Aku Pangeran

Aku Pangeran
#62 ( bukan )


__ADS_3

" Sbastian "


Suara pak Sam terdengar


" Ayah "


Sbastian berputar dan melihat pak Sam datang


" Di mana adek dan lion "


Pak Sam berhenti di samping Sbastian


" Itu mereka , kasihan mereka , lion hari ini membantu seharian di kantor "


Sbastian tersenyum


" Benarkah "


Pak Sam menatap Sbastian


" Dia ingin cepat-cepat belajar tentang kantor , katanya setelah dia lulus sekolah , dia akan langsung kerja di kantor sambil kuliah "


Sbastian menjelaskan


" Tuan "


Mao datang


" Saya akan gendong tuan muda Leon "


Mao membiarkan pak Sam mengambil Sean lalu Mao membawa Leon masuk ke dalam kamarnya


" Astaga , dimana Sean mendapatkan anak perempuan itu "


Pak Sam geleng-geleng melihat Mao yang sangat lincah , bahkan meloncat dari lantai tiga itu sudah biasa


" Hahaha "


Sbastian tertawa melihat pak Sam yang memandang Mao aneh


" Ayah ingin bicara padamu setelah ini , pergilah ke ruang tamu "


Pak Sam memulai pembicaraan


" Iya ayah "


Sbastian mengangguk


" Tuan "


Mao kembali lagi


" Cepat sekali kamu Mao "


Pak Sam terkejut dengan kedatangan Mao


" Hehehe , biar nona muda saya bawa juga "


Mao mengambil liona dari Sbastian dan membawanya masuk ke dalam kamar


" Biar Sean aku gendong saja ayah "


Sbastian mengambil Sean dari gendongan pak Sam


" Kita langsung ke ruang tamu saja "


Pak Sam berjalan terlebih dahulu dan di ikuti Sbastian hingga ruang tamu


" Tuan "


Mao muncul lagi di depan Sbastian


" Biar Sean aku yang bawa , kamu istirahat saja "


Sbastian melalui Mao


" Baik tuan "


Mao memberi hormat lalu pergi


" Ada apa ayah "


Sbastian duduk di samping pak Sam


" Kamu sebaiknya jangan membebankan banyak tanggung jawab kepada Leon sebelum usianya "


Pak Sam menyenderkan kepalanya di sofa


" Sbastian tau , dia benar-benar tangguh untuk meminta Sbastian menyerahkan beberapa berkas untuk di periksa , dia bilang dia tidak mau merepotkan kakaknya terus , dia minta agar aku menikah lagi , supaya ada yang mengurus ku juga Sean "


Sbastian mengelus kepala Sean


" Apa kamu suka dengan Clara "


Pak Sam melihat Sbastian


" Eh... Eh... Itu itu "


Sbastian celingukan saat pak Sam tidak berhenti menatapnya


" Hahaha , kamu itu sepertinya sudah benar-benar menjadi dewasa "


Pak Sam menepuk pundak Sbastian


" Tapi ya... Tetap saja , ntah kenapa Tian tidak pernah bisa melupakan adinda , ayah lihat sendiri kan , di seluruh penjuru rumah ini , bahkan sampai halaman belakang , semuanya penuh dengan adinda "


Sbastian memandang sekitar , rumah impian adinda yang belum pernah di kunjungi oleh adinda


" Pembangunan yang belum rampung saat adinda tiada , huh... Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan rumah ini "


Sbastian menatap foto besar adinda di depannya


" Apa si kembar sudah tau tentang hubunganmu dengan nyonya dan tuan besar "


Pertanyaan Pak Sam membuat Sbastian terkejut


" Belum , tapi Sean sudah tau "


Sbastian mengelus kepala Sean


" Dia bahkan berkata bahwa nasib kami sama "


Sbastian membenarkan jas kantor Sean


" Anak ini lebih dewasa dari perkiraanku "


Pak Sam tersenyum melihat Sbastian yang sangat menyayangi Sean


" Sean benar-benar dewasa "


Sbastian mencium kening Sean


"Saat itu Tian benar benar terpukul saat tau bahwa papa bilang Sbastian bukan putra kandung mereka "


Sbastian menyandarkan kepalanya


*Prang


Terdengar suara pecahan kaca yang membuat Sbastian dan pak Sam menoleh


" Lion "


Sbastian terkejut


" Apa maksud kakak "


Lion menatap Sbastian tidak percaya


" Kakak bisa jelaskan "


Sbastian menyerahkan Sean ke dalam gendongan pak Sam


" Leon "


Sbastian mendekati Leon namun Leon keburu lari , menaiki tangga dan hilang di pintu kamarnya


" Shock yang sudah biasa "


Sbastian berkacak pinggang


" Ada apa tuan "


Mao datang dengan pakaian tidurnya


" Ini , Leon memecahkan vas bunga , bisakah kamu bersihkