
" Salam tuan "
Seorang wanita dan seorang pria membungkuk memberi salam
" Kakak dan Aniel , ini adalah guru kalian mulai sekarang , ini Bu guru Yuli dan ini pak guru Rian "
Sean memperkenalkan kedua guru di hadapannya
" Halo pak guru , halo Bu guru "
Aniel menyapa
" Halo cantik "
Bu guru melambaikan tangannya
" Mari saya tunjukkan tempat belajarnya "
Sean mengambil Aniel dari Adinda dan berjalan menuju sebuah ruangan di lantai satu
" Anakku benar-benar dewasa "
Sbastian membatin dan tersenyum
" Aku yakin itu hasil didikanmu "
Adinda memeluk Sbastian
" Hm.. "
Sbastian meletakkan pipinya di pelipis Adinda yang ada di dekatnya
Satu Minggu berlalu dan pagi ini kedua guru di sana menghadap Sean di ruang kerja Sean
" Kami sudah tidak memiliki bahan ajar untuk tuan Adimas lagi "
Kedua manusia itu duduk dengan lesu di atas sofa
" Benarkah "
Sean melirik kedua guru itu
" Huhuhu kami bahkan sudah mengajarkan Beberapa pelajaran anak SMP sederajat , dan tuan muda sudah belajar banyak materi"
Bu guru Yuli menundukkan kepalanya
" Ahahaha saudaraku memang hebat "
Sean terlihat senang
" Dan nona Alinda sudah belajar banyak hal juga , mungkin tuan dan keluarga memang mudah dalam pelajaran seperti ini "
Pak guru Rian tersenyum
" Baiklah , misi kalian selesai sekarang kembalilah ke markas , aku pikir kalian akan lama di sini hahaha "
Sean tertawa
" Baik tuan "
Mereka berdiri dan membungkuk hormat
" kami pamit tuan "
Mereka berdua pergi di antar Sean sampai ke pintu
" Sean "
Sbastian memanggil
" Papa mau bicara "
Kalimat Sbastian sudah mulai lancar karena Sbastian selalu berlatih dengan Adinda agar lidahnya cepat kembali normal
" iya pa "
Sean menghampiri Sbastian
Sbastian membawa Sean masuk ke dalam ruang belajar Adimas dan Aniel
" Kemana mereka "
Sean menoleh ke kanan dan ke kiri
" Mereka papa minta ke bunda "
Sbastian menghentikan kursi rodanya
" Sean "
Sbastian menatap Sean tajam
" Ya papa "
Sean terlihat tegang
" Papa mengerti kamu seperti ini , tapi kamu seharusnya sekarang kelas berapa "
Sbastian menatap Sean tajam
" Sean kelas lima pa "
Sean menjawab dengan serius setelah melihat wajah Sbastian yang benar-benar serius
" Apa perusahaan papa benar-benar kamu yang urus "
Sbastian
" Tidak pa , perusahaan di urus oleh paman John "
Sean menjawab dengan jujur
" Lalu perusahaan siapa yang kamu urus sekarang "
Sbastian membuat Sean terkejut
" Perusahaan Sean sendiri pa "
Sean menunduk
" Haissss papa seharusnya lebih ketat dengan pelajaran yang kamu terima dulu "
Sbastian memijit pelipisnya
" Hehehe "
Sean menunjukkan deretan gigi putihnya
" Bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi saat papa koma "
Sbastian membuat Sean menunduk dan mengalihkan pandangannya
" Sean "
Sbastian memanggil
" Setelah kejadian itu.... "
Sean menjeda kalimatnya
" Papa mengalami pendarahan di otak , dan karena itu papa harus menjalani operasi "
Sean tidak terus terang
" Siapa yang mengambil keputusan itu "
Sbastian tau bahwa keputusan seperti itu harus di ambil secepatnya , sedangkan pak Sam dan lainnya tidak bisa datang ke rumah sakit secepat mungkin
" Sean yang ambil "
Sean menunduk dalam-dalam
" Sean takut terjadi sesuatu dengan papa , Sean tidak mau sesuatu yang buruk menimpa papa lagi , dan di sana juga ada Mao yang menjadi dokter untuk papa "
Sean terdengar bergetar dan tangan Sean meremas ujung pakaian yang dia pakai
" Kamu takut "
Sbastian maju dan meraih tangan Sean
" Sean takut waktu itu , papa seperti itu , di tambah kondisi Aniel juga , Sean tidak mau papa dan Aniel meninggalkan Sean , jadi Sean mengambil keputusan secepatnya "
