Aku Pangeran

Aku Pangeran
#73 ( tuan berang-berang )


__ADS_3

"M.. Maaci "


( M..makasih )


Suara imut Aniel memasuki pendengaran Sbastian dan membuatnya tersenyum lebar


" B..boka ni una capa "


( B..boneka ini punya siapa )


Aniel menatap Sbastian


" Kamu lihat kakak itu "


Sbastian menunjuk Sean


" Tak itu napa "


( Kakak itu kenapa )


Aniel menatap Sbastian


" Kakak ini sedang sakit , dia kakak Aniel , namanya kakak Sean "


Sbastian berdiri dan duduk sambil memangku Aniel di samping Sean sambil membawa tuan berang-berang


" Tak ni atit "


( Kakak ini sakit )


Anie menatap Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian mengangguk


" Apa tak ini atit alena di ukul mamanya "


( Apa kakak ini sakit karena di pukul mamanya )


Aniel mulai berkaca-kaca saat menatap Sean yang terpasang banyak sekali alat kedokteran


" T... Tidak sayang , kakak ini sakit karena sesuatu "


Sbastian mencium pucuk kepala Aniel


" Apa mama sering memukul Aniel "


Sbastian menangkup wajah Aniel


" Mama... Mama "


Aniel mulai menangis dan memeluk boneka berang-berang yang ada di sampingnya


" T..tidak perlu bilang , tidak apa-apa "


Sbastian mengusap air mata Aniel dan memeluknya


Aniel menangis sambil memeluk boneka berang-berang yang besar dan Sbastian memeluk Aniel dan berang-berang yang menjadi penghalang


" Sayangnya papa lapar ngak "


Sbastian mengusap air mata Aniel yang mulai berhenti mengalir namun Aniel masih sesenggukan di pelukan Sbastian


" La...hiks.. Pel... "


Aniel mengangguk


" Aniel biasanya makan apa hm.. "


Sbastian membelai rambut panjang Aniel


" asi "


( Nasi )


Aniel menjawab


" Hahaha , maksudnya lauk apa sayang "


Sbastian terkekeh


" Iel dak pelnah akan auk , iel sanya akan asi aja "


( Aniel ngak pernah makan lauk , Aniel biasanya makan nasi aja )


Aniel menjawab dengan polos


*Deg


Hati Sbastian terasa nyeri , mendengar putri kecilnya tidak pernah makan lauk yang biasanya di sediakan di meja makan


" A..apa Aniel pernah makan ayam "


Sbastian menatap Aniel


" ayam , mang isa di akan "


( Ayam , emang bisa di makan )


Aniel menatap papanya penasaran


" Putriku sayang , wanita itu keterlaluan , pantas saja putriku sekurus ini dasar j*lang si*lan k*parat baji*gan "


Sbastian membatin dengan geram


" Mao "


Sbastian menoleh


" Periksa kesehatan putriku "


Sbastian mendudukkan Aniel di atas kasur


" Aloe , minta bibi membawakan makanan dengan semua lauk Yang ada di atas meja makan "


Sbastian memerintahkan


" Laksanakan tuan "


Aloe keluar dari kamar dan Mao mulai memeriksa Aniel


" Papa "


Aniel menggenggam erat tangan Sbastian saat Mao mendekat


" Jangan takut sayang , ini kakak yang baik"


Sbastian menenangkan Aniel


Setelah Mao memeriksa Aniel , Mao menjelaskan bahwa Aniel menderita gizi buruk yang dan Aniel memiliki trauma dari luka-luka yang di deritanya , trauma bahwa semua orang itu jahat dan akan memukulnya


" Siapkan satu penjaga , jaga dia kemanapun dia pergi "


Sbastian memerintahkan dan Mao mengangguk


*Tok..tok...tok...


