
" Lao , Aloe jaga Aniel "
Sbastian berlari membawa Aniel dan menyerahkan Aniel ke dalam gendongan Lao
" Papa "
Aniel menarik tangan Sbastian
" Papa akan memeriksakan kakak dulu ya , kamu jangan nakal ya , papa akan segera pulang "
Sbastian mencium kening Aniel lama
" Papa , tak ean napa "
( Papa , kak Sean kenapa )
Mata Aniel mulai berair
" Nanti papa kabari ya sayang "
Sbastian mencium pipi Aniel dan beranjak pergi
" Kalian berdua tetaplah di sini , minta bi Aini menyiapkan kamar kalian , makanlah dan jangan tunggu kakak , mungkin akan pulang telat "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya namun berbicara dengan lion
" Iya kak "
Lion mengangguk
" Tuan "
Mobil terparkir tepat di samping Sbastian
" Sayang , jangan lupa makan ya "
Sbastian sekali lagi mencium pipi Aniel dan masuk ke dalam mobil
" Papa "
Sean menatap Sbastian
" Tidak akan terjadi apapun sayang , tenanglah "
Sbastian duduk di kursi belakang sambil memangku dan menciumi pipi Sean
" Tenanglah pa "
Sean mencoba menenangkan Sbastian
" Sssttttt "
Sbastian memeluk dan meletakkan kepala Sean di dadanya
" Kamu masih sama kecilnya seperti dulu , papa sangat khawatir sayang "
Sbastian mencium kening Sean
" Papa "
Sean memejamkan matanya
: Halo Mao , kamu dimana
Sbastian menelfon Mao dan membuat Sean mendongak
: Iya tuan , saya ada di mobil kedua
: Baiklah
* Tuuut
Sbastian mematikan telfonnya
: Halo John
Sbastian menelfon asisten John
: Iya tuan
: Ini Sean ku...
: Saya sudah membuat janji , nona Mao memberitahu saya , mereka akan menjemput anda di pintu masuk rumah sakit
: Hm... Baiklah
* Tuuut
Sbastian memutuskan sambungan teleponnya
" Papa jangan panik ya , Sean gapapa "
Sean mendongak ke atas
" Iya "
Sbastian tersenyum kecil
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama , keheningan melanda di dalam mobil , Sean hanya mengusap usap lengan Sbastian dan Sbastian memeluk serta menciumi kening Sean
" Kita sudah sampai tuan "
Pak supir membuka pintu mobil
" Ayo pa "
Sean mengguncang Sbastian
" Baik "
Sbastian tersenyum dan melangkah keluar mobil
" Tuan Sbastian "
Para dokter menyambut dan dari belakang Mao mendorong kursi roda Sean
" Tuan dudukkan tuan muda di sini "
Mao menghampiri Sbastian
" Hm.. "
Sbastian meletakkan Sean di atas kursi roda dan mengikuti para dokter menuju ruang pemeriksaan
" Dokter kureha "
Mao menepuk pundak dokter spesialis yang sudah menjadi teman baiknya
" Iya dokter Mao "
Dokter kureha menoleh
" Mari "
Mao memimpin jalan di ikuti Sbastian, dokter lainnya dan para pengawal
Sbastian membawa Sean penuh dengan hati-hati hingga sampai di ruang pemeriksaan
" Mohon tuan tetap di sini "
Mao menghentikan Sbastian
" Jangan takut ya sayang "
Sbastian berlutut dan mencium kening Sean
" Iya pa "
Sean memeluk Sbastian sebentar dan Mao membawanya masuk ke dalam
" Tuan "
Asisten John menepuk pundak Sbastian
" Mari duduk "
Asisten John menuntun Sbastian duduk dan menenangkan Sbastian yang terlihat sangat cemas hingga air matanya mulai mengalir
Di dalam ruangan
" Bisakah saya berbicara dengan Mao dan dokter kureha saja "
Sean yang di dudukkan di atas bankar menatap dokter yang lain
" Kalian keluarlah dari pintu belakang"
Mao menunjuk pintu belakang
" Baik tuan muda "
Mereka semua menunduk hormat dan segera pergi dari ruangan
" Bagaimana Mao "
