Aku Pangeran

Aku Pangeran
#79 ( uang saku )


__ADS_3

" Iya pa "


Sean mengangguk dan membuat para maid dan penjaga yang ada di sana melongo , putra dari seorang pemilik perusahaan di berikan uang saku hanya sepuluh ribu dan itupun harus di sisakan


" Kalau uangnya habis gimana "


Sean menatap Sbastian


" Harus ada alasan , papa ngak nerima kebohongan "


Sbastian mencolek hidung Sean


" Okey "


Sean mengangguk


" Bukunya sudah di bawa semua kan "


Sbastian membuka tas Sean dan mengeceknya kembali


" Papa udah buka tas Sean selama lima kali di saat sarapan pagi ini , tadi malam saat Sean belajar sepuluh kali dan saat ini sudah dua kali "


Sean melipat tangannya di atas dada


" Papa ngak pernah nganter anak sekolah SD "


Sbastian mengusap kepala Sean


" TK udah pernah kan "


Sean menaikkan alisnya


" Uuuuudaaaah hehe "


Sbastian mengangguk sambil tersenyum


" Jadi "


Sean memiringkan kepalanya


" Oke oke , papa ngak panik lagi oke "


Sbastian mengangkat tangannya dan mulai membuka hp miliknya


" Jangan lupa belajar yang rajin ya nanti "


Sbastian berbicara namun matanya masih menghadap ke hp


" Papa "


Sean berbicara dengan nada yang sinis


" Iya Sean iya "


Sbastian mulai tutup mulut dan keadaan menjadi hening


" papa papa ,itu bintang "


Sean membuka kaca mobil saat di lampu merah


" Bintang bintang "


Sean memanggil bintang yang ada di sebelahnya sedang di boncengan Rudi dengan membawa sepeda motor


" Sean "


Bintang tersenyum


" Tuan "


Rudi sedikit membungkuk


" Papa , boleh bintang naik sini , biar Sean ada temen nanti "


Sean menghadap papanya


" Ini lampu merah sayang "


Sbastian tersenyum


" Rudi , setelah lampu merah menepilah "


Sbastian berbicara dan Rudi mengangguk


Setelah lampu hijau menyala , mobil melaju dan menepi di depan motor Rudi yang sudah berhenti


" Ada apa tuan "


Rudi mendekati kaca mobil


" Sean mau berangkat bersama bintang , biar bintang masuk kemari "


Sbastian menepuk bangku sebelahnya


" Eh... "


Rudi terkejut


" Kita sudah terlambat Rudi "


Sbastian menunjuk jam miliknya


" Eh.. iya iya "


Rudi berlalu dan kembali membawa bintang


" Sini bintang"


Sean menepuk bangku sebelahnya


" Oh.. baiklah "


Bintang masuk ke dalam mobil dan duduk dengan baik


" Salim ayah "


Bintang mencium tangan Rudi


" Sean juga "


Sean tiba-tiba mengambil tangan Rudi dan menciumnya membuat Rudi terkejut namun membuat Sbastian tersenyum bangga


" Kami berangkat "


Sbastian menutup pintu mobil dan pak supir melajukan mobilnya


" Apa kamu bawa bekal "


Sean memangku tas nya


" Bawa lha "


Bintang membuka tas nya dan menunjukkan bekal nya


" Aku juga "


Sean menunjukkan kotak bekalnya


" Kamu lauk apa "


Sean menutup tas nya


" Telur dadar sama mie hm... Enaaaak "


Bintang tersenyum sambil membayangkan mie dan telur dadar yang dia bawa


" Aku di bawain nasi goreng , lauknya udang goreng tepung , sama di bawain susu satu kotak hm... Enaaaak "


Sean memeluk tas nya


" Wah... Aku minumnya bawa susu coklat "


Bintang menunjukkan sekotak susu coklat


" Aku juga "


Sean menunjukkan susu coklatnya yang di letakkan di saku tas


" Wah kita sama "


Sean tertawa


" Nanti kira-kira Sean duduk di mana ya "


Sean meletakkan telunjuknya di dagunya


" Di sebelahku aja , aku duduk sendiri "


Bintang menjentikkan jari


" Wah beneran , kenapa ngak sama teman "


