Aku Pangeran

Aku Pangeran
#77 ( kenapa )


__ADS_3

" Lao , Aloe jaga Aniel "


Sbastian berlari membawa Aniel dan menyerahkan Aniel ke dalam gendongan Lao


" Papa "


Aniel menarik tangan Sbastian


" Papa akan memeriksakan kakak dulu ya , kamu jangan nakal ya , papa akan segera pulang "


Sbastian mencium kening Aniel lama


" Papa , tak ean napa "


( Papa , kak Sean kenapa )


Mata Aniel mulai berair


" Nanti papa kabari ya sayang "


Sbastian mencium pipi Aniel dan beranjak pergi


" Kalian berdua tetaplah di sini , minta bi Aini menyiapkan kamar kalian , makanlah dan jangan tunggu kakak , mungkin akan pulang telat "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya namun berbicara dengan lion


" Iya kak "


Lion mengangguk


" Tuan "


Mobil terparkir tepat di samping Sbastian


" Sayang , jangan lupa makan ya "


Sbastian sekali lagi mencium pipi Aniel dan masuk ke dalam mobil


" Papa "


Sean menatap Sbastian


" Tidak akan terjadi apapun sayang , tenanglah "


Sbastian duduk di kursi belakang sambil memangku dan menciumi pipi Sean


" Tenanglah pa "


Sean mencoba menenangkan Sbastian


" Sssttttt "


Sbastian memeluk dan meletakkan kepala Sean di dadanya


" Kamu masih sama kecilnya seperti dulu , papa sangat khawatir sayang "


Sbastian mencium kening Sean


" Papa "


Sean memejamkan matanya


: Halo Mao , kamu dimana


Sbastian menelfon Mao dan membuat Sean mendongak


: Iya tuan , saya ada di mobil kedua


: Baiklah


* Tuuut


Sbastian mematikan telfonnya


: Halo John


Sbastian menelfon asisten John


: Iya tuan


: Ini Sean ku...


: Saya sudah membuat janji , nona Mao memberitahu saya , mereka akan menjemput anda di pintu masuk rumah sakit


: Hm... Baiklah


* Tuuut


Sbastian memutuskan sambungan teleponnya


" Papa jangan panik ya , Sean gapapa "


Sean mendongak ke atas


" Iya "


Sbastian tersenyum kecil


Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama , keheningan melanda di dalam mobil , Sean hanya mengusap usap lengan Sbastian dan Sbastian memeluk serta menciumi kening Sean


" Kita sudah sampai tuan "


Pak supir membuka pintu mobil


" Ayo pa "


Sean mengguncang Sbastian


" Baik "


Sbastian tersenyum dan melangkah keluar mobil


" Tuan Sbastian "


Para dokter menyambut dan dari belakang Mao mendorong kursi roda Sean


" Tuan dudukkan tuan muda di sini "


Mao menghampiri Sbastian


" Hm.. "


Sbastian meletakkan Sean di atas kursi roda dan mengikuti para dokter menuju ruang pemeriksaan


" Dokter kureha "


Mao menepuk pundak dokter spesialis yang sudah menjadi teman baiknya


" Iya dokter Mao "


Dokter kureha menoleh


" Mari "


Mao memimpin jalan di ikuti Sbastian, dokter lainnya dan para pengawal


Sbastian membawa Sean penuh dengan hati-hati hingga sampai di ruang pemeriksaan


" Mohon tuan tetap di sini "


Mao menghentikan Sbastian


" Jangan takut ya sayang "


Sbastian berlutut dan mencium kening Sean


" Iya pa "


Sean memeluk Sbastian sebentar dan Mao membawanya masuk ke dalam


" Tuan "


Asisten John menepuk pundak Sbastian


" Mari duduk "


Asisten John menuntun Sbastian duduk dan menenangkan Sbastian yang terlihat sangat cemas hingga air matanya mulai mengalir


Di dalam ruangan


" Bisakah saya berbicara dengan Mao dan dokter kureha saja "


Sean yang di dudukkan di atas bankar menatap dokter yang lain


" Kalian keluarlah dari pintu belakang"


Mao menunjuk pintu belakang


" Baik tuan muda "


