
*Tap..tap..tap..
Sbastian berjalan menghampiri Sean
*Plak
Tamparan mendarat di pipi Sean
" Papa "
Sean menatap manik mata Sbastian
" Kenapa kamu melakukan ini , katakan kepada papa "
Terlihat jelas guratan amarah dari wajah tenang Sbastian
" Sean tidak ada pilihan lain "
Sean menjawab dengan nada rendah
" APANYA... PILHAN APANYA SEAN "
Suara Sbastian menggelegar membuat Aniel dan mutiara terkejut
" Sean benar-benar ngak ada pilihan lain pa"
Sean benar-benar menunduk
" Jangan pukul kakak , kakak lagi sakit pa , jangan "
Aniel memeluk kaki Sean
Sean melambaikan tangannya kecil memberi isyarat kepada Mao agar Aniel di bawa pergi
" Jangan nona "
Mao menarik Aniel menjauh
" Kakak "
Aniel memeluk kaki Mao
" KAMU TAU SEAN..DIA ITU ADIK PAPA "
Sbastian mencengkram lengan Sean
" Maaf pa "
Sean memejamkan matanya
" Mas sudah mas , jangan begini "
Adinda memegang lengan Sbastian
" KAMU TAU DIA ITU BIBIMU , DIA ITU ADIK PAPA , KENAPA KAMU MELUKAINYA HINGGA SEPERTI INI "
Sbastian benar-benar mencengkram erat lengan Sean
" Maaf pa "
Sean mengulangi kalimat yang sama
" MAAF MAAF MAAF... JELASKAN SEAN JELASKAN "
Sbastian melepaskan lengan Sean dengan kasar
" Tidak bisa pa , maaf "
Sean menunduk
" Mas sudah "
Adinda menarik lengan Sbastian
" DIAM "
Sbastian membuat adinda terkejut
" Bunda "
Adimas membawa Adinda ke dalam pekukannya
" PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MELAKUKAN HAL SEPERTI INI , KENAPA KAMU MEMBUATNYA SEPERTI INI "
Sbastian berteriak di depan wajah Sean
" Maaf pa "
Sean menunduk namun tidak terlihat guratan penyesalan di wajah tampan Sean
" AAARRRGGGG... "
Sbastian mengacak rambutnya frustasi
*Grep
" Tuan "
Aloe menangkap tubuh Sean yang tiba-tiba terhuyung
" Jangan sekarang "
Sean menggumam dan memegangi kepalanya
Aloe mendudukkan Sean di lantai dengan badan Sean di sangga oleh Aloe
" Anakku "
Adinda menghampiri dan memeluk Sean
" Papa jangan malahin kakak lagi "
Aniel berlari dan memeluk Sean
" Jangan ikut campur sayang "
Bram berbisik kepada ayu
" Tapi mas "
Ayu menatap Sean
" Nanti dulu sayang "
Bram memeluk ayu dengan erat
" Mana obatku Mao "
Sean meminta
" Ini tuan "
Mao memberikan obat milik Sean
" Kakak jangan minum lagi"
Aniel menghentikan Sean
" Ssssstttt "
Sean tersenyum dan langsung meminum obatnya
" Obat apa itu "
Sbastian bertanya
" Hanya pereda nyeri pa "
Sean menjawab dengan sedikit senyuman
" Sudah mas , jangan marah lagi "
Adinda membelai lembut kepala Sean
" Sean ngak papa bunda "
Sean tersenyum
" Kamu bisa jelaskan "
Suara Sbastian merendah
" Iya nanti "
Sean tersenyum
" Maafkan papa "
Sbastian mendekati Sean
*Deg
Sbastian melihat perban di leher dan tangan Sean
" Perban apa ini "
Sbastian membuka pakaian Sean dan terlihat perban di mana-mana
" Hanya luka gores , tidak parah "
Sean menurunkan pakaiannya
" Apa yang terjadi padamu "
Sbastian membuka kaos hitam Sean dan terlihat Sean memakai balutan perban di mana-mana
" Sean mau istirahat , nanti Sean ceritakan"
Sean melepaskan tangan Sbastian
" Saya bantu "
Aloe dan Rohit membantu Sean berdiri
" Saya akan jelaskan , biarkan tuan Sean istirahat sebentar "
Sebuah suara menggelegar dari arah pintu
" Makasih paman "
Sean tersenyum melihat Diablo dan Kelvin datang dengan selamat
" Maaf mama , Sean harus istirahat "
Sean tersenyum
" Mama menyayangimu sayang "
