Aku Pangeran

Aku Pangeran
#109 ( saudara )


__ADS_3

" Hm.... Kamu mau sekolah "


Sean bertanya


" Maaf tuan "


Kanesya terkejut


" Apa kamu mau sekolah Kanesya "


Sean bertanya kembali


" Saya tidak punya cukup uang , jadi sebentar lagi saya hanya akan menyekolahkan Camelia saja "


Kanesya menjawab


" Kamu akan sekolah sama Camelia nanti"


Sean menjawab


" Apa tuan "


Kanesya terkejut


" Otakmu lemot ya hahaha "


Sean tertawa


" Tuan serius "


Kanesya terbelalak


" Emangnya aku main-main "


Sean tersenyum kecil


" Mau tuan , saya mau sekolah "


Kanesya menjawab dengan antusias


" Tapi uangku "


Kanesya menggumam


" Kamu akan ku sekolahkan "


Sean menyahuti


Terlihat senyum lebar di wajah kecil Kanesya


" Saya akan bekerja dengan giat , saya akan membayar semua yang anda lakukan untuk saya saat saya sudah besar nanti "


Kanesya berantusias


" Tidak perlu , kamu hanya perlu belajar dengan rajin , jadilah orang sukses suatu saat nanti , itu bayaran yang aku mau "


Sean mengusap kepala Kanesya


" Iya tuan saya janji , saya akan belajar dengan giat , semuanya akan saya pelajari"


Kanesya mengangguk dan terlihat senyum cerah di wajahnya


" Asah otakmu sesuai kemampuanmu , jangan di paksakan jika kamu tidak bisa"


Sean memberitahu


" Saya mengerti , apa yang saya bisa itu yang harus saya pelajari dengan tekun "


Kanesya menjabarkan kalimat Sean


" Bagus... Kamu pintar "


Sean tersenyum


" Hahaha terimakasih tuan "


Kanesya memeluk Camelia yang sibuk dengan toples permennya


" Ini gimana , gak bisa di buka "


Camelia mengocok toples permennya


" Hahaha kakak bantuin "


Kanesya membantu adik kecilnya


" Kakak mau permen "


Camelia menawari Sean dan Adimas


" Makasih "


Adimas mengambil permen dari Camelia


" Makanlah , itu untukmu "


Sean menutup tangan Camelia yang terulurkan untuknya


" Makasih kakak "


Camelia dengan semangat memakan permen di pangkuannya


" Astaga , itu mobil tuan besar "


Mao membuat Adimas tersedak ludahnya sendiri


"Uhuk..uhuk... Beneran... Gawat "


Adimas menelan ludahnya


" Biar saja "


Sean menjawab dengan enteng


" Tapi nanti kita ketahuan kalau ngak belajar"


Adimas mengguncang Sean


" Tenanglah "


Sean menepuk pundak Adimas


" Mao "


Sean memanggil


" Sudah tuan "


Mao mengangguk


" Apanya "


Adimas mengerenyitkan keningnya


" Saya mengganti plat nomor dan mengeluarkan sedikit hiasan untuk mobil"


Mao menjawab


" Kapan "


Adimas memiringkan kepalanya


" Beberapa detik yang lalu "


Mao menjawab


" Hah...?? "


Adimas masih kebingungan


*Ckiiit


Mobil berhenti di lampu merah


*Sret


Terlihat mobil Sbastian berhenti tepat di samping mobil Sean


" Sepertinya mereka mengenali kita "


Mao berbicara


" Ahahaha kamu sudah mengganti penampilanmu "


Sean tertawa melihat rambut Mao yang sudah di gerai dengan bando pink dan poni panjang yang menghiasi sekitar bando


" Sudah tuan "


Mao mengangguk


" Kemarilah Camelia "


Sean membawa Camelia kedepan


Terlihat Sbastian dan Adinda memperhatikan mobil Sean


" Siapa yang menjadi supir papa "


Sean bertanya


" Itu tuan John "


Mao menjawab


" Pengawal masih menjaga kan "


Sean memastikan


" Iya "


Terlihat beberapa pengawal membawa sepeda motor dan mobil


" Bagus "


Sean kembali duduk


" Nah Camelia , lihat apa yang kakak punya"


Sean mengeluarkan notebook miliknya


" Waaaah laptop "


Camelia tercengang


" Sini "


