
" Rudi "
Sbastian memulai percakapan
" Iya tuan "
Rudi menyahuti
" Apa kamu suka dengan pekerjaanmu "
Sbastian menatap Rudi
" Iya tuan , di sana rekan rekan saya sangat ramah , saya benar-benar betah "
Rudi
" Semoga kamu betah berlama-lama di sana , Sean yang menyarankan ku untuk memberimu tempat di sana "
Sbastian mengusap keringat Sean
" tuan muda Sean benar-benar baik , saya sangat berterimakasih "
Rudi tersenyum
" Kami akan pulang dulu , bintang kecil , paman pulang dulu ya "
Sbastian berdiri di ikuti singa kembar dan Clara juga asisten John
" Kami permisi "
Sbastian berjalan keluar di antarkan Rudi
" Paman "
Bintang berdiri di atas bankar ibunya
" Bolehkan nanti bintang bermain dengan Sean "
Bintang dengan berani berbicara
" Boleh , nanti paman antar Sean ke rumah mu ya "
Sbastian tersenyum
" Makasih paman "
Bintang tersenyum
" Sama-sama "
Sbastian tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan
" Kak "
Lion dan liona menghampiri Sbastian
" Kenapa "
Sbastian menoleh
" Kenapa kakak ngak nikah lagi , biar Sean punya ibu "
Liona memegang lengan Sbastian
" Tidak semudah itu mencari yang cocok dengan Sean , kakak bimbang , kakak juga masih belum melupakan kakak iparmu , kau harusnya tau kan "
Sbastian tersenyum
" Maaf kak , liona menyinggung perasaan kakak "
Liona memeluk lengan Sbastian
" Ngak papa "
Sbastian tersenyum
" Oh ya , kita ke kantor dulu ya , kalian mau ikut apa ngak "
Sbastian menatap mereka berdua
" Iya ikut aja , liona mau belajar berkas kantor juga kayak kak lion "
Liona memeluk lion
" Baiklah , kita semua ke kantor "
Sbastian tersenyum
Sbastian membawa mereka semua kembali ke kantor dan memulangkan Clara ke rumahnya , setelah sampai di kantor , Sean di taruh di ruangan istirahat Sbastian setelah itu Sbastian memberi pelajaran tentang berkas berkas kepada liona sebentar
" Apa sudah paham lili "
Sbastian memberikan lima berkas yang akan di tangani lili
" lili paham , kakak ke ruangan paman John aja , liona akan urus sisanya di sini "
Liona memberikan senyum cerahnya
" Nanti kalau tidak bisa langsung saja ke ruang meeting ,kakak di sana "
Sbastian berdiri dan di ikuti lion
" Katanya ke ruangan paman John "
Liona menatap Sbastian
" Iya , kesana cuma mengambil berkas , setelah itu langsung ke ruang meeting "
Sbastian mengambil bulpoin miliknya di atas meja
" Kalau Sean bangun nanti antar saja ke ruang meeting , kalau dia cari kakak , kalau enggak ya ngak usah , kamu istirahat saja setelah menghabiskan berkas ini , kakak akan panggilkan asisten Nia untuk membimbing mu "
Sbastian keluar dari ruangan di ikuti lion
" Nia "
Sbastian menghampiri asisten Nia yang terlihat menata beberapa kertas tebal
" Iya tuan "
Asisten Nia menoleh
" Tolong kamu bimbing liona untuk mengerjakan beberapa berkas di dalam sana , aku akan ke ruang meeting "
Setelah Sbastian berbicara, Sbastian berlalu ke ruang meeting
" apa yang ingin kakak bicarakan"
Leon bertanya
" Nanti dulu "
Sbastian masuk ke dalam ruangan asisten John
" Iya tuan "
Asisten John berdiri
" Mana berkasnya "
Sbastian mendekat
" Ini sudah saya kemas "
Asisten John memberikan map coklat besar kepada Sbastian
" Ayo lion "
Sbastian merangkul pundak lion dan berjalan keluar dari ruangan asisten John
" Ada apa ya , padahal aku lihat di jadwal kak Sbastian tadi ngak ada meeting "
Lion membatin
" Ayo masuk "
Sbastian membawa lion masuk ke dalam lift
" Lho , katanya ke ruang meeting , kan ruang meeting ada di sana "
Lion menunjuk ujung lorong
" Kamu harus bertemu seseorang "
Sbastian menarik tangan lion
" Kemana kak "
Lion yang di tarik dan di rangkul oleh Sbastian hanya bisa pasrah
" Ada apa kak "
Lion menatap Sbastian dengan penasaran
" Ikut saja "
Sbastian mencium pucuk kepala lion