Sean memejamkan matanya dan itu membuat air mata yang sudah lama tidak terlihat kembali luruh
" Apa yang terjadi dengan Aniel "
Sbastian memegang lengan Sean
" Wajahnya terkena serpihan kaca dan api , di tambah... Di tambah "
Sean menghentikan kalimatnya
" Apa nak , Aniel kenapa "
Sbastian mengguncang lengan Sean pelan
" Serpihan kaca itu membuat mata Aniel rusak dan... Dan... "
Sean menggigit bibirnya
" Aniel buta "
Sbastian menatap Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Tapi..tapi sekarang Aniel sudah sembuh "
Sean berlutut dan memegang lengan Sbastian
" Papa "
Sean melihat wajah Sbastian yang menjadi pucat
" Waktu itu Aniel terpaksa harus di oplas , dan..dan baru saja beberapa bulan lalu , Aniel sembuh , papa... papa jangan khawatir"
Sean menerangkan
" Apa kamu baik-baik saja "
Sbastian menangkup pipi Sean
" Sean baik... Tapi Sean minta maaf , Sean ngak bisa lindungi Aniel dan papa "
Sean terlihat merasa bersalah
" Setelah sadar , papa langsung bersikeras untuk duduk dan di bawa ke ruang tamu untuk melihat Aniel dan kakak , padahal papa bisa memanggil mereka , papa memang sangat menyayangi anak-anaknya"
Sean berbicara dalam hati
" Bagaimana kamu bisa bertemu bunda "
Sbastian membuat Sean membeku dan kehilangan kata katanya
" Sean "
Sbastian mengguncang lengan Sean
" Itu...itu "
Sean gelagapan untuk menjawab pertanyaan Sbastian
*Brak
Suara pintu terbuka dengan keras
" Kakaaaak "
Aniel datang dan memeluk punggung Sean
*Srob
Sean membersihkan ingusnya dan mengusap air matanya
" Hei , kamu di cariin papa lho "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Maaf pa , Sean belum berani bicara "
Sean berbicara dalam hati
" Sayang "
Adinda menyusul masuk
" Kakak kok di tinggalin sih "
Adimas masuk dengan menghentakkan kakinya
" Kakak kakak , tadi Aniel belajal banyaaaak banget , dan...dan Aniel belajal hitung "
Aniel menunjukkan kesepuluh jarinya
" Aku juga "
Adimas duduk di hadapan Sean yang memang dari tadi duduk
" Aku kira pelajaran SD itu sulit , karena teman-teman dulu selalu bilang aku kesulitan , tapi ternyata gampang "
Adimas memonyongkan bibirnya
" Memang anak papa ya "
Sbastian tersenyum
" Papa juga gitu "
Adimas dan Aniel memasang tampang penasaran
" Kakak Sean juga lho , dulu pas masih se usia adik , kakak Sean sering minta di ajarin banyak buku "
Sbastian memberitahu
" Berarti anak-anak papa emang pandai pandai "
Adinda mengambil Aniel dari pangkuan Sean
" Lho lho itu adeknya Sean lho Bun "
Sean tidak terima
" Ini lho anaknya bunda "
Adinda tidak mau mengalah
" Lho lho ngak adil , dari tadi bunda sama Aniel , sekarang giliran Sean "
Sean memegang tangan kecil Aniel
" Ngak... Ini anaknya bunda , jadi harus sama bunda "
Adinda memeluk Aniel dengan posesif
" Papa lihat bunda "
Sean mengadu
" Kalian ini sama saja "
Sbastian menggosok kepala Sean dengan keras
" Ya gitu pa , tiap hari berantem terus "
Adimas menganggukkan kepalanya
" Hahaha , kamu ngak ikut "
Sbastian bertanya
" Nanti Aniel kan ke Adimas kalau adik Sean sama Bunda bertengkar "
Adimas tersenyum
" Hahaha beruntung nya kamu "
Sbastian tertawa
" Adinda "
Sbastian memanggil
" Iya mas "
Adinda menoleh
" Kamu puasa "
Sbastian bertanya
" Enggak mas , lagi libur "
Adinda tersenyum
" Anak-anak , papa mau bicara berdua sama bunda , kalian main sendiri ya "
Sbastian mengusap kepala Adimas
" Iya pa "
Aniel masuk ke dalam pangkuan Adimas
" Mau bicara di mana mas "
Adinda berdiri
" Di kamar , mas mau bicara penting "
Sbastian melajukan kursi rodanya saat Sean sudah berpindah tempat