Sean mendudukkan Camelia di atas pangkuannya dan menayangkan sebuah film anak-anak


" Kamu mau apa lagi "


Adimas bertanya


" Hahaha "


Sean tertawa


Masangger


__________


Anda: papa , hp Sean mau di charger dulu✓


Anda: jadi hp nya mau di matiin dulu ✓


__________


" Hahaha "


Sean tertawa


" Kamu pandai ngelabui papa "


Adimas menonyor kepala Sean


" Sean gitu loh hahaha "


Sean tertawa bangga


" Tapi kupluk mu "


Adimas menunjuk kupluknya


" Biarin , ngak cuma aku orang yang botak"


Sean mengibaskan tangannya


Setelah lampu hijau menyala , Aloe melajukan mobilnya namun sepertinya Sbastian masih penasaran sehingga Sbastian mengikuti mobil Sean hingga masuk ke area perumahan yang tidak asing untuk Sbastian


Di dalam mobil


" Berhenti "


Sbastian mengentikan laju mobil


" Jika terus maju , kita akan langsung ke rumah utama , aku tidak mau kesana jadi ayo pulang , lagipun Sean tidak akan pernah ke sini "


Sbastian membuat keputusan


" Baik "


John memutar balik kemudinya dan melajukan mobil menuju rumah


" Hahaha papa tidak akan pernah kesini lagi"


Sean terkekeh


" Kenapa "


Adimas bertanya


" Kenangan buruk pernah terjadi di sini "


Sean tersenyum kecil


" Kenangan apa "


Adimas bertanya


Dulu....


Pagi hari pukul 04.00


" Kakek kakek ini apa "


Sean kecil bermain di sekitar kolam bersama dengan pak Sam


" Ini namanya bunga anggrek "


Pak Sam memberitahu


*Bruuuut


Terdengar sebuah suara yang tidak asing


" Iiihhhh kakek bau "


Sean menutup hidungnya


" Aduh Sean , kakek mau ke kamar mandi nih"


Pak Sam memegangi perutnya


" Ya udah sana "


Sean mengusir pak Sam


" Wow ada dua bulan "


Sean berlari mendekati kolam


" Hahahaha "


Sean mulai bermain air


Sean bermain air cukup lama dan dirinya duduk di tepian kolam sambil menceburkan kakinya ke dalam air


*Byur


suara air yang tidak terlalu keras mengejutkan Sbastian yang ada di dapur


" Kenapa Sean "


Sbastian berteriak namun tidak ada sahutan


Sbastian berjalan menuju kolam untuk mengecek


" Sean "


Sbastian melihat Sean sudah mengambang dan setengah sadar di tengah-tengah kolam


Spontan Sbastian berlari


*Byur


Sbastian langsung saja mengangkat Sean ke daratan


" Bertahanlah nak "


Sbastian langsung saja melakukan CPR untuk Sean dengan ajaran dokter khusus Sean


" Uhuk...uhuk... "


Sedikit air keluar dari mulut kecil Sean


" Tuan "


Beberapa orang datang


" Ke rumah sakit sekarang "


Sbastian berlari di ikuti beberapa orang dan langsung tancap gas menuju rumah sakit


Itu membuat Sean di rawat selama beberapa hari dan Sean sempat tidak sadarkan diri selama beberapa saat


End...


" Siapa yang melakukannya "


Adimas bertanya


" Nenek "


Sean menjawab


" Astaga , benarkah "


Adimas terkejut


" Iya "


Sean mengangguk


" Gimana "


Adimas mendekat


" Nenek mengangkat ku dari belakang lalu melemparkan aku hingga ke tengah kolam orang dewasa , padahal aku bermain di kolam anak-anak "


Sean memberitahu


" Terus-terus "


Adimas semakin penasaran


" Saat di lempar , aku merasa tubuhku terbentur lantai kolam , dan kolam itu dalamnya se dada papa "


Sean kembali menjelaskan


" Bagaimana bisa kamu tau itu nenek "


Adimas menuntut


" Saat di lempar , aku melihat gelang kayu yang selalu di pakai nenek , setelah papa mengecek CCTV kolam , papa melihat memang nenek yang melemparkan aku ke tengah kolam "


Sean menceritakan


" Wow... Pengalaman yang buruk "


Terlihat Adimas menggigit jarinya tanda dia sedang berpikir


" Kita sampai "


Mao terlihat sudah kembali seperti awal


" Kamu cepat sekali Mao hahaha "


Sean terkekeh mengejek

__ADS_1


" Apa sih tuan "


Mao memonyongkan bibirnya


" Woooow "


Camelia ternganga dengan rumah besar Sean dengan halaman yang luas di penuhi rumput hingga halaman belakang


" Berbeda sekali dengan rumah papa "


Adimas melihat sekeliling


" Di rumah itu selera bunda , jadi papa suka , jika bunda tidak suka maka papa juga akan menolaknya "


Sean menurunkan Camelia dari gendongannya


" Tuan.... Dimana saya harus bekerja "


Kanesya bertanya


" Dengar ya kecil "


Sean menepuk kepala Kanesya yang memang masih sependek pinggangnya


" Kamu tidak perlu bekerja , hanya perlu belajar "


Sean menggosok kuat kepala Kanesya


" Tapi tuan... "


Kanesya terlihat tidak enak


" Kamu harus banyak belajar dan makan yang banyak , apa apaan tinggimu ini "


Sean mengejek


" Tuan saja yang terlalu tinggi huh... "


Kanesya rada sensi jika menyinggung soal tinggi badan


" Iya iya dasar pendek hahaha "


Sean tertawa


" Tuan Seaaan "


Kanesya terlihat kesal


" Sudah sudah ayo masuk "


Sean mengambil Camelia yang akan berguling-guling di atas rumput


" Ayo Kanesya "


Sean memanggil


" I..iya "


Kanesya berjalan mengikuti Sean


Jantung Kanesya berdebar , rumah terbesar yang pernah dia tempati adalah rumah tuan Juan , dan saat ini dirinya masuk ke dalam rumah yang lebih besar lagi


" Kenapa Kanesya "


Sean bertanya saat melihat Kanesya berhenti di pintu masuk


" S..saya rasa saya tidak pantas "


Kanesya menunduk


" Hei kecil "


Sean menghampiri Kanesya


" Aku di sini tuan rumah , jika ada yang membuatmu dan gadis kecil ini menangis , aku bisa mencongkel kedua matanya "


Sean membuat Kanesya terkejut


" Anda bercanda "


Kanesya mengerenyitkan keningnya


" Sekarang buatlah agar mata para pelayan di sini tidak di congkel , jadilah gadis baik yang mendengarkan kata-kata kakaknya"


Sean tersenyum manis


" Kakak.... "


Kanesya kebingungan


" Mulai sekarang panggil aku kakak "


Sean membelai lembut kepala Kanesya


" K..ka..kakak "


Kanesya terlihat gugup


" Gadis kecil pandai "


Sean mengusap lembut kepala Kanesya


" Ayo masuk "


Sean menggandeng tangan Kanesya


" PERHATIAN "


Suara Mao menggelegar membuat Kanesya dan Camelia terkejut


*Drap...drap...drap...


Langkah kaki para pelayan menggema dan terlihat rapih mereka setelah berbaris


" Ini namanya Kanesya , ini namanya Camelia , dia adik angkatku "


Sean memperkenalkan Kanesya dan Camelia


" Selamat datang nona muda "


Mereka semua memberi hormat


" Bagus "


Sean tersenyum


" Jaga mereka agar mata kalian tidak hilang"


Sean tersenyum manis


" Baik tuan "


Mereka semua menunduk hormat


" Dimana Clear "


Sean bertanya


" Saya tuan "


Seorang pelayan perempuan cantik maju ke depan


" Kalian berdua "


Sean berlutut dan menyamakan Camelia dan Kanesya


" Ini adalah Clear , dia adalah tangan kananku di sini , kalian bisa mempercayainya"


Sean tersenyum


" Dan Clear , ini adalah nona muda yang harus kamu layani "


Sean memperkenalkan


" Saya dengan segenap hati melakukannya "


Clear membungkuk hormat


" Sudah hampir malam kita harus kembali "


Sean melihat jam dinding besar di tengah ruangan


" Kalian nyamankan diri di sini , ini sekarang adalah rumah kalian , aku akan menjenguk kalian setiap pulang sekolah atau jika ada kesempatan aku akan menginap "


Sean mengecup kening Camelia


" Kakak pergi "


Camelia memeluk leher Sean


" Dengar ya "


