Aku Pangeran

Aku Pangeran
#68 ( tragedi )


__ADS_3

Sbastian berlari menyusuri lorong-lorong kelas , dia sudah hafal seluk-beluk di sekolahan lion , karena Sbastian sendiri yang membuat desain dan mengawasi pembangunan , ini sekolahan impian adinda


*Brak


Saat sudah sampai di UKS , Sbastian menendang pintu UKS , di sana terlihat lion yang sedang beristirahat menjadi terbangun


" Kakak "


Lion terduduk


" Kamu kenapa "


Sbastian menghampiri lion dan langsung memeluknya


" Aku ngak apa-apa kok , kakak jangan khawatir "


Lion menenangkan Sbastian


" Kak lion "


Suara Sean menggema di ruangan UKS


" Kak lion mimisan "


Sean menunjuk hidung Leon yang mulai mengalir lagi darah mimisan


" Sini , biar kakak bersihkan "


Sbastian mengambil tissue dan membersihkan mimisan lion


" Apa kepalamu pusing "


Sbastian menyentuh kening lion yang terasa agak hangat


" Kakak yang seharusnya pusing , bibir kakak sangat pucat "


Lion menyingkirkan tangan Sbastian


" Ayo pulang , kakak harus istirahat "


Lion beranjak dari tempat duduknya


" Apa tidak ada petugas medis "


Sbastian celingukan mencari setidaknya seorang perawat di sana


" Mereka sudah pulang kak , sudah dari tadi , ini sudah hampir magrib "


Leon mengambil tasnya yang ada di atas meja


" Kak Sbastian harus istirahat , ayo pulang sekarang "


Lion memegang lengan Sbastian


" Baiklah "


Sbastian berdiri dan merangkul lion sambil terus menyeka mimisan lion


" Ini bisa menghentikan mimisannya "


Sean memberikan sebuah obat


" Baiklah "


Lion tanpa ragu langsung meminum obat yang di berikan Sean


" Beneran lho , mimisan kakak berhenti "


Lion tersenyum


" Anak papa , makasih ya "


Sbastian ikut tersenyum


" Apapun untuk keluarga Sean "


Sean dengan bangga memukul dadanya


" Ayo paman ayo , kita balapan sampai mobil "


Sean berlari terlebih dahulu meninggalkan asisten John


" Tuan muda curang"


Asisten John mengikuti langkah kaki Sean yang mungil namun sangat cepat


" Hati hati Sean "


Sbastian berteriak


" I love you papa sayang "


Sean sambil berlari menunjukkan simbol hati dari jari jari kecilnya yang lucu


" Sean sangat sayang ya sama kakak "


Lion tersenyum


" Yaaaaah begitulah , dia kehidupanku "


Sbastian terkekeh


" Kalau aku apa "


Lion menunjuk wajahnya


" Kalau kamu kesayanganku "


Sbastian mengusap bekas mimisan Leon dengan tissue basah


" Jangan pernah tinggalkan kakak ya "


Sbastian memberikan jari kelingkingnya


" Janji janji "


Lion terkekeh dan menautkan jari kelingkingnya


" Ayo paaaaa mobilnya udah siap nih "


Sean berteriak teriak di dekat mobil


" Iya iya sayang "


Sbastian menyahuti


Setelah Sbastian dan lion duduk di bangku belakang , Sean meminta asisten John untuk melajukan mobilnya menuju rumah


" Papa papa , sabuk pengamannya di pakek dong "


Sean menoleh ke belakang


" Kak lion juga , pakek pakek "


Sean menunjuk sabuk pengaman mobil


" Baik baik "


Sbastian memakai sabuk pengaman miliknya


" Wah... Lucunya , Sean yang hias ya "


Sbastian mengerti , Sean ingin menunjukkan sabuk pengaman yang awalnya hanya berwarna hitam kini berwarna warni dengan ikan yang menghiasi di mana mana


" Iya dong... Humph.. "


Sean menepuk dadanya lucu


Lamaaaaaa... Hening


" Wah.... Papa papa , lihat itu rumah sakit yang namanya kayak Sean "


