
Setelah beberapa jam menunggu hingga badai berhenti , akhirnya pesawat yang di tumpangi Sean dan keluarganya bisa lepas landas dari bandara internasional Swiss menuju bandara internasional Soekarno-Hatta di Jakarta
" Papa "
Sean yang masih di kenakan sabuk pengaman oleh kakak pramugari menjulurkan tangannya kepada Sbastian
" Kenapa "
Sbastian tidak mengerti
" coklat Sean yang tadi papa bawa "
Sean meminta
" Oh... Ini "
Sbastian mengeluarkan coklat koin yang di masukkan ke dalam sakunya
" Makasih pa "
Sean memakan coklatnya dan memasukkan bungkusnya ke dalam tas
" Ngak di buang "
Sbastian bertanya
" Ndak , nanti aja "
Sean tersenyum
" Papaaaaa... "
Sean menatap papanya dengan tatapan memohon
" Kenapa "
Sbastian menaikkan alisnya
" Nanti Sean mau belajar matematika lagi ya "
Sean meminta
" Iya , perkalian "
Sbastian menutup matanya
" Yah... Papa ish sebel seannya "
Sean memonyongkan bibirnya
" sebel kenapa "
Sbastian melirik Sean
" Masa Sean ngak boleh belajar pitagoras "
Sean menggerutu
" Papa ngak mau kamu jadi sorotan publik karena kecerdasanmu itu "
Sbastian mengelus dan mencium pucuk kepala Sean
" Iya iya , Sean ngerti "
Sean masih menggerutu
" Kalo di sogok pakek cake buatan sendiri bisa ngak ya "
Sbastian mengeraskan suaranya sambil berpura-pura berpikir
" Mau mau , Sean mau , buat yang coklat , Sean mau yang coklat "
Sean berjingkrak riang di atas kursinya dan berteriak teriak hingga membuat Sbastian menutup telinganya
" Terlalu keras suaramu "
Sbastian menutup mulut Sean
" Makasih pa "
Sean memeluk lengan papanya
" Sama-sama sayang "
Sbastian menggosok kepala Sean
" SBASTIAN BERHENTI , KAU MENINGGALKANKU "
Sebuah suara menggema di telinga Sbastian
" Siapa "
Sbastian menyapu seluruh isi pesawat , dan di sana terlihat keluarganya yang tenang-tenang saja tanpa ribut
" Kenapa pa "
Sean bertanya saat melihat papanya celingukan
" Papa merasa ada yang panggil papa "
Sbastian hendak menatap keluar jendela
" Maaf tuan , sebentar lagi pesawat akan lepas landas , tolong kenakan sabuk pengaman anda "
Seorang pramugari mengingatkan Sbastian hingga Sbastian tidak jadi menengok keluar jendela
" Oh baik "
Sbastian memasang sabuk pengamannya dan melupakan suara tadi
" Perhatian kepada seluruh penumpang , harap memeriksa sabuk pengaman , dikarenakan pesawat akan lepas landas dalam hitungan sepuluh.. sembilan.. tujuh.. "
Suara pramugari membuat seluruh penumpang pesawat pribadi milik Sbastian menjadi tenang dan menunggu pesawat lepas landas
Setelah pesawat lepas landas , Sean mengoceh tanpa henti hingga membuat wafi yang duduk di belakangnya yang sebelumnya tidur menjadi terbangun
" Tatak ean "
Wafi memanggil Sean dengan keras
" Tatak ean "
Suara wafi menjadi semakin keras
" Iya-iya kakak di sini "
Sean menoleh ke belakang dan melihat wafi yang mencoba melepaskan sabuk pengamannya
" Hai "
Sean melambaikan tangannya
" Hai tatak , ini dimana cih , dak bisa lepas "
( Hai kakak , ini gimana sih , ngak bisa lepas )
Wafi melambaikan tangannya sebentar lalu mencoba melepas kembali sabuk pengamannya
" Ish.. cuca "
( Ish.. susah )
Wafi menghentakkan kakinya kesal
" ngak bisa ya "
Sean bertanya
" Ndak , lepacin "
( Enggak , lepasin )
Wafi menarik ujung sabuk pengamannya
" Ngak mau "
Sean menghilang dari pandangan wafi
" TATAK EAAAAN "
( KAKAK SEAAAAN )
Wafi berteriak kesal hingga membuat semua orang menertawakannya
" Hiks.. tatak hahat , wai Ndak mau Ama tatak "
( Hiks.. kakak jahat , wafi ngak mau sama kakak )
Wafi mulai menangis dan memeluk tangan sitter azza yang sedang mengelus kepalanya
" papaaaaaa lepasin dong "
Sean mencoba melepaskan sabuk pengamannya
" Mau kemana memangnya "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Mau ke adek "
Sean masih sibuk dengan sabuknya
" Sini papa lepaskan "
Sbastian melepaskan sabuk pengaman Sean dan menurunkannya perlahan
" Adek "
Sean berdiri di depan wafi sambil memegang tangan sitter azza
" Dak mau , tatak hahat "
( Ngak mau , kakak jahat )
Wafi memeluk tangan asisten John yang duduk di dekat jendela pesawat
" Tch yaudah kakak balik "
Sean kembali kepada Sbastian
" Pa "
Sean menyentuh kaki Sbastian
" Papa "
Sean menggoyangkan kaki Sbastian
" Papa tidur "
Sean cemberut melihat Sbastian yang sudah mendengkur halus
" Bunda , papa tidur "
Sean naik ke atas kursi
" Mau bunda pasangkan sabuknya "
Sitter azza menawarkan
" Mau mau "
Sean duduk dengan benar dan sitter azza memasangkan sabuk pengamannya
" Sudah "
Sitter azza kembali duduk dan memasang sabuk pengamannya sendiri
Setelah beberapa saat , Sean mulai mengantuk dan terlelap , kepalanya menyender di lengan Sbastian yang tidak jauh dari kepalanya
" Dek , adek "
Sean mendengar suara yang memanggilnya berkali-kali hingga membuatnya terbangun
" Iya papa "
Sean membuka matanya
" Lho Abah "
Sean terkejut melihat seseorang yang sangat tua duduk di hadapannya , seorang pria tua dengan sorban putih dan janggutnya yang panjang tersenyum melihat Sean
" Adek lama sekali ke Abah , Abah udah nunggu adek lho , cepet ke Abah ya dek , Abah tunggu "
Pria tua itu mengelus kepala Sean dan perlahan menghilang
" Adek , adek , Sean "
Suara Sbastian membuat Sean terjingkat
" Papa "
Sean menggosok matanya dan melihat Sbastian
" Nyenyak sekali tidurnya "
Sbastian melepaskan sabuk pengaman Sean dan menggendongnya
" Papa , tadi Sean ketemu Abah lagi "
Sean bercerita tentang mimpinya
" Abah yang manggil Sean buat mondok "
Sbastian mengusap keringat Sean
" Iya , nanti kita cari Abah nya ya pa "
Sean meminta
" Iya , nanti kita tanya ke Mbah Yai saja ya "
Sbastian turun dari pesawat paling akhir
" Iya , besok bisa ngak pa berangkat "
Sean menggosok matanya yang masih lengket
" Maaf ya , satu Minggu ini papa akan benar-benar sibuk , kalau Minggu depan papa akan ambil cuti "
Sbastian masuk ke dalam mobil
" Ok pa "
Sean duduk dengan baik dan karena masih mengantuk , kepala Sean mulai menempel di lengan Sbastian hingga jatuh ke pangkuan Sbastian
" Ngantuk ya "
Sbastian mengambil Sean dan menidurkannya di dalam gendongannya
" Malah inget pertama kali papa menemukanmu "
__ADS_1
Sbastian menatap keluar jendela sambil mengingat momen-momen menyenangkan saat dirinya menemukan Sean dan menggendongnya menuju rumah sakit kota
" Sejak kamu ada , hidup papa berubah drastis "
Sbastian menyandarkan kepalanya sambil tersenyum bahagia lalu menutup matanya
" tuan , kita sudah sampai "
Suara pak supir membangunkan Sbastian
" Hm.. sudah sampai... Saya ketiduran hahaha , makasih ya paman , barang-barangnya langsung saja di bawa ke kamar "
Sbastian keluar sambil menggendong Sean yang masih tidur dengan nyenyak