Sean merebahkan dirinya
" Racunnya membuat syaraf kaki anda lumpuh dan mati rasa , saya serta dokter kureha masih mencari penawarnya "
Mao duduk di atas kursi di ikuti dokter kureha
" Maaf tuan muda , jika boleh saya tau mengapa anda tidak memberitahu semuanya kepada tuan Sbastian "
Dokter kureha menunjukkan rasa ingin tahu yang besar
" Begini dokter "
Sean duduk di bantu Mao
" Papa itu memiliki hati yang seperti jelly , hati papa sangat lembut dan rapuh , Sean mengibaratkannya seperti jelly karena papa itu benar-benar lembut , penyayang dan segalanya "
Sean tersenyum
" Papa itu tidak tegaan , setelah menangkap orang yang mencoba untuk membunuh aku , papa maupun Aniel , papa melepaskan mereka dengan syarat tidak boleh mengulangi , papa itu tidak sampai hati untuk memberi mereka pelajaran yang setimpal haha "
Sean terkekeh
" Tapi mengapa anda mengibaratkannya seperti jelly "
Dokter kureha ingin tau lebih banyak
" Jika di ibaratkan kaca , maka itu bisa di lebur dan di ulang pembuatannya , jika kertas bisa di masukkan kembali ke tempat daur ulang , coba bayangkan jelly jika jatuh , dan hancur , entah itu ke atas meja , entah itu ke lantai , jika hancur pasti akan langsung di buang... Kepercayaan papa kepada seseorang itu besar sekali , namun jika dia menghianati papa , maka papa seterusnya tidak akan percaya dan tidak pernah memberi kesempatan untuk kembali , karena itu aku merahasiakan semua ini dari papa , aku yakin papa sekarang sedang menangis di depan "
Sean membuat dokter kureha menggut-manggut
" Saya mengerti tuan "
Dokter kureha tersenyum
" Dan ya , mungkin penawarnya tidak akan siap dalam waktu dekat , saya masih butuh waktu "
Dokter kureha memberitahu dan di angguki oleh Mao
" Aku mempercayai kalian dan katakan pada papa apapun yang kalian bisa , aku tidak ikut-ikut "
Sean mengangkat kedua tangannya
" Haisss dasar tuan muda "
Dokter kureha geleng-geleng kepala di ikuti kekehan Mao
" Mari tuan muda , kita kembali "
Mao mengangkat Sean kembali ke atas kursi roda
" Aku mempercayai kalian "
Sean tersenyum
* Kriyek
Dokter kureha membuka pintu
" Papa "
Sean memanggil Sbastian dengan tatapan sedih
" Kenapa sayang "
Sbastian menghampiri Sean dan berlutut di hadapan Sean
" Syaraf tuan muda tidak bekerja normal , kami tidak tau apa yang terjadi dan... Tuan muda... lumpuh permanen "
Mao berbicara sambil memegang pundak Sean
*Tes
Luruh air mata Sbastian
" Papa "
Sean mengusap air mata Sbastian
" Kenapa harus kamu sayang "
Sbastian meletakkan kepalanya di atas kedua paha Sean
" Papa "
Sean mengelus kepala Sbastian
" Papa... Papa harus apa "
Sbastian mendongak dan menatap Sean
" Kami masih meneliti apa yang terjadi dengan tuan muda Sean , kami akan berusaha untuk mencari titik terang agar tuan Sean bisa berjalan dengan normal "
Dokter kureha berbicara namun Sbastian seperti tidak menghiraukan
" Lakukan semuanya , jika butuh biaya katakan saja "
Sbastian membelai lembut pipi Sean
" Papa jangan gini , Sean ngak apa apa kok , Sean udah baikan kok pa , papa jangan nangis "
Sean mengusap air mata Sbastian
" Hm... "
Sbastian mengusap kaki Sean dan menenggelamkan wajahnya di sana
" Papaaaa "
Sean dengan lirih memanggil dan memeluk punggung Sbastian
" Kapan Sean bisa di obati "
Sbastian bangkit dan berdiri
" Kami belum bisa memastikan "
