Aku Pangeran

Aku Pangeran
#63 ( huru hara)


__ADS_3

Pagi ini Sbastian membuka matanya dan sudah ada Sean yang duduk dan tersenyum manis di sampingnya , pasca menangis histeris tadi malam , Sean yang mata Sean yang bengkak karena menangis sudah kembali normal setelah di berikan kompres es batu oleh Mao


" Pagi Sean "


Sbastian tersenyum


" Pagi pa "


Sean membalas senyuman Sbastian namun dengan senyuman sinis


" kenapa "


Sbastian menaikkan alisnya


" Abis sholat subuh papa tidur lagi , nyenyak banget , ini udah jam delapan lho "


Sean menunjuk jam di dinding kamar


" Astaga "


Sbastian terduduk dan menggosok matanya


" Udah di bangunin dari tadi ngak bangun-bangun sih "


Sean kembali merebahkan dirinya


" Kamu udah mandi "


Sbastian mengangkat Sean yang sudah rapih dengan pakaian kantor


" Udah dua jam yang lalu "


Sean melihat jam tangannya


" Kenapa ngak bangunin papa "


Sbastian melompat ke kamar mandi


" Udah dari tadi tau , Sean bangunin papa , Sean di tendang , bangunin lagi katanya lima menit , bangunin lagi tapi ngak bangun bangun , yaudah rasain "


Sean menggerutu


" Ayo Sean cepat , papa udah terlambat ke kantor "


Sbastian keluar dari kamar mandi tanpa memakai apapun bisa di katakan telanjang bulat


" Astaga papa "


Sean geleng-geleng kepala melihat kelakuan papanya yang mengalahkan dirinya jika sudah terlambat


Setelah lima belas menit Sbastian sudah selesai memakai pakaian kantornya , aneh , itu yang ada di dalam pikiran Sean , kaos kaki yang warnanya berbeda , dasinya yang tidak cocok dengan jas nya , kemeja yang berantakan , rambut yang belum di sisir


" Papa "


Sean menarik papanya yang hendak keluar


" Kemari "


Sean menarik dasi papanya yang berantakan


" Ini salah dasi "


Sean sedari tadi sudah menyiapkan dasi hitam polos yang akan selalu cocok dengan jas apapun yang Sbastian kenakan , lalu Sean menyisir rambut Sbastian karena Sbastian masih memakai dasinya , setelah itu Sean mengambil tasnya dan satu pasangan kaos kaki putih


" Benar-benar berantakan "


Sean geleng-geleng kepala melihat papanya yang sepertinya benar-benar melupakannya di belakang


" Hari ini berdua dengan kakak lili di rumah "


Sean berkacak pinggang saat pintu kamar Sbastian di tutup oleh Sbastian


Sean berjalan ke arah balkon dan melihat papanya yang sudah masuk ke dalam mobil , Sean naik ke kursi di balkon dan di sana ada pak Sam yang melipat kedua tangannya di atas dada dan bi Aini yang berkacak pinggang di samping pak Sam


" Main aja hari ini "


Sean berjalan keluar kamar dan memasuki kamarnya sendiri lalu mengganti pakaiannya dengan celana pendek se lutut dengan kaos oblong putih yang terlihat sangat kedodoran di tubuhnya


Sean turun dari lantai atas dan melihat liona yang duduk di ruang tamu dengan kecewa , liona sudah memakai pakaian kantor cantik , liona memakai jas berwarna cream dengan kerudungnya yang berwarna hitam dan rok hitamnya lalu kemejanya berwarna putih


" Kecewa ya kak "


Sean duduk di depan liona sambil memakan cemilan di atas meja


" lho , aku kira kamu udah sama kak Leon tadi pagi "


Liona ikut memakan camilan di atas meja


" Oh ya , kapan kakek dan nenek pergi "


Sean memasukkan lebih banyak keripik ke dalam mulutnya


" Tadi pagi , mama temenin papa ke Thailand , ada urusan pekerjaan "