" Biar Adinda yang dorong "
__ADS_1
Adinda mengambil alih kursi roda Sbastian
" Kayaknya penting "
Adimas menatap kedua orang tuanya yang keluar dari ruang bermain
" Hahaha penting untuk kesehatan papa "
Sean tertawa
" Oh... Buat terapi ya "
Adimas memanggut-manggutkan kepalanya
" Mungkin hahaha "
Sean terkekeh
" Kakakku polos deh "
Sean berbicara dalam hati
Di kamar Sbastian
" Mas mau bicara apa "
Adinda menghentikan langkahnya di samping tempat tidur
" Bantu aku naik sayang "
Sbastian menaikkan dirinya ke atas tempat tidur di bantu Adinda
Sbastian menyamankan sandarannya dan membuat dirinya duduk agak ke tengah
" Kemarilah "
Sbastian menepuk tempat di sampingnya
" Iya mas "
Adinda melepaskan hijabnya dan naik ke atas peraduan di tempat yang di minta Sbastian
" Mas rindu sama kamu "
Sbastian memeluk Adinda
" Adinda juga rinduuuu banget sama mas"
Adinda memeluk tubuh kurus Sbastian
" Kamu harum sayang , wanginya sama "
Sbastian mengendus rambut hitam Adinda
*Tuing
Adinda melihat sesuatu yang berdiri tapi bukan Aniel
" Mas Tian kenapa "
Adinda mendongak dan melihat senyum kecil di wajah Sbastian
" Aku selalu begini saat mencium bau dirimu "
Sbastian semakin mengendus rambut hitam Adinda
*Sret
Terlihat sesuatu yang basah tapi bukan air mata
" Mas Tian "
Adinda menyentuh dada bidang Sbastian
" Punyaku tambah tegak sayang "
Sbastian membuka matanya dan menatap manik mata Adinda
" Adinda merinding nih "
Adinda mendudukkan dirinya
" Biar aku peluk kamu , mungkin akan reda , seperti kemarin-kemarin "
Sbastian tersenyum
" Mas selalu gini "
Adinda menatap si sesuatu itu
" Yah... Mas selalu gini kalau sama kamu , kan dari dulu "
Sbastian merebahkan dirinya
" Kenapa adinda ngak pernah tau "
Adinda mengerenyitkan keningnya
" Hahaha biarkan saja , kemarilah sayang "
Sbastian melambaikan tangannya
*Seeet
Adinda menyentuh gundukan kecil di antara kaki Sbastian
" Jangan di pegang sayang , nanti ngak bisa di kendalikan "
Sbastian memegang tangan Adinda
*Sret
Tangan Adinda yang satunya sudah membuat si tegak keluar dari kandangnya
" Astaga besarnya "
Adinda terkejut
" Mas sudah bilang kan , biarkan saja "
Sbastian hendak memasukkannya kembali ke dalam sangkar
*Grep
Tangan adinda memegang si tegak dengan satu tangan
" Ini tumbuh menjadi sangat besar , mungkin dua tangan "
Adinda meletakkan kedua tangannya di atas si tegak
" Masih terlalu besar "
Adinda menatap si tegak yang sangat besar dengan serius
" Adinda "
Sbastian terkejut melihat sorot mata Adinda yang seakan meminta lebih
" Adinda udah bertahun-tahun ngak ngerasain punya mas "
*Glup
Adinda menelan ludahnya kasar
* Slurup
Adinda menjilat ujung lorong kecil milik Sbastian
" Ugh... "
Sbastian menggigit bibirnya
*Srak srak srak
Adinda menggenggam dan menaik turunkan tangannya
" Aaakkhhhh... Adinda jangan "
Sbastian menggigit jarinya sendiri
* Srak srak srak
Adinda semakin cepat menggosok tiang listrik di situ
" Aaah... Ugh... Sayang "
*****
Sbastian muncrat tepat di wajah adinda
" Hm... Manis mas "
Adinda menjilati tangannya
" Hei "
Sbastian mendudukkan dirinya dan menangkup wajah Adinda
" Mas Tian "
" Dasar nakal "
Sbastian menjilati wajah Adinda yang di penuhi oleh cairan putih kental miliknya
Setelah selesai membersihkan wajah Adinda , Sbastian ******* bibir Adinda perlahan dan membuat Adinda terbuai dengan alunan lembut dari bibir Sbastian
*Grep
Sbastian merasakan sengatan listrik saat tangan Adinda tiba-tiba menggenggam miliknya
" Aaaahhhh "
Sbastian berteriak saat merasakan miliknya di remas oleh Adinda
" Jangan keras-keras sayang , jangan ugh..."