" Tatak "
Suara wafi berlari menuju Sbastian yang masih berdiri di samping mobil
" Papa , tatak napa "
(Papa , kakak kenapa )
Wafi melihat Sean yang di dalam gendongan Sbastian
" Kakak tidur "
Sbastian mensejajarkan tingginya dengan wafi
" Coba bangunkan kakak "
Sbastian memerintahkan dan di angguki oleh wafi
" Tatak , tatak , tatatatatak "
( Kakak , kakak , kakakakak )
Wafi menoel noel pipi Sean
" Hm... "
Sean menyisihkan tangan wafi dan kembali tidur
" Hahaha , coba cubit pipinya "
Sbastian mulai jahil
" Ote papa "
Wafi mengikuti apa kata Sbastian
" Aduh , sakit pa "
Sean menyisihkan tangan wafi
" Hahaha "
Sbastian tertawa kecil namun wafi cemberut karena Sean tidak kunjung bangun
" Tatak "
Wafi mengguncang Sean
" Belum pagi pa "
Sean menyisihkan tangan wafi lagi
" Aha papa punya ide "
Sbastian menggendong Sean dengan satu tangan dan meletakkan kepala Sean di bahunya lalu menggendong wafi dengan tangan satunya
" Temama pa "
( Kemana pa )
Wafi bertanya
" Ada deh "
Sbastian membawa wafi dan Sean masuk
" Kemana "
Asisten John bertanya
" Sssttttt , ayah nanan lamai "
( Sssttttt , ayah jangan ramai )
Wafi mengkode ayahnya
" Hah.. "
Asisten John masih loading
" Papa "
Saat Sbastian masuk ke dalam rumah , dia di sambut oleh papa dan mamanya juga adik kembarnya di ruang tamu
" Bagaimana papa tau alamat rumah ini "
Sbastian tidak melirik mamanya sekalipun
" Papa ada mata-mata di sekitarmu , kamu harusnya tau "
Papa Sbastian menjawab dengan enteng
" Kebiasaan buruk yang harus di hilangkan "
Sbastian mengabaikan mereka semua dan berjalan menuju tangga
" Kakak "
Lion memanggil
" Lili kangen "
Suara lirih liona memasuki pendengaran Sbastian
" Ikutlah "
Sbastian tersenyum lalu berjalan naik
" Capa meleka pa "
( Siapa mereka pa )
Wafi berbisik
" Nanti papa kasih tau "
Sbastian ikut berbisik
Sbastian masuk ke dalam kamar Sean yang pintunya terbuka
" Keluarlah "
Sbastian memerintahkan beberapa maid yang sedang membersihkan kamar Sean
" Selamat datang tuan , kami permisi "
Para maid membungkuk lalu pergi keluar
" Tutup pintunya lion "
Sbastian memerintahkan
" Iya "
" Kemarilah "
Sbastian merentangkan kedua tangannya dan lili masuk ke dalam pelukannya
" Papa jarang bersama kalian ya "
Sbastian mengelus kepala liona
" Iya , papa juga sibuk dengan perusahaan barunya "
Lion menjawab
" Maaf ya , kakak pergi tanpa berpamitan kepada kalian "
Sbastian mencium pucuk kepala liona
" Kakak jangan pergi jauh-jauh lagi ya "
Liona berbicara dengan lirih
" Bagaimana pengobatanmu "
Sbastian mengelus kepala liona yang di tutupi oleh kupluk rajut
" Hampir selesai , lihatlah , rambut liona sudah tumbuh banyak "
Liona melepaskan kupluknya dan menunjukkan rambut tipisnya
" Bagus , segeralah sembuh "
Sbastian mengusap pipi liona dan mencium kening liona dengan sayang
" Hei bro , kau harus selalu jaga dia ya "
Sbastian menepuk pundak lion
" Sudah tugasku "
Lion menepuk tangan Sbastian
" Lihat , kakak meninggalkan kalian berdua hanya selama dua tahun , tapi kalian sudah setinggi ini "
Sbastian mengukur tinggi lion yang sudah se tinggi telinganya dan liona yang masih setinggi dadanya
" Aku bisa lebih tinggi , akan ku jaga lili dari para mata keranjang di sekolahan "
Lion berbicara dengan nada tidak suka
" Kalian ini "
