Aku Pangeran

Aku Pangeran
#46 ( berebut cake.... Lagi )


__ADS_3

Setelah adegan berebut cake selesai , Sbastian membawa Sean untuk makan siang bersama Yuka dan pak Sam di meja makan


" Adek mau makan apa "


Sbastian mengambilkan nasi untuk Sean


" Mau ayam sama sayur bening di kasih sambal buatan kakek "


Sean memandang semua yang ingin dia makan


" Kenapa ngak ikan udang , ini kan udah di buatin udang goreng sama kak Yuka "


Sbastian menunjuk udang goreng jumbo buatan Yuka


" Dua aja "


Sean menunjuk dua udang goreng paling besar yang ada di atas piring


" Baiklah "


Sbastian memberikan piring makanan Sean lalu mengambil satu piring lagi untuk dirinya sendiri


Sebenarnya banyak maid yang bisa mengambilkan makanan untuk mereka , namun apalah daya mereka saat tuan mereka menolak


Seperti pagi hari itu


Flashback on


7 tahun yang lalu , setahun setelah kematian adinda


" Tuan mari saya ambilkan "


Salah satu maid yang kelihatannya dia masih maid baru yang hendak mengambilkan makanan untuk Sbastian


" Tidak perlu "


Sbastian mengambil piring yang ada di tangan maid itu lalu mengambil makanannya sendiri


" Tuan , sebaiknya saya ambilkan , nanti tangan anda kotor "


Maid itu keukeh


*Prang


Piring itu di letakkan di meja dengan keras oleh Sbastian hingga piring itu pecah menjadi beberapa bagian dan semua maid yang ada di dapur itu terkejut


" Hanya istriku yang boleh menyentuh piringku sebelum aku makan "


Sbastian berbicara dengan nada tinggi lalu meninggalkan ruang makan dan tidak jadi sarapan pagi


" Maafkan saya tuan "


Maid itu membungkuk ketakutan hingga air matanya keluar


" Jangan berbuat seperti itu lagi ya , Tuan sangat sensitif setelah kepergian nyonya muda , bersabarlah jika mau bekerja di sini "


Bu Ani menasehati pelayan itu


" Baik kepala maid "


Maid muda itu mengangguk lalu menyeka air matanya dan melanjutkan pekerjaannya


Flashback off


" Adek mau kemana "


Sbastian bertanya ketika melihat Sean turun dari kursinya


" Mau makan lha pa "


Sean turun dari kursinya dan meminta tolong kepada salah satu maid yang setia berdiri di sampingnya


" Kakak , tolong ambilkan piring Sean dong "


Sean tersenyum kecil


" Baik tuan muda "


Maid itu mengambilkan piring Sean dan memberikannya pada Sean


" Kak tolong bawakan apel dan jeruk ke belakang ya "


Sean meminta


" Baik tuan muda "


Makd itu mengangguk


" Oh iya , tolong bawakan jus jeruk di kulkas dan air putih "


Sean tersenyum


" Baik tuan muda , akan saya bawakan "


Maid itu membungkuk saat Sean berlalu pergi


" Terimakasih banyak "


Sean menunjukkan senyum terbaiknya


" Aaaaaaaa tuan muda tampan sekali "


Batin maid itu menjerit


" Mau makan di mana dek "


Sbastian mengeraskan suaranya


" Di taman belakang "


Sean menjawab dari pintu belakang dengan keras


" Eh.... Ok aku juga deh "


Sbastian cepat-cepat mengambil makanan di atas piringnya dan menyusul Sean


" Eh....eh... Kemana "


Ayah bertanya


" Ikut Sean "


Sbastian langsung pergi meninggalkan ruang makan


" Astaga.... Apa di sini tidak ada seorang papa yang normal "


Pak Sam geleng-geleng kepala dan Yuka terkekeh melihat pak Sam yang pusing melihat kelakuan tuan rumah itu


" Habiskan makananmu Yuka , jangan kau tiru kedua anak-anak nakal itu "