Mereka semua menunduk hormat dan segera pergi dari ruangan


" Bagaimana Mao "


Sean merebahkan dirinya


" Racunnya membuat syaraf kaki anda lumpuh dan mati rasa , saya serta dokter kureha masih mencari penawarnya "


Mao duduk di atas kursi di ikuti dokter kureha


" Maaf tuan muda , jika boleh saya tau mengapa anda tidak memberitahu semuanya kepada tuan Sbastian "


Dokter kureha menunjukkan rasa ingin tahu yang besar


" Begini dokter "


Sean duduk di bantu Mao


" Papa itu memiliki hati yang seperti jelly , hati papa sangat lembut dan rapuh , Sean mengibaratkannya seperti jelly karena papa itu benar-benar lembut , penyayang dan segalanya "


Sean tersenyum


" Papa itu tidak tegaan , setelah menangkap orang yang mencoba untuk membunuh aku , papa maupun Aniel , papa melepaskan mereka dengan syarat tidak boleh mengulangi , papa itu tidak sampai hati untuk memberi mereka pelajaran yang setimpal haha "


Sean terkekeh


" Tapi mengapa anda mengibaratkannya seperti jelly "


Dokter kureha ingin tau lebih banyak


" Jika di ibaratkan kaca , maka itu bisa di lebur dan di ulang pembuatannya , jika kertas bisa di masukkan kembali ke tempat daur ulang , coba bayangkan jelly jika jatuh , dan hancur , entah itu ke atas meja , entah itu ke lantai , jika hancur pasti akan langsung di buang... Kepercayaan papa kepada seseorang itu besar sekali , namun jika dia menghianati papa , maka papa seterusnya tidak akan percaya dan tidak pernah memberi kesempatan untuk kembali , karena itu aku merahasiakan semua ini dari papa , aku yakin papa sekarang sedang menangis di depan "


Sean membuat dokter kureha menggut-manggut


" Saya mengerti tuan "


Dokter kureha tersenyum


" Dan ya , mungkin penawarnya tidak akan siap dalam waktu dekat , saya masih butuh waktu "


Dokter kureha memberitahu dan di angguki oleh Mao


" Aku mempercayai kalian dan katakan pada papa apapun yang kalian bisa , aku tidak ikut-ikut "


Sean mengangkat kedua tangannya


" Haisss dasar tuan muda "


Dokter kureha geleng-geleng kepala di ikuti kekehan Mao


" Mari tuan muda , kita kembali "


Mao mengangkat Sean kembali ke atas kursi roda


" Aku mempercayai kalian "


Sean tersenyum


* Kriyek


Dokter kureha membuka pintu


" Papa "


Sean memanggil Sbastian dengan tatapan sedih


" Kenapa sayang "


Sbastian menghampiri Sean dan berlutut di hadapan Sean


" Syaraf tuan muda tidak bekerja normal , kami tidak tau apa yang terjadi dan... Tuan muda... lumpuh permanen "


Mao berbicara sambil memegang pundak Sean


*Tes


Luruh air mata Sbastian


" Papa "


Sean mengusap air mata Sbastian


" Kenapa harus kamu sayang "


Sbastian meletakkan kepalanya di atas kedua paha Sean


" Papa "


Sean mengelus kepala Sbastian


" Papa... Papa harus apa "


Sbastian mendongak dan menatap Sean


" Kami masih meneliti apa yang terjadi dengan tuan muda Sean , kami akan berusaha untuk mencari titik terang agar tuan Sean bisa berjalan dengan normal "


Dokter kureha berbicara namun Sbastian seperti tidak menghiraukan


" Lakukan semuanya , jika butuh biaya katakan saja "


Sbastian membelai lembut pipi Sean


" Papa jangan gini , Sean ngak apa apa kok , Sean udah baikan kok pa , papa jangan nangis "


Sean mengusap air mata Sbastian


" Hm... "


Sbastian mengusap kaki Sean dan menenggelamkan wajahnya di sana


" Papaaaa "


Sean dengan lirih memanggil dan memeluk punggung Sbastian


" Kapan Sean bisa di obati "


Sbastian bangkit dan berdiri


" Kami belum bisa memastikan "


