Aku Pangeran

Aku Pangeran
# 28 { persiapan sekolah Sean }


__ADS_3

Setalah makan malam yang panjang , Sbastian masuk ke dalam ruang kerjanya dan di ikuti oleh asisten John


Sean sendiri kini sedang bermain bersama sitter azza , pak Sam dan kakak Yuka di dalam ruang tamu


" Kak Yuka , kalau di sini selamat pagi itu apa kak "


Sean tiba-tiba bertanya


" Selamat pagi itu gutten Morgen "


Yuka memberikan sebatang cokelat kepada Sean


" Kok sama kayak bahasa Inggris "


Sean menerima coklat itu dengan senang hati


" Kalau bahasa Inggris itu g.o.o.d morning jika bahasa Jerman itu g.u.t.t.e.n Morgen "


Yuka membersikan coklat yang menempel di pipi Sean


" Kok bahasa Jerman , ini kan di sis "


Sean menatap Yuka dengan penuh tanya


" Bukan sis tuan , tapi Swiss "


Sitter azza mengelus rambut Sean


" Ha... Iya itu , kok gitu "


Sean melihat Yuka dengan tanda tanya besar di atas kepalanya


" Di Swiss memiliki empat bahasa resmi , yaitu bahasa Jerman , yang biasa di gunakan di Swiss lalu bahasa Italia , bahasa romansh dan juga bahasa Prancis "


Yuka menjelaskan dengan sabar


" Tapi kakak bisa bahasa Indonesia katanya dari Jepang "


Sean melihat Yuka intens


" Saya bersama tuan Sbastian di Indonesia selama lima tahun , jadi saya sudah mahir berbahasa Indonesia "


Yuka tersenyum kecil


" Terus-terus Sean kan umur empat tahun setengah sedangkan kakak lima tahun sama papa , lebih lama kakak dong daripada Sean "


Sean mengelus janggutnya


" Eh..... Hehehe "


Yuka bingung harus menjawab apa


" Iya kak Yuka lebih lama sama papa daripada adek , tapi adek kesayangan papa"


Sbastian tiba-tiba datang dan menggendong Sean


" Papa Sean terkejut tau "


Sean mencubit pipi papanya


" Hahaha Kamu tau kak Yuka lho yang dulu menyiapkan baju tidur laut kamu "


Sbastian mencolek hidung Sean


" Lho bukan paman John "


Sean memiringkan kepalanya


" Iya itu saya tuan muda namun nona Yuka lah yang membuat semua desain pakaian tuan muda dan membuatnya menjadi pakaian tuan muda yang sekarang "


Asisten John tiba-tiba datang dan menyahuti perkataan Sean


" Sekarang sudah waktunya sholat isya' , setelah sholat dan mengaji kita tidur , ayah sebaiknya segera tidur , di kamar ayah lebih hangat daripada di sini , kalian juga bergegaslah tidur , aku naik duluan "


Sbastian berbalik dan menaiki lift lalu menuju kamarnya


Setelah Sbastian dan Sean sholat isya' dan mengaji , Sbastian langsung membawa Sean untuk tidur lebih awal malam ini


" Tidurlah "


Sbastian mematikan lampu kamar dan menyelimuti Sean


Pagi harinya Sean terbangun terlebih dahulu seperti biasanya lalu membangunkan Sbastian


" Pa "


Sean mengguncang papanya


" Pa udah pagi pa "


Sean mulai mengguncang Sbastian lebih keras


" Papaaaaaa "


Sean mengguncang sbastian kembali


" Tck... Papa ngak bisa bangun , ya gini nih habis sholat subuh terus tidur lagi , pusing deh "


Sean menggaruk garuk kepalanya dan melihat ke segala arah mencari sesuatu yang bisa membangkitkan papanya dari tidurnya

__ADS_1


" Aha "


Sean melihat jam weker dan menemukan ide untuk membangun Sbastian


" PAPAAAAAA ... KEBAKARAN PAAAA RUMAH BAJIIIR KASURNYA BASAAAH "


Sean berkata dengan keran sambil memukul-mukul kasur dan sandaran tempat tidur dan itu langsung membuat Sbastian kalang kabut


" Kebakaran... Kebakaran Sean ayo kita pergi kasurnya basah banjir kebakaran "


Sbastian langsung menggendong Sean dan membuat Sean terkejut Sbastian berlari hendak keluar kamar namun tiba-tiba langkah kakinya berhenti


" Kebakaran itu api , kok kasurnya basah"


Sbastian tersadar dan memikirkan kalimat yang di ucapkan Sean lalu mencari sean


" Lho Sean ...Sean ... Sean kamu di mana nak "


Sbastian panik dan berlari ke kasur sampai mengelilingi ruangan


" Papa "


Sean memanggil


" Sean kamu di mana "


Sbastian menoleh ke kanan dan ke kiri


" Papa Sean di sini "


Suara Sean kembali terdengar


" Iya di sini itu di mana , papa ngak liat kamu "


Sbastian menoleh ke kanan dan ke kiri


" Papa bawa apa itu di gendongan papa"


Sean membuat Sbastian melihat apa yang dia bawa


" Ini apa "


Sbastian memukul bantal hangat yang di bawanya


" Aduh sakit papa "


Sean mengaduh


" Astaga "


