
Setelah Sean melakukan ritual mencuci tangan sebelum makan , Sean turun ke bawah bersama sbastian
" Apapa , akanaya apa ya lini "
{ Papa , makanannya apa ya hari ini }
Tanya
" Sekarang hari Selasa , mungkin sayur"
Jawab sbastian
" Ayul , em.... Enyak"
( Sayur , Hem..... Enak )
Sean membayangkan akan makan sayur penuh kuah dengan nasi hangat dan lauk yang masih hangat dan di lumuri sambal manis kesukaannya
" Hahahaha..... Astaga anak papa , kenapa kamu lucu sekali "
Sbastian mencubit pipi sbastian yang tembem
" Apapa uda ucu , ahahaha "
( Papa juga lucu ahahaha....)
Sean menirukan suara dan gaya yang sbastian keluarkan tadi dengan nada tawa yang khas
" Papa kan emang lucu "
Kata sbastian mengedip-ngedipkan mata
" Ataga apapa "
( Astaga papa )
Sean menepuk keningnya melihat kelakuan sbastian
" Kakak narsis banget sumpah"
Gerutu lili
" Ngidam apa mama pas lagi hamil orang ni , ngenes gue punya kakak kayak gini"
Leon menggerutu di dalam hati
Sesampainya di dapur , mereka berempat berdiri di belakang kursi masing-masing saat akan menarik kursi dan mendudukinya mama sbastian mengeluarkan suaranya yang terdengar sangat sinis
" Kenapa dia duduk di sini "
Kata mama sbastian melihat Sean di dudukan di samping sbastian
" Apa sih mama , makan aja di permasalahin "
Sbastian mendudukkan Sean di
Kursi khusunya
" Sudah sudah , ayo kalian semua duduk , jangan berdiri aja "
Titah papa sbastian
" Sean mau lauk apa "
Tanya lili
" Au di abil apapa ja "
( Mau di ambilin papa aja )
Sean memberikan senyum kecilnya yang manis di antara pipi yang gembul dan menunjukkan giginya yang putih bersih
" Aku ngak ngerti , tapi akh.... Senyumanmu menusuk di hati Sean ku sayang "
Lili memegangi wajahnya dan berteriak kecil karena senyuman Sean yang menawan
" Alay lu dek "
Tegur lion
" Biarin , ble.... "
Lili menjulurkan lidahnya mengejek Leon
" Sabar Leon , dia adek lu jangan di Gibeng "
Gerutu Leon dalam hati
" Mama udah ngak napsu makan liat anak pungut "
Mama sbastian melempar garpu yang di samping piring ke atas piring , dan berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang ada di meja makan
" Sudah jangan hiraukan mama , ayo semuanya makan "
Titah papa
" Iya pa "
Lili dan Leon mengambil lauk dan nasi yang di sediakan di meja makan
" Kok cuma satu piring kak "
Tanya lili
" Iya , kakak makan sama Sean "
Jawab sbastian
Saat semuanya akan memasukkan makanan ke dalam mulut mereka , Sean mengeluarkan suara khasnya yang cadel
Sean membaca doa sebelum makan di awali dengan basmalah di sertai artinya dan di akhiri dengan hamdalah
Sbastian ikut mengangkat tangan saat Sean membaca doa akan makan
Semua orang tertegun
Baru kali ini mereka mendengar kalimat itu , namun bagi papa sbastian kalimat itu adalah kalimat yang sudah lama ia lupakan dari kehidupannya
Papa sbastian menitikkan air mata , mengingat terakhir kali dirinya mengingat membaca kalimat itu adalah saat mendiang nenek sbastian masih ada , setelah mendiang nenek sbastian meninggalkan papa sbastian , papa sbastian tidak pernah melakukan itu lagi
" Papa kenapa "
Pertanyaan lili membuat semua yang ada di meja makan mengalihkan pandangannya
