
Kalimat yang di ucapkan serba isi hati sean
Sean menelusuri lorong bagian kiri yang lebih panjang daripada lorong kanan
" Mana ya tangga yang di katakan kakak kakak tadi "
Sean menoleh ke kanan dan ke kiri
" Kakak kakak tadi bilang ada di ujung sini "
Sean berjalan menelusuri lorong sambil memakan sebatang coklat
Sambil menelusuri lorong , Sean melihat setiap ruangan yang ada di lorong tersebut
Lalu secara tidak sengaja Sean melihat ujung lorong
" Ada gambar papa gede banget..... "
Sean melihat poster Papanya di ujung lorong
" Ngak ada orang kan "
Sean celingukan untuk melihat apakah ada banyak orang di sekitarnya dan ternyata sepi
Sean berlari menghampiri poster papanya yang di letakkan di ujung lorong
" Woah..... Besarnya "
Sean berdiri di samping poster papanya yang terlihat sangat besar
" Sean kan punya gambar lop , tempelin ah"
Sean menempelkan banyak stiker berbentuk hati di tempat yang mampu ia capai
" Sean ngak sampek , gambar papa ketinggian "
Sean ingin meletakkan stikernya lebih tinggi namun tidak sampai
" Sean kan punya pensil merah "
Sean mengeluarkan spidol permanen berwarna merah cerah dari dalam ranselnya dan memasukkan kembali stiker miliknya
" Sean mau tulis apa ya"
Sean memikirkan ingin menulis apa di poster papanya
" Aha papa Sean aja "
Sean duduk di ujung poster dan menuliskan kalimat papa Sean
" Selesai , cantik "
Sean mundur beberapa langkah dan melihat apakah poster papanya sudah cantik atau tidak
" Kurang besar tulisannya "
Sean menggerutu saat melihat tulisannya
Tidak akan bisa di lihat oleh orang lain
" Sean tulis lebih besar deh "
Sean berjongkok dan menulis kalimat yang lebih besar di atas tulisan kecilnya
" Udah besar apa belum ya "
Sean mundur lagi beberapa langkah
" Kok kurang besar sih "
Sean kembali berlari ke poster ayahnya
" Nulis lagi deh lebih tinggi"
Sean menjinjitkan kakinya agar badannya lebih tinggi dan menuliskan huruf dengan besar satu persatu
Setelah memakan waktu dua menit , Sean selesai menuliskan kalimat papa
" Yey selesai , papa selesai "
Sean meloncat gembira saat selesai menuliskan kalimat papa
Sean berjalan beberapa langkah kebelakang dan melihat puas tulisannya
" Udah besar , sekarang tinggal tulis Sean nya "
Sean kembali mendekati poster papanya dan menulis namanya dengan sangat besar di bawah tulisan papa
" Selesai , hahaha "
Sean tertawa bahagia saat melihat karya miliknya yang indah
" Ada seseorang "
Sean mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat , segeralah Sean bersembunyi di balik poster papanya
Ternyata staf OB yang berjalan mendekat membuka pintu yang ada di dekat Sean dan terlihatlah banyak tangga
" Apakah itu tangga besar "
Sean melihat dengan mata berbinar
" Yey Sean bisa ketemu papa "
Sean masuk ke dalam tangga darurat sebelum pintu itu tertutup
Sean bersembunyi sambil menunggu staf OB itu tidak terlihat
Sean melewati satu persatu tangga dengan pelan pelan agar tidak terjatuh
Setelah lima menit
" Huh lelahnya "
Sean mengeluarkan sapu tangan miliknya dan mengusap peluh di dahinya
" Satu , dua , tiga , empat , lima , enam , tujuh , yey udah lewat tujuh tangga "
Sean gembira melihat tujuh tangga yang di lewatinya dalam waktu lima menit
" Sean akan ketemu papa "
Sean semakin bersemangat mengingat papanya yang akan di temuinya nanti
__ADS_1
Setelah setengah jam berlalu , Sean sampai di lantai ke dua perusahaan
