk kepala lion


" Firasatku ngak enak , kalau kak Sbastian bertingkah kayak gini , berarti ada yang salah ..... Tapi apa "


Lion membatin


" Apa ini tentang liona "


Lion membuat Sbastian terkejut


" Bukan , bukan juga tentang ayah dan ibu"


Sbastian tau apa yang lion pikirkan


" Syukurlah "


Lion sedikit lega itu tidak menyangkut keluarganya


*Ting


Lift terbuka di lantai dasar


" Mau kemana kak "


Lion mengikuti tarikan tangan Sbastian


Sbastian membawa lion masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan berhenti di depan rumah sakit


" Rumah sakit... Kenapa kak "


Lion menatap Sbastian


" Ikut kakak "


Sbastian turun dari mobil dan di ikuti lion


" Tunggu kak "


Lion mengimbangi langkah Sbastian yang lebar


" Masuk "


Sbastian meminta lion masuk ke dalam dokter spesialis yang sebelumnya menangani liona


" Kenapa kak "


Lion berhenti


" Tuan muda "


Bu dokter yang sebelumnya menangani liona kini menyambut lion dari belakang


" Saya ingin membicarakan sesuatu "


Lion terbengong melihat kakaknya yang tidak menatapnya sama sekali


" Tatap mataku kak , ada apa "


Lion mencengkeram erat kerah pakaian Sbastian


" Tuan muda , mari masuk , saya akan menceritakan semua "


Dokter memegang bahu lion dan lion menurut


" Kak "


Lion memegang tangan Sbastian namun Sbastian melepaskan genggaman lion dan berpaling


" Maaf , pintunya "


Dokter berbicara lalu Sbastian menutup pintu , jadilah mereka bertiga di dalam ruangan


" Duduklah tuan muda "


Dokter mendudukkan lion di sofa , sedangkan Sbastian tetap berdiri namun membelakangi lion


" Anda bisa membaca ini "


Dokter memberikan amplop coklat yang tadinya di bawa oleh Sbastian


" Apa ini "


Lion membuka amplopnya dengan rasa penasaran yang luar biasa , lion dengan segera membaca surat keterangan dokter yang terlihat jelas memiliki stempel rumah sakit


" Kak "


Mata lion memerah , tubuhnya bergetar


" Bohong kan kak , ini bohong kan "


Lion menarik tangan Sbastian agar Sbastian menatap wajahnya


" Kak "


Lion melihat Sbastian yang memejamkan matanya


" Tatap aku kak , ini bohong ini bohong kan kak , kakak jangan begini kak , ini ngak lucu , katakan padaku kak KATAKAN "


Leon mengguncang Sbastian


*Tes


Begitu mata Sbastian terbuka , terlihat air mata yang sudah meleleh , air mata yang tidak pernah lion lihat


" Kenapa kakak menangis , kakak ngak pernah nagis , apa ini beneran kak , katakan ke Leon kak , katakan "

__ADS_1


Leon mencengkeram erat lengan Sbastian


" Maaf , kakak tidak bisa menahannya lagi "


Sbastian mengusap air matanya lalu tersenyum kecil


" kakak janji akan berikan kamu pengobatan terbaik , kamu akan bersama liona saat kamu sudah sembuh , ayo duduk "


Sbastian membawa lion duduk di sofa


" Kakak akan mengirimkan kamu ke luar negri , kakak akan memberimu perawatan yang benar-benar intensif , kakak akan memastikan lili kecil tidak berpisah denganmu dalam waktu yang lama , kakak janji "


Sbastian mengusap kepala lion


" Dokter "


Lion menatap dokter berharap itu tidak benar


" Mari kita cek sekali lagi , saya takut ini sudah parah "


Dokter menatap Sbastian


" Iya "


Sbastian mengangguk


" Ngak , aku ngak akan tinggalin lili kemanapun , aku akan selalu sama lili "


Lion menepis tangan Sbastian


" Kakak ngerti "


Sbastian tersenyum


" Kakak akan pertemukan kamu dengan lili sebulan sekali , dan jangan biarkan lili , mama dan papa tau akan hal ini , kakak tidak mau membuat mereka khawatir "


Sbastian berbicara dengan lembut


" Kakak bohong , kakak ngak pernah tepatin janji , kakak dulu bilang akan selalu menjaga lili , apa buktinya , kakak pergi selama dua tahun "


Lion berteriak tepat di depan wajah Sbastian


" Kakak selalu mengawasi kalian , kakak ngak pernah lepas tangan dari kalian , kakak takut lili akan tau hal ini , dia baru sembuh , apa lagi mama , kamu tau kan kalau mama punya riwayat jantung , dan papa juga , papa akan selalu memikirkan kamu jika dia tau apa yang terjadi denganmu , waktu lili baru dinyatakan sakit saja , papa langsung drop "


