
" cepat kalahkan mereka , astaga "
Sean menggerutu saat melihat Mao yang mempermainkan para penjaga hingga mereka kewalahan
" Jika kemampuanmu kurang , maka aku tidak bisa membuatmu selalu di dekat Sean"
Sbastian memprovokasi
" Hah "
Mao terkejut dan tidak sengaja menendang penjaga yang ada di dekatnya dengan cukup kencang hingga terlempar ke belakang beberapa langkah
" Astaga , apa paman baik baik saja "
Mao menghampiri penjaga yang mencoba duduk
" Uhuk uhuk "
Penjaga itu batuk batuk hingga mengeluarkan darah di tangannya
" Maaf , saya terlalu kencang "
Mao mengusap darah penjaga itu dan melakukan sesuatu yang tidak di kenal oleh Sbastian
" Apa yang kamu lakukan "
Sbastian mendekati mereka
" Saya menghentikan pendarahan dan mengobati lukanya "
Mao menjelaskan
" Hanya dengan menunjuk nunjuknya seperti itu "
Sbastian menaikkan alisnya
" Itu namanya akupuntur , guru bilang , jika ada yang membutuhkan maka harus membantu "
Mao tersenyum manis
" Jika orang jahat "
Sbastian mengajukan pertanyaan
" Jika saya belum tau dia jahat atau tidak , jadi saya akan mengobatinya , jika dia jahat , ya... Tinggal di bunuh saja "
Mao menjawab dengan enteng
" Baik baik , hahahaha , kamu cukup menarik , aku mengizinkanmu merawat Sean "
Sbastian memberikan gelang tanda bahwa dirinya sudah menjadi asisten dan tangan kanan Sean kecil
" Benarkah , hemmm.... Yeyeyeyeye Wuhu... Terimakasih tuan "
Mao berjingkrak riang sambil melompat-lompat kegirangan
" Sudah sudah , ini sudah malam , makanlah lalu beristirahat , besok Sean akan sekolah"
Sbastian membawa Sean masuk ke dalam dan meninggalkan merek semua di halaman belakang
" Oh ya , dokter Brian akan datang sebentar lagi "
Sbastian berhenti di ambang pintu sebentar dan melanjutkan perjalanan
" Hoam.... "
Sean menguap dan meletakkan kepalanya di atas bahu Sbastian
" Tidurlah , besok kita sekolah "
Sbastian membawa Sean masuk ke dalam kamar dan menidurkan Sean tanpa menggantikan baju Sean
Setelah menidurkan Sean , Sbastian melanjutkan aktivitasnya malamnya bersama sang laptop hingga tengah malam
" hai sayang , apa kabarmu , aku merindukanmu "
Sbastian mengambil foto adinda di dalam laci dan memandangnya dalam waktu yang cukup lama
" Aku tau , aku yang memakamkanmu sendiri , tapi aku merasa bahwa sayangku yang satu ini masih ada "
Sbastian mengusap foto adinda
" Entahlah sayang , aku masih belum bisa melupakanmu , saat aku mengingatmu , hatiku masih berdebar seperti saat pertama kali aku memelukmu "
Sbastian tersenyum dan mengusap foto Adinda
" Kamu tau sayang , Sean satu Minggu lagi akan berulang tahun untuk yang ke lima dan hari ini adalah hari dimana aku menemukan anak nakal ini , jika Adimas di sini aku yakin mereka berdua akan menjadi saudara yang akur , dan aku akan melihat mereka bermain bersamamu , aku merindukanmu "
Sbastian mulai menitikkan air matanya saat mengingat adinda dan putranya
" Bagaimana kabarmu sayang , apa di sana kamu baik-baik saja "
Sbastian memeluk foto adinda dan meletakkan kepalanya di atas meja sambil terus mengeluarkan air matanya
" Aku juga rindu bunda "
__ADS_1
Sean tiba-tiba saja memeluk kaki Sbastian yang bergetar dan membuat Sbastian terkejut
" Kamu belum tidur "
Sbastian mengusap air matanya dan membawa Sean ke dalam pelukannya
" Sudah , tapi Sean bangun karena mau pipis "
Sean memeluk lengan Sbastian dan mengambil foto Sbastian yang masih di pegang oleh Sbastian
" Hm.... Dulu papa ketemu bunda itu gimana ceritanya "
Sean memandang papanya dan memandang foto adinda bergantian
" Kenapa melihat papa seperti itu "
Sbastian bertanya
" Papa dan bunda terlihat.... Tidak mirip "
Sean berbicara asal
" Hahahaha kamu ini , jika papa dan bunda sama , artinya papa dan bunda saudara kembar , bukan suami istri hahahaha "
Sbastian tertawa terbahak-bahak hingga membuatnya melupakan sejenak air matanya yang masih belum mengering
" Katanya mau pipis , kita pipis dulu "
Sbastian mengambil foto adinda dan meletakkannya di dalam laci dan membawa Sean ke kamar mandi
Setelah beberapa saat , Sbastian membawa Sean untuk kembali tidur
" Ayo bobok "
Sbastian menaikkan selimutnya dan memeluk Sean kecil
" Lhoooo... Sean kan mau tau ceritanya papa ketemu bunda "
Sean mendorong Sbastian menjauh , meskipun itu tidak mempan
" Iya iya , tapi sambil tiduran aja ya "
Sbastian terlentang dan Sean tengkurap di atas dada Sbastian
" Okey "
Sean mencari posisi yang nyaman dan mulai mendengarkan cerita Sbastian
" Dulu....