Sbastian tersenyum dan mengacak rambut lion
" Oh iya , ini putra asisten John , namanya wafaul Fiqih , dia sering di panggil wafi "
Sbastian menggendong wafi
" Salim wafi "
Sbastian memerintahkan wafi
" Wah.... Imutnya "
Liona tersenyum dan mencium pipi bakpao wafi
" Adek Sean kenapa"
Liona menanyakan Sean
" Oh iya , lion ambilkan baju beruang di lemari hijau , di loker paling bawah "
Sbastian menurunkan wafi dan melepaskan pakaian kantor Sean
" Ini kak "
Lion membawa dua baju beruang salju
" Iya , ini dia "
Sbastian mengambil kedua baju itu
" Lili , pakaikan ini kepada adek wafi "
Sbastian memberikan baju beruang salju yang lebih kecil
" Kakak lion , bantu lili dong "
Liona melepas baju hangat beruang Grizzly milik wafi dan menggantinya dengan baju hangat beruang salju yang di berikan Sbastian
" Adududududuh lucunya "
Sbastian memperlihatkan beruang salju anak-anak yang sedang tertidur
" Ini juga lucu , kayak bakpao "
Lili memeluk wafi dan menciumi pipi gembul wafi
" Papa , awi antuk "
( Papa , wafi ngantuk )
Wafi menggosok matanya
" Tidurlah di sini "
Sbastian menempatkan wafi di samping Sean
" Anti unda ali awi "
( Nanti bunda cari wafi )
Wafi menggosok matanya lagi
" Tidak , tidurlah , nanti papa yang bicara sama ayah sama bunda "
Sbastian memakaikan kupluk kostum beruang kutubnya dan menepuk-nepuk punggung wafi agar cepat tidur
" Wah... Kakak bisa ya menidurkan adik bayi"
Liona tersenyum kagum
" Kakak sudah biasa "
Sbastian membawa liona dan lion duduk di sofa kamar Sean
" Tidurlah di sini "
Sbastian menidurkan liona di pangkuannya
" Kamu pasti lelah , tidurlah nanti kakak bawa kamu ke kamar "
Sbastian mengelus kepala liona
" Setiap malam lili menangisi kakak "
Lion memulai pembicaraan saat liona sudah terlelap
" Ayah masih sama saja ya "
Sbastian tersenyum
" Mama juga setiap hari selalu bersama teman-temannya , kadang mama hanya mengantar lili ke dokter dan akan menjemputnya saat sudah selesai pengobatan "
Lion menatap liona dengan air mata
__ADS_1
" Maafkan kakak , seharusnya kakak membawa kalian "
Sbastian memeluk lion dengan satu tangannya dan mengusap air mata lion
" Apa kamu menemani liona berobat "
Sbastian mengusap-usap kepala lion
" Setiap saat , bahkan saat tiba pengobatan liona , hanya aku yang menemaninya , kami ke rumah sakit hanya di antar pak sopir "
Lion memeluk Sbastian dengan tubuh bergetar
" Kalau begitu mama dan papa tidak akan lama di sini , papa akan segera di buat sibuk dengan pekerjaannya dan mama pasti dapat panggilan dari teman-temannya , kamu bisa tenang di sini , mulai sekarang kakak yang akan merawat kalian "
Sbastian menggosok punggung lion
" Tidurlah , kakak tau kamu juga lelah "
Sbastian memeluk lion dan ikut memejamkan matanya
" Aku sayang kakak "
Lion berbisik dan memeluk Sbastian
Tidak lama setelah lion tertidur , Sbastian membuka matanya
" Papa dan mama sama saja sejak dulu "
Sbastian menyisihkan kepala liona dari pahanya dan menggendong lion keluar kamar
" Bibi "
Sbastian kebetulan melihat salah satu maid yang lewat dan memanggilnya
" Tolong bukakan kamar lion "
Sbastian berbicara sambil berjalan dan di ikuti oleh maid itu
" bukakan kamar liona juga "
Sbastian keluar dari kamar lion dan menutup pintunya lalu kembali ke kamar Sean
" Kakak dari mana "
Liona membuka sedikit matanya