Sean membuat bintang memonyongkan bibirnya


" Mereka semua berisik , lagipun temen ku beda kelas , di kelasku aku ngak ada temen dekat "


Bintang membuat Sean mengangguk


" Sean baru sadar kalau bintang pakek kerudung lho , lucu tau "


Sean menunjuk bunga-bunga di ujung hijab bintang


" Iya lha , di sekolah itu jarang yang pakek kerudung kayak aku , lihat , rok punyaku panjang , lenganku panjang , ibuku yang dandanin , aku ngak boleh keluar kalau ngak pakek kerudung "


Bintang berkata dengan bangga


" Kereeen "


Sean bertepuk tangan


" Bintang ngak malu temenan sama Sean , Sean kan pakek kursi roda "


Sean membuat Sbastian menoleh terkejut


" Ngak lha , kamu tau Sean , temen aku tuh ngak ada yang bener , cuma Sean yang bener , pelajarannya pinter , ngak ngomong yang aneh-aneh , the best deh , kalau temen ku yang lain itu ya ampun , pen bunuh jadinya "


Bintang membuat Sbastian tersenyum


" Makasih , bintang baik deh "


Sean tersenyum


" Uang saku bintang berapa "


Sean bertanya


" Seeeepuluh ribuuuu "


Bintang menunjukkan sepuluh jarinya


" Sama lho hahaha "


Sean terkekeh


" Tapi kata ayah harus bisa nabung "


Bintang menyenderkan punggungnya


" Sean juga , kata papa harus ada sisanya , nanti di tabung dan di kasih buku tabungan khusus buat Sean "


Sean membuat bintang mengerenyitkan keningnya


" Bintang juga mau deh kayak gitu , nanti bilang ke ibuk , kamu nabung ngak di sekolahan "


Bintang membuat Sbastian menoleh


" Apa nabungnya wajib "


Pertanyaan Sbastian di angguki oleh Sean


" Ndak sih paman , tapi ya satu kelas nabung semua , ada yang lima ribu , ada yang sepuluh ribu , kalau bintang nabung lima ribu "


Bintang menunjukkan kelima jarinya


" Kalau begitu ini papa kasih lima ribu , kalau nanti di kasih buku tabungan , di tabung uangnya , uang ini nanti bisa di pakek Sean apa aja , tapi papa ngak mau Sean bohong "


Sbastian memberikan satu lembar uang lima ribu


" Papa dapet uang pecahan dari mana "


Sean membuat Sbastian menoleh


" Papa tuker di bank , kalau kamu papa kasih banyak-banyak papa yakin kamu bakal boros "


Sbastian menyentil kening Sean


" Iya deh "


Sean memonyongkan bibirnya


" Sudah sampai "


Sbastian membuat mereka tersadar


" Ayo papa bantu "


Sbastian turun dan menurunkan bintang terlebih dahulu


" Ayo Sean "


Sbastian mendudukkan Sean di atas kursi roda yang baru saja di siapkan Aloe yang bertugas menjadi sopir hari ini


" Kamu belajar yang rajin ya , nanti saat waktu pulang kalau papa ngak bisa jemput di sini nanti udah ada Mao , kamu langsung pulang saja , adek nanti pasti udah tungguin kamu , belajar baik-baik ya sayang , nanti langsung saja ke kepala sekolah , biar kepala sekolah yang atur "


Sbastian memeluk Sean dan di balas pelukan oleh Sean


" Bintang tau ruangannya kan "


Sbastian menoleh ke arah bintang


" Tau paman "


Bintang mengangguk


" Muach... Papa sayang sama kamu "


Sbastian mencium kening Sean


" Salim Salim "


Sean mencium tangan Sbastian di ikuti bintang


" Kami berangkat papa "


Sean melambaikan tangannya dan melakukan kursi rodanya pelan mengimbangi langkah kaki bintang


" Hari ini hari Senen jadi kita upacara , tapi kita ke kepala sekolah dulu "


Bintang membimbing Sean menuju ruang kepsek

__ADS_1


" Assalamualaikum pak "


Bintang mengetuk-ngetuk pintu


" Wa'alaikum salam , sebentar "


