
Sbastian berlari menyusuri lorong-lorong kelas , dia sudah hafal seluk-beluk di sekolahan lion , karena Sbastian sendiri yang membuat desain dan mengawasi pembangunan , ini sekolahan impian adinda
*Brak
Saat sudah sampai di UKS , Sbastian menendang pintu UKS , di sana terlihat lion yang sedang beristirahat menjadi terbangun
" Kakak "
Lion terduduk
" Kamu kenapa "
Sbastian menghampiri lion dan langsung memeluknya
" Aku ngak apa-apa kok , kakak jangan khawatir "
Lion menenangkan Sbastian
" Kak lion "
Suara Sean menggema di ruangan UKS
" Kak lion mimisan "
Sean menunjuk hidung Leon yang mulai mengalir lagi darah mimisan
" Sini , biar kakak bersihkan "
Sbastian mengambil tissue dan membersihkan mimisan lion
" Apa kepalamu pusing "
Sbastian menyentuh kening lion yang terasa agak hangat
" Kakak yang seharusnya pusing , bibir kakak sangat pucat "
Lion menyingkirkan tangan Sbastian
" Ayo pulang , kakak harus istirahat "
Lion beranjak dari tempat duduknya
" Apa tidak ada petugas medis "
Sbastian celingukan mencari setidaknya seorang perawat di sana
" Mereka sudah pulang kak , sudah dari tadi , ini sudah hampir magrib "
Leon mengambil tasnya yang ada di atas meja
" Kak Sbastian harus istirahat , ayo pulang sekarang "
Lion memegang lengan Sbastian
" Baiklah "
Sbastian berdiri dan merangkul lion sambil terus menyeka mimisan lion
" Ini bisa menghentikan mimisannya "
Sean memberikan sebuah obat
" Baiklah "
Lion tanpa ragu langsung meminum obat yang di berikan Sean
" Beneran lho , mimisan kakak berhenti "
Lion tersenyum
" Anak papa , makasih ya "
Sbastian ikut tersenyum
" Apapun untuk keluarga Sean "
Sean dengan bangga memukul dadanya
" Ayo paman ayo , kita balapan sampai mobil "
Sean berlari terlebih dahulu meninggalkan asisten John
" Tuan muda curang"
Asisten John mengikuti langkah kaki Sean yang mungil namun sangat cepat
" Hati hati Sean "
Sbastian berteriak
" I love you papa sayang "
Sean sambil berlari menunjukkan simbol hati dari jari jari kecilnya yang lucu
" Sean sangat sayang ya sama kakak "
Lion tersenyum
" Yaaaaah begitulah , dia kehidupanku "
Sbastian terkekeh
" Kalau aku apa "
Lion menunjuk wajahnya
" Kalau kamu kesayanganku "
Sbastian mengusap bekas mimisan Leon dengan tissue basah
" Jangan pernah tinggalkan kakak ya "
Sbastian memberikan jari kelingkingnya
" Janji janji "
Lion terkekeh dan menautkan jari kelingkingnya
" Ayo paaaaa mobilnya udah siap nih "
Sean berteriak teriak di dekat mobil
" Iya iya sayang "
Sbastian menyahuti
Setelah Sbastian dan lion duduk di bangku belakang , Sean meminta asisten John untuk melajukan mobilnya menuju rumah
" Papa papa , sabuk pengamannya di pakek dong "
Sean menoleh ke belakang
" Kak lion juga , pakek pakek "
Sean menunjuk sabuk pengaman mobil
" Baik baik "
Sbastian memakai sabuk pengaman miliknya
" Wah... Lucunya , Sean yang hias ya "
Sbastian mengerti , Sean ingin menunjukkan sabuk pengaman yang awalnya hanya berwarna hitam kini berwarna warni dengan ikan yang menghiasi di mana mana
" Iya dong... Humph.. "
Sean menepuk dadanya lucu
Lamaaaaaa... Hening
" Wah.... Papa papa , lihat itu rumah sakit yang namanya kayak Sean "
Sean menunjuk rumah sakit yang di dirikan oleh keluarga Ken Sora
" Iya , itu rumah sakit keluarga "
