
" Tapi... Apa yang terjadi hari itu "
Sbastian menatap semua orang yang ada di dalam kamar
" Itu rencana Sean , Sean bilang mereka perlu di berikan pelajaran "
Pak Sam menjawab
" Kenapa rencananya mengerikan "
Sbastian menatap Sean dingin dan hanya di balas senyuman manis oleh Sean
" sudah sudah , ayo istirahat , biarkan papa istirahat ya anak-anak "
Pak Sam berdiri dan membawa Aniel sedang Aloe menggendong Sean
" Tian mau tidur sama anak-anak , dan sejak kapan aku di infus "
Sbastian memperhatikan selang infusnya yang menjuntai panjang
" Sebaiknya tuan tetap di infus , tuan tidurlah , setelah bangun akan saya siapkan makanan "
Mao meminta Aloe meletakkan Sean di kursi roda
" Biarkan Sean tidur di sampingku , jangan di bawa kemana-mana "
Sbastian berdiri di bantu Mao
" Baiklah "
Mao memberi isyarat agar Sean di tidurkan di samping Sbastian
" Dan Aniel di sini "
Sbastian menepuk tempat di sampingnya
" Baik baik "
Pak Sam meletakkan Aniel di samping kiri Sbastian sedangkan Sean di samping kanan
" Anak-anak papa tidur ya "
Sbastian mencium kening Aniel dan Sean bergantian
" Ote papa hup.. "
( Oke papa hup.. )
Aniel langsung memeluk guling dan membelakangi Sbastian , Sbastian terkekeh melihat putri kecilnya sudah tidur dalam waktu singkat
" Kami keluar "
Semua orang keluar meninggalkan Sbastian dan kedua anaknya
" Nah.. Sean , apa yang kamu rasakan , apa ada yang sakit sayang "
Sbastian dengan penuh perhatian membelai kening Sean
" Ti..dak "
Sean tersenyum dan menggeleng
" Kamu tau , papa sangaaat menyayangi kalian berdua , jangan iri ya sayang kalau papa terlihat lebih sayang salah satu dari kalian "
Sbastian memeluk Sean
" Apa sih pa..pa , Sean u..dah be..sar , ng..gak mung..kin i..ri sama ad..ek "
Sean terkekeh
" Kamu memang putra papa "
Sbastian menciumi pipi Sean hingga membuat Sean terkekeh geli
" Su..dah papa , ti..dur "
Sean menaikkan selimutnya dan Sbastian berbaring menghadap atap , tidur dengan senyuman bahagia , putranya sudah sadar
" Andai papa tau , siapa dalang di balik kecelakaan , siapa dalang di balik kematian bunda , siapa dalang di balik nenek membenci Sean , andai papa tau , papa pasti akan sangat marah "
Sean membatin dan menatap Sbastian
" Sudah tidur hahaha "
Sbastian menutup mata Sean dan memeluk Sean dengan satu tangan dan tangan lainnya memeluk putri kecilnya
" Hei sayang bangun "
Sebuah suara membuat Sean membuka matanya
" Sean "
Terlihat sosok yang di kenal oleh Sean sedang duduk di hadapannya
" Bunda bunda "
Sean duduk dan memeluk adinda
" Bagaimana kabarmu sayang "
Adinda membelai lembut pipi Sean
" Baik bunda "
Sean tersenyum
Baru tersadar Sean ada di sebuah desa yang terlihat sangat indah
" Ini dimana bunda "
Sean melepaskan pelukannya
" Ini rumah bunda dan kakak mu "
Adinda menunjuk seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya yang sedang berbaring di atas rumput di temani seekor kucing putih besar
" Apa bunda baik baik saja "
Sean menatap adinda
" Cepatlah pulang nak , bawa papamu , bunda sangat merindukan papamu "
Perlahan adinda , desa dan kakaknya pergi menjauh
" Bundaaa tunggu "
Sean berlari mengejar adinda namun hanya kegelapan yang menyambutnya
" Bangun "
Seseorang yang tinggi putih berdiri di depannya dan menampar Sean
" Hah... "
Sean terduduk dan melihat Sbastian sedang bermain boneka di karpet bersama adik kecilnya