Terdengar suara seorang pria tua


" Lho.. bintang , hm... Ini Sean ya "


Pak kepsek mengenali Sean


" Begini , bintang ikut upacara saja , pak kepala sekolah mau bicara sama Sean , bintang kan jadi pemimpin sekarang "


Pak kepsek menepuk pundak bintang


" Iya pak "


Bintang mengangguk


" Tas nya taruh di sini saja "


Pak kepsek mengambil tas bintang


" Bintang pergi dulu "


Bintang mencium tangan pak kepsek dan pergi meninggalkan tempat


" Ayo Sean , masuk "


Pak kepsek membuka pintu lebar-lebar


Sean masuk dan berhenti di tengah ruangan


" Bagaimana kabar Sean "


Pak kepsek berlutut di depan Sean


" Baik paman "


Sean tersenyum


" Paman sudah di kabari ayahmu , jadi paman sudah tau , kamu paman letakkan di kelas dua A , dengan bintang tadi , kamu paman dudukkan di dekat Lucia ya "


Pak kepsek mengambil foto siswi dan menunjukkan anak yang bernama Lucia


" Tapi Sean mau duduk di sebelah bintang "


Sean menunjuk foto bintang


" Tapi nanti kamu ngak fokus belajar , bintang itu anak nakal , paman ngak akan dudukkan kamu di dekat anak nakal seperti bintang , orang tua bintang itu bekas napi , pasti anaknya juga sama "


Pak kepsek berbicara dengan tidak suka


" Sean di bilangin papa untuk nurut kata pak kepala sekolah , tapi Sean mau duduk di sebelah bintang , biar Sean nanti bicara sama papa "


Sean menatap pak kepsek malas


" Aduh aduh , jangan jangan , nanti paman dudukkan kamu di dekat bintang "


Pak kepsek dengan berat hati mengangguk


" Paman baik deh "


Sean tersenyum membuat pak kepsek lega


" Tapi jangan bilang tuan ya "


Pak kepsek menatap Sean dengan tatapan memohon


" Sean udah bilang ke papa agar Sean duduk dekat bintang "


Sean mengangguk


Selama upacara berlangsung , Sean duduk diam di ruangan kepsek sambil mendengarkan rapat yang di adakan oleh Diablo , rapat yang melibatkan banyak kepala perusahaan termasuk Sbastian ada di sana , saat ada pertanyaan di ajukan , Sean hanya akan menjawab lewat ketikan kalimat , namun akan menjawab beberapa kalimat yang pendek , dan meminta maaf karena tidak bisa muncul saat rapat sebagai tuan rumah karena memiliki sebuah halangan


" Sean "


Bintang masuk bersama pak kepsek


" Lagi rapat ya "


Bintang berbisik dan di angguki oleh Sean


Karena suara penyamaran Sean , suara bintang yang masuk ke dalam mikrofon menjadi suara seorang wanita dewasa , membuat semua berfikir keras , siapa dia , apakah istri dari tuan rumah


" Ayo masuk , kita pelan pelan aja , ngak usah ngebut-ngebut , masih lama jam nya"


Bintang kembali berbisik membuat para peserta rapat tersenyum membayangkan banyak hal


" Biar aku masukin "


Bintang memasukkan salah satu headset bluetooth milik Sean ke dalam tas saat Sean kesulitan mengambil tas miliknya yang ada di atas sofa , karena belum di matikan , terdengar suara yang hancur seperti radio rusak


" Ayo "


Bintang memberikan tas milik Sean dan membawa tas miliknya


" Aku bantu "


Bintang membantu Sean keluar dari pintu kepsek


" Aduh sakit "


Bintang tersandung kakinya sendiri hingga terjatuh sampai lututnya terbentur lantai


" Hati hati "


Sean sedikit membungkuk


" Lepas deh "


Bintang melihat tali sepatunya yang terlepas


" Aku benerin dulu ya "


Bintang membenarkan tali sepatunya


" Aduh , sakit tau , jangan di pegang "


Bintang memukul tangan Sean yang menyentuh lututnya


" Ya maaf , aku kira udah ngak sakit "


Sean mengedikkan bahunya


" Udah , ayo masuk "


