
" Sbastian "
Suara pak Sam terdengar
" Ayah "
Sbastian berputar dan melihat pak Sam datang
" Di mana adek dan lion "
Pak Sam berhenti di samping Sbastian
" Itu mereka , kasihan mereka , lion hari ini membantu seharian di kantor "
Sbastian tersenyum
" Benarkah "
Pak Sam menatap Sbastian
" Dia ingin cepat-cepat belajar tentang kantor , katanya setelah dia lulus sekolah , dia akan langsung kerja di kantor sambil kuliah "
Sbastian menjelaskan
" Tuan "
Mao datang
" Saya akan gendong tuan muda Leon "
Mao membiarkan pak Sam mengambil Sean lalu Mao membawa Leon masuk ke dalam kamarnya
" Astaga , dimana Sean mendapatkan anak perempuan itu "
Pak Sam geleng-geleng melihat Mao yang sangat lincah , bahkan meloncat dari lantai tiga itu sudah biasa
" Hahaha "
Sbastian tertawa melihat pak Sam yang memandang Mao aneh
" Ayah ingin bicara padamu setelah ini , pergilah ke ruang tamu "
Pak Sam memulai pembicaraan
" Iya ayah "
Sbastian mengangguk
" Tuan "
Mao kembali lagi
" Cepat sekali kamu Mao "
Pak Sam terkejut dengan kedatangan Mao
" Hehehe , biar nona muda saya bawa juga "
Mao mengambil liona dari Sbastian dan membawanya masuk ke dalam kamar
" Biar Sean aku gendong saja ayah "
Sbastian mengambil Sean dari gendongan pak Sam
" Kita langsung ke ruang tamu saja "
Pak Sam berjalan terlebih dahulu dan di ikuti Sbastian hingga ruang tamu
" Tuan "
Mao muncul lagi di depan Sbastian
" Biar Sean aku yang bawa , kamu istirahat saja "
Sbastian melalui Mao
" Baik tuan "
Mao memberi hormat lalu pergi
" Ada apa ayah "
Sbastian duduk di samping pak Sam
" Kamu sebaiknya jangan membebankan banyak tanggung jawab kepada Leon sebelum usianya "
Pak Sam menyenderkan kepalanya di sofa
" Sbastian tau , dia benar-benar tangguh untuk meminta Sbastian menyerahkan beberapa berkas untuk di periksa , dia bilang dia tidak mau merepotkan kakaknya terus , dia minta agar aku menikah lagi , supaya ada yang mengurus ku juga Sean "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Apa kamu suka dengan Clara "
Pak Sam melihat Sbastian
" Eh... Eh... Itu itu "
Sbastian celingukan saat pak Sam tidak berhenti menatapnya
" Hahaha , kamu itu sepertinya sudah benar-benar menjadi dewasa "
Pak Sam menepuk pundak Sbastian
" Tapi ya... Tetap saja , ntah kenapa Tian tidak pernah bisa melupakan adinda , ayah lihat sendiri kan , di seluruh penjuru rumah ini , bahkan sampai halaman belakang , semuanya penuh dengan adinda "
Sbastian memandang sekitar , rumah impian adinda yang belum pernah di kunjungi oleh adinda
" Pembangunan yang belum rampung saat adinda tiada , huh... Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan rumah ini "
Sbastian menatap foto besar adinda di depannya
" Apa si kembar sudah tau tentang hubunganmu dengan nyonya dan tuan besar "
Pertanyaan Pak Sam membuat Sbastian terkejut
" Belum , tapi Sean sudah tau "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Dia bahkan berkata bahwa nasib kami sama "
Sbastian membenarkan jas kantor Sean
" Anak ini lebih dewasa dari perkiraanku "
Pak Sam tersenyum melihat Sbastian yang sangat menyayangi Sean