Ketukan pintu membuat Mao berdiri dan membukanya , terlihat beberapa penjaga yang berjaga di pintu membantu memasukkan makanan dan menatanya di atas meja yang terlihat setiap lauk lembut seperti daging ikan dan di masukkan ke dalam mangkuk kecil juga ada seporsi nasi bubur


" Ayo kita makan sayang "


Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Wah.... ni kan nan ada di tas eja akan , iel dak pelna oleh akan ni ama mama "


( Wah... Ini kan yang ada di atas meja makan , Aniel ngak pernah boleh makan ini sama mama )


Aniel menatap makanan dengan berbinar-binar membuat Sbastian mencengkram erat kayu tempat tidur Sean hingga kuku nya memutih , giginya menggertak , terlihat urat-urat menonjol keluar , tanda Sbastian benar-benar marah


" Papa... Tak ean dak akan "


( papa... Kak Sean ngak makan )


Aniel menunjuk Sean membuat Sbastian meluluh


" Kakak ngak makan sayang "


Sbastian membelai kepala Anie


" Napa "


( Kenapa )


Anie menatap Sbastian


" Karena kakak sedang sakit "


Sbastian memegang telapak tangan Sean dan Sean merespon , yaaaa seperti biasanya


" Tak... Anun yo , tatak udah akan lum , tatak akan yu "


( Kak... Bangun yuk , kakak udah makan belum , kakak makan yuk )


Anie mengguncang lengan Sean


" Sayang , biarkan ya , ayo kita makan "


Sbastian membawa Anie ke dalam pelukannya


" Anan hahat , tak ini juga mau akan "


( Jangan jahat , kak ini juga mau makan )


Aniel mendorong Sbastian menjauh


" Sayang "


Sbastian merosot dari tempat tidur dan meletakkan kepalanya di tepi tempat tidur dan mulai terisak


" Papa "


Aniel mengguncang Sbastian


" Papa napa hiks... Papa pukul sapa , papa napa , iel ala , iel aaf , iel aaf papaaaaa "


( Papa kenapa hiks.. papa di pukul siapa , papa kenapa , Aniel salah , Aniel maaf , Aniel maaf papaaaaaa )


Aniel berkali-kali mengguncang Sbastian namun Sbastian semakin terisak , kedua anaknya menjadi seperti ini , dan dirinya baik-baik saja , sungguh tidak adil , kenapa harus kedua makhluk polos kesayangannya yang menderita , kenapa bukan dirinya , penyesalan yang dalam membawa Sbastian kembali dalam kesedihannya , isakan Sbastian membuat Aniel terdiam dan menatap Sbastian


" Tatak tatak anun papa anis , papa anis , asian papa tak "


( Kakak kakak bangun papa nangis , papa nangis , kasian papa kak )


Aniel mengguncang Sean semakin keras


" Sudah nona sudah , tuan baik-baik saja"


Mao memegang lengan Aniel lembut


" Aduh... Atit "


( Aduh... Sakit )


Aniel menyisihkan tangan Mao


" Aniel "


Ketika mendengar Aniel mengaduh kesakitan , Sbastian terkejut


" Sudah Mao , kesini sayang "


Sbastian mengambil Aniel ke dalam pangkuannya


" Papa akan mengobati kalian berdua , papa akan sekuat tenaga , papa janji sayang "


Sbastian mencium tangan mungil Aniel


" Aloe , ketika asisten John bangun , katakan untuk meminta janji dengan dokter kulit "


Sbastian mengusap air matanya


" Baik tuan "


Aloe mengangguk


" Papa napa anis "


( Papa kenapa nangis )


Aniel menatap Sbastian


" Hati papa sakit , di sini , melihat anak-anak papa seperti ini "


Sbastian menatap Aniel dan luruh kembali air matanya


" Pa nal-enal atit pa "


( Apa benar-benar sakit pa )


Aniel menyentuh dada Sbastian yang terhalang kaos oblong hitam


" Iya sayang , sakit sekali rasanya "


Sbastian mengangguk


" Muach.. apa asi atit "

__ADS_1


( Muach... Apa masih sakit )


Aniel mencium dada Sbastian membuat Sbastian terkejut


" Tidak , lebih baik haha "


Sbastian terkekeh melihat kelakuan putrinya


" Isanya... Alau iel atit , ada bulung cecil ium pipi iel bial dak atit "


