Aku Pangeran

Aku Pangeran
#101 ( guru )


__ADS_3

" Salam tuan "


Seorang wanita dan seorang pria membungkuk memberi salam


" Kakak dan Aniel , ini adalah guru kalian mulai sekarang , ini Bu guru Yuli dan ini pak guru Rian "


Sean memperkenalkan kedua guru di hadapannya


" Halo pak guru , halo Bu guru "


Aniel menyapa


" Halo cantik "


Bu guru melambaikan tangannya


" Mari saya tunjukkan tempat belajarnya "


Sean mengambil Aniel dari Adinda dan berjalan menuju sebuah ruangan di lantai satu


" Anakku benar-benar dewasa "


Sbastian membatin dan tersenyum


" Aku yakin itu hasil didikanmu "


Adinda memeluk Sbastian


" Hm.. "


Sbastian meletakkan pipinya di pelipis Adinda yang ada di dekatnya


Satu Minggu berlalu dan pagi ini kedua guru di sana menghadap Sean di ruang kerja Sean


" Kami sudah tidak memiliki bahan ajar untuk tuan Adimas lagi "


Kedua manusia itu duduk dengan lesu di atas sofa


" Benarkah "


Sean melirik kedua guru itu


" Huhuhu kami bahkan sudah mengajarkan Beberapa pelajaran anak SMP sederajat , dan tuan muda sudah belajar banyak materi"


Bu guru Yuli menundukkan kepalanya


" Ahahaha saudaraku memang hebat "


Sean terlihat senang


" Dan nona Alinda sudah belajar banyak hal juga , mungkin tuan dan keluarga memang mudah dalam pelajaran seperti ini "


Pak guru Rian tersenyum


" Baiklah , misi kalian selesai sekarang kembalilah ke markas , aku pikir kalian akan lama di sini hahaha "


Sean tertawa


" Baik tuan "


Mereka berdiri dan membungkuk hormat


" kami pamit tuan "


Mereka berdua pergi di antar Sean sampai ke pintu


" Sean "


Sbastian memanggil


" Papa mau bicara "


Kalimat Sbastian sudah mulai lancar karena Sbastian selalu berlatih dengan Adinda agar lidahnya cepat kembali normal


" iya pa "


Sean menghampiri Sbastian


Sbastian membawa Sean masuk ke dalam ruang belajar Adimas dan Aniel


" Kemana mereka "


Sean menoleh ke kanan dan ke kiri


" Mereka papa minta ke bunda "


Sbastian menghentikan kursi rodanya


" Sean "


Sbastian menatap Sean tajam


" Ya papa "


Sean terlihat tegang


" Papa mengerti kamu seperti ini , tapi kamu seharusnya sekarang kelas berapa "


Sbastian menatap Sean tajam


" Sean kelas lima pa "


Sean menjawab dengan serius setelah melihat wajah Sbastian yang benar-benar serius


" Apa perusahaan papa benar-benar kamu yang urus "


Sbastian


" Tidak pa , perusahaan di urus oleh paman John "


Sean menjawab dengan jujur


" Lalu perusahaan siapa yang kamu urus sekarang "


Sbastian membuat Sean terkejut


" Perusahaan Sean sendiri pa "


Sean menunduk


" Haissss papa seharusnya lebih ketat dengan pelajaran yang kamu terima dulu "


Sbastian memijit pelipisnya


" Hehehe "


Sean menunjukkan deretan gigi putihnya


" Bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi saat papa koma "


Sbastian membuat Sean menunduk dan mengalihkan pandangannya


" Sean "


Sbastian memanggil


" Setelah kejadian itu.... "


Sean menjeda kalimatnya


" Papa mengalami pendarahan di otak , dan karena itu papa harus menjalani operasi "


Sean tidak terus terang


" Siapa yang mengambil keputusan itu "


Sbastian tau bahwa keputusan seperti itu harus di ambil secepatnya , sedangkan pak Sam dan lainnya tidak bisa datang ke rumah sakit secepat mungkin


" Sean yang ambil "


Sean menunduk dalam-dalam


" Sean takut terjadi sesuatu dengan papa , Sean tidak mau sesuatu yang buruk menimpa papa lagi , dan di sana juga ada Mao yang menjadi dokter untuk papa "


Sean terdengar bergetar dan tangan Sean meremas ujung pakaian yang dia pakai


" Kamu takut "