Dokter kureha menjawab
" Kalau begitu ayo pulang , telfonlah jika membutuhkan sesuatu "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berjalan menuju pintu keluar
" Papa , nanti papa capek kalau gendong Sean "
Sean mengingatkan
" Kamu itu masih kecil , lagian papa juga kuat , ngak lemah "
Sbastian masuk ke dalam mobil dan memeluk Sean kembali
" Memangnya kenapa kalau kamu berat , meski kamu sampai besar juga papa tetap bisa gendong kamu "
Sbastian merebahkan tubuhnya
__ADS_1
" Aku ngak boleh sedih , putraku sudah sembuh dari koma , hanya masalah kaki saja , aku akan kembali berpuasa dan meminta petunjuk , aku yakin putraku bisa kembali normal "
Sbastian membatin
" Papa... Boleh gak kalau mampir ke toko kue "
Sean membuat Sbastian menoleh ke toko kue yang sudah terlewat
" Paman , tolong mampir ke toko kue yang baru kita lewati "
Sbastian berbicara dengan pak supir
" Iya tuan "
Pak supir berhenti dan berbalik arah menuju toko kue yang di maksud
" Ayo turun "
Sbastian turun saat pak supir membuka pintu
" Sean mau cake apa "
Sbastian masuk di kawal Ramlan dan luga
" Mau coklat buat Sean , dan strawberry dua untuk kakak lili juga adek , sama matcha satu buat kak lion "
Sean menunjukkan tiga jarinya
Sbastian menggendong Sean dengan satu tangannya dan tangannya yang lain melihat berbagai cake di etalase kue
" Lihat kakak , ada cake baru "
Sbastian menunjuk kue beruang putih yang sepertinya baru di buat
" Iya tuan , itu resep kami yang baru , anda bisa mencobanya secara gratis "
Salah satu pelayan pria memberitahu
" Mau mau Sean mau itu "
Sean menunjuk kue beruang putih
" Baik tuan muda "
Pelayan itu mengambil sepotong dan meletakkannya di atas meja
*Grep
" Aem... "
Sean memakannya menggunakan tangannya
" Kotor sayang "
Sbastian memukul tangan Sean yang sudah masuk ke dalam mulut
" Enak pa enak , Sean mau dong beli kue nya "
Sean bertepuk tangan
" Iya iya , tolong ya "
Sbastian tersenyum
" Baik tuan , silahkan tunggu sebentar , cake yang lain masih di dalam , silahkan di nikmati sambil menunggu "
Pelayan resto cake memberikan satu potong cake lagi untuk di nikmati
" ayo papa , kita makan "
Sean mengambil cake miliknya dan milik Sbastian
" Kalian makanlah juga , panggil yang lain , ini perintah "
Sbastian duduk di ikuti salah satu pengawal berdiri di sampingnya
Tidak lama masuklah banyak pengawal yang mengawal Sbastian bersama Mao dan asisten John membuat para pelayan resto cake terkejut
" Terimakasih tuan atas kebaikannya "
Para pengawal membungkuk hormat
" Makanlah dan bawakan untuk yang di rumah "
Sbastian membiarkan Sean memakan cake nya dengan lahap
" Mau punya papa juga , papa kenyang "
Sbastian memberikan potongan cake miliknya
" Tuan Sean benar , tuan Sbastian memiliki hati yang sangat lembut "
Mao berbisik dengan asisten John
" Memang dari dulu seperti itu "
Asisten John membalas bisikan Mao dan duduk di samping Sbastian
" Paman paman , apa boleh nanti Sean ketemu adek wafi "
Sean berbicara sampai cream cake di sendoknya belepotan kemana mana
" Boleh "
Asisten John tersenyum dan tidak lama datang satu potong cake untuk asisten John dan Mao
Setelah sesi makan besar , Sean tidur di dalam gendongan Sbastian Karen menunggu banyak pesanan yang belum di bungkus untuk orang orang di rumah
" Jika sudah ayo pulang "
