
Perjalanan sbastian menuju ke Fila miliknya menempuh waktu setengah jam
Sean yang tadi tertidur di dalam pelukan sbastian kini menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya akan bangun dan menyambut tempat baru
Fila sbastian terletak di sekitar pantai
Fila dengan dua lantai
Fila itu hampir semuanya terbuat dari marmer putih
Di dalamnya di lengkapi dengan perabotan berwarna hitam putih dan satu kolam renang besar di belakang Fila
Jika berdiri di balkon Fila maka akan di sambut dengan pemandangan pantai yang indah dan laut biru yang menyejukkan mata
Taman bunga berada di sisi kanan Fila , dengan berbagai macam tanaman yang habitatnya memang di pegunungan
Di sisi kiri Fila terdapat rumah kaca yang berisikan berbagai macam buku
Di depan Fila sudah di siapkan tempat bermain untuk anak anak
Di dalam moobil sbastian di isi dengan pak Sam di bangku depan , aji sebagai supir dan Sean yang ada di pangkuan sbastian
Dan satu mobil lainnya yang di isi dengan sitter azza juga asisten John serta bi Aini yang terbengkalai di bangku belakang
" Beruntung sekali aku semobil dengan mereka , sukur hp ku ngak ikut masuk koper , kalo hp ku ini masuk koper , jadilah aku manekin hidup di sini , hello ada manusia di belakang kalian "
Gerutu bi Aini di dalam hati
Saat memasuki Fila mereka di sambut oleh beberapa pelayan pria dan pelayanan wanita yang di tugaskan untuk mengurus Fila itu
Tak lama setelah sbastian turun dari mobil , sebuah mobil BMW putih yang memasuki halaman Fila
Turunlah dua dokter dari dalam mobil dengan pakaian kedokteran yang lengkap
" Kalian sudah datang "
Sapa sbastian
" Salam tuan "
Mereka memberi salam kepada sbastian
" Anggap saja sebagai liburan "
Kata sbastian
" Terimakasih tuan "
Kata mereka berdua
" Kalian semua beristirahat saja dulu , ayah juga , aku akan tidur siang dengan Sean "
Sbastian kembali meninabobokan Sean yang masih setengah sadar
Dan alhasil Sean yang sedikit lagi tersadar , kini tertidur kembali
Pukul tiga sore Sean terbangun ,
Karena menyadari dirinya ada di tempat yang asing dan juga sbastian yang tidak terlihat sejauh mata memandang mulailah Sean menangis dan memanggil nama papanya yang tidak terlihat
" Apapa "
Sean menangis dan memanggil sbastian dengan keras
Hingga mengakibatkan sbastian yang baru saja ingin merapikan pakaian Sean dan pakaian dirinya sendiri , terbentur pintu kayu lemari kecil milik sean yang belum di tutup
" Iya Sean sebentar , sebentar "
Sbastian mengeluarkan suaranya agar Sean tau bahwa papanya ada di sekitarnya
" Apapa "
Sean beranjak duduk dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan papanya
Sbastian menuju ke arah Sean dari tempat almari pakaian yang berada di belakang sandaran kepala tempat tidur miliknya
Itulah yang membuat Sean tidak mengetahui keberadaan papanya
" Papa di sini "
Sbastian mengelus kepala Sean dan mendudukkan dirinya di lantai agar sejajar dengan Sean yang duduk agak menepi di tempat tidur
" Adek laper ??"
Tanya sbastian dan di angguki oleh Sean
" Okey kita makan yuk , mau susu rasa apa . oh iya adek tadi pagi belum minum obat ya , nanti abis makan minum obat ya , biar cepat sembuh "
Sbastian berkata dan di angguki oleh Sean
" Au usu lasa sobei , api ean dak au akan bubul"
( Mau susu rasa strawberry , tapi Sean ngak mau makan bubur )
Kata Sean dengan nada pelan
__ADS_1
" Terus mau makan apa "
Sbastian bertanya kepada Sean
" Au akan asi "
( Mau makan nasi )
Sean menjawab
" Bubur kan nasi "
Kata sbastian
" Tapi ait , ean dak au "
( Tapi pait , Sean ngak mau )
Kata Sean menutup mulutnya
" Kalo gitu buburnya di kasih gula , nanti papa bilang sama sitter azza "
Jawab sbastian
" Eang alo asi ula dak ait "
( Emang kalo di kasi gula ngak pait)
Tanya Sean penasaran
" Ya enggak lah , gula kan manis "
sbastian menerangkan
Sbastian menggendong Sean keluar kamar dan mencari keberadaan sitter azza
Setelah sampai di lantai dasar Fila , sbastian menemukan asisten John yang membawa beberapa berkas
" Sitter azza di mana"
Tanya sbastian kepada asisten John yang sedang membawa beberapa berkas
