Aku Pangeran

Aku Pangeran
# 48 ( ujian )


__ADS_3

" Tuan muda di sana "


Mao keluar dari kamar dan mengikuti bau Sean yang dia kenal


" Lho kamu di sini "


Suara Yuka mengagetkan Mao


" Eh.. maaf saya tidak bermaksud , saya hanya mencari tuan muda "


Mao berbicara apapun yang di fikirkan


" Tuan muda sedang makan malam , mari"


Yuka menjawab dan membawa Mao menuju ruang makan


" Salam tuan , salam tuan muda "


Yuka memberi salam dan di ikuti oleh Mao


" Hm.. duduklah Yuka , dan nona Mao apa yang anda bisa lakukan "


Sbastian tidak meminta Mao untuk duduk dan Sean tidak bisa menolong Mao saat ini


" saya mampu melawan banyak musuh sekaligus , kekuatan saya tidak perlu di ragukan tuan "


Mao berbicara dengan bangga dan yakin


" Haha benarkah "


Sbastian melihat Mao yang membanggakan diri


" Tuan bisa menguji saya "


Mao menawarkan diri


" Lalu wajahmu itu terkena apa "


Sbastian memperhatikan wajah putih Mao yang memiliki tiga goresan yang masing-masing di pipi kanan dan kiri


" Ah... Ini sudah dari kecil , saya tidak tau "


Mao menjawab apa yang di katakan oleh Hana yang berdiri tepat di belakang kepalanya


" Baiklah , berapa banyak porsi makan mu "


Sbastian bertanya dan membuat Yuka berhenti makan


" Em..... Saya akan makan apapun yang di berikan tuan muda "


Yuka menjawab dengan enteng


Pertanyaan yang tidak sopan , namun bagi itu bagi Yuka , jika bagi Mao itu hanyalah hal biasa dan tidak perlu di permasalahkan


" Jika aku memberimu daging mentah "


Sbastian kembali bertanya


" Ya akan saya makan "


Jawaban Mao membuat Sbastian terkejut


" Jika ikan mentah "


Sbastian bertanya kembali


" Tidak masalah "


Mao mengangguk


" Jika hanya sayuran "


Sbastian mengajukan pertanyaan lagi


" Tidak terlalu suka "


Mao menjawab dengan wajah tidak suka


" Jika tidak aku berikan makanan "


Sbastian bertanya untuk yang terakhir


" Saya bisa menahannya asalkan ada air yang bisa saya minum "


Mao mengangguk


" Apa kamu memiliki kemampuan medis "


Sbastian menyelesaikan makannya


" Saya sedikit mengetahui tentang obat-obatan tradisional "


Mao menjawab apa adanya


" Dari mana kamu belajar itu "


Sbastian berdiri dari tempat duduknya


" Dari kakek tua yang menolong saya di hutan , beliau guru dan penyelamat hidup saya "


Mao menjawab apa adanya


" Ikut aku "


Sbastian membuat Mao mengikutinya


Saat sudah sampai di halaman belakang , Sean menyusul danen menghampiri Sbastian


" Berkumpul "


Sbastian mengisyaratkan agar semua penjaga di setiap sudut rumah untuk berkumpul


Saat semua penjaga sudah berbaris dengan rapih , pak Sam dan Yuka datang menyusul


" Kamu mau apakan dia "


Pak Sam menepuk bahu Sbastian


" Ayah tenang saja "


Sbastian tersenyum


" Paman Yudi "


Sbastian memerintahkan kepada pemimpin penjaga untuk maju


" Paman , aku ingin penjaga nomor nol untuk maju "


Sbastian meminta


" Kamu dengar "


Yudi kepala penjaga berteriak


" Siap tuan "


Nomor nol maju ke depan dan membungkuk hormat kepada Sbastian


" Lawan dia "


Sbastian memerintahkan Mao


" Paman ini "


Mao menunjuk penjaga yang di juluki nomor nol


" Penjaga ini setara dengan lima pria petinju terbaik , jika kamu bisa mengalahkannya maka kamu bisa menjadi pengasuh Sean dan jika kamu bisa mengalahkan nomor satu dan dua , kamu akan menjadi pengawal dan tangan kanan Sean pengganti sitter azza "


Sbastian berbicara dan membuat semua orang terperangah tidak percaya


" Sitter azza "


Mao memiringkan kepalanya


" Ya , sitter azza mampu mengalahkan nomor sebelas dan berhenti di sana , jika kamu bisa setara dengannya maka kamu bisa menjaga Sean setiap saat "


Sbastian mengangguk


" Woah.... Apapun akan saya lakukan demi tuan muda "