" Ah tidak , papa hanya mengingat sesuatu"
Jawab papa sbastian
" Apapa udah enel elum doa ean"
( Papa sudah bener belum doa Sean )
Pertanyaan Sean mengalihkan pandangan semua orang kepada dirinya kembali
" Sudah , anak papa emang paling pinter , persisi kayak papa "
Bangga sbastian
__ADS_1
" Serah kao kak "
Gerutu lili
" Hahaha , sudah sudah sekarang kita makan "
Kata papa sbastian
Makan malam di penuhi dengan keceriaan karena kelucuan Sean di meja makan yang mengundang perhatian semua yang ada di meja makan
" Apapa au cucu"
( Papa mau susu)
Pinta Sean
" Lho Sean masih kecil mau cucu , hahahaha "
Lili tertawa terbahak-bahak
" Bukan cucu adek , tapi susu dengar ya susu , buat minum "
Jelas Leon geram akan kelakuan sang adik
" Oh.... Mau minum susu toh "
Lili mengangguk mengerti
" Susu rasa apa Sean "
Tanya sbastian
" Lasa stobei"
( Rasa strawberry )
Sean bertepuk tangan dengan gembira mengingat saatnya minum susu
Setelah sbastian membawa susu strawberry dalam gelas kecil khusus untuk Sean , Sean meminum susu itu dengan tenang menggunakan sedotan berbentuk hati
" Sbastian "
Papa sbastian memanggil
" Iya pa "
Sbastian menoleh
" Bisa kita bicara nak "
Pinta papa sbastian
" Bisa pa , kita ke ruang kerja sbastian saja"
Kata sbastian menyanggupi
" Eh singa kembar , aku titip Sean , awas kalo lecet " ancam sbastian
" Iya iya kakak galak "
Jawab lili berdiri
" Emang barang , bisa lecet , dasar orang gila "
Gerutu hati Leon
Sbastian dan papanya berjalan menuju ruang kerja sbastian
Setelah sampai di sana mereka menutup pintu dan duduk di sofa yang ada di dalam sana , di temani dengan beberapa camilan di atas meja
" Kapan kamu menemukan Sean "
Tanya papa sbastian
Jawab sbastian
" Kenapa kamu mengadopsi Sean "
Tanya papa sbastian
" Saat aku menemukan Sean , aku teringat akan putraku " sbastian berhenti sejenak "aku memutuskan untuk merawatnya , dan dia sudah menjadi putraku sekarang "
Jawab sbastian
" Nak , apa kamu tidak memikirkan orangtuanya , bagaimana jika mereka mencarinya "
Papa sbastian bertanya dengan lembut
" Aku sudah mencari identitas Sean sejak aku menemukannya pa , tapi tidak ada titik terang "
Jawab sbastian menatap mata papanya
" Bagaimana jika sebentar lagi identitas Sean akan terungkap "
Tanya papa sbastian
" Aku akan menyerahkan Sean kepada orangtuanya "
Sbastian menunduk
" Namun jika Sean kembali kepada keluarganya , Sean tetaplah putraku "
Jelas sbastian kembali menatap mata papanya
" Bagaimana kamu menemukan Sean nak "
Tanya papa sbastian
Sbastian menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat
" Boleh papa melihat kotaknya "
Tanya papa sbastian
" Kotaknya ada di kamarku pa , ayo kita ke sana "
Kata sbastian
Mereka menuju kamar sbastian menggunakan lift dan langsung masuk kedalam ruang ganti milik sbastian
" Ini pa "
Sbastian menunjukkan kotak itu yang ada di tengah ruangan di atas meja , di antara etalase jam tangan dan dasi milik sbastian
" Astaga indah sekali "
Papa sbastian mengamati kotak bayi Sean
" Apa ada surat atau lainnya "
Tanya papa sbastian
" Ada , kalung liontin dan juga sepucuk surat , liontin itu ada di dalam kotak sedangkan aku menyimpan suratnya "