" Kenapa nak "
Sbastian menghampiri Sean di ikuti Aniel
" Sean mim...pi Bun..da pa..ng..gil Sean "
Sean menatap manik mata Sbastian dengan penuh air mata
" Sudah sudah ya , bunda udah tenang , adek , ambilin air putih di sana dong "
Sbastian menunjuk meja kaca
" Iya "
Aniel berlari dan mengambil gelas kecil di atas meja lalu membawanya menuju Sbastian
" Kamu itu kalau mau tidur doa dulu "
Sbastian membiarkan Sean minum sambil memberi ceramah yang panjang lebar
" Kalau begitu ayo makan "
Sbastian berjalan menuju pintu sambil menggeret tiang infusnya
" Infus ini meresahkan "
Sbastian melepas selang infusnya dan menutup saluran infusnya agar tidak terus keluar
" Mao.. ambilkan makanan , aku dan anak-anak mau makan "
Sbastian mengeluarkan kepalanya dan memasukan kepalanya lagi setelah selesai berbicara
" Ayo kita makan "
Sbastian membawa Sean turun ke lantai dan Aniel duduk di dalam pangkuan Sbastian
" Papa "
Sean menatap Sbastian
" Hm.. "
Sbastian menoleh namun Sean menggeleng
" hei kenapa "
Sbastian membelai pipi Sean
" Tatak napa "
( Kakak kenapa )
Aniel menghampiri Sean
" Ng..gak apa apa "
Sean tersenyum
" Oh iya , kalau kak Sean sudah sembuh , kak Sean ke sekolah ya , kan umurnya udah tujuh tahun "
Sbastian tersenyum
" Ngak apa apa kan kalau sekolahnya terlalu tua "
Sbastian mengalihkan pikiran Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Atu atu au cekola "
( Aku aku mau sekolah )
Aniel menunjuk dirinya sendiri
" Aniel masih belum boleh sekolah , kan umurnya masih kecil , kalau sudah waktunya , nanti papa langsung sekolahkan ke kelas satu ya "
Sbastian tersenyum
" ang leh "
( Emang boleh )
Aniel memiringkan kepalanya
" Boleh dong "
Sbastian terkekeh
" Tuan , ini makanannya "
Mao mengetuk pintu
" Masuk saja "
Sbastian menyahuti
Mao masuk dan meletakkan beberapa makanan di depan Sbastian
" Papa suapin ya "
Sbastian menyuapi Aniel dan Sean bergantian
" Papa jahydinavajkama "
Aniel berbicara dengan mulut yang penuh
" Makan dulu sayang "
Sbastian menyuapi Sean
" Papa dak atan , tok api iel ma tak ean oang "
( Papa ngak makan , kok suapi Aniel sama kak Sean doang )
Aniel berbicara setelah menelan makanannya
" Sayangnya papa makan dulu , setelah itu baru papa "
Sbastian mengusap nasi di pipi Aniel
" Kamu ini masih satu tahun tapi ngomongnya banyak , udah aktif , udah jalan , bahkan lari , papa kadang-kadang ini heran sama kamu dek , beda kayak kak Sean dulu astaga "
Sbastian geleng-geleng kepala melihat putrinya yang aneh
" Hehehehe iel tan ebat "
( Hehehehe Aniel kan hebat )
Aniel menunjukkan otot lengan kecilnya
" Haha "
Sean tertawa melihat Aniel yang lucu
Tiga hari berlalu , Sbastian sudah kembali pulih dan siap bermain bersama anak anaknya
" Papa papa papa "
Aniel mendobrak pintu kamar Sbastian
" Kenapa nak "
Sbastian yang masih memakai handuk se pinggang menoleh ke arah pintu
" Ayo papa , iel ma tak ean dah iap "
( Ayo papa , Aniel sama kak Sean udah siap )
Aniel masuk dan meninggalkan Sean di pintu bersama Aloe
" Iya iya , papa ganti baju dulu "
Sbastian bergegas mengganti pakaiannya dengan baju olahraga berwarna biru langit
" Papa dah siap "
Sbastian berdiri dengan bangga , kaos olahraga biru langit , sepatu hitam , kaos kaki putih , ikat kepala , handuk di leher , jam tangan sudah siap , air minum sudah di bawa Aloe
" Pft... "
Sean menahan tawa
" Kenapa "
Sbastian menaikkan alisnya
" Ngak papa "
Sean menggeleng
__ADS_1
" Yasudah ayo turun "
Sbastian mengambil alih kursi roda Sean dan mendudukkan Aniel di atas pangkuan Sean
" Tak ean , iel elat dak "
( Kak Sean , Aniel berat ngak )
Aniel menatap Sean
" Ngak , Aniel ringan "
Sean mencium pucuk kepala Aniel
" Anak anak papa , ayo turun "
Sbastian membawa kedua anaknya keluar dari kamar
" Salam tuan...pft... "
Para penjaga lorong memberi salam namun dengan sedikit menahan tawanya
" Kenapa sih "
Sbastian kebingungan , melihat apakan ada yang aneh dengan anak anaknya...hm... Tidak , semua yang terpasang pada anak anaknya sudah sempurna
" Ada apa "
Sbastian bertanya kepada salah satu penjaga
" Tidak tuan "
Penjaga menjawab dengan tegas namun matanya tidak menatap Sbastian
" Apaan sih "
Sbastian mengabaikan para penjaga dan masuk ke dalam lift
" Iel cet , iel cet "
( Aniel pencet , Aniel pencet )
Aniel menarik tangan Sean
" Iya iya "
Sbastian mengangkat Aniel dan Aniel memencet tombol untuk turun ke lantai bawah
* HAHAHAHA
Terdengar suara para pengawal yang terbahak bahak saat Sbastian sudah melewati lantai tiga
" Mereka kenapa sih "
Sbastian kebingungan sendiri
* Ting
Lift terbuka
" Kita main di mana nih "
Sbastian mendorong Sean keluar dari lift
" Terserah Aniel aja "
Sean membelai lembut rambut Aniel
" Waaaahhhh itu tuan muda "
" Tuan muda tampan sekali "
" Tuan muda keren "
" Astaga astaga , tuan muda sangat lucu "
" Jadi seperti itu ya tuan muda "
" Iya ya , tuan muda yang di foto kan masih kecil "
" Waaaahhhh tuan muda mirip sekali dengan tuan Sbastian "
Bisik para maid memenuhi ruangan membuat Sbastian berjalan dengan bangga seakan mengatakan inilah anakku yang cerdas dan hebat
" Pfft... "
" Hihihi "
" Astaga "
" Jangan di lihat , kamu masih polos "
Bisik kagum para maid menjadi kekehan para maid di ikuti para pengawal
" Kenapa sih ini "
Sbastian berhenti dan berkacak pinggang
" Salam tuan ....pft... "
Para maid dan penjaga membungkuk hormat namun tidak lepas sedikit kekehan menyertai
* Ctak
Jitakan keras membuat Sbastian meringis kesakitan
" Ayah sakit lho "
Sbastian menggosok kuat kepalanya yang terasa benjol
" Benjol nih ayah , tingkat tujuh benjolnya"
Sbastian mengaduh dan ayah ternyata memukul Sean menggunakan spatula untuk memasak
" Apaan , lha gini aja kok sakit "
Pak Sam memukul Sbastian kembali
" Lagian kenapa kamu keluar cuma pakek kolor , warna pink lagi , pakek sepatu , kaos kaki , lagian kenapa ini pakek bando , mau bantuin Panji kuras kolam buaya , kolor nya pakek motif bebek karet... Astagfirullah Sbastian "
Pak Sam menunjuk celana pendek Sbastian
" HAHAHAHA astaga papa HAHAHAHA "
Suara tawa Sean dan aniel menggema hingga terdengar di seluruh ruangan
" Makanya semua kok pada ketawa.. TAPI KENAPA NGAK ADA YANG KASIH TAI "
Sbastian menghentakkan kakinya kesal
" Tau bukan tai "
Pak Sam memukul Sbastian lagi
" Kamu sendiri yang salah "
Pak Sam memukul Sbastian...ehh....lagi
" Kakak sama adek kenapa ngak kasih tau papa "
Sbastian melihat tangannya di atas dada
" Hahahaha papa lucu astagfirullah perutku sakit hahahaha "
Sean dan Aniel masih terbahak bahak hingga Aniel memegangi perutnya yang sudah terasa kaku
" Haha anakku bahagia sekali "