Sbastian menjawab
Lamaaaaaa.... Hening
" Sean pakai sabuk pengamannya juga dong"
Lion perotes
" Iya iya "
Sean mengenakan sabuk pengamannya sendiri
Lamaaaaaa...... Hening
" Paman paman , ini sampai mana "
Sean menoel noel lengan asisten John
" Ini hampir sampai rumah , hanya macet di depan saja yang membuatnya lama "
Asisten John menjawab
Lamaaaaaa.... Hening
* Toooon
Tiba-tiba Terdengar klakson mobil besar dari belakang
" Hati hati tuan "
Asisten John berteriak dan membanting setir ke arah kanan
" PAPAAAAAA "
Suara teriakan Sean menggema
" Sean "
Sbastian mencoba meraih Sean di bangku depan namun tiba-tiba semuanya gelap
" Sbastian... Sbastian "
Suara pak Sam memasuki pendengaran Sbastian
" Sean "
Sbastian terduduk , keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya
" Ayah "
Sbastian menatap pak Sam yang berdiri di sampingnya
" Infus "
Sbastian menyadari ada infus di punggung tangannya
" Dimana Sean "
Sbastian memegang lengan pak Sam
" Ayah... Dimana Sean "
Sbastian mengulangi perkataannya karena pak Sam tidak menjawab
" Di ruang operasi "
Pak Sam menjawab lirih
" Apa yang terjadi dengannya "
Sbastian menggumam dan melepaskan infus di punggung tangannya
" Sbastian tunggu "
Pak Sam mengejar Sbastian yang sudah menghilang dari pandangannya
" Bi Aini "
Sbastian menemukan bi Aini seorang diri di depan ruang operasi
" Tuan "
Bi Aini menangkap Sbastian yang hendak terjungkal
" Kenapa dengan anakku bi "
Sean menatap bi Aini meminta penjelasan
" Masih di dalam , sejak tadi belum ada yang keluar "
Bi Aini mendudukkan Sbastian
" Apa yang terjadi... Di..dimana Leon "
Sbastian menetap bi Aini
" Tuan muda di dalam ruang perawatan , lukanya tidak parah "
Bi Aini menyadarkan Sbastian bahwa dirinya memiliki banyak perban di bagian tubuhnya
" Sbastian "
Pak Sam dengan terengah-engah duduk di samping Sbastian
" Ayah , apa yang terjadi "
Sbastian mencengkram lengan pak Sam
" Ayah... Ceritakan "
Sbastian mengguncang pak Sam
" AYAAAAH katakan ayah "
Sbastian berteriak
" Ayah... dia anakku "
Sbastian mulai mengecilkan suaranya
"Ini kecelakaan , kecelakaan yang membuat mobil kalian terbalik , asisten John hanya mengalami luka ringan karena bantalan darurat , begitu juga Leon dan kamu , tapi..tapi... "
Pak Sam berhenti
" Kenapa ayah , Sean kenapa "
Sbastian mengguncang pak Sam
" Bantalan penyelamat milik Sean tidak berfungsi , membuat Sean harus di larikan ke ruang operasi... Dan..... Ini sudah operasi keduanya "
Pak Sam menjelaskan
*Deg
Hati Sbastian berdetak kencang
__ADS_1
" O... operasi kedua , kenapa "
Sbastian melepaskan cengkraman tangannya
" Berapa lama Sbastian tidak sadarkan diri "
Sbastian bertanya dengan lirih
" Sbastian "
Terdengar suara Mama dan papa
" Katakan ayah , katakan "
Sbastian tidak menghiraukan keluarganya yang menghawatirkannya
" Tiga hari "
Pak Sam menjawab
" Sean anakku "
Sbastian terjatuh dan papa segera menangkap Sbastian yang terjatuh ke lantai , pandangannya kosong , anakku , kalimat yang di ucapkan Sbastian lagi
" Keluarga tuan muda Sean "
Seorang dokter keluar dari ruangan operasi
" Aku.. aku papanya "
Sbastian menoleh dan mendudukkan dirinya yang sudah lemas tak berdaya di dalam pelukan papanya
" Operasinya berhasil , namun saat ini... Tuan muda Sean sedang dalam keadaan koma "