" Firasatku ngak enak , kalau kak Sbastian bertingkah kayak gini , berarti ada yang salah ..... Tapi apa "
Lion membatin
" Apa ini tentang liona "
Lion membuat Sbastian terkejut
" Bukan , bukan juga tentang ayah dan ibu"
Sbastian tau apa yang lion pikirkan
" Syukurlah "
Lion sedikit lega itu tidak menyangkut keluarganya
*Ting
Lift terbuka di lantai dasar
" Mau kemana kak "
Lion mengikuti tarikan tangan Sbastian
Sbastian membawa lion masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan berhenti di depan rumah sakit
" Rumah sakit... Kenapa kak "
Lion menatap Sbastian
" Ikut kakak "
Sbastian turun dari mobil dan di ikuti lion
" Tunggu kak "
Lion mengimbangi langkah Sbastian yang lebar
" Masuk "
Sbastian meminta lion masuk ke dalam dokter spesialis yang sebelumnya menangani liona
" Kenapa kak "
Lion berhenti
" Tuan muda "
Bu dokter yang sebelumnya menangani liona kini menyambut lion dari belakang
" Saya ingin membicarakan sesuatu "
Lion terbengong melihat kakaknya yang tidak menatapnya sama sekali
" Tatap mataku kak , ada apa "
Lion mencengkeram erat kerah pakaian Sbastian
" Tuan muda , mari masuk , saya akan menceritakan semua "
Dokter memegang bahu lion dan lion menurut
" Kak "
Lion memegang tangan Sbastian namun Sbastian melepaskan genggaman lion dan berpaling
" Maaf , pintunya "
Dokter berbicara lalu Sbastian menutup pintu , jadilah mereka bertiga di dalam ruangan
" Duduklah tuan muda "
Dokter mendudukkan lion di sofa , sedangkan Sbastian tetap berdiri namun membelakangi lion
" Anda bisa membaca ini "
Dokter memberikan amplop coklat yang tadinya di bawa oleh Sbastian
" Apa ini "
Lion membuka amplopnya dengan rasa penasaran yang luar biasa , lion dengan segera membaca surat keterangan dokter yang terlihat jelas memiliki stempel rumah sakit
" Kak "
Mata lion memerah , tubuhnya bergetar
" Bohong kan kak , ini bohong kan "
Lion menarik tangan Sbastian agar Sbastian menatap wajahnya
" Kak "
Lion melihat Sbastian yang memejamkan matanya
" Tatap aku kak , ini bohong ini bohong kan kak , kakak jangan begini kak , ini ngak lucu , katakan padaku kak KATAKAN "
Leon mengguncang Sbastian
*Tes
Begitu mata Sbastian terbuka , terlihat air mata yang sudah meleleh , air mata yang tidak pernah lion lihat
" Kenapa kakak menangis , kakak ngak pernah nagis , apa ini beneran kak , katakan ke Leon kak , katakan "
__ADS_1
Leon mencengkeram erat lengan Sbastian
" Maaf , kakak tidak bisa menahannya lagi "
Sbastian mengusap air matanya lalu tersenyum kecil
" kakak janji akan berikan kamu pengobatan terbaik , kamu akan bersama liona saat kamu sudah sembuh , ayo duduk "
Sbastian membawa lion duduk di sofa
" Kakak akan mengirimkan kamu ke luar negri , kakak akan memberimu perawatan yang benar-benar intensif , kakak akan memastikan lili kecil tidak berpisah denganmu dalam waktu yang lama , kakak janji "
Sbastian mengusap kepala lion
" Dokter "
Lion menatap dokter berharap itu tidak benar
" Mari kita cek sekali lagi , saya takut ini sudah parah "
Dokter menatap Sbastian
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Ngak , aku ngak akan tinggalin lili kemanapun , aku akan selalu sama lili "
Lion menepis tangan Sbastian
" Kakak ngerti "
Sbastian tersenyum
" Kakak akan pertemukan kamu dengan lili sebulan sekali , dan jangan biarkan lili , mama dan papa tau akan hal ini , kakak tidak mau membuat mereka khawatir "
Sbastian berbicara dengan lembut
" Kakak bohong , kakak ngak pernah tepatin janji , kakak dulu bilang akan selalu menjaga lili , apa buktinya , kakak pergi selama dua tahun "
Lion berteriak tepat di depan wajah Sbastian
