
" Mama , asal mama tau , Sbastian memang suka dengan orang yang mama pilih , tapi Sbastian ngak mau di tinggalkan dengan orang yang mama pilihkan , Sbastian terlanjur mencintainya ma , tapi Sbastian ngak sanggup kalau dia ninggalin Sbastian , apa mama tau , cinta di hatiku cuma untuknya "
Sbastian menatap pintu kamar dengan tatapan kosong
" Nak "
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan terlihat pak Sam di sana
" Iya ayah "
Sbastian berdiri dan menghampiri pak Sam
" Saatnya makan siang "
Pak Sam membawa Sbastian keluar dari kamar
" Ayah tau , gadis yang Tian suka akan di jodohkan dengan Tian "
Sbastian memeluk pak Sam dari belakang namun mereka tetap berjalan hingga ke dapur
" Ayah tau , apa kamu siap menikah dengannya "
Pak Sam mendudukkan Sbastian di kursi meja makan
" Nggak , Tian takut "
Sbastian meletakkan kepalanya di atas piring
" Kamu tau "
Pak Sam duduk di sebelah Sbastian
" Apa "
Sbastian menoleh
" Kisahmu sama dengan kisah ayah dulu "
Pak Sam membiarkan pelayan mengambilkan makanan untuknya dan Sbastian
" Memang kisahnya apa "
Sbastian bertanya dengan penasaran
" Ibu dulu saat menikah dengan ayah , dia juga memiliki riwayat penyakit akut "
Pak Sam mengambil buah dan mengupasnya
" Penyakit apa "
Sbastian duduk dengan benar
" Kangker sel darah putih "
Pak Sam menoleh Sbastian sebentar
" Sama dong sepertinya "
Sbastian mulai mendengarkan dengan seksama
" Yah... Sama persis "
Pak Sam mengangguk
" Lalu lalu "
Sbastian duduk bersila di atas kursi
" Istriku sayang meninggal , tapi dia meninggalkan seorang malaikat kecil untukku "
Pak Sam berhenti mengupas
" Lalu "
Sbastian memiringkan kepalanya
" Lalu "
Pak Sam menatap kosong ke depan
" Lalu apa ayah "
Sbastian mengguncang pak Sam sedikit
" Lalu malaikat kecilku , dia meninggalkanku . Bukan , aku yang meninggalkannya , dan ayah tidak tau sekarang dia sudah sudah sebesar apa "
Pak Sam menerawang jauh ke depan
" Kenapa ayah meninggalkannya "
Sbastian bertanya dengan tidak suka
" Karena satu hal yang tidak bisa ayah katakan , tapi ayah yakin dia sekarang menjadi laki-laki yang sangat hebat "
Pak Sam mengelus kepala Sbastian
" Sepertimu "
Pak Sam tersenyum dan meletakkan buah yang sudah selesai di kupasnya
" alasan apa ayah "
Sbastian bertanya dengan penasaran
" Sesuatu yang belum tentu bisa kamu mengerti , lagi pula ayah tidak ingin mengingatnya lagi "
Pak Sam berdiri dan berjalan menjauh
" Mau kemana yah "
Sbastian sedikit berteriak
" Mau ke kamar mandi "
Pak Sam tidak menoleh dan berjalan lurus
" Hm...."
Sbastian mengeluarkan ponselnya sambil menunggu pak Sam
" Sebaiknya kamu menikahinya "
Suara pak Sam mengejutkan Sbastian
" Tapi Sbastian takut kalau dia meninggalkan Sbastian "
Sbastian menatap ayahnya seakan meminta pendapat
" Lebih baik kamu memeluknya di saat-saat terakhir , dari pada kamu hanya melihatnya dari kejauhan saat dia berada di ambang kematian di dalam pelukan orang lain , itu akan lebih berkesan , dan jika itu terjadi , maka kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu bahwa kamu menikahinya "
Pak Sam mulai berdoa dan makan makanannya
" Kenapa Tian harus mencintai orang sepertinya "
Sbastian masih menatap pak Sam
" Karena dia sesuatu yang bisa melengkapi hidupmu "
Pak Sam menoleh sebentar
" Kenapa Tian harus memberikan hati Tian untuk gadis jelek sepertinya "
Sbastian masih menatap pak Sam
" Karena dia yang mampu memberi bintang di hatimu yang segelap malam "
Pak Sam melanjutkan makannya
" Kenapa Tian harus jatuh cinta dengan gadis polos dan tidak tau apa-apa sepertinya "
Sbastian masih menatap pak Sam
" Karena dia yang mampu menghilangkan sahabat sejatimu "
Pak Sam menjawab dengan mulut penuh
" Si hujan "
Sbastian menaikkan alisnya
