Aku Pangeran

Aku Pangeran
#76 ( andai papa tau )


__ADS_3

" Tapi... Apa yang terjadi hari itu "


Sbastian menatap semua orang yang ada di dalam kamar


" Itu rencana Sean , Sean bilang mereka perlu di berikan pelajaran "


Pak Sam menjawab


" Kenapa rencananya mengerikan "


Sbastian menatap Sean dingin dan hanya di balas senyuman manis oleh Sean


" sudah sudah , ayo istirahat , biarkan papa istirahat ya anak-anak "


Pak Sam berdiri dan membawa Aniel sedang Aloe menggendong Sean


" Tian mau tidur sama anak-anak , dan sejak kapan aku di infus "


Sbastian memperhatikan selang infusnya yang menjuntai panjang


" Sebaiknya tuan tetap di infus , tuan tidurlah , setelah bangun akan saya siapkan makanan "


Mao meminta Aloe meletakkan Sean di kursi roda


" Biarkan Sean tidur di sampingku , jangan di bawa kemana-mana "


Sbastian berdiri di bantu Mao


" Baiklah "


Mao memberi isyarat agar Sean di tidurkan di samping Sbastian


" Dan Aniel di sini "


Sbastian menepuk tempat di sampingnya


" Baik baik "


Pak Sam meletakkan Aniel di samping kiri Sbastian sedangkan Sean di samping kanan


" Anak-anak papa tidur ya "


Sbastian mencium kening Aniel dan Sean bergantian


" Ote papa hup.. "


( Oke papa hup.. )


Aniel langsung memeluk guling dan membelakangi Sbastian , Sbastian terkekeh melihat putri kecilnya sudah tidur dalam waktu singkat


" Kami keluar "


Semua orang keluar meninggalkan Sbastian dan kedua anaknya


" Nah.. Sean , apa yang kamu rasakan , apa ada yang sakit sayang "


Sbastian dengan penuh perhatian membelai kening Sean


" Ti..dak "


Sean tersenyum dan menggeleng


" Kamu tau , papa sangaaat menyayangi kalian berdua , jangan iri ya sayang kalau papa terlihat lebih sayang salah satu dari kalian "


Sbastian memeluk Sean


" Apa sih pa..pa , Sean u..dah be..sar , ng..gak mung..kin i..ri sama ad..ek "


Sean terkekeh


" Kamu memang putra papa "


Sbastian menciumi pipi Sean hingga membuat Sean terkekeh geli


" Su..dah papa , ti..dur "


Sean menaikkan selimutnya dan Sbastian berbaring menghadap atap , tidur dengan senyuman bahagia , putranya sudah sadar


" Andai papa tau , siapa dalang di balik kecelakaan , siapa dalang di balik kematian bunda , siapa dalang di balik nenek membenci Sean , andai papa tau , papa pasti akan sangat marah "


Sean membatin dan menatap Sbastian


" Sudah tidur hahaha "


Sbastian menutup mata Sean dan memeluk Sean dengan satu tangan dan tangan lainnya memeluk putri kecilnya


" Hei sayang bangun "


Sebuah suara membuat Sean membuka matanya


" Sean "


Terlihat sosok yang di kenal oleh Sean sedang duduk di hadapannya


" Bunda bunda "


Sean duduk dan memeluk adinda


" Bagaimana kabarmu sayang "


Adinda membelai lembut pipi Sean


" Baik bunda "


Sean tersenyum


Baru tersadar Sean ada di sebuah desa yang terlihat sangat indah


" Ini dimana bunda "


Sean melepaskan pelukannya


" Ini rumah bunda dan kakak mu "


Adinda menunjuk seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya yang sedang berbaring di atas rumput di temani seekor kucing putih besar


" Apa bunda baik baik saja "


Sean menatap adinda


" Cepatlah pulang nak , bawa papamu , bunda sangat merindukan papamu "


Perlahan adinda , desa dan kakaknya pergi menjauh


" Bundaaa tunggu "


Sean berlari mengejar adinda namun hanya kegelapan yang menyambutnya


" Bangun "


Seseorang yang tinggi putih berdiri di depannya dan menampar Sean


" Hah... "


Sean terduduk dan melihat Sbastian sedang bermain boneka di karpet bersama adik kecilnya


