
" Tuan muda di sana "
Mao keluar dari kamar dan mengikuti bau Sean yang dia kenal
" Lho kamu di sini "
Suara Yuka mengagetkan Mao
" Eh.. maaf saya tidak bermaksud , saya hanya mencari tuan muda "
Mao berbicara apapun yang di fikirkan
" Tuan muda sedang makan malam , mari"
Yuka menjawab dan membawa Mao menuju ruang makan
" Salam tuan , salam tuan muda "
Yuka memberi salam dan di ikuti oleh Mao
" Hm.. duduklah Yuka , dan nona Mao apa yang anda bisa lakukan "
Sbastian tidak meminta Mao untuk duduk dan Sean tidak bisa menolong Mao saat ini
" saya mampu melawan banyak musuh sekaligus , kekuatan saya tidak perlu di ragukan tuan "
Mao berbicara dengan bangga dan yakin
" Haha benarkah "
Sbastian melihat Mao yang membanggakan diri
" Tuan bisa menguji saya "
Mao menawarkan diri
" Lalu wajahmu itu terkena apa "
Sbastian memperhatikan wajah putih Mao yang memiliki tiga goresan yang masing-masing di pipi kanan dan kiri
" Ah... Ini sudah dari kecil , saya tidak tau "
Mao menjawab apa yang di katakan oleh Hana yang berdiri tepat di belakang kepalanya
" Baiklah , berapa banyak porsi makan mu "
Sbastian bertanya dan membuat Yuka berhenti makan
" Em..... Saya akan makan apapun yang di berikan tuan muda "
Yuka menjawab dengan enteng
Pertanyaan yang tidak sopan , namun bagi itu bagi Yuka , jika bagi Mao itu hanyalah hal biasa dan tidak perlu di permasalahkan
" Jika aku memberimu daging mentah "
Sbastian kembali bertanya
" Ya akan saya makan "
Jawaban Mao membuat Sbastian terkejut
" Jika ikan mentah "
Sbastian bertanya kembali
" Tidak masalah "
Mao mengangguk
" Jika hanya sayuran "
Sbastian mengajukan pertanyaan lagi
" Tidak terlalu suka "
Mao menjawab dengan wajah tidak suka
" Jika tidak aku berikan makanan "
Sbastian bertanya untuk yang terakhir
" Saya bisa menahannya asalkan ada air yang bisa saya minum "
Mao mengangguk
" Apa kamu memiliki kemampuan medis "
Sbastian menyelesaikan makannya
" Saya sedikit mengetahui tentang obat-obatan tradisional "
Mao menjawab apa adanya
" Dari mana kamu belajar itu "
Sbastian berdiri dari tempat duduknya
" Dari kakek tua yang menolong saya di hutan , beliau guru dan penyelamat hidup saya "
Mao menjawab apa adanya
" Ikut aku "
Sbastian membuat Mao mengikutinya
Saat sudah sampai di halaman belakang , Sean menyusul danen menghampiri Sbastian
" Berkumpul "
Sbastian mengisyaratkan agar semua penjaga di setiap sudut rumah untuk berkumpul
Saat semua penjaga sudah berbaris dengan rapih , pak Sam dan Yuka datang menyusul
" Kamu mau apakan dia "
Pak Sam menepuk bahu Sbastian
" Ayah tenang saja "
Sbastian tersenyum
" Paman Yudi "
Sbastian memerintahkan kepada pemimpin penjaga untuk maju
" Paman , aku ingin penjaga nomor nol untuk maju "
Sbastian meminta
" Kamu dengar "
Yudi kepala penjaga berteriak
" Siap tuan "
Nomor nol maju ke depan dan membungkuk hormat kepada Sbastian
" Lawan dia "
Sbastian memerintahkan Mao
" Paman ini "
Mao menunjuk penjaga yang di juluki nomor nol
" Penjaga ini setara dengan lima pria petinju terbaik , jika kamu bisa mengalahkannya maka kamu bisa menjadi pengasuh Sean dan jika kamu bisa mengalahkan nomor satu dan dua , kamu akan menjadi pengawal dan tangan kanan Sean pengganti sitter azza "
Sbastian berbicara dan membuat semua orang terperangah tidak percaya
" Sitter azza "
Mao memiringkan kepalanya
" Ya , sitter azza mampu mengalahkan nomor sebelas dan berhenti di sana , jika kamu bisa setara dengannya maka kamu bisa menjaga Sean setiap saat "
Sbastian mengangguk
" Woah.... Apapun akan saya lakukan demi tuan muda "
Mao mengangguk senang
Flashback dua tahun lalu
" Ga mau ga mau Hua..... Apapa..... ean ga mau "
