Aku Pangeran

Aku Pangeran
#75 ( anakku sayang )


__ADS_3

Pagi ini Sbastian sudah siap dengan segala perlengkapan penting untuk perjalanan menuju Canada sudah di kemas rapih di dalam koper


" Sayang ,bangun dong , papa mau berangkat ini "


Sbastian mengguncang Aniel pelan


" Papa au anana "


( Papa mau kemana )


Aniel membuka matanya


" Kamu lupa hm... Papa kan mau ke luar negeri , papa harus mengurus pekerjaan yang penting , tidak bisakah papa tinggal saja Huft... "


Sbastian merebahkan dirinya di atas tempat tidur Aniel


" Papa dan anit Ama tak ean "


( Papa sudah pamit sama kak Sean )


Aniel duduk


" Ngak mau , papa mau tinggal aja "


Sbastian bagaikan anak kecil merajuk di depan Aniel


" Papa cucu hahaha "


( Papa lucu hahaha )


Aniel tertawa melihat papanya yang merajuk mengalahkan dirinya


" Papa ngak lucu tau "


Sbastian duduk dan menatap Aniel


" Iya iya , papa nti elat lo "


( Iya iya , papa nanti telat lho )


Aniel berdiri


" Baiklah "


Sbastian membawa Aniel ke atas tempat tidur Sean dan Sbastian menggenggam tangan Sean


" Sayang , kamu sudah mulai besar sekarang , cepatlah bangun papa menunggumu , kenapa kamu lama sekali hm... Papa sangat merindukan pelukanmu , adik di sini juga sering bilang ingin main denganmu , papa sangat menyayangimu . anakku sejak kamu tidur papa merasa tidak tau harus apa , papa merasa hampa , jiwa papa semakin kosong saat kamu seperti ini hingga datang saudarimu , saudarimu mengisi setengah ruang hati papa , sekarang tinggal kamu yang mengisi hati kecil papa , kamu tau kan sejak bunda pergi hati papa hampa hingga kamu datang kamu mengisi semuanya , saat kamu tidur papa merasa sangat bersalah , hingga Aniel datang dan membuat papa tenang , bangunlah sayang , hapus air mata papa , seperti dulu , papa menunggumu , papa sangat menyayangi kalian berdua "


Sbastian hanya membatin , namun air matanya tidak bisa di sembunyikan dari kedua manik berkilau kecil milik Aniel


" Papa nan dih ong , lau papa nini iel ang dih"


( Papa jangan sedih dong , kalau papa gini Aniel yang sedih )


Tangan Aniel bergerak mengusap air mata Sbastian


" Maaf sayang "


Sbastian melepas genggaman Sean dan menangkup wajah putri kecilnya


" Papa sangat menyayangi anak anak papa"


Sbastian mencium kening Aniel lama


" Papa berangkat , antarkan papa sampai pintu depan dong "


Sbastian berdiri dan membawa Aniel ke dalam gendongannya


Sbastian turun dengan ocehan-ocehan seorang papa untuk anaknya agar tidak telat makan dan blablabla


" Papa berangkat ya , ingat pesan papa kamu... "


Belum selesai Sbastian berbicara , tangan Aniel sudah ada di bibirnya


" Papa isik "


( Papa berisik )


Aniel menatap Sbastian malas


" Iya iya papa berangkat ya "


Sbastian menciumi seluruh wajah Aniel


Sbastian berdiri dan masuk ke dalam mobil , koper-koper Sbastian di masukkan ke dalam bagasi oleh Lao


" Jangan lupa makan sayang "


Sbastian berteriak saat mobilnya sudah menjauh


" Iyaa "


Aniel membalas teriakan Sbastian


Selama perjalanan menuju bandara , Sbastian membuka seluruh file file kantor yang harus di kerjakan , selama menunggu pesawat siap lepas landas , Sbastian kembali membuka berkas-berkas kantor , bahkan selama di dalam pesawat Sbastian kembali membuka kertas-kertas kantor dan hanya berhenti sejenak untuk beribadah dan membaca Al-Qur'an , setelah itu Sbastian kembali mengerjakan semua berkas-berkas kantor


