Aku Pangeran

Aku Pangeran
#32 { bundaku }


__ADS_3

" lama sekali , kapan sampainya "


Asisten John menggerutu tepat di samping telinga Sbastian


" Bisakah kamu diam , pergi dari sini , aku risih "


Sbastian memukul kening asisten John cukup keras


" Sakit tuan "


Asisten John menggosok keningnya


" Duduk diam , jangan buat masalah "


Sbastian memarahi asisten John


" Iya tuan "


Asisten John duduk dengan tenang di belakang


" Lima menit lagi kita akan sampai di pemberhentian terakhir "


Pemberitahuan di dalam bis menggunakan bahasa Jerman


" Aduh.... Bagaimana ini , aku akan sampai di rumah kemalaman "


Clara menggerutu kecil


" Saya bersedia mengantar anda nona"


Sbastian menawarkan diri


" Tidak tuan , terimakasih "


Clara menolak dengan halus


" Lebih baik dari pada pulang sendiri kan "


Asisten John menyahuti dari belakang


" Dia benar , apalagi anda wanita "


Sbastian memberi nasehat


" Eh..... Bagaimana ya "


Clara melihat jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh malam


" Setelah kita turun , kita beribadah sebentar , lalu saya akan mengantarkan anda kembali ke rumah "


Sbastian memberikan jadwal setelah turun dari bis tanpa persetujuan dari Clara terlebih dahulu


" Eh.....Baiklah , saya menerima tawaran anda , sebelumnya terimakasih ya "


Carla menunjukkan senyuman kecil miliknya


" Ah... Iya ... Itu ... Sama-sama "


Setelah melihat senyuman itu , Sbastian memalingkan wajahnya lalu melihat Sean dan membenarkan jasnya


" Papa... "


Sentuhan yang di berikan Sbastian justru membuat Sean terusik dan terbangun


" Anak papa udah bangun , sekarang sudah magrib "


Sbastian membiarkan Sean menggosok matanya yang masih lengket


" Lama lho adek tidurnya tadi , dari jam tiga sore lho "


Sbastian mengelap keringat Sean dengan sapu tangan dan membenarkan rambut Sean yang berantakan


" Lho... Ngak sholat magrib dong"


Sean menatap papanya dengan muka bantal


" Setelah turun dari bis , kita sholat magrib"


Sbastian mengambil sepatu Sean dan memakainya kepada Sean


" Habis itu kita makan ya pa , adek laper "


Sean meletakkan kepalanya di perut Sbastian


" Eh.... Kita antarkan kak cantik pulang dulu ya "


Sbastian berbisik dengan Sean


" Kakak cantik mau pulang "


Sean tiba-tiba duduk dengan benar dan menatap Clara


" Iya , kakak mau pulang "


Clara mengiyakan perkataan Sean


" Rumah kakak cantik jauh apa enggak "


Sean turun dari pangkuan Sbastian dan duduk di kursinya sendiri


" Eh.... Lumayan jika berjalan dari halte di depan "


Clara berkata dengan tidak enak


" Kalo gitu abis sholat , kita makan dulu ya kakak cantik "


Sean berbinar bahagia


" Apa kakak ada yang nunggu di rumah "


Sean berkata dengan kecewa karena Clara tidak kunjung menjawab pertanyaannya


" Kakak tinggal sendiri sih... Tapi nanti ngak enak sama tetangga kalau pulang kemalaman "


Clara menunjukkan raut wajah tidak enak


" Nanti Sean yang bilang sama tetangga kakak , biar mereka ngak bicara sembarangan "


Sean berkata dengan tegas


" Benarkah , terimakasih pahlawan kecil kakak "


Clara memberikan senyumannya dan di balas oleh senyuman terbaik Sean


" Hahaha aku memang hebat hahaha"


Sean tertawa dengan angkuh dan membuat Sbastian geleng-geleng kepala


" Ayo , kita sudah sampai "


Sbastian menggendong Sean dari belakang lalu berjalan keluar bergantian dengan penumpang yang lain


Setelah turun dari bus , Sean dan yang lain menuju tempat ibadah terdekat


" Pa mana tempat sholatnya , ngak keliatan dari tadi "

__ADS_1


Sean celingukan ke kanan dan ke kiri


" udah sampai "


Sbastian menurunkan Sean di depan pintu musholla


" Tapi ngak kayak di Indonesia ya pa , ini ngak ada nanasnya "


Sean mundur dan melihat ujung atap musholla itu


" Beda sayang , ini kan di Swiss "


Sbastian menggendong Sean ke tempat wudhu pria dan di ikuti oleh asisten John


Setelah berwudhu , Sbastian memasuki musholla dan sholat berjamaah bersama Sean dan asisten John