( Ngak mau ngak mau Hua...... Papa... Sean ngak mau )
Sean memberontak di dalam gendongan baby sitter barunya , menendang dan memukul itu yang Sean lakukan
" Astagfirullah anakku , ini sudah ke lima kalinya kamu ganti baby sitter bulan ini "
Sbastian mengambil Sean dari pelukan baby sitter nya
" Tuan maafkan saya "
Baby sitter itu meminta maaf
" Bukan salahmu , aku minta maaf karena sikap putraku yang seperti ini "
Sbastian tersenyum
__ADS_1
" Iya tuan saya akan bersiap untuk pulang "
Baby sitter itu membungkuk hormat lalu pergi
" Tuan saya mendapatkan baby sitter baru lagi "
Asisten John berlari mendekati Sbastian
" Gamau , ean au Ama apapa "
( Ngak mau , Sean mau sama papa )
Sean berteriak kepada asisten John dan memberikan wajah galaknya
" Bawa dia kesini , minta dia merebut hati Sean dulu "
Sbastian memerintahkan
" Mungkin nanti sore dia akan sampai tuan "
Asisten John memberitahu
" Suruh temui di taman belakang "
Sbastian melenggang pergi
" Astaga semoga cocok , aku tidak tau harus mencari baby sitter kemana lagi "
Asisten John mengeluh dan keluar dari rumah besar keluarga sora
Saat sore hari
" Salam tuan "
Suara asisten John membuat Sbastian yang sedang memangku laptop di halaman belakang menoleh
" Apa ini yang kamu maksud "
Sbastian berdiri dan menatap wanita muda yang berdiri menunduk di belakang asisten John
" Iya tuan "
Asisten John mengangguk
" Apa kamu sudah mengetahui cerita putraku "
Sbastian bertanya
" Sudah tuan "
Wanita muda itu menjawab
" Apa kamu merasa mampu merebut hati putraku "
Sbastian menatap wanita muda itu
" Saya akan mencoba , namun izinkan saya bekerja di sini meski saya tidak mampu merebut hati tuan muda , saya sangat membutuhkan pekerjaan "
Wanita muda itu tiba-tiba berlutut di depan Sbastian
" Asisten John sudah menceritakan semuanya , kamu tidak perlu khawatir , yang penting cobalah untuk mengambil hati putraku , harapanku pupus sudah jika kamu tidak bisa menjadi baby sitter nya "
Sbastian memijat keningnya
" Ba..baik tuan terimakasih , namun apakah say boleh memikat hati tuan muda dengan cara saya sendiri "
Wanita muda itu meminta
" Lakukanlah "
Sbastian mengiyakan
" Terimakasih tuan "
Wanita muda itu berterimakasih
" Berdirilah dan jika bisa lakukan sekarang "
Sbastian memerintahkan
" Iya tuan iya "
Wanita muda itu berdiri dan mengangguk senang
" Namamu Mila kan "
Sbastian bertanya
" Iya tuan , nama saya Mila Az-Zahra "
Azza muda mengiyakan
Sbastian melambaikan tangannya
" Baik tuan saya permisi "
Azza menghampiri Sean yang sedang duduk bermain di samping kolam
" Capa amu "
( Siapa kamu )
Sean menatap azza muda dengan tatapan aneh
" Bukankah ini sederhana saja "
Azza muda tidak menghiraukan ucapan Sean dan mengambil rubik yang Sean mainkan
" Idak anyak yang isa mainkan itu "
( Tidak banyak yang bisa memainkan itu )
Sean membiarkan azza mengambil mainannya
Hening selama tiga menit
" Bukankah seperti ini "
Azza dalam beberapa menit memberikan rubik yang sudah selesai ia benahi
" Atata giana bisa "
( Astaga bagaimana bisa )
Sean meletakkan mainannya dan mengambil rubik yang di letakkan azza
" Itu kan mudah "
Sitter azza mengambil lagi rubik berbentuk persegi panjang yang masih berantakan
" Oba Agi "
( Coba lagi )
Sean juga memberikan rubik besar dengan kotak warna yang sangat kecil
" Baik "
Azza membuat semua rubik yang berantakan menjadi tersusun rapih dan membuat Sean terkesan
" Apa tatak bisa enang "
( Apa kakak bisa berenang )
Sean bertanya
" Bisa , memanjat pohon juga bisa "
Azza memberitahukan kebolehannya
" Benalah , pa bisa "
( Benarkah , apa bisa )
Sean berdiri dan memegangi lengan azza
" Bisa dong "
Azza memegangi pinggang Sean agar tidak terjatuh