Ayu menghampiri dan mencium kening Sean
" Ayo naik tuan "
Mao mengisyaratkan agar yang lain tidak mengikuti Sean
" Perlahan tuan "
Rohit dan Aloe memapah Sean menuju lift
*Ting
Lift terbuka dan Sean masuk ke dalam
" Kakak "
Aniel menatap Sean
" Di sini dulu ya nona "
Key membawa Aniel ke dalam gendongannya
*Bruk
Sean tiba-tiba kehilangan kesadaran di dalam lift dan terjungkal ke depan
" Tidak apa , tuan perlu istirahat "
Mao ada di sana membantu Aloe dan Rohit
" Jangan di gendong , papah saja nanti lukanya makin parah "
Mao menghentikan Aloe
" Luka ini dari mana "
Aloe angkat bicara
" Ini dari kejadian kemarin di rumah ini , karena itu hampir semua perabot rumah di ganti "
Mao menjelaskan
*Ting
Lift terbuka dan Mao langsung membuka pintu di dekatnya
" Tuan sudah tau semua ini dari awal , resikonya sangat besar dan tuan sudah meminimalisir terjadinya korban "
Mao menutup pintu
" Rebahkan tuan "
Mao perlahan merebahkan Sean di atas tempat tidur
Sean di biarkan istirahat hingga Sean sadar pukul dua malam
" Ugh... "
Sean memegangi kepalanya
" Sean "
Terlihat Sbastian mendekat
" Dimana Mao "
Sean mendudukkan dirinya
" Ada apa , biar papa ambilkan "
Sbastian membelai lembut kepala Sean
" Obat... obat Sean "
Sean meminta
" Ini obatmu "
Sbastian memberikan obat yang di titipkan Mao
" Biar papa ambilkan "
Sbastian mengambilkan obat Sean dan memberikan obat kepada Sean
*Glup
Sean menelannya dengan cepat tanpa air
" Ini minumnya "
Sbastian memberikan air putih
" Makasih pa "
Sean langsung meminum air putihnya hingga tandas
" Kamu sakit apa nak "
Sbastian bertanya
" Sean cuma minum obat buat luka pa"
Sean tersenyum
" Kamu bohong Sean , papa tau "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Papa memang hebat "
Sean memejamkan matanya
" Tidurlah , maafkan papa untuk tadi "
Sbastian mencium kening Sean
*Tok..tok..tok
" Papaaaaaa ini Aniel "
Terdengar suara Aniel mengetuk pintu
" Sebentar sayang "
Sbastian berdiri dan membuka pintu dan terlihat Aniel di depan pintu dengan adinda
" Papa Aniel mau kakak "
Aniel masuk ke dalam pelukan Sbastian
" Iya , ayo masuk "
Sbastian menutup pintu setelah Adinda dan Aniel masuk
" Papa "
Adimas tiba-tiba masuk
" Kenapa Adimas "
Sbastian bertanya
" Bagaimana Sean "
Adimas bertanya
" Sudah bangun "
Sbastian memberitahu
Adimas menutup pintu dan mendekat
" Kamu baik "
Adimas duduk di samping Sean
" Aku baik kak "
Sean tersenyum
" Mao menceritakannya , kamu sakit "
Adimas membuat Sean terkejut
" Nyeri sama panas kak , ngak papa "
Sean tersenyum
Tatapan iba Adimas seakan mengatakan 'sakit yang kamu alami itu sangat berat , setidaknya berbagilah , itu akan menjadi ringan '
Sedangkan tatapan Sean mengatakan 'aku baik-baik saja kak , jangan tanyakan dan jangan katakan apapun '
" Aku mau tidur sama kakak ya "
Aniel meminta
" Iya "
Sean mengiyakan
" Papa dan bunda di sini , kamu istirahatlah"
Adinda mengusap kepala Sean
" Adimas juga ada di sini "
__ADS_1
Adimas menaikkan Aniel ke atas tempat tidur dan Adimas merebahkan dirinya di samping Aniel
" Hehehe sayang kakak kakak "
Aniel berbaring dan memeluk tangan Sean dan tangan Adimas
" Tidurlah "
Sean perlahan merebahkan diri dan memejamkan matanya
" Tidurlah di sini "
Sbastian menarik Adinda ke arah sofa dan merebahkan kepala Adinda di pangkuannya
" Makasih "
Sean berbisik di telinga Aniel
Hening....