" Kakak selalu mengawasi kalian , kakak ngak pernah lepas tangan dari kalian , kakak takut lili akan tau hal ini , dia baru sembuh , apa lagi mama , kamu tau kan kalau mama punya riwayat jantung , dan papa juga , papa akan selalu memikirkan kamu jika dia tau apa yang terjadi denganmu , waktu lili baru dinyatakan sakit saja , papa langsung drop "
Sbastian menyenderkan punggungnya di sofa
" Kakak juga ngak bisa sembunyikan kenyataan ini dari mu , apa lagi kamu harus sehat untuk lili , suatu saat nanti kakak akan pergi , pergi jauh ke rumah yang kakak inginkan , dan kakak ingin kamu merawat lili jika kakak benar-benar pergi ke tempat impian kakak , kakak merasa bahwa kakak tidak lama di sini , kamu harus sembuh sebelum kakak pergi "
Sbastian tersenyum manis
" Apa kakak juga sakit "
Lion meluluh
" Tidak , tapi kata hati kakak seperti itu , jika benar terjadi , kamu harus menjaga lili "
Sbastian mengusap rambut lion
" Kita harus cek up , agar tau perawatan apa yang harus kamu ambil "
Sbastian berdiri di ikuti dokter
" Kak "
Lion menatap Sbastian
" Ayo "
Sbastian mengulurkan tangannya dan lion meraihnya
" Apa yang terjadi jika lion pergi "
Lion berjalan mengikuti langkah kaki Sbastian uang ntah membawanya kemana
" Lion lion , kamu itu jangan pikirkan yang aneh aneh , kakak akan beritahu papa , setidaknya papa harus tau , jika mama haruslah perlahan lahan , kakak takut terjadi sesuatu dengan mama "
Sepanjang jalan sbastian mengusap-usap kepala lion dengan lembut
" Lion takut "
Lion berhenti saat sudah sampai di depan pintu pemeriksaan
" Apa yang kamu takutkan "
Sbastian menatap lion
" Lion takut jika penyakit lion.... Penyakitnya"
Lion menatap sekitar dengan panik
" Masuklah , tidak akan terjadi sesuatu yang buruk "
Sbastian mendorong lion masuk , setelah itu Sbastian menunggu lion di kursi tunggu
* setelah beberapa lama
" Kakak "
Lion keluar dengan air mata yang berderai
" Kenapa "
Sbastian berdiri dan memeluk lion
" Kankernya sudah stadium dua , saya salah diagnosa "
Dokter memberitahu
*Deg
Jantung Sbastian berdetak kencang
" Bagaimana ini kak , bagaimana jika lion meninggalkan lili dan mama "
Lion menatap Sbastian dengan air mata yang berlinang
" Tidak akan , bulan depan kamu akan berangkat untuk pengobatan , jangan takut , kakak akan sekuat tenaga mencari semua yang kamu perlukan "
Sbastian memeluk dan mencium pucuk kepala Leon
" Ini hal-hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh tuan muda lion , saya harap tuan muda akan segera sembuh "
Dokter tersenyum
" Terimakasih "
Sbastian menerima amplop coklat yang di berikan oleh dokter
" Ayo pulang "
Sbastian membawa lion berjalan menuju tempat parkir
" Masuklah "
Sbastian membukakan pintu
Sbastian memutar dan duduk di bangku kemudi
*Grep
Lion menggenggam erat tangan Sbastian dan mulai kembali menjatuhkan air matanya
" Jangan begini atau lili akan bertanya "
" Aku takut "
Lion berbisik
" Jangan takut "
Sbastian meletakkan keningnya di atas kening lion
" Tutup matamu dan ucapkan janji "
Sbastian menangkup kepala lion
" Aku berjanji tidak akan membuat lili dan mama menangis , aku berjanji tidak akan memberitahu semua masalah yang aku punya kepada mama dan lili , aku berjanji sebagai lelaki akan menjaga mama dan lili dari segala situasi yang akan membuat mereka menangis , aku berjanji air mata kesedihanku akan ku tanggung bersama saudara laki lakiku , bukan dengan mama atau lili , aku berjanji "
Sbastian membuka matanya dan menatap lion yang terlihat lebih baik
" Bagaimana "
Sbastian tersenyum
" Lebih baik hahaha "
Lion terkekeh kecil
" Anak pandai "
Sbastian menggosok kuat kepala lion
" Pantas saja ya kak , akhir akhir ini aku selalu mudah lelah , kepalaku mudah pusing , aku mudah berkeringat dingin , dan yang lebih parahnya Minggu ini aku mimisan dua kali "
Lion berbicara dengan Sbastian seperti biasanya
* Ckit