Dokter kureha menjawab


" Kalau begitu ayo pulang , telfonlah jika membutuhkan sesuatu "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berjalan menuju pintu keluar


" Papa , nanti papa capek kalau gendong Sean "


Sean mengingatkan


" Kamu itu masih kecil , lagian papa juga kuat , ngak lemah "


Sbastian masuk ke dalam mobil dan memeluk Sean kembali


" Memangnya kenapa kalau kamu berat , meski kamu sampai besar juga papa tetap bisa gendong kamu "


Sbastian merebahkan tubuhnya

__ADS_1


" Aku ngak boleh sedih , putraku sudah sembuh dari koma , hanya masalah kaki saja , aku akan kembali berpuasa dan meminta petunjuk , aku yakin putraku bisa kembali normal "


Sbastian membatin


" Papa... Boleh gak kalau mampir ke toko kue "


Sean membuat Sbastian menoleh ke toko kue yang sudah terlewat


" Paman , tolong mampir ke toko kue yang baru kita lewati "


Sbastian berbicara dengan pak supir


" Iya tuan "


Pak supir berhenti dan berbalik arah menuju toko kue yang di maksud


" Ayo turun "


Sbastian turun saat pak supir membuka pintu


" Sean mau cake apa "


Sbastian masuk di kawal Ramlan dan luga


" Mau coklat buat Sean , dan strawberry dua untuk kakak lili juga adek , sama matcha satu buat kak lion "


Sean menunjukkan tiga jarinya


Sbastian menggendong Sean dengan satu tangannya dan tangannya yang lain melihat berbagai cake di etalase kue


" Lihat kakak , ada cake baru "


Sbastian menunjuk kue beruang putih yang sepertinya baru di buat


" Iya tuan , itu resep kami yang baru , anda bisa mencobanya secara gratis "


Salah satu pelayan pria memberitahu


" Mau mau Sean mau itu "


Sean menunjuk kue beruang putih


" Baik tuan muda "


Pelayan itu mengambil sepotong dan meletakkannya di atas meja


*Grep


" Aem... "


Sean memakannya menggunakan tangannya


" Kotor sayang "


Sbastian memukul tangan Sean yang sudah masuk ke dalam mulut


" Enak pa enak , Sean mau dong beli kue nya "


Sean bertepuk tangan


" Iya iya , tolong ya "


Sbastian tersenyum


" Baik tuan , silahkan tunggu sebentar , cake yang lain masih di dalam , silahkan di nikmati sambil menunggu "


Pelayan resto cake memberikan satu potong cake lagi untuk di nikmati


" ayo papa , kita makan "


Sean mengambil cake miliknya dan milik Sbastian


" Kalian makanlah juga , panggil yang lain , ini perintah "


Sbastian duduk di ikuti salah satu pengawal berdiri di sampingnya


Tidak lama masuklah banyak pengawal yang mengawal Sbastian bersama Mao dan asisten John membuat para pelayan resto cake terkejut


" Terimakasih tuan atas kebaikannya "


Para pengawal membungkuk hormat


" Makanlah dan bawakan untuk yang di rumah "


Sbastian membiarkan Sean memakan cake nya dengan lahap


" Mau punya papa juga , papa kenyang "


Sbastian memberikan potongan cake miliknya


" Tuan Sean benar , tuan Sbastian memiliki hati yang sangat lembut "


Mao berbisik dengan asisten John


" Memang dari dulu seperti itu "


Asisten John membalas bisikan Mao dan duduk di samping Sbastian


" Paman paman , apa boleh nanti Sean ketemu adek wafi "


Sean berbicara sampai cream cake di sendoknya belepotan kemana mana


" Boleh "


Asisten John tersenyum dan tidak lama datang satu potong cake untuk asisten John dan Mao


Setelah sesi makan besar , Sean tidur di dalam gendongan Sbastian Karen menunggu banyak pesanan yang belum di bungkus untuk orang orang di rumah


" Jika sudah ayo pulang "


Sbastian berdiri dan berjalan kembali ke mobil di ikuti Mao dan pak supir yang membawa mobil Sbastian


Saat semua sudah masuk ke dalam mobil , Sbastian meminta pak supir untuk melajukan kendaraan