"Wah..... Ini pintunya "
Sean membuka pintu Dengan bantuan alat buatannya sendiri yang terbuat dari tongkat dan karet
" Wah...... Luas sekali , lebih luas dari yang tadi "
Sean melihat lebih banyak orang yang memakai pakaian kantor yang menurutnya sangat keren
Tanpa sadar Sean berjalan dan mengagumi isi kantor papanya hingga dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang
Isi hati Sean end
" Siapa anak kecil itu "
Bisik para karyawan yang melihat anak kecil berjalan di kantor sendirian
" Pakaian miliknya bukan pakaian biasa "
Bisik staf kantor lainnya
" Apapa ean mana ya "
Sean celingukan mencari keberadaan papanya
" Astaga tuan muda "
Asisten Nia terkejut melihat tuan mudanya yang tadi ada di lantai paling atas kini berada di lantai bawah
" Kak Nia "
Sean berbisik pada dirinya sendiri dan menghampiri asisten Nia
" Bagaimana tuan muda ada di sini "
Asisten Nia berjalan cepat menghampiri Sean dan berjongkok menyamakan tingginya dengan tuan mudanya
" Apapa "
Sean hanya mengatakan papa yang membuat asisten Nia bingung
" Tuan muda "
Semua orang menoleh kepada seorang laki laki yang memanggil anak itu dengan sebutan tuan muda
" Asisten Nia , bagaimana tuan muda ada di sini , bukankah tuan muda tadi ada di ruangan tuan "
Asisten John menghampiri Sean dan asisten Nia dengan cepat
" Maaf asisten John saya lalai , tadi ada nyonya besar di sini "
Asisten Nia membungkuk
" Maaf atas kelalaian ini tuan muda "
Asisten John membungkuk kepada Sean
Sean hanya memandang datar asisten John dan menghampiri asisten John yang masih membungkuk
" Apapa "
Sean mengatakan itu dengan pelan
" Saya mengerti tuan muda , jika tuan muda berkenan mari saya gendong "
" Jalan "
Sean mengatakan itu dan melewati asisten John menuju lift yang ada di sana
" Baik tuan muda "
Asisten John dan asisten Nia mengikuti Sean menuju lift yang ada di situ
" Apapa "
Sean kembali mengatakan itu di depan lift
" Baik tuan muda "
Asisten John menekan tombol lift dan mereka menunggu pintu lift terbuka
Saat pintu lift terbuka , didalam pintu lift terdapat beberapa orang dan merek yang melihat asisten John dan asisten Nia segera keluar dari lift dan membungkuk
" Mari tuan muda "
Asisten John meminta Sean untuk masuk terlebih dahulu kedalam lift
Saat sudah di dalam lift , asisten John menekan tombol untuk menuju lantai lima belas
" Lima belas "
Sean menoleh kepada asisten John
" Tuan sedang rapat di lantai lima belas , tuan muda "
Asisten John memberitahu
" Jika aku naik tangga ke lantai lima belas , aku jamin baru dua hari aku sampai "
Sean menggerutu dalam hati
" Ada apa tuan muda "
Asisten John bertanya
" Adi tu apaman , aku naik ni ke meja ketas besal , ean cari apapa api ean gak Nemu nemu , elus ean naik Angga esal , api ean jalan lamaaaa balu bisa sampe luangan tadi"
( Tadi tu paman , aku naik ini ke meja kertas besar , Sean cari papa di sana tapi ngak ketemu ketemu , terus Sean naik tangga besar , tapi Sean jalannya lamaaaaa baru bisa sampai ruangan tadi )
Sean bercerita banyak tentang perjalanannya selama di lift
" Jadi tadi tuan muda naik tangga darurat "
Tanya asisten John
" Iya , appek paman "
( Iya , capek paman )
Sean menjawab
" Adi ean udah Kelen ngak , uda kaya apapa belum"
__ADS_1
( Tadi Sean udah keren ngak , udah kayak papa belum )
Sean bertanya