Sbastian maju dan meraih tangan Sean


" Sean takut waktu itu , papa seperti itu , di tambah kondisi Aniel juga , Sean tidak mau papa dan Aniel meninggalkan Sean , jadi Sean mengambil keputusan secepatnya "


Sean memejamkan matanya dan itu membuat air mata yang sudah lama tidak terlihat kembali luruh


" Apa yang terjadi dengan Aniel "


Sbastian memegang lengan Sean


" Wajahnya terkena serpihan kaca dan api , di tambah... Di tambah "


Sean menghentikan kalimatnya


" Apa nak , Aniel kenapa "


Sbastian mengguncang lengan Sean pelan


" Serpihan kaca itu membuat mata Aniel rusak dan... Dan... "


Sean menggigit bibirnya


" Aniel buta "


Sbastian menatap Sean


" Iya "


Sean mengangguk


" Tapi..tapi sekarang Aniel sudah sembuh "


Sean berlutut dan memegang lengan Sbastian


" Papa "


Sean melihat wajah Sbastian yang menjadi pucat


" Waktu itu Aniel terpaksa harus di oplas , dan..dan baru saja beberapa bulan lalu , Aniel sembuh , papa... papa jangan khawatir"


Sean menerangkan


" Apa kamu baik-baik saja "


Sbastian menangkup pipi Sean


" Sean baik... Tapi Sean minta maaf , Sean ngak bisa lindungi Aniel dan papa "


Sean terlihat merasa bersalah


" Setelah sadar , papa langsung bersikeras untuk duduk dan di bawa ke ruang tamu untuk melihat Aniel dan kakak , padahal papa bisa memanggil mereka , papa memang sangat menyayangi anak-anaknya"


Sean berbicara dalam hati


" Bagaimana kamu bisa bertemu bunda "


Sbastian membuat Sean membeku dan kehilangan kata katanya


" Sean "


Sbastian mengguncang lengan Sean


" Itu...itu "


Sean gelagapan untuk menjawab pertanyaan Sbastian


*Brak


Suara pintu terbuka dengan keras


" Kakaaaak "


Aniel datang dan memeluk punggung Sean


*Srob


Sean membersihkan ingusnya dan mengusap air matanya


" Hei , kamu di cariin papa lho "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Maaf pa , Sean belum berani bicara "


Sean berbicara dalam hati


" Sayang "


Adinda menyusul masuk


" Kakak kok di tinggalin sih "


Adimas masuk dengan menghentakkan kakinya


" Kakak kakak , tadi Aniel belajal banyaaaak banget , dan...dan Aniel belajal hitung "


Aniel menunjukkan kesepuluh jarinya


" Aku juga "


Adimas duduk di hadapan Sean yang memang dari tadi duduk


" Aku kira pelajaran SD itu sulit , karena teman-teman dulu selalu bilang aku kesulitan , tapi ternyata gampang "


Adimas memonyongkan bibirnya


" Memang anak papa ya "


Sbastian tersenyum


" Papa juga gitu "


Adimas dan Aniel memasang tampang penasaran


" Kakak Sean juga lho , dulu pas masih se usia adik , kakak Sean sering minta di ajarin banyak buku "


Sbastian memberitahu


" Berarti anak-anak papa emang pandai pandai "


Adinda mengambil Aniel dari pangkuan Sean


" Lho lho itu adeknya Sean lho Bun "


Sean tidak terima


" Ini lho anaknya bunda "


Adinda tidak mau mengalah


" Lho lho ngak adil , dari tadi bunda sama Aniel , sekarang giliran Sean "


Sean memegang tangan kecil Aniel


" Ngak... Ini anaknya bunda , jadi harus sama bunda "


Adinda memeluk Aniel dengan posesif


" Papa lihat bunda "


Sean mengadu


" Kalian ini sama saja "


Sbastian menggosok kepala Sean dengan keras


" Ya gitu pa , tiap hari berantem terus "


Adimas menganggukkan kepalanya


" Hahaha , kamu ngak ikut "


Sbastian bertanya


" Nanti Aniel kan ke Adimas kalau adik Sean sama Bunda bertengkar "


Adimas tersenyum


" Hahaha beruntung nya kamu "


Sbastian tertawa


" Adinda "


Sbastian memanggil


" Iya mas "