Sean menatap manik lebar milik Camelia


" Kakak akan kesini setiap ada kesempatan , jadi setiap kesempatan itu datang , kakak ingin melihat kamu tumbuh dengan baik... Apa kamu mengerti "


Sean menoel pipi Camelia


" Iya "


Camelia mengangguk


" Anak baik "


Sean memeluk Camelia cukup lama


" Nah kakak pergi ya "


Sean menurunkan Camelia


" Babay cantik "


Sean melambaikan tangannya


" Babay "


Camelia membalas lambaian tangan Sean


*Blam


Pintu tertutup


" Nah nona nona muda , saatnya membersihkan diri "


Para maid terlihat agak menyeramkan


" Kakak "


Setelah waktu yang lama


"Kyaaaaaaa nona Camelia sangat lucu "


Para maid menghias Camelia secara detail hingga terlihat seperti sebuah Barbie untuk pajangan


" Kirim ke kepala pelayan , biar tuan muda melihatnya "


Para maid sibuk memotret Camelia


" Ini nona pegang bonekanya "


Camelia di berikan boneka Teddy bear kecil


" Kyaaaaaaa nonaku cantik sekali "


Para maid terlihat sangat puas


" Ekhem.... "


Clear berdehem di tengah pintu


" Ah iya ayo makan nona "


Para maid membawa Camelia turun ke bawah


" Kakak "


Camelia berlari memeluk Kanesya yang baru keluar dari kamar


" Astaga Camelia jangan lari-lari "


Kanesya menyambut Camelia ke dalam pelukannya


*Ckrek


terlihat sebuah blitch kamera


" Saya mau mengirimkannya kepada tuan"


Clear mencari alasan


" Pasti kepala clear juga tau kalau nona nona muda sangat imut "


Para maid terkekeh


" Ayo turun nona "


Clear membawa kedua saudara perempuan itu turun ke bawah karena kamar mereka ada di lantai dua


Di ruang makan


" Waaaahhhh sangat banyak "


Camelia tercengang dengan makanan yang ada di sana


" Ini terlalu banyak , kami tidak akan bisa habiskan nanti "


Kanesya terlihat ragu


" Oh nona muda , anda makan saja yang anda mau makan , jika tuan ada di sini , maka tuan juga akan kami siapkan seperti ini"


Clear memberitahu


" Makasih ya kakak "


Camelia tersenyum manis


" Kyaaaaaaa sama sama nona muda sayang"


Para maid terlihat sangat antusias


*Ckrek


Clear memotret kedua nona muda


Di rumah Sean pukul 20.00


*Ting


Hp Sean berdering saat Sean berkumpul di ruang tamu bersama keluarga setelah makan malam


" Hp mu sedari tadi berdering lho "


Sbastian yang memakan kripik mengingatkan


" Biar saja pa "


Sean mulai makan keripik bersama Aniel


" Siapa "


Adimas berbisik


" Ssssstttt.... "


Sean menutup mulut Adimas


" Kalian aneh lho hari ini "


Sbastian meletakkan toples kripiknya


" Hahaha "


Sean tertawa


" Besok Aniel mau ikut kakak main ngak "


Sean menawari


" Kemana "


Sbastian bertanya


" Ke rumah temen.... Boleh ya pa "


Adimas menjawab


" Emang kerja kelompoknya belum selesai"


Sbastian bertanya


" Udah "


Adimas menjawab


" Terus "


Sbastian menaikkan alisnya


" Boleh lah papa "


Adimas merayu


" Bantuin "


Adimas menoel pipi Aniel


" Ayolah papa "


Aniel mengikuti kalimat Adimas


" Ada apa kok sampai ngerayu papa hm.."


Adinda mengusap kepala Sean


" Hahaha "


Sean tertawa


" Kami mau main besok sepulang sekolah , boleh ya bunda "


Adimas meminta


" Aniel ikut "


Aniel mengangkat tangannya


" Boleh ya "


Mereka berdua memeluk Sbastian dengan erat


" Bolehin aja mas "


Adinda mendudukkan dirinya di samping Sbastian


" Kemana "


Sbastian bertanya


" Heumm..... "


Adimas meletakkan telunjuknya di atas dagunya


" Hm.... "


Aniel meniru Adimas


" Dimana ya , Adimas lupa "


Adimas duduk bersila


" Dimana dimana "


Aniel turun dari sofa dan duduk di atas pangkuan Adimas


" Dimana "