__ADS_1
" Hehem "
Pak Sam memberikan jempol
" Kenapa Tian harus menikah dengannya "
Pertanyaan Tian membuat pak Sam berhenti sejenak
" Karena mungkin dia jodohmu "
Pak Sam melanjutkan makannya
" Jika bukan bagaimana "
Sbastian bertanya lagi
" Jika bukan , bersyukurlah bahwa kamu bisa menikah dengan orang yang kamu sayang "
Pak Sam menjawab
" Okey "
Sbastian memulai makannya
" Besok Tian ke London "
Sbastian memberitahu
" Mengunjungi adik "
Pak Sam menebak
" Benar sekali "
Sbastian membenarkan
" Kalau begitu Jangan lupa tidur lebih awal "
Pak Sam mengingatkan
" Tentu "
Sbastian mengangguk dan menyelesaikan makannya
Esok hari
" Tian berangkat ya "
Sbastian memeluk pak Sam di Bandara
" Iya , berhati hatilah "
Pak Sam membalas pelukan Sbastian
" Sampai jumpa ayah "
Sbastian melambaikan tangannya
" Iya "
Pak Sam melihat Sbastian pergi dan kembali ke rumah
Sesampainya di London pada pukul dua siang waktu london
" Sebaiknya mengunjungi kantor dulu "
Sbastian masuk ke dalam mobil dan langsung menuju kantornya yang perlu di kunjungi
Setelah waktu menunjukkan pukul sembilan malam waktu london , Sbastian memutuskan untuk mengunjungi adik kecilnya
" Aku akan ke apartemen mungkin esok pagi "
Sbastian berbicara dengan asistennya yang ada di London
" Baik tuan "
Asisten itu mengiyakan dan membungkuk hormat saat Sbastian pergi
Setelah menempuh waktu sekitar satu jam , Sbastian sampai di rumah , dimana keluarganya tinggal di sana
" Selamat malam tuan , ada yang bisa saya bantu "
" Saya Sbastian "
Sbastian menunjukkan KTP nya
" Maaf tuan muda , saya tidak mengenali tuan muda "
Pak satpam membukakan pintu dan membiarkan Sbastian masuk
" Apa mereka sudah tidur ya "
Sbastian melajukan mobilnya masuk jauh ke dalam kediaman
" Kenapa banyak kendaraan "
Sbastian heran melihat mobil asing yang terparkir di garasi utama
" Ini bukan mobil mama "
Sbastian keluar dan melihat mobil pribadi yang persis seperti milik mamanya
" Jantungku berdebar , ini bukan firasat baik"
Sbastian membuka jok mobil dan mengambil banyak mainan yang ia belikan untuk adik kecilnya
" Sungguh ramai , aku tau ini bukan sesuatu yang baik "
Sbastian menggumam saat berdiri di ambang pintu dan melihat banyak tamu di sana
" Mama , Sbastian datang "
Sbastian meletakkan barang bawaannya dan menghampiri mamanya
" Kenapa terlambat , kamu bilang jam tujuh sudah selesai "
Mama Sbastian berdiri dan menyambut Sbastian
" Maaf ma , dimana adik "
Sbastian celingukan
" Ada di taman belakang "
Mama menjawab
" Eits duduk dulu "
Mama menarik Sbastian saat Sbastian mulai melangkah
" kenapa ma "
Sbastian yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti tarikan tangan mamanya
" Ini gadis yang mama ceritakan "
Mama menunjuk gadis berhijab yang terlihat pucat meski wajahnya sedikit di poles dengan bedak tipis
" Kakak "
Gadis itu terkejut saat melihat Sbastian
" Aku... Baiklah , aku menerimanya "
Sbastian menjawab saat melihat gadis itu terlihat semakin pucat dari hari hari sebelumnya
" Ba..bagaimana dengan.. "
Belum sempat gadis itu berbicara , Sbastian sudah memotong Kalimatnya
" Besok , aku ingin menikah besok , jika tidak besok aku tidak akan memiliki waktu luang hingga tahun depan , aku sibuk "
Sbastian menatap wanita itu lalu mengambil barang bawaannya dan cepat-cepat menemui adik kecilnya yang ada di taman bermain di belakang rumah
" Sialan "
Sbastian melangkahkan kakinya dengan cepat saat matanya sudah tidak mampu membendung air matanya yang hampir jatuh
" Kakak "
__ADS_1
Liona yang berumur lima tahun tersenyum saat melihat kakaknya datang membawa banyak barang
Sbastian menjatuhkan semua barang bawaannya dan berlari memeluk liona yang memakai baju hangat
" Tolong kakak "