Selama di Canada Sbastian mengerjakan tugasnya tanpa menelfon dan menghubungi rumah , dia hanya ingin menyelesaikan semuanya dalam dua hari , itu membuat asisten John merasa tidak berguna , pasalnya Sbastian tidak melepas bulpoin miliknya sama sekali , hanya istirahat untuk ibadah dan kembali mengerjakan tugas , tanpa makan dan hanya minum saat berbuka , menyiksa diri... Memang ... Namun semuanya dia lakukan agar bisa cepat kembali ke rumah


Tanpa dia sadari dirinya di jebak oleh orang-orang yang memusuhinya hingga terpaksa dirinya harus tinggal selama beberapa Minggu .. menyesal... Tentu , namun apalah daya dirinya sudah memakan buah yang pahit , jadi dia harus menyelesaikan mengunyah buah pahit agar bisa kembali memakan buah yang manis , tidak ada waktu untuk menyesal dan memuntahkan kembali , itu akan memakan banyak waktu


" Assalamualaikum anak papa "


Sbastian menelfon Aniel


" Papaaaaa , napa papa dak efon iel , Napa papa dak elna abali iel , ni dah atu nggu pa , iel unggu papa iap ali , papa intal anji "


( Papaaaa , kenapa papa ngak nelfon Aniel , kenapa papa ngak pernah kabarin Aniel , ini udah satu Minggu pa , Aniel tungguin papa tiap hari , papa ingkar janji )


Terdengar teriakan Aniel yang sangat nyaring hingga membuat Sbastian menjauhkan telpon dari telinganya


" Maaf sayang , papa terpaksa , papa akan pulang tiga hari lagi , papa janji "


Sbastian berbicara dengan lembut


* Tut..Tut...Tut...


Telpon di matikan sepihak oleh Aniel


" Astagfirullah Aniel "


Sbastian menjadi sedih karena tidak bisa menepati janjinya untuk putrinya


" John "


Sbastian berdiri


" Tuan "


Asisten John masuk


" Berikan semua berkasnya , kamu urus lapangan saja , aku akan mengurus berkas "


Sbastian menatap layar ponselnya yang terpampang kolase foto ketiga anaknya dan adinda


" Baik tuan "


Asisten John mengangguk


" Aloe "


Sbastian berjalan menuju sofa


" Telfon Mao , aku mau melihat anak anakku "


Sbastian menyerahkan teman gepengnya kepada Aloe


Sbastian merebahkan dirinya di atas sofa sambil menunggu Aloe menelfon Mao


" Ini tuan "


Aloe menunjukkan bahwa Aniel sedang menangis sambil memegangi tangan Sean , terdengar suara lucu Aniel yang mengadukan dirinya Kepada Sean nambil terisak-isak


" Mao "


Sbastian memanggil


" Ya tuan "


Mao menyahuti


" Hari ini ulang tahun Aniel , ambil pesanan kue dan kado ulang tahun untuk Aniel ada di dalam laci meja kamarku "


Sbastian tersenyum melihat notif peringatan hari ulang tahun anakku


" Baik tuan "


Mao mengangguk


Tidak lama setelah itu , Mao membawa masuk sebuah kue dengan hiasan unicorn dan sebuah kado besar di tangan Lao


" Nona muda "


Mao membuat Aniel menoleh dan melihat sebuah kue ulang tahun dengan tulisan (untuk putri papa yang paling cantik)


" Papa "


Aniel menangis sambil menggenggam tangan Sean


" Nona muda , coba lihat "


Mao menunjukkan Sbastian di layar hp nya yang memakai topi ulang tahun


" Selamat ulang tahun Aniel sayang "


Suara Sbastian menggema di ruangannya


" Papaaaa huaaaaaa papaaaaa "


Aniel menangis dengan kencang , terlihat raut wajah kesal , sedih , senang bercampur aduk di wajah kecil Aniel membuat Sbastian tertawa


Sbastian merayakan ulang tahun Aniel lewat layar hp karena tidak bisa meniup kue bersama Aniel , Sbastian bahkan menyiapkan kue yang sama persis dengan kue yang ada di depan Aniel


" Baik sayang , kita tiup bersama ya... Satu..dua.. tiga.. huuuft "