Sbastian menaik turunkan alisnya


" Iya dimana "


Adinda mengganti Chanel tv


" Dimana Sean "


Adimas menoleh ke belakang


Terlihat Sean meletakkan kepalanya di atas meja ruang tamu

__ADS_1


" Sean "


Adimas mengguncang Sean


" Iya kak "


Sean mengangkat kepalanya


" Kamu pucat "


Adimas memegang pundak Sean


" Kalau begitu waktunya istirahat "


Sbastian berdiri


" Kakak sama adek ayo ke kamar "


Adinda mematikan tv dan berdiri


" Sudah minum obat "


Sbastian membantu Sean berdiri


" Sudah "


Sean berjalan perlahan di bantu Sbastian menuju lift


" Saya bantu "


Aloe membantu memapah Sean


" Bunda "


Adimas memanggil


" Iya "


Adinda menyahuti


" Sakitnya Sean parah ya "


Adimas bertanya


" Iya , jadi kamu harus bantu rawat Sean ya , supaya cepat sembuh "


Adinda menasehati


" Iya bunda "


Adimas mengangguk


*Ting


Lift naik ke atas hanya di isi oleh Sbastian , Sean dan Aloe


*Ting


Lift terbuka di bawah dan adinda membawa kedua anaknya naik ke atas


Di kamar Sean


" Istirahatlah "


Sbastian menaikkan selimut Sean


" Sean mau tidur sendiri "


Sean memegang tangan Sbastian


" Iya , papa tinggal ya "


*Cup


Sbastian mencium kening Sean dan berlalu pergi


Sbastian berjalan keluar dan menutup pintu


" Bagaimana mas "


Adinda bertanya


" Mas takut ini semakin parah "


Sbastian memeluk Adinda dengan erat


" Mas , kita cuma bisa doa "


Adinda menenangkan Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian membawa Adinda masuk ke dalam kamar


Di kamar Sean


" Mao "


Sean memanggil


" Saya di sini "


Dari balik bayangan , keluarlah Mao


" Ini sakit sekali Mao... Pukul kepalaku "


Sean memegangi kepalanya


" Tidak tuan , saya akan membius anda "


Mao mengambil satu jarum suntik dan cairan bius berdosis tinggi


" Istirahatlah tuan "


Mao menyuntikkan obat bius dan membiarkan Sean tidur di bawah pengaruh obat bius


" Bagaimana "


Aloe , key dan Lao datang


" Tuan masih bisa bertahan , aku percaya "


Mao menjawab pertanyaan saudaranya


" Apa yang bisa kita lakukan "


Aloe bertanya


" Tidak ada "


Mao menjawab


" Kenapa "


Lao bertanya


" Operasi , obat herbal , terapi... Semua sudah ku lakukan , tapi tuan tetap seperti ini , jadi aku akan menunggu Hana dan si peliharaan kembali kesini , mereka akan sangat membantu "


Mao mengusap kepala Sean


Esok hari


" Pagi "


Sean duduk di meja makan dengan seragam sekolahnya


" Kamu jadi sekolah "


Adimas bertanya


" Jadi lah , kan sakitnya cuma kemaren "


Sean mulai mengambil lauk pauk


" Kamu yakin baik-baik aja "


Adinda menambahkan nasi ke dalam piring Sean


" Iya bunda sayang "


Sean mulai makan dengan lahap


" Adimas makanlah "


Sbastian memerintahkan Adimas karena Adimas terlihat menatap Sean dengan lekat


" Tapi kamu beneran udah sehat "


Adimas bertanya


" Heumm... "


Sean mengangguk dan melanjutkan makan paginya


" Pelan-pelan kakak "


Aniel mengingatkan


" Ote "


Sean memberikan jempol


" Makanlah Adimas "


Adinda mengambilkan porsi makanan untuk Adimas


" Aniel mau telol dadal dong bunda "


Aniel meminta


" Iya "


Adinda mulai menyuapi Aniel perlahan


" Hari ini Sean di izinin main ngak pa "


Sean bertanya


" Ya sudah jangan lama-lama ya "


Sbastian mengiyakan


" Oke "


Sean mengangguk


" Makasih papa "


Adimas terlihat senang


" Iya iya "


Sbastian mulai makan dan menghabiskan makanannya yang masih banyak


Setelah sarapan pagi


" Nanti pulang dulu kalau mau main , izin ke bunda "