" Sean benar-benar dewasa "
Sbastian mencium kening Sean
"Saat itu Tian benar benar terpukul saat tau bahwa papa bilang Sbastian bukan putra kandung mereka "
Sbastian menyandarkan kepalanya
*Prang
Terdengar suara pecahan kaca yang membuat Sbastian dan pak Sam menoleh
" Lion "
Sbastian terkejut
" Apa maksud kakak "
Lion menatap Sbastian tidak percaya
" Kakak bisa jelaskan "
Sbastian menyerahkan Sean ke dalam gendongan pak Sam
" Leon "
Sbastian mendekati Leon namun Leon keburu lari , menaiki tangga dan hilang di pintu kamarnya
" Shock yang sudah biasa "
Sbastian berkacak pinggang
" Ada apa tuan "
Mao datang dengan pakaian tidurnya
" Ini , Leon memecahkan vas bunga , bisakah kamu bersihkan "
Sbastian menatap Mao
" Siap tuan "
Mao memberi hormat dan pergi mengambil sapu untuk membersihkan pecahan vas
" Pergilah temui Leon , jelaskan semua , dia tidak akan pernah bisa mengerti jika kamu tidak menjelaskan "
Pak Sam berdiri
" Biar ayah istirahat saja , Tian akan membawa Sean ke kamar "
Sbastian mengambil Sean dari pak Sam lalu pergi menaiki tangga
Sbastian masuk ke dalam kamar dan meletakkan Sean di atas tempat tidurnya lalu mengganti pakaiannya , juga pakaian Sean menjadi pakaian tidur bermotif ikan Nemo yang cantik
" Papa mau kemana "
Suara Sean membuat Sbastian menoleh
" Papa mau ke kamar kak Leon , kamu tidur saja nanti papa nyusul "
Sbastian membenarkan selimut Sean dan mencium kening Sean
" Baca doa dulu "
Sbastian meletakkan bantal di setiap sisi Sean
" Sudah "
Sean mengangguk
" Ini ikannya "
Sbastian memberikan boneka ikan lumba-lumba yang besar nya melebihi Sean
Setelah Sean menutup matanya , Sbastian keluar dari kamar dan menuju kamar Lion yang berada di lantai dua
*Tok..tok..tok
Sbastian mengetuk pintu , karena tidak ada jawaban , akhirnya Sbastian membuka pintu kamar Leon
" Hai "
Sbastian tersenyum melihat Leon yang menatap foto keluarga mereka , di sana ada papa dan Sbastian yang berdiri di belakang kursi merah memakai setelan jas abu-abu dengan lion yang juga memakai jas abu-abu sedang berdiri di tengah , mama duduk di kursi merah dengan pakaian putih sambil menggendong lion kecil yang memakai gaun putih indah dengan topi baret putih di kepalanya
" Rindu mama ya "
Sbastian masuk dan menutup pintu
* Tak
Lion meletakkan foto di atas meja dengan kasar dan berlalu pergi
" Apa kamu tau , kenapa kakak merahasiakan semua "
Sbastian berjalan dan duduk di tepi ranjang Lion
Lion berbalik dan tidur membelakangi Sbastian
" Mama dan papa tidak pernah memperlakukan kakak sepeti anak asuh , mama dan papa sangat menyayangi kalian , terutama kamu "
Sbastian naik dan tidur di atas ranjang Lion lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya
" Kenapa kakak menyembunyikan ini dari kami "
Lion berbicara namun tidak menoleh sama sekali
" Mama dan papa sebelum datangnya Sean , mereka memperlakukan kita bertiga sama saja , kakak di jadikan sebagai panutan yang baik , kamu di jadikan sebagai kakak yang baik untuk lili , dan lili di manja oleh mama selayaknya anak perempuan satu-satunya "
Sbastian tersenyum