" Tamu bisa ela dili ndak "
( Kamu bisa bela diri ngak )
Sean menatap azza penasaran
" Bisa dong "
Azza membanggakan diri
" Aman aman nini "
( Paman paman sini )
Sean memanggil penjaga yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya
" Bisa alan dia "
( Bisa lawan dia )
Sean menunjuk penjaga yang berdiri di dekat nya
__ADS_1
" Em..... Mungkin.. "
Azza dengan ragu mengangguk
" Iya tuan muda "
Paman pengawal itu mengangguk
" Alaan ia "
( Lawan dia )
Sean menjauh dari azza
" Hah ?? "
Penjaga itu tidak mengerti
" Tuan muda meminta saya untuk melawan anda , maksudnya bertarung "
Sitter azza menjelaskan
" Eh.. melawan anda nona muda eh.... Saya.... "
Penjaga itu ragu ragu dan menggaruk kepalanya
" Ayo aman lalan ia "
( Ayo paman lawan dia )
Sean menarik-narik celana panjang pengawal itu
" Hahaha "
Sitter azza terkekeh melihat pengawal itu yang seakan tidak bisa menolak permintaan Sean
" Ba..baik tuan muda "
Pengawal itu mengangguk
" Yeey , bawa ean e apapa "
( Yeeey , bawa Sean ke papa )
Sean berjalan menghampiri azza
" Baik tuan muda "
Sitter azza membawa Sean kepada Sbastian
Setelah itu sitter azza kembali kepada pengawal itu dan mulai memasang kuda-kuda
" Saya akan membuat diri saya kalah agar tuan muda menjadi senang , jadi anda tidak perlu terluka juga "
Pengawal itu memberi usul
" Jika seperti itu maka tuan muda akan sangat kecewa "
Azza memprovokasi
" Tapi nanti anda akan terluka "
Pengawal itu ragu
" Tapi nanti hati kecil tuan muda juga terluka "
Azza semakin memprovokasi
" Baik baik lawan saya sekuat tenaga "
Pengawal itu memutuskan
" Baiklah bersiap ya "
Azza memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang
" Hyat "
Tanpa aba-aba saat pengawal itu sudah siap , azza langsung melancarkan serangan
Azza menendang dada pengawal itu dan membuat pengawal itu mundur beberapa langkah
" Astaga apa tadi "
Pengawal itu terkejut
" Bukankah saya bilang untuk bersiap "
Azza kembali memasang kuda-kuda
" Ternyata anda tidak bisa di remehkan nona muda , maafkan
Pengawal itu mulai serius dengan azza
" Hahaha mari tuan "
Azza dan pengawal itu mulai adu mekanik
Mereka berdua saling menendang dan membalas serangan
" Hahahaha hebat hebat"
Sean tertawa girang melihat pertarungan sengit antara azza dan pengawal itu
" Gadis itu lebih dari yang ku kira "
Asisten John membatin
" Wajahnya memerah "
Sbastian memperhatikan wajah asisten John yang sudah memerah dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya
" Aku rasa akan ada yang menikah "
Sbastian memalingkan pandangannya
" Cukup "
Suara Sbastian membuat pertarungan berhenti
" Yey yey tatak ebat "
( Yey yey kakak hebat )
Sean melompat girang di dalam gendongan Sbastian
" Kamu membuktikan bahwa kamu layak , sekarang aku serahkan Sean padamu , jaga dia baik-baik selama aku tidak di rumah , jika aku di rumah kamu bebas dari tanggung jawabmu , aku kagum padamu "
Sbastian membiarkan Sean turun dari gendongannya dan menghampiri azza
" Capa namamu "
( Siapa namamu )
Sean memegangi kaki azza
" Nama saya Mila , Mila Az-Zahra "
Azza menjawab pertanyaan Sean
" Apapa... Alau ang lawat ean tuh amanya apa "
(Papa.... Kalau yang merawat Sean itu namanya apa )
Sean menatap Sbastian
" Baby sitter "
Sbastian menjawab
" Ali gitu amu ittel Az-az "
( Kalau begitu namamu sitter az-az )
Sean memberi nama seenaknya
" Baiklah hahaha "
Sbastian tertawa
" Baik tuan muda "
Sitter azza mengangguk
Flashback off
" Oh.... Kalau Mao bisa mengalahkan mereka sendirian "
Mao membanggakan diri
" Benarkah "
Sbastian menatap Mao intens
" Kalahkan mereka jika bisa "
Sbastian memberi kesempatan
" Baik tuan "
Mao maju dengan riang mendekati para penjaga
__ADS_1