Sbastian meniup kue bersamaan dengan Aniel di belahan dunia yang lain


Sebenarnya saat ini Aniel berusia satu tahun lebih , namun hari ini adalah ulang tahun Sean , Sbastian tidak sempat merayakan hari ulang tahun Aniel , jadi dia bilang merayakannya sekarang , di usia Sean yang sudah genap tujuh tahun Sbastian dan Aniel berdoa agar Sean cepat sadar


Dua minggu berlalu sejak peristiwa yang bersejarah kemarin untuk Sbastian , saat ini telfon dari orang yang tidak di kenal membuat notif hp Sbastian berdering


: Halo


Sbastian mengangkat telfonnya karena sudah dua puluh kali hp nya berdering


: Hai Sbastian sayang


: Stella


: Coba tebak


: Anak kita sama aku lhoooo , kejutaaaan


: Aniel , kamu apakan dia


: Lihat aja


Stella mengalihkan telfon ke vace came


: Aniel


Sbastian terkejut melihat Aniel yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tali di tangan , kaki dan kain di mulutnya


: KAMU APAKAN DIA


Sbastian berteriak


: Oh Sbastian sayang , aku cuma main-main aja kok


Stella menunjukkan sebuah cambuk yang berlumuran darah


: Apa maumu


Sbastian mengecilkan suaranya


: Pulanglah , jangan membawa siapapun , sekarang kami di rumah adinda kok , ngak kemana mana , dan putramu ada di siniii yeeeey


Stella menunjukkan Sean yang di gantung tangannya , sedangkan kakinya menggelantung


: Baik baik , jangan apa apakan mereka , aku pulang sekarang


Sbastian tanpa memutuskan telponnya , Sbastian langsung pulang menggunakan jet pribadi

__ADS_1


: Sbastian , kamu di mana


Terlihat Stella sedang makan di meja makan


: Aku hampir sampai di sana


: Ingat lho ya , jangan bawa siapapun , jika tidak...


Stella menunjukkan bahwa Aniel dan Sean duduk di kursi dengan posisi di ikat , dan di belakangnya ada anak buah Stella yang sudah siap menembuskan pisau di leher kedua anak kecil kesayangan Sbastian


: Iya iya , jauhkan pisaunya jauhkan


Sbastian berbicara dan terlihat pisau itu menjauh dari leher kedua anak anaknya


Sbastian memutuskan sambungan karena terlihat gerbang kediamannya di depan


: Halo , Aloe


Sbastian menelfon Aloe


: Bagaimana tuan


: Jangan mendekat ke rumah , anak anakku menjadi taruhannya


: Saya mengerti tuan


Sbastian berhenti di gerbang depan dan di sana tidak terlihat satu penjaga pun


Sbastian turun dan masuk ke dalam di sambut oleh satu orang berbadan kekar yang mungkin dia adalah anak buah Stella


" Nyonya sudah menunggu anda "


Pria itu membuka pintu dan masuk mengambil alih kemudi


Sbastian di bawa dengan kecepatan penuh dan berhenti mendadak di depan pintu masuk kediaman


" Stella "


Sbastian masuk dan terlihat kedua anaknya terikat dengan banyak luka di wajah


" Anakku "


Sbastian mendekat namun dua orang kekar menghadang


" Sebaiknya jangan sayang , lihatlah iniiii "


Stella datang dengan seseorang yang sangat dia kenal


" Sbastian , aku menunggu untuk kau lamar , tapi kenapa kau malah menikah dengan adikku "


Wanita... Membuat Sbastian terkejut


" Apa maksudmu "


Sbastian terbelalak


" Oh... Ayolah Sbastian , aku sangat suka denganmu , tapi hatimu tertutup untuk adinda sialan itu "


Wanita itu berjalan dengan santai menuju Sbastian


" Anak anak , tangkap dia , ikat dia di tiang bangunan ini "


Wanita itu menepuk tiang bangunan yang terlihat sangat besar yang letaknya ada di samping tangga


" Jangan memberontak , jika tidak anak kecil itu yang menjadi taruhan "


Stella menunjuk Aniel dan Sean


Sbastian di ikat dengan kuat di tiang bangunan


" Aku hanya ingin kamu menandatangani surat ini saja kok , agar seluruh aset mu, menjadi milikku "