Sbastian memeluk liona erat dan menumpahkan air matanya di dalam pelukan adik kecilnya
" Kakak baik , kakak baik "
Liona mengerti dan menepuk-nepuk kecil kepala Sbastian
" Kakak "
Lion berlari saat melihat adik kecilnya di peluk erat oleh kakaknya
" Kakak baik kakak baik , jangan di pukul , kakakku baik "
Liona berbicara saat melihat lion hendak memegang punggung Sbastian
" Iya "
Lion memeluk Sbastian
" Apa kakak benar lili "
Sbastian berbisik
" Aku percaya kakak , lili sayang kakak "
Liona memeluk Sbastian dan meletakkan pipinya yang hangat di pundak Sbastian
" Kakak takut "
Sbastian membawa liona dan lion ke dalam pelukan hangatnya
" Kakak baik "
Liona dan lion sama-sama meletakkan kepalanya di atas pundak Sbastian
" Sepertinya sudah saatnya tidur "
Sbastian menggendong lion dan liona masuk ke dalam rumah
" Tidak apa , Sbastian jika kamu takut , maka besok pakailah rok mama "
Sbastian berjalan dan tidak menghiraukan para tamu yang masih sibuk berbincang
" Aku membencinya "
Sbastian mulai menitikkan air matanya lagi saat sudah menaiki anak tangga
" Ingat Sbastian , kau membencinya "
Sbastian berjalan sambil berlinang kan air mata hingga masuk ke dalam kamarnya yang sudah di siapkan untuknya
" Dia bodoh , dia bodoh dan aku tidak suka gadis bodoh "
Sbastian terus menggumam hingga selesai menidurkan adik adiknya
" Aku yang bodoh hiks..hiks "
Sbastian terduduk di lantai dan mulai terisak pelan
" Aku memang bodoh ayah "
Sbastian mengeluarkan hp nya dan menelfon pak Sam
" Assalamualaikum ayah "
Sbastian berbicara saat ayahnya sudah mengangkat telepon
" Wa'alaikum salam nak , kamu menangis "
Pak Sam bertanya dengan panik
" Aku akan menikah besok yah , dengannya , hiks aku takut , aku takut yah , Tian takut yah , aku takut hiks.. aku takut "
Sbastian meremas rambutnya frustasi
" Anakku "
Pak Sam memanggil manggil Sbastian
" Jangan takut nak , hadapi semuanya , pulanglah , ayah akan menyiapkan kamar dan pakaian untuknya "
Pak Sam menasehati
" Iya yah , iya , tunggu Tian pulang "
Sbastian mengangguk dan menutup telfon
Esok harinya
" Aku siap "
Sbastian menatap dirinya di cermin yang sudah memakai setelan tuxedo berwarna hitam
" Nak , apa kamu sudah selesai "
Mama masuk kedalam ruangan
" Kakak ganteng ya ma "
Liona ikut mamanya masuk ke dalam kamar kakaknya
" Adik kecilku udah cantik "
Sbastian menggendong liona yang memakai gaun indah
" Hmph "
Lion melipat tangannya di atas dada dan menendang nendang pintu sambil menunjukkan wajah marahnya
" Iya iya hahahaha adik kakak tampan "
Sbastian juga menggendong lion yang memakai setelan tuxedo yang se paket dengan liona
" Anak mama tampan sekali "
Mama membenarkan dasi kupu-kupu Sbastian yang rusak akibat tangan usil lion
" Apa dia sudah siap "
Sbastian bertanya
" Dia sudah menunggumu "
Mama menjawab
" Baiklah "
Sbastian memberikan kotak cincin yang terlihat sederhana kepada liona secara diam-diam
" Berikan nanti saat kakak sudah amin-amin ya "
Sbastian berbisik
" Ote "
Liona memberikan jempolnya lalu memasukkan kotak cincinnya ke dalam saku bajunya
Sbastian turun di iringi oleh mamanya dan kedua saudaranya yang di gendong oleh pengasuh mereka masing-masing
Disana terlihat papa Sbastian dan keluarga adinda yang sudah berkumpul
" Apa anda sudah siap "
Pak penghulu bertanya kepada Sbastian saat Sbastian sudah duduk di samping Adinda yang terlihat menawan
" Sudah "
Sbastian melirik Adinda yang tertunduk
" Baiklah , kita mulai ya "
Pak penghulu menjabat tangan Sbastian dan memulai acara ijab qobul nya
Setalah beberapa kali di ulang ulang , akhirnya Sbastian dengan lancar mengucapkan ijab qobul
__ADS_1
Setalah berdoa dan Sbastian meniup ubun ubun adinda , dan Sbastian memberikan kode kepada liona