Adinda menoleh


" Kamu puasa "


Sbastian bertanya


" Enggak mas , lagi libur "


Adinda tersenyum


" Anak-anak , papa mau bicara berdua sama bunda , kalian main sendiri ya "


Sbastian mengusap kepala Adimas


" Iya pa "


Aniel masuk ke dalam pangkuan Adimas


" Mau bicara di mana mas "


Adinda berdiri


" Di kamar , mas mau bicara penting "


Sbastian melajukan kursi rodanya saat Sean sudah berpindah tempat


" Biar Adinda yang dorong "

__ADS_1


Adinda mengambil alih kursi roda Sbastian


" Kayaknya penting "


Adimas menatap kedua orang tuanya yang keluar dari ruang bermain


" Hahaha penting untuk kesehatan papa "


Sean tertawa


" Oh... Buat terapi ya "


Adimas memanggut-manggutkan kepalanya


" Mungkin hahaha "


Sean terkekeh


" Kakakku polos deh "


Sean berbicara dalam hati


Di kamar Sbastian


" Mas mau bicara apa "


Adinda menghentikan langkahnya di samping tempat tidur


" Bantu aku naik sayang "


Sbastian menaikkan dirinya ke atas tempat tidur di bantu Adinda


Sbastian menyamankan sandarannya dan membuat dirinya duduk agak ke tengah


" Kemarilah "


Sbastian menepuk tempat di sampingnya


" Iya mas "


Adinda melepaskan hijabnya dan naik ke atas peraduan di tempat yang di minta Sbastian


" Mas rindu sama kamu "


Sbastian memeluk Adinda


" Adinda juga rinduuuu banget sama mas"


Adinda memeluk tubuh kurus Sbastian


" Kamu harum sayang , wanginya sama "


Sbastian mengendus rambut hitam Adinda


*Tuing


Adinda melihat sesuatu yang berdiri tapi bukan Aniel


" Mas Tian kenapa "


Adinda mendongak dan melihat senyum kecil di wajah Sbastian


" Aku selalu begini saat mencium bau dirimu "


Sbastian semakin mengendus rambut hitam Adinda


*Sret


Terlihat sesuatu yang basah tapi bukan air mata


" Mas Tian "


Adinda menyentuh dada bidang Sbastian


" Punyaku tambah tegak sayang "


Sbastian membuka matanya dan menatap manik mata Adinda


" Adinda merinding nih "


Adinda mendudukkan dirinya


" Biar aku peluk kamu , mungkin akan reda , seperti kemarin-kemarin "


Sbastian tersenyum


" Mas selalu gini "


Adinda menatap si sesuatu itu


" Yah... Mas selalu gini kalau sama kamu , kan dari dulu "


Sbastian merebahkan dirinya


" Kenapa adinda ngak pernah tau "


Adinda mengerenyitkan keningnya


" Hahaha biarkan saja , kemarilah sayang "


Sbastian melambaikan tangannya


*Seeet


Adinda menyentuh gundukan kecil di antara kaki Sbastian


" Jangan di pegang sayang , nanti ngak bisa di kendalikan "


Sbastian memegang tangan Adinda


*Sret


Tangan Adinda yang satunya sudah membuat si tegak keluar dari kandangnya


" Astaga besarnya "


Adinda terkejut


" Mas sudah bilang kan , biarkan saja "


Sbastian hendak memasukkannya kembali ke dalam sangkar


*Grep


Tangan adinda memegang si tegak dengan satu tangan


" Ini tumbuh menjadi sangat besar , mungkin dua tangan "


Adinda meletakkan kedua tangannya di atas si tegak


" Masih terlalu besar "


Adinda menatap si tegak yang sangat besar dengan serius


" Adinda "


Sbastian terkejut melihat sorot mata Adinda yang seakan meminta lebih


" Adinda udah bertahun-tahun ngak ngerasain punya mas "


*Glup


Adinda menelan ludahnya kasar


* Slurup


Adinda menjilat ujung lorong kecil milik Sbastian


" Ugh... "


Sbastian menggigit bibirnya


*Srak srak srak


Adinda menggenggam dan menaik turunkan tangannya


" Aaakkhhhh... Adinda jangan "


Sbastian menggigit jarinya sendiri


* Srak srak srak


Adinda semakin cepat menggosok tiang listrik di situ


" Aaah... Ugh... Sayang "