Sbastian memerintahkan


" Iya , nanti kami boleh bawa adek "


Adimas meminta


" Boleh asal sama Mao atau lainnya "


Sbastian mengiyakan


" Iya , nanti Sean ajak Mao "


Sean mengangguk


Di gerbang sekolah pukul 07.00


" Pagi "


Para teman-teman menyapa Sean dan Adimas


" Ah ya pagi "


Sean membalas sapaan teman-teman


" Nanti aku kirim pesan , bawa juga beberapa makanan manis dan beberapa mainan , kau tau kan Mao beberapa itu berapa"


Sean bertanya kepada Mao


" Saya mengerti "


Mao mengangguk


" Dan pastikan si otak berhenti untuk beberapa waktu ke depan , setelah aku kembali pulih biarkan saja si otak dan katakan kepada Diablo aku akan mengunjungi kantor nanti "


Sean memesan banyak hal


" Saya mengerti "


Mao mengangguk


" Ok babay "


Sean melepaskan mobil dan Aloe langsung tancap gas dari sekolahan


" Itu tadi siapamu "


Teman-teman bertanya


" Itu pengasuh kami "


Sean menjawab


" Oh.... "


Teman-teman mengangguk


" Aku lapar kak , ayo beli makan "


Sean menarik Adimas masuk ke dalam sekolah dan langsung saja menuju kantin


" Pelan-pelan Sean nanti jatoh "


Adimas mengikuti tarikan tangan Sean


" Woe tungguin lah "


Teman-teman berlari menyusul Sean dan Adimas


Setelah sampai di kantin


" Haduh... Capek tau , pelan-pelan lah "


Adimas menggerutu saat sampai di kantin dan Sean langsung saja memesan satu mangkok bakso


" Astaga kalian cepet banget "


Azam sampai terlebih dahulu di susul yang lain


" Tau nih Sean "


Adimas menyalahkan Sean yang baru duduk


" Apa "


Sean menunjukkan wajah tidak bersalah


" Emang Lo belom sarapan "


Fahri bertanya


" Udah "


Sean mengangguk


" Lha terus "


Teman-teman memelototi Sean


" Cuma pengen aja "


Sean menjawab dengan enteng


" Seaaaaan sialan Lo "


Teman-teman mengeroyok Sean dengan sumpah serapah dan sedikit pukulan


" Ampun woe ampun hahaha "


Sean tertawa


" Sudah sudah "


Adimas menghentikan


" Makasih kak hahaha "


Sean tertawa


" Sudah cepat makan sana , nanti bel nya keburu bunyi "


Adimas menyodorkan mangkuk bakso yang baru datang


Setelah sarapan double , Sean dan lainnya langsung saja tancap gas menuju kelas , takut guru sudah masuk


" Pagi woe.... Haduh... Untung Bu guru belum datang "


Fajar mendudukkan dirinya di atas lantai


" He fajar , Lo ngapain selonjoran di lantai , kan belum di sapu "


Denis mendudukkan dirinya di atas bangku


" Biarin lah bleee "


Fajar menjulurkan lidahnya


" Ayo Sean , kamu sekarang duduk di tepi ya , aku duduk di sebelah tembok "


Adimas meminta


" Iya "


Sean mengiyakan


" Astaga anak itu udah datang "


" Siapa ya namanya "


" Kalau ngak salah Adimas "


" Dia keren "


" Tapi kenapa ya saudaranya pakek topi terus"


" Ngak tau "


" Mau tanya "


" Ngak ah , malu "


Para ciwi-ciwi mulai bergosip


" Kalian ngak ada yang duduk "


Adimas bertanya kepada teman-temannya


" Tau nih , fajar Lo kalau ngak duduk gue duduki tempat Lo "


Azam mengancam karena tempatnya fajar itu ada di dekat jendela di bawah kipas angin


Setelah ramai beberapa saat , akhirnya kelas menjadi tenang setelah Bu guru terlihat di pintu masuk


" Selamat pagi semua "


Bu guru menyapa


" Pagi Bu guru "


Semua siswa membalas sapaan Bu guru


Setelah itu pelajaran di mulai hingga pukul 10.30 siang


" Yes istirahat "


Teman-teman terlihat bersemangat dan tidak lama berkumpul lah Azam..fajar..Denis..dll


" Kantin nih "


Fahri bertanya

__ADS_1


__ADS_2