
Sudah satu jam adinda tertidur dan suster mengatakan sudah saatnya untuk minum obat , agar stamina adinda kembali dan luka operasi cepat kering
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di ruangan pribadi rumah sakit yang khusus di gunakan untuk keluarga sbastian
Sbastian melangkah membuka pintu dan terlihat suster membawa nampan yang berisikan obat obatan
"Permisi tuan , sudah saatnya nyonya meminum obat " kata suster ramah
"Oh .... Iya sus silahkan , saya akan membangunkan istri saya dulu " kata sbastian
"Siapa" bi Ainin bertanya
" Suster , sekarang waktunya adinda minum obat " kata sbastian sambil berjalan ke arah bankar adinda
"Oh...." Kata bi Ainin dengan nada yang panjang
"Sayang , bangun saatnya untuk minum obat . hei sayang ..... adinda , anak nakal bangun , Adin , sayang " sbastian menepuk pelan pipi adinda , namun adinda tidak merespon
"Sayang , Adin , adinda bangun " sbastian mulai menepuk pipi adinda lebih keras dan mengguncang tubuhnya
"Permisi tuan " suster memeriksa denyut nadi dan denyut jantung adinda
" Maaf tuan saya akan memanggil dokter dahulu " setelah berkata itu suster berlari keluar dari ruang rawat untuk memanggil dokter
"Istriku kenapa bi " tanya sbastian kepada bi Ainin yang sedari tadi sudah berdiri di samping ranjang
" Tenanglah"kata bi Ainin sambil menggosok punggung sbastian untuk menenangkan nya , sbastian terus saja menciumi kening dan mengelus rambut adinda
Tak lama dokter masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa bersama 2 suster lainnya
"Permisi tuan " kata dokter meminta ruang untuk memeriksa adinda
"Ada apa dengannya dokter "
Tanya sbastian panik
"Maaf tuan kami harus menangani nyonya lebih lanjut " kata dokter kepada sbastian
"Suster segera beritahu dokter Brian untuk segera datang ke sini dan siapkan alat alat untuk nyonya " perintah dokter kepada salah satu suster
Salah satu Suster itu berlari keluar dan suster yang lain membantu dokter membawa adinda menuju ruangan lain
Tepat pada waktu itu pak Sam datang bersama kedua orang tua sbastian, namun
Sbastian tidak menghiraukan kehadiran ketiga orang itu , sbastian menggenggam tangan adinda dan memanggil manggil namanya berharap adinda membuka mata
"Adinda buka matamu , adinda aku akan melakukan semua yang kamu mau , buka matamu sayang , kamu kenapa , adinda dengarkan aku , adinda " sbastian memanggil nama adinda
saat itu waktu menunjukkan pukul 12.12
Sbastian , dokter dan satu suster berlari membawa bankar adinda menuju UGD untuk tindak lebih lanjut
"Maaf tuan anda tunggu di sini " dokter menghentikan sbastian di depan pintu UGD
"Sbastian " orang tua sbastian memanggil , namun sbastian justru berbalik ke arah pak Sam dan memeluk pak Sam
" ayah " sbastian memeluk pak Sam seakan meluapkan segala isi hatinya
" Ayah kenapa lagi dengan adinda " tanya sbastian dengan nada yang pelan kepada Pak Sam
Orang tua sbastian hanya bisa melihat sbastian memeluk pak Sam dan tidak bisa berbuat apa apa.
Kesalahan yang dulu mereka perbuat telah menciptakan keretakan antara mereka dan putranya .