Stella menunjukkan sebuah surat


" Hei , ini bukan kesepakatannya , kau bilang akan menjadi milik kita berdua "


Wanita yang lain mendorong bahu Stella


" heh Clara , kamu itu cuma anak ngak di anggap , ngak usah deh kamu sok sok an mau nguasain harta "


Stella membalas dorongan bahu Clara


" Heh , awalnya yang mau di jodohin sama Sbastian itu aku , kamu kan minta sama ayah ibu sambil nangis nangis jadinya di turutin "


Clara terlihat tidak suka


" Heh anak buangan , kamu tuh ngak di arepin sama siapapun , jadi ngak usah deh mau nguasain harta "


Stella menjambak hijab Clara


" Ni hijab cuma buat nutupin kuping doang , percuma cewek kayak kamu makek ginian "


Stella melepas hijab Clara


" Lebih baik aku ya daripada kamu , lagian ngulang kalimat , udah kehabisan kata-kata ya "


Clara memandang Stella sinis


* Plak


Suara tamparan keras membuat Sbastian nyengir kesakitan , tamparan Stella untuk Clara seakan bisa di rasakan oleh Sbastian


" Lo itu cuma anak kecil , berani beraninya tampar gue "


Clara memegangi pipinya


" Dari pada Lo , Lo ngak bisa nampar gue kan hehe "


Stella terkekeh


* Plak


Kembali Sbastian menatap dua saudari yang bertengkar di depannya


" Sialan Lo "


Stella menjentikkan jari dan tiba-tiba ada yang memegangi lengan Clara


" Lo kira cuma Lo doang... Heh kalian "


Saat Clara bilang " heh kalian " dua orang berbadan kekar memegangi lengan Stella


Stella terkekeh


" Kamu kira kamu doang yang tegaan "


Clara terkekeh geli


" Dua saudari yang sama-sama bodoh "


Sbastian yang sudah lepas dari talinya berjalan perlahan menuju kedua anaknya


" Hei tuan , mau kemana "


Seorang pria menghadang Sbastian


" Tangkap dia "


Suara kedua saudari membuat banyak orang menangkap Sbastian


" Kamu mau apa "


Sbastian dengan tenang bertanya


" Cuma tanda tangan doang kok "


Stella memberikan kertas dan Clara memberikan bulpoin


" Baik , setelah ini lepaskan anak anakku "


Sbastian memberi persyaratan


" Okeh sayang "


Stella memerintahkan kepada para pengawalnya untuk melepaskan Sbastian


" Kalian kira aku bodoh "


Sbastian menendang bola pingpong milik salah satu anak buah Stella dan Clara


Sbastian menghajar pria pria di sana meski dengan kemampuan seadanya


" Menyesal aku tidak ikut latihan karate dulu"


Sbastian bertarung menggunakan otaknya yang bergerak cepat


" Berhenti , lihat anakmu "


Suara Stella menggema membuat Sbastian menoleh dan terkena satu pukulan


" Lihat dia "


Stella mencengkram erat pipi Aniel


" Heh kamu , kemari "


Stella memanggil salah satu pria di sana


Stella menggeser kursi agar Sbastian bisa melihat Aniel dari samping


" Masukkan milikmu ke dalam makhluk kecil ini "


Stella menyingkap rok Aniel


" TIDAK TIDAK , APA YANG KAMU LAKUKAN , JANGAN JANGAAAN AKAN AKU BERIKAN APAPUN , JANGAN STELLA JANGAN "


Sbastian berteriak saat melihat milik salah satu pria di sana mulai di keluarkan


" Kyaaaaaaa "


Suara Aniel kecil membuat gendang telinga Sbastian pecah


" ANAKKU SAYAAANG , JANGAN STELLA JANGAN , LEPASKAN ANAKKU LEPAS , AKU MOHON STELLA , AKAN AKU LAKUKAN SEMUANYA TAPI LEPASKAN ANAKKU "


Sbastian mencoba melepaskan diri dari pegangan tangan anak buah Stella


Pria besar itu membuat Aniel pingsan seketika


" Sudah sudah , dia pingsan "


