Aku Pangeran

Aku Pangeran
#105 ( sakit )


__ADS_3

*Tap..tap..tap..


Sbastian berjalan menghampiri Sean


*Plak


Tamparan mendarat di pipi Sean


" Papa "


Sean menatap manik mata Sbastian


" Kenapa kamu melakukan ini , katakan kepada papa "


Terlihat jelas guratan amarah dari wajah tenang Sbastian


" Sean tidak ada pilihan lain "


Sean menjawab dengan nada rendah


" APANYA... PILHAN APANYA SEAN "


Suara Sbastian menggelegar membuat Aniel dan mutiara terkejut


" Sean benar-benar ngak ada pilihan lain pa"


Sean benar-benar menunduk


" Jangan pukul kakak , kakak lagi sakit pa , jangan "


Aniel memeluk kaki Sean


Sean melambaikan tangannya kecil memberi isyarat kepada Mao agar Aniel di bawa pergi


" Jangan nona "


Mao menarik Aniel menjauh


" Kakak "


Aniel memeluk kaki Mao


" KAMU TAU SEAN..DIA ITU ADIK PAPA "


Sbastian mencengkram lengan Sean


" Maaf pa "


Sean memejamkan matanya


" Mas sudah mas , jangan begini "


Adinda memegang lengan Sbastian


" KAMU TAU DIA ITU BIBIMU , DIA ITU ADIK PAPA , KENAPA KAMU MELUKAINYA HINGGA SEPERTI INI "


Sbastian benar-benar mencengkram erat lengan Sean


" Maaf pa "


Sean mengulangi kalimat yang sama


" MAAF MAAF MAAF... JELASKAN SEAN JELASKAN "


Sbastian melepaskan lengan Sean dengan kasar


" Tidak bisa pa , maaf "


Sean menunduk


" Mas sudah "


Adinda menarik lengan Sbastian


" DIAM "


Sbastian membuat adinda terkejut


" Bunda "


Adimas membawa Adinda ke dalam pekukannya


" PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MELAKUKAN HAL SEPERTI INI , KENAPA KAMU MEMBUATNYA SEPERTI INI "


Sbastian berteriak di depan wajah Sean


" Maaf pa "


Sean menunduk namun tidak terlihat guratan penyesalan di wajah tampan Sean


" AAARRRGGGG... "


Sbastian mengacak rambutnya frustasi


*Grep


" Tuan "


Aloe menangkap tubuh Sean yang tiba-tiba terhuyung


" Jangan sekarang "


Sean menggumam dan memegangi kepalanya


Aloe mendudukkan Sean di lantai dengan badan Sean di sangga oleh Aloe


" Anakku "


Adinda menghampiri dan memeluk Sean


" Papa jangan malahin kakak lagi "


Aniel berlari dan memeluk Sean


" Jangan ikut campur sayang "


Bram berbisik kepada ayu


" Tapi mas "


Ayu menatap Sean


" Nanti dulu sayang "


Bram memeluk ayu dengan erat


" Mana obatku Mao "


Sean meminta


" Ini tuan "


Mao memberikan obat milik Sean


" Kakak jangan minum lagi"


Aniel menghentikan Sean


" Ssssstttt "


Sean tersenyum dan langsung meminum obatnya


" Obat apa itu "


Sbastian bertanya


" Hanya pereda nyeri pa "


Sean menjawab dengan sedikit senyuman


" Sudah mas , jangan marah lagi "


Adinda membelai lembut kepala Sean


" Sean ngak papa bunda "


Sean tersenyum


" Kamu bisa jelaskan "


Suara Sbastian merendah


" Iya nanti "


Sean tersenyum


" Maafkan papa "


Sbastian mendekati Sean


*Deg


Sbastian melihat perban di leher dan tangan Sean


" Perban apa ini "


Sbastian membuka pakaian Sean dan terlihat perban di mana-mana


" Hanya luka gores , tidak parah "


Sean menurunkan pakaiannya


" Apa yang terjadi padamu "


Sbastian membuka kaos hitam Sean dan terlihat Sean memakai balutan perban di mana-mana


" Sean mau istirahat , nanti Sean ceritakan"


Sean melepaskan tangan Sbastian


" Saya bantu "


Aloe dan Rohit membantu Sean berdiri


" Saya akan jelaskan , biarkan tuan Sean istirahat sebentar "