______
Satu jam lebih sudah sbastian duduk memegang tasbih di kursi tunggu di samping UGD , kepalanya menyender di pundak pan Sam guna mengurangi rasa pusing yang di rasakan
__ADS_1
"Ayah kenapa adinda sangat lama " tanya sbastian dengan tatapan kosong melihat dinding rumah sakit
" Tenanglah , tetaplah berdoa " nasehat pak Sam sembari menggosok lengan sbastian guna menenangkan sbastian
Sebenarnya pak Sam merasa tidak enak dengan keadaan itu , namun ayah sbastian mengisyaratkan bahwa itu tidak masalah
" Bagaimana dengan putraku " sbastian langsung terduduk saat teringat bahwa dia melupakan putranya
" Ada Ainin yang menjaganya " kata papa sbastian
"Oh...." Sbastian hanya ber oh ria saat papanya mengatakan itu
"Aku ingin melihat putraku ayah " kata sbastian kepada pak Sam
"Iya , cepatlah kembali " kata mama sbastian mengingatkan
"HM..." Sbastian hanya berdehem
Sbastian hanya sebentar melihat putranya , lalu pergi beribadah , setelah itu Sbastian kembali ke ruang UGD , bertepatan saat sbastian ingin duduk , dokter keluar dari ruang UGD
" bagaimana keadaan istri saya dok " tanya sbastian kepada dokter
" Maaf tuan , kami tidak bisa menyelamatkan nyonya , kangker itu telah menjalar dan tuhan berkehendak lain , kami turut berduka cita " kata dokter
Setelah mendengar kalimat yang di ucapkan dokter , sbastian merasa dunianya hilang , suara yang ada di sekitar tidak mampu memasuki telinga sbastian , sbastian jatuh terduduk di lantai , air mata mengalir dengan deras , tubuhnya lemas
"Istriku ayah , dia meninggalkanku dan dia meninggalkan putranya yang masih beberapa jam lahir , dia bodoh kan ayah , bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan putranya yang baru lahir , benar - benar bodoh , dia wanita terbodoh yang aku nikahi" racau sbastian saat merasakan pelukan dari seseorang , matanya tetap melihat kosong ke depan dan air mata tetap mengalir
" haha.... Hujan pun menemaniku bersedih , apa ayah tau hujan itu sahabatku dari kecil , dia selalu datang saat aku menangis , sampai ada istriku yang bodoh itu , dia menghentikan hujannya , hebat kan dia , tapi wanita bodoh itu mengembalikan teman ku , bodohnya dia , benar benar bodoh , ingin rasanya aku memarahinya dan menarik telinganya " racau sbastian mengingat masa masa bersama istrinya
"Tenanglah anakku , ini mama . kamu harus kuat untuk putramu , dia membutuhkanmu " nasehat mama sbastian yang sedari tadi hanya diam
" Iya , aku faham " balas sbastian pendek
Dengan tubuh yang gemetar sbastian berjalan di papah oleh papa dan juga pak Sam menemani adinda menuju tempat peristirahatan terakhir
Putranya dititipkan kepada bi Aini agar di awasi selama sbastian mengantar almarhum adinda menuju makam pribadi keluarga
Selama pemakaman berlangsung , sbastian tidak henti-hentinya menitikkan air mata , sbastian berada di samping keranda mayat bagian kanan kepala istrinya
Saat akan di makamkan sbastian mencium kening dan juga pipi istrinya untuk terakhir kali , saat papan kayu akan di letakkan sbastian meminta waktu sebentar , sbastian memandang wajah istrinya untuk terakhir kalinya
Air mata sbastian tidak berhenti mengalir , bahkan saat mengazani istrinya isakan kecil terdengar dari bibirnya mengingat putranya yang masih bayi di tinggalkan oleh sang ibu
Setelah acara pemakaman selesai , sbastian duduk sebentar di samping makam istrinya memegang batu nisan yang bertuliskan nama lengkap istrinya
"Adinda Putri ayu , orang paling menyebalkan yang pernah aku temui . aku akan selalu tersenyum . Itu pesanmu kan , Sayang " kata sbastian sambil mengelus nisan adinda
Tak lama asisten John mendekat dan membisikkan sesuatu kepada pak Sam , pak Sam terlihat terkejut lalu pak Sam memberitahu sbastian apa yang di bisikkan oleh asisten John
"Astaghfirullah , apa lagi ini ya Allah " gumam sbastian sambil berlari menuju mobil yang sudah siap di pintu makam
Orang tua sbastian tidak bisa menemani sbastian terlalu lama , karena adik sbastian yang sedang sakit juga membutuhkan mama sbastian
Di dalam mobil sbastian hanya diam dan sesekali berbicara agar asisten John yang sedang mengemudi melajukan kendaraannya lebih cepat lagi menuju rumah sakit
" Kita sudah sampai tuan " kata asisten John membuyarkan lamunan sbastian