Sbastian menggenggam erat bantal di sampingnya
" Punya mas benar-benar besar "
Adinda berbicara dalam hati dan memasukkan si tegak ke dalam mulutnya
" Ugh.... Adin... Aaaahhhh "
Sbastian mengeluarkan beberapa suara aneh saat Adinda memainkan lidahnya dengan cepat tepat di atas miliknya
" Sudah sudah hah...hah... Sudah sayang "
Sbastian menarik lengan Adinda dan membawa adinda ke dalam pelukannya
" Sudah sayang , mas mau lebih kalau kamu terus begini "
Sbastian memeluk Adinda dengan erat
" Kyaaaaaaa mas Tian "
Adinda terkejut saat Sbastian tiba-tiba meremas kedua gunung kembar Adinda
" Punyamu juga tambah besar , mas tau sejak kemarin-kemarin "
Sbastian membuka pakaian atas Adinda
" Indah sekali "
Sbastian tersenyum melihat dua pelindung hitam di sana
" Aem... "
Sbastian memasukkan puncak gunung kembar ke dalam mulutnya dan puncak satunya yang terlihat mengeras di mainkan oleh tangannya
" Ugh... Mas Tian "
Adinda menelusupkan wajahnya Sbastian agar lebih menekan gunung kembarnya
" Sudah aku duga "
Sean yang lewat di depan kamar Sbastian mendengar suara suara aneh dari dalam
" Paman yang di sekitar boleh pergi , kembali nanti saja "
Sean tau apa yang di rasakan para paman pengawal
" Terimakasih tuan "
Ke empat pengawal di sana turun ke bawah
" Balik aja ke bawah "
Sean berbalik dan menuju lantai dasar dimana kedua saudaranya bermain
Saat berbuka
" Yey yey buka buka "
Aniel duduk di tempat yang di sediakan
" Papa "
Sean memanggil
" Hm... "
Sbastian menoleh
" Papa lupa aktifkan pengedap suara tadi "
Sean membuat Sbastian dan adinda menoleh
" Dasar nakal "
Sbastian memukul kening Sean
" Beneran tau , kan papa punya tombolnya "
Sean menggosok keningnya yang habis di pukul oleh Sbastian
" Cepet doa , udah azan ini "
Adinda meminta agar anak-anak cepat berdoa dan makan
Setelah berbuka , Sbastian mengajak anak-anak untuk sholat berjamaah , setelah itu mereka berkumpul di ruang tamu
" Apa itu bunda "
Aniel menunjukkan televisi dan mulai sibuk sendiri dengan Adinda
" Sean "
Sbastian memanggil
" Iya pa "
Sean menoleh
" Kamu bilang sudah daftarkan kakak ke sekolah "
Sbastian membuat Adimas menoleh
" Iya pa , karena itu Adimas belajar kemarin"
Adimas memberitahu dengan antusias
" Memangnya sekolah di mana "
Sbastian bertanya
" Di tempat bunda "
Sean menjawab
" Benarkah "
Adimas terkejut
" Iya kak "
Sean mengangguk
" Nanti Sean loncat kelas aja biar bisa sekelas sama kakak "
Sean membuat Adimas terbelalak
" Serius "
Adimas memegang bahu Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Waaaah aku sekolah di tempat bunda "
Adimas memeluk Sean dengan hati berbunga-bunga
" Makasih adek "
Adimas mencium pipi Sean
" Astaga kakak , terkejut aku "
Sean mengusap pipinya
" Bunda dulu pernah cerita saat sekolah di sekolahan bunda , kata bunda sekolahnya seru banget "
Adimas tidak berhenti tersenyum
" Sudah jam berapa ini , ayo sana siap-siap tarawih "
Sbastian mengusap kepala Adimas
" Iya papa "
Adimas dengan senang hati berdiri dan menyeret Sean menuju lantai atas
__ADS_1
" Tungguin iel kak "