Stella menghentikan pria besar itu


" Anakku sayang "


Pandangan Sbastian tiba-tiba kosong , tubuhnya tiba-tiba lemas


" Lum...puh..kan "


Terdengar sebuah suara yang menggema di rumah adinda


Tiba tiba semua orang orang Stella pingsan dan melepaskan Sbastian


" Pe..gang.. Wa..ni..ta di..sa..na "


Sebuah suara kembali bergaung


" Kyaaa "


Stella dan Clara terkejut saat ada orang yang berpakaian hitam tiba-tiba muncul dan menangkap mereka


" A..man..kan bo..ne..ka.. "


Kembali menggema suara yang sama , Aniel dan Sean di lepaskan talinya dan di bawa oleh mereka


" Ber..sih..kan.. "


Suara yang sama kembali memerintahkan dan banyak pengawal yang terlihat di mata Sbastian membersihkan kekacauan di sana


" Anakku "


Sbastian mencari Aniel dan Sean yang tadinya ada dan di ikat kini sudah tidak ada


"Dimana anakku , jangan tertutup dulu mataku , aku harus mencari anakku "


Sbastian mencoba berdiri namun dirinya hanya bisa merangkak hingga beberapa orang datang kepadanya


Gelap....


" Anakku "


Sbastian pingsan

__ADS_1


Perlahan terbuka manik mata bulat Sbastian , terlihat atap putih yang penuh dengan ikan dan gantungan kerang


" Ini kamarku.... Pusing sekali kepalaku "


Sbastian mencoba bergerak


Saat Sbastian menggerakkan tangannya , terasa bola bulu halus di sebelah tangannya


" Apa ini "


Sbastian mengambilnya dan terlihat kepala kucing rajut yang besar


" Ini milik Aniel "


Sbastian mencoba untuk duduk dan menyesuaikan pengelihatannya


" Tuan... Istirahat saja "


Terlihat Mao dan Aloe mendekat


" Aniel "


Luruh air mata Sbastian


" Nona baik , saya akan panggilkan , tuan pejamkan mata , saya tau kepala tuan masih pusing "


Mao di bantu Aloe membenarkan selimut Sbastian


Sbastian memejamkan matanya dan merasakan seluruh badannya seakan remuk , kepalanya pusing dan matanya sangat berat


" Papa "


Suara Aniel menggema


" Anakku sayang "


Sbastian ingin membuka matanya , namun itu tidak berhasil , kepalanya malah semakin pusing


" Jangan di paksakan tuan , istirahat saja "


Suara Mao menggema


" Papa "


Sebuah tangan mungil menyentuh pipi Sbastian


" Ni iel... Papa dul aja "


( Ini Aniel... Papa tidur aja )


Aniel memegang pipi Sbastian


" Aniel "


Sbastian jelas-jelas merasakan satu tangan Aniel di pipinya dan satunya ada di lengannya namun siapa yang menggenggam tangannya


" Papa idul ja , anti iel atin maem "


( Papa tidur aja , nanti Aniel buatin makan )


Aniel mencium kening Sbastian dan itu membuat hati Sbastian menjadi dingin


Hening....


" Bagaimana keadaannya sekarang "


Suara pak Sam memasuki pendengaran


" Ayah... "


Sbastian menggumam


" Iya nak , ayah di sini "


Pak Sam mengusap dahi Sbastian


" Ayah "


Sbastian perlahan membuka matanya dan terlihat pak Sam di depannya


" Kondisi tuan sudah mulai stabil , namun masih harus menjaga pola makan dan banyak istirahat "


Mao menjelaskan


" Ayah "


Sbastian mencoba untuk duduk


" Hati hati tuan "


Aloe membantu pak Sam mendudukkan Sbastian


" Anakku ayah "


Sbastian memegang tangan pak Sam


" Tenanglah nak , mereka baik "


Pak Sam mengerti apa yang Sbastian khawatirkan


" Panggil cucuku "


Pak Sam memerintahkan kepada Mao


" Apa kamu mau makan "


Pak Sam mengambil nampan berisi bubur nasi lembut untuk Sbastian


" Ayah... Tian ngak laper , Tian mau liat Sean "


