
" Pa........ "
Sean memanggil Sbastian yang sibuk menonton siaran berita bisnis di televisi
" Hm.... "
Sbastian hanya berdehem lalu memasukkan kacang mete kedalam mulutnya
" Kapan adek sekolah "
Sean memasukkan satu bola-bola coklat ke dalam mulutnya
" Minggu depan "
Sbastian menjawab namun tetap melihat siaran televisi
" Masih lama dong "
Sean kembali memasukkan bola-bola coklat ke dalam mulutnya
" Iya... Nanti hari pertama sekolah , papa anterin , papa tungguin Sampek adek pulang , gimana , mau ?? "
Sbastian melihat Sean yang masih mengunyah bola-bola coklat di dalam mulutnya
" Mau... Nanti papa beneran tunggu di sekolahan sampai Sean pulang ya , janji ya"
Sean menyodorkan jari kelingkingnya
" Iya..iya.. papa janji "
Sbastian dan Sean membuat janji jari kelingking
Hening...
" Papa.... "
Sean mencoba memulai pembicaraan
" Iya.... "
Sbastian menyahuti seadanya
" Adek bosen "
Sean meletakkan kotak coklat miliknya lalu merebahkan diri di atas sofa
" Papa juga bosen "
Sbastian meletakkan kacang mete miliknya di atas meja lalu mengangkat Sean dan meletakkan Sean di atas tubuhnya dengan kepala Sean di dadanya setelah itu Sbastian merebahkan diri di atas sofa dan Sean di atasnya
" Papa.... "
Sean
" Iya..... "
Sbastian
" P..a..p..a..pa..pa.."
Sean
"I..y..a..iya...iya.. "
Sbastian
" Boseeeeen "
Sean
" Samma "
Sbastian
Akhirnya setelah sekian lama mereka berdua tertidur di atas sofa ruang tamu dan membuat para art geleng-geleng kepala melihat kelakuan tuan besar mereka yang tidak kalah kekanakan dari tuan muda mereka
" Nak... Bangun sudah Zuhur "
Pak Sam membangunkan Sbastian dengan sabar hingga Sbastian membuka matanya
" Iya ayah Tian bangun "
Sbastian membuka matanya dan hendak berdiri namun ada beban berat menimpa dadanya
" Astagfirullah anakku... Aku lupa "
Sbastian memegangi Sean dan duduk sambil memangku Sean
" Kamu sholat , terus makan siang "
Pak Sam menepuk pundak Sbastian
" Iya ayah "
Sbastian berdiri dan membawa Sean ke dalam kamar
Setelah sholat Dzuhur , Sbastian menghampiri Sean yang masih tidur dengan nyenyak di atas kasur , lalu ikut merebahkan dirinya di samping Sean , Sbastian perlahan memejamkan matanya hingga membuat Sbastian ketiduran kembali
" Papa... "
Suara Sean memasuki pendengaran Sbastian yang masih setengah tidur
" Napa dek.. "
Sbastian membuka matanya perlahan dan menatap Sean dengan sayu
" Adek sakit pa.... Kepala adek pusing "
Sean menempelkan keningnya di kening Sbastian dan membuat Sbastian terkejut
" Astagfirullah dek... Kamu demam "
Sbastian langsung duduk dan mengambil termometer digital yang ada di dalam laci nakas dan memeriksa suhu tubuh Sean
" Kamu demam tinggi dek , kita ke rumah sakit , papa ambil jaket dulu "
Sbastian hendak turun dari atas tempat tidur namun Sean menahan tangannya
" Adek ngak mau ke rumah sakit "
__ADS_1
Sean berkaca-kaca menatap Sbastian
" Adek nanti ngak di suntik kok , cuma di periksa aja "
Sbastian mengelus rambut Sean
" Ngak mau... Adek mau di rumah aja "
Sean sudah mulai mengeluarkan air matanya
" Kita periksa aja ya , nanti abis di periksa, kita pulang "
Sbastian mencoba merayu namun di jawab gelengan kepala oleh Sean
" Sebentar... Papa ambilkan kompres dulu "
Sbastian turun dari ranjang dan membenarkan letak tidur Sean lalu menyelimutinya
" Papa jangan lama-lama ya "
Sean memegang tangan Sbastian
" Papa bentar aja , ngak lama kok "
Sbastian turun ke bawah dan dengan cepat membuat se isi rumah kalang kabut karena permintaannya
" Saya tidak ingin ada keluhan... Mengerti "
Sbastian berkata untuk yang terakhir di atas anak tangga sambil membawa baskom air hangat bersama sapu tangan untuk mengompres Sean
" Kami mengerti tuan "
Para pelayan membungkuk hormat
Setelah itu Sbastian langsung masuk ke dalam kamar dan meletakkan baskom di atas nakas
" Adek... "
Sbastian mengusap kening Sean dan membuat Sean membuka matanya
" Papa kompres ya "
Sbastian memasukkan kain ke dalam air hangat dan memerasnya lalu meletakkannya di kening Sean
" Adek mau makan apa "
Sbastian mengusap kening Sean dan memegang tangan Sean dan di jawab gelengan oleh Sean
" yasudah... Adek tidur ya "
Sbastian mencium pipi Sean lalu berdiri
" Papa mau kemana "