*****


Sbastian muncrat tepat di wajah adinda


" Hm... Manis mas "


Adinda menjilati tangannya


" Hei "


Sbastian mendudukkan dirinya dan menangkup wajah Adinda


" Mas Tian "


" Dasar nakal "


Sbastian menjilati wajah Adinda yang di penuhi oleh cairan putih kental miliknya


Setelah selesai membersihkan wajah Adinda , Sbastian ******* bibir Adinda perlahan dan membuat Adinda terbuai dengan alunan lembut dari bibir Sbastian


*Grep


Sbastian merasakan sengatan listrik saat tangan Adinda tiba-tiba menggenggam miliknya


" Aaaahhhh "


Sbastian berteriak saat merasakan miliknya di remas oleh Adinda


" Jangan keras-keras sayang , jangan ugh..."


Sbastian menggenggam erat bantal di sampingnya


" Punya mas benar-benar besar "


Adinda berbicara dalam hati dan memasukkan si tegak ke dalam mulutnya


" Ugh.... Adin... Aaaahhhh "


Sbastian mengeluarkan beberapa suara aneh saat Adinda memainkan lidahnya dengan cepat tepat di atas miliknya


" Sudah sudah hah...hah... Sudah sayang "


Sbastian menarik lengan Adinda dan membawa adinda ke dalam pelukannya


" Sudah sayang , mas mau lebih kalau kamu terus begini "


Sbastian memeluk Adinda dengan erat


" Kyaaaaaaa mas Tian "


Adinda terkejut saat Sbastian tiba-tiba meremas kedua gunung kembar Adinda


" Punyamu juga tambah besar , mas tau sejak kemarin-kemarin "


Sbastian membuka pakaian atas Adinda


" Indah sekali "


Sbastian tersenyum melihat dua pelindung hitam di sana


" Aem... "


Sbastian memasukkan puncak gunung kembar ke dalam mulutnya dan puncak satunya yang terlihat mengeras di mainkan oleh tangannya


" Ugh... Mas Tian "


Adinda menelusupkan wajahnya Sbastian agar lebih menekan gunung kembarnya


" Sudah aku duga "


Sean yang lewat di depan kamar Sbastian mendengar suara suara aneh dari dalam


" Paman yang di sekitar boleh pergi , kembali nanti saja "


Sean tau apa yang di rasakan para paman pengawal


" Terimakasih tuan "


Ke empat pengawal di sana turun ke bawah


" Balik aja ke bawah "


Sean berbalik dan menuju lantai dasar dimana kedua saudaranya bermain


Saat berbuka


" Yey yey buka buka "


Aniel duduk di tempat yang di sediakan


" Papa "


Sean memanggil


" Hm... "


Sbastian menoleh


" Papa lupa aktifkan pengedap suara tadi "


Sean membuat Sbastian dan adinda menoleh


" Dasar nakal "


Sbastian memukul kening Sean


" Beneran tau , kan papa punya tombolnya "


Sean menggosok keningnya yang habis di pukul oleh Sbastian


" Cepet doa , udah azan ini "


Adinda meminta agar anak-anak cepat berdoa dan makan


Setelah berbuka , Sbastian mengajak anak-anak untuk sholat berjamaah , setelah itu mereka berkumpul di ruang tamu


" Apa itu bunda "


Aniel menunjukkan televisi dan mulai sibuk sendiri dengan Adinda


" Sean "


Sbastian memanggil


" Iya pa "


Sean menoleh


" Kamu bilang sudah daftarkan kakak ke sekolah "


Sbastian membuat Adimas menoleh


" Iya pa , karena itu Adimas belajar kemarin"


Adimas memberitahu dengan antusias


" Memangnya sekolah di mana "


Sbastian bertanya


" Di tempat bunda "


Sean menjawab


" Benarkah "


Adimas terkejut


" Iya kak "


Sean mengangguk


" Nanti Sean loncat kelas aja biar bisa sekelas sama kakak "


Sean membuat Adimas terbelalak


" Serius "


Adimas memegang bahu Sean


" Iya "


Sean mengangguk


" Waaaah aku sekolah di tempat bunda "


Adimas memeluk Sean dengan hati berbunga-bunga


" Makasih adek "


Adimas mencium pipi Sean


" Astaga kakak , terkejut aku "


