
" lama sekali , kapan sampainya "
Asisten John menggerutu tepat di samping telinga Sbastian
" Bisakah kamu diam , pergi dari sini , aku risih "
Sbastian memukul kening asisten John cukup keras
" Sakit tuan "
Asisten John menggosok keningnya
" Duduk diam , jangan buat masalah "
Sbastian memarahi asisten John
" Iya tuan "
Asisten John duduk dengan tenang di belakang
" Lima menit lagi kita akan sampai di pemberhentian terakhir "
Pemberitahuan di dalam bis menggunakan bahasa Jerman
" Aduh.... Bagaimana ini , aku akan sampai di rumah kemalaman "
Clara menggerutu kecil
" Saya bersedia mengantar anda nona"
Sbastian menawarkan diri
" Tidak tuan , terimakasih "
Clara menolak dengan halus
" Lebih baik dari pada pulang sendiri kan "
Asisten John menyahuti dari belakang
" Dia benar , apalagi anda wanita "
Sbastian memberi nasehat
" Eh..... Bagaimana ya "
Clara melihat jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh malam
" Setelah kita turun , kita beribadah sebentar , lalu saya akan mengantarkan anda kembali ke rumah "
Sbastian memberikan jadwal setelah turun dari bis tanpa persetujuan dari Clara terlebih dahulu
" Eh.....Baiklah , saya menerima tawaran anda , sebelumnya terimakasih ya "
Carla menunjukkan senyuman kecil miliknya
" Ah... Iya ... Itu ... Sama-sama "
Setelah melihat senyuman itu , Sbastian memalingkan wajahnya lalu melihat Sean dan membenarkan jasnya
" Papa... "
Sentuhan yang di berikan Sbastian justru membuat Sean terusik dan terbangun
" Anak papa udah bangun , sekarang sudah magrib "
Sbastian membiarkan Sean menggosok matanya yang masih lengket
" Lama lho adek tidurnya tadi , dari jam tiga sore lho "
Sbastian mengelap keringat Sean dengan sapu tangan dan membenarkan rambut Sean yang berantakan
" Lho... Ngak sholat magrib dong"
Sean menatap papanya dengan muka bantal
" Setelah turun dari bis , kita sholat magrib"
Sbastian mengambil sepatu Sean dan memakainya kepada Sean
" Habis itu kita makan ya pa , adek laper "
Sean meletakkan kepalanya di perut Sbastian
" Eh.... Kita antarkan kak cantik pulang dulu ya "
Sbastian berbisik dengan Sean
" Kakak cantik mau pulang "
Sean tiba-tiba duduk dengan benar dan menatap Clara
" Iya , kakak mau pulang "
Clara mengiyakan perkataan Sean
" Rumah kakak cantik jauh apa enggak "
Sean turun dari pangkuan Sbastian dan duduk di kursinya sendiri
" Eh.... Lumayan jika berjalan dari halte di depan "
Clara berkata dengan tidak enak
" Kalo gitu abis sholat , kita makan dulu ya kakak cantik "
Sean berbinar bahagia
" Apa kakak ada yang nunggu di rumah "
Sean berkata dengan kecewa karena Clara tidak kunjung menjawab pertanyaannya
" Kakak tinggal sendiri sih... Tapi nanti ngak enak sama tetangga kalau pulang kemalaman "
Clara menunjukkan raut wajah tidak enak
" Nanti Sean yang bilang sama tetangga kakak , biar mereka ngak bicara sembarangan "
Sean berkata dengan tegas
" Benarkah , terimakasih pahlawan kecil kakak "
Clara memberikan senyumannya dan di balas oleh senyuman terbaik Sean
" Hahaha aku memang hebat hahaha"
Sean tertawa dengan angkuh dan membuat Sbastian geleng-geleng kepala
" Ayo , kita sudah sampai "
Sbastian menggendong Sean dari belakang lalu berjalan keluar bergantian dengan penumpang yang lain
Setelah turun dari bus , Sean dan yang lain menuju tempat ibadah terdekat
" Pa mana tempat sholatnya , ngak keliatan dari tadi "
__ADS_1
Sean celingukan ke kanan dan ke kiri
" udah sampai "
Sbastian menurunkan Sean di depan pintu musholla
" Tapi ngak kayak di Indonesia ya pa , ini ngak ada nanasnya "
Sean mundur dan melihat ujung atap musholla itu
" Beda sayang , ini kan di Swiss "
Sbastian menggendong Sean ke tempat wudhu pria dan di ikuti oleh asisten John
Setelah berwudhu , Sbastian memasuki musholla dan sholat berjamaah bersama Sean dan asisten John