Liona memakan banyak coklat di dalam kotak


" tuan Sean sayang "


Bi Aini memanggil


" Iya bi "


Sean menoleh


" Bekal makan siang tuan Sbastian ketinggalan "


Bi Aini menunjukkan dua kotak bekal


" Kita aja gimana "


Sean menatap liona yang berbinar seketika


" Ayo "


Liona menggendong Sean


" dimana Mao "


Sean menggumam


" Di sini tuan muda "


Mao datang dengan pakaian berkebun


" Kamu ngapain "


Sean menatap pakaian Mao yang penuh tanah


" Saya habis berkebun , membantu paman Sam membersihkan rumput liar di belakang"


Mao menunjukkan sekop kecil yang masih dia bawa


" Gantilah pakaian , ayo ke kantor papa , kamu yang bawa mobil , kita anter bekal makan siang papa "


Sean menunjuk bekal yang di bawa oleh bi Aini


" Siap tuan muda "


Mao memberi hormat dan segera menghilang dari pandangan


Setelah beberapa menit , Mao kembali dengan pakaian ala ala pak sopir yang keren, dengan topi hitam yang hanya di buat hiasan


" Ayo tuan muda , kita berangkat "


Mao membawa bekal makan siang Sbastian dan pergi memanaskan mesin mobil


" apa sudah siap "


Sean datang dengan liona yang membawa beberapa berkas


" Nona bawa apa itu "


Mao menatap berkas berkas yang di bawa liona


" Oh ini berkas berkas kakak yang ketinggalan "


Liona menunjukkannya


" Oh.... Mari tuan "


Mao membuka pintu belakang mempersilahkan liona dan Sean masuk


Mao melajukan mobil menuju kantor cabang dimana Sbastian dan lion berada sekarang


Setelah beberapa saat perjalanan , akhirnya liona dan Sean sampai di kantor cabang yang kabarnya sedang berantakan karena managernya korupsi setengah dari uang perusahaan


" Kok ramai ya "


Liona berbisik kepada Sean


" Iya kak "


Sean memperhatikan sekeliling dan mulai melihat kejanggalan


" Kakek tua "


Sean berbisik dan datanglah kakek tua yang langsung duduk di samping kemudi


" Aku di dalam kotak , dimana tuan muda "


Kakek menatap sekeliling


" Hei "


Mao menepuk pundak kakek tua


" Astaga Mao , kamu juga di kurung di sini "


Kakek tua menatap Mao yang memakai pakaian aneh di matanya


" Kakek "


Sean melambaikan tangannya


" Wah tuan muda juga kakak tuan muda di kurung di sini , apa saya perlu menghancurkan kotak ini "


Kakek tua memperhatikan sekeliling


" Astaga kakek , bukan begitu , apa kakek liat ada yang janggal di sekeliling "


Sean menunjuk sekeliling


" Iyaaaa banyak sih tuan Sean , banyak aura membunuh di sekitar sini "


Kakek tua melihat sekeliling


" Baiklah "


Sean mengangguk


" Mao "


Sean mengeluarkan laptop mini dari dalam tasnya


" siap tuan muda "


Mao mengeluarkan beberapa senjata dari balik sakunya


" Nona muda tolong jangan keluar dari mobil ya "


Mao keluar dengan beberapa senjata yang sudah dia siapkan


" Mari kita lihat "


Sean menyalakan laptopnya


" Siapa yang di incar "


Sean menggumam


" Papa , kak lion dan paman John , berani sekali mereka "


Sean menggerutu dan menatap orang orang di luar dengan sinis


" Maksudnya apa "


Liona melihat banyak sekali titik merah di antara empat titik hijau yang ada di tengah


" Kakek tua , aktifkan barier di sekitar mobil"


Sean menunjuk mobil yang dia tumpangi


" Maksudnya kotak ini tuan "


Kakek tua menatap sekeliling


" Iya "


Sean mengangguk


" Baik "


Kakek tua mengaktifkan barier di sekeliling mobil


" Kita akan lihat , apakah ilmu yang aku pelajari dari kak Yuka akan berhasil "


Sean mencoba meretas kendali jarak jauh milik para penembak jitu yang ada di atap


" Kamu sedang apa Sean "


Liona menatap mereka kebingungan


" Kakak lihat saja ya "


Sean menepuk punggung tangan liona


" Kakek tua , bisakah membuat barier di sekeliling papa dan dua orang yang ada bersama papa "


Sean menunjuk Sbastian yang berdiri bersama lion dan asisten John


" Tentu , apa hanya tiga orang itu saja "


Kakek tua menunjuk Sbastian dan lainnya


" Iya kek , tolong ya "


Sean memberikan senyum manisnya


" Ouch... Baik tuan muda "


Kakek tua memberikan jempol


" Astaga "


Tangan liona tidak sengaja menekan seluruh keyboard laptop Sean


" Kakak kenapa "


Sean meletakkan laptopnya


" Kakak mau benahin posisi duduk , tapi kepeleset , maaf ya "


Liona memeluk Sean


" Iya , Sean kira kakak sakit lagi "


Sean membalas pelukan liona

__ADS_1


" Kakak istirahat saja , berbaring saja di sini , Sean akan pindah ke belakang "


Sean melemparkan tas dan laptop miliknya ke belakang


" Kakak ngak papa kok "


Liona melihat Sean yang melompat ke belakang


" Kakak istirahat aja , Sean kasian sama kakak , pasti capek "


Sean duduk di belakang


" Ya sudah , maaf ya , apa kamu ada yang sakit "


Liona memeriksa tubuh Sean


" Ngak papa kok , kakak istirahat saja "


Sean tersenyum


" Ya sudah deh "


Liona dengan tatapan merasa bersalah , sedari tadi menatap Sean


*Bum...


Mobil terguncang


" Kenapa kek "


Sean berdiri


" Ada yang menghantam kotak ini , saya akan memindahkan kotak ini "


Kakek tua benar-benar memindahkan mobil sedikit lebih jauh dengan teleportasi


" Jangan tiba-tiba dong kek "


Sean menatap kakek tua malas


" Hehehe "


Kakek tua hanya cengengesan


Sean melihat layar laptopnya , satu persatu titik merah menghilang dan menyisahkan satu titik merah di tempat yang sangat dekat dengan ke tiga titik hijau


:Halo..


Sean menelfon seseorang


: Iya tuan muda...


: Ada satu di sebelah kananmu...


:Baik tuan muda...


Telfon terputus


Sean tersenyum senang


" Hanya tinggal para keroco saja "


Sean menggumam


:Halo paman...


Sean menelfon seseorang kembali


: Iya tuan , saya siap di berikan perintah...


:Habisi keroco keroco di bawah , jangan sampai papa tau...


:Siap tuan muda , saya berangkat sekarang...


Sean menutup sambungan teleponnya dan kembali menatap laptop , banyaknya titik merah yang berdiri di sekitar Sbastian satu persatu menghilang


" Bagus "


Sean tersenyum senang


" Dua titik merah ini meresahkan sekali , ingat Sean tidak boleh gegabah "


Sean menggumam sendiri sambil mengetuk-ngetuk layar laptopnya


: Assalamualaikum papa


: Wa'alaikum salam....astagfirullah papa lupa sama kamu


:Sean ada di depan kantor , Sean boleh masuk apa ngak


: Jangan , bentar lagi papa keluar , kamu di dalam mobil saja


: Baik pa


: Ya sudah , papa tutup dulu telponnya , assalamualaikum


: Wa'alaikum salam


Sean memutuskan telponnya


" Gimana kata kak Sbastian "


Liona menoleh ke belakang


" Bentar lagi papa selesai , kita di suruh nunggu di sini "


Sean menjawab tanpa menoleh , dia sibuk dengan hp nya sekarang


" Oh... "