" Apa maksudnya sejak kedatangan Sean "
Lion duduk dan menatap Sbastian meminta penjelasan
" Mama tidak tau bahwa putra kandung mama sudah tiada "
__ADS_1
Sbastian menatap lion
" Maksudnya aku punya kakak lain "
Lion mengerti maksud Sbastian
" Iya , dia juga laki-laki , umurnya sama dengan kakak , kata ayah umurnya hanya berbeda beberapa hari , namanya Leon "
Sbastian menarik turunkan alisnya
" Sama denganku "
Leon terkejut
" Yaps , tepat sekali "
Sbastian mengangguk
" Kenapa dia meninggal "
Leon mulai penasaran
" Dia meninggal karena kecelakaan "
Sbastian membuat Leon terkejut
" Kecelakaan itu membuat dia meninggal , mama waktu itu koma selama beberapa Minggu "
Sbastian memejamkan matanya
" Lalu , lalu apa yang terjadi , apa mama benar-benar tidak tau sampai sekarang dan bagaimana kakak tau semuanya "
Leon mengguncang Sbastian
" Iya iya "
Sbastian terkekeh kecil
" Waktu kakak berumur tujuh belas tahun , aku mendengar percakapan pak Sam dan papa "
Sbastian
" Apa yang mereka bilang "
Lion semakin penasaran
" Haruskah kakak bercerita "
Sbastian menaikkan alisnya
" Ayolah "
Leon memukul Sbastian
" Ini akan menjadi flashback kembali "
Sbastian melirik Leon
" Cepat "
Leon memukul Sbastian dengan bantal yang dia pegang
Flashback on
Sore hari yang sejuk setelah hujan turun melanda , papa Sbastian datang membawa beberapa oleh-oleh dari Tiongkok untuk Sbastian , hadiah karena rasa rindu seorang ayah kepada anaknya yang tidak bisa di kiaskan , namun sore itu Sbastian masih di kantor dan belum pulang
" Sam "
Papa duduk di bangku taman
" Iya tuan besar "
Pak Sam yang sedang menyiram tanaman kini menghampiri papa yang duduk sendiri
" Sekarang umur Sbastian sudah tujuh belas tahun , apa aku perlu berbicara padanya "
Papa menatap pak Sam seakan meminta jawaban
" Itu terserah tuan saja "
Pak Sam memberi pendapat
" Duduklah dulu "
Pak Sam menunjuk kursi di depannya
" Apa aku perlu , aku memperhatikan dirinya selama ini , aku juga menyembunyikan semuanya selama ini , dan dia tidak tau apapun , apa aku harus memberitahu semuanya "
Papa menyandarkan kepalanya di kursi taman
" Memberi tahu apa "
Papa mendengar seseorang bertanya
" Bagaimana pak Sam ini , memberi tahu tentang Sbastian bukanlah putra kandung kami "
Papa tidak sadar bahwa papa tidak berbicara dengan pak Sam
" Apa maksudnya "
Suara Sbastian yang terdengar berat membuat papa sadar bahwa dirinya tidak berbicara dengan pak Sam
" Sbastian "
Papa melihat ke belakang dan Sbastian ada di sana , berdiri dengan nafas yang memburu di iringi manik mata yang berkilau , itu siap tumpah kapan saja
" Maksud papa aku bukan anak kandung papa "
Sbastian menggenggam erat tas ransel yang masih di bawanya
" Apa karena itu papa dan mama tidak memperhatikan aku "
Sbastian menatap papanya tajam
" Bukan seperti itu "
Papa berdiri
" Aku bukan anak papa "
Sbastian melemparkan tas miliknya yang berisi berkas-berkas kantor , laptop dan beberapa berkas penting ke dalam kolam
" Sbastian "
" Tunggu... Sbastian "
Papa berlari saat melihat Sbastian yang sudah meraih jaket dan kunci mobilnya
" Sbastian tunggu "