Aniel turun dari pangkuan Adinda dan berlari mengejar kedua saudaranya
" Adinda mau ke kamar , mas mau ikut "
Adinda berdiri
" Apa kamu kembali lagi "
Sbastian bertanya
" Iya , nanti Adinda balik "
Adinda mencium pipi Sbastian dan berlalu pergi
" Assalamualaikum "
Suara pak Sam membuat Sbastian menoleh
" Wa'alaikum salam ayah "
Sbastian menoleh
" Hai kakak "
Kelvin menyapa Sbastian
" Hai "
Sbastian tersenyum
Pak Sam duduk dan mengajak Sbastian berbincang bincang setelah itu pak Sam beranjak pergi dan tinggallah dua orang yang saling diam dan saling lirik
" Ekhem... Kamu Kelvin "
Sbastian memulai pembicaraan
" Hehehe "
Kelvin menunjukkan deretan gigi putihnya yang di hiasi satu gingsul di sebelah kanan
" Ayah pernah bercerita tentang kamu , dan aku tidak menyangka kamu ada di sini sekarang"
Sbastian melirik Kelvin
" Paman eviiiiin "
Terdengar suara teriakan Aniel yang membuat Kelvin menutup telinganya
" Paman Evin jahat , kenapa telinga di tutup"
Aniel menghentakkan kakinya
" Suaramu lho kayak kakakmu , keraaas banget"
Kelvin membawa Aniel ke dalam pelukannya
" Hehehe paman Evin dali mana "
Aniel memeluk leher Kelvin
" Paman dari jalan-jalan sama kakek , lihat paman bawa hadiah buat iel "
Kelvin menunjukkan satu Bros bunga yang cantik
" Waaaah makasih "
Aniel mengambil Bros yang di bawa Kelvin
" Paman udah pulang "
Terdengar suara Sean
" Mana kakek "
Adimas bertanya
" Kakek di atas "
Kelvin duduk dan membiarkan Aniel bermain di atas pangkuannya
" Papa... Kata bunda , bunda ngak bisa turun , papa yang di minta naik "
Adimas menyampaikan pesan Adinda
" Oh... Iya nanti papa naik "
Sbastian tersenyum
" Paman mau tarawih bareng kami "
Adimas mengajak
" Waduh boleh nih , nanti kita sholat bareng ya ya ya "
Kelvin mencium pipi gembul Aniel
" Cepat berangkat sana , nanti terlambat "
Sbastian mengingatkan
" Ayo Aniel "
Sean dan Adimas mencium tangan Sbastian
" Papa sayang , Aniel berangkat ya "
Aniel mencium tangan dan pipi Sbastian
" Iya cantik "
Sbastian mencium pipi gembul Aniel
" Babay papa babay "
Aniel melambaikan tangannya saat Sean dan Adimas berjalan menjauh
" Saya berangkat "
Kelvin mengulurkan tangannya
" Ah.. iya "
Sbastian menjabat tangan Kelvin dan tiba-tiba Kelvin mencium tangan Sbastian
" Astaga "
Sbastian terkejut
" Hahahaha babay "
Kelvin berlari meninggalkan Sbastian dengan sedikit tawa
" Sbastian "
Pak Sam memanggil
" Iya ayah "
Sbastian menoleh
" Ayo tarawih bareng ayah sama yang lain di musholla belakang "
Pak Sam menawari
" Tidak deh ayah , kaki Sbastian seperti ini nanti merepotkan yang lain "
Sbastian menolak
" Nak... Tidak akan ada yang di repotkan "
Pak Sam mengusap rambut Sbastian
" Tidak ayah , kalau Sbastian sudah bisa jalan sendiri , nanti Sbastian ikut sholat , maaf ya ayah , bukannya Sbastian ngak mau sholat "
Sbastian mengusap tengkuknya dengan tidak enak
" Ngak papa nak , ayah pergi dulu "
Pak Sam berlalu
Karena tempatnya sudah sepi , akhirnya Sbastian memutuskan untuk pergi naik ke lantai atas atas melalui lift
Di kamar
" Mas mau sholat "
Adinda datang dengan kimono mandi