Sean bertanya saat melihat Papanya berdiri
" Ngak kemana-mana , papa mau nelpon paman John "
Sbastian tersenyum
" Adek mau bunda az-az , boleh pa "
" Iya nanti papa suruh bunda ke sini "
Sbastian mengelus kepala Sean dan membiarkan Sean tidur
Chat
Anda : John ✓✓
Asisten : iya tuan ✓✓
Anda : Sean demam , kamu sama azza
Cepat kesini ✓✓
Asisten : baik tuan ✓✓
End
Di rumah asisten John
" Sayang kamu dimana "
Setelah mendapat pesan dari Sbastian, asisten John langsung keluar dari ruang kerjanya dan mencari sitter azza
" Iya... Adek di belakang mas "
Sitter azza berteriak dari arah dapur
" Tuan muda demam.. dia cari kamu , ayo kita kesana "
Asisten John memeluk sitter azza dari belakang
" Apa.. tuan muda demam , astaga ayo mas kita kesana sekarang "
Sitter azza melepaskan pelukan suaminya lalu melepaskan celemek di tubuhnya setelah itu sitter azza menarik tangan suaminya untuk pergi
" Pelan-pelan sayang kasian adek bayinya "
Asisten John berkata dengan khawatir
" Iya mas , lewat pintu taman aja biar cepet"
Sitter azza menarik tangan asisten John melewati pintu taman yang langsung menuju ke pintu taman rumah Sbastian
" Tuan muda ada dimana mas "
Sitter azza bertanya namun terus menarik asisten John untuk berjalan lebih cepat
" Di kamar tuan mungkin , nanti kita tanya ayah "
Asisten John berjalan mengikuti tarikan istrinya
" Ayah... "
Sitter azza berteriak saat melihat pak Sam keluar dari dapur
" Kalian kesini "
__ADS_1
Pak Sam menghampiri mereka
" Ayah... Tuan muda di mana "
Sitter azza langsung menanyakan keberadaan Sean
" Ada di kamar Sbastian , kalian naik lift saja biar cepat "
Pak Sam menasehati
" Iya ayah , kami pergi "
Sitter azza langsung menarik asisten John memasuki rumah dan berjalan menuju lift
" Hati-hati nak "
Pak Sam geleng-geleng kepala melihat kelakuan sitter azza
" Ayo mas itu lift nya , jangan lama-lama jalannya "
Sutter azza menarik asisten John memasuki lift
" Iya-iya sayang "
Asisten John memasuki lift lalu memencet tombol menuju lantai paling atas
" Capek ya , udah di bilang pelan-pelan "
Asisten John mengusap keringat sitter azza lalu mencium keningnya
" Hehehe "
Sitter azza cengengesan melihat suaminya
Setelah sampai di lantai atas , asisten John dan sitter azza menuju kamar Sbastian dan langsung mengetuknya
" Tuan ini kami "
Asisten John memberitahu
Setelah mendengar suara asisten John , Sbastian berdiri hendak membuka pintu
" Papa mau kemana "
Sean terbangun saat merasakan tangan papanya menghindari kepalanya
" Ada bunda azza di depan , papa buka dulu pintunya "
Sbastian mengusap kening Sean lalu berjalan untuk membuka pintu kamar
" Tuan dimana tuan muda "
Sitter azza langsung bertanya ketika Sbastian membuka pintu
" Di dalam "
Sbastian membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan mereka masuk
" Bunda "
Sean duduk lalu melepas kompresnya dan menatap sitter azza
" Jangan bangun sayang , tidur saja "
Sitter azza menghampiri Sean
" Sean kangen "
Sean berdiri dan memeluk perut sitter azza yang sudah sangat besar
" Iya... Bunda juga , sayangnya bunda tidur aja ya "
Sitter azza duduk di tepi kasur lalu menidurkan Sean di atas tempat tidur
" Sean boleh ngak tidur di peluk bunda "
Sean menatap Sbastian dengan memohon
" Boleh , papa sama paman John di ruang kerja ya , adek tidur sama bunda aja "
Sbastian tersenyum lalu berkata dengan lembut
" Iya "
Sean mengangguk patuh
Setelah Sbastian dan asisten John keluar , sitter azza menempelkan kembali kain kompres di kening Sean
" Tuan muda lapar ngak "
Sitter azza mengusap perut Sean
" Adek ngak lapar "
Sean memegang tangan sitter azza
" Bunda tidur di samping Sean ya "
Sean memohon
" Nanti yang ganti kompresnya adek siapa kalau bunda ikut tidur "
Sitter azza mengusap kening Sean
" Yaudah deh... Boleh ngak adek tidur sambil di pangku bunda "
Sean menatap dengan tatapan memohon
" Sayang... Perut bunda sudah besar , bunda ngak bisa peluk sayangnya bunda kayak dulu lagi , maaf ya "
Sitter azza memberikan penjelasan
" Yaudah deh... Tapi bunda jangan kemana-mana ya "
Sean menatap sitter azza
" Iya , bunda nanti di sini sampai tuan muda kesayangan bunda bangun "
Sitter azza mengusap usap kening Sean hingga sean tertidur
__ADS_1