Sbastian berdiri dan berjalan kembali ke mobil di ikuti Mao dan pak supir yang membawa mobil Sbastian
Saat semua sudah masuk ke dalam mobil , Sbastian meminta pak supir untuk melajukan kendaraan
" Papa "
Sean terbangun saat mobil mulai melaju
" Sudah bangun sayang "
Sbastian tersenyum
" Kita udah pulang "
Sean melihat keluar jendela
" Baru jalan sayang "
Sbastian tersenyum
" Ayo jenguk paman Rudi "
Sean menatap Sbastian dengan wajah bantal
" Baiklah paman supir kita ke rumah Rudi"
Sbastian memerintahkan
" Baik tuan "
Paman supir mengiyakan
" Kita bawa cake Sean aja ke rumah paman Rudi "
Sean memberikan pendapat
" Punya papa aja , punya Sean buat di makam di rumah "
Sbastian mencolek hidung Sean
" Okey papa "
Sean memberikan jempol
Dalam perjalanan penuh dengan canda tawa Sean dan Sbastian terkadang juga di sahuti paman supir membuat tawa semakin meriah
" Kita sudah sampai tuan "
" Sean nanti mau main sama bintang "
Sean tersenyum
" Mungkin nanti kamu tidak mengenal bintang karena bintang sudah berubah penampilannya hahaha "
Sbastian terkekeh
" Ngak mungkin Sean ngak kenal , nanti ada sesuatu yang membuat Sean mengenali bintang "
Sean berbangga diri
" Baik baik "
Sbastian tersenyum
" Kita sudah sampai tuan "
Pak supir mematikan mesin dan keluar dari mobil untuk membukakan pintu belakang
" Mau jadi bawa yang mana kuenya "
Sbastian keluar dan menuju jok belakang yang sudah di buka
" Kue papa aja "
Sean menunjuk kue Sbastian yang paling Basar
" Baiklah , ini papa atau Sean yang bawa"
Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi roda yang di bawa oleh Mao
" Sean aja "
Sean memangku cake yang lumayan besar dan Sbastian mendorong Sean sampai di depan pintu
* Tok..tok..tok
Sbastian mengetuk pintu
" Sebentar "
Terdengar suara sahutan dari dalam
* Kriyek
Pintu terbuka
" Hai paman Rudi "
Sean melambaikan tangan
" Astaga tuan , mengapa anda tidak memberitahu "
Rudi membuka pintu dengan dua daun lebar-lebar
" Sean mendadak ingin kesini , jadi mampir sekalian "
Sbastian menggelus kepala Sean
" Mari masuk mari , silahkan duduk "
Rudi mempersilakan Sbastian duduk , Sbastian duduk di sofa paling ujung agar dekat dengan Sean dan meletakkan cake yang di bawa Sean di atas meja
" Ibu , bintang , ada tamu "
Rudi sedikit berteriak dan keluarlah mawar sedang menggendong bayi yang sedang tertidur
" Tuan Sean "
Mawar terkejut
" Sini sayang "
Rudi memanggil
" Bagaimana kabar bibi "
Sean bertanya
" Bibi baik tuan muda , berkat tuan muda dan tuan Sbastian "
Mawar tersenyum
" Apa ini adiknya bintang "
Sean menunjuk bayi yang sedang di gendong oleh mawar
" Iya tuan muda , namanya jelita , kami memanggilnya lita "
Mawar duduk di samping Rudi
" Papa , Sean mau liat adek bayi "
Sean menunjuk mawar
" Sini papa bantu "
Sbastian berdiri
" Ngak usah , Sean bisa sendiri "
Sean melajukan kursi rodanya perlahan menuju mawar
" Waaaah lucu pa lucu "
Sean tersenyum senang melihat Lita kecil yang sepertinya habis di mandikan
" Adeknya wangi ya bibi "
Sean mencium pipi gembul lita dan di balas senyuman oleh mawar
" Saya akan membuatkan minuman "
Mawar memberikan baby Lita kepada Rudi dan berlalu melewati rudi
" Paman paman , adek bayinya ngak mirip sama paman , tapi mirip sama bintang "
Sean menunjuk baby Lita
" Kan dia perempuan , kalau laki-laki pasti mirip paman "