Pukul tiga pagi
" Kak Dimas "
Aniel mengguncang Adimas
" Kakak "
Aniel mengguncang Adimas kembali
" Kakak sudah tidur "
Sean mengusap kepala Aniel
" Kepala kakak sakit "
Aniel menatap Sean
" Sedikit "
Sean berbisik
*Cup
Aniel mencium kening Sean
" Udah reda sakitnya "
Aniel kembali membenarkan posisinya
" Udah "
Sean tersenyum
" Papa udah tidur "
Aniel duduk
" Papa papa "
Aniel memanggil
" Papa sudah tidur sayang "
Aniel menepuk nepuk paha Aniel pelan
" Kakak itu sakit apa sih namanya "
Aniel memegang tangan Sean yang penuh dengan perban
" Kanker "
Sean berbisik
" Kankel itu apa "
Aniel mengerenyitkan keningnya
" Kanker itu sakitnya ada di sini "
Sean menunjuk keningnya
" Ada di kepala kakak ya "
Aniel menyentuh kening Sean
" Iya , namanya apa kankel nya "
Aniel tengkurap di depan Sean
" kanker otak... Kamu tau otak "
Sean berbisik
" Tau , yang kayak buah stobeli "
Aniel mengangguk
" Hahaha "
Sean terkekeh kecil
" Kankel itu kayak demam "
Aniel bertanya
" Iya "
Sean mengangguk saja
" Kamu tau Aniel "
Sean menoel hidung Aniel
" Apa "
Aniel memiringkan kepalanya
" Kanker kakak sudah stadium dua "
Sean seakan menceritakan apa yang ingin dia ceritakan
" Nomol dua "
Aniel menunjukkan kedua jarinya
" Iya "
Sean mengangguk
" Ini dali mana "
Aniel menyentuh perban Sean
" Kakak habis kelahi "
Aniel memastikan
" Iya "
Sean mengangguk
" Kelahi pakek apa "
Aniel memiringkan tubuhnya agar tidur menghadap Sean
" Pakek tangan kosong "
Sean menjawab
" Kalau meleka "
Aniel menggosok matanya yang lengket
" Pakai pedang "
Sean tersenyum
" Yang panjang hoam.... Kayak di film "
Aniel mulai menguap
" Iya "
Sean mendudukkan dirinya
" Kakak ngapain "
Aniel mendudukan dirinya di atas pangkuan Sean
" Ngak ngapa-ngapain "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan berdiri dari tempat tidur
" tidurlah kecil "
Sean berjalan menuju gorden dan sedikit membukanya
*Ckelek
Sean keluar dari kamar menuju balkon
*Tak
Sean menutup dan mengunci pintu balkon
" Tuan , anda belum stabil "
Mao yang berdiri di balkon mengingatkan
" Sudah dua tahun yang lalu aku tidak stabil"
Sean meninabobokan Aniel dengan tenang
" Anda berbicara seperti itu bukankah yang lain bisa dengar "
Mao memaksudkan pembicaraan Sean dan Aniel
" Aku tidak berani berbicara langsung dengan papa , tapi jika seperti tadi aku sudah menceritakan semua tentangku "
Sean tersenyum
Mao melirik Sean
" Tidak juga hahaha "
Sean tertawa kecil
" Anda memang masih kecil tuan "
Mao tersenyum
" Tubuh dan usiaku di sini memang masih kecil , tapi seorang reingkarnator sepertiku ini ya aslinya sudah tua "
Sean tersenyum
" Apa itu reingkarnator "
Mao memiringkan kepalanya
" Orang yang bereinkarnasi "
Sean tersenyum
" Oh... Namanya reingkarnator "
Mao memanggut-manggutkan kepalanya
" Anda ini aslinya umur berapa sih tuan "
Mao penasaran
" Di duniaku sebelumnya aku mati pada usia dua ribu tahun "
Sean membuat Mao ternganga
" Setua itu "
Mao masih terkejut
" Aku ini dulu seorang pangeran kaisar "
Sean tersenyum
" Karena itu luka seperti ini tidak ada artinya bagiku "
Sean naik ke atas pembatas dan berdiri di sana
" Anda meninggal karena apa tuan "
Mao mengikuti Sean
*Hup
Sean melompat ke bawah
" Aku mati karena pamanku sendiri "
Sean mendarat di ikuti Mao dengan estetok
" Bagaimana kehidupan anda dulu "