" Papa "


Sean terbangun saat mobil mulai melaju


" Sudah bangun sayang "


Sbastian tersenyum


" Kita udah pulang "


Sean melihat keluar jendela


" Baru jalan sayang "


Sbastian tersenyum


" Ayo jenguk paman Rudi "


Sean menatap Sbastian dengan wajah bantal


" Baiklah paman supir kita ke rumah Rudi"


Sbastian memerintahkan


" Baik tuan "


Paman supir mengiyakan


" Kita bawa cake Sean aja ke rumah paman Rudi "


Sean memberikan pendapat


" Punya papa aja , punya Sean buat di makam di rumah "


Sbastian mencolek hidung Sean


" Okey papa "


Sean memberikan jempol


Dalam perjalanan penuh dengan canda tawa Sean dan Sbastian terkadang juga di sahuti paman supir membuat tawa semakin meriah


" Kita sudah sampai tuan "


" Sean nanti mau main sama bintang "


Sean tersenyum


" Mungkin nanti kamu tidak mengenal bintang karena bintang sudah berubah penampilannya hahaha "


Sbastian terkekeh


" Ngak mungkin Sean ngak kenal , nanti ada sesuatu yang membuat Sean mengenali bintang "


Sean berbangga diri


" Baik baik "


Sbastian tersenyum


" Kita sudah sampai tuan "


Pak supir mematikan mesin dan keluar dari mobil untuk membukakan pintu belakang


" Mau jadi bawa yang mana kuenya "


Sbastian keluar dan menuju jok belakang yang sudah di buka


" Kue papa aja "


Sean menunjuk kue Sbastian yang paling Basar


" Baiklah , ini papa atau Sean yang bawa"


Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi roda yang di bawa oleh Mao


" Sean aja "


Sean memangku cake yang lumayan besar dan Sbastian mendorong Sean sampai di depan pintu


* Tok..tok..tok


Sbastian mengetuk pintu


" Sebentar "


Terdengar suara sahutan dari dalam


* Kriyek


Pintu terbuka


" Hai paman Rudi "


Sean melambaikan tangan


" Astaga tuan , mengapa anda tidak memberitahu "


Rudi membuka pintu dengan dua daun lebar-lebar


" Sean mendadak ingin kesini , jadi mampir sekalian "


Sbastian menggelus kepala Sean


" Mari masuk mari , silahkan duduk "


Rudi mempersilakan Sbastian duduk , Sbastian duduk di sofa paling ujung agar dekat dengan Sean dan meletakkan cake yang di bawa Sean di atas meja


" Ibu , bintang , ada tamu "


Rudi sedikit berteriak dan keluarlah mawar sedang menggendong bayi yang sedang tertidur


" Tuan Sean "


Mawar terkejut


" Sini sayang "


Rudi memanggil


" Bagaimana kabar bibi "


Sean bertanya


" Bibi baik tuan muda , berkat tuan muda dan tuan Sbastian "


Mawar tersenyum


" Apa ini adiknya bintang "


Sean menunjuk bayi yang sedang di gendong oleh mawar


" Iya tuan muda , namanya jelita , kami memanggilnya lita "


Mawar duduk di samping Rudi


" Papa , Sean mau liat adek bayi "


Sean menunjuk mawar


" Sini papa bantu "


Sbastian berdiri


" Ngak usah , Sean bisa sendiri "


Sean melajukan kursi rodanya perlahan menuju mawar


" Waaaah lucu pa lucu "


Sean tersenyum senang melihat Lita kecil yang sepertinya habis di mandikan


" Adeknya wangi ya bibi "


Sean mencium pipi gembul lita dan di balas senyuman oleh mawar


" Saya akan membuatkan minuman "


Mawar memberikan baby Lita kepada Rudi dan berlalu melewati rudi


" Paman paman , adek bayinya ngak mirip sama paman , tapi mirip sama bintang "


Sean menunjuk baby Lita


" Kan dia perempuan , kalau laki-laki pasti mirip paman "


Rudi mendekatkan baby Lita kepada Sean


" Adek bayi adek bayi halo "


Sean menoel noel pipi baby Lita


" Ayah "