Sean menunjuk rumah sakit yang di dirikan oleh keluarga Ken Sora


" Iya , itu rumah sakit keluarga "


Sbastian menjawab


Lamaaaaaa.... Hening


" Sean pakai sabuk pengamannya juga dong"


Lion perotes


" Iya iya "


Sean mengenakan sabuk pengamannya sendiri


Lamaaaaaa...... Hening


" Paman paman , ini sampai mana "


Sean menoel noel lengan asisten John


" Ini hampir sampai rumah , hanya macet di depan saja yang membuatnya lama "


Asisten John menjawab


Lamaaaaaa.... Hening


* Toooon


Tiba-tiba Terdengar klakson mobil besar dari belakang


" Hati hati tuan "


Asisten John berteriak dan membanting setir ke arah kanan


" PAPAAAAAA "


Suara teriakan Sean menggema


" Sean "


Sbastian mencoba meraih Sean di bangku depan namun tiba-tiba semuanya gelap


" Sbastian... Sbastian "


Suara pak Sam memasuki pendengaran Sbastian


" Sean "


Sbastian terduduk , keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya


" Ayah "


Sbastian menatap pak Sam yang berdiri di sampingnya


" Infus "


Sbastian menyadari ada infus di punggung tangannya


" Dimana Sean "


Sbastian memegang lengan pak Sam


" Ayah... Dimana Sean "


Sbastian mengulangi perkataannya karena pak Sam tidak menjawab


" Di ruang operasi "


Pak Sam menjawab lirih


" Apa yang terjadi dengannya "


Sbastian menggumam dan melepaskan infus di punggung tangannya


" Sbastian tunggu "


Pak Sam mengejar Sbastian yang sudah menghilang dari pandangannya


" Bi Aini "


Sbastian menemukan bi Aini seorang diri di depan ruang operasi


" Tuan "


Bi Aini menangkap Sbastian yang hendak terjungkal


" Kenapa dengan anakku bi "


Sean menatap bi Aini meminta penjelasan


" Masih di dalam , sejak tadi belum ada yang keluar "


Bi Aini mendudukkan Sbastian


" Apa yang terjadi... Di..dimana Leon "


Sbastian menetap bi Aini


" Tuan muda di dalam ruang perawatan , lukanya tidak parah "


Bi Aini menyadarkan Sbastian bahwa dirinya memiliki banyak perban di bagian tubuhnya


" Sbastian "


Pak Sam dengan terengah-engah duduk di samping Sbastian


" Ayah , apa yang terjadi "


Sbastian mencengkram lengan pak Sam


" Ayah... Ceritakan "


Sbastian mengguncang pak Sam


" AYAAAAH katakan ayah "


Sbastian berteriak


" Ayah... dia anakku "


Sbastian mulai mengecilkan suaranya


"Ini kecelakaan , kecelakaan yang membuat mobil kalian terbalik , asisten John hanya mengalami luka ringan karena bantalan darurat , begitu juga Leon dan kamu , tapi..tapi... "


Pak Sam berhenti


" Kenapa ayah , Sean kenapa "


Sbastian mengguncang pak Sam


" Bantalan penyelamat milik Sean tidak berfungsi , membuat Sean harus di larikan ke ruang operasi... Dan..... Ini sudah operasi keduanya "


Pak Sam menjelaskan


*Deg


Hati Sbastian berdetak kencang

__ADS_1


" O... operasi kedua , kenapa "


Sbastian melepaskan cengkraman tangannya


" Berapa lama Sbastian tidak sadarkan diri "


Sbastian bertanya dengan lirih


" Sbastian "


Terdengar suara Mama dan papa


" Katakan ayah , katakan "


Sbastian tidak menghiraukan keluarganya yang menghawatirkannya


" Tiga hari "


Pak Sam menjawab


" Sean anakku "


Sbastian terjatuh dan papa segera menangkap Sbastian yang terjatuh ke lantai , pandangannya kosong , anakku , kalimat yang di ucapkan Sbastian lagi


" Keluarga tuan muda Sean "


Seorang dokter keluar dari ruangan operasi


" Aku.. aku papanya "


Sbastian menoleh dan mendudukkan dirinya yang sudah lemas tak berdaya di dalam pelukan papanya


" Operasinya berhasil , namun saat ini... Tuan muda Sean sedang dalam keadaan koma "


Dokter menjelaskan dengan menatap manik mata Sbastian


" Anakku Koma "


Sbastian mengulangi kalimat yang dokter ucapkan dengan lirih


" Sbastian "


Papa mengguncang Sbastian


" Anakku Koma pa "


Sbastian menatap papanya


" Kenapa harus anakku pa "


Sbastian mencengkram erat lengan papanya


" Apa salah mahluk kecil ku pa "


Air mata Sbastian mengalir , dan semakin deras


" Apa dosa yang harus di tanggung peri kecilku pa , kenapa dia , kenapa bukan aku"


Sbastian memeluk erat papanya


" Kakak "


Liona memegang pundak Sbastian


" Bukan salahmu nak "


Papa mencoba menenangkan Sbastian


" Apa nyawaku bisa menggantikan dia pa , jangan dia pa , aku rela memberikan apapun , asal jangan dia "


Sbastian mulai meracau di dalam pelukan papanya


"Sssssttt.... jangan bicara yang aneh-aneh kasian mama dan liona "


Papa memeluk Sbastian dan berbisik


Ntah.. namun Maman terlihat tidak memiliki hati sedikitpun melihat Sbastian yang hancur mendengar kabar putra semata wayangnya


" Sean "


Sbastian terduduk


" Kenapa nak "


Papa memegang pundak Sbastian


" Parfum susu punya Sean , ini baunya "


Sbastian mencium parfum susu uang pernah di minta oleh Sean , parfum susu beraroma vanila yang di campur dengan sedikit parfum mawar racikan Sbastian


" Tuan "


Suara Mao terdengar dari belakang


" Kamu di sini "


Sbastian menatap Mao


" Saya yang bertanggung jawab atas operasi tuan muda "


Mao tersenyum


" Apa putraku benar-benar tidur "


Sbastian menatap Mao mencoba mencari jawaban yang berbeda


" Ini "


Mao mengajukan dua buah surat


" Apa ini "


Sbastian menatap Mao heran


" Parfumnya , dari surat ini "


Sbastian mengambil surat yang di bawa Mao dan menghirupnya dalam-dalam


______________________


S : teruntuk Mao


Mao.... Hari ini Sean merasakan sesuatu yang buruk , Sean menulis pada pagi hari pukul 05.00 setelah sholat subuh , ntah kenapa , tapi Sean merasa akan meninggalkan papa sebentar , bisakah Mao mewakili Sean menjaga papa sebentar sampai Sean kembali , papa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik , Mao jaga papa ya sampai Sean kembali nanti , Sean mengandalkan Mao , jaga papa baik-baik ya Mao , jangan tinggalkan papa ya


* Terimakasih harimauku sayang ^_^ *


___________________________


*Tes


Air mata membasahi surat yang di tulis Sean , tulisan tangan Sean yang mirip dengan tulisan tangan adinda dulu , ntah.. namun itu yang di rasakan Sbastian


" Kenapa semuanya aku samakan dengan adinda "


Sbastian terkekeh kecil


" Apa Sean yang menulisnya "


Sbastian mencium bau susu di surat yang dia pegang


" Saya menemukannya tertata rapih di atas boneka bintang laut milik tuan muda dengan surat yang satunya "


Mao menjawab


" Kapan kamu mengambilnya "


Sbastian menatap surat satunya yang bersampul merah


" Saya di kirimi pesan oleh tuan muda "


Tuan muda


Mao... MAOOOO ✓✓


Maoooooooo ✓✓


Mao Mao Mao ✓✓


Anda


Iya tuan muda ✓✓


Tuan muda


Ambil suratku di kamarku , simpan suratnya , aku akan pulang telat , sekarang sedang perjalanan menjemput kak lion , aku mau kamu menyimpannya dan berikan pada papaku nanti ✓✓


Anda


Eh... Kenapa tidak sekarang. ✓✓


Tuan muda


Nanti ya nanti , humph.. Mao nakal ✓✓


Anda


Iya iya tuan muda , saya mengerti ✓✓


End


" Kapan Sean mengirimnya "