Liona ber- oh ria dan kembali berbaring


Setelah beberapa saat , Sbastian terlihat bersama Leon dan asisten John di ikuti Mao di belakang mereka


" Itu papa "


Sean membuat liona bangun dan membenahi hijabnya


" Hai "


Sbastian masuk ke bangku kemudi


" Saya pamit "


Kakek tua tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya


" Halo Sean "


Leon masuk dan duduk di sebelah lili


" Kenapa Sean di belakang "


Lion bertanya


" Kak lili lagi istirahat , jadi Sean ke belakang "


Sean mengemas barang barangnya dan melompat ke dalam pelukan Leon


" Tuan , biar saya yang pegang kendali "


Asisten John berbicara dengan Sbastian


" Baik "


Sbastian pindah ke kursi di samping kemudi


" Kenapa kalian tau papa di sini "


Sbastian memasang sabuk pengamannya


Sean sedikit ngegas


" Iya kah , papa lupa "


Sbastian mencoba mengingat


" Eh... Dimana Mao , kenapa tidak naik "


Asisten John menatap sekitar


" Mungkin sudah pulang duluan , langsung ke kantor pusat saja "


Sean beralih dari pangkuan lion ke kursinya sendiri


" Kak lion sama kak liona aja , kak lili kayaknya gak enak badan "


Sean duduk dan mengeluarkan Permen coklat yang selalu ada di dalam tasnya


" Benarkah "


Sbastian menyentuk kening liona


" Badanmu panas "


Sbastian melepas sabuk pengamannya dan memeriksa liona


" Hari ini jadwal terapi terakhir kan "


Sean mengingatkan


" Oh iya "


Lion dan Sbastian sama-sama tepuk jidat


" Kakak lupa maaf ya "


Sbastian menggosok kerudung liona dan lion mencium pipi liona


" Ngak papa "


Liona tersenyum


" Kita ke rumah sakit "


Sbastian duduk kembali


" Hari ini kolega besar dari luar akan datang"


Asisten John mengingatkan


" Biar yang di kantor yang mengurus , aku harus mengurus adikku dulu "


Sbastian mengeluarkan hp nya dan menelfon seseorang di kantor


Sean menjentikkan jari


" Ayo jenguk mama putri sekalian "


" Ayo , ayo beli makanan dulu kak "


Liona seketika menjadi semangat dan mengguncang Sbastian yang duduk di depan


" Iya iya "


Sbastian meletakkan ponselnya


" Kita berhenti di swalayan depan "


Sbastian mengeluarkan dompetnya


" Ini uang sakunya , kakak lupa kasih ke liona "


Sbastian memberikan dua ratus ribu


" Makasih "


Liona menerima dengan senang hati


" Lili juga bawa uang yang kemarin , ayo beli banyak makanan buat bintang "


Liona dengan antusias membicarakan apa saja yang akan dia beli sehingga mobil hanya di penuhi kicauan liona yang tidak kunjung berhenti


" Sudah sampai nona muda "


Asisten John menghentikan kicauan liona


" Yey , ayo kak ayooo "


Liona turun terlebih dahulu di ikuti yang lain


" Paman John mau beli apa "


Sean yang turun bersama dengan John langsung bertanya


" Tadi sitter azza pesen banyak banget , paman sampai kewalahan "


Asisten John membawa Sean ke dalam pelukannya


" Hahahaha "


Sean terkekeh melihat wajah frustasi asisten John


" Papa papa , ayo beli es krim "


Sean menyadarkan papanya yang masih bermain hp


" Ayo "


Sbastian meletakkan hp nya dan mengambil Sean dari asisten John


Sbastian , Sean dan asisten John mengikuti lion dan liona yang sudah masuk ke dalam terlebih dahulu


" Papa mau es krim"


Sean merosot dari gendongan Sbastian


" Kamu aja , papa lagi ngak pengen "


Sbastian mengambil keranjang belanja


" Apa bintang mau es krim kayak Sean gini ya "


Sean memilih milih banyak sekali es krim


" Pilih aja , biar nanti bintang makan apa yang dia suka "