Sbastian mengenggam tangan pak Sam


Terlihat pintu terbuka dan dua pelayan masuk dengan membawa dua porsi makanan


" Tatak nti iel au ain agi ya , nti ainna ama papa , nti Ita ain jal-jalan agi "


( Kakak nanti Aniel mau main lagi ya , nanti mainnya sama papa , nanti kita main kejar-kejaran lagi )


Suara Aniel menggema di ruangan membuat Sbastian duduk dengan benar


" Mao.. "


Sbastian menggenggam erat tangan pak Sam dan menatap Mao yang tersenyum dan mengangguk


" Papa papa papa "


Terlihat roda depan dari kursi roda yang memasuki pintu , Sbastian terbelalak , di atas kursi roda , putranya yang sudah tidak sadarkan diri lebih dari dua tahun kini sedang memangku Aniel yang berceloteh ria dengan wajah datar , luruh air mata Sbastian membasahi pipi


" Sean "


Seakan tenaganya kembali , Sbastian menyingkap selimutnya dan melompat dari atas tempat tidur hingga tersandung dan terjatuh di atas karpet bulu


" Pa..pa ha..ti ha..ti "


Sean perlahan turun dari kursi roda di bantu Aloe dan Mao


" Anakku sayang "


Sbastian duduk dan menarik Sean ke dalam pelukannya


" Kamu sudah bangun hm... "


Sbastian mengusap wajah Sean yang memberikan senyuman manis untuknya


" Kapan kamu bangun "


Sbastian memangku Sean dan berkali kali menciumi wajah Sean


" dua minggu yang lalu , kamu tidur lima hari lamanya , ayah sampai khawatir "


Pak Sam duduk dan membawa Aniel ke dalam pangkuannya


" Jadi Sean sadar saat Sbastian bekerja , kenapa tidak memberitahu "


Sbastian memeluk Sean erat


" Sean yang minta "


Pak Sam tersenyum


" Ka..ta a..dik , papa se..ring nangis "


Sean mengusap air mata papanya


" Hem.. "


Sbastian hanya berdehem dan menciumi wajah Sean


" Papa papa iel dan kan "


( Papa papa Aniel dah makan )


Aniel memberikan piring kosong kepada Sbastian


" Wah ngak ngajak papa ya , sini sayang "


Sbastian mendudukkan Sean di atas pangkuannya di sebelah kanan sedangkan Aniel di sebelah kiri , Sbastian bersandar di tempat tidur di bantu Mao


" Huft... Papa senang sekali "


Sbastian meletakkan kepalanya di atas pundak Sean


" Pa..pa ti..dur a..ja '


Sean dengan kaku menyentuh pipi Sbastian


" Iya... Papa dul ja , papa tan atit "


( Iya... Papa tidur aja , papa kan sakit )


Aniel membenarkan kalimat Sean


" Papa masih mau sama anak-anak papa "


Sbastian tersenyum


" Apa adek suka sama hadiah papa "


Sbastian membelai rambut Aniel


" Iya iya "


Aniel berdiri dan menceritakan tentang hadiah yang Sbastian berikan , gaun pesta yang sangat cantik dengan warna jingga yang kontras dengan kulit Aniel


" Su..dah bi..ar pa..pa ti..dur "


Sean menghentikan ocehan Aniel


" Ote tatak "


( Oke kakak )


Aniel memberikan jempolnya


" Adek sudah makan , apa kakak sudah makan "


Sbastian membawa Aniel kembali ke dalam pelukannya


" Be..lum la..par"


Sean menggeleng


" Mao , berapa lama putraku seperti ini "


Sbastian meletakkan kepala Sean di pundaknya


" Setidaknya jika rajin berlatih , itu akan membuat tuan muda lebih cepat sembuh dan bisa berjalan , namun jika tidak berlatih sama sekali itu akan membuat syaraf pusat berhenti bekerja "


Mao menjelaskan


" Apa perlu terapi "


Sbastian


" Mungkin perlu , tetapi banyak banyak berlatih saja , saya tau tuan muda tidak suka bau ruang terapi"


Mao tersenyum dan di balas kekehan Sean


" Tunggu papa sembuh ya "


Sbastian mencium pipi tirus Sean

__ADS_1


__ADS_2