Mao mengangguk senang


Flashback dua tahun lalu


" Ga mau ga mau Hua..... Apapa..... ean ga mau "


( Ngak mau ngak mau Hua...... Papa... Sean ngak mau )


Sean memberontak di dalam gendongan baby sitter barunya , menendang dan memukul itu yang Sean lakukan


" Astagfirullah anakku , ini sudah ke lima kalinya kamu ganti baby sitter bulan ini "


Sbastian mengambil Sean dari pelukan baby sitter nya


" Tuan maafkan saya "


Baby sitter itu meminta maaf


" Bukan salahmu , aku minta maaf karena sikap putraku yang seperti ini "


Sbastian tersenyum

__ADS_1


" Iya tuan saya akan bersiap untuk pulang "


Baby sitter itu membungkuk hormat lalu pergi


" Tuan saya mendapatkan baby sitter baru lagi "


Asisten John berlari mendekati Sbastian


" Gamau , ean au Ama apapa "


( Ngak mau , Sean mau sama papa )


Sean berteriak kepada asisten John dan memberikan wajah galaknya


" Bawa dia kesini , minta dia merebut hati Sean dulu "


Sbastian memerintahkan


" Mungkin nanti sore dia akan sampai tuan "


Asisten John memberitahu


" Suruh temui di taman belakang "


Sbastian melenggang pergi


" Astaga semoga cocok , aku tidak tau harus mencari baby sitter kemana lagi "


Asisten John mengeluh dan keluar dari rumah besar keluarga sora


Saat sore hari


" Salam tuan "


Suara asisten John membuat Sbastian yang sedang memangku laptop di halaman belakang menoleh


" Apa ini yang kamu maksud "


Sbastian berdiri dan menatap wanita muda yang berdiri menunduk di belakang asisten John


" Iya tuan "


Asisten John mengangguk


" Apa kamu sudah mengetahui cerita putraku "


Sbastian bertanya


" Sudah tuan "


Wanita muda itu menjawab


" Apa kamu merasa mampu merebut hati putraku "


Sbastian menatap wanita muda itu


" Saya akan mencoba , namun izinkan saya bekerja di sini meski saya tidak mampu merebut hati tuan muda , saya sangat membutuhkan pekerjaan "


Wanita muda itu tiba-tiba berlutut di depan Sbastian


" Asisten John sudah menceritakan semuanya , kamu tidak perlu khawatir , yang penting cobalah untuk mengambil hati putraku , harapanku pupus sudah jika kamu tidak bisa menjadi baby sitter nya "


Sbastian memijat keningnya


" Ba..baik tuan terimakasih , namun apakah say boleh memikat hati tuan muda dengan cara saya sendiri "


Wanita muda itu meminta


" Lakukanlah "


Sbastian mengiyakan


" Terimakasih tuan "


Wanita muda itu berterimakasih


" Berdirilah dan jika bisa lakukan sekarang "


Sbastian memerintahkan


" Iya tuan iya "


Wanita muda itu berdiri dan mengangguk senang


" Namamu Mila kan "


Sbastian bertanya


" Iya tuan , nama saya Mila Az-Zahra "


Azza muda mengiyakan


Sbastian melambaikan tangannya


" Baik tuan saya permisi "


Azza menghampiri Sean yang sedang duduk bermain di samping kolam


" Capa amu "


( Siapa kamu )


Sean menatap azza muda dengan tatapan aneh


" Bukankah ini sederhana saja "


Azza muda tidak menghiraukan ucapan Sean dan mengambil rubik yang Sean mainkan


" Idak anyak yang isa mainkan itu "


( Tidak banyak yang bisa memainkan itu )


Sean membiarkan azza mengambil mainannya


Hening selama tiga menit


" Bukankah seperti ini "


Azza dalam beberapa menit memberikan rubik yang sudah selesai ia benahi


" Atata giana bisa "


( Astaga bagaimana bisa )


Sean meletakkan mainannya dan mengambil rubik yang di letakkan azza


" Itu kan mudah "


Sitter azza mengambil lagi rubik berbentuk persegi panjang yang masih berantakan


" Oba Agi "


( Coba lagi )


Sean juga memberikan rubik besar dengan kotak warna yang sangat kecil


" Baik "


Azza membuat semua rubik yang berantakan menjadi tersusun rapih dan membuat Sean terkesan


" Apa tatak bisa enang "


( Apa kakak bisa berenang )


Sean bertanya


" Bisa , memanjat pohon juga bisa "


Azza memberitahukan kebolehannya


" Benalah , pa bisa "


( Benarkah , apa bisa )


Sean berdiri dan memegangi lengan azza


" Bisa dong "