Suara seorang anak perempuan membuat Sean menoleh


" Bintang "


Sean melambaikan tangan


" Waaahhh Sean "


Bintang berlari mendekat


" Bintang udah tinggi "


Sean melihat bintang sambil mendongak


" Iya dong , bintang latihan beladiri tiap hari , jadinya tinggi deh "


Bintang tersenyum


" Ayo main yok bintang "

__ADS_1


Sean mengajak


" Boleh ya papa "


Sean menatap Sbastian dengan senyuman


" Iya iya boleh "


Sbastian terkekeh


" Benar benar kenal "


Sbastian membatin


" Ayo liatin adek bayi tidur "


Bintang mengajak


" Mau mau "


Sean mengangguk cepat


" Ayah , taro adek bayinya di box "


Aniel menunjuk box bayi di ruang keluarga


" Iya iya "


Rudi berdiri dan meletakkan baby Lita di box bayinya


" Lihat lihat , adek bayinya gini gini "


Bintang menirukan tangan baby Lita yang sedang mengusap-usap wajahnya


" Hahaha , pasti dulu adek Aniel juga kayak gini "


Sean terkekeh


" Wah.... Kapan-kapan adiknya Sean bawa kemari ya , bintang mau tau "


Bintang mengambil kursi rias ibunya dan duduk di samping Sean


" Kalian ngapain di sini "


Mawar yang membawa nampan minuman berhenti sejenak


" Liatin adek bayi tidur , adeknya lucu kayak adeknya Sean "


Sean menatap mawar


" Baiklah , kalau begitu ini susu untuk kalian berdua "


Mawar meletakkan dua gelas susu vanila di atas meja dan berlalu pergi


" Makasih ibu "


" Makasih bibi "


Bintang berdiri , mengambil gelas susu dan memberikan gelas susu milik Sean


" Jadi anda mau bagaimana "


Bintang duduk di atas kursi rias sambil memegang segelas susu


" Ntahlah , aku akan memberi kejutan untuk para tersangka "


Sean meminum susunya sambil menatap baby Lita


" Terakhir mereka juga mencoba mengancam papa dengan Aniel , tapi aku meminta Mao untuk turun tangan tanpa mengandalkan yang lain "


Sean menyeruput susu miliknya


" Apa tuan Sbastian tau "


Bintang menengguk susunya


" Tidak , bisakah kamu bantu aku retas file perusahaan papa , aku masih tidak bisa meretasnya sendiri , papa masih mengawasi aku "


Sean menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda


" Tentu tuan , saya mengabdi untuk anda "


Bintang tersenyum


" Kamu salah satu yang sangat aku percayai , jangan berhianat "


Sean menepuk pundak bintang


" Saya tau resikonya hahaha , anda kira saya tidak tau siapa yang mengatur hukuman para pembunuh bayaran itu "


Bintang terkekeh


" Apa itu terlalu kejam "


Sean melirik bintang


" Tidak tuan , tapi saya enggan melihatnya , saya kan masih kecil hahaha "


Aniel tertawa


" Kecil , aku tidak percaya hahaha "


Sean terkekeh


* Tuut tuut


Suara jam tangan yang di kenakan Sean berbunyi


" Siapa tuan "


Bintang menjulurkan kepalanya


" Ntah "


Sean menekan tombol jam tangannya dan keluar sebuah pesan


________________________


Mao :


Tuan


Baru saja masuk beberapa orang ke dalam kamar nona Aniel , namun sekarang sudah di amankan oleh Aloe dan Lao


Anda :


Memang apa masalahnya


Mao :


Masalahnya nona Aniel dan kedua tuan muda mengetahui penyusup yang masuk , kemungkinan anda akan di bawa pulang sekarang


Anda :


Kamu mendapatkan kabar dari siapa


Mao :


Ini dari Aloe dan Lao , mereka ada di rumah , saat penyusup masuk , nona Aniel dan nona lili ada di dalam kamar dan berteriak jadi tuan muda langsung masuk dan tau si penyusup


Anda :


Hm... Baiklah , pulang sekarang , urus mereka , aku mau kamu buat skenario sebaik mungkin


Mao :


Baik tuan muda , saya pamit undur diri


_____________________________


" Sean , ayo pulang "


Sbastian menghampiri Sean


" Adik dan kakakmu dalam bahaya "


Sbastian memutar kursi roda Sean


" Iya papa "


Sean mengangguk


" Babay bintang , kita akan ketemu lagi "


Sean di gendong oleh Sbastian dan berlari keluar


" Babay Sean , ketemu lagi ya "


Aniel membalas lambaian tangan Sean


Rudi mendorong kursi roda Sean ke depan mengikuti Sbastian dan di sambut oleh beberapa pengawal


" Kami kembali dulu Rudi , lekas sembuh ya"


Beberapa pengawal yang dekat dengan Rudi mengucap salam


" Hati hati kawan-kawan "


Rudi mengantar hingga rombongan Sbastian tidak terlihat oleh mata


" Kenapa tadi mas "


Mawar menutup pintu


" Nona muda yang di rumah sedang dalam keadaan tidak baik , jadi mereka segera pulang "


Rudi merangkul pundak mawar


" Lalu apa ini sering terjadi "


Mawar memeluk pinggang Rudi


" Iya , itu asal dari luka yang mas peroleh , dan mas puas , selama mas bekerja dengan tuan Sbastian , mas bisa melumpuhkan lawan sepuasnya hahaha "


Rudi terbahak-bahak


" Cukup mas , adek nanti bangun "


Mawar memukul lengan Rudi


" Ouch... Sakit sayang "


Rudi tersenyum


Di dalam mobil


" Papa ada apa "


Sean membuat Sbastian menoleh


" Ada penyusup di rumah , papa khawatir dengan adik "


Sbastian menghadap kaca depan dengan guratan kecemasan yang sangat kentara


" Lebih cepat pak supir "


Sbastian mencondongkan badannya ke depan


" Baik tuan "


Pak supir menelfon seseorang


: Tuan memerintahkan agar lebih cepat


* Tuuut


Pak supir mematikan telfonnya


Terlihat banyak sepeda motor yang melewati mobil dan mengawal kendaraan agar berjalan lebih cepat


" Papa , siapa mereka "


Sean menunjuk para pengguna sepeda motor


" Itu paman paman pengawal yang lain "


Sbastian tersenyum


Tidak lama mobil sudah terparkir di garasi rumah


" Mao jaga Sean "


Sbastian menyerahkan Sean kepada Mao dan berlari masuk ke dalam rumah


" Ayo Mao kita masuk "


Sean di dudukkan di atas kursi roda dan di bawa masuk oleh Mao


" Jangan takut papa di sini "


Terlihat Sbastian menenangkan Aniel yang sedang menangis hingga terisak-isak


" Eka ahat hiks.. eka tup dung iel huaaaa"


( Mereka jahat hiks.. mereka tutup hidung Aniel huaaaa )


Aniel memukul mukul pundak Sbastian


" Mao , dimana para penyusup itu "


Sbastian menoleh ke belakang


" mereka sudah saya amankan tuan , anda tidak perlu turun tangan "


Mao menjawab


" Baik , aku percaya padamu "


Sbastian duduk dan meninabobokan Aniel


" Papa di sini , papa tidak pergi , tidurlah "


Sbastian merebahkan dirinya di atas sofa sambil menepuk-nepuk ****@* Aniel


" Hiks... Pa nan gi , iel atut "


( Hiks... Pa jangan pergi , Aniel takut )


Aniel menempelkan wajahnya di dada bidang Sbastian


" Papa benar-benar seperti seorang ibu hahaha "


Sean terkekeh


" Dimana ayah "


Sbastian bertanya


" Tuan ada di kamarnya sedang istirahat "


Mao menjawab


" Apa ayah tau tentang kejadian ini "


Sbastian merebahkan kepalanya


" Tidak tuan "


Mao menggeleng


" Sean istirahat saja ya , papa bentar lagi ke kamar , kamu tidur di kamar papa saja , papa tunggu adek tidur dulu baru ke kamar"


Sbastian memeluk Aniel dengan erat dan memejamkan matanya


" Iya pa "


Sean mengangguk

__ADS_1


" Mari saya antar tuan "


Mao mendorong kursi roda Sean menuju lift


__ADS_2