Pak Sam melanjutkan makannya dan dan Yuka makan dengan tenang di meja makan


" Adek .. papa juga mau makan di sini "


Sbastian tiba-tiba duduk di samping Sean yang sedang makan di karpet taman yang di sediakan para pelayan


" Papa kok ikut-ikut sih "


Sean melihat papanya intens


" Suka-suka papa dong "


Sbastian duduk dengan nyaman dan mulai memakan makanan miliknya


" Tuan "


Terdengar suara yang samar-samar


" Iya "


Sbastian mencari keberadaan suara itu namun tidak ada pelayan yang memanggilnya dan para penjaga juga diam di tempat mereka dan ada yang berkeliling , namun tidak ada yang memanggilnya hingga matanya tidak sengaja menangkap serangga yang hinggap di pinggir piring Sean


" Astaga dek , ada serangga awas dek awas"


Sbastian mencoba menangkap serangga itu namun pergerakan serangga itu sangat cepat


" Papa... Jangan pa jangan "


Sean menghentikan papanya yang mencoba memukul serangga yang ternyata teman kecilnya jiji


" Awas dek "


Sbastian berdiri dan mencoba memukul jiji


" Jangan pa "


Sean mengejar papanya yang sedang mengejar jiji


Jiji terpukul oleh tangan kanan Sean hingga dia terjatuh tanpa parasut hingga menyentuh rumput basah yang ada di bawahnya


" Awas dek ada serangga "


Sbastian hendak memukul jiji


" Jangan pa "


Sean berteriak


*Plak


" Astaga dek , kenapa di halangin "


Sbastian menggosok dan meniup-niup tangan Sean yang memerah karena pukulannya

__ADS_1


" Jangan di pukul pa , itu teman Sean "


Sean mengambil jiji dengan tangan kirinya karena tangan kanannya di gosok-gosok oleh Sbastian


" Teman apa dek "


Sbastian bertanya dengan heran


" Nanti Sean jelasin , sekarang ayo makan "


Sean berbicara dengan berbisik


" Eh...eh.... "


Sbastian di tarik Sean menuju karpet taman dan melanjutkan makannya


" Ayo pa makan dulu , nanti Sean jelasin "


Sean menarik tangan Sbastian hingga Sbastian terduduk


" Itu em.... "


Sbastian yang hendak berbicara mulutnya sudah penuh dengan udang goreng Yuka


" Makan dulu "


Sean semakin memasukkan udang gorengnya dan mulai makan makanannya sendiri


" Iywa iwa "


( Iya iya )


Sbastian berbicara dengan mulut yang penuh


Setelah makan siang yang sangat menyenangkan dan penuh tragedi , kini Sean membawa Sbastian masuk ke dalam kamarnya dengan membawa dua cake penuh krim


" Tumben papa suka yang banyak krimnya"


Sean mengintimidasi


" Hahahaha kamu ngak tau aja "


Sbastian tertawa aneh


" Silahkan masuk papa "


Sean membiarkan papanya masuk dan duduk di sofa di dalam kamar


" Jadi.... "


Sbastian menuntut penjelasan


" Jadi dia ini teman Sean "


Sean mengeluarkan jiji yang bersembunyi di balik saku pakaiannya


" Dia ini apa "


Sbastian memajukan wajahnya hingga jiji terkejut


" Dia peri "


Sean menjauhkan wajah papanya dari jiji


" Seperti alula "


Sbastian mengangkat satu alisnya


" Bukan.... Alula itu putri duyung , kalau dia peri "


Sean menjelaskan


" Heh papa tidak percaya kalau dia tidak berbahaya "


Sbastian melipat tangannya di atas dada


" Papa harus percaya "


Sean berkacak pinggang


" Kalau papa ngak mau "


Sbastian memajukan wajahnya


" Papa harus mau "


Sean menyipitkan matanya


" Kalau begitu ini kue papa "


Sbastian mengambil cake milik Sean yang memiliki krim paling banyak


" Eh... Ngak boleh "