Azza memegangi pinggang Sean agar tidak terjatuh


" Tamu bisa ela dili ndak "


( Kamu bisa bela diri ngak )


Sean menatap azza penasaran


" Bisa dong "


Azza membanggakan diri


" Aman aman nini "


( Paman paman sini )


Sean memanggil penjaga yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya


" Bisa alan dia "


( Bisa lawan dia )


Sean menunjuk penjaga yang berdiri di dekat nya

__ADS_1


" Em..... Mungkin.. "


Azza dengan ragu mengangguk


" Iya tuan muda "


Paman pengawal itu mengangguk


" Alaan ia "


( Lawan dia )


Sean menjauh dari azza


" Hah ?? "


Penjaga itu tidak mengerti


" Tuan muda meminta saya untuk melawan anda , maksudnya bertarung "


Sitter azza menjelaskan


" Eh.. melawan anda nona muda eh.... Saya.... "


Penjaga itu ragu ragu dan menggaruk kepalanya


" Ayo aman lalan ia "


( Ayo paman lawan dia )


Sean menarik-narik celana panjang pengawal itu


" Hahaha "


Sitter azza terkekeh melihat pengawal itu yang seakan tidak bisa menolak permintaan Sean


" Ba..baik tuan muda "


Pengawal itu mengangguk


" Yeey , bawa ean e apapa "


( Yeeey , bawa Sean ke papa )


Sean berjalan menghampiri azza


" Baik tuan muda "


Sitter azza membawa Sean kepada Sbastian


Setelah itu sitter azza kembali kepada pengawal itu dan mulai memasang kuda-kuda


" Saya akan membuat diri saya kalah agar tuan muda menjadi senang , jadi anda tidak perlu terluka juga "


Pengawal itu memberi usul


" Jika seperti itu maka tuan muda akan sangat kecewa "


Azza memprovokasi


" Tapi nanti anda akan terluka "


Pengawal itu ragu


" Tapi nanti hati kecil tuan muda juga terluka "


Azza semakin memprovokasi


" Baik baik lawan saya sekuat tenaga "


Pengawal itu memutuskan


" Baiklah bersiap ya "


Azza memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang


" Hyat "


Tanpa aba-aba saat pengawal itu sudah siap , azza langsung melancarkan serangan


Azza menendang dada pengawal itu dan membuat pengawal itu mundur beberapa langkah


" Astaga apa tadi "


Pengawal itu terkejut


" Bukankah saya bilang untuk bersiap "


Azza kembali memasang kuda-kuda


" Ternyata anda tidak bisa di remehkan nona muda , maafkan


Pengawal itu mulai serius dengan azza


" Hahaha mari tuan "


Azza dan pengawal itu mulai adu mekanik


Mereka berdua saling menendang dan membalas serangan


" Hahahaha hebat hebat"


Sean tertawa girang melihat pertarungan sengit antara azza dan pengawal itu


" Gadis itu lebih dari yang ku kira "


Asisten John membatin


" Wajahnya memerah "


Sbastian memperhatikan wajah asisten John yang sudah memerah dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya


" Aku rasa akan ada yang menikah "


Sbastian memalingkan pandangannya


" Cukup "


Suara Sbastian membuat pertarungan berhenti


" Yey yey tatak ebat "


( Yey yey kakak hebat )


Sean melompat girang di dalam gendongan Sbastian


" Kamu membuktikan bahwa kamu layak , sekarang aku serahkan Sean padamu , jaga dia baik-baik selama aku tidak di rumah , jika aku di rumah kamu bebas dari tanggung jawabmu , aku kagum padamu "


Sbastian membiarkan Sean turun dari gendongannya dan menghampiri azza


" Capa namamu "


( Siapa namamu )


Sean memegangi kaki azza


" Nama saya Mila , Mila Az-Zahra "


Azza menjawab pertanyaan Sean


" Apapa... Alau ang lawat ean tuh amanya apa "


(Papa.... Kalau yang merawat Sean itu namanya apa )


Sean menatap Sbastian


" Baby sitter "


Sbastian menjawab


" Ali gitu amu ittel Az-az "


( Kalau begitu namamu sitter az-az )


Sean memberi nama seenaknya


" Baiklah hahaha "


Sbastian tertawa


" Baik tuan muda "


Sitter azza mengangguk


Flashback off


" Oh.... Kalau Mao bisa mengalahkan mereka sendirian "


Mao membanggakan diri


" Benarkah "


Sbastian menatap Mao intens


" Kalahkan mereka jika bisa "


Sbastian memberi kesempatan


" Baik tuan "


Mao maju dengan riang mendekati para penjaga

__ADS_1


__ADS_2