Sebuah suara menggelegar dari arah pintu


" Makasih paman "


Sean tersenyum melihat Diablo dan Kelvin datang dengan selamat


" Maaf mama , Sean harus istirahat "


Sean tersenyum


" Mama menyayangimu sayang "


Ayu menghampiri dan mencium kening Sean


" Ayo naik tuan "


Mao mengisyaratkan agar yang lain tidak mengikuti Sean


" Perlahan tuan "


Rohit dan Aloe memapah Sean menuju lift


*Ting


Lift terbuka dan Sean masuk ke dalam


" Kakak "


Aniel menatap Sean


" Di sini dulu ya nona "


Key membawa Aniel ke dalam gendongannya


*Bruk


Sean tiba-tiba kehilangan kesadaran di dalam lift dan terjungkal ke depan


" Tidak apa , tuan perlu istirahat "


Mao ada di sana membantu Aloe dan Rohit


" Jangan di gendong , papah saja nanti lukanya makin parah "


Mao menghentikan Aloe


" Luka ini dari mana "


Aloe angkat bicara


" Ini dari kejadian kemarin di rumah ini , karena itu hampir semua perabot rumah di ganti "


Mao menjelaskan


*Ting


Lift terbuka dan Mao langsung membuka pintu di dekatnya


" Tuan sudah tau semua ini dari awal , resikonya sangat besar dan tuan sudah meminimalisir terjadinya korban "


Mao menutup pintu


" Rebahkan tuan "


Mao perlahan merebahkan Sean di atas tempat tidur


Sean di biarkan istirahat hingga Sean sadar pukul dua malam


" Ugh... "


Sean memegangi kepalanya


" Sean "


Terlihat Sbastian mendekat


" Dimana Mao "


Sean mendudukkan dirinya


" Ada apa , biar papa ambilkan "


Sbastian membelai lembut kepala Sean


" Obat... obat Sean "


Sean meminta


" Ini obatmu "


Sbastian memberikan obat yang di titipkan Mao


" Biar papa ambilkan "


Sbastian mengambilkan obat Sean dan memberikan obat kepada Sean


*Glup


Sean menelannya dengan cepat tanpa air


" Ini minumnya "


Sbastian memberikan air putih


" Makasih pa "


Sean langsung meminum air putihnya hingga tandas


" Kamu sakit apa nak "


Sbastian bertanya


" Sean cuma minum obat buat luka pa"


Sean tersenyum


" Kamu bohong Sean , papa tau "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Papa memang hebat "


Sean memejamkan matanya


" Tidurlah , maafkan papa untuk tadi "


Sbastian mencium kening Sean


*Tok..tok..tok


" Papaaaaaa ini Aniel "


Terdengar suara Aniel mengetuk pintu


" Sebentar sayang "


Sbastian berdiri dan membuka pintu dan terlihat Aniel di depan pintu dengan adinda


" Papa Aniel mau kakak "


Aniel masuk ke dalam pelukan Sbastian


" Iya , ayo masuk "


Sbastian menutup pintu setelah Adinda dan Aniel masuk


" Papa "


Adimas tiba-tiba masuk


" Kenapa Adimas "


Sbastian bertanya


" Bagaimana Sean "


Adimas bertanya


" Sudah bangun "


Sbastian memberitahu


Adimas menutup pintu dan mendekat


" Kamu baik "


Adimas duduk di samping Sean


" Aku baik kak "


Sean tersenyum


" Mao menceritakannya , kamu sakit "


Adimas membuat Sean terkejut


" Nyeri sama panas kak , ngak papa "


Sean tersenyum


Tatapan iba Adimas seakan mengatakan 'sakit yang kamu alami itu sangat berat , setidaknya berbagilah , itu akan menjadi ringan '


Sedangkan tatapan Sean mengatakan 'aku baik-baik saja kak , jangan tanyakan dan jangan katakan apapun '


" Aku mau tidur sama kakak ya "


Aniel meminta


" Iya "


Sean mengiyakan


" Papa dan bunda di sini , kamu istirahatlah"


Adinda mengusap kepala Sean


" Adimas juga ada di sini "

__ADS_1


Adimas menaikkan Aniel ke atas tempat tidur dan Adimas merebahkan dirinya di samping Aniel


" Hehehe sayang kakak kakak "


Aniel berbaring dan memeluk tangan Sean dan tangan Adimas


" Tidurlah "


Sean perlahan merebahkan diri dan memejamkan matanya


" Tidurlah di sini "


Sbastian menarik Adinda ke arah sofa dan merebahkan kepala Adinda di pangkuannya


" Makasih "


Sean berbisik di telinga Aniel


Hening....