Sbastian berhenti dan menatap lion
" Kamu mengalaminya dan tidak bilang "
Sbastian memelototi lion
" Hehehe , lion kira itu hanya kecapean "
Lion menunjukkan Gigi putihnya yang rapih
" Dasar "
Sbastian menonyor kepala lion
" Hahaha "
Lion terkekeh
" Kapan lion akan berangkat "
Lion mengeluarkan camilannya
" Bulan depan , kamu akan berangkat "
Sbastian mulai menjalankan mobilnya
" Apa yang akan lion katakan pada lili "
Lion memakan camilan yang ia buka
" Kamu akan mengurus cabang perusahaan , itu juga salah satu tanggung jawabmu di sana , tapi jangan terlalu berat-berat , anggap saja sebagai hiburan saat kau di dalam rumah sakit "
Sbastian mengambil satu keripik dari tangan lion
" Sama aja dong "
Lion melirik Sbastian
" Yah... Kalau lili vc nanti bisa di samarkan gitu "
Sbastian menatap lion dengan cengar-cengir
" Kakakku ya Allah , berikan dia akal "
Lion mengangkat kedua tangannya
" Apaan sih "
Sbastian memukul tangan lion
" Hahahaha "
Mereka berdua tertawa sepanjang jalan membahas banyak hal-hal konyol yang tidak akan muda di pahami kaum pada umumnya
Setelah sampai di kantor , sbastian turun terlebih dahulu dan di sana sudah ada lion dan Sean yang berdiri di depan pintu kantor sambil melipat tangannya di atas dada
" Papa kemana "
Sean menatap Sbastian tajam
" Kakak tinggalin lili "
Liona menghentakkan kakinya kesal
" Kakak tadi tiba-tiba ada pertemuan di luar , jangan marah gitu dong "
Sean menghampiri lili dan mengusap kepalanya
" Papa tadi juga belikan kalian cake , ayo pulang lalu makan cake yang banyak "
Sbastian
" Cake "
Lion menatap Sbastian aneh
" Astaga "
Sbastian berlari membuka bagasinya
" Cakenya ketinggalan di resto cake "
Sbastian menepuk keningnya
" Hah "
Lion berbalik dan menatap Sbastian
*Ting
Sbastian mengedipkan matanya
" Kakak ini gimana sih , kan cake nya tadi ada sama kakak "
Lion berkacak pinggang
" Bukannya kamu yang kakak suruh bawa"
Sbastian menutup bagasinya
" Lho lho lho enak aja salahin Leon "
Leon menatap Sbastian tajam
__ADS_1
" Kan aku tadi bilang , Leon bawa cakenya kakak Nerima telfon "
Sbastian menatap balik Leon
" Kakak ngak bilang gitu tadi "
Leon maju satu langkah
" Aku bilang gitu "
Sbastian maju satu langkah
" Astaga "
Sean yang mulai mengerti akan kondisi memiliki ide brilian di otaknya
" Diam diam "
Sean menginjak kaki Sbastian dan Leon
" Ini kalian udah pada tua , masih aja tengkar "
Sean menatap keduanya malas
" Salah dia tuh "
Leon melipat kedua tangannya di atas dada
" Salah kamu lha "
Sbastian ikut ikutan menirukan gaya Leon
" Balik aja lagi ke sana "
Sean melewati mereka dan melambaikan tangan ke arah liona
" Napa "
Lona menatap Sean
" Ayo masuk , pertengkaran ini akan lama "
Sean memutar bola matanya malas
" Okey "
Liona mengikuti Sean
" Tunggu kakak "
Leon berlari mengikuti liona duduk di belakang
" Lha , aku sendiri nih "
Sbastian membuka pintu mobil
" Hai papa "
Sean yang duduk di kursi samping kemudi melambaikan tangannya
" Lili kenapa "
Sbastian masuk dan duduk saat melihat lili merebahkan dirinya di atas pangkuan lion
" Lili agak lelah , bisakah kita pulang , tadi lili sudah sholat ashar , jadi lili mau langsung tidur "
Liona menatap Sbastian
" Ngak boleh tidur setelah ashar , itu ngak baik , kalau rebahan boleh "
Sbastian tersenyum
" Iya kak , nanti lili rebahan di ruang tamu"
Liona mengangguk pasrah
" Kalau itu boleh , cake nya biar di kirim aja , kita langsung pulang ke rumah "
Sbastian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
" Kak lion nanti makam malam mau makan apa "
Sean menoleh ke belakang
" Emang kenapa "
Lion memiringkan kepalanya
" Ini... Kata bi Aini hari ini bingung masak apa , jadi tanya ke kak kembar , aku sama papa soal menunya "
Sean membaca chatnya dengan bi Aini