Setelah selesai sholat , Sbastian memimpin doa dan di Amini oleh para ma'mum yang ikut berjamaah , setelah itu Sbastian bersalaman dengan asisten John yang ada di sebelah kirinya dan Sean yang ada tepat di sebelah kanannya
Saat akan bersalaman dengan Sean , Sbastian tidak sengaja mengarahkan tangannya ke arah Clara yang agak jauh di belakangnya
" Istriku "
Sbastian berkata dalam hati
" Apa ini adinda "
Sbastian kembali bertanya di dalam hati
" Tubuhku.... Ada apa ini "
Sbastian mencoba menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa
" Suamiku "
Suara seorang wanita yang khas dan melekat di lubuk hatinya , Perlahan mendekatinya
" Adinda "
Sbastian melihat wajah almarhum istrinya dengan jelas di depannya
" Suamiku , aku merindukanmu "
Tangan adinda meraih dan mencium punggung tangan Sbastian
" Adinda sayang "
Sbastian menatap sendu almarhum istrinya
" Iya... Aku istrimu "
Adinda semakin dekat dengan Sbastian
" Istriku "
Sbastian menatap adinda tidak percaya
" Sean kecil sangat tampan , dia mirip denganmu "
Adinda menatap manik mata hitam Sbastian
" Kamu tau Sean "
Sbastian keheranan
" Aku tau suamiku , jaga dia ya , aku juga menyayanginya seperti putra kita Adimas "
Almarhum Adinda tersenyum lembut
" Aku merindukan sunyuman itu "
" Aku juga merindukanmu sayangku "
Almarhum adinda mencium bibir Sbastian sekilas
" Suamiku , jaga diri baik-baik ya , jangan lupa makan , jaga kesehatanmu , aku mencintaimu "
Almarhum adinda perlahan memudar dengan senyuman , sebelum sepenuhnya memudar , almarhum adinda membelai pipi Sbastian dan mencium kening Sbastian lama hingga sepenuhnya memudar
" Dinda... Kembali Dinda , sayang jangan tinggalkan aku lagi , SAYANG.... Sayang kembalilah...jangan tinggalkan aku sayang , aku mencintaimu , kamu dengar AKU MENCINTAIMU...hiks... kembalilah sayangku , kembalilah"
Sbastian berteriak histeris namun mulutnya kaku tidak bisa mengeluarkan suara Sbastian menitikkan air matanya , Sbastian terus berteriak dan mencoba menggerakkan badannya , namun hasilnya nihil , hingga sebuah suara mengagetkannya
" Papa "
Sebuah suara asing memasuki telinganya
Seorang anak laki-laki dengan pakaian berwarna putih bersih berdiri tepat di depan Sbastian
" Siapa kamu "
Sbastian menatap anak itu heran
" Papa jangan menangis ya "
Anak kecil itu menghapus Air mata Sbastian yang mulai mengalir deras
" Kamu siapa "
Sbastian bertanya
" Namaku Adimas Ken Sora , putra dari Sbastian Ken Sora "
Anak kecil itu tersenyum ceria
" Kamu putraku Adimas , apa kamu benar anakku "
Sbastian tidak percaya dengan apa yang ada di depannya
" Papa , maafkan Adimas ya , sekarang Adimas sama bunda ngak bisa nemanin adik Sean main lagi , Adimas sama bunda harus pergi , Adimas saaaaayang sama papa , sekarang papa sama adik Sean ya , papa baik-baik ya , Adimas pergi dulu , adek Sean sudah Adimas kasi tau buat jaga papa , Adimas sayang sama papa "
Almarhum Adimas memeluk Sbastian dan mencium pipi Sbastian
" Nak "
Suara Sbastian terdengar serak
" Iya papa "
Adimas perlahan memudar di hadapan papanya
" Papa ingin mencium pipimu nak "
Sbastian melihat Adimas sendu
" Iya papa "
Almarhum Adimas memberikan pipinya di depan hidung Sbastian dan Sbastian menghirup dalam-dalam aroma putranya yang semerbak wangi , aroma yang tidak pernah di ciumnya
" Sekarang keningnya sayang "
Suara Sbastian terdengar lembut dan halus
Almarhum Adimas memberikan keningnya di hidung Sbastian dan Sbastian mencium kening putranya lama hingga Adimas memudar setengah badan
" Peluk papa nak "
__ADS_1
Sbastian menatap mata almarhum Adimas yang terlihat menenangkan
" Papa menyayangimu nak "
Sbastian merasakan pelukan hangat almarhum putranya
" Assalamualaikum papa "