" Kenapa nak "


Sbastian menghampiri Sean di ikuti Aniel


" Sean mim...pi Bun..da pa..ng..gil Sean "


Sean menatap manik mata Sbastian dengan penuh air mata


" Sudah sudah ya , bunda udah tenang , adek , ambilin air putih di sana dong "


Sbastian menunjuk meja kaca


" Iya "


Aniel berlari dan mengambil gelas kecil di atas meja lalu membawanya menuju Sbastian


" Kamu itu kalau mau tidur doa dulu "


Sbastian membiarkan Sean minum sambil memberi ceramah yang panjang lebar


" Kalau begitu ayo makan "


Sbastian berjalan menuju pintu sambil menggeret tiang infusnya


" Infus ini meresahkan "


Sbastian melepas selang infusnya dan menutup saluran infusnya agar tidak terus keluar


" Mao.. ambilkan makanan , aku dan anak-anak mau makan "


Sbastian mengeluarkan kepalanya dan memasukan kepalanya lagi setelah selesai berbicara


" Ayo kita makan "


Sbastian membawa Sean turun ke lantai dan Aniel duduk di dalam pangkuan Sbastian


" Papa "


Sean menatap Sbastian


" Hm.. "


Sbastian menoleh namun Sean menggeleng


" hei kenapa "


Sbastian membelai pipi Sean


" Tatak napa "


( Kakak kenapa )


Aniel menghampiri Sean


" Ng..gak apa apa "


Sean tersenyum


" Oh iya , kalau kak Sean sudah sembuh , kak Sean ke sekolah ya , kan umurnya udah tujuh tahun "


Sbastian tersenyum


" Ngak apa apa kan kalau sekolahnya terlalu tua "


Sbastian mengalihkan pikiran Sean


" Iya "


Sean mengangguk


" Atu atu au cekola "


( Aku aku mau sekolah )


Aniel menunjuk dirinya sendiri


" Aniel masih belum boleh sekolah , kan umurnya masih kecil , kalau sudah waktunya , nanti papa langsung sekolahkan ke kelas satu ya "


Sbastian tersenyum


" ang leh "


( Emang boleh )


Aniel memiringkan kepalanya


" Boleh dong "


Sbastian terkekeh


" Tuan , ini makanannya "


Mao mengetuk pintu


" Masuk saja "


Sbastian menyahuti


Mao masuk dan meletakkan beberapa makanan di depan Sbastian


" Papa suapin ya "


Sbastian menyuapi Aniel dan Sean bergantian


" Papa jahydinavajkama "


Aniel berbicara dengan mulut yang penuh


" Makan dulu sayang "


Sbastian menyuapi Sean


" Papa dak atan , tok api iel ma tak ean oang "


( Papa ngak makan , kok suapi Aniel sama kak Sean doang )


Aniel berbicara setelah menelan makanannya


" Sayangnya papa makan dulu , setelah itu baru papa "


Sbastian mengusap nasi di pipi Aniel


" Kamu ini masih satu tahun tapi ngomongnya banyak , udah aktif , udah jalan , bahkan lari , papa kadang-kadang ini heran sama kamu dek , beda kayak kak Sean dulu astaga "


Sbastian geleng-geleng kepala melihat putrinya yang aneh


" Hehehehe iel tan ebat "


( Hehehehe Aniel kan hebat )


Aniel menunjukkan otot lengan kecilnya


" Haha "


Sean tertawa melihat Aniel yang lucu


Tiga hari berlalu , Sbastian sudah kembali pulih dan siap bermain bersama anak anaknya


" Papa papa papa "


Aniel mendobrak pintu kamar Sbastian


" Kenapa nak "


Sbastian yang masih memakai handuk se pinggang menoleh ke arah pintu


" Ayo papa , iel ma tak ean dah iap "


( Ayo papa , Aniel sama kak Sean udah siap )


Aniel masuk dan meninggalkan Sean di pintu bersama Aloe


" Iya iya , papa ganti baju dulu "


Sbastian bergegas mengganti pakaiannya dengan baju olahraga berwarna biru langit


" Papa dah siap "


Sbastian berdiri dengan bangga , kaos olahraga biru langit , sepatu hitam , kaos kaki putih , ikat kepala , handuk di leher , jam tangan sudah siap , air minum sudah di bawa Aloe