Dokter menjelaskan dengan menatap manik mata Sbastian
" Anakku Koma "
Sbastian mengulangi kalimat yang dokter ucapkan dengan lirih
" Sbastian "
Papa mengguncang Sbastian
" Anakku Koma pa "
Sbastian menatap papanya
" Kenapa harus anakku pa "
Sbastian mencengkram erat lengan papanya
" Apa salah mahluk kecil ku pa "
Air mata Sbastian mengalir , dan semakin deras
" Apa dosa yang harus di tanggung peri kecilku pa , kenapa dia , kenapa bukan aku"
Sbastian memeluk erat papanya
" Kakak "
Liona memegang pundak Sbastian
" Bukan salahmu nak "
Papa mencoba menenangkan Sbastian
" Apa nyawaku bisa menggantikan dia pa , jangan dia pa , aku rela memberikan apapun , asal jangan dia "
Sbastian mulai meracau di dalam pelukan papanya
"Sssssttt.... jangan bicara yang aneh-aneh kasian mama dan liona "
Papa memeluk Sbastian dan berbisik
Ntah.. namun Maman terlihat tidak memiliki hati sedikitpun melihat Sbastian yang hancur mendengar kabar putra semata wayangnya
" Sean "
Sbastian terduduk
" Kenapa nak "
Papa memegang pundak Sbastian
" Parfum susu punya Sean , ini baunya "
Sbastian mencium parfum susu uang pernah di minta oleh Sean , parfum susu beraroma vanila yang di campur dengan sedikit parfum mawar racikan Sbastian
" Tuan "
Suara Mao terdengar dari belakang
" Kamu di sini "
Sbastian menatap Mao
" Saya yang bertanggung jawab atas operasi tuan muda "
Mao tersenyum
" Apa putraku benar-benar tidur "
Sbastian menatap Mao mencoba mencari jawaban yang berbeda
" Ini "
Mao mengajukan dua buah surat
" Apa ini "
Sbastian menatap Mao heran
" Parfumnya , dari surat ini "
Sbastian mengambil surat yang di bawa Mao dan menghirupnya dalam-dalam
______________________
S : teruntuk Mao
Mao.... Hari ini Sean merasakan sesuatu yang buruk , Sean menulis pada pagi hari pukul 05.00 setelah sholat subuh , ntah kenapa , tapi Sean merasa akan meninggalkan papa sebentar , bisakah Mao mewakili Sean menjaga papa sebentar sampai Sean kembali , papa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik , Mao jaga papa ya sampai Sean kembali nanti , Sean mengandalkan Mao , jaga papa baik-baik ya Mao , jangan tinggalkan papa ya
* Terimakasih harimauku sayang ^_^ *
___________________________
*Tes
Air mata membasahi surat yang di tulis Sean , tulisan tangan Sean yang mirip dengan tulisan tangan adinda dulu , ntah.. namun itu yang di rasakan Sbastian
" Kenapa semuanya aku samakan dengan adinda "
Sbastian terkekeh kecil
" Apa Sean yang menulisnya "
Sbastian mencium bau susu di surat yang dia pegang
" Saya menemukannya tertata rapih di atas boneka bintang laut milik tuan muda dengan surat yang satunya "
Mao menjawab
" Kapan kamu mengambilnya "
Sbastian menatap surat satunya yang bersampul merah
" Saya di kirimi pesan oleh tuan muda "
Tuan muda
Mao... MAOOOO ✓✓
Maoooooooo ✓✓
Mao Mao Mao ✓✓
Anda
Iya tuan muda ✓✓
Tuan muda
Ambil suratku di kamarku , simpan suratnya , aku akan pulang telat , sekarang sedang perjalanan menjemput kak lion , aku mau kamu menyimpannya dan berikan pada papaku nanti ✓✓
Anda
Eh... Kenapa tidak sekarang. ✓✓
Tuan muda
Nanti ya nanti , humph.. Mao nakal ✓✓
Anda
Iya iya tuan muda , saya mengerti ✓✓
End
" Kapan Sean mengirimnya "
Sbastian mengembalikan hp Mao