Setelah selesai sholat , Sbastian memimpin doa dan di Amini oleh para ma'mum yang ikut berjamaah , setelah itu Sbastian bersalaman dengan asisten John yang ada di sebelah kirinya dan Sean yang ada tepat di sebelah kanannya


Saat akan bersalaman dengan Sean , Sbastian tidak sengaja mengarahkan tangannya ke arah Clara yang agak jauh di belakangnya


" Istriku "


Sbastian berkata dalam hati


" Apa ini adinda "


Sbastian kembali bertanya di dalam hati


" Tubuhku.... Ada apa ini "


Sbastian mencoba menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa


" Suamiku "


Suara seorang wanita yang khas dan melekat di lubuk hatinya , Perlahan mendekatinya


" Adinda "


Sbastian melihat wajah almarhum istrinya dengan jelas di depannya


" Suamiku , aku merindukanmu "


Tangan adinda meraih dan mencium punggung tangan Sbastian


" Adinda sayang "


Sbastian menatap sendu almarhum istrinya


" Iya... Aku istrimu "


Adinda semakin dekat dengan Sbastian


" Istriku "


Sbastian menatap adinda tidak percaya


" Sean kecil sangat tampan , dia mirip denganmu "


Adinda menatap manik mata hitam Sbastian


" Kamu tau Sean "


Sbastian keheranan


" Aku tau suamiku , jaga dia ya , aku juga menyayanginya seperti putra kita Adimas "


Almarhum Adinda tersenyum lembut


" Aku merindukan sunyuman itu "


" Aku juga merindukanmu sayangku "


Almarhum adinda mencium bibir Sbastian sekilas


" Suamiku , jaga diri baik-baik ya , jangan lupa makan , jaga kesehatanmu , aku mencintaimu "


Almarhum adinda perlahan memudar dengan senyuman , sebelum sepenuhnya memudar , almarhum adinda membelai pipi Sbastian dan mencium kening Sbastian lama hingga sepenuhnya memudar


" Dinda... Kembali Dinda , sayang jangan tinggalkan aku lagi , SAYANG.... Sayang kembalilah...jangan tinggalkan aku sayang , aku mencintaimu , kamu dengar AKU MENCINTAIMU...hiks... kembalilah sayangku , kembalilah"


Sbastian berteriak histeris namun mulutnya kaku tidak bisa mengeluarkan suara Sbastian menitikkan air matanya , Sbastian terus berteriak dan mencoba menggerakkan badannya , namun hasilnya nihil , hingga sebuah suara mengagetkannya


" Papa "


Sebuah suara asing memasuki telinganya


Seorang anak laki-laki dengan pakaian berwarna putih bersih berdiri tepat di depan Sbastian


" Siapa kamu "


Sbastian menatap anak itu heran


" Papa jangan menangis ya "


Anak kecil itu menghapus Air mata Sbastian yang mulai mengalir deras


" Kamu siapa "


Sbastian bertanya


" Namaku Adimas Ken Sora , putra dari Sbastian Ken Sora "


Anak kecil itu tersenyum ceria


" Kamu putraku Adimas , apa kamu benar anakku "


Sbastian tidak percaya dengan apa yang ada di depannya


" Papa , maafkan Adimas ya , sekarang Adimas sama bunda ngak bisa nemanin adik Sean main lagi , Adimas sama bunda harus pergi , Adimas saaaaayang sama papa , sekarang papa sama adik Sean ya , papa baik-baik ya , Adimas pergi dulu , adek Sean sudah Adimas kasi tau buat jaga papa , Adimas sayang sama papa "


Almarhum Adimas memeluk Sbastian dan mencium pipi Sbastian


" Nak "


Suara Sbastian terdengar serak


" Iya papa "


Adimas perlahan memudar di hadapan papanya


" Papa ingin mencium pipimu nak "


Sbastian melihat Adimas sendu


" Iya papa "


Almarhum Adimas memberikan pipinya di depan hidung Sbastian dan Sbastian menghirup dalam-dalam aroma putranya yang semerbak wangi , aroma yang tidak pernah di ciumnya


" Sekarang keningnya sayang "


Suara Sbastian terdengar lembut dan halus


Almarhum Adimas memberikan keningnya di hidung Sbastian dan Sbastian mencium kening putranya lama hingga Adimas memudar setengah badan


" Peluk papa nak "

__ADS_1


Sbastian menatap mata almarhum Adimas yang terlihat menenangkan


" Papa menyayangimu nak "


Sbastian merasakan pelukan hangat almarhum putranya


" Assalamualaikum papa "