Teriakan papa tidak di hiraukan sama sekali oleh Sbastian
" TIAN BERHENTI DI SITU "
Suara pak Sam menggelegar di seluruh ruangan
Sbastian berhenti , menggenggam erat jaket miliknya , kakinya kembali melangkah , tangannya sudah memegang gagang pintu namun suara pak Sam kembali bergaung di telinganya
" JIKA BERANI KELUAR , KAMU TIDAK AKAN PERNAH MELIHAT AYAH DI SINI , AYAH AKAN MENINGGALKANMU , AYAH AKAN KEMBALI KE RUMAH AYAH SENDIRI "
Pak Sam mengancam , dan itu berhasil , Sbastian menjatuhkan jaket dan kunci mobilnya lalu berbalik , berlari melalui papa dan pak Sam , Sbastian pergi ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras
" Terimakasih Sam , perkataanmu lebih di dengarkan olehnya "
Papa memijat keningnya
" Aku akan berbicara dengannya "
Papa meninggalkan pak Sam dan berjalan menuju tangga yang amat panjang menuju kamar Sbastian di lantai dua
*Tok..tok..tok
Papa mengetuk pintu kamar Sbastian
" Sbastian , papa mau bicara denganmu "
Papa mengetuk sekali lagi namun tidak ada sahutan dari dalam
*Cklek
Pintu terbuka dan papa tersenyum
" Sbastian "
Papa masuk dan melihat Sbastian masuk ke dalam kamar mandi
" Masih sama , saat merajuk pasti masuk ke kamar mandi "
Papa tersenyum dan berjalan duduk di sofa
Tidak lama Sbastian keluar , terlihat dia baru saja selesai mandi , rambutnya basah dan Sbastian hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih
" Kemarilah "
Papa melambaikan tangannya
" Hei.. papa mau bicara "
Papa membuat suaranya selembut mungkin agar Sbastian mendengarkan meski itu tidak mempan
" Papa mau memberitahu sesuatu tentang mama "
Kalimat papa berhasil membuat Sbastian menoleh
" Apa "
Sbastian hanya melirik papanya
" Mama punya sebuah penyakit "
Kalimat yang papa ucapkan membuat Sbastian terkejut bukan main
" Penyakit apa "
Sbastian menoleh
" Duduklah dulu "
Pak Sam menepuk sofa di sebelahnya
" Baik "
Sbastian berjalan dengan gontai , duduk di sebelah papa namun agak jauh , itu membuat papa tersenyum lembut
" mama punya penyakit jantung "
Papa membuat Sbastian terbelalak
" Maksud papa apa "
Sbastian menatap papanya dan duduk lebih dekat
" Dulu , sebelum kamu di sini , mama mengalami kecelakaan "
Papa mulai bercerita
" Mama kecelakaan saat usia kandungan anak pertama kami masih delapan bulan , mama keguguran , mama harus di operasi dan setelah operasi mama koma selama beberapa Minggu , kata dokter mama juga memiliki riwayat jantung , dokter bilang , jika mama tau bahwa putra pertamanya tidak ada , itu akan mempengaruhi jantung dan kesehatan mama "
Papa membelai kepala Sbastian
" Lalu apa yang papa lakukan "
Sbastian mendengarkan dengan seksama jika itu menyangkut mamanya
" papa sangat terpukul , di satu sisi papa telah kehilangan Leon , calon putra pertama kami , dia sangat mirip dengan si kembar , di sisi yang lain , papa takut akan terjadi sesuatu kepada mama jika mama tau tentang putranya "
Papa berhenti sejenak
" Karena papa sangat gelisah waktu itu , papa pergi ke pantai , di pantai adalah tempat yang tepat untuk melepas semua beban , papa menyusuri pasir pantai dan.."
Belum selesai papa bercerita Sbastian menyela
" papa menemukanku di sana "
Sbastian menebak
" Iya , papa melihatmu terdampar , kamu masih bayi waktu itu , kamu terkena dehidrasi dan terlalu banyak menelan air laut , papa berlari membawamu ke rumah sakit , papa membawamu ke dalam IGD , kamu di sana selama lima jam , hingga papa mengabaikan mama yang belum sadar "
Papa tersenyum mengingat pertama kali dirinya menggendong seorang bayi
" Kamu di sana hingga seorang dokter keluar , dia bilang kamu sudah ada di ruang bayi , papa berlari melihat kamu di sana dengan beberapa alat kedokteran yang masih melekat di tubuhmu , papa bersyukur kamu selamat "
Papa tersenyum
__ADS_1
" Itu mama sudah berapa hari koma "
Sbastian duduk bersila
" Mama sudah tiga Minggu koma , dan saat itu juga ada perawat yang datang dan bilang bahwa mama sudah sadar , papa berlari menuju kamar rawat mama , dan tidak lupa papa memerintahkan asisten papa untuk ada di sisimu sampai papa kembali "
Saat papa ingin melanjutkan kalimatnya Sbastian menyela
" Apa asisten papa ada bersama papa sejak awal "
Sbastian menyela
" Iya , hanya kami berdua yang tau bahwa kamu bukan putra mama dan papa , setelah itu saat papa ada di ruangan mama , papa melihat mama yang sudah berlinang air mata memegangi perutnya yang sudah datar , papa segera menenangkan mama dan bilang bahwa putranya selamat , dia ada di ruang rawat anak sekarang , setelah papa mengatakan itu mamamu berhenti menangis dan ingin segera melihatmu , tentu saja papa terkejut , mamamu belum sembuh sepenuhnya dan ingin berjalan sendiri ke ruanganmu "
Papa terkekeh saat mengingat air mata mama yang langsung mengering
" Lalu... Apa mama tidak merasa aneh "
Sbastian memegang lengan papanya
" Tidak , papa membuat kebohongan sedikit demi membuat mamamu bahagia , setelah keluar dari rumah sakit , mama selalu membawamu kemanapun dia pergi , memamerkan ketanpananmu kepada setiap orang yang lewat di depannya , apalagi saat si kembar lahir , kebahagiaan mamamu berlipat ganda "
Papa sedikit terkekeh
" Lalu... Apa yang terjadi saat mama tau liona sakit "
Sbastian mengguncang papanya
" Mamamu tidak sedih sama sekali , mamamu bertekad untuk menyembuhkan liona apapun yang terjadi , mamamu merasa lengkap , ada kamu sebagai panutan untuk adik adikmu , ada lion sebagai kakak yang akan menjaga liona kemanapun dan ada lion yang akan selalu menjadi kesayangan mama dan papa , putri tunggal mama , mama sangat menyayangi kalian bertiga , mamamu tidak pernah membedakan antara kalian satu sama lain , dan alasan mamamu tidak bersedih karena liona adalah kamu , mamamu berfikir kamu masih membutuhkan kasih sayang mama , jadi mama akan sekuat tenaga tidak menunjukkan kesedihannya di depan anak anaknya "
Papa terkekeh kecil mengingat keegoisan mama yang sangat baik menurutnya
" ingat Sbastian , papa akan selalu menyayangimu , apalagi mama , tapi jangan beritahu mama ya , papa tidak ingin mama kenapa-kenapa "
Papa membelai rambut Sbastian
" Maaf ya pa , Sbastian janji akan selalu menurut apa kata mama dan Sbastian akan selalu patuh kepada mama "
Sbastian menunjukkan jari kelingkingnya
" Janji ya "
Papa menautkan jari kelingkingnya
" Janji janji "
Sbastian tertawa
" Kamu harapan papa "
Papa mencium kening Sbastian
" Oh ya , apa papa sudah makan , ayo kita makan siang "
Sbastian menarik papanya keluar ruangan menuju lantai bawah , saat akan sampai di dapur , suara anak kecil membuat Sbastian menoleh
" Mama "
Sbastian tersenyum dan berlari menyambut mamanya dan kedua adiknya yang baru sampai di pintu masuk
" Wah.... Anak mama sudah besar "
Mama mencium kening Sbastian
" Kemarikan adik adik ma "
Sbastian mengambil liona dan lion dari gendongan mamanya
Flashback off
" Jadi... Mama tidak tau sama sekali "
Leon menebak
