Aku Pangeran

Aku Pangeran
#49 ( yey lulus )


__ADS_3

" cepat kalahkan mereka , astaga "


Sean menggerutu saat melihat Mao yang mempermainkan para penjaga hingga mereka kewalahan


" Jika kemampuanmu kurang , maka aku tidak bisa membuatmu selalu di dekat Sean"


Sbastian memprovokasi


" Hah "


Mao terkejut dan tidak sengaja menendang penjaga yang ada di dekatnya dengan cukup kencang hingga terlempar ke belakang beberapa langkah


" Astaga , apa paman baik baik saja "


Mao menghampiri penjaga yang mencoba duduk


" Uhuk uhuk "


Penjaga itu batuk batuk hingga mengeluarkan darah di tangannya


" Maaf , saya terlalu kencang "


Mao mengusap darah penjaga itu dan melakukan sesuatu yang tidak di kenal oleh Sbastian


" Apa yang kamu lakukan "


Sbastian mendekati mereka


" Saya menghentikan pendarahan dan mengobati lukanya "


Mao menjelaskan


" Hanya dengan menunjuk nunjuknya seperti itu "


Sbastian menaikkan alisnya


" Itu namanya akupuntur , guru bilang , jika ada yang membutuhkan maka harus membantu "


Mao tersenyum manis


" Jika orang jahat "


Sbastian mengajukan pertanyaan


" Jika saya belum tau dia jahat atau tidak , jadi saya akan mengobatinya , jika dia jahat , ya... Tinggal di bunuh saja "


Mao menjawab dengan enteng


" Baik baik , hahahaha , kamu cukup menarik , aku mengizinkanmu merawat Sean "


Sbastian memberikan gelang tanda bahwa dirinya sudah menjadi asisten dan tangan kanan Sean kecil


" Benarkah , hemmm.... Yeyeyeyeye Wuhu... Terimakasih tuan "


Mao berjingkrak riang sambil melompat-lompat kegirangan


" Sudah sudah , ini sudah malam , makanlah lalu beristirahat , besok Sean akan sekolah"


Sbastian membawa Sean masuk ke dalam dan meninggalkan merek semua di halaman belakang


" Oh ya , dokter Brian akan datang sebentar lagi "


Sbastian berhenti di ambang pintu sebentar dan melanjutkan perjalanan


" Hoam.... "


Sean menguap dan meletakkan kepalanya di atas bahu Sbastian


" Tidurlah , besok kita sekolah "


Sbastian membawa Sean masuk ke dalam kamar dan menidurkan Sean tanpa menggantikan baju Sean


Setelah menidurkan Sean , Sbastian melanjutkan aktivitasnya malamnya bersama sang laptop hingga tengah malam


" hai sayang , apa kabarmu , aku merindukanmu "


Sbastian mengambil foto adinda di dalam laci dan memandangnya dalam waktu yang cukup lama


" Aku tau , aku yang memakamkanmu sendiri , tapi aku merasa bahwa sayangku yang satu ini masih ada "


Sbastian mengusap foto adinda


" Entahlah sayang , aku masih belum bisa melupakanmu , saat aku mengingatmu , hatiku masih berdebar seperti saat pertama kali aku memelukmu "


Sbastian tersenyum dan mengusap foto Adinda


" Kamu tau sayang , Sean satu Minggu lagi akan berulang tahun untuk yang ke lima dan hari ini adalah hari dimana aku menemukan anak nakal ini , jika Adimas di sini aku yakin mereka berdua akan menjadi saudara yang akur , dan aku akan melihat mereka bermain bersamamu , aku merindukanmu "


Sbastian mulai menitikkan air matanya saat mengingat adinda dan putranya


" Bagaimana kabarmu sayang , apa di sana kamu baik-baik saja "


Sbastian memeluk foto adinda dan meletakkan kepalanya di atas meja sambil terus mengeluarkan air matanya


" Aku juga rindu bunda "

__ADS_1


Sean tiba-tiba saja memeluk kaki Sbastian yang bergetar dan membuat Sbastian terkejut


" Kamu belum tidur "


Sbastian mengusap air matanya dan membawa Sean ke dalam pelukannya


" Sudah , tapi Sean bangun karena mau pipis "


Sean memeluk lengan Sbastian dan mengambil foto Sbastian yang masih di pegang oleh Sbastian


" Hm.... Dulu papa ketemu bunda itu gimana ceritanya "


Sean memandang papanya dan memandang foto adinda bergantian


" Kenapa melihat papa seperti itu "


Sbastian bertanya


" Papa dan bunda terlihat.... Tidak mirip "


Sean berbicara asal


" Hahahaha kamu ini , jika papa dan bunda sama , artinya papa dan bunda saudara kembar , bukan suami istri hahahaha "


Sbastian tertawa terbahak-bahak hingga membuatnya melupakan sejenak air matanya yang masih belum mengering


" Katanya mau pipis , kita pipis dulu "


Sbastian mengambil foto adinda dan meletakkannya di dalam laci dan membawa Sean ke kamar mandi


Setelah beberapa saat , Sbastian membawa Sean untuk kembali tidur


" Ayo bobok "


Sbastian menaikkan selimutnya dan memeluk Sean kecil


" Lhoooo... Sean kan mau tau ceritanya papa ketemu bunda "


Sean mendorong Sbastian menjauh , meskipun itu tidak mempan


" Iya iya , tapi sambil tiduran aja ya "


Sbastian terlentang dan Sean tengkurap di atas dada Sbastian


" Okey "


Sean mencari posisi yang nyaman dan mulai mendengarkan cerita Sbastian


" Dulu....