Adimas memeluk erat Sbastian lalu memudar sepenuhnya di pelukan Sbastian


" Wa'alaikum salam anakku "


Sbastian masih mencium wangi putranya yang masih tersisa


" Tuan "


Suara asisten John mengagetkan Sbastian dan membuat Sbastian terjungkal ke depan namun langsung di topang oleh asisten John


" Kamu melihatnya John "


Sbastian memegang lengan asisten John dan menatapnya lekat


" Melihat apa tuan "


Asisten John menatap Sbastian heran


" Kamu tidak melihat mereka berdua "


Sbastian bertanya dengan semangat


" Apa kamu melihatnya Clara , kamu melihat seorang wanita cantik dan anak laki-laki yang tampan "


Sbastian menatap lekat Clara dan di balas dengan tatapan aneh Clara


" Apa kalian tidak melihatnya , apa kalian benar-benar tidak melihat mereka berdua "


Sbastian menatap asisten John dan Clara bergantian


" Bunda "


Suara Sean membuat semua orang yang ada di sana menoleh kepadanya


" Iya nak iya , ada kakak Dimas juga , apa kamu melihatnya nak , kamu lihat kan "


Sbastian menatap Sean dengan senyum bahagianya


" Kamu tidak melihatnya nak "


Sbastian menyambung kalimatnya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Sean


" Tapi mereka berdua benar-benar ada di depanku "


Sbastian menunduk dan menitikkan air mata bahagianya meski hanya dirinya yang melihat dua sosok yang dirindukannya itu


" Jangan menangis pa "


Sean menghapus Air mata Sbastian dan memeluknya


" Sean juga ngak akan bisa ketemu bunda lagi "


Sean berbicara dengan berbisik di samping telinga Sbastian


" Kamu melihat bunda "


Sbastian melepaskan pelukannya dan menatap Sean dengan binar bahagia


" Tapi Sean ngak bisa main sama kak Dimas lagi nanti "


Sean menatap papanya dan mulai mengeluarkan air matanya


" Nak "


Senyum Sbastian hilang seketika karena melihat air mata Sean yang mulai jatuh


" Nanti Sean main sama siapa , kak Dimas udah pulaaaaang ... Huaaaa ... Kak dimaaaaas ..... Sean ngak mau sendirian... Huaaaa.... Sean ngak mau kaaaak..."


Sean menutup matanya dengan lengannya dan menangis dengan kencang


" Cup...cup...cup... Anak papa "


Sbastian tersenyum dan membawa Sean ke dalam pelukannya dengan sebuah senyuman getir yang membawa kebahagiaan dan kesediaan secara bersamaan


" Nanti main sama papa ya "


Sbastian menggosok punggung Sean


" Ngak mau , Sean mau main sama kakkaaak "


Suara Sean sangat keras hingga menarik perhatian orang yang lewat di depan musholla


" Uh.... Anak papa , cup cup cup "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berdiri


" Nanti papa belikan permen coklat ya "


Sbastian menepuk-nepuk punggung Sean


" Kakaaaaak...hiks...hiks..."


Sean terisak-isak di dalam pelukan Sbastian


" Iya anak papa "


Sbastian menciumi kepala Sean dan menghirupnya dalam-dalam


" Papaaaaaa hiks....hiks... Kakak pa kakak"


Sean menenggelamkan wajahnya di pundak Sbastian dan menangis hingga terisak-isak


" Iya nak iya , papa faham sayang "


Sbastian memeluk erat Sean dan menenggelamkan wajahnya di tubuh mungil Sean


" Cup cup anak papa sayang , kita makan yuk , kita cari kue coklat ya "


Sbastian menghapus air matanya dan mencoba menghibur Sean


" Ayo John , kita cari tempat untuk makan"


Sbastian berjalan keluar dan duduk di serambi musholla itu lalu memakai sepatunya


" Adek di pakek sepatunya "


Sbastian mencoba melepaskan Sean dari pelukannya namun Sean semakin erat memeluk leher Sbastian


" Ayo dek di pakek dulu sepatunya "


Sbastian mencoba memakaikan sepatu Sean


" NGAK MAU , SEAN MAU KAKAAAK..hiks.. kakaaaaak ...hiks...SEAN MAU KAKAK "


Sean memberontak di dalam gendongan Sbastian namun tangannya tetap memeluk erat leher Sbastian


" Cup...cuppp anak papa yang ganteng , diam ya , kakak ngak papa di sana "

__ADS_1


Sbastian menggosok punggung Sean dan membawanya berjalan-jalan di sekitar musholla untuk menenangkannya


__ADS_2