Pukul tiga pagi


" Kak Dimas "


Aniel mengguncang Adimas


" Kakak "


Aniel mengguncang Adimas kembali


" Kakak sudah tidur "


Sean mengusap kepala Aniel


" Kepala kakak sakit "


Aniel menatap Sean


" Sedikit "


Sean berbisik


*Cup


Aniel mencium kening Sean


" Udah reda sakitnya "


Aniel kembali membenarkan posisinya


" Udah "


Sean tersenyum


" Papa udah tidur "


Aniel duduk


" Papa papa "


Aniel memanggil


" Papa sudah tidur sayang "


Aniel menepuk nepuk paha Aniel pelan


" Kakak itu sakit apa sih namanya "


Aniel memegang tangan Sean yang penuh dengan perban


" Kanker "


Sean berbisik


" Kankel itu apa "


Aniel mengerenyitkan keningnya


" Kanker itu sakitnya ada di sini "


Sean menunjuk keningnya


" Ada di kepala kakak ya "


Aniel menyentuh kening Sean


" Iya , namanya apa kankel nya "


Aniel tengkurap di depan Sean


" kanker otak... Kamu tau otak "


Sean berbisik


" Tau , yang kayak buah stobeli "


Aniel mengangguk


" Hahaha "


Sean terkekeh kecil


" Kankel itu kayak demam "


Aniel bertanya


" Iya "


Sean mengangguk saja


" Kamu tau Aniel "


Sean menoel hidung Aniel


" Apa "


Aniel memiringkan kepalanya


" Kanker kakak sudah stadium dua "


Sean seakan menceritakan apa yang ingin dia ceritakan


" Nomol dua "


Aniel menunjukkan kedua jarinya


" Iya "


Sean mengangguk


" Ini dali mana "


Aniel menyentuh perban Sean


" Kakak habis kelahi "


Aniel memastikan


" Iya "


Sean mengangguk


" Kelahi pakek apa "


Aniel memiringkan tubuhnya agar tidur menghadap Sean


" Pakek tangan kosong "


Sean menjawab


" Kalau meleka "


Aniel menggosok matanya yang lengket


" Pakai pedang "


Sean tersenyum


" Yang panjang hoam.... Kayak di film "


Aniel mulai menguap


" Iya "


Sean mendudukkan dirinya


" Kakak ngapain "


Aniel mendudukan dirinya di atas pangkuan Sean


" Ngak ngapa-ngapain "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan berdiri dari tempat tidur


" tidurlah kecil "


Sean berjalan menuju gorden dan sedikit membukanya


*Ckelek


Sean keluar dari kamar menuju balkon


*Tak


Sean menutup dan mengunci pintu balkon


" Tuan , anda belum stabil "


Mao yang berdiri di balkon mengingatkan


" Sudah dua tahun yang lalu aku tidak stabil"


Sean meninabobokan Aniel dengan tenang


" Anda berbicara seperti itu bukankah yang lain bisa dengar "


Mao memaksudkan pembicaraan Sean dan Aniel


" Aku tidak berani berbicara langsung dengan papa , tapi jika seperti tadi aku sudah menceritakan semua tentangku "


Sean tersenyum


Mao melirik Sean


" Tidak juga hahaha "


Sean tertawa kecil


" Anda memang masih kecil tuan "


Mao tersenyum


" Tubuh dan usiaku di sini memang masih kecil , tapi seorang reingkarnator sepertiku ini ya aslinya sudah tua "


Sean tersenyum


" Apa itu reingkarnator "


Mao memiringkan kepalanya


" Orang yang bereinkarnasi "


Sean tersenyum


" Oh... Namanya reingkarnator "


Mao memanggut-manggutkan kepalanya


" Anda ini aslinya umur berapa sih tuan "


Mao penasaran


" Di duniaku sebelumnya aku mati pada usia dua ribu tahun "


Sean membuat Mao ternganga


" Setua itu "


Mao masih terkejut


" Aku ini dulu seorang pangeran kaisar "