" Tiga hari yang lalu , saya menunggu anda siuman , silahkan baca yang ini , ini di tujukan untuk anda "
Mao menunjuk kop surat yang memiliki tulisan sangat besar : TERUNTUK PAPA SAYANG
" Baunya khas putraku sayang "
Sbastian mencium dalam dalam surat yang di tujukan untuknya
___________________
LOVE YOU PAPA SAYANG
S : untuk papaku sayang yang paling jelek sedunia
Kurang besar ngak papa tulisan love you nya , nanti deh Sean besarkan tulisannya , papa habis nangis ya , suratnya basah nih , bagaimana kabar papa , papa baik kan , ada yang luka ngak , Huuuuuft.... Sean udah tiup lukanya , cepetan sembuh ya papa , papa makan yang banyak ya , obat papa ada di dalam tas Sean , tapi tas Sean di mana ya... Tas Sean hilang pa , apa papa jelek tau , papa tau sih , kalau Sean itu suayang buanget sama papa jelek , papa jelek harus makan ya , papa jelek ngak boleh nangis , papa jelek ngak boleh manja sama kakek , itu kakeknya Sean , jangan di buat sendiri , nanti Sean marah , hehehe , udah ya papa , Sean leper , mau tidur
I LOVE PAPA JELEK
______________________
" Hiks... Iya sayang , papa juga sayaaaang sama kamu "
Sbastian memeluk kertas yang Sean tulis degan erat
" Ini yang tuan muda gunakan untuk menahan surat agar tetap di atas boneka "
Mao memberikan dua boneka beruang pink dengan tulisan bunda dan papa di masing-masing hati yang di pegang boneka beruang yang ukurannya hanya se besar jempol manusia dewasa
" Mao "
Sbastian tersenyum
" Iya tuan "
Mao menyahuti
" Bisakah Sean di rawat di rumah "
Sbastian menatap Mao
" Bisa tuan , akan saya atur "
Mao mengangguk
" Tetaplah berada di sisi Sean selama aku bekerja atau yang lainnya , apa kamu bisa "
Sbastian menatap Mao
" Tentu tuan , saya akan selalu bersama tuan muda , dan saya ingin meminta izin untuk meletakkan seseorang di sisi tuan sampai tuan muda sendiri yang menarik pemuda yang saya letakkan untuk tuan , dan tuan muda memberikan gelang ini "
Mao memakaikan sebuah gelang kepada Sbastian
" Terserah kau saja , yang penting jaga Seanku , aku akan mendatangkan alat-alat perawatan untuk Sean ke dalam rumah nanti "
Sbastian mencoba berdiri di bantu papa dan pak Sam
" Sean bilang dia akan tidur agak lama , dimana Sean sekarang "
Sbastian menoleh ke arah Mao
" Sudah saya letakkan di ruang rawat "
Mao menjawab
" Ayo kesana , yang tidak ingin kesana mohon untuk menjaga lion saja "
Sbastian melepaskan genggaman papa dan pak Sam
" Tuan "
Asisten John datang dengan beberapa perban di kepalanya namun asisten John menggunakan pakaian kantor formal
" Apa kamu baik baik saja "
Sbastian menghampiri asisten John dengan tertatih-tatih
" Hati-hati tuan "
Asisten John memegangi Sbastian
" Kenapa kamu bekerja jika belum sembuh "
Sbastian menatap pakaian formal Asisten John
" Saya tidak parah tuan , hanya tergores , tapi tuan muda Sean "
Asisten John memalingkan tatapan matanya
" Tidak apa , putraku hanya tertidur hahaha"
Sbastian terkekeh itu membuat asisten John terkejut
" Tuan "
Saat asisten John menoleh betapa terkejutnya asisten John , tawa kecil Sbastian di iringi air mata yang mengalir dengan sedikit isakan darinya
" Tuan "
Asisten John memeluk Sbastian
" Kenapa harus putraku "
Sbastian berbisik dan memejamkan matanya
" Mungkin Allah punya rencana lain "