Sbastian membantu Sean meraih beberapa es krim


" Kak , kami selesai "


Liona berlari ke arah Sbastian dengan membawa dua keranjang penuh makanan dan banyak barang


" Astaga lili , kalau uang kamu kurang "


Sbastian menaikkan sebelah alisnya


" Pakek uang kak Tian dulu , nanti lili ganti pakek uang lili di rumah "


Liona menatap Sbastian memelas


" Lain kali , jika mau belanja , kira-kira dulu , apakah uang yang kamu punya cukup atau tidak "


Sbastian tidak menggubris


" Iya kak , lili minta maaf , lain kali ngak akan ulangi lagi "


Liona menunduk

__ADS_1


" Awas kalau ingkar janji "


Sbastian melirik liona


" Iya kak "


Liona mengangguk


" Dimana kakakmu "


Sbastian celingukan


" Kakak lagi di sana "


Liona menunjuk rak yang berjejer rapih yang berisi berbagai barang keperluan laki-laki


" Lagi cari apa "


Sbastian berdiri


" Katanya mau cari yang kayak kak Sbastian pakek waktu sholat itu lho , yang di pakek kayak rok , namanya kalau ngak salah parun "


Liona menunjuk rok nya


" Cari sarung "


Sbastian membenarkan


" Iya "


Liona mengangguk


" Apa Sean sudah selesai "


Sbastian melihat keranjang Sean yang sudah ada berbagai macam es krim


" Sudah pa , ini buat stock Minggu depan "


Sean menyodorkan keranjang penuh es krim


" Sean emang bisa makan semua "


Liona berlutut di depan Sean


" Ngak kak , beberapa buat bintang , Sean juga mau cari coklat , buat camilan Minggu depan , jadi Sean ngak perlu keluar-keluar lagi deh "


Sean tersenyum


" Ayo ikut papa "


Sbastian mengambil keranjang Sean dan menarik lili


" Kita taruh dulu "


Sbastian meletakkan tiga keranjang belanja di kasir


" Ayo ikut papa "


Sbastian menggendong Sean


" Kamu di sini dulu "


Sbastian pergi meninggalkan lili di kasir sendiri


" Nona "


Salah satu pegawai memanggil liona


" iya kak "


Liona menyahuti


" Silahkan duduk di sana , anda akan lelah jika hanya berdiri "


Karyawan itu menunjuk bangku di sebrang


" Oh.. makasih "


Liona tersenyum


" Cari apa pa "


Sean menatap sekitar , di sana penuh dengan peralatan ibadah


" Cari mukenah buat kak lili , kasian kalau pakek mukena bunda terus , kasih aja yang baru "


Sbastian berjalan ke ujung rak , di sana terlihat banyak sekali mukenah


" Bilang aja ngak mau bagi-bagi mukenah bunda "


Sean menyindir


" Hehehe "


Sbastian hanya cengengesan saat Sean tau maksud sebenarnya


" Terus mukena bunda mau di taro di mana"


Sean melipat tangannya di atas dada


" Papa mau buat ruangan khusus , nanti ada di samping kamar kamu "


Sbastian menurunkan Sean dan mulai memilih mukena untuk liona


" Warna apa ya dek "


Sbastian memilah-milah banyak mukenah dengan warna-warna yang cantik dan lucu


" Warna biru aja "


Sean menunjuk warna biru langit kesukaannya


" Emang kamu "


Sbastian melenggang pergi


" Ish... Biru tuh bagus pa "


Sean mengejar papanya


" Sean "


Suara seorang wanita tiba-tiba memanggil dan membuat Sean menoleh


" Kak Clara "


Sean berpaling dari Sbastian dan berlari menuju Clara


*Bruk


Sean terjatuh ke lantai


" sakit tuh "


Sbastian membatin


" Kak Clara "


Sean bangkit dan kembali berlari


*Hup


Clara menangkap Sean


" Kenapa kak cantik di sini "