Sean tersenyum


" Karena itu luka seperti ini tidak ada artinya bagiku "


Sean naik ke atas pembatas dan berdiri di sana


" Anda meninggal karena apa tuan "


Mao mengikuti Sean


*Hup


Sean melompat ke bawah


" Aku mati karena pamanku sendiri "


Sean mendarat di ikuti Mao dengan estetok


" Bagaimana kehidupan anda dulu "


Mao berdiri di samping Sean


" Aku hidup sendiri , tanpa keluarga dan tanpa kasih sayang , orang yang paling aku sayangi saja di bunuh "


Sean berjalan


" Siapa itu "


Mao bertanya


" Ayah dan kekasihku yang polos dan tidak tau apapun...juga.... Putri kecilku yang cantik jelita"


Sean tersenyum dan senyuman tampan itu tidak pernah di lihat oleh Mao


" Kekasih.... Putri ?? "


Mao terkejut


" Mereka wanita yang baik , si kecil bahkan akan menangis jika aku memelototinya hahaha "


Sean terkekeh


" Siapa nama kekasih tuan "


Mao bertanya kembali


" Namanya agak rumit , tapi arti dari namanya adalah seorang yang baik dan pantas di cintai "


Sean menjawab


" Anda mencintainya "


Mao mengikuti Sean yang duduk di air mancur


" Sangat , kepribadiannya mirip sekali dengan bunda , wajah cantiknya sama seperti Aniel dan hati lunaknya sama seperti papa , bahkan polosnya melebihi kak Adimas hahaha "


Sean tertawa kecil


" Anda di kehidupan sebelumnya seperti apa"


Mao terlihat sangat penasaran


" Aku kejam.... Mereka menjulukiku sebagai naga darah "


Sean menatap langit yang terlihat indah dengan taburan berlian di mana-mana


" Maksudnya "


Mao menyangga kepalanya


" Aku tidak pandang bulu , siapa yang salah akan aku tebas... Kekuasaan di berikan padaku , kehebatan , jabatan , semua "


Sean menghentikan kalimatnya


" Namun hanya sebuah cinta yang aku harapkan , itu tidak terwujudkan , dan di kehidupan baru ini... Aku ingin menemukan lagi wanitaku , si cantik... Dan putriku yang jelita "


Sean tersenyum


" Hm.... Apa anda dulu memang suka tersenyum"


Mao menunjuk bibir Sean


" Aku tidak ingin dan tidak bisa tersenyum... Yah begitulah jika semua yang kau sayangi hilang nyawa di depan matamu sendiri "


Sean melirik Mao


" Saya mengerti "


Mao mengangguk


" Apa lagi yang kau tanyakan "


Sean membelai lembut kening Aniel


" Lalu apa anda ingat yang di katakan kakek tua tentang raja Tian "


Mao mendudukkan dirinya dengan baik


" Raja Tian itu aku sendiri , namanku dulu hantian rudeus "


Sean memberitahu


"Lho .. kalau anda raja Yang di maksud kakek tua , lalu yang maksudnya ayah itu apa"


Mao terlihat kebingungan


" Aku dulu menjadi seorang ayah , dia gadis kecil yang lucu dan dia yang menguasai hatiku , tapi dia meninggal"


Sean tersenyum ketir


" Meninggal bagaimana tuan "


Mao mendekat


" Ibunya membuat dia meminum racun agar putri kecilku tiada , tapi apalah daya... Umurnya waktu itu yang baru saja naik menjadi lima tahun harus tewas karena racun ibunya "


Sean memejamkan matanya


" Lalu apa yang anda lakukan "


Mao


" Dan aku memakamkan dia dengan sangat cepat karena musuh kerajaan datang , sebelum peti kematiannya menghilang di bawah bumi "


Sean menitikkan air mata


" Siapa namanya "


Mao


" Namanya fasyla "


Sean tersenyum


" Anda mengingat itu semua "


Mao


" Aku hanya mengingat fasyla , wanita cantikku dan ayah , selebihnya aku lupakan semua "


Sean menyeka air matanya


" Ibu anda "


Mao


" Dia wanita yang tidak tau diri , dia mendorongku membunuh seluruh saudaraku dan menjadi putra mahkota , lalu dia mencoba membunuhku setelah aku menjadi yang dia mau , tapi aku beruntung"


Sean terkekeh


" Apa itu alasan anda sangat menyayangi keluarga anda "