Sbastian mengembalikan hp Mao


" Tiga hari yang lalu , saya menunggu anda siuman , silahkan baca yang ini , ini di tujukan untuk anda "


Mao menunjuk kop surat yang memiliki tulisan sangat besar : TERUNTUK PAPA SAYANG


" Baunya khas putraku sayang "


Sbastian mencium dalam dalam surat yang di tujukan untuknya


___________________


LOVE YOU PAPA SAYANG


S : untuk papaku sayang yang paling jelek sedunia


Kurang besar ngak papa tulisan love you nya , nanti deh Sean besarkan tulisannya , papa habis nangis ya , suratnya basah nih , bagaimana kabar papa , papa baik kan , ada yang luka ngak , Huuuuuft.... Sean udah tiup lukanya , cepetan sembuh ya papa , papa makan yang banyak ya , obat papa ada di dalam tas Sean , tapi tas Sean di mana ya... Tas Sean hilang pa , apa papa jelek tau , papa tau sih , kalau Sean itu suayang buanget sama papa jelek , papa jelek harus makan ya , papa jelek ngak boleh nangis , papa jelek ngak boleh manja sama kakek , itu kakeknya Sean , jangan di buat sendiri , nanti Sean marah , hehehe , udah ya papa , Sean leper , mau tidur


I LOVE PAPA JELEK


______________________


" Hiks... Iya sayang , papa juga sayaaaang sama kamu "


Sbastian memeluk kertas yang Sean tulis degan erat


" Ini yang tuan muda gunakan untuk menahan surat agar tetap di atas boneka "


Mao memberikan dua boneka beruang pink dengan tulisan bunda dan papa di masing-masing hati yang di pegang boneka beruang yang ukurannya hanya se besar jempol manusia dewasa


" Mao "


Sbastian tersenyum


" Iya tuan "


Mao menyahuti


" Bisakah Sean di rawat di rumah "


Sbastian menatap Mao


" Bisa tuan , akan saya atur "


Mao mengangguk


" Tetaplah berada di sisi Sean selama aku bekerja atau yang lainnya , apa kamu bisa "


Sbastian menatap Mao


" Tentu tuan , saya akan selalu bersama tuan muda , dan saya ingin meminta izin untuk meletakkan seseorang di sisi tuan sampai tuan muda sendiri yang menarik pemuda yang saya letakkan untuk tuan , dan tuan muda memberikan gelang ini "


Mao memakaikan sebuah gelang kepada Sbastian


" Terserah kau saja , yang penting jaga Seanku , aku akan mendatangkan alat-alat perawatan untuk Sean ke dalam rumah nanti "


Sbastian mencoba berdiri di bantu papa dan pak Sam


" Sean bilang dia akan tidur agak lama , dimana Sean sekarang "


Sbastian menoleh ke arah Mao


" Sudah saya letakkan di ruang rawat "


Mao menjawab


" Ayo kesana , yang tidak ingin kesana mohon untuk menjaga lion saja "


Sbastian melepaskan genggaman papa dan pak Sam


" Tuan "


Asisten John datang dengan beberapa perban di kepalanya namun asisten John menggunakan pakaian kantor formal


" Apa kamu baik baik saja "


Sbastian menghampiri asisten John dengan tertatih-tatih


" Hati-hati tuan "


Asisten John memegangi Sbastian


" Kenapa kamu bekerja jika belum sembuh "


Sbastian menatap pakaian formal Asisten John


" Saya tidak parah tuan , hanya tergores , tapi tuan muda Sean "


Asisten John memalingkan tatapan matanya


" Tidak apa , putraku hanya tertidur hahaha"


Sbastian terkekeh itu membuat asisten John terkejut


" Tuan "


Saat asisten John menoleh betapa terkejutnya asisten John , tawa kecil Sbastian di iringi air mata yang mengalir dengan sedikit isakan darinya


" Tuan "


Asisten John memeluk Sbastian


" Kenapa harus putraku "