( Biasanya... Kalau Aniel sakit , ada burung kecil cium pipi Aniel biar Ndak sakit )


Aniel tersenyum


" Baiklah , sekarang kalau Aniel sakit , papa yang cium... Muuuach... "


Sbastian mencium pipi Aniel lama


" Apa ada yang sakit "


Sbastian membelai rambut panjang Aniel


" Ndak "


Aniel menggeleng


" Anak pintar , sekarang Aniel makan ya "


Sbastian berdiri dan membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Ainanna "


( Mainannya )


Aniel menatap berang-berang yang tergeletak di samping Sean


" Ini ini "


Sbastian mengambil dan memberikannya kepada Aniel


" Namanya tuan berang-berang , dia teman kak Sean waktu kecil "


Sbastian membawa Aniel duduk di sofa


" Tuan elang-elang , amu tuan elang-elang kalang amanya lulu ya "


( Tuan berang-berang , kamu tuan berang-berang sekarang namanya Lulu ya )


Aniel mendudukkan tuan berang-berang di sebelahnya


" Sekarang Aniel sama tuan lulu makan ya "


Sbastian mengambil bubur nasi dan meletakkan beberapa lauk lembut di dalamnya


" Haaaa... Buka mulutnya "


Sbastian menyuapi Aniel dan Aniel makan dengan sedikit ragu


Saat Aniel memakan makanan yang di siapkan Sbastian ,Aniel terkejut dan berdiri di atas sofa


" Ni nak pa , agi agi iel au agi "


( Ini enak pa , lagi lagi Aniel mau lagi )


Aniel mengunyah makanan yang di berikan Sbastian dengan cepat


" Kamu belum doa lho tadi , sekarang Aniel doa dulu "


Sbastian membawa Aniel ke dalam pangkuannya dan mulai mengajari Aniel berdoa sebelum makan


Sbastian menyuapi Aniel hingga nasi di atas piring bersih tak tersisa


" Kamu mau ayam "


Sbastian mengambil ayam bakar manis di atas meja


" Yam... Ayama oleh di akan "


( Ayam... Ayamnya boleh di makan )


Aniel menatap Sbastian


" Seeeemuuuaaaa yang ada di meja ini , untuk Aniel makan "


Sbastian menunjukkan bahwa Aniel bisa makan semuanya


" Waaaahhhh... Aci papa ayang "


( Waaaahhhh makasih papa sayang )


Aniel dengan berbinar menerima suapan Sbastian hingga seluruh isi meja menjadi ludes tak tersisa , anak berumur satu tahun yang biasanya hanya makan makanan lembut , kini memakan semua yang ingin dia makan


" Tuan "


Terlihat asisten John yang sudah di pindahkan Aloe di atas tempat tidur Aniel kini terbangun


" Hahaha "


Sbastian tertawa melihat asisten John melihat sekitar


" Apa kau melihat sesuatu tadi "


Sbastian mengejek


" Iya iya , aku melihat ada dua macan "


Asisten John mengangguk


" Papa papa "


Aniel dengan tangannya yang penuh bumbu makanan menarik lengan Sbastian


" Kenapa sayang "


Sbastian meski sedikit terkejut tapi dia tidak ambil hati melihat putrinya seakan membuat pakaiannya menjadi lap kotor


" Papa dak akan "


( Papa ngak makan )


Aniel menawari Sbastian dengan sepotong telur dadar


" Papa sudah makan sebelum Aniel bangun"


Sbastian memasukkan telur dadar ke dalam mulut Aniel


" Oh..... "


Aniel melanjutkan makannya dengan lahap seakan itu tidak akan ada lagi besok


" Tuan asisten , kata tuan Sbastian tolong buat janji dengan dokter kulit untuk nona muda "


" Kenapa "


Asisten John menatap Sbastian


" Putriku terluka , dan bawa Aloe untuk membeli beberapa pakaian untuk anakku dan perhiasan lainnya yang lucu lucu , rambutnya juga perlu di rawat "