" Membawa kak lion ke kamarnya , tidurlah , ini masih waktunya untuk tidur siang "
Sbastian mengelus kepala liona dengan lembut lalu menggendong liona dan membawanya masuk ke dalam kamar liona sendiri
" Dimana mama dan papa "
Sbastian bertanya kepada maid yang masih setia mengikuti Sbastian
" Tuan dan nyonya besar sudah pulang , kata tuan besar nanti akan menjemput nona dan tuan muda pukul tujuh malam sepulang kerja "
Maid itu menyampaikan pesan untuk Sbastian
" Oh.... Apa makan siang sudah siap "
Sbastian turun dan di ikuti oleh maid tersebut
" Sudah tuan "
Maid menjawab
" Simpan saja , mereka semua akan makan nanti sore , aku keluar sebentar , mungkin akan kembali pukul tiga nanti , jika mereka bangun langsung suruh makan saja tanpa menungguku "
Sbastian pergi meninggalkan pelayan itu yang membungkuk hormat
" John "
Sbastian menepuk pundak asisten John yang kebetulan lewat di depannya
" Iya tuan "
Asisten John berhenti
" Anakmu tidur dengan Sean , jangan di ganggu , aku akan keluar sebentar "
Sbastian menepuk pundak asisten John lalu memasuki mobil yang sudah di siapkan
Sbastian keluar dari gerbang rumahnya dan menuju toko kue kesukaan Sean
Saat dalam perjalanan Sbastian melihat satu orang yang sangat dia kenal sedang di ganggu oleh beberapa orang di dalam gang sempit
*Ckit
Mobil Sbastian berhenti dan Sbastian langsung keluar dari mobil dan meletakkan jasnya di dalam mobil
" Berhenti "
Suara Sbastian menggelegar di gang sempit itu
" Hahahaha ada pahlawan kesiangan "
Salah satu pria di sana menertawakan Sbastian
" Hahahaha ada pencuri di siang bolong "
Sbastian menjawab ejekan mereka
" Habisi saja dia , dilihat-lihat dia pria berduit , jika membawa ATM maka kita bisa memakainya hahahaha "
Pria itu tertawa terbahak-bahak
" Coba saja jika bisa "
Sbastian mengeluarkan dompetnya dan melemparkannya ke kaki para pria kekar itu
" Jadi kita taruhan ya "
Mereka maju tepat di depan wajah Sbastian
" Boleh "
Sbastian mengangguk setuju
" Bagaimana jika gadis cantik ini juga "
Salah satu pria menawarkan
" boleh , hahahaha "
Sbastian tertawa terbahak-bahak
" Anda terlalu percaya diri tuan "
Pria itu menatap Sbastian sinis
" Mungkin aku terlalu percaya diri "
Sbastian melepaskan sepatunya lalu berjalan mendekati mereka
Sbastian langsung menendang pria yang terlihat kekar dan berotot hingga pria itu terdorong ke belakang
Pertarungan sengit terjadi cukup lama hingga sisa satu orang yang masih bertahan untuk menyelesaikan pertarungan
" AYAAAAH "
Suara anak kecil membuat lawan Sbastian yang hendak maju menyerang menjadi berhenti seketika
" Ayah , badan ibu semakin panas yah "
Anak perempuan cantik dengan pakaian sederhana mendekati pria itu dan memeluk kaki pria itu
" Coba katakan dengan tenang , ibumu kenapa "
Pria itu mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu
" Badan ibu sangat panas , aku takut yah , ibu terus panggil-panggil ayah dari tadi "
Gadis kecil itu terlihat panik
" Kita pulang ya , ayah sudah dapat uang untuk ibu berobat "
Pria itu cepat-cepat memakai sendalnya dan melalui Sbastian begitu saja
" Ada apa "
Sbastian bertanya kepada beberapa pria yang duduk bersandar di tembok
" Dia hanya seorang pria miskin , istrinya sakit keras setelah melahirkan putrinya , sampai sekarang dia berusaha mencari uang untuk mengobati istrinya "