Sbastian terkekeh melihat tawa Sean yang sudah lama di rindukannya
" Sayang "
Sbastian berlutut di depan Sean dan menangkup pipi Sean
" Tetaplah tertawa seperti ini "
Sbastian mencium kening Sean
Sean terbahak-bahak hingga terjungkal ke depan dan Sbastian langsung menangkap Sean
" Kolor pink Hahaha "
Sean memukul mukul lantai dan berguling guling di atas lantai
" Paan sih Sean "
Papa melipat tangannya di atas dada
" Iel au , di nini "
( Aniel mau , di sini )
Aniel menunjuk pipinya
" Okey okey "
Sbastian menciumi seluruh wajah Aniel hingga Aniel meminta tolong kepada Sean
" Sudah pa , nanti pipi adek habis "
Sean menjauhkan Sbastian dari Aniel
" lho , dia kan anak papa , serah papa dong"
Sbastian berkacak pinggang
" Lho... Dia itu adeknya Sean , jangan di gituin nanti pipinya abis pa "
Sean memeluk Aniel
" Ngak ngak ngak , ini tuh pipinya papa "
Sbastian memulai pertengkaran
" Ngak ngak ngak , ini tuh pipinya Sean tau "
Sean tidak mau kalah
" Sudah sudah diam "
Pak Sam membuat Sbastian dan Sean bungkam
" Bleee... "
Sbastian menjulurkan lidahnya
" Humph.. "
Sean memalingkan wajahnya
" sudah sudah , pergilah ke halaman , dan kamu pergi ke kamar , ambil celanamu"
Pak Sam memukul paha Sbastian
" Iya iya ayah "
Sbastian berdiri dan berlari menuju lantai atas
" Nah cucu kakek , kakek mau masak , ini mau di masakin apa "
Pak Sam menaikkan Sean ke atas kursi roda di bantu para penjaga
" Iel iel au ding "
( Aniel Aniel mau puding )
Aniel memberi request terlebih dahulu
" Sean juga puding deh "
Sean tersenyum
" Baik baik kakek buatkan ya "
Pak Sam mencium kening Sean dan Aniel bergantian
" Babay tek "
( Babay kek )
Aniel melambaikan tangan
" Babay "
Kakek membalas lambaian tangan Aniel
" Yo tak ain "
( Ayo kak main )
Aniel berlari keluar di ikuti Sean yang di dorong oleh salah satu pengawal
" Salam tuan muda "
Rudi yang baru masuk pintu depan menyapa Sean
" Paman Rudi "
Sean tersenyum
" Bagaimana kabar tuan muda "
Rudi mengambil alih kursi roda Sean
" baik paman , lidah Sean juga sudah tidak kaku , bagaimana kabar bintang dan bibi di sana "
Sean melihat Aniel yang sudah berlarian di atas rumput hijau
" Baik tuan muda , bintang setiap hari selalu bertanya bagaimana kabar anda "
Rudi berhenti saat Sean mengisyaratkan
" Bintang ya , Sean juga sudah lama tidak bertemu , bagaimana sekarang bintang , sudah setinggi apa paman "
Sean menyandarkan punggungnya di senderan kursi roda
" Lebih tinggi dari anda tuan "
Rudi menjawab
" Hm.. aku kan tidak lebih tinggi dari sebelum sakit , hanya tumbuh beberapa centi saja hahaha , yang tumbuh hanya rambutku "
Sean terkekeh
" Itu bukan hal yang aneh tuan "
Rudi tersenyum
" Iya paman... apa bibi sudah sembuh "
" Sudah tuan , dan itu karena anda , saya benar-benar berterimakasih dan berhutang Budi kepada anda "
Rudi tersenyum
" Tidak paman Sean hanya.. "
Belum sempat Sean berbicara Rudi sudah memotong
" Saya tau tuan muda , saya mengerti "
Rudi membuat Sean terkekeh
" Sean "
Sbastian sudah kembali dengan penampilan yang lebih baik dari tadi
" Wah wah kolor pink nya mana pa "
__ADS_1
Sean mengejek
" Papa membencimu "
Sbastian berjalan melewati Sean
" Siapa juga yang suka sama papa modelan begini bleee... "
Sean menjulurkan lidahnya
" Bleee... Aniel ayo main , biarin kakakmu "
Sbastian meninggalkan Sean yang masih duduk bersama Rudi