Sean mengusap pipinya


" Bunda dulu pernah cerita saat sekolah di sekolahan bunda , kata bunda sekolahnya seru banget "


Adimas tidak berhenti tersenyum


" Sudah jam berapa ini , ayo sana siap-siap tarawih "


Sbastian mengusap kepala Adimas


" Iya papa "


Adimas dengan senang hati berdiri dan menyeret Sean menuju lantai atas

__ADS_1


" Tungguin iel kak "


Aniel turun dari pangkuan Adinda dan berlari mengejar kedua saudaranya


" Adinda mau ke kamar , mas mau ikut "


Adinda berdiri


" Apa kamu kembali lagi "


Sbastian bertanya


" Iya , nanti Adinda balik "


Adinda mencium pipi Sbastian dan berlalu pergi


" Assalamualaikum "


Suara pak Sam membuat Sbastian menoleh


" Wa'alaikum salam ayah "


Sbastian menoleh


" Hai kakak "


Kelvin menyapa Sbastian


" Hai "


Sbastian tersenyum


Pak Sam duduk dan mengajak Sbastian berbincang bincang setelah itu pak Sam beranjak pergi dan tinggallah dua orang yang saling diam dan saling lirik


" Ekhem... Kamu Kelvin "


Sbastian memulai pembicaraan


" Hehehe "


Kelvin menunjukkan deretan gigi putihnya yang di hiasi satu gingsul di sebelah kanan


" Ayah pernah bercerita tentang kamu , dan aku tidak menyangka kamu ada di sini sekarang"


Sbastian melirik Kelvin


" Paman eviiiiin "


Terdengar suara teriakan Aniel yang membuat Kelvin menutup telinganya


" Paman Evin jahat , kenapa telinga di tutup"


Aniel menghentakkan kakinya


" Suaramu lho kayak kakakmu , keraaas banget"


Kelvin membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Hehehe paman Evin dali mana "


Aniel memeluk leher Kelvin


" Paman dari jalan-jalan sama kakek , lihat paman bawa hadiah buat iel "


Kelvin menunjukkan satu Bros bunga yang cantik


" Waaaah makasih "


Aniel mengambil Bros yang di bawa Kelvin


" Paman udah pulang "


Terdengar suara Sean


" Mana kakek "


Adimas bertanya


" Kakek di atas "


Kelvin duduk dan membiarkan Aniel bermain di atas pangkuannya


" Papa... Kata bunda , bunda ngak bisa turun , papa yang di minta naik "


Adimas menyampaikan pesan Adinda


" Oh... Iya nanti papa naik "


Sbastian tersenyum


" Paman mau tarawih bareng kami "


Adimas mengajak


" Waduh boleh nih , nanti kita sholat bareng ya ya ya "


Kelvin mencium pipi gembul Aniel


" Cepat berangkat sana , nanti terlambat "


Sbastian mengingatkan


" Ayo Aniel "


Sean dan Adimas mencium tangan Sbastian


" Papa sayang , Aniel berangkat ya "


Aniel mencium tangan dan pipi Sbastian


" Iya cantik "


Sbastian mencium pipi gembul Aniel


" Babay papa babay "


Aniel melambaikan tangannya saat Sean dan Adimas berjalan menjauh


" Saya berangkat "


Kelvin mengulurkan tangannya


" Ah.. iya "


Sbastian menjabat tangan Kelvin dan tiba-tiba Kelvin mencium tangan Sbastian


" Astaga "


Sbastian terkejut


" Hahahaha babay "


Kelvin berlari meninggalkan Sbastian dengan sedikit tawa


" Sbastian "


Pak Sam memanggil


" Iya ayah "


Sbastian menoleh


" Ayo tarawih bareng ayah sama yang lain di musholla belakang "


Pak Sam menawari


" Tidak deh ayah , kaki Sbastian seperti ini nanti merepotkan yang lain "


Sbastian menolak


" Nak... Tidak akan ada yang di repotkan "


Pak Sam mengusap rambut Sbastian


" Tidak ayah , kalau Sbastian sudah bisa jalan sendiri , nanti Sbastian ikut sholat , maaf ya ayah , bukannya Sbastian ngak mau sholat "


Sbastian mengusap tengkuknya dengan tidak enak


" Ngak papa nak , ayah pergi dulu "