Bintang sedikit berlari membuat Sean terkejut dan segera melajukan kursi rodanya


" Tunggu "


Sean mengimbangi langkah kaki bintang


" Pelan pelan tau "


Sean menarik lengan bintang


" Iya iya "


Bintang memperlambat langkahnya


" Di sana , ayo "


Bintang menunjuk kelas mereka dan bintang membawa Sean lebih cepat untuk masuk ke dalam kelasnya


* Klip


" Yah... Abis "


Sean melihat baterai headset bluetooth miliknya sudah tidak ada lagi


" Masukin aja deh "


Sean memasukkan headset miliknya yang tinggal satu di sakunya


" Maaf ya , rapat kali ini di pimpin oleh Diablo dulu , saya ada sedikit urusan "


Sean berbicara dan mematikan mikrofonnya dan jaringan jam tangannya agar tidak terus terhubung


Di ruang rapat


" Itu tadi siapa ya "


" Istrinya mungkin "


" Sepertinya pasangan yang romantis "


" Apa tuan Diablo tau "


" Maaf saya tidak tau "


" Wah... Tadi sepertinya istrinya minta olahraga "


" Hahahaha "


Menggema suara tawa para pemimpin perusahaan yang menghadiri rapat membuat Diablo ikut terkekeh


Di ruang kelas


" Wah... Ada murid baru "


Salah satu siswa membuat siswa yang lain menoleh


" Halo , namanya siapa "


Banyak anak mulai mendekati Sean membuat bintang tergeser


" Dah lah , nanti reda sendiri "


Bintang duduk di tempatnya seperti biasanya sambil menunggu Sean


" Anak anak , duduk duduk "


Suara Bu guru membuat semua siswa duduk di tempatnya masing masing


" Sini Sean "


Bintang memanggil


Sean mendekati bintang dan bintang menggeser kursi di sampingnya agar Sean bisa masuk , kursi bintang berada di barisan pojok paling belakang dekat jendela , kursi legenda seorang Wibi


" Bisa ngak masuknya "


Bintang sedikit membantu Sean


" Makasih "


Sean tersenyum


" Murid baru ya "


Bu guru mendekati Sean


" Iya Bu "


Sean mengangguk


" Siapa namanya "


Bu guru agak memajukan tubuhnya agar dekat dengan Sean


" Nama saya Sean "


Sean menunjukkan plat namanya


" Nama ibu , Bu guru Lala , kamu mau duduk di sini , duduk di tempat lain aja ya "


Bu guru membuat Sean mengerenyitkan keningnya dan berbalik melihat Aniel yang sepertinya tidak suka dengan kalimat bu guru


" Sean di sini saja , bintang ini temannya Sean "


Sean menggeleng


" Di sana saja ya , di dekat Lucia "


Bu guru menunjuk bangku di depan


" Sean mau duduk di sini , jangan di paksa ya bu guru "


Sean tersenyum


" Baiklah baiklah , duduk saja di sini , nanti kalau ada apa apa tanya Bu guru aja ya "


Bu guru tersenyum


" Iya Bu guru "


Sean mengangguk


Bu guru bangkit dan melewati bintang dengan tatapan tidak suka


" Banyak yang tidak suka denganmu ya "


Sean membuat bintang terkekeh


" Aku sudah biasa , lagian mereka itu ngak perlu di pedulikan , aku cuma perlu belajar yang rajin dan akan jadi sukses nanti "


Bintang tersenyum


" Hem... Sukses "


Sean melipat tangannya di atas dada


" Iya iya , kan sekarang aku udah kerja buat bos besar ini "


Bintang menoel pipi Sean


" Itu tau "


Sean menjentikkan jarinya


" Udah selesai belum retas file perusahaan papa "


Sean membuat bintang mengerenyitkan keningnya


" Astaga , aku lupa kalau bawa file nya "


Bintang mengeluarkan sebuah flashdisk


" Makasih "


Sean tersenyum


" Jangan lupa bonusan bulan ini , kan udah di bantu ngeretas ini "


Bintang membuat Sean meliriknya


" Tenang nona , aku transfer "

__ADS_1


Sean tersenyum


" Okeh deh "


Bintang tersenyum senang


" Baiklah anak-anak , keluarkan buku tugasnya , ibu berikan tugas perkalian "