Sbastian melihat rambut Aniel yang berantakan dengan potongan yang tidak rata


" Astagaaaaa hari ini hari yang buruk , hei tuan muda Sean , cepatlah sembuh , wafi merindukan anda , dan bunda anda setiap hari bertanya tentang anda "


Asisten John berbicara dengan Sean


" Cepat pergi , aku mau memandikan anakku "


Sbastian melempar bantal Kepada asisten John


" Iya iya , assalamualaikum "


Asisten John keluar dari kamar dengan menyeret Aloe


" Wa'alaikum salam "


Sbastian geleng-geleng kepala melihat kelakuan asistennya yang terlewat seperti anak kecil


" Mao "


Sbastian membuat Mao mendekat


" Apa lukanya boleh terkena air "


Sbastian mengusap noda bumbu di pipi Aniel


" Boleh tuan , asal luka yang masih basah tidak terkena air "


Mao menjelaskan


" Baiklah , apa putri papa sudah kenyang "


Sbastian membersihkan piring yang berserakan di atas sofa


" Iel pen kan lagi , api elutnya dak muat "


( Aniel pengen makan lagi , tapi perutnya ngak muat )


Aniel menunjuk perut kecilnya


" Hahaha , sekarang Aniel cuci tangan "


Sbastian memberikan satu wadah yang berisikan air untuk cuci tangan


" Iel aus "


( Aniel haus )


Aniel tiba-tiba meminum air kobokan


* Prang


Sbastian mengambil dan menyisihkan mangkuk kobokan , namun karena di letakkan di ujung meja membuatnya jatuh dan Aniel terkejut


" Aniel , ini ngak untuk di minum sayang "


Sbastian mengusap wajah Aniel yang terkena air


" T..tapi mama isanya sulu iel inum ni "


(T..tapi mama biasanya suruh Aniel minum ini )


Aniel menatap Sbastian dengan takut


*Prang


Meja kaca terbelah menjadi dua , piring piring sudah berjatuhan dan pecah , Aniel terkejut melihat tangan papanya berdarah


" Dimana wanita ****** itu "


Sbastian mengepal , wajahnya memerah membuat Aniel ketakutan


" Aniel , tetaplah di sini "


Sbastian berdiri dan meninggalkan Aniel


" Papa... "


Aniel mulai menitikkan air mata , dia takut , papanya yang tadi berwajah malaikat saat ini terlihat seperti seorang iblis


" Mao , ambilkan susu untuk putriku , mandikan Aniel dan pakaikan pakaiannya "


Sbastian melepas kaosnya menggunakan sebagai lap bumbu yang tersisa di tangannya dan berlalu pergi


" Papa "


Aniel menatap Sbastian hingga pintu di tutup


" Nona muda , mari "


Mao berlutut di samping Aniel


" Papa "


Aniel menatap Mao


" Papa sedang keluar , Mao mandikan ya , Mao kan dokternya nona Aniel "


Mao merayu Aniel


" Tunu , awa iel ke tak itu "


( Tunggu , bawa Aniel ke kak itu )


Aniel menunjuk Sean


" Baik nona "


Mao menggendong Aniel menuju Sean dan mendudukkan Aniel di dekat Sean


" Tatak , papa napa , tadi papa ukul eja ampi eja cah , tak napa dak angun , angun tak angun hiks... Papa tak papa "


( Kakak , papa kenapa , tadi papa pukul meja sampai meja pecah , kakak kenapa ngak bangun , bangun kak bangun hiks... Papa kak papa )


Aniel mengguncang Sean dengan isakan dan air mata yang mengalir makin deras


" Sudah nona , kasihan tuan muda , kan tuan muda sedang sakit "


Mao menghentikan Aniel

__ADS_1


" Aik... Tatak ini tuan lulu bial eman tatak ya"


( Baik... Kakak ini tuan lulu , biar temani kakak ya )


Aniel meletakkan tuan lulu di atas tangan Sean


" Ayo nona , kita mandi dan merawat luka "