Sbastian menyenderkan punggungnya di sofa


" Kakak juga ngak bisa sembunyikan kenyataan ini dari mu , apa lagi kamu harus sehat untuk lili , suatu saat nanti kakak akan pergi , pergi jauh ke rumah yang kakak inginkan , dan kakak ingin kamu merawat lili jika kakak benar-benar pergi ke tempat impian kakak , kakak merasa bahwa kakak tidak lama di sini , kamu harus sembuh sebelum kakak pergi "


Sbastian tersenyum manis


" Apa kakak juga sakit "


Lion meluluh


" Tidak , tapi kata hati kakak seperti itu , jika benar terjadi , kamu harus menjaga lili "


Sbastian mengusap rambut lion


" Kita harus cek up , agar tau perawatan apa yang harus kamu ambil "


Sbastian berdiri di ikuti dokter


" Kak "


Lion menatap Sbastian


" Ayo "


Sbastian mengulurkan tangannya dan lion meraihnya


" Apa yang terjadi jika lion pergi "


Lion berjalan mengikuti langkah kaki Sbastian uang ntah membawanya kemana


" Lion lion , kamu itu jangan pikirkan yang aneh aneh , kakak akan beritahu papa , setidaknya papa harus tau , jika mama haruslah perlahan lahan , kakak takut terjadi sesuatu dengan mama "


Sepanjang jalan sbastian mengusap-usap kepala lion dengan lembut


" Lion takut "


Lion berhenti saat sudah sampai di depan pintu pemeriksaan


" Apa yang kamu takutkan "


Sbastian menatap lion


" Lion takut jika penyakit lion.... Penyakitnya"


Lion menatap sekitar dengan panik


" Masuklah , tidak akan terjadi sesuatu yang buruk "


Sbastian mendorong lion masuk , setelah itu Sbastian menunggu lion di kursi tunggu


* setelah beberapa lama


" Kakak "


Lion keluar dengan air mata yang berderai


" Kenapa "


Sbastian berdiri dan memeluk lion


" Kankernya sudah stadium dua , saya salah diagnosa "


Dokter memberitahu


*Deg


Jantung Sbastian berdetak kencang


" Bagaimana ini kak , bagaimana jika lion meninggalkan lili dan mama "


Lion menatap Sbastian dengan air mata yang berlinang


" Tidak akan , bulan depan kamu akan berangkat untuk pengobatan , jangan takut , kakak akan sekuat tenaga mencari semua yang kamu perlukan "


Sbastian memeluk dan mencium pucuk kepala Leon


" Ini hal-hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh tuan muda lion , saya harap tuan muda akan segera sembuh "


Dokter tersenyum


" Terimakasih "


Sbastian menerima amplop coklat yang di berikan oleh dokter


" Ayo pulang "


Sbastian membawa lion berjalan menuju tempat parkir


" Masuklah "


Sbastian membukakan pintu


Sbastian memutar dan duduk di bangku kemudi


*Grep


Lion menggenggam erat tangan Sbastian dan mulai kembali menjatuhkan air matanya


" Jangan begini atau lili akan bertanya "


" Aku takut "


Lion berbisik


" Jangan takut "


Sbastian meletakkan keningnya di atas kening lion


" Tutup matamu dan ucapkan janji "


Sbastian menangkup kepala lion


" Aku berjanji tidak akan membuat lili dan mama menangis , aku berjanji tidak akan memberitahu semua masalah yang aku punya kepada mama dan lili , aku berjanji sebagai lelaki akan menjaga mama dan lili dari segala situasi yang akan membuat mereka menangis , aku berjanji air mata kesedihanku akan ku tanggung bersama saudara laki lakiku , bukan dengan mama atau lili , aku berjanji "


Sbastian membuka matanya dan menatap lion yang terlihat lebih baik


" Bagaimana "


Sbastian tersenyum


" Lebih baik hahaha "


Lion terkekeh kecil


" Anak pandai "


Sbastian menggosok kuat kepala lion


" Pantas saja ya kak , akhir akhir ini aku selalu mudah lelah , kepalaku mudah pusing , aku mudah berkeringat dingin , dan yang lebih parahnya Minggu ini aku mimisan dua kali "


Lion berbicara dengan Sbastian seperti biasanya


* Ckit


Sbastian berhenti dan menatap lion


" Kamu mengalaminya dan tidak bilang "


Sbastian memelototi lion


" Hehehe , lion kira itu hanya kecapean "