Rudi mendekatkan baby Lita kepada Sean
" Adek bayi adek bayi halo "
Sean menoel noel pipi baby Lita
" Ayah "
Suara seorang anak perempuan membuat Sean menoleh
" Bintang "
Sean melambaikan tangan
" Waaahhh Sean "
Bintang berlari mendekat
" Bintang udah tinggi "
Sean melihat bintang sambil mendongak
" Iya dong , bintang latihan beladiri tiap hari , jadinya tinggi deh "
Bintang tersenyum
" Ayo main yok bintang "
__ADS_1
Sean mengajak
" Boleh ya papa "
Sean menatap Sbastian dengan senyuman
" Iya iya boleh "
Sbastian terkekeh
" Benar benar kenal "
Sbastian membatin
" Ayo liatin adek bayi tidur "
Bintang mengajak
" Mau mau "
Sean mengangguk cepat
" Ayah , taro adek bayinya di box "
Aniel menunjuk box bayi di ruang keluarga
" Iya iya "
Rudi berdiri dan meletakkan baby Lita di box bayinya
" Lihat lihat , adek bayinya gini gini "
Bintang menirukan tangan baby Lita yang sedang mengusap-usap wajahnya
" Hahaha , pasti dulu adek Aniel juga kayak gini "
Sean terkekeh
" Wah.... Kapan-kapan adiknya Sean bawa kemari ya , bintang mau tau "
Bintang mengambil kursi rias ibunya dan duduk di samping Sean
" Kalian ngapain di sini "
Mawar yang membawa nampan minuman berhenti sejenak
" Liatin adek bayi tidur , adeknya lucu kayak adeknya Sean "
Sean menatap mawar
" Baiklah , kalau begitu ini susu untuk kalian berdua "
Mawar meletakkan dua gelas susu vanila di atas meja dan berlalu pergi
" Makasih ibu "
" Makasih bibi "
Bintang berdiri , mengambil gelas susu dan memberikan gelas susu milik Sean
" Jadi anda mau bagaimana "
Bintang duduk di atas kursi rias sambil memegang segelas susu
" Ntahlah , aku akan memberi kejutan untuk para tersangka "
Sean meminum susunya sambil menatap baby Lita
" Terakhir mereka juga mencoba mengancam papa dengan Aniel , tapi aku meminta Mao untuk turun tangan tanpa mengandalkan yang lain "
Sean menyeruput susu miliknya
" Apa tuan Sbastian tau "
Bintang menengguk susunya
" Tidak , bisakah kamu bantu aku retas file perusahaan papa , aku masih tidak bisa meretasnya sendiri , papa masih mengawasi aku "
Sean menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda
" Tentu tuan , saya mengabdi untuk anda "
Bintang tersenyum
" Kamu salah satu yang sangat aku percayai , jangan berhianat "
Sean menepuk pundak bintang
" Saya tau resikonya hahaha , anda kira saya tidak tau siapa yang mengatur hukuman para pembunuh bayaran itu "
Bintang terkekeh
" Apa itu terlalu kejam "
Sean melirik bintang
" Tidak tuan , tapi saya enggan melihatnya , saya kan masih kecil hahaha "
Aniel tertawa
" Kecil , aku tidak percaya hahaha "
Sean terkekeh
* Tuut tuut
Suara jam tangan yang di kenakan Sean berbunyi
" Siapa tuan "
Bintang menjulurkan kepalanya
" Ntah "
Sean menekan tombol jam tangannya dan keluar sebuah pesan
________________________
Mao :
Tuan
Baru saja masuk beberapa orang ke dalam kamar nona Aniel , namun sekarang sudah di amankan oleh Aloe dan Lao
Anda :
Memang apa masalahnya
Mao :
Masalahnya nona Aniel dan kedua tuan muda mengetahui penyusup yang masuk , kemungkinan anda akan di bawa pulang sekarang
Anda :
Kamu mendapatkan kabar dari siapa
Mao :
Ini dari Aloe dan Lao , mereka ada di rumah , saat penyusup masuk , nona Aniel dan nona lili ada di dalam kamar dan berteriak jadi tuan muda langsung masuk dan tau si penyusup
Anda :
Hm... Baiklah , pulang sekarang , urus mereka , aku mau kamu buat skenario sebaik mungkin
Mao :
Baik tuan muda , saya pamit undur diri
_____________________________
" Sean , ayo pulang "
Sbastian menghampiri Sean
" Adik dan kakakmu dalam bahaya "
Sbastian memutar kursi roda Sean
" Iya papa "
Sean mengangguk
" Babay bintang , kita akan ketemu lagi "
Sean di gendong oleh Sbastian dan berlari keluar
" Babay Sean , ketemu lagi ya "
Aniel membalas lambaian tangan Sean
Rudi mendorong kursi roda Sean ke depan mengikuti Sbastian dan di sambut oleh beberapa pengawal
" Kami kembali dulu Rudi , lekas sembuh ya"
Beberapa pengawal yang dekat dengan Rudi mengucap salam
" Hati hati kawan-kawan "
Rudi mengantar hingga rombongan Sbastian tidak terlihat oleh mata
" Kenapa tadi mas "
Mawar menutup pintu
" Nona muda yang di rumah sedang dalam keadaan tidak baik , jadi mereka segera pulang "
Rudi merangkul pundak mawar
" Lalu apa ini sering terjadi "
Mawar memeluk pinggang Rudi
" Iya , itu asal dari luka yang mas peroleh , dan mas puas , selama mas bekerja dengan tuan Sbastian , mas bisa melumpuhkan lawan sepuasnya hahaha "
Rudi terbahak-bahak
" Cukup mas , adek nanti bangun "
Mawar memukul lengan Rudi
" Ouch... Sakit sayang "
Rudi tersenyum
Di dalam mobil
" Papa ada apa "
Sean membuat Sbastian menoleh
" Ada penyusup di rumah , papa khawatir dengan adik "
Sbastian menghadap kaca depan dengan guratan kecemasan yang sangat kentara
" Lebih cepat pak supir "
Sbastian mencondongkan badannya ke depan
" Baik tuan "
Pak supir menelfon seseorang
: Tuan memerintahkan agar lebih cepat
* Tuuut
Pak supir mematikan telfonnya
Terlihat banyak sepeda motor yang melewati mobil dan mengawal kendaraan agar berjalan lebih cepat
" Papa , siapa mereka "
Sean menunjuk para pengguna sepeda motor
" Itu paman paman pengawal yang lain "
Sbastian tersenyum
Tidak lama mobil sudah terparkir di garasi rumah
" Mao jaga Sean "
Sbastian menyerahkan Sean kepada Mao dan berlari masuk ke dalam rumah
" Ayo Mao kita masuk "
Sean di dudukkan di atas kursi roda dan di bawa masuk oleh Mao
" Jangan takut papa di sini "
Terlihat Sbastian menenangkan Aniel yang sedang menangis hingga terisak-isak
" Eka ahat hiks.. eka tup dung iel huaaaa"
( Mereka jahat hiks.. mereka tutup hidung Aniel huaaaa )
Aniel memukul mukul pundak Sbastian
" Mao , dimana para penyusup itu "
Sbastian menoleh ke belakang
" mereka sudah saya amankan tuan , anda tidak perlu turun tangan "
Mao menjawab
" Baik , aku percaya padamu "
Sbastian duduk dan meninabobokan Aniel
" Papa di sini , papa tidak pergi , tidurlah "
Sbastian merebahkan dirinya di atas sofa sambil menepuk-nepuk ****@* Aniel
" Hiks... Pa nan gi , iel atut "
( Hiks... Pa jangan pergi , Aniel takut )
Aniel menempelkan wajahnya di dada bidang Sbastian
" Papa benar-benar seperti seorang ibu hahaha "
Sean terkekeh
" Dimana ayah "
Sbastian bertanya
" Tuan ada di kamarnya sedang istirahat "
Mao menjawab
" Apa ayah tau tentang kejadian ini "
Sbastian merebahkan kepalanya
" Tidak tuan "
Mao menggeleng
" Sean istirahat saja ya , papa bentar lagi ke kamar , kamu tidur di kamar papa saja , papa tunggu adek tidur dulu baru ke kamar"
Sbastian memeluk Aniel dengan erat dan memejamkan matanya
" Iya pa "
Sean mengangguk
__ADS_1
" Mari saya antar tuan "
Mao mendorong kursi roda Sean menuju lift