Aloe membawa Aniel secara hati-hati , Mao membawa Aniel keluar dari pintu kamar


" Kak Mao "


Aloe memanggil


" Masuk dan bersihkan pecahan kaca di dalam , aku akan memandikan nona muda , bawa pakaian nona muda ke dalam kamar tuan Sbastian"


Mao membawa Aniel mandi secara berhati-hati dengan luka-luka Aniel


Setelah Mao memberikan obat dan memandikan Aniel , Mao memakaikan gaun tidur putih yang sangat longgar , katanya agar lukanya tidak tergores


" Rambutnya nona Aniel saya rapihkan ya "


Mao menyisir rambut Aniel


" Mau di pa bi "


( Mau di apakan bi )


Aniel menoleh


" Mao rapihkan saja , agar tidak seperti ini "


Mao menjawab


" Pi dak pong kan bi "


( Tapi ngak di potong kan bi )


Aniel memegang rambutnya yang panjang se pinggang


" Ndak , ngak di potong kok "


Mao mengeluarkan gunting dan sisir


" Nel ya dak di tong "


( Beneran ya , ngak di potong )


Aniel melepaskan rambutnya


" Iya nona "


Mao mengambil dan menyisir rambut Aniel yang panjang dan merapihkan rambut-rambut yang kusut dan berantakan


" Ni pa "


( Ini apa )


Aniel mengambil dua ikat rambut dengan hiasan strawberry


" Ini ikat rambut , apa nona mau pakai "


Mao menawari


" Mau mau "


Aniel mengangguk senang


Mao membagi rambut Aniel menjadi dua dan mengepangnya , setelah itu Mao memoles wajah Aniel dengan bedak bayi


" Astaga nona cantik sekali "


Mao berbinar melihat Aniel


" Benala "


( Benarkah )


Aniel menatap Mao


" Bener tau "


Mao membawa Aniel melihat cermin


" Waaaa junya antik "


( Waaaa bajunya cantik )


Aniel terkagum


Cukup lama Aniel mengagumi kepangan dan pakaiannya di depan cermin , akhirnya suara decitan pintu membuat Aniel menoleh , terlihat wajah papanya yang lelah dan rambutnya acak-acakan , Sbastian melangkah dengan gontai dan merebahkan diri di atas tempat tidurnya


" Papa.. "


Aniel berdiri dan berjalan mendekati papanya


" Papa lelah nona , mari keluar "


Mao mendekati Aniel


" Biar Mao , turunkan semua mainan Sean "


Sbastian menutup matanya dengan lengannya


" papa napa... Papa ara ama iel "


( Papa kenapa... Papa marah sama Aniel )


Aniel berjalan mundur perlahan


" Tidak sayang , papa capek "


Sbastian duduk dan melihat putrinya sudah berdiri di balik meja


" Kenapa sayang "


Sbastian berdiri dan berjalan menghampiri Aniel


" aaf AAF IEL ALA... IEL AKAL... AAF.."


( Maaf MAAF ANIEL SALAH... ANIEL NAKAL... MAAF... )


Aniel histeris saat Sbastian kian mendekat


" Papa ngak marah , papa ngak marah sayang "


Sbastian berlari dan membawa Aniel yang meringkuk ke dalam pelukannya


" IEL ALA.... AAF... HIKS... IEL DAK ANI AGI.. AAF JAN PUKUL IEL , IEL ALA... HUAAAA "


( ANIEL SALAH.... MAAF... HIKS... ANIEL NGAK NANGIS LAGI... MAAF JANGAN PUKUL ANIEL , ANIEL SALAH... HUAAAA )


Aniel menutup wajahnya dengan kedua lengannya saat Sbastian mengangkat Aniel ke dalam pelukannya


" Sayang , papa ngak marah "


Sbastian mengelus punggung Aniel dan membuat Aniel lebih tenang


" Mao , dimana susu Aniel "


Sbastian duduk dan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa


" Susu nona baru datang "


Mao mengambil susu strawberry yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Sbastian


" Sayang , minum susu dulu ya "