Sbastian mengambil surat yang dia simpan di dalam laci
" Apa ada kuncinya , kenapa tidak bisa di buka "
__ADS_1
Tanya papa sbastian
" Kotak itu tidak bisa di buka lagi sejak Sean berumur lima bulan , aku juga tidak tau penyebabnya dan ini suratnya"
Sbastian memberikan surat yang ada di tangannya
" Tulisan apa ini "
Papa sbastian bingung melihat tulisan yang aneh dan tidak pernah dia kenal
" Aku sudah meminta para peneliti mencari tahu bahasa apa ini , namun sampai sekarang hasilnya tidak kunjung di dapatkan "
Jelas sbastian
" Apa hanya para peneliti saja "
Tanya papa sbastian
" Sudah semuanya pa , guru , dosen , ahli bahasa , sudah aku tanyakan semuanya "
Jelas sbastian
" Lalu kalungnya "
Tanya papa sbastian
" Ada fotonya , sebentar "
Sbastian mengambilkan cetakan foto kalung milik Sean
" Sangat indah , ini , aku tidak pernah melihatnya , ini batu permata , namun jenis apa "
Papa sbastian berfikir batu mulia apa yang ada di kalung Sean
" Apa papa tau "
Tanya sbastian
" Tidak ini jenis baru "
Kata papa sbastian
Papa sbastian adalah pecinta batu mulia , jadi papa sbastian mengetahui berbagai jenis batu
" Kakak "
Lili berteriak memasuki kamar
" Kenapa lagi "
Sbastian bertanya
" Itu kak Sean "
Jawab lili gugup
" Sean kenapa "
Sbastian bertanya dengan nada terkejut
" Sean jatoh , lututnya berdarah "
Jawab lili dengan nada pelan
" Astaga Sean "
Sbastian berlari di susul oleh lili dan papa sbastian menuruni tangga yang tinggi
" di mana Sean "
Tanya sbastian
" Di halaman belakang "
Jawab lili
" Kan sudah di bilangin , jangan main ke belakang "
Gerutu sbastian
" Tapi bukan aku yang minta "
Jawab lili
Sbastian berlari ke halaman belakang dan melihat Sean di gendong oleh pak Sam dan beberapa pelayang yang berdiri di bekang pak Sam mencoba menenangkan Sean
" Kenapa ini "
Tanya sbastian
" Tuan muda terjatuh dan lututnya berdarah tetapi tuan muda tidak mau lututnya di obati "
Jelas sitter azza
Sean kini sudah berada di dalam pelukan sbastian
" Gak papa , anak laki laki ngak boleh nangis , kan cuma jatuh "
Sbastian mencoba menenangkan Sean
" Itu hiks.... Ani atal pa hiks... "
( Itu hiks.... Ani nakal pa hiks...."
Sean menunjuk ke arah taman bunga mini milik sbastian
" Benarkan , lalu kenapa kamu main di sini malem malem , kan papa udah bilang ngak boleh keluar pintu rumah kalau matahari sudah tenggelam , Sean nakal ya "
Sbastian bertanya kepada Sean sambil berjalan masuk
" Sitter azza , bawakan p3k ke ruang tamu "
Perintah sbastian
" Atit apapa hiks.. "
( Sakit papa hiks.. )
Sean menangis saat lututnya di basuhbdi wastafel
" Ini hukuman Sean , kenapa bandel "
Sbastian membasuh lutut Sean perlahan
" Ia apapa hiks... ean alah hiks... Ain ean apapa hiks... "
( Iya papa hiks... Sean salah hiks... Maafin Sean papa hiks... )
Sean sesenggukan di pinggiran wastafel karena lututnya masih di basuh oleh sbastian
Setelah itu Sbastian membawa Sean menuju ruang tamu , sitter azza sudah ada di sana membawa p3k untuk Sean
" Siapkan baju tidur Sean di kamarku "
Titah Sean
" Baik tuan "
__ADS_1
Salah satu maid berjalan menuju kamar Sean