Sbastian berlari menuju ruang anak dimana putranya di rawat
" Bi bagaimana putraku bi " tanya sbastian kepada bi Ainin
" Tadi saya mau membantu suster memberikan susu kepada tuan muda , namun tuan muda sama sekali tidak bergerak , dan sekarang tuan muda berada di dalam " jelas bi Aini dengan nada panik
" John " panggil sbastian
"Saya sudah memeriksa semua tuan , tidak ada yang salah " kata asisten John
Sbastian mondar mandir di pintu ruangan itu , khawatir dengan keadaan sang putra
__ADS_1
Tak lama dokter keluar bersama dengan seorang suster
"Dok bagaimana putraku " tanya sbastian
"Maaf tuan, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa tuan muda " kata dokter dengan kepala tertunduk
Sbastian terhuyung , pandangannya menggelap , tubuhnya tak kuat lagi menahan semuanya dunianya hancur
Hanya dalam satu hari , semua angan - angan sbastian yang di bangun tinggi tinggi hancur tak berbentuk , mimpi yang ingin ia wujudkan bersama istrinya hilang tertiup angin
Hanya dalam waktu dua jam semuanya meninggalkannya sendiri
Dalam pingsannya dia bermimpi bersama dengan sang istri dan putranya duduk di bawah pohon , dimas yang terlihat berumur 5 tahun duduk di pangkuan sang istri
"Abi jangan lupa semua pesanku ya , jaga diri Abi baik baik , aku di sana ngak sendirian , putra kita menemaniku , Abi harus kuat ya , nanti kita kumpul lagi sama sama di alam sana " kata adinda sambil mengelus rambut sbastian
"Apa yang kamu katakan , kita akan selalu bersama , jangan berkata seperti itu lagi , aku ngak suka " kata sbastian dengan nada yang ketus
"Apa sih ayah , ngak boleh gitu kalo ngomong sama bunda " kata anak kecil yang ada di pangkuan adinda
" Tuh dengerin , anak kecil aja tau kalo ngomong itu harus pelan dan sopan " kata adinda menunjuk Dimas
" Apa sih anak ayah , kita akan selalu bersama " kata sbastian mencolek hidung Dimas
Tiba tiba Adinda berdiri menggendong Dimas dan berjalan menjauh
"Ayah tetaplah hidup untuk kami , kami membutuhkan doa ayah , aku sayang ayah " kata Dimas yang berada di dalam gendongan adinda
Mimpi itu terlihat memudar , sbastian tidak mampu melakukan apapun , tubuhnya kaku
Pak Sam yang sedang menunggui sbastian sadar terkejut saat melihat sbastian tiba tiba bangun dan meneriakkan nama adinda
" Tian , tenanglah " kata pak Sam sambil menyodorkan segelas air
Namun sbastian langsung berlari keluar kamar mencari putranya yang sedang di mandikan di halaman depan rumah
"Semuanya mimpi..... ini mimpi...... ini tidak nyata " sbastian meracau di pintu rumah
Pak Sam langsung memeluk sbastian dan menenangkan sbastian yang terlihat syok
"Tenanglah nak , tenanglah " air mata pak Sam yang berusaha ia bendung sejak tadi akhirnya keluar menemani air mata sbastian yang tidak pernah berhenti mengalir
Gerimis yang menyertai sbastian sejak tadi juga tidak berhenti , menemani sbastian sejak kepergian sang istri
" Kenapa ayah , kenapa mereka semudah itu meninggalkan aku , aku bersama siapa lagi sekarang ayah , kenapa mereka tega " kata sbastian dengan nada yang keras
" Aku tau ayah , mereka kan ibu dan anak , tidak mungkin mereka tidak sama , iya kan ayah " kata sbastian
Sbastian langsung berdiri mendekati jasad putranya
"Ayo , pak kita lanjutkan , putraku tidak jauh beda dari ibunya , dia tidak ingin ayahnya ini bersedih " kata sbastian mencoba tegar
Bibir sbastian mengulum senyum , namun air matanya tidak berhenti mengalir , hatinya yang rapuh di balut dengan senyum getir yang menyayat hati
Para pelayat ikut menitikkan air mata , melihat sbastian menegarkan hatinya sendiri
Sepanjang jalan menuju pemakaman , sbastian menggendong putranya yang di balut dengan kain kafan dan juga di lapisi kain batik di luarnya , air matanya tidak berhenti mengalir
pak Sam yang sudah lemas di papah oleh asisten John untuk sampai ke pamakaman
Sebelum makam putranya di tutup , sbastian menciumi seluruh wajah putranya untuk terakhir kalinya
"Anak ayah , temani ibu ya , ayah di sini baik - baik saja , ada kakek bersama ayah dan juga paman John , jaga ibumu ya , putraku"
Kata sbastian sambil membelai kepala putranya
Flashback off
Kesedihan yang di rasakan dulu dirasakan seakan perlahan memudar karena dia
__ADS_1
Yang membuat sbastian tersenyum untuk pertama kali setelah waktu yang cukup lama