" Tuan terkadang seperti anak kecil "
Rudi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sbastian
" Papa itu emang begitu , dia itu hatinya lembut banget , Sean beruntung papa yang ambil Sean dulu , kalau orang lain Sean ngak bisa bayangkan "
Sean tersenyum
" Saya kagum dengan tuan Sbastian "
Rudi tersenyum
" Hm... Meski papa sudah memiliki putri kandung tapi Sean juga masih sangat di sayang , benar kan paman "
Sean menebak isi hati Rudi
" Benar sekali tuan muda "
Rudi mengangguk
" Tuan Rudi "
Suara Mao terdengar dari belakang
" Nona Mao "
Rudi membungkuk hormat
" Anda bisa pulang dan istirahat , anda sebaiknya di rumah selama anda belum sembuh , jika anda sudah sembuh baru boleh kembali "
Mao mengambil alih kursi roda Sean
" Saya mengerti nona Mao , saya akan sesegera mungkin mengobati luka luka saya , tuan muda , saya permisi "
Rudi membungkuk hormat
" Cepat sembuh ya paman , salam rindu untuk bibi dan bintang "
Sean tersenyum
" Tentu tuan muda "
Rudi berdiri dan melenggang pergi
" Ayo Mao , bantu aku turun "
Sean menunjuk Aniel yang sedang berlarian bersama Sbastian
" Baik tuan "
Mao mendorong kursi roda Sean menuju Sbastian dan Aniel yang sedang bermain
" Mao "
Sean memanggil
" Ya tuan "
Mao mendekatkan telinganya
" Apa kamu sudah menemukan sampel racun yang sama "
Sean mengecilkan suaranya
" Sudah tuan , dan itu benar racun pelumpuh yang dimasukkan ke dalam tubuh anda "
Mao menunjukkan foto sampel yang dia miliki di lab
" Apa papa tau "
Sean meminta Mao berhenti di samping air mancur
" Tidak tuan , saya tidak berani sebelum adanya perintah dari anda , dan saya minta maaf , karena saya menyuntikkan racun yang lain di tubuh bagian atas anda agar racun ini tidak sampai menyebar ke otak dan organ lainnya "
Mao berlutut di samping Sean
" Sudahlah Mao , itu sudah berlalu , berdirilah dan kembalilah cari siapa pelopor racun itu "
Sean memejamkan matanya
" Maaf tuan , namun pelopor racun itu adalah tersangka kedua "
Mao berdiri dan menjawab
" Hm... Apa tersangka satu dan tiga tidak bergerak "
Sean membuka matanya
" Mereka masih bisa menggunakan tersangka kedua sebagai bidak , jadi mereka masih belum menunjukkan batang hidungnya "
Mao menjawab
" Oh... Apakah kamu tau otak dari semua tragedi ini siapa... Mao "
Sean menatap Mao
" Saya masih menyelidikinya tuan "
Mao menjawab
" Otak dari semuanya termasuk lima belas pembunuh bayaran di tiga hari terakhir adalah tersangka kedua "
Sean menjawab dengan enteng
" Tidak mungkin , tersangka kedua hanyalah mainan tersangka satu dan tiga "
Mao seakan tidak percaya
" Hahaha setelah satu dan tiga selesai mempermainkan dua , maka si dua ini akan membalikkan semuanya "
Sean memejamkan matanya dan memasukkan tangannya ke dalam kolam
" Tuan , otak anda encer sekali "
Mao geleng-geleng kepala melihat pemikiran Sean yang tidak mungkin dia capai , anak tujuh tahun dengan ukuran tubuh anak lima tahun berfikir dengan sangat luas
" Hm.... "
Sean membuka matanya saat merasakan bayangan menutup matahari yang sedang memberi cahaya pada wajahnya
" hai Sean "
Suara melengking liona membuat Sbastian dan Aniel menoleh
" Kak lili , hai "
Sean tersenyum
" Aku kesini sama kak lion lho , dia lagi jalan di sana "
Liona menunjuk gerbang masuk yang penuh dengan para penjaga
" Ada apa di sana "
