
Setalah makan malam yang panjang , Sbastian masuk ke dalam ruang kerjanya dan di ikuti oleh asisten John
Sean sendiri kini sedang bermain bersama sitter azza , pak Sam dan kakak Yuka di dalam ruang tamu
" Kak Yuka , kalau di sini selamat pagi itu apa kak "
Sean tiba-tiba bertanya
" Selamat pagi itu gutten Morgen "
Yuka memberikan sebatang cokelat kepada Sean
" Kok sama kayak bahasa Inggris "
Sean menerima coklat itu dengan senang hati
" Kalau bahasa Inggris itu g.o.o.d morning jika bahasa Jerman itu g.u.t.t.e.n Morgen "
Yuka membersikan coklat yang menempel di pipi Sean
" Kok bahasa Jerman , ini kan di sis "
Sean menatap Yuka dengan penuh tanya
" Bukan sis tuan , tapi Swiss "
Sitter azza mengelus rambut Sean
" Ha... Iya itu , kok gitu "
Sean melihat Yuka dengan tanda tanya besar di atas kepalanya
" Di Swiss memiliki empat bahasa resmi , yaitu bahasa Jerman , yang biasa di gunakan di Swiss lalu bahasa Italia , bahasa romansh dan juga bahasa Prancis "
Yuka menjelaskan dengan sabar
" Tapi kakak bisa bahasa Indonesia katanya dari Jepang "
Sean melihat Yuka intens
" Saya bersama tuan Sbastian di Indonesia selama lima tahun , jadi saya sudah mahir berbahasa Indonesia "
Yuka tersenyum kecil
" Terus-terus Sean kan umur empat tahun setengah sedangkan kakak lima tahun sama papa , lebih lama kakak dong daripada Sean "
Sean mengelus janggutnya
" Eh..... Hehehe "
Yuka bingung harus menjawab apa
" Iya kak Yuka lebih lama sama papa daripada adek , tapi adek kesayangan papa"
Sbastian tiba-tiba datang dan menggendong Sean
" Papa Sean terkejut tau "
Sean mencubit pipi papanya
" Hahaha Kamu tau kak Yuka lho yang dulu menyiapkan baju tidur laut kamu "
Sbastian mencolek hidung Sean
" Lho bukan paman John "
Sean memiringkan kepalanya
" Iya itu saya tuan muda namun nona Yuka lah yang membuat semua desain pakaian tuan muda dan membuatnya menjadi pakaian tuan muda yang sekarang "
Asisten John tiba-tiba datang dan menyahuti perkataan Sean
" Sekarang sudah waktunya sholat isya' , setelah sholat dan mengaji kita tidur , ayah sebaiknya segera tidur , di kamar ayah lebih hangat daripada di sini , kalian juga bergegaslah tidur , aku naik duluan "
Sbastian berbalik dan menaiki lift lalu menuju kamarnya
Setelah Sbastian dan Sean sholat isya' dan mengaji , Sbastian langsung membawa Sean untuk tidur lebih awal malam ini
" Tidurlah "
Sbastian mematikan lampu kamar dan menyelimuti Sean
Pagi harinya Sean terbangun terlebih dahulu seperti biasanya lalu membangunkan Sbastian
" Pa "
Sean mengguncang papanya
" Pa udah pagi pa "
Sean mulai mengguncang Sbastian lebih keras
" Papaaaaaa "
Sean mengguncang sbastian kembali
" Tck... Papa ngak bisa bangun , ya gini nih habis sholat subuh terus tidur lagi , pusing deh "
Sean menggaruk garuk kepalanya dan melihat ke segala arah mencari sesuatu yang bisa membangkitkan papanya dari tidurnya
__ADS_1
" Aha "
Sean melihat jam weker dan menemukan ide untuk membangun Sbastian
" PAPAAAAAA ... KEBAKARAN PAAAA RUMAH BAJIIIR KASURNYA BASAAAH "
Sean berkata dengan keran sambil memukul-mukul kasur dan sandaran tempat tidur dan itu langsung membuat Sbastian kalang kabut
" Kebakaran... Kebakaran Sean ayo kita pergi kasurnya basah banjir kebakaran "
Sbastian langsung menggendong Sean dan membuat Sean terkejut Sbastian berlari hendak keluar kamar namun tiba-tiba langkah kakinya berhenti
" Kebakaran itu api , kok kasurnya basah"
Sbastian tersadar dan memikirkan kalimat yang di ucapkan Sean lalu mencari sean
" Lho Sean ...Sean ... Sean kamu di mana nak "
Sbastian panik dan berlari ke kasur sampai mengelilingi ruangan
" Papa "
Sean memanggil
" Sean kamu di mana "
Sbastian menoleh ke kanan dan ke kiri
" Papa Sean di sini "
Suara Sean kembali terdengar
" Iya di sini itu di mana , papa ngak liat kamu "
Sbastian menoleh ke kanan dan ke kiri
" Papa bawa apa itu di gendongan papa"
Sean membuat Sbastian melihat apa yang dia bawa
" Ini apa "
Sbastian memukul bantal hangat yang di bawanya
" Aduh sakit papa "
Sean mengaduh
" Astaga "
Sbastian langsung mengangkat bantal itu dan melihat bokong Sean lalu pandangan matanya turun ke bawah melihat wajah Sean yang terbalik
Sean melambaikan tangannya
" Papa kira kamu hilang "