__ADS_1


Mao membuat Sean tersenyum


" Iya , aku ingin sebuah keluarga yang hangat dan selalu ada untukku , tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan memiliki dua keluarga "


Sean tersenyum


" Sean "


Suara Adimas memanggil arah pintu


" Kenapa kak "


Sean berdiri


" Kamu harus istirahat , kenapa di sini "


Adimas menghampiri Sean


" Hanya mau jalan-jalan "


Sean tersenyum


Terlihat mata Adimas berwarna merah dan bengkak


" Tapi kamu kan lagi sakit "


Adimas berhenti di depan Sean


" Sean baik kak "


Sean tersenyum


" Ayo masuk "


Adimas membawa Sean masuk ke dalam rumah


" Papa dan bunda masih tidur "


Sean bertanya


" Sudah bangun , bunda sedang memasak "


Adimas menjawab


" Jadi kalian sudah bangun dari tadi "


Sean pura-pura terkejut


" Papa tadi bangun terus katanya kamu ngak ada di atas tempat tidur , jadi semuanya bangun "


Adimas membawa Sean ke arah dapur


" Karena aku ya , maaf "


Sean tersenyum


" Akan aku letakkan Aniel di kamar "


Adimas mengambil Aniel


" Sean "


Adinda memanggil


" Ya bunda "


Sean menjawab


" Ayo makan "


Adinda meletakkan beberapa makanan di atas meja di bantu beberapa maid


" Dia siapa bunda "


Sena mendekati salah satu maid


" Maid di sini sayang , dari tadi dia bantu bunda masak "


Adinda menjawab


*Grep


" Pegangi dia "


Sean mencengkram erat kepala sang maid


"Apa yang kamu lakukan Sean "


Adinda terlihat terkejut


" Tunggu nyonya "


Beberapa maid terpercaya mencegah adinda mendekat


" Geledah "


Sean mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya


" Tuan , ini "


Para maid menunjukkan beberapa bubuk dari saku pakaian si maid


* Jlep


Sean tiba-tiba menusukkan satu jarum jahit dengan ukuran yang lumayan besar ke salah satu makanan


*Sreeet


Perlahan jarum berubah manjadi hitam pekat saat di masukkan ke dalam salah satu makanan


" Sean kenapa "


Terlihat Sbastian tergesa-gesa datang


" Jangan harap bisa meracuni keluargaku tanpa pikir panjang "


Sean berjalan menuju sang maid


" Siapa yang mengirimmu kesini "


Sean mencengkram erat pipi sang maid


" Tuan , apa perlu saya paksa "


Mao menawari


" Tidak.... Bawa ke halaman belakang "


Sean melambaikan tangannya


" Baik "


Para penjaga mengambil alih si maid dan membawanya menuju halaman belakang


" Sean "


Adinda memegang pundak Sean


" Duduk bunda "


Sean mendudukan adinda dan bersimpuh di hadapan adinda


" Pasti tangan bunda juga terkena racun "


Sean mengeluarkan suatu bubuk dari dalam sakunya


" Buang semua makanan "


Sean memerintahkan


" Baik "


Mereka membuat semua yang ada di atas meja


" Ta..tapi makanan itu "


Adinda mencoba menghentikan Sean


" Bunda... Maaf ya , tapi semua yang ada di sana sudah di racuni , Sean benar-benar minta maaf "


Sean menaburkan bubuk di atas tangan adinda dan terlihat bubuk putih di sana menjadi hitam


" Apa ini "


Sbastian terkejut


" Racun , bisakah papa terus taburkan ini , Sean akan memasak "


Sean berdiri


" Kamu bisa masak "


Adimas terkejut


" Bisa dong "


Sean berdiri dan mengambil kursi ,.setelah itu Sbastian duduk di depan adinda


" Taburkan hingga bubuknya menjadi putih "


Sean menyerahkan bubuk itu kepada Sbastian


Sean mengambil celemek yang tergantung di sudut dapur dan memakinya


Sean mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mencucinya dengan cepat tapi bersih


*Sreeet


Terlihat Sean mengupas sebuah kentang dengan cepat


*Tak tak tak


Sean mengiris kentang dan wortel di sana dengan cepat


" Wow "


Adimas terkejut


" Dia memang sudah belajar memasak dari kecil"