Pak Sam berlalu


Karena tempatnya sudah sepi , akhirnya Sbastian memutuskan untuk pergi naik ke lantai atas atas melalui lift


Di kamar


" Mas mau sholat "


Adinda datang dengan kimono mandi


" Mas mau tarawih "


Sbastian masuk ke dalam kamar mandi dengan berhati hati


" Ayo jamaah sama Adinda "


Adinda masuk ke dalam kamar mandi


" Udah suci "


Sbastian terkejut


" Iya , Alhamdulillah bulan ini Adinda haidnya cuma dua hari "


Adinda membantu Sbastian mengambil air wudhu dan Adinda mengambil air wudhu


Setelah itu Sbastian berjamaah tarawih dengan Adinda hingga selesai dan hanya memakan waktu sedikit


" Ayo istirahat sekarang "


Adinda melepaskan sarung dan peci Sbastian


*Cup


Sbastian mencium pucuk kepala Adinda


" Hahaha ayo istirahat mas "


Adinda membawa Sbastian menuju tempat tidur


Di masjid


" Kakak... Masih lama ya "


Aniel menarik tangan Sean


" Sebentar lagi sayang "


Sean membenarkan mukenah Aniel


" Aniel capek "


Aniel mendudukkan dirinya di atas sajadah


" Duduk saja , jangan lari-lari ya "


Sean mengusap kepala Aniel


" Iya "


Aniel merebahkan diri di atas sajadah


Setelah selesai satu salam


" Kakak Dimas... Aniel ngantuk "


Aniel menarik tangan Adimas


" Tidurlah nanti kakak gendong "


Adimas menepuk nepuk punggung Aniel


Sean mengambil sajadahnya lalu membuat sajadahnya menjadi bantalan kepala untuk Aniel


" Ini , kamu pakai "


Adimas memberikan sajadahnya dan Kelvin membagi sajadahnya dengan Adimas


" Makasih "


Sean memasang sajadahnya


Setelah selesai tarawih


" Ngantuk ya si cantik "


Rian teman Sean menoleh pipi Aniel


" Udah tidur dari tadi "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Keluar bentar lagi , lagi rame "


Adimas mengemas sajadah Aniel dan Sean


" Oke "


Sean mengangguk


" Ngak ikut bangunin sahur "


Lukman bertanya


" Ngak deh , lagi sibuk "


Sean menolak


" Ayo ikut , seru lho "


Rian menyahuti


" Sory ya , kerjaan gue akhir-akhir ini numpuk "


Sean menjawab


" Kalau Adimas "


Rian menepuk pundak Adimas


" Ngak bisa , aku lagi belajar sama Aniel sekarang , jadi ngak di bolehin keluar kalau ngak penting "


Adimas memberi alasan


" Yaaah pasti seru lho "


Mereka merayu


" Maaf "


Sean dan Adimas tersenyum


" Ayo deh , udah sepi "


Adimas berdiri


" Pakein sajadah ke adek kak , lumayan dingin ini "


Sean meminta


" Nih "


Adimas menumpuk dua sajadah di atas karpet


" Eamang kamu bisa "


Adimas memperhatikan Sean yang sedang membuat Aniel seperti adek bayi yang di selimuti selimut tebal


" Bisa , dulu Sean pernah belajar dari papa "


Setelah selesai Sean membawa Aniel selayaknya adek bayi yang lagi tidur


" Anget deh haha "


Kelvin tertawa


" Ayo pulang "


Adimas berdiri dan berjalan pulang bersama Sean dan di ikuti yang lain


Setelah sampai di rumah


" Lho.. kenapa adek "


Adinda yang kebetulan baru mau masuk ke dalam kamar bertanya saat melihat Sean dan Adimas keluar dari lift


" Ngantuk bunda "


Sean menjawab


" Langsung tidur hahaha "


Adinda tertawa


" Kenapa "


Sbastian bertanya


" Ini pa , adek lagi tidur "


Sean membawa Aniel masuk ke dalam kamar


" Kamu apakan adekmu "


Sbastian menonyor kening Sean


" Haisss papa "


Sean melirik Sbastian tajam


" Katanya Sean udaranya dingin , jadi adek di giniin "


Adimas menjawab

__ADS_1


" Bawa adek ke kamar , terus kalian tidur "


Adinda memerintahkan


__ADS_2