Suara bu guru terdengar keras


" Waduh mejanya ketinggian "


Sean baru sadar bahwa dia tidak bisa mencapai mejanya


" Mau di bantu nulis "


Bintang menaik turunkan alisnya


" Aku tau itu ada upahnya , dasar "


Bintang memukul tangan bintang


" Ya udah "


Bintang memalingkan wajahnya


* Nguuung


Sean menaikkan tinggi kursi rodanya membuat bintang menoleh


" Tuh kan , udah sampek "


Sean menaik turunkan alisnya


" Soalnya anak kecil banget "


Sean mendengus


" Hei hei , kamu ini masih kelas dua SD , mana mungkin di kasih pitagoras "


Bintang membuat Sean nyengir


" Nyengar nyengir , dah kerjain "


Bintang menulis soal yang ibu guru buat di papan dan meletakkan kepalanya


" Kok tidur "


Sean mengguncang bintang


" Ini di jawab nanti aja , jam pelajarannya masih tiga jam lagi , aku mau tidur , gara-gara kamu nih tugasku banyak banget semalam "


Bintang menutup matanya dan meninggalkan Sean yang melongo melihat bintang yang enak sekali tidur saat pelajaran di mulai


" Dahlah "


Sean mengerjakan dua soal dan agar terlihat mengerjakan soal lainnya , dirinya melepaskan jam tangannya dan mulai mengerjakan beberapa file online yang di kirim oleh anak buahnya


" Pembukuannya salah ini "


Sean melihat pembukuan keuangan perusahaan cabang di Kalimantan


" Bintang , bintang "


Sean mengguncang bintang hingga terbangun


" Kenapa "


Bintang membuka matanya


" kamu bantu hitung dong , aku masih cek yang lain ini "


Sean menunjuk hologram miliknya


" Iiissss apaan sih "


Bintang menatap Sean tidak suka


" Aku kasih bonusan lagi nanti "


Sean membuat bintang tersenyum


" Okeh "


Bintang mengambil buku kosong miliknya dan mulai menyalin beberapa file yang harus di periksa


Tiga jam mereka habiskan untuk mengecek banyak file perusahaan hingga bel istirahat berbunyi


" Yang tidak selesai tidak boleh istirahat "


Suara bu guru menggema dan murid murid mulai mengerjakan dengan kebut-kebutan


" Dah lah , nanti dulu "


Bintang mulai menghitung lagi file yang harus dia kerjakan


" Udah "


Sean mulai membuka buku tugasnya dan mengerjakannya dengan cepat


" Nih , tinggal jumlah , rincian lainnya udah aku tulis di sini , foto gih , aku mau ngerjain"


Bintang mengambil buku soal Sean dan menyalin jawaban Sean


" Udah "


Sean selesai men screen banyak sekali perhitungan bintang agar bisa di kirim lewat hologram


" Ayo makan , tapi bintang kumpulin dulu tugasnya "


Bintang berdiri dan membawa buku tugas miliknya dan milik Sean setelah itu kembali ke tempatnya


" makan di mana "


Bintang mengeluarkan bekalnya


" Di sini aja , Sean ngak suka kalau makan di liat banyak orang "


Sean mengeluarkan bekalnya


" Bintang "


Suara anak wanita membuat bintang dan Sean menoleh


" Alvida bawa bekal ngak "


Bintang menunjuk bekalnya


" Bawa tapi di kelas "


Alvida mengangguk


" Ambil deh "


Alvida berlari keluar kelas dan mengambil bekal miliknya setelah itu dia kembali tanpa membawa kotak bekal


" Kemana bekalmu "


Bintang berdiri


" Lupa "


Alvida menunduk


" Pasti di ambil sama anak kelas enam lagi , iya kan "


Bintang memelototi alvida


" I..iya "


Alvida mengangguk


" Biar aku ambil "


Bintang berdiri


" Jangan bintang , nanti kamu di keluarkan dari sekolah , kamu kan udah di skors tiga kali "


Alvida memegang tangan bintang


" Biar aja , kalau ayahku itu bakal bangga , ngak mungkin marah marah "


" Ikut "