Sbastian menutup mulut adinda yang menganga


*Cklek..bul


Sean menghidupkan kompor dan menyalakan api dengan ukuran besar


" Kamu mau masak apa "


Adimas bertanya


" Sesuatu "


Sean tersenyum


" Mulai sekarang , bunda dan kakak harus terbiasa dengan pemandangan seperti tadi "


Sean berhenti sejenak


"Sebenarnya banyak sekali orang orang yang mencoba menyakiti keluarga ini , dan Sean tidak akan menyembunyikan lagi kenyataannya sekarang"


Sean berbicara namun dirinya masih sibuk dengan kompor


" Dan papa tau , incaran terbesar di sini adalah papa , maka dari itu Sean akan letakkan kak Rohit di samping papa mulai sekarang "


Sean menoleh sebentar


" Nanti bunda dan Aniel juga , kalau kak Adimas akan Sean letakkan bayangan saja "


Sean masih terus memasak


" Apa yang seperti di film-film "


Adimas terlihat bersemangat


*Tak..tak


" Kemari "


Sean menghentakkan sendalnya


*Sret


Muncullah dua orang yang ntah dari mana


" Ini yang akan menjaga kakak sekarang , dia panggil ketua satu dan ketua dua , mereka sebenarnya masih ada banyak "


Sena memperkenalkan dua orang di depannya


" Daaan... Kalau kakak aktivitas nanti akan Sean kerahkan lebih banyak "


*Tup


Sean menutup mulut Adimas yang terbuka


" Perhatian... "


Sean berteriak dengan lantang


*Sret


Turun banyak penjaga bayangan yang memenuhi ruang makan


" Ini kakakku , kalian harusnya sudah tau dia , mulai sekarang jaga dia "


Sean memerintahkan


" Sesuai perintah anda tuan "


Mereka semua berlutut satu kaki di depan Sean


" Kembalilah "


Sean kembali memasak


" Baik "


Mereka tidak berbicara dengan lantang , mereka berbicara dengan nada yang lembut namun menakutkan


" Masih mau lihat lagi "


Sean menawari


" Keren "


Adimas memelototkan matanya


" Hahahaha "


Sean tertawa terbahak-bahak


" Uhuk...uhuk... Aduh "


Sean memegangi dadanya


" Kenapa "


Adinda dan Sbastian memegangi lengan Sean


" tidak..haha aduh... Perutku keram "


Sean masih terkekeh kecil


" Ini tuan Sean "


" Tuanku tertawa "


" Sang kegelapan terlihat bahagia "


" Apa apaan tuanku , dia aneh "


" Hm... Tuanku terlihat berbeda "


Mereka semua hanya berbicara dalam hati


" Sudah sudah kalian semua kembalilah hahaha "


Sean masih terbahak bahak


" Kami pergi "


Mereka menghilang di depan mata


" Sean keren "


Terdengar suara Reyhan dari belakang


" Ha...hahaha astaga astaga sudah haha "


Sean kembali memasak dengan kekehan yang menyertai


" Sean "


Ayu memanggil


" Iya mama haissss "


Sean menyeka air matanya yang mengalir karena tawa


" Bagaimana keadaanmu sayang "


Ayu mendekati Sean


" Sean baik ma hehe "


Sean menunjukkan senyuman terbaiknya


Setelah itu Sean menghidangkan banyak makanan di atas meja


" kamu yang masak "


Ayu terkejut


" Iya dong "


Sean membanggakan dirinya


" Kereeeeen "


Reyhan berteriak dengan semangat


" Ada apa ini ramai sekali "


Pak Sam datang bersama dengan Bram


"keeeeeeek "


Reyhan berdiri dan memeluk pak Sam


" Ayo makan "


Sean menghidangkan dan menyiapkan makanan di bantu beberapa maid


" Kamu juga makan "


Bram menunjuk kursi Sean


" Sean akan bawa Aniel turun , pasti dia akan menangis jika di tinggalkan saat sarapan "


Sean melepas celemek yang dia pakai dan berjalan naik ke atas


" Tuan "


Mao menyusul


" Apa baik-baik saja jika banyak yang tau tentang penyakit anda "


Mao menatap Sean


" Sudahlah Mao , akan lebih baik jika mereka mendengar cerita dari orang lain"


Sean tersenyum


" Aniel Aniel "

__ADS_1


Sean membuka pintu kamar Aniel


__ADS_2