Salah satu pria itu menjawab
" Maaf , aku permisi , mari nona muda "
Sbastian menarik seorang gadis yang di jadikan bahan taruhan tadi
" Dasar pria brengsek "
Gadis itu memukul punggung Sbastian kencang hingga menimbulkan suara
" Maaf-maaf jika melawan orang seperti mereka itu sangat seru "
Sbastian masuk ke dalam mobil dan meminta gadis itu juga masuk
" Kita kemana "
Gadis itu bertanya
" Mengikuti pria itu "
Sbastian tancap gas dan putar balik mengikuti pria tadi dan putrinya
" Naiklah tuan "
Sbastian berhenti di samping pria itu yang sedang berlari sambil membawa putri kecilnya
" Maaf saya sedang terburu-buru "
Pria itu tidak menghiraukan Sbastian dan terus berlari
" Sepertinya dia cukup keras kepala "
Sbastian mengikuti pria itu dan membuka kaca mobilnya
" Jika naik ini maka akan lebih cepat sampai kepada istrimu "
Sbastian membuka pintu belakang mobil dan pria itu langsung masuk
" Tolonglah tuan , saya terburu-buru "
Pria itu tiba-tiba berbicara dengan formal
" Tunjukkan jalannya "
Sbastian tancap gas dan mengikuti arahan pria itu hingga sampai di depan gang sempit
" Saya sangat berterimakasih , saya tidak akan melupakan anda "
Pria itu membungkuk hormat lalu masuk ke dalam gang sempit itu
" Mau mengikutinya "
Gadis itu menawari
" Itu tujuanku "
Sbastian turun dan di ikuti oleh gadis itu masuk kedalam gang hingga melihat pria itu memasuki sebuah rumah kecil dari papan kayu yang sangat tipis
" Istriku "
Pria itu duduk di samping istrinya yang terlihat sangat pucat
" Mas.. uhuk..uhuk.. "
Wanita yang terlihat masih muda itu tersenyum kecil
" Kita ke klinik ya "
Pria itu mengusap dahi istrinya
" Memangnya ada uangnya mas "
Suara wanita itu terdengar sangat lemah
" Ada , mas sudah punya , yang penting kita berobat dulu "
Pria itu mengambil kerudung untuk istrinya dan memakaikannya
" Permisi "
Gadis yang bersama Sbastian tiba-tiba saja masuk
" Kalian "
Pria itu terkejut
" Maaf "
Gadis itu tiba-tiba memeriksa denyut nadi istri dari pria itu
" Sbastian , ini harus segera ke rumah sakit , cepatlah "
Gadis itu terlihat panik
" Bawa saja kalau begitu "
Sbastian hendak pergi namun suara pria itu menghentikannya
" Kami tidak punya uang yang cukup , lebih baik kami ke klinik saja "
Pria itu menggendong istrinya
" Oh.. ayolah kawan , aku pernah di posisimu , jika sudah parah , aku takut uang tidak akan bisa menolongnya lagi "
Sbastian menggendong gadis kecil itu dan membawa mereka masuk ke dalam mobil secara paksa
Sbastian melihat pria itu merenung setelah memangku istrinya
" Sudahlah , tidak usah di pikirkan "
Sbastian membawa mobil dengan kecepatan penuh hingga sampai di rumah sakit
Pria itu ragu untuk turun dari mobil hingga suara Sbastian membuatnya terkejut
" Aku pernah kehilangan istriku , jangan sampai kau juga merasakannya , itu sangat sakit "
Sbastian tersenyum dan pria itu keluar dari mobil Sbastian
Namun di saat pria itu ingin masuk , satpam dan beberapa perawat menghentikannya
" Mereka akan ku beri hukuman "
Sbastian turun di ikuti gadis itu yang sedang menggendong gadis kecil yang sedari tadi bersamanya
" Biarkan dia lewat , dimana Brian aku kan sudah mengabarinya "
Suara Sbastian menggelegar hingga membuat seluruh staf rumah sakit mendengar suaranya dan membungkuk hormat
__ADS_1