" Boleh "


Sbastian langsung memakan cake itu sampai tidak muat di dalam mulutnya lalu berlari keluar


" Papaaaaaa.... "


Sean berlari keluar mengikuti papanya


" Kamu di sini saja "


Sean berbicara dengan jiji saat dirinya hendak keluar dari pintu


" Papaaaaaa...... "


Sean melihat papanya yang sudah setengah jalan menuju tangga terakhir


" Ble.... "


Sbastian menjulurkan lidahnya yang masih tertutup krim


" Awas kau papa "


Sean berlari menuju lift dan menekan lift menuju lantai terakhir


* Ting


Lift sudah sampai di lantai terakhir dan Sean langsung keluar dari lift dan melihat Papanya yang baru saja sampai di anak tangga terakhir


" PAPAAAAAA "


Sean berteriak hingga membuat para pelayan yang ada di ruang keluarga yang seluas lapangan itu menoleh


" Bleeee..... "


Sbastian menjulurkan lidahnya lalu berlari


" PAPAAAAAA "


Sean berlari mengejar papanya yang menjauh darinya


" Awas kau papa "


Sean mengejar Sbastian hingga berkeliling ruang keluarga


" Ha..... Ini mah maraton lapangan baseball"


Sbastian terus berlari mengelilingi ruangan dan Sean tidak berhenti mengejarnya


Setelah dua menit berlalu Sean semakin ganas hingga melompat lompat ke atas sofa dan Sbastian mulai kelelahan karena tenaga Sean yang seakan tidak ada habisnya


" Sudah dek sudah , papa capek "


Sbastian duduk di sofa dan merebahkan dirinya


" Papa..... "


Sean melompat ke atas perut Sbastian


" Aduh.... Adek hahahaha "


Sbastian tertawa karena Sean menggelitik perut Sbastian hingga membuat Sbastian kewalahan


" Sudah sudah hah.... Papa capek "


Sbastian menghela nafas dan mengangkat Sean yang masih dalam mode merajuk


" Sean mau cakenya lagi , yang banyak krimnya "


Sean melipat kedua tangannya di atas dada


" Iya iya , oh iya sudah hampir ashar , ayo sholat lalu berikan cake punya bunda azza "


Sbastian mengalihkan pembicaraan


" Ayo "


Sean mengangguk dan mengajak papanya untuk sholat ashar


Setelah sholat ashar Sbastian membawa Sean untuk membaca iqro di kamar Sbastian


" Bunda di mana "


Sean celingukan mencari foto adinda yang biasanya ada di atas meja kaca


" Ada di laci , tadi kacanya pecah , jadi mau papa ganti , tapi belum sempat "


Sbastian membuka iqro Sean


" Ayo baca "

__ADS_1


Sbastian menunjuk bacaan di dalam iqro yang sudah lebih sulit dan lebih panjang


Sean mulai membaca iqro dengan lancar dan kadang tersendat


Setelah Sean membaca iqro dan Sbastian membaca Al-Qur'an sambil di perhatikan oleh Sean , kini mereka berdua menyimpan iqro dan Al-Qur'an di dalam laci di samping tempat tidur Sbastian


" Ayo pa , kasihkan cake punya bunda az-az"


Sbastian menarik ujung baju Sbastian


" Iya iya "


Sbastian mengangguk


Setelah Sbastian mengambil cake milik sitter azza , Sbastian mengandeng Sean keluar pintu rumah


" Ayo ambil motor "


Sbastian membawa Sean menuju parkiran mobil di halaman belakang


" Jalan aja pa "


Sean menarik Sbastian menjauh dari parkiran mobil


" Oke oke "


Sbastian mengikuti tarikan Sean


" Pa ini pohon apa "


Sean menunjuk pohon yang mendominasi pohon di halaman rumah


" Pohon Pinus , ada juga yang pohon apel "


Sbastian menjawab sambil menunjuk beberapa pohon yang ada di hutan buatan di depan rumah