" Mas mau tarawih "
Sbastian masuk ke dalam kamar mandi dengan berhati hati
" Ayo jamaah sama Adinda "
Adinda masuk ke dalam kamar mandi
" Udah suci "
Sbastian terkejut
" Iya , Alhamdulillah bulan ini Adinda haidnya cuma dua hari "
Adinda membantu Sbastian mengambil air wudhu dan Adinda mengambil air wudhu
Setelah itu Sbastian berjamaah tarawih dengan Adinda hingga selesai dan hanya memakan waktu sedikit
" Ayo istirahat sekarang "
Adinda melepaskan sarung dan peci Sbastian
*Cup
Sbastian mencium pucuk kepala Adinda
" Hahaha ayo istirahat mas "
Adinda membawa Sbastian menuju tempat tidur
Di masjid
" Kakak... Masih lama ya "
Aniel menarik tangan Sean
" Sebentar lagi sayang "
Sean membenarkan mukenah Aniel
" Aniel capek "
Aniel mendudukkan dirinya di atas sajadah
" Duduk saja , jangan lari-lari ya "
Sean mengusap kepala Aniel
" Iya "
Aniel merebahkan diri di atas sajadah
Setelah selesai satu salam
" Kakak Dimas... Aniel ngantuk "
Aniel menarik tangan Adimas
" Tidurlah nanti kakak gendong "
Adimas menepuk nepuk punggung Aniel
Sean mengambil sajadahnya lalu membuat sajadahnya menjadi bantalan kepala untuk Aniel
" Ini , kamu pakai "
Adimas memberikan sajadahnya dan Kelvin membagi sajadahnya dengan Adimas
" Makasih "
Sean memasang sajadahnya
Setelah selesai tarawih
" Ngantuk ya si cantik "
Rian teman Sean menoleh pipi Aniel
" Udah tidur dari tadi "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Keluar bentar lagi , lagi rame "
Adimas mengemas sajadah Aniel dan Sean
" Oke "
Sean mengangguk
" Ngak ikut bangunin sahur "
Lukman bertanya
" Ngak deh , lagi sibuk "
Sean menolak
" Ayo ikut , seru lho "
Rian menyahuti
" Sory ya , kerjaan gue akhir-akhir ini numpuk "
Sean menjawab
" Kalau Adimas "
Rian menepuk pundak Adimas
" Ngak bisa , aku lagi belajar sama Aniel sekarang , jadi ngak di bolehin keluar kalau ngak penting "
Adimas memberi alasan
" Yaaah pasti seru lho "
Mereka merayu
" Maaf "
Sean dan Adimas tersenyum
" Ayo deh , udah sepi "
Adimas berdiri
" Pakein sajadah ke adek kak , lumayan dingin ini "
Sean meminta
" Nih "
Adimas menumpuk dua sajadah di atas karpet
" Eamang kamu bisa "
Adimas memperhatikan Sean yang sedang membuat Aniel seperti adek bayi yang di selimuti selimut tebal
" Bisa , dulu Sean pernah belajar dari papa "
Setelah selesai Sean membawa Aniel selayaknya adek bayi yang lagi tidur
" Anget deh haha "
Kelvin tertawa
" Ayo pulang "
Adimas berdiri dan berjalan pulang bersama Sean dan di ikuti yang lain
Setelah sampai di rumah
" Lho.. kenapa adek "
Adinda yang kebetulan baru mau masuk ke dalam kamar bertanya saat melihat Sean dan Adimas keluar dari lift
" Ngantuk bunda "
Sean menjawab
" Langsung tidur hahaha "
Adinda tertawa
" Kenapa "
Sbastian bertanya
" Ini pa , adek lagi tidur "
Sean membawa Aniel masuk ke dalam kamar
" Kamu apakan adekmu "
Sbastian menonyor kening Sean
" Haisss papa "
Sean melirik Sbastian tajam
" Katanya Sean udaranya dingin , jadi adek di giniin "
Adimas menjawab
__ADS_1
" Bawa adek ke kamar , terus kalian tidur "
Adinda memerintahkan