Sbastian langsung mengangkat bantal itu dan melihat bokong Sean lalu pandangan matanya turun ke bawah melihat wajah Sean yang terbalik


Sean melambaikan tangannya


" Papa kira kamu hilang "


Sbastian memeluk Sean


" Pa kalo mau meluk itu kepalanya di atas bukan di bawah "


Sean memukul perut papanya


" Hehehe iya sayangnya papa "


Sbastian meletakkan Sean di atas tempat tidur


Setelah mandi dan bermain air , Sean dan Sbastian memilih pakaian yang sama , Sean dan Sbastian sama-sama memakai baju berwarna biru Dongker dan dasi putih , Sean dan Sbastian turun untuk sarapan pagi


" Kita makan apa ya papa "


Sean memikirkan sesuatu


" Ngak tau "


Sbastian hanya mengedikkan bahu


Setelah sarapan selesai , Sbastian membawa Sean keluar dari rumah dan menunggu asisten John menyiapkan mobil


" Tuan muda "


Sitter azza keluar membawa tas kecil milik Sean


" Tas ku , bunda selalu ingat sama tas Sean , makasih bunda "


Sean memeluk kaki sitter azza dan menyentuh adik kecilnya yang masih di dalam perut


" Sama-sama tuan muda "


Sitter azza tersenyum dan mengelus rambut Sean


" Mana ya paman John "


Sean celingukan mencari dan menajamkan telinganya untuk mencari asisten John


" Adek sepatunya di pakek "


Sbastian menyodorkan sepatu kets biru


" Kok sepatu gini sih papa , kan Sean pakek jas "

__ADS_1


Sean menaruh tasnya di atas meja dan menyodorkan kerah jasnya


" Kamu lupa , sepatu kamu kan hilang di bandara , nanti kita beli lagi "


Sbastian menyodorkan sepatu kets biru


" Oh iya "


Sean mengambil sepatu kets itu lalu duduk di lantai dan memakai sepatunya sendiri


Setelah memakai sepatu , mobil berkelas berwarna hitam melaju dan berhenti di depan pintu rumah


" Itu paman John , ayo dek "


Sbastian berdiri dan mengambil tas kerjanya


" Bentar pa "


Sean mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja


" Dada bunda "


Sean melambaikan tangannya dan memasuki mobil di bangku depan


Setelah namakan waktu dua puluh menit di jalan , mobil Sbastian berhenti di depan pusat perbelanjaan anak


" Ayok , kita beli sepatu dulu nanti lihat-lihat alat tulis baru seragam untuk sekolah "


Sbastian mengambil Sean yang ada di kursi depan dan keluar dari mobil


" Kamu tunggu di tempat parkir saja ya"


Sbastian berbicara dengan asisten John


" Baik tuan "


Asisten John menjalankan mobil menuju area parkir


Saat memasuki pusat perbelanjaan , Sean di buat terkejut oleh sebuah patung manusia ikan yang terpampang jelas di salah satu pintu toko yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu


" Itu apa papa "


Sean menunjuk patung itu dan membuat Sbastian menoleh


" Itu toko boneka , lihat banyak boneka di pajang di kaca tokonya "


Sbastian menunjuk banyaknya pajangan boneka yang ada di kaca depan toko


" Ayo beli pa "


Sean melonjak-lonjak di atas gendongan Sbastian


" Nanti dulu beli sepatu dulu , bonekanya terakhir , lagi pula boneka ikan kamu di rumah masih bagus "


Sbastian pergi menjauh dari toko boneka


" Yah... "


Sean sedikit kecewa karena keputusan papanya


" Kamu tau Sean "


Sbastian menuju tempat duduk di situ dan mendudukkan Sean , lalu dirinya sendiri berjongkok di depan Sean mensejajarkan tingginya dengan Sean


" Kamu tau bahwa membeli barang yang tidak di butuhkan itu tidak boleh "


Sbastian membenarkan kerah jas Sean


" Kenapa ngak boleh pa "


Sean bertanya dengan penasaran


" Kan kita ngak butuh barang itu , kamu tau , lebih baik kita menabungkan uang itu agar bisa di gunakan di masa depan saat kita membutuhkan , atau uang itu bisa di gunakan untuk membantu yang membutuhkan seperti pelajaran yang pernah di jelaskan papa , delapan golongan orang yang wajib menerima zakat , kamu ingat kan "


Sbastian menjelaskan dengan sabar


" Iya Sean ingat , fakir , miskin , budak , terus apa pa "


Sean menghitung apa-apa yang di sebutkannya tadi


" Hahaha kamu cerdas , jadi yang menerima zakat itu , fakir , miskin , budak yang bisa bebas saat budak tersebut memberikan sejumlah uang untuk membayar , orang yang banyak hutang , orang yang kehabisan bekal saat perjalanan , orang yang baru masuk Islam , Amil Zakat , orang yang berjuang di jalan Allah "


Sbastian menjelaskan dengan sabar


" Oh.... Sean faham pa "


Sean mengangguk faham


" Baiklah kita lanjutkan belanjanya "


Sbastian menggendong Sean dan melanjutkan perjalanan


" Sean mau ikan-ikan pa "


Sean menunjuk toko alat tulis yang bernuansa laut


" Iya "


Sbastian membawa Sean ke toko itu dan memasuki toko itu

__ADS_1


__ADS_2