Sbastian memeluk Sean
" Pa kalo mau meluk itu kepalanya di atas bukan di bawah "
Sean memukul perut papanya
" Hehehe iya sayangnya papa "
Sbastian meletakkan Sean di atas tempat tidur
Setelah mandi dan bermain air , Sean dan Sbastian memilih pakaian yang sama , Sean dan Sbastian sama-sama memakai baju berwarna biru Dongker dan dasi putih , Sean dan Sbastian turun untuk sarapan pagi
" Kita makan apa ya papa "
Sean memikirkan sesuatu
" Ngak tau "
Sbastian hanya mengedikkan bahu
Setelah sarapan selesai , Sbastian membawa Sean keluar dari rumah dan menunggu asisten John menyiapkan mobil
" Tuan muda "
Sitter azza keluar membawa tas kecil milik Sean
" Tas ku , bunda selalu ingat sama tas Sean , makasih bunda "
Sean memeluk kaki sitter azza dan menyentuh adik kecilnya yang masih di dalam perut
" Sama-sama tuan muda "
Sitter azza tersenyum dan mengelus rambut Sean
" Mana ya paman John "
Sean celingukan mencari dan menajamkan telinganya untuk mencari asisten John
" Adek sepatunya di pakek "
Sbastian menyodorkan sepatu kets biru
" Kok sepatu gini sih papa , kan Sean pakek jas "
__ADS_1
Sean menaruh tasnya di atas meja dan menyodorkan kerah jasnya
" Kamu lupa , sepatu kamu kan hilang di bandara , nanti kita beli lagi "
Sbastian menyodorkan sepatu kets biru
" Oh iya "
Sean mengambil sepatu kets itu lalu duduk di lantai dan memakai sepatunya sendiri
Setelah memakai sepatu , mobil berkelas berwarna hitam melaju dan berhenti di depan pintu rumah
" Itu paman John , ayo dek "
Sbastian berdiri dan mengambil tas kerjanya
" Bentar pa "
Sean mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja
" Dada bunda "
Sean melambaikan tangannya dan memasuki mobil di bangku depan
Setelah namakan waktu dua puluh menit di jalan , mobil Sbastian berhenti di depan pusat perbelanjaan anak
" Ayok , kita beli sepatu dulu nanti lihat-lihat alat tulis baru seragam untuk sekolah "
Sbastian mengambil Sean yang ada di kursi depan dan keluar dari mobil
" Kamu tunggu di tempat parkir saja ya"
Sbastian berbicara dengan asisten John
" Baik tuan "
Asisten John menjalankan mobil menuju area parkir
Saat memasuki pusat perbelanjaan , Sean di buat terkejut oleh sebuah patung manusia ikan yang terpampang jelas di salah satu pintu toko yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu
" Itu apa papa "
Sean menunjuk patung itu dan membuat Sbastian menoleh
" Itu toko boneka , lihat banyak boneka di pajang di kaca tokonya "
Sbastian menunjuk banyaknya pajangan boneka yang ada di kaca depan toko
" Ayo beli pa "
Sean melonjak-lonjak di atas gendongan Sbastian
" Nanti dulu beli sepatu dulu , bonekanya terakhir , lagi pula boneka ikan kamu di rumah masih bagus "
Sbastian pergi menjauh dari toko boneka
" Yah... "
Sean sedikit kecewa karena keputusan papanya
" Kamu tau Sean "
Sbastian menuju tempat duduk di situ dan mendudukkan Sean , lalu dirinya sendiri berjongkok di depan Sean mensejajarkan tingginya dengan Sean
" Kamu tau bahwa membeli barang yang tidak di butuhkan itu tidak boleh "
Sbastian membenarkan kerah jas Sean
" Kenapa ngak boleh pa "
Sean bertanya dengan penasaran
" Kan kita ngak butuh barang itu , kamu tau , lebih baik kita menabungkan uang itu agar bisa di gunakan di masa depan saat kita membutuhkan , atau uang itu bisa di gunakan untuk membantu yang membutuhkan seperti pelajaran yang pernah di jelaskan papa , delapan golongan orang yang wajib menerima zakat , kamu ingat kan "
Sbastian menjelaskan dengan sabar
" Iya Sean ingat , fakir , miskin , budak , terus apa pa "
Sean menghitung apa-apa yang di sebutkannya tadi
" Hahaha kamu cerdas , jadi yang menerima zakat itu , fakir , miskin , budak yang bisa bebas saat budak tersebut memberikan sejumlah uang untuk membayar , orang yang banyak hutang , orang yang kehabisan bekal saat perjalanan , orang yang baru masuk Islam , Amil Zakat , orang yang berjuang di jalan Allah "
Sbastian menjelaskan dengan sabar
" Oh.... Sean faham pa "
Sean mengangguk faham
" Baiklah kita lanjutkan belanjanya "
Sbastian menggendong Sean dan melanjutkan perjalanan
" Sean mau ikan-ikan pa "
Sean menunjuk toko alat tulis yang bernuansa laut
" Iya "
Sbastian membawa Sean ke toko itu dan memasuki toko itu
__ADS_1