" Apa ngak ada pohon mangga "


Sean celingukan


" Ada "


Sbastian menaik turunkan alisnya


" dimana "


Sean memiringkan kepalanya


" Di belakang rumah "


Sbastian memberitahu


" Cuman satu dong , adek mau yang banyak"


Sean mengerucutkan bibirnya


" Banyak banyak buat apa "


Sbastian melirik Sean


" Kalau panen biar sekalian Sean kan suka mangga "


Sean tersenyum jahat


" Ngak , nanti kamu kebanyakan makan mangga dan.... Sakit perut "


Sbastian menggeleng pelan


" Yah.... Papa , ngak asyik deh "


Sean mengerucutkan bibirnya sambil menggumam kecil


" Terserah "


Sbastian mempercepat langkahnya hingga Sean tertinggal di belakang


" Tungguin papa "


Sean ikut mempercepat langkahnya namun Sbastian semakin mempercepat langkahnya hingga Sean berlari kecil untuk mengimbangi


" Jangan cepat cepat pa "


Sean kesulitan untuk mengimbangi Sbastian


" Papaaaaaa "


Sean semakin mempercepat larinya saat Sbastian semakin melangkah lebih cepat


" Papaaaaaa "


Karena geram akhirnya Sean berlari dan meninggalkan Sbastian yang masih berjalan cepat


" Hehehe ngajak lomba nih "


Sbastian berlari dan melampaui Sean


" Sean pasti menang "


Sean berpositif thinking


" Hahahaha "


Sbastian mempercepat larinya hingga meninggalkan Sean jauh di belakang


" Dasar papa , awas ya "


Sean menggumam lalu seketika menghentikan larinya


" Papa menang "


Sbastian berteriak saat sampai di pos penjagaan sampai sampai membuat pak satpam terkejut


" Hahahaha lihat papa menang "


Sbastian membusungkan dadanya


" Maaf tuan , anda berbicara dengan siapa "


Pak satpam berbicara dengan sopan


" Lho aku bicara sama Sean "


Sbastian menunjuk sesuatu


" Eh..... Tuan muda ?? "


Pak satpam menaikkan alisnya


" Iya dia ada di..... "


Sbastian celingukan mencari keberadaan Sean


" Lho dia di mana "


Sbastian memutar mutar badannya mengira Sean ada di belakangnya


" Adek..... ADEEEEK "


Sbastian mulai berteriak sambil berkacak pinggang


" Jangan main-main dek , sini keluar "


Sbastian menyipitkan matanya


" ADEEEEEEK "


Sbastian mulai panik dan berlari menuju hutan buatan kembali


" ADEEEEK jangan bercanda , papa ngak suka "


Sbastian mengerutkan keningnya


" Adek keluar dek "


Sbastian masuk ke dalam hutan buatan mini dan mulai mencari Sean


" Adek..... Keluar , papa ngak suka kalau bercandanya berlebihan "


Hati Sbastian mulai tidak karuan , jantungnya berdegup kencang takut terjadi sesuatu kepada Sean


" SEAN "


Sbastian berteriak dan berlari mengelilingi halaman rumah , banyak pengawal yang membantu Sbastian mencari Sean yang tiba-tiba hilang , suara Sbastian yang menggelegar sampai masuk ke dalam ruang tamu yang kebetulan di sana ada beberapa maid


" Ada apa "


Para maid keluar dan bertanya kepada salah satu penjaga yang ikut mencari keberadaan Sean


" Tuan muda tiba-tiba menghilang , sebaiknya kalian bantu cari "


Setelah mengatakan itu penjaga itu kembali mencari keberadaan Sean


" Astagfirullah anakku "


Sbastian menjatuhkan kotak cake itu dan mengusap kasar wajahnya


" Ada apa Tian "


Pak Sam keluar dari rumah dengan tergesa-gesa


" Sean ngak ada pa , tadi di sini "


Sbastian menjelaskan

__ADS_1


__ADS_2