Sbastian melepaskan tangan Aniel dari wajahnya dan terlihat wajah Aniel yang penuh air mata dan ingus yang kemana-mana


" Hahahaha "


Sbastian terbahak-bahak melihat putri kecilnya yang tadi cantik sekarang berantakan


" Napa "


( Kenapa )


Aniel yang masih sesenggukan menatap papanya penasaran


" Ngak , ngak kenapa-kenapa hahaha "


Sbastian masih terbahak-bahak melihat wajah putrinya


" ish.. papa ih "


Aniel merajuk di atas pangkuan Sbastian


" Baik baik , papa mandi dulu ya , anaknya papa minum susu dulu "


Sbastian mendudukkan Aniel di karpet dan memberikan segelas susu


Sbastian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan putri kecilnya dengan Mao . Setelah beberapa saat Sbastian keluar dengan pakaian kasual


" Lho Aloe "


Saat Sbastian keluar terlihat Aloe yang duduk di samping putrinya yang sedang bermain dengan bermacam-macam mainan Sean


" Kak Mao kembali kepada tuan Sean "


Aloe menjawab


" Hm... Ayo anak papa , kita kembali ke kak Sean "


Sbastian menggendong Aniel yang sudah menghabiskan susu dan tidur di antara tumpukan boneka


" Pi leka nanana "


( Tapi mereka gimana )


Aniel menunjuk para mainan


" Sayang , mereka akan istirahat setelah bermain denganmu , kita istirahat juga ya , sama kak Sean "


Sbastian menjelaskan


" Otey papa "


Aniel memberi jempol


Sbastian masuk ke dalam kamar rawat Sean dan membaringkan Aniel di atas tempat tidur


" Anak papa , kamu cepat bangun ya "


Sbastian mencium kening Sean lama hingga membuat Aniel terpaku melihat air mata Sbastian yang luruh kembali


" Papa "


Aniel menyadarkan Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian mengusap air matanya dan menghampiri Aniel


" Leh iel anya "


( Boleh Aniel tanya )


Aniel membuat Sbastian menoleh


" Boleh "


Sbastian duduk dan membuat Aniel berbaring di atas tempat tidur


" Napa ama aku iel "


( Kenapa nama aku Aniel )


Aniel menatap Sbastian


" Kenapa ya "


Sbastian terlihat berfikir


" Papa "


Aniel mengguncang Sbastian


" Namamu itu Alinda kana Sora , tapi papa lebih suka panggil kamu Aniel "


Sbastian berbaring di sebelah Aniel


" Napa tan alin ebih Uda "


( Kenapa kan Alin lebih mudah )


Aniel bertanya


" Papa lebih suka Aniel , Aniel nya papa yang paling cantik "


Sbastian tersenyum


" Hehehe "


Aniel terkekeh


Berlalu sudah masa masa Sbastian menjaga Aniel yang masih manja manjanya , kini sudah setengah tahun berlalu dan Aniel berumur satu tahun setengah , Sbastian membawa Aniel kemanapun dia pergi dan akan selalu menghabiskan waktu dengan Aniel dan Sean saat di rumah hingga waktu kembali mendesaknya untuk pergi bekerja

__ADS_1


Stella kini sudah tidak terlihat sejak Sbastian memecahkan meja kaca , sejak saat itu pula keamanan Aniel di perketat , Sbastian sekarang memiliki satu pengawal lagi untuk Aniel , namanya Lao , Lao adalah saudara kandung Mao , Mao melatih Lao agar bisa menjadi pengawal pribadi Aniel yang bisa melakukan segalanya , Lao sendiri adalah wanita cantik yang lebih muda dari Mao


Pak Sam saat ini sudah kembali beraktivitas seperti biasanya , berjalan jalan , makan bersama Aniel di meja makan , bermain dengan Aniel , namun Sbastian masih tidak mengizinkan Sean di dekati orang-orang yang tidak pernah dekat dengannya saat koma , jadi sampai saat ini Sean hanya bersama Sbastian, Aniel , Mao , Aloe dan Lao


__ADS_2