" Lili dulu , lili mau makan udang goreng sama nasi goreng aja deh "
Liona memberi rekuest pertama
" Kok nasi goreng "
Sbastian menyahuti
" Udah lama lili ngak makan nasi goreng kayak dulu , jadi lili mau makan nasi goreng aja "
Liona memberi alasan
" Kalau lion makan yang hijau hijau aja , lion lagi pengen sayuran "
Lion ikut memberi rekuest
" Itu ada rumput , warnanya ijo "
Sean memberi pendapat
" Aku lion bukan sheep "
Lion menatap Sean tajam
" Barangkali reinkarnasi jadi domba "
Sean mengejek
" Kalau papa mau sambel terasi aja "
Sbastian ikut memberi rekuest
" Lauknya dadar jagung sama tempe "
Sbastian menambahkan lauk
" Tunggu , kalian semua kok... Astaga "
Sean geleng-geleng kepala melihat keluarganya yang hanya minta makanan desa yang mungkin jarang di makan oleh orang-orang seperti mereka
" Suka aja "
Mereka semua menjawab dengan kompak
" Kamu juga kan "
Sbastian melirik Sean
" Iya sih hehehe "
Sean menunjukkan Gigi putih miliknya
" Sean mau ayam goreng sama sambel terasi buatan kakek di tambah sayur bening dan juga udang goreng "
Sean mengetik pesan untuk bi Aini
" Pesanan kakak juga "
Lion dan liona menyahuti dari belakang
" Iya iya "
Sean mengetik lagi pesan untuk bi Aini
" Papa jangan di lupakan "
Sbastian menoleh dan tersenyum
" Iya iya papa "
Sean mengirim pesan kembali
Setelah itu Sean meletakkan hp nya dan memasang sabuk pengaman
" Macetnya "
Sbastian menggerutu
" Tidur sekarang gapapa kan "
Liona memejamkan matanya
" Pakek headphone ini lho kak "
Sean memberikan headphone miliknya
" Okay "
Liona memasang kedua headphone miliknya dan mendengarkan lagu dari hp Sean
Setelah memastikan liona memakai headphone miliknya , Sean memulai pembicaraan
" Gimana kak lion "
Sean menatap papanya
" Sean "
Lion memanggil
" Sean tau "
Sean mengangguk
" Kak kak coba dengerin deh , lagu ini lho yang kata liona enak banget "
Liona memberikan satu headphone yang dua pakai
" Iya , ini kakak tau penyanyinya "
Leon mulai membahas hal-hal abstrak dengan liona
" Sudah dua "
Sbastian menjawab pertanyaan Sean
" Kapan on going "
Sean memakan camilan yang selalu dia bawa
" Bulan depan "
Sbastian mengambil satu coklat Sean
" Sama siapa "
Sean membuang bungkus coklatnya di dalam tasnya
" Sendiri , dan mungkin nanti di temani Mao"
Sbastian memberikan sampah miliknya kepada Sean
" Oh... "
Sean ber oh ria
Setelah perjalanan panjang yang panjang dan penuh obrolan , akhirnya Sbastian memarkirkan mobilnya di garasi rumah Sbastian
" Oh ya lili , satu bulan lagi kak lion akan kakak kirim ke luar negri untuk mengurus perusahaan di sana "
Sbastian turun dan membuka bagasi
" Kakak akan pergi "
Liona menatap lion
" Hanya sebentar "
Lion mengusap kepala liona
" Tapi lili nanti sendiri "
Liona menunduk
" Apa lili tidak kasian dengan papa kalau papa yang mengurus di sana , papa akan semakin sibuk jika harus mengurus yang di sana , nanti papa malah sakit "
Lion memberi alasan logis
" Kak lion benar , bagaimana jika papa sakit nanti "
Sbastian mendekat dengan membawa boneka Sean yang selalu ikut kemanapun dia pergi
" Iya... Tapi lili nanti sendiri "
Liona menghentakkan kakinya kesal
" Emang Sean hantu "
Sean mengambil bonekanya yang di bawa Sbastian dan membawanya masuk
" Sudah sudah ayo masuk , sudah malam "
Sbastian menggiring dua singa kecil masuk ke dalam rumah
" Seaaaaan papamu sama kak lion jahat "
Liona mengejar Sean yang menyeret bonekanya dengan malas
" Semuanya jahat "
Sean memutar matanya malas
" Uuuuu kak lili kan cuma bilang gitu biar kak lion ngak pergi "
Liona menangkap Sean
" Serah "
Sean melepaskan diri dari pelukan liona dan berlari sambil membawa bonekanya yang melompat lompat bagaikan ikan hidup
__ADS_1
" Seaaaaan "
Liona berlari mengejar Sean hingga ke dapur