Lion menunjukkan Gigi putihnya yang rapih


" Dasar "


Sbastian menonyor kepala lion


" Hahaha "


Lion terkekeh


" Kapan lion akan berangkat "


Lion mengeluarkan camilannya


" Bulan depan , kamu akan berangkat "


Sbastian mulai menjalankan mobilnya


" Apa yang akan lion katakan pada lili "


Lion memakan camilan yang ia buka


" Kamu akan mengurus cabang perusahaan , itu juga salah satu tanggung jawabmu di sana , tapi jangan terlalu berat-berat , anggap saja sebagai hiburan saat kau di dalam rumah sakit "


Sbastian mengambil satu keripik dari tangan lion


" Sama aja dong "


Lion melirik Sbastian


" Yah... Kalau lili vc nanti bisa di samarkan gitu "


Sbastian menatap lion dengan cengar-cengir


" Kakakku ya Allah , berikan dia akal "


Lion mengangkat kedua tangannya


" Apaan sih "


Sbastian memukul tangan lion


" Hahahaha "


Mereka berdua tertawa sepanjang jalan membahas banyak hal-hal konyol yang tidak akan muda di pahami kaum pada umumnya


Setelah sampai di kantor , sbastian turun terlebih dahulu dan di sana sudah ada lion dan Sean yang berdiri di depan pintu kantor sambil melipat tangannya di atas dada


" Papa kemana "


Sean menatap Sbastian tajam


" Kakak tinggalin lili "


Liona menghentakkan kakinya kesal


" Kakak tadi tiba-tiba ada pertemuan di luar , jangan marah gitu dong "


Sean menghampiri lili dan mengusap kepalanya


" Papa tadi juga belikan kalian cake , ayo pulang lalu makan cake yang banyak "


Sbastian


" Cake "


Lion menatap Sbastian aneh


" Astaga "


Sbastian berlari membuka bagasinya


" Cakenya ketinggalan di resto cake "


Sbastian menepuk keningnya


" Hah "


Lion berbalik dan menatap Sbastian


*Ting


Sbastian mengedipkan matanya


" Kakak ini gimana sih , kan cake nya tadi ada sama kakak "


Lion berkacak pinggang


" Bukannya kamu yang kakak suruh bawa"


Sbastian menutup bagasinya


" Lho lho lho enak aja salahin Leon "


Leon menatap Sbastian tajam

__ADS_1


" Kan aku tadi bilang , Leon bawa cakenya kakak Nerima telfon "


Sbastian menatap balik Leon


" Kakak ngak bilang gitu tadi "


Leon maju satu langkah


" Aku bilang gitu "


Sbastian maju satu langkah


" Astaga "


Sean yang mulai mengerti akan kondisi memiliki ide brilian di otaknya


" Diam diam "


Sean menginjak kaki Sbastian dan Leon


" Ini kalian udah pada tua , masih aja tengkar "


Sean menatap keduanya malas


" Salah dia tuh "


Leon melipat kedua tangannya di atas dada


" Salah kamu lha "


Sbastian ikut ikutan menirukan gaya Leon


" Balik aja lagi ke sana "


Sean melewati mereka dan melambaikan tangan ke arah liona


" Napa "


Lona menatap Sean


" Ayo masuk , pertengkaran ini akan lama "


Sean memutar bola matanya malas


" Okey "


Liona mengikuti Sean


" Tunggu kakak "


Leon berlari mengikuti liona duduk di belakang


" Lha , aku sendiri nih "


Sbastian membuka pintu mobil


" Hai papa "


Sean yang duduk di kursi samping kemudi melambaikan tangannya


" Lili kenapa "


Sbastian masuk dan duduk saat melihat lili merebahkan dirinya di atas pangkuan lion


" Lili agak lelah , bisakah kita pulang , tadi lili sudah sholat ashar , jadi lili mau langsung tidur "


Liona menatap Sbastian


" Ngak boleh tidur setelah ashar , itu ngak baik , kalau rebahan boleh "


Sbastian tersenyum


" Iya kak , nanti lili rebahan di ruang tamu"


Liona mengangguk pasrah


" Kalau itu boleh , cake nya biar di kirim aja , kita langsung pulang ke rumah "


Sbastian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang


" Kak lion nanti makam malam mau makan apa "


Sean menoleh ke belakang


" Emang kenapa "


Lion memiringkan kepalanya


" Ini... Kata bi Aini hari ini bingung masak apa , jadi tanya ke kak kembar , aku sama papa soal menunya "


Sean membaca chatnya dengan bi Aini


" Lili dulu , lili mau makan udang goreng sama nasi goreng aja deh "