" Pft... "


Sean menahan tawa


" Kenapa "


Sbastian menaikkan alisnya


" Ngak papa "


Sean menggeleng

__ADS_1


" Yasudah ayo turun "


Sbastian mengambil alih kursi roda Sean dan mendudukkan Aniel di atas pangkuan Sean


" Tak ean , iel elat dak "


( Kak Sean , Aniel berat ngak )


Aniel menatap Sean


" Ngak , Aniel ringan "


Sean mencium pucuk kepala Aniel


" Anak anak papa , ayo turun "


Sbastian membawa kedua anaknya keluar dari kamar


" Salam tuan...pft... "


Para penjaga lorong memberi salam namun dengan sedikit menahan tawanya


" Kenapa sih "


Sbastian kebingungan , melihat apakan ada yang aneh dengan anak anaknya...hm... Tidak , semua yang terpasang pada anak anaknya sudah sempurna


" Ada apa "


Sbastian bertanya kepada salah satu penjaga


" Tidak tuan "


Penjaga menjawab dengan tegas namun matanya tidak menatap Sbastian


" Apaan sih "


Sbastian mengabaikan para penjaga dan masuk ke dalam lift


" Iel cet , iel cet "


( Aniel pencet , Aniel pencet )


Aniel menarik tangan Sean


" Iya iya "


Sbastian mengangkat Aniel dan Aniel memencet tombol untuk turun ke lantai bawah


* HAHAHAHA


Terdengar suara para pengawal yang terbahak bahak saat Sbastian sudah melewati lantai tiga


" Mereka kenapa sih "


Sbastian kebingungan sendiri


* Ting


Lift terbuka


" Kita main di mana nih "


Sbastian mendorong Sean keluar dari lift


" Terserah Aniel aja "


Sean membelai lembut rambut Aniel


" Waaaahhhh itu tuan muda "


" Tuan muda tampan sekali "


" Tuan muda keren "


" Astaga astaga , tuan muda sangat lucu "


" Jadi seperti itu ya tuan muda "


" Iya ya , tuan muda yang di foto kan masih kecil "


" Waaaahhhh tuan muda mirip sekali dengan tuan Sbastian "


Bisik para maid memenuhi ruangan membuat Sbastian berjalan dengan bangga seakan mengatakan inilah anakku yang cerdas dan hebat


" Pfft... "


" Hihihi "


" Astaga "


" Jangan di lihat , kamu masih polos "


Bisik kagum para maid menjadi kekehan para maid di ikuti para pengawal


" Kenapa sih ini "


Sbastian berhenti dan berkacak pinggang


" Salam tuan ....pft... "


Para maid dan penjaga membungkuk hormat namun tidak lepas sedikit kekehan menyertai


* Ctak


Jitakan keras membuat Sbastian meringis kesakitan


" Ayah sakit lho "


Sbastian menggosok kuat kepalanya yang terasa benjol


" Benjol nih ayah , tingkat tujuh benjolnya"


Sbastian mengaduh dan ayah ternyata memukul Sean menggunakan spatula untuk memasak


" Apaan , lha gini aja kok sakit "


Pak Sam memukul Sbastian kembali


" Lagian kenapa kamu keluar cuma pakek kolor , warna pink lagi , pakek sepatu , kaos kaki , lagian kenapa ini pakek bando , mau bantuin Panji kuras kolam buaya , kolor nya pakek motif bebek karet... Astagfirullah Sbastian "


Pak Sam menunjuk celana pendek Sbastian


" HAHAHAHA astaga papa HAHAHAHA "


Suara tawa Sean dan aniel menggema hingga terdengar di seluruh ruangan


" Makanya semua kok pada ketawa.. TAPI KENAPA NGAK ADA YANG KASIH TAI "


Sbastian menghentakkan kakinya kesal


" Tau bukan tai "


Pak Sam memukul Sbastian lagi


" Kamu sendiri yang salah "


Pak Sam memukul Sbastian...ehh....lagi


" Kakak sama adek kenapa ngak kasih tau papa "


Sbastian melihat tangannya di atas dada


" Hahahaha papa lucu astagfirullah perutku sakit hahahaha "


Sean dan Aniel masih terbahak bahak hingga Aniel memegangi perutnya yang sudah terasa kaku