" Tadi tuan muda ku ini sudah sangaaat hebat , persis sama tuan sbastian "
Asisten John menggendong Sean
" Benel paman "
( Beneran paman )
Sean balik bertanya
" Iya tuan muda "
Asisten John kembali menjawab
Dan terjadilah percakapan yang menyenangkan antara asisten John dan Sean
" Astaga , asisten John yang terkenal kaku pun bisa luluh sama tuan muda , hebat anda tuan muda "
Asisten Nia mengagumi Sean dalam diam
* Ting *
Pintu lift terbuka dan menunjukkan lantai lima belas yang terlihat sangat berbeda
Lalu Sean di bawa asisten John menuju ruang rapat di mana tempat sbastian berada
Di ruang rapat , atmosfer sangatlah tipis , hingga seperti tidak ada kehidupan
Semuanya diam dan tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun
Ruangan yang terang karena cahaya matahari seakan telah di tutupi amarah sbastian
" Apa kalian tidak bisa mengurus ini sendiri"
Sbastian menggebrak meja dan membuat semua orang terkejut
" Aku dan John hanya beberapa hari tidak datang ke kantor dan kalian tidak bisa mengerjakan ini sendiri , karyawan macam apa kalian "
Sbastian memijit pelipisnya
" Ada yang mau mengeluarkan pendapat "
Sbastian bertanya kembali dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan
Dirinya tidak peduli ada banyak perwakilan dari perusahaan lain ada di dalam satu ruangan yang ingin menjalin kontrak dengan perusahaan miliknya
Yang dirinya pedulikan hanyalah para karyawan miliknya
Di saat tidak ada yang bernafas di dalam ruangan itu , terdengar suara pintu yang terbuka
Semua orang menoleh ke arah pintu itu dan tidak ada orang di sana
Sbastian berjalan mendekati pintu dan memandang ke bagian bawah pintu
" Salamuakaikum "
( Assalamualaikum )
Sean membuka pintu dan mengucapkan salam
Seketika wajah sbastian yang ber aura gelap kembali berbinar
" Wa'alaikum salam anak papa "
Sbastian menjawab salam yang di ucapkan sean dan menghampiri Sean yang masih ada di ambang pintu
Semua orang ternganga saat melihat ekspresi sbastian yang berubah 180°
" Dol " Sean membuat pistol dari tangannya dan menembak papanya yang sedang berjalan menghampirinya
" Akh.... Aku kena tembak "
Sbastian memperagakan seolah perutnya terkena pistol
" Hahaha , naga nya kena tembak yeeeey , aku menang , hahaha "
Sean berputar putar di tempatnya berdiri dan Sbastian menghampiri dan menggendong Sean
" Heh ksatria kecil , kenapa sampai di sini"
Sbastian bertanya
" Kangen papa "
Sean memeluk papanya
" Hahaha , baiklah papa ajari meeting ya "
Sbastian membawa Sean untuk duduk di kursinya
Namun Sean melihat seorang karyawan
yang cukup menarik perhatiannya lalu
" Dol "
Sean mengarahkan pistol tangannya ke arah karyawan itu
Karyawan itu yang tidak mengerti apa-apa , mendapat pelototan dari sbastian
" Coba tembak yang lainnya "
Sbastian berbisik kepada Sean
" Dol dol dol dol doooool "
Sean menembaki semua orang di ruangan itu termasuk asisten John
" Akh.... "
Asisten John berakting layaknya orang yang tertembak dan itu menimbulkan tawa riang Sean kecil
"Akh...."
Semua orang di ruangan itu menirukan asisten John dan terciptalah suasana yang renyah
Yang sebelumnya ruangan itu di penuhi aura hitam milik sbastian , kini di penuhi gelak tawa dan keceriaan karena sean
__ADS_1
ini visualnya sitter azza ya
awalnya aq pengen buat sitter azza itu orangnya ceria , tapi karena sean nya agak nakal jadi ya sitter azza nya kalem lah setidaknya