" Aku ngak mau di jodohin ma "


Sbastian muda duduk di atas tempat tidur dengan kasar


" Nak , mama tau rasanya , tapi sekali ini saja ya , mama minta kepadamu , terima perjodohan ini "


Mama Sbastian sedikit memaksa


" Sbastian ngak kenal sama gadis ini dan Sbastian ngak mau nikah sama gadis yang ngak aku cintai "


Sbastian menatap mamanya


" Mama tau rasanya , tapi lambat laun cinta akan tumbuh di antara kalian "


Mama ikut duduk di samping Sbastian


" Tolong ma , Tian masih dua puluh tahun , dan gadis itu masih sekolah , Tian ngak mau "


Sbastian mengelak


" Setelah dia lulus kalian baru menikah , tidak sekarang "


Mama memegang lengan Sbastian dan membuat Sbastian terdiam sejenak


" Mama tau "


Sbastian mengambil tangan mamanya lalu tidur di pangkuan mamanya


" Sbastian lelah ma , Sbastian rindu mama sama papa , tapi kenapa saat mama datang , mama tidak memeluk Sbastian "


Sbastian berbicara dengan sendu dan meletakkan tangan mamanya di atas kepalanya


" Maafkan mama nak , adikmu juga membutuhkan mama , sampai-sampai mama melupakanmu , maafkan mama "


Mama Sbastian mengelus kepala Sbastian dengan lembut


" Sbastian selama ini menahan semuanya dari papa , tapi Sbastian tidak bisa menahannya dari mama , Sbastian merindukan mama "


Sbastian berbalik dan memeluk perut mamanya sambil terisak kecil


" Iya nak , mama yang salah , maafkan mama ya "


Mama Sbastian membiarkan Sbastian sepuasnya bermanja di pangkuannya


" Sbastian lelah ma , Sbastian mau pelukan mama , Sbastian pengen kayak bayi dulu ma , Sbastian sayaaaang banget sama mama "

__ADS_1


Air mata Sbastian semakin deras mengalir


" Mama juga sayaaaang banget sama bayi besar mama yang manjanya minta ampun ini "


Mama Sbastian mengelus kepala Sbastian dengan sayang


" Hehehehe , gimana kondisi si cantik "


Sbastian mendongak melihat mamanya


" Si cantik tadi lagi bobok pas mama tinggal"


Mama Sbastian tersenyum


" Kalau si anak nakal "


Sbastian kembali bertanya


" Hahaha dia tadi sedang bermain di dalam kotak bayinya "


Mama Sbastian mengusap air mata Sbastian yang belum berhenti mengalir


" Besok Sbastian akan ke London , Sbastian tau bentar lagi mama pulang , jadi besok Sbastian akan jenguk adik kecil sekalian ada urusan perusahaan "


Sbastian memegang tangan mamanya dan memeluknya


" Maaf ya nak , kamu jadi harus mengurus perusahaan , padahal seharusnya kamu masih kuliah dan bermain dengan temanmu"


Mama Sbastian mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir


" Ngak papa ma , ini kan demi adek kecil juga , bukan buat Tian doang "


Sbastian tersenyum


* Tililililit


Suara handphone mama Sbastian berdering


" Halo "


Mama Sbastian mengangkat telfon , namun tangannya yang satunya masih berada di atas kepala Sbastian


" Maaf nyonya , ini saya , asi untuk tuan dan nona muda hampir habis "


Suara orang di sebrang terdengar oleh Sbastian


" Lho , tadi kan saya kasih banyak "


Mama Sbastian terkejut


" Itu nyonya , susunya di habiskan sama tuan muda , dan sekarang tinggal satu botol untuk nona muda , saya takutnya nanti tidak cukup "


Suara di seberang berbicara


" Baiklah baiklah , aku akan segera kembali"


Mama Sbastian menutup telfonnya


" Dasar adek nakal "


Sbastian duduk dan menggelengkan kepalanya


" Adikmu yang satu itu banyak sekali makannya hahahaha "


Mama Sbastian berdiri dan mengecup kening Sbastian


" Mama pergi dulu ya nak , jaga diri baik-baik "


Mama Sbastian pergi , namun saat membuka pintu , mama Sbastian berhenti


" Ingat , jangan tidur terlalu malam , jangan makan yang banyak minyaknya , jangan minum kopi sering sering , dengarkan kata pak Sam , jangan begadang , jangan ngurusin perusahaan terus , kamu juga perlu istirahat , jangan... "


Kalimat mama Sbastian terpotong oleh kalimat Sbastian


" Mama mama mama , Sbastian inget kok , hampir tiap malem mama telfon , terus ceramah kayak gitu , Sbastian sampai hafal liriknya hahahaha "


Sbastian tertawa


" Sudah anak nakal , inget pesen mama ya , awas kalo di langgar "


Mama Sbastian mengancam


" Iya Bu bos "


Sbastian mengangguk


"Awas kalau bohong "


Mama Sbastian keluar namun matanya tetap menatap tajam Sbastian


" Iya nyonya "


Sbastian menjawab sambil tersenyum


" Awas ya "

__ADS_1


Mama Sbastian keluar namun matanya tetap menatap tajam Sbastian hingga pintunya tertutup


__ADS_2