Sean mencolek hidung Clara


" Lagi cari mukenah "


Clara membawa Sean ke dalam gendongannya dan berjalan menghampiri Sbastian


" kamu sendiri cari apa "


Clara melihat mukenah anak-anak di samping Sbastian


" Mau cari mukenah untuk liona "


Sbastian menjawab


" Kalau liona , pakek warna yang lembut saja , seperti merah maron atau yang lain "


Clara memberi pendapat


" Hm... Sepertinya bagus juga , bisakah kamu memilihkannya , sebagai gantinya aku akan membantumu "


Sbastian memberi kesepakatan


" Boleh , deal ya "


Clara mengangguk


" Deal "


Sbastian mengangguk


" Turunin Sean dong "


Sean menoel noel pipi Clara


" Mau jalan sendiri "


Clara mencium pipi Sean


" Mau makan coklat , ngak enak kalau sama di gendong "


Sean menangkup pipi Sean


" Baiklah "


Clara menurunkan Sean


Clara membantu Sbastian memilih beberapa mukenah juga gamis baru untuk liona , dan sebaliknya Sbastian membantu Clara memilih mukenah anak-anak dan beberapa gamis anak


"T..tunggu tunggu "


Sbastian menyadari sesuatu


" Kenapa kita cari mukenah anak "


Sbastian menatap Clara aneh


" Buat anak-anak lha "


Clara menjawab dengan enteng


" Buat anaknya siapa "


Sbastian semakin bertanya


" Buat anak kita "


Clara menjawab asal


" Apa kau bilang , ulangi lagi "


Sbastian mendekat


" Buat bintang , anaknya Rudi "


Clara menjawab dengan santai


" Aku kira aku salah dengar "


Sbastian menggumam dan kembali memilih mukena


" Ngak salah kok hehehe "


Clara terkekeh kecil


" Aneh "


Sean mengeluarkan coklatnya dan memakannya sambil memperhatikan Clara dan Sbastian yang sibuk sendiri-sendiri


" Kalau buat anak-anak bagusnya pink atau hijau "


Sbastian menunjukkan dua mukenah


" Pink aja , kan dia cewek "


Clara memberi usul


" Jangan , kalau putri ngak suka pink gimana , pilih biru aja "


Sean memberi pendapat


" Itu kalau kamu yang pakek warnanya biru"


Sbastian berbalik


" Menurutku biru aja deh , kalau biru kan warna dominan , bisa buat cowok bisa buat cewek "


Clara setuju


" Tuh kan "


Sean tersenyum mengejek


" Okey okey "


Sbastian memilih beberapa warna biru yang akan dia beli


" Mau beli berapa "


Sbastian menunjukkan lima mukenah


" Semuanya aja "


Clara memasukkan semua yang Sbastian pilih ke dalam keranjang


" Kalau begitu pilih yang agak besar aja , kan bintang juga tumbuh "


Sean menunjuk beberapa mukenah yang lebih besar


" Sean benar , kan nanti bisa di buat ibunya juga , pilih warna lain aja , atau beli dua pasang aja , mukenanya couple buat bintang sama ibunya , juga beliin sarung buat Rudi "


Clara memberi usulan


" Ide bagus "


Akhirnya Sbastian dan Clara memutuskan membeli empat mukenah dan dua sarung juga peci untuk keluarga Rudi , hitung-hitung sedekah , begitu kata Sean


" Kakak udah selesai "


Liona berdiri begitu melihat Sbastian berjalan mendekat dengan Clara , Sean yang duduk di dalam troli , asisten John yang membawa banyak barang dan kembarannya yang membawa satu keranjang belanja


" Hari ini kakak bayar semua , lain kali kalian hitung-hitung dulu sebelum membeli , apa kamu mengerti lili "


Sbastian menatap lili


" Mengerti kak hehehe "


Liona memberikan senyum terbaiknya


" Dasar "


Lion geleng-geleng kepala melihat adiknya yang mengalahkan Sean

__ADS_1


__ADS_2