Liona memberi rekuest pertama


" Kok nasi goreng "


Sbastian menyahuti


" Udah lama lili ngak makan nasi goreng kayak dulu , jadi lili mau makan nasi goreng aja "


Liona memberi alasan


" Kalau lion makan yang hijau hijau aja , lion lagi pengen sayuran "


Lion ikut memberi rekuest


" Itu ada rumput , warnanya ijo "


Sean memberi pendapat


" Aku lion bukan sheep "


Lion menatap Sean tajam


" Barangkali reinkarnasi jadi domba "


Sean mengejek


" Kalau papa mau sambel terasi aja "


Sbastian ikut memberi rekuest


" Lauknya dadar jagung sama tempe "


Sbastian menambahkan lauk


" Tunggu , kalian semua kok... Astaga "


Sean geleng-geleng kepala melihat keluarganya yang hanya minta makanan desa yang mungkin jarang di makan oleh orang-orang seperti mereka


" Suka aja "


Mereka semua menjawab dengan kompak


" Kamu juga kan "


Sbastian melirik Sean


" Iya sih hehehe "


Sean menunjukkan Gigi putih miliknya


" Sean mau ayam goreng sama sambel terasi buatan kakek di tambah sayur bening dan juga udang goreng "


Sean mengetik pesan untuk bi Aini


" Pesanan kakak juga "


Lion dan liona menyahuti dari belakang


" Iya iya "


Sean mengetik lagi pesan untuk bi Aini


" Papa jangan di lupakan "


Sbastian menoleh dan tersenyum


" Iya iya papa "


Sean mengirim pesan kembali


Setelah itu Sean meletakkan hp nya dan memasang sabuk pengaman


" Macetnya "


Sbastian menggerutu


" Tidur sekarang gapapa kan "


Liona memejamkan matanya


" Pakek headphone ini lho kak "


Sean memberikan headphone miliknya


" Okay "


Liona memasang kedua headphone miliknya dan mendengarkan lagu dari hp Sean


Setelah memastikan liona memakai headphone miliknya , Sean memulai pembicaraan


" Gimana kak lion "


Sean menatap papanya


" Sean "


Lion memanggil


" Sean tau "


Sean mengangguk


" Kak kak coba dengerin deh , lagu ini lho yang kata liona enak banget "


Liona memberikan satu headphone yang dua pakai


" Iya , ini kakak tau penyanyinya "


Leon mulai membahas hal-hal abstrak dengan liona


" Sudah dua "


Sbastian menjawab pertanyaan Sean


" Kapan on going "


Sean memakan camilan yang selalu dia bawa


" Bulan depan "


Sbastian mengambil satu coklat Sean


" Sama siapa "


Sean membuang bungkus coklatnya di dalam tasnya


" Sendiri , dan mungkin nanti di temani Mao"


Sbastian memberikan sampah miliknya kepada Sean


" Oh... "


Sean ber oh ria


Setelah perjalanan panjang yang panjang dan penuh obrolan , akhirnya Sbastian memarkirkan mobilnya di garasi rumah Sbastian


" Oh ya lili , satu bulan lagi kak lion akan kakak kirim ke luar negri untuk mengurus perusahaan di sana "


Sbastian turun dan membuka bagasi


" Kakak akan pergi "


Liona menatap lion


" Hanya sebentar "


Lion mengusap kepala liona


" Tapi lili nanti sendiri "


Liona menunduk


" Apa lili tidak kasian dengan papa kalau papa yang mengurus di sana , papa akan semakin sibuk jika harus mengurus yang di sana , nanti papa malah sakit "


Lion memberi alasan logis


" Kak lion benar , bagaimana jika papa sakit nanti "


Sbastian mendekat dengan membawa boneka Sean yang selalu ikut kemanapun dia pergi


" Iya... Tapi lili nanti sendiri "


Liona menghentakkan kakinya kesal


" Emang Sean hantu "


Sean mengambil bonekanya yang di bawa Sbastian dan membawanya masuk


" Sudah sudah ayo masuk , sudah malam "


Sbastian menggiring dua singa kecil masuk ke dalam rumah


" Seaaaaan papamu sama kak lion jahat "


Liona mengejar Sean yang menyeret bonekanya dengan malas


" Semuanya jahat "


Sean memutar matanya malas


" Uuuuu kak lili kan cuma bilang gitu biar kak lion ngak pergi "


Liona menangkap Sean


" Serah "


Sean melepaskan diri dari pelukan liona dan berlari sambil membawa bonekanya yang melompat lompat bagaikan ikan hidup

__ADS_1


" Seaaaaan "


Liona berlari mengejar Sean hingga ke dapur


__ADS_2