Mao berdiri di samping Sean
" Aku hidup sendiri , tanpa keluarga dan tanpa kasih sayang , orang yang paling aku sayangi saja di bunuh "
Sean berjalan
" Siapa itu "
Mao bertanya
" Ayah dan kekasihku yang polos dan tidak tau apapun...juga.... Putri kecilku yang cantik jelita"
Sean tersenyum dan senyuman tampan itu tidak pernah di lihat oleh Mao
" Kekasih.... Putri ?? "
Mao terkejut
" Mereka wanita yang baik , si kecil bahkan akan menangis jika aku memelototinya hahaha "
Sean terkekeh
" Siapa nama kekasih tuan "
Mao bertanya kembali
" Namanya agak rumit , tapi arti dari namanya adalah seorang yang baik dan pantas di cintai "
Sean menjawab
" Anda mencintainya "
Mao mengikuti Sean yang duduk di air mancur
" Sangat , kepribadiannya mirip sekali dengan bunda , wajah cantiknya sama seperti Aniel dan hati lunaknya sama seperti papa , bahkan polosnya melebihi kak Adimas hahaha "
Sean tertawa kecil
" Anda di kehidupan sebelumnya seperti apa"
Mao terlihat sangat penasaran
" Aku kejam.... Mereka menjulukiku sebagai naga darah "
Sean menatap langit yang terlihat indah dengan taburan berlian di mana-mana
" Maksudnya "
Mao menyangga kepalanya
" Aku tidak pandang bulu , siapa yang salah akan aku tebas... Kekuasaan di berikan padaku , kehebatan , jabatan , semua "
Sean menghentikan kalimatnya
" Namun hanya sebuah cinta yang aku harapkan , itu tidak terwujudkan , dan di kehidupan baru ini... Aku ingin menemukan lagi wanitaku , si cantik... Dan putriku yang jelita "
Sean tersenyum
" Hm.... Apa anda dulu memang suka tersenyum"
Mao menunjuk bibir Sean
" Aku tidak ingin dan tidak bisa tersenyum... Yah begitulah jika semua yang kau sayangi hilang nyawa di depan matamu sendiri "
Sean melirik Mao
" Saya mengerti "
Mao mengangguk
" Apa lagi yang kau tanyakan "
Sean membelai lembut kening Aniel
" Lalu apa anda ingat yang di katakan kakek tua tentang raja Tian "
Mao mendudukkan dirinya dengan baik
" Raja Tian itu aku sendiri , namanku dulu hantian rudeus "
Sean memberitahu
"Lho .. kalau anda raja Yang di maksud kakek tua , lalu yang maksudnya ayah itu apa"
Mao terlihat kebingungan
" Aku dulu menjadi seorang ayah , dia gadis kecil yang lucu dan dia yang menguasai hatiku , tapi dia meninggal"
Sean tersenyum ketir
" Meninggal bagaimana tuan "
Mao mendekat
" Ibunya membuat dia meminum racun agar putri kecilku tiada , tapi apalah daya... Umurnya waktu itu yang baru saja naik menjadi lima tahun harus tewas karena racun ibunya "
Sean memejamkan matanya
" Lalu apa yang anda lakukan "
Mao
" Dan aku memakamkan dia dengan sangat cepat karena musuh kerajaan datang , sebelum peti kematiannya menghilang di bawah bumi "
Sean menitikkan air mata
" Siapa namanya "
Mao
" Namanya fasyla "
Sean tersenyum
" Anda mengingat itu semua "
Mao
" Aku hanya mengingat fasyla , wanita cantikku dan ayah , selebihnya aku lupakan semua "
Sean menyeka air matanya
" Ibu anda "
Mao
" Dia wanita yang tidak tau diri , dia mendorongku membunuh seluruh saudaraku dan menjadi putra mahkota , lalu dia mencoba membunuhku setelah aku menjadi yang dia mau , tapi aku beruntung"
Sean terkekeh
" Apa itu alasan anda sangat menyayangi keluarga anda "
__ADS_1
Mao membuat Sean tersenyum
" Iya , aku ingin sebuah keluarga yang hangat dan selalu ada untukku , tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan memiliki dua keluarga "