Sbastian berbisik dan memejamkan matanya


" Mungkin Allah punya rencana lain "


Asisten John menenangkan Sbastian

__ADS_1


" Hm... "


Sbastian mengangguk


" Papa "


Suara wafi terdengar


" Papa Sbastian "


Wafi membuat Sbastian membuka matanya


" Dimana kakak Sean "


Wafi turun dari gendongan bundanya


" Papa Tian , dimana kakak Sean "


Wafi berlari dan memeluk kaki Sbastian


" Kakak sedang tidur , jangan berisik ya "


Sbastian berlutut dan memeluk wafi


" Iya , apa papa Tian masih merasakan sakit"


Wafi memegang pipi Sbastian


" Tidak , papa sudah sembuh , bisakah wafi membantu papa "


Sbastian menyeka air matanya


" Tentu tentu "


Wafi mengangguk antusias


" ....... "


Sbastian membisikkan sesuatu kepada wafi


" Baik papa Tian , wafi siap "


Wafi memberikan hormat


" Sudahlah bunda , kak Sean gapapa kok "


Wafi berbalik saat melihat bundanya menangis di pelukan ayahnya


" Iya wafi "


Asisten John mewakili istrinya


" Ayo bunda kita pulang , kita siapkan kamar kak Sean , kata papa kak Sean mau pulang "


Wafi menarik jubah panjang sitter azza


" Pulanglah sayang , wafi tidak boleh berada di rumah sakit "


Asisten John membelai rambut panjang istrinya


" Jagalah Sean untukku , kabari aku jika Sean sudah sadar "


Sitter azza menyeka air matanya


" Aku berjanji "


Asisten John mengangguk


" Ayo sayang , kita pulang "


Sitter azza membawa wafi ke dalam gendongannya dan membawanya pulang


" Babay papa , babay ayah "


Wafi melambaikan tangan dengan riang


" Mari tuan "


Asisten John membantu Sbastian berdiri


" Salam tuan "


Seorang pria muda asing memberi salam


" Siapa kamu "


Asisten John menatap anak itu dengan tajam


" Saya Aloe , saya di perintahkan untuk mengawal orang yang memakai gelang seperti ini "


Pria asing itu menunjukkan gelang yang sama persis dengan yang di berikan Mao untuk Sbastian


" Ah... Anda orangnya "


Aloe melihat gelang di tangan kanan Sbastian


" Saya siap menjaga anda "


Pria muda itu membungkuk hormat


" Hm... "


Sbastian hanya mengangguk


" Jaket anda tuan "


Asisten John memberikan jaket kulit panjang kepada Sbastian


Sbastian berjalan di papah oleh asisten John menuju ruang ICU


" Apa kau mengenalnya "


Sbastian menunjuk Sean yang ada di dalam ruang kaca ICU


" Itu tuan muda , kak Mao sudah bercerita , tuan muda Sean pernah menyelamatkan keluarga kami , jadi saya akan membalas apa yang di lakukan oleh tuan muda Sean "


Pria itu tersenyum


" Apa yang dilakukan putraku "


Sbastian menatap pria itu dengan tanda tanya besar


" Sesuatu , saya akan bercerita jika kita hanya berdua , ini sesuatu yang rahasia "


Aloe menatap Sbastian


" Tentu , aku ingin dengar apa yang di lakukan peri kecilku "


Sbastian mengangguk


" Baik tuan "


Aloe mengangguk


" Permisi "


Suara Mao memasuki pendengaran


" Kakak senior "


Aloe membungkuk memberi hormat


" Jaga tuan Sbastian sampai tuan muda menarik perintah "


Mao memukul kening Aloe


" Baik kakak "


Aloe mengangguk


" Apa kalian ini saudara "


Papa bertanya


" Iya tuan besar , ini adik sepupu saya "


Mao mengangguk


" dari mana asalmu nak "


Papa bertanya kembali


" Kami berasal dari negara abisal "


Aloe menjawab


" Negara apa itu "


Papa mengerenyitkan keningnya


" Aku mengelilingi dunia , tapi tidak tau apa itu abisal "


Papa mengerenyitkan keningnya


" Negara yang terselubung di suatu tempat"