Asisten John menenangkan Sbastian
__ADS_1
" Hm... "
Sbastian mengangguk
" Papa "
Suara wafi terdengar
" Papa Sbastian "
Wafi membuat Sbastian membuka matanya
" Dimana kakak Sean "
Wafi turun dari gendongan bundanya
" Papa Tian , dimana kakak Sean "
Wafi berlari dan memeluk kaki Sbastian
" Kakak sedang tidur , jangan berisik ya "
Sbastian berlutut dan memeluk wafi
" Iya , apa papa Tian masih merasakan sakit"
Wafi memegang pipi Sbastian
" Tidak , papa sudah sembuh , bisakah wafi membantu papa "
Sbastian menyeka air matanya
" Tentu tentu "
Wafi mengangguk antusias
" ....... "
Sbastian membisikkan sesuatu kepada wafi
" Baik papa Tian , wafi siap "
Wafi memberikan hormat
" Sudahlah bunda , kak Sean gapapa kok "
Wafi berbalik saat melihat bundanya menangis di pelukan ayahnya
" Iya wafi "
Asisten John mewakili istrinya
" Ayo bunda kita pulang , kita siapkan kamar kak Sean , kata papa kak Sean mau pulang "
Wafi menarik jubah panjang sitter azza
" Pulanglah sayang , wafi tidak boleh berada di rumah sakit "
Asisten John membelai rambut panjang istrinya
" Jagalah Sean untukku , kabari aku jika Sean sudah sadar "
Sitter azza menyeka air matanya
" Aku berjanji "
Asisten John mengangguk
" Ayo sayang , kita pulang "
Sitter azza membawa wafi ke dalam gendongannya dan membawanya pulang
" Babay papa , babay ayah "
Wafi melambaikan tangan dengan riang
" Mari tuan "
Asisten John membantu Sbastian berdiri
" Salam tuan "
Seorang pria muda asing memberi salam
" Siapa kamu "
Asisten John menatap anak itu dengan tajam
" Saya Aloe , saya di perintahkan untuk mengawal orang yang memakai gelang seperti ini "
Pria asing itu menunjukkan gelang yang sama persis dengan yang di berikan Mao untuk Sbastian
" Ah... Anda orangnya "
Aloe melihat gelang di tangan kanan Sbastian
" Saya siap menjaga anda "
Pria muda itu membungkuk hormat
" Hm... "
Sbastian hanya mengangguk
" Jaket anda tuan "
Asisten John memberikan jaket kulit panjang kepada Sbastian
Sbastian berjalan di papah oleh asisten John menuju ruang ICU
" Apa kau mengenalnya "
Sbastian menunjuk Sean yang ada di dalam ruang kaca ICU
" Itu tuan muda , kak Mao sudah bercerita , tuan muda Sean pernah menyelamatkan keluarga kami , jadi saya akan membalas apa yang di lakukan oleh tuan muda Sean "
Pria itu tersenyum
" Apa yang dilakukan putraku "
Sbastian menatap pria itu dengan tanda tanya besar
" Sesuatu , saya akan bercerita jika kita hanya berdua , ini sesuatu yang rahasia "
Aloe menatap Sbastian
" Tentu , aku ingin dengar apa yang di lakukan peri kecilku "
Sbastian mengangguk
" Baik tuan "
Aloe mengangguk
" Permisi "
Suara Mao memasuki pendengaran
" Kakak senior "
Aloe membungkuk memberi hormat
" Jaga tuan Sbastian sampai tuan muda menarik perintah "
Mao memukul kening Aloe
" Baik kakak "
Aloe mengangguk
" Apa kalian ini saudara "
Papa bertanya
" Iya tuan besar , ini adik sepupu saya "
Mao mengangguk
" dari mana asalmu nak "
Papa bertanya kembali
" Kami berasal dari negara abisal "
Aloe menjawab
" Negara apa itu "
Papa mengerenyitkan keningnya
" Aku mengelilingi dunia , tapi tidak tau apa itu abisal "
Papa mengerenyitkan keningnya
" Negara yang terselubung di suatu tempat"
Mao menjawab
" Mao , apa aku bisa masuk ke dalam "