Sean tersenyum
" Sean "
Suara Adimas memanggil arah pintu
" Kenapa kak "
Sean berdiri
" Kamu harus istirahat , kenapa di sini "
Adimas menghampiri Sean
" Hanya mau jalan-jalan "
Sean tersenyum
Terlihat mata Adimas berwarna merah dan bengkak
" Tapi kamu kan lagi sakit "
Adimas berhenti di depan Sean
" Sean baik kak "
Sean tersenyum
" Ayo masuk "
Adimas membawa Sean masuk ke dalam rumah
" Papa dan bunda masih tidur "
Sean bertanya
" Sudah bangun , bunda sedang memasak "
Adimas menjawab
" Jadi kalian sudah bangun dari tadi "
Sean pura-pura terkejut
" Papa tadi bangun terus katanya kamu ngak ada di atas tempat tidur , jadi semuanya bangun "
Adimas membawa Sean ke arah dapur
" Karena aku ya , maaf "
Sean tersenyum
" Akan aku letakkan Aniel di kamar "
Adimas mengambil Aniel
" Sean "
Adinda memanggil
" Ya bunda "
Sean menjawab
" Ayo makan "
Adinda meletakkan beberapa makanan di atas meja di bantu beberapa maid
" Dia siapa bunda "
Sena mendekati salah satu maid
" Maid di sini sayang , dari tadi dia bantu bunda masak "
Adinda menjawab
*Grep
" Pegangi dia "
Sean mencengkram erat kepala sang maid
"Apa yang kamu lakukan Sean "
Adinda terlihat terkejut
" Tunggu nyonya "
Beberapa maid terpercaya mencegah adinda mendekat
" Geledah "
Sean mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya
" Tuan , ini "
Para maid menunjukkan beberapa bubuk dari saku pakaian si maid
* Jlep
Sean tiba-tiba menusukkan satu jarum jahit dengan ukuran yang lumayan besar ke salah satu makanan
*Sreeet
Perlahan jarum berubah manjadi hitam pekat saat di masukkan ke dalam salah satu makanan
" Sean kenapa "
Terlihat Sbastian tergesa-gesa datang
" Jangan harap bisa meracuni keluargaku tanpa pikir panjang "
Sean berjalan menuju sang maid
" Siapa yang mengirimmu kesini "
Sean mencengkram erat pipi sang maid
" Tuan , apa perlu saya paksa "
Mao menawari
" Tidak.... Bawa ke halaman belakang "
Sean melambaikan tangannya
" Baik "
Para penjaga mengambil alih si maid dan membawanya menuju halaman belakang
" Sean "
Adinda memegang pundak Sean
" Duduk bunda "
Sean mendudukan adinda dan bersimpuh di hadapan adinda
" Pasti tangan bunda juga terkena racun "
Sean mengeluarkan suatu bubuk dari dalam sakunya
" Buang semua makanan "
Sean memerintahkan
" Baik "
Mereka membuat semua yang ada di atas meja
" Ta..tapi makanan itu "
Adinda mencoba menghentikan Sean
" Bunda... Maaf ya , tapi semua yang ada di sana sudah di racuni , Sean benar-benar minta maaf "
Sean menaburkan bubuk di atas tangan adinda dan terlihat bubuk putih di sana menjadi hitam
" Apa ini "
Sbastian terkejut
" Racun , bisakah papa terus taburkan ini , Sean akan memasak "
Sean berdiri
" Kamu bisa masak "
Adimas terkejut
" Bisa dong "
Sean berdiri dan mengambil kursi ,.setelah itu Sbastian duduk di depan adinda
" Taburkan hingga bubuknya menjadi putih "
Sean menyerahkan bubuk itu kepada Sbastian
Sean mengambil celemek yang tergantung di sudut dapur dan memakinya
Sean mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mencucinya dengan cepat tapi bersih
*Sreeet
Terlihat Sean mengupas sebuah kentang dengan cepat
*Tak tak tak
Sean mengiris kentang dan wortel di sana dengan cepat
" Wow "
Adimas terkejut
" Dia memang sudah belajar memasak dari kecil"
Sbastian menutup mulut adinda yang menganga
*Cklek..bul