" Tadi ada di kebun tuan , katanya sedang memetik buah "
Kata asisten John
" Oh .... Terimakasih John "
Kata sbastian berjalan meninggalkan asisten John
" baik tuan "
Setelah menemukan sitter azza , sbastian meminta untuk di buatkan bubur manis dan susu rasa strawberry
Setelah makan bubur di teras Sean meminta untuk pergi ke pantai yang ada di depan Fila
"Apapa itu aut ya "
( Papa itu laut ya )
Tanya Sean
" Iya itu laut , ini yang papa injak , namanya pasir pantai "
Jelas sbastian
" Kok alnana uti , ata uku asil itu alnana uning "
( Kok warnanya putih , kata buku itu warnanya kuning )
Tanya Sean
" haha , itu tergantung lautnya "
Jawab sbastian
" Tok isa "
( Kok bisa)
Tanya Sean kembali
Sbastian menceritakan tentang ekosistem laut yang membuat Sean mengantuk dan mulai meletakkan kepalanya di pundak sbastian
" Eh anak papa tidur "
Sbastian tersadar bahwa dirinya sedari tadi dirinya berbicara sendiri
Sbastian membawa Sean masuk dan menidurkan Sean di tempat tidurnya
Tidak lama setelah itu sbastian menunaikan ibadah sholat magrib , di saat sbastian mulai menunaikan ibadah nya terdengar suara Sean yang memanggil manggil
" apapa anana "
( Papa dimana )
__ADS_1
Sean mencari keberadaan sbastian
Sbastian yang mendengar panggilan Sean , mengeraskan bacaan sholatnya agar Sean tidak mencari
" Apapa agi olat "
( Papa lagi sholat )
Sean bergumam sendiri
Sean melempar semua bantal yang ada di atas tempat tidur , Sean melempar bantal ke bawah tempat tidur
Sean turun perlahan dari atas tempat tidur dan membuat bantal yang di lemparnya tadi menjadi matras darurat agar tubuhnya tidak sakit saat menuruni tebing mini yang lembut
" Apapa olat a amana ya "
( Papa sholatnya di mana ya )
Sean bangkit dari duduknya di atas bantal berjalan mengelilingi ruangan hingga menemukan sbastian yang tengah sholat di suatu ruangan
" Papa di sini ternyata "
Sean membatin
Sean mendudukkan dirinya di belakang sbastian
"Tungguin papa ah , papa abis sholat Sean mau main "
Gumam Sean sambil membenarkan duduknya yang terganjal oleh popok
" Popok lagi , Sean kan udah besar , kalo Sean mau buang air kan Sean bisa bilang , ngapain juga di kasi popok "
Gerutu Sean dengan berbahasa bayi
Setelah membenarkan duduknya yang terganjal , Sean kembali berfikir
Jari telunjuknya di letakkan di dagu , kakinya bersila dan tangan satunya menyangga tangan lainnya
" Papa nanti banyak kerjaan ngak ya . Tapi Sean mau main sama papa , kalo sama az-az ngak boleh begini ngak boleh begitu , sebenernya yang bayi itu Sean apa az-az sih , sebel deh sama az-az"
Sean mengerucutkan bibirnya yang mungil lalu kembali berfikir
"Kalo sama kakek pasti mainnya harus di dalam , tapi Sean kan mau keluar , di dalam kan ngak bisa hidup udara segar , kalo di luar kan enak , dingin "
Sean menggerutu pelan
"Aha sama Paman John aja , eh ngak ah nanti di acuhin , kan paman John kerjaan mulu di sini kerja , di sana kerja , paman John emang gila kerja , padahal kalo Sean tau papa kerja tengah malam Sean akan marahin sampek satu jam , huh dasar paman John nakal "
Sean menggerutu tentang asisten John yang gila akan kerjaan
Sean memang akan memarahi papanya saat tau papanya lembur melebihi jam sembilan malam , yah meskipun ocehan Sean malah menjadi penghilang penat setelah lelah bekerja seharian
" Aha atu au "
( Aha aku tau )
Sean mengangkat jari telunjuknya
" Tau apa "
Suara sbastian menyadarkan Sean bahwa dirinya terlalu keras berbicara
" Hehehe , apapa udah olat "
( Hehehe , papa sudah solat )
Sean cengengesan melihat papanya yang sudah melepas peci dan sarungnya
" ean au ain pa , api ean ngak ain Ama apapa , ean uga gak ain Ama az-az , ean uga gak ain ama aman Jon "
( Sean mau main pa , tapi Sean ngak main sama papa , Sean juga gak main sama az-az , Sean juga gak main sama paman John )
Jawab Sean girang
" Terus Sean mau main sama siapa "
Tanya sbastian
" Ada deh "
Jawab Sean
" Sama kakek "
Tanya sbastian
" Ngak "
Jawab Sean kembali
" Lha terus "
Tanya sbastian penasaran
" Anti apapa tau "
__ADS_1
( Nanti papa tau )
Jawab Sean dengan nada ketus