Mao menjawab


" Mao , apa aku bisa masuk ke dalam "


Sbastian memotong pembicaraan


" Tentu tuan , mari "


Mao membuka pintu ICU


Aloe berdiri melihat Sbastian dari dinding kaca , agar bisa mengawasi Sbastian kapanpun seperti apa yang di perintahkan tuan muda terhormatnya


" Hai anak papa "


Sbastian mendekati Sean yang sudah terpasang banyak sekali alat kedokteran dan selang selang yang berjuntai kemana-mana


" Silahkan duduk tuan "


Mao memberikan kursi


" Bagaimana kabarmu , cepat sembuh sayang , papa akan menunggumu "


Sbastian membelai kepala Sean yang tertutup perban


" Mao "


Sbastian memegang tangan mungil Sean


" Iya tuan "


Mao menyahuti


" Kenapa dia sampai seperti ini , operasi apa yang dia jalani "


Sbastian mencium telapak tangan putra semata wayangnya


" Ada pembuluh darah yang membeku di otak tuan muda , dan juga beberapa pembuluh darah lainnya yang pecah , kami perlu mengoperasi tuan muda hingga dua kali agar organ tuan muda berjalan normal"


Mao menjelaskan


" Apa lagi "


Sbastian menoleh


" Tulang tengkorak di bagian dahi tuan muda retak , jadi tolong jangan terlalu menekannya "


Mao memberitahu


" Hm... Berapa lama dia sembuh "


Sbastian kembali menatap Sean yang terlihat sangat pucat


" Jika tulang tengkorak bisa kembali pulih karena tuan muda masih kecil , untuk yang lainnya tidak perlu di khawatirkan "


Mao memberi penjelasan agar Sbastian menjadi tenang


" Kapan dia bisa di bawa ke rumah"


Sbastian merebahkan kepalanya di samping tangan Sean


" Mungkin beberapa hari lagi , saya akan berbicara dengan asisten John agar alat medis datang lebih cepat "


" Bagaimana jika tuan muda akan sadar setelah sampai di rumah "


Mao memberikan kemungkinan


" Biar saja , itu akan menjadi berkah , kapanpun dia sadar , papanya ini akan selalu menunggunya , jaga Sean dalam keadaan apapun , aku tau kemampuanmu lebih dari manusia pada umumnya "


Sbastian tersenyum


" Iya tuan , hidup saya untuk tuan muda "


Mao membungkuk


" Saya permisi "


Mao berjalan keluar dari kamar ICU menemui asisten John


" Jangan tinggalkan papa seperti bunda dan saudaramu ya sayang "


Sbastian memejamkan matanya


" Papa "


Suara Sean menggema di telinga Sbastian membuat Sbastian terjingkat


" Apa apaan "


Sbastian terkejut melihat banyak laki-laki berpakaian serba hitam telah berserakan di sekitar pintu masuk


" Ada apa ini Aloe "


Sbastian berdiri


" Mereka di kirim tuan , saya hanya melaksanakan tugas saya , mereka orang jahat "


Aloe menendang salah satu dari mereka


" Astaga "


Suara Mao membuat mereka berpaling


" Kenapa ini "


Mao memeriksa salah satu dari mereka


" Mereka punya niat buruk , itu bisa membahayakan tuan muda Sean "


Aloe berkata dengan tidak suka


" Lain kali ikat saja , lalu rampas senjatanya , jangan seperti ini "


Mao berkacak pinggang


Mao dulu memang asing dengan dunia modern , namun selama dua tahun di Swiss , maozi mendapat pelatihan khusus agar mengerti apa saja yang ada di dunia modern , mungkin karena sejatinya Mao adalah macan , insting yang dia miliki sangatlah tajam , mampu menghafal banyak hal yang di ajarkan Sean , baik medis ataupun ilmu yang lain , karena itu sekali percobaan , Mao mampu melakukan hal-hal yang di lakukan dokter profesional , jadi Sbastian tidak khawatir jika dokter Sisil pensiun dari pekerjaannya

__ADS_1


" Aloe , kau di hukum "


Mao berkacak pinggang


__ADS_2