Sean menghidupkan kompor dan menyalakan api dengan ukuran besar
" Kamu mau masak apa "
Adimas bertanya
" Sesuatu "
Sean tersenyum
" Mulai sekarang , bunda dan kakak harus terbiasa dengan pemandangan seperti tadi "
Sean berhenti sejenak
"Sebenarnya banyak sekali orang orang yang mencoba menyakiti keluarga ini , dan Sean tidak akan menyembunyikan lagi kenyataannya sekarang"
Sean berbicara namun dirinya masih sibuk dengan kompor
" Dan papa tau , incaran terbesar di sini adalah papa , maka dari itu Sean akan letakkan kak Rohit di samping papa mulai sekarang "
Sean menoleh sebentar
" Nanti bunda dan Aniel juga , kalau kak Adimas akan Sean letakkan bayangan saja "
Sean masih terus memasak
" Apa yang seperti di film-film "
Adimas terlihat bersemangat
*Tak..tak
" Kemari "
Sean menghentakkan sendalnya
*Sret
Muncullah dua orang yang ntah dari mana
" Ini yang akan menjaga kakak sekarang , dia panggil ketua satu dan ketua dua , mereka sebenarnya masih ada banyak "
Sena memperkenalkan dua orang di depannya
" Daaan... Kalau kakak aktivitas nanti akan Sean kerahkan lebih banyak "
*Tup
Sean menutup mulut Adimas yang terbuka
" Perhatian... "
Sean berteriak dengan lantang
*Sret
Turun banyak penjaga bayangan yang memenuhi ruang makan
" Ini kakakku , kalian harusnya sudah tau dia , mulai sekarang jaga dia "
Sean memerintahkan
" Sesuai perintah anda tuan "
Mereka semua berlutut satu kaki di depan Sean
" Kembalilah "
Sean kembali memasak
" Baik "
Mereka tidak berbicara dengan lantang , mereka berbicara dengan nada yang lembut namun menakutkan
" Masih mau lihat lagi "
Sean menawari
" Keren "
Adimas memelototkan matanya
" Hahahaha "
Sean tertawa terbahak-bahak
" Uhuk...uhuk... Aduh "
Sean memegangi dadanya
" Kenapa "
Adinda dan Sbastian memegangi lengan Sean
" tidak..haha aduh... Perutku keram "
Sean masih terkekeh kecil
" Ini tuan Sean "
" Tuanku tertawa "
" Sang kegelapan terlihat bahagia "
" Apa apaan tuanku , dia aneh "
" Hm... Tuanku terlihat berbeda "
Mereka semua hanya berbicara dalam hati
" Sudah sudah kalian semua kembalilah hahaha "
Sean masih terbahak bahak
" Kami pergi "
Mereka menghilang di depan mata
" Sean keren "
Terdengar suara Reyhan dari belakang
" Ha...hahaha astaga astaga sudah haha "
Sean kembali memasak dengan kekehan yang menyertai
" Sean "
Ayu memanggil
" Iya mama haissss "
Sean menyeka air matanya yang mengalir karena tawa
" Bagaimana keadaanmu sayang "
Ayu mendekati Sean
" Sean baik ma hehe "
Sean menunjukkan senyuman terbaiknya
Setelah itu Sean menghidangkan banyak makanan di atas meja
" kamu yang masak "
Ayu terkejut
" Iya dong "
Sean membanggakan dirinya
" Kereeeeen "
Reyhan berteriak dengan semangat
" Ada apa ini ramai sekali "
Pak Sam datang bersama dengan Bram
"keeeeeeek "
Reyhan berdiri dan memeluk pak Sam
" Ayo makan "
Sean menghidangkan dan menyiapkan makanan di bantu beberapa maid
" Kamu juga makan "
Bram menunjuk kursi Sean
" Sean akan bawa Aniel turun , pasti dia akan menangis jika di tinggalkan saat sarapan "
Sean melepas celemek yang dia pakai dan berjalan naik ke atas
" Tuan "
Mao menyusul
" Apa baik-baik saja jika banyak yang tau tentang penyakit anda "
Mao menatap Sean
" Sudahlah Mao , akan lebih baik jika mereka mendengar cerita dari orang lain"
Sean tersenyum
" Aniel Aniel "
__ADS_1
Sean membuka pintu kamar Aniel