Sbastian memotong pembicaraan
" Tentu tuan , mari "
Mao membuka pintu ICU
Aloe berdiri melihat Sbastian dari dinding kaca , agar bisa mengawasi Sbastian kapanpun seperti apa yang di perintahkan tuan muda terhormatnya
" Hai anak papa "
Sbastian mendekati Sean yang sudah terpasang banyak sekali alat kedokteran dan selang selang yang berjuntai kemana-mana
" Silahkan duduk tuan "
Mao memberikan kursi
" Bagaimana kabarmu , cepat sembuh sayang , papa akan menunggumu "
Sbastian membelai kepala Sean yang tertutup perban
" Mao "
Sbastian memegang tangan mungil Sean
" Iya tuan "
Mao menyahuti
" Kenapa dia sampai seperti ini , operasi apa yang dia jalani "
Sbastian mencium telapak tangan putra semata wayangnya
" Ada pembuluh darah yang membeku di otak tuan muda , dan juga beberapa pembuluh darah lainnya yang pecah , kami perlu mengoperasi tuan muda hingga dua kali agar organ tuan muda berjalan normal"
Mao menjelaskan
" Apa lagi "
Sbastian menoleh
" Tulang tengkorak di bagian dahi tuan muda retak , jadi tolong jangan terlalu menekannya "
Mao memberitahu
" Hm... Berapa lama dia sembuh "
Sbastian kembali menatap Sean yang terlihat sangat pucat
" Jika tulang tengkorak bisa kembali pulih karena tuan muda masih kecil , untuk yang lainnya tidak perlu di khawatirkan "
Mao memberi penjelasan agar Sbastian menjadi tenang
" Kapan dia bisa di bawa ke rumah"
Sbastian merebahkan kepalanya di samping tangan Sean
" Mungkin beberapa hari lagi , saya akan berbicara dengan asisten John agar alat medis datang lebih cepat "
" Bagaimana jika tuan muda akan sadar setelah sampai di rumah "
Mao memberikan kemungkinan
" Biar saja , itu akan menjadi berkah , kapanpun dia sadar , papanya ini akan selalu menunggunya , jaga Sean dalam keadaan apapun , aku tau kemampuanmu lebih dari manusia pada umumnya "
Sbastian tersenyum
" Iya tuan , hidup saya untuk tuan muda "
Mao membungkuk
" Saya permisi "
Mao berjalan keluar dari kamar ICU menemui asisten John
" Jangan tinggalkan papa seperti bunda dan saudaramu ya sayang "
Sbastian memejamkan matanya
" Papa "
Suara Sean menggema di telinga Sbastian membuat Sbastian terjingkat
" Apa apaan "
Sbastian terkejut melihat banyak laki-laki berpakaian serba hitam telah berserakan di sekitar pintu masuk
" Ada apa ini Aloe "
Sbastian berdiri
" Mereka di kirim tuan , saya hanya melaksanakan tugas saya , mereka orang jahat "
Aloe menendang salah satu dari mereka
" Astaga "
Suara Mao membuat mereka berpaling
" Kenapa ini "
Mao memeriksa salah satu dari mereka
" Mereka punya niat buruk , itu bisa membahayakan tuan muda Sean "
Aloe berkata dengan tidak suka
" Lain kali ikat saja , lalu rampas senjatanya , jangan seperti ini "
Mao berkacak pinggang
Mao dulu memang asing dengan dunia modern , namun selama dua tahun di Swiss , maozi mendapat pelatihan khusus agar mengerti apa saja yang ada di dunia modern , mungkin karena sejatinya Mao adalah macan , insting yang dia miliki sangatlah tajam , mampu menghafal banyak hal yang di ajarkan Sean , baik medis ataupun ilmu yang lain , karena itu sekali percobaan , Mao mampu melakukan hal-hal yang di lakukan dokter profesional , jadi Sbastian tidak khawatir jika dokter Sisil pensiun dari pekerjaannya
__ADS_1
" Aloe , kau di hukum "
Mao berkacak pinggang