Adimas memeluk erat Sbastian lalu memudar sepenuhnya di pelukan Sbastian
" Wa'alaikum salam anakku "
Sbastian masih mencium wangi putranya yang masih tersisa
" Tuan "
Suara asisten John mengagetkan Sbastian dan membuat Sbastian terjungkal ke depan namun langsung di topang oleh asisten John
" Kamu melihatnya John "
Sbastian memegang lengan asisten John dan menatapnya lekat
" Melihat apa tuan "
Asisten John menatap Sbastian heran
" Kamu tidak melihat mereka berdua "
Sbastian bertanya dengan semangat
" Apa kamu melihatnya Clara , kamu melihat seorang wanita cantik dan anak laki-laki yang tampan "
Sbastian menatap lekat Clara dan di balas dengan tatapan aneh Clara
" Apa kalian tidak melihatnya , apa kalian benar-benar tidak melihat mereka berdua "
Sbastian menatap asisten John dan Clara bergantian
" Bunda "
Suara Sean membuat semua orang yang ada di sana menoleh kepadanya
" Iya nak iya , ada kakak Dimas juga , apa kamu melihatnya nak , kamu lihat kan "
Sbastian menatap Sean dengan senyum bahagianya
" Kamu tidak melihatnya nak "
Sbastian menyambung kalimatnya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Sean
" Tapi mereka berdua benar-benar ada di depanku "
Sbastian menunduk dan menitikkan air mata bahagianya meski hanya dirinya yang melihat dua sosok yang dirindukannya itu
" Jangan menangis pa "
Sean menghapus Air mata Sbastian dan memeluknya
" Sean juga ngak akan bisa ketemu bunda lagi "
Sean berbicara dengan berbisik di samping telinga Sbastian
" Kamu melihat bunda "
Sbastian melepaskan pelukannya dan menatap Sean dengan binar bahagia
" Tapi Sean ngak bisa main sama kak Dimas lagi nanti "
Sean menatap papanya dan mulai mengeluarkan air matanya
" Nak "
Senyum Sbastian hilang seketika karena melihat air mata Sean yang mulai jatuh
" Nanti Sean main sama siapa , kak Dimas udah pulaaaaang ... Huaaaa ... Kak dimaaaaas ..... Sean ngak mau sendirian... Huaaaa.... Sean ngak mau kaaaak..."
Sean menutup matanya dengan lengannya dan menangis dengan kencang
" Cup...cup...cup... Anak papa "
Sbastian tersenyum dan membawa Sean ke dalam pelukannya dengan sebuah senyuman getir yang membawa kebahagiaan dan kesediaan secara bersamaan
" Nanti main sama papa ya "
Sbastian menggosok punggung Sean
" Ngak mau , Sean mau main sama kakkaaak "
Suara Sean sangat keras hingga menarik perhatian orang yang lewat di depan musholla
" Uh.... Anak papa , cup cup cup "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berdiri
" Nanti papa belikan permen coklat ya "
Sbastian menepuk-nepuk punggung Sean
" Kakaaaaak...hiks...hiks..."
Sean terisak-isak di dalam pelukan Sbastian
" Iya anak papa "
Sbastian menciumi kepala Sean dan menghirupnya dalam-dalam
" Papaaaaaa hiks....hiks... Kakak pa kakak"
Sean menenggelamkan wajahnya di pundak Sbastian dan menangis hingga terisak-isak
" Iya nak iya , papa faham sayang "
Sbastian memeluk erat Sean dan menenggelamkan wajahnya di tubuh mungil Sean
" Cup cup anak papa sayang , kita makan yuk , kita cari kue coklat ya "
Sbastian menghapus air matanya dan mencoba menghibur Sean
" Ayo John , kita cari tempat untuk makan"
Sbastian berjalan keluar dan duduk di serambi musholla itu lalu memakai sepatunya
" Adek di pakek sepatunya "
Sbastian mencoba melepaskan Sean dari pelukannya namun Sean semakin erat memeluk leher Sbastian
" Ayo dek di pakek dulu sepatunya "
Sbastian mencoba memakaikan sepatu Sean
" NGAK MAU , SEAN MAU KAKAAAK..hiks.. kakaaaaak ...hiks...SEAN MAU KAKAK "
Sean memberontak di dalam gendongan Sbastian namun tangannya tetap memeluk erat leher Sbastian
" Cup...cuppp anak papa yang ganteng , diam ya , kakak ngak papa di sana "
__ADS_1
Sbastian menggosok punggung Sean dan membawanya berjalan-jalan di sekitar musholla untuk menenangkannya