Sean memundurkan kursi rodanya
" Kak lion itu udah lama ngak kesini , dan sekarang kesini penampilannya beda , jadi ya mereka ngak kenal "
Liona mengangkat kedua tangannya
" Ayo Mao kita kesana "
Sean melajukan kursi rodanya dengan mesin yang sudah di rancang oleh Sbastian , ya.... Tapi kata Sean lebih seru saat di dorong seseorang
" Tak lili "
( Kak lili )
Aniel melompat dan memeluk liona
" Hai , bagaimana kabarmu "
Sbastian mengusap hijab panjang liona
" Lebih baik kak , dan sekarang liona udah benar-benar hijrah , lihat sekarang , dan rencananya liona mau pakek cadar "
Liona tersenyum manis menunjukkan gamis barunya
" Tidak usah gegabah , pelan pelan aja "
Sbastian tersenyum
" Sean mana "
Sbastian celingukan
" Sean unyu di sana sama Mao , mau jemput kak lion yang di hadang di gerbang "
Liona menunjuk Mao yang mendorong Sean menuju gerbang masuk kediaman
" Paman "
Suara Sean membuat beberapa menoleh
" Eh... Siapa ya "
" Aku ngak pernah liat anak ini "
" Kenapa di dorong sama nona Mao "
Para penjaga satu persatu menyingkir dari jalan dan berdiri di tepian sambil memandang siapa gerangan anak kecil yang terlihat akrab dengan Mao sang pimpinan
" Paman luga , Paman Ramlan "
Sean membuat luga dan Ramlan menoleh
" Salam tuan muda "
Luga dan Ramlan membungkuk
" Itu kakaknya Sean , biarkan kakaknya Sean lewat "
Sean menunjuk lion yang penampilannya berubah drastis , lion memakai jaket kulit hitam , celana hitam , rambut gondrong yang di ikat ke belakang , sepatu hitam , dan tas ransel hitam
" Adik kecil , bagaimana kabarmu "
Lion mendekati Sean dan Sean mencium tangan lion
" Lebih baik kak , bagaimana dengan kakak"
Sean bertanya balik
" Kakak baik , kamu masih pakek kursi roda ya "
Lion berlutut di depan Sean
" Sean sedang berlatih untuk berjalan kak "
Sean menjawab
" Kalau begitu ayo kakak bantu "
Lion membawa Sean ke dalam gendongannya
" Taruh saja tas kakak di kursi roda Sean "
Sean menunjuk kursi rodanya
" Baik baik "
Lion melepaskan jaketnya di bantu Mao dan meletakkannya di atas kursi roda Sean
" Ayo kecil , pelan pelan ya "
Lion menapakkan kaki Sean di atas tanah
" Kak "
Sean mencengkram erat lengan lion
" Kenapa "
Lion mendudukkan Sean di atas tanah
" Kaki Sean mati rasa , nanti aja ya kak "
Sean memegang kakinya
" Maksudnya tuan "
Mao langsung berlutut di depan Sean
" Kaki Sean ngak ada rasanya "
Sean membuat Mao panik dan memberikan semua barang lion yang ada di kursi roda kepada salah satu pengawal
" Dudukkan tuan muda "
Mao mengeluarkan stetoskop miliknya dan mendengarkan detak jantung Sean juga memeriksa denyut nadi Sean
" Ada apa "
Sbastian mendekat sambil menggendong Aniel
" Apa yang tuan muda rasakan "
Mao memukul mukul lutut Sean
" Sean ngak kerasa apa apa "
Sean menggeleng
" Apa di sini terasa "
Mao mencubit paha Sean
" Ngak Mao "
Sean menggeleng
" Di sini "
Mao mencubit pinggang Sean
" Iya , kalau di situ Sean kerasa "
Sean mengangguk
" Tuan , ini harus segera di bawa ke rumah sakit "
Mao memasukkan stetoskop miliknya
" Kenapa "
Sbastian menurunkan Aniel dari gendongannya
" Saya tidak tau pasti , lebih baik ini di Rontgen saja "
Mao berdiri
" Ikut aku siapkan mobil "
Luga memimpin para pengawal
__ADS_1
" Dua puluh pengawal , ambil kendaraan kalian "
Ramlan memimpin dua puluh orang pasukannya mengambil kendaraan di bangunan sebelah