" Haha anakku bahagia sekali "


Sbastian terkekeh melihat tawa Sean yang sudah lama di rindukannya


" Sayang "


Sbastian berlutut di depan Sean dan menangkup pipi Sean


" Tetaplah tertawa seperti ini "


Sbastian mencium kening Sean


Sean terbahak-bahak hingga terjungkal ke depan dan Sbastian langsung menangkap Sean


" Kolor pink Hahaha "


Sean memukul mukul lantai dan berguling guling di atas lantai


" Paan sih Sean "


Papa melipat tangannya di atas dada


" Iel au , di nini "


( Aniel mau , di sini )


Aniel menunjuk pipinya


" Okey okey "


Sbastian menciumi seluruh wajah Aniel hingga Aniel meminta tolong kepada Sean


" Sudah pa , nanti pipi adek habis "


Sean menjauhkan Sbastian dari Aniel


" lho , dia kan anak papa , serah papa dong"


Sbastian berkacak pinggang


" Lho... Dia itu adeknya Sean , jangan di gituin nanti pipinya abis pa "


Sean memeluk Aniel


" Ngak ngak ngak , ini tuh pipinya papa "


Sbastian memulai pertengkaran


" Ngak ngak ngak , ini tuh pipinya Sean tau "


Sean tidak mau kalah


" Sudah sudah diam "


Pak Sam membuat Sbastian dan Sean bungkam


" Bleee... "


Sbastian menjulurkan lidahnya


" Humph.. "


Sean memalingkan wajahnya


" sudah sudah , pergilah ke halaman , dan kamu pergi ke kamar , ambil celanamu"


Pak Sam memukul paha Sbastian


" Iya iya ayah "


Sbastian berdiri dan berlari menuju lantai atas


" Nah cucu kakek , kakek mau masak , ini mau di masakin apa "


Pak Sam menaikkan Sean ke atas kursi roda di bantu para penjaga


" Iel iel au ding "


( Aniel Aniel mau puding )


Aniel memberi request terlebih dahulu


" Sean juga puding deh "


Sean tersenyum


" Baik baik kakek buatkan ya "


Pak Sam mencium kening Sean dan Aniel bergantian


" Babay tek "


( Babay kek )


Aniel melambaikan tangan


" Babay "


Kakek membalas lambaian tangan Aniel


" Yo tak ain "


( Ayo kak main )


Aniel berlari keluar di ikuti Sean yang di dorong oleh salah satu pengawal


" Salam tuan muda "


Rudi yang baru masuk pintu depan menyapa Sean


" Paman Rudi "


Sean tersenyum


" Bagaimana kabar tuan muda "


Rudi mengambil alih kursi roda Sean


" baik paman , lidah Sean juga sudah tidak kaku , bagaimana kabar bintang dan bibi di sana "


Sean melihat Aniel yang sudah berlarian di atas rumput hijau


" Baik tuan muda , bintang setiap hari selalu bertanya bagaimana kabar anda "


Rudi berhenti saat Sean mengisyaratkan


" Bintang ya , Sean juga sudah lama tidak bertemu , bagaimana sekarang bintang , sudah setinggi apa paman "


Sean menyandarkan punggungnya di senderan kursi roda


" Lebih tinggi dari anda tuan "


Rudi menjawab


" Hm.. aku kan tidak lebih tinggi dari sebelum sakit , hanya tumbuh beberapa centi saja hahaha , yang tumbuh hanya rambutku "


Sean terkekeh


" Itu bukan hal yang aneh tuan "


Rudi tersenyum


" Iya paman... apa bibi sudah sembuh "


" Sudah tuan , dan itu karena anda , saya benar-benar berterimakasih dan berhutang Budi kepada anda "


Rudi tersenyum


" Tidak paman Sean hanya.. "


Belum sempat Sean berbicara Rudi sudah memotong


" Saya tau tuan muda , saya mengerti "


Rudi membuat Sean terkekeh


" Sean "


Sbastian sudah kembali dengan penampilan yang lebih baik dari tadi


" Wah wah kolor pink nya mana pa "

__ADS_1


Sean mengejek


" Papa membencimu "


Sbastian berjalan melewati Sean


" Siapa juga yang suka sama papa modelan begini bleee... "