Sean menutup kembali bekalnya dan menurunkan kursi rodanya


" Kamu jangan deket-deket , nanti kena pukul "


Bintang berjalan sambil berbicara dengan Sean


" Aku bisa beladiri tau "


Sean melajukan kursi rodanya mengikuti bintang


" Kamu kan belum sembuh "


Bintang menunjuk kaki Sean


" Udah deh , aku ini jago "


Sean membanggakan diri


" Itu mereka "


Bintang berlari mendekati segerombolan anak laki-laki


" Kembalikan bekal alvida "


Dengan santai bintang menunjuk sebuah kotak makan berwarna pink yang masih utuh


" Bekal ini... Heh kamu itu udah berapa kali di skors , udah deh ngak usah bela belain temenmu yang cupu itu , lagian masih kelas dua SD aja sok berani , gimana kalau udah besar , mau jadi berandalan kayak bapakmu itu "


Anak laki-laki yang tinggi menonyor kepala bintang


" Heh mas , aku ini kelas dua SD , tapi aku ini juga ngak takut sama mas mas calon berandalan kayak kalian "


Bintang memegang tangan laki-laki itu


" Wow , dia bawa teman lumpuh "


Laki-laki yang lain mendekati Sean


" Waaah kursi rodanya canggih nih "


Anak laki-laki yang berada di dekat Sean mulai memainkan Sean , mulai dari rambut sampai dasi Sean talinya putus gara gara di tarik


Tidak lama berkumpul banyak anak dari kelas lain yang menyaksikan perkelahian antara dua anak SD kelas dua dan segerombolan anak kelas enam SD


" Sean , gimana nih "


Bintang tersenyum


" Hajar aja deh bintang , ngak usah nanggung nanggung "


Sean memegang tangan salah satu anak di sana dan Sean mulai memutar kursi rodanya hingga anak yang di tarik Sean terjatuh dan mencium lantai


" Apalah daya kalau ini perintah "


Bintang mengeluarkan jurus tai chi miliknya yang sudah ia latih sejak dia masih kecil


Hanya selang beberapa menit , Sean dan bintang membuat gerombolan anak-anak itu terjatuh , Sean hanya bermodalkan jari yang memainkan remote control kursi rodanya sedang bintang bermodalkan seni tai chi miliknya


" Akan aku aduhkan ke ayahku "


Anak laki-laki yang terlihat paling nakal berlari di ikuti yang lain


" Kalian dalam masalah , dia itu anak dari pemegang saham terbesar di sini , sebaiknya kalian minta maaf aja "


Anak anak yang tadi berkerumun mengingatkan Sean dan bintang


" Oh... Jadi mereka pakai kekuasaan ceritanya "


Sean mengangguk


" Nanti pasti ayahmu sama ayahku bakalan di panggil "


Bintang mengambil kotak makan alvida


" Yaudah lah , pokoknya sekarang makan dulu "


Sean berlalu di ikuti bintang


" Kamu tau bintang , kita ini masih kelas dua SD lho "


Sean mengingatkan


" Anak kelas dua SD apa yang udah bisa buat jam tangan komunikasi "


Bintang menonyor kepala Sean


" Lho beneran lho , kita ini kelas dua SD "


Sean mengimbangi langkah bintang yang sangat cepat


" Serah kamu "


Bintang berlari dan duduk di depan alvida yang terlihat habis menangis


" Tunggu lha woe "


Sean berhenti di samping bintang dan menaikkan kursi rodanya agar lebih tinggi


" Kamu nanti di keluarin "


Alvida memegang tangan bintang


" Ngak akan , tenang aja "


Sean membuka kotak bekalnya


" Kok kamu gitu , peraturan di sini kalau udah kena skors lebih dari tiga kali bakalan di keluarin "


Alvida menatap Sean


" Oh ayolah , kita ini masih dua SD , bintang ngak akan di keluarkan , aku janji "


Sean menaik turunkan alisnya


" Tapi.. tapi "


Alvida bingung hendak berbicara bagaimana


" Ngak usah tapi tapian , makan aja "


Bintang menyodorkan kontak makan alvida


" beneran ya "


Alvida menatap Sean

__ADS_1


" Beneran alvida "


Sean memakan makanannya


__ADS_2