" Aku ngak mau di jodohin ma "
Sbastian muda duduk di atas tempat tidur dengan kasar
" Nak , mama tau rasanya , tapi sekali ini saja ya , mama minta kepadamu , terima perjodohan ini "
Mama Sbastian sedikit memaksa
" Sbastian ngak kenal sama gadis ini dan Sbastian ngak mau nikah sama gadis yang ngak aku cintai "
Sbastian menatap mamanya
" Mama tau rasanya , tapi lambat laun cinta akan tumbuh di antara kalian "
Mama ikut duduk di samping Sbastian
" Tolong ma , Tian masih dua puluh tahun , dan gadis itu masih sekolah , Tian ngak mau "
Sbastian mengelak
" Setelah dia lulus kalian baru menikah , tidak sekarang "
Mama memegang lengan Sbastian dan membuat Sbastian terdiam sejenak
" Mama tau "
Sbastian mengambil tangan mamanya lalu tidur di pangkuan mamanya
" Sbastian lelah ma , Sbastian rindu mama sama papa , tapi kenapa saat mama datang , mama tidak memeluk Sbastian "
Sbastian berbicara dengan sendu dan meletakkan tangan mamanya di atas kepalanya
" Maafkan mama nak , adikmu juga membutuhkan mama , sampai-sampai mama melupakanmu , maafkan mama "
Mama Sbastian mengelus kepala Sbastian dengan lembut
" Sbastian selama ini menahan semuanya dari papa , tapi Sbastian tidak bisa menahannya dari mama , Sbastian merindukan mama "
Sbastian berbalik dan memeluk perut mamanya sambil terisak kecil
" Iya nak , mama yang salah , maafkan mama ya "
Mama Sbastian membiarkan Sbastian sepuasnya bermanja di pangkuannya
" Sbastian lelah ma , Sbastian mau pelukan mama , Sbastian pengen kayak bayi dulu ma , Sbastian sayaaaang banget sama mama "
__ADS_1
Air mata Sbastian semakin deras mengalir
" Mama juga sayaaaang banget sama bayi besar mama yang manjanya minta ampun ini "
Mama Sbastian mengelus kepala Sbastian dengan sayang
" Hehehehe , gimana kondisi si cantik "
Sbastian mendongak melihat mamanya
" Si cantik tadi lagi bobok pas mama tinggal"
Mama Sbastian tersenyum
" Kalau si anak nakal "
Sbastian kembali bertanya
" Hahaha dia tadi sedang bermain di dalam kotak bayinya "
Mama Sbastian mengusap air mata Sbastian yang belum berhenti mengalir
" Besok Sbastian akan ke London , Sbastian tau bentar lagi mama pulang , jadi besok Sbastian akan jenguk adik kecil sekalian ada urusan perusahaan "
Sbastian memegang tangan mamanya dan memeluknya
" Maaf ya nak , kamu jadi harus mengurus perusahaan , padahal seharusnya kamu masih kuliah dan bermain dengan temanmu"
Mama Sbastian mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir
" Ngak papa ma , ini kan demi adek kecil juga , bukan buat Tian doang "
Sbastian tersenyum
* Tililililit
Suara handphone mama Sbastian berdering
" Halo "
Mama Sbastian mengangkat telfon , namun tangannya yang satunya masih berada di atas kepala Sbastian
" Maaf nyonya , ini saya , asi untuk tuan dan nona muda hampir habis "
Suara orang di sebrang terdengar oleh Sbastian
" Lho , tadi kan saya kasih banyak "
Mama Sbastian terkejut
" Itu nyonya , susunya di habiskan sama tuan muda , dan sekarang tinggal satu botol untuk nona muda , saya takutnya nanti tidak cukup "
Suara di seberang berbicara
" Baiklah baiklah , aku akan segera kembali"
Mama Sbastian menutup telfonnya
" Dasar adek nakal "
Sbastian duduk dan menggelengkan kepalanya
" Adikmu yang satu itu banyak sekali makannya hahahaha "
Mama Sbastian berdiri dan mengecup kening Sbastian
" Mama pergi dulu ya nak , jaga diri baik-baik "
Mama Sbastian pergi , namun saat membuka pintu , mama Sbastian berhenti
" Ingat , jangan tidur terlalu malam , jangan makan yang banyak minyaknya , jangan minum kopi sering sering , dengarkan kata pak Sam , jangan begadang , jangan ngurusin perusahaan terus , kamu juga perlu istirahat , jangan... "
Kalimat mama Sbastian terpotong oleh kalimat Sbastian
" Mama mama mama , Sbastian inget kok , hampir tiap malem mama telfon , terus ceramah kayak gitu , Sbastian sampai hafal liriknya hahahaha "
Sbastian tertawa
" Sudah anak nakal , inget pesen mama ya , awas kalo di langgar "
Mama Sbastian mengancam
" Iya Bu bos "
Sbastian mengangguk
"Awas kalau bohong "
Mama Sbastian keluar namun matanya tetap menatap tajam Sbastian
" Iya nyonya "
Sbastian menjawab sambil tersenyum
" Awas ya "
__ADS_1
Mama Sbastian keluar namun matanya tetap menatap tajam Sbastian hingga pintunya tertutup