Sean menjulurkan lidahnya


" Bleee... Aniel ayo main , biarin kakakmu "


Sbastian meninggalkan Sean yang masih duduk bersama Rudi


" Tuan terkadang seperti anak kecil "


Rudi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sbastian


" Papa itu emang begitu , dia itu hatinya lembut banget , Sean beruntung papa yang ambil Sean dulu , kalau orang lain Sean ngak bisa bayangkan "


Sean tersenyum


" Saya kagum dengan tuan Sbastian "


Rudi tersenyum


" Hm... Meski papa sudah memiliki putri kandung tapi Sean juga masih sangat di sayang , benar kan paman "


Sean menebak isi hati Rudi


" Benar sekali tuan muda "


Rudi mengangguk


" Tuan Rudi "


Suara Mao terdengar dari belakang


" Nona Mao "


Rudi membungkuk hormat


" Anda bisa pulang dan istirahat , anda sebaiknya di rumah selama anda belum sembuh , jika anda sudah sembuh baru boleh kembali "


Mao mengambil alih kursi roda Sean


" Saya mengerti nona Mao , saya akan sesegera mungkin mengobati luka luka saya , tuan muda , saya permisi "


Rudi membungkuk hormat


" Cepat sembuh ya paman , salam rindu untuk bibi dan bintang "


Sean tersenyum


" Tentu tuan muda "


Rudi berdiri dan melenggang pergi


" Ayo Mao , bantu aku turun "


Sean menunjuk Aniel yang sedang berlarian bersama Sbastian


" Baik tuan "


Mao mendorong kursi roda Sean menuju Sbastian dan Aniel yang sedang bermain


" Mao "


Sean memanggil


" Ya tuan "


Mao mendekatkan telinganya


" Apa kamu sudah menemukan sampel racun yang sama "


Sean mengecilkan suaranya


" Sudah tuan , dan itu benar racun pelumpuh yang dimasukkan ke dalam tubuh anda "


Mao menunjukkan foto sampel yang dia miliki di lab


" Apa papa tau "


Sean meminta Mao berhenti di samping air mancur


" Tidak tuan , saya tidak berani sebelum adanya perintah dari anda , dan saya minta maaf , karena saya menyuntikkan racun yang lain di tubuh bagian atas anda agar racun ini tidak sampai menyebar ke otak dan organ lainnya "


Mao berlutut di samping Sean


" Sudahlah Mao , itu sudah berlalu , berdirilah dan kembalilah cari siapa pelopor racun itu "


Sean memejamkan matanya


" Maaf tuan , namun pelopor racun itu adalah tersangka kedua "


Mao berdiri dan menjawab


" Hm... Apa tersangka satu dan tiga tidak bergerak "


Sean membuka matanya


" Mereka masih bisa menggunakan tersangka kedua sebagai bidak , jadi mereka masih belum menunjukkan batang hidungnya "


Mao menjawab


" Oh... Apakah kamu tau otak dari semua tragedi ini siapa... Mao "


Sean menatap Mao


" Saya masih menyelidikinya tuan "


Mao menjawab


" Otak dari semuanya termasuk lima belas pembunuh bayaran di tiga hari terakhir adalah tersangka kedua "


Sean menjawab dengan enteng


" Tidak mungkin , tersangka kedua hanyalah mainan tersangka satu dan tiga "


Mao seakan tidak percaya


" Hahaha setelah satu dan tiga selesai mempermainkan dua , maka si dua ini akan membalikkan semuanya "


Sean memejamkan matanya dan memasukkan tangannya ke dalam kolam


" Tuan , otak anda encer sekali "


Mao geleng-geleng kepala melihat pemikiran Sean yang tidak mungkin dia capai , anak tujuh tahun dengan ukuran tubuh anak lima tahun berfikir dengan sangat luas


" Hm.... "


Sean membuka matanya saat merasakan bayangan menutup matahari yang sedang memberi cahaya pada wajahnya


" hai Sean "


Suara melengking liona membuat Sbastian dan Aniel menoleh


" Kak lili , hai "


Sean tersenyum


" Aku kesini sama kak lion lho , dia lagi jalan di sana "


Liona menunjuk gerbang masuk yang penuh dengan para penjaga


" Ada apa di sana "