" Sama sekali , jangan beritahu mama dan liona ya , ini cukup menjadi rahasia kita "
Sbastian membelai rambut lion
" Tidurlah sudah malam "
Sbastian berdiri dan meninggalkan kamar
Sbastian menutup pintu dan berjalan ke arah kamarnya
" Dimana anak-anak "
Suara Mama membuat Sbastian terkejut
" Mama "
Sbastian tersenyum dan menuruni tangga , Sbastian mencium punggung tangan mama dan papa yang saat itu sepertinya baru sampai
" Dimana adikmu "
Mama bertanya dengan lembut , seakan melupakan semua kebenciannya terhadap Sean yang menurutnya hanya menjadi beban
" Sedang tidur , apa mama mau tidur dengan liona malam ini , biar papa tidur dengan Leon atau Sbastian "
Sbastian merangkul mamanya
" Mama mau sama liona saja , mana anak gadis mama "
Mama membalas pelukan Sbastian
" Mama "
Suara Leon membuat mereka menoleh
" Mama "
Leon menuruni tangga dengan cepat dan langsung memeluk mamanya
" Wah... Anak mama belum tidur , kenapa belum tidur "
Mama mengusap kepala Leon
" Mama , aku kan udah SMP kelas tiga , aku bukan anak kecil "
Leon menghentakkan kakinya kesal
" Hahaha "
Sbastian dan papa tertawa
" Au ah , aku marah sama mama "
Leon melipat tangannya di atas dada
" Dasar anak kecil "
Sbastian menggosok kuat kepala Leon
" Sakit kak "
Leon memukul lengan Sbastian
" Sudah sudah ini sudah malam , mama akan tidur dengan liona "
Mama berjalan terlebih dahulu ke dalam kamar liona
" Ayo Sbastian papa mau bicara soal perusahaan "
Papa menarik Sbastian dan Leon ke dalam kamar Sbastian
Setelah sampai di dalam kamar , Sbastian menutup pintu dan papa Sbastian duduk di tepi ranjang
" Papa merasa Sean benar-benar mirip dengan mu "
Papa menatap Sean tajam
" Mereka bilang juga begitu , kata ayah karena aku sering bertukar nafas dengan Sean saat tidur , itu membuatnya mirip denganku "
Sbastian duduk di samping ayah
" Bukankah dia memang mirip kakak "
Leon menyisihkan bantal di punggung Sean dan tiduran di sana
" Memang , kakak juga heran , sampai sekarang kakak masih belum menemukan dimana keluarganya tinggal , aku benar-benar merasa ada yang janggal tentang ini "
Sbastian membenarkan selimut Sean
" Oh ya pa "
Leon membuat Sbastian dan papa menoleh
" Apa Leon "
Papa bertanya karena Leon tidak kunjung mengeluarkan suara
" Ngak jadi deh "
Leon memeluk Sean dan boneka besar Sean
" Papaaaaa panas ah "
Sean tanpa membuka matanya menendang Leon menjauh
*Bug
Leon mengambil dan membuang boneka Sean menjauh
" Papaa"
Sean membuka matanya dan melihat papanya duduk di sampingnya dengan kakeknya
" Papa "
Sean menatap papanya dengan mata yang setengah terpejam
" Kak Leon "
Sean terkejut saat melihat Leon memejamkan matanya di sebelahnya
" KAKAK JAHAT "
Sean berteriak sambil menendang nendang Leon
" Pergi ah , Sean mau tidur , mana bubu Sean "
Sean berdiri dengan gontai mencari bonekanya yang ada di lantai
" Bubu jauhnya kamu "
Sean berjalan dengan gontai menuju boneka Lumba-lumba miliknya
Sean turun dari atas tempat tidur lalu menyeret bonekanya pergi
" Kemana dek "
Sbastian berdiri
" Ada kak Leon , Sean ngak bisa tidur , nanti bubu Sean di makan sama kak Leon "
Sean menjawab dengan setengah sadar
Sean berjalan sambil menyeret boneka Lumba-lumba miliknya yang benar-benar besar
*Brak
Sean menabrak pintu kamar dan langsung duduk di atas lumba-lumbanya
" Hahaha "
Leon tertawa terbahak-bahak melihat Sean yang terduduk dan terjatuh ke belakang sedangkan Sbastian berlari dan berlutut di samping Sean
" Apa yang sakit "
Sbastian mendudukkan Sean yang terlentang dengan kakinya yang ada di atas kepala lumba-lumba dan kepalanya di bawah
" Sakit.. "
Sean memegangi keningnya yang memerah
*Cling
Kilauan air mata Sena mulai terlihat
" Papa.. Hiks sakit.. huaaa "
" Ouch... Anak papa cup cup anak tampan ngak boleh nangis "
Sbastian menggendong Sean dan menepuk-nepuk punggung Sean pelan
__ADS_1