Sean memundurkan kursi rodanya


" Kak lion itu udah lama ngak kesini , dan sekarang kesini penampilannya beda , jadi ya mereka ngak kenal "


Liona mengangkat kedua tangannya


" Ayo Mao kita kesana "


Sean melajukan kursi rodanya dengan mesin yang sudah di rancang oleh Sbastian , ya.... Tapi kata Sean lebih seru saat di dorong seseorang


" Tak lili "


( Kak lili )


Aniel melompat dan memeluk liona


" Hai , bagaimana kabarmu "


Sbastian mengusap hijab panjang liona


" Lebih baik kak , dan sekarang liona udah benar-benar hijrah , lihat sekarang , dan rencananya liona mau pakek cadar "


Liona tersenyum manis menunjukkan gamis barunya


" Tidak usah gegabah , pelan pelan aja "


Sbastian tersenyum


" Sean mana "


Sbastian celingukan


" Sean unyu di sana sama Mao , mau jemput kak lion yang di hadang di gerbang "


Liona menunjuk Mao yang mendorong Sean menuju gerbang masuk kediaman


" Paman "


Suara Sean membuat beberapa menoleh


" Eh... Siapa ya "


" Aku ngak pernah liat anak ini "


" Kenapa di dorong sama nona Mao "


Para penjaga satu persatu menyingkir dari jalan dan berdiri di tepian sambil memandang siapa gerangan anak kecil yang terlihat akrab dengan Mao sang pimpinan


" Paman luga , Paman Ramlan "


Sean membuat luga dan Ramlan menoleh


" Salam tuan muda "


Luga dan Ramlan membungkuk


" Itu kakaknya Sean , biarkan kakaknya Sean lewat "


Sean menunjuk lion yang penampilannya berubah drastis , lion memakai jaket kulit hitam , celana hitam , rambut gondrong yang di ikat ke belakang , sepatu hitam , dan tas ransel hitam


" Adik kecil , bagaimana kabarmu "


Lion mendekati Sean dan Sean mencium tangan lion


" Lebih baik kak , bagaimana dengan kakak"


Sean bertanya balik


" Kakak baik , kamu masih pakek kursi roda ya "


Lion berlutut di depan Sean


" Sean sedang berlatih untuk berjalan kak "


Sean menjawab


" Kalau begitu ayo kakak bantu "


Lion membawa Sean ke dalam gendongannya


" Taruh saja tas kakak di kursi roda Sean "


Sean menunjuk kursi rodanya


" Baik baik "


Lion melepaskan jaketnya di bantu Mao dan meletakkannya di atas kursi roda Sean


" Ayo kecil , pelan pelan ya "


Lion menapakkan kaki Sean di atas tanah


" Kak "


Sean mencengkram erat lengan lion


" Kenapa "


Lion mendudukkan Sean di atas tanah


" Kaki Sean mati rasa , nanti aja ya kak "


Sean memegang kakinya


" Maksudnya tuan "


Mao langsung berlutut di depan Sean


" Kaki Sean ngak ada rasanya "


Sean membuat Mao panik dan memberikan semua barang lion yang ada di kursi roda kepada salah satu pengawal


" Dudukkan tuan muda "


Mao mengeluarkan stetoskop miliknya dan mendengarkan detak jantung Sean juga memeriksa denyut nadi Sean


" Ada apa "


Sbastian mendekat sambil menggendong Aniel


" Apa yang tuan muda rasakan "


Mao memukul mukul lutut Sean


" Sean ngak kerasa apa apa "


Sean menggeleng


" Apa di sini terasa "


Mao mencubit paha Sean


" Ngak Mao "


Sean menggeleng


" Di sini "


Mao mencubit pinggang Sean


" Iya , kalau di situ Sean kerasa "


Sean mengangguk


" Tuan , ini harus segera di bawa ke rumah sakit "


Mao memasukkan stetoskop miliknya


" Kenapa "


Sbastian menurunkan Aniel dari gendongannya


" Saya tidak tau pasti , lebih baik ini di Rontgen saja "


Mao berdiri


" Ikut aku siapkan mobil "


Luga memimpin para pengawal

__ADS_1


" Dua puluh pengawal , ambil kendaraan kalian "


Ramlan memimpin dua puluh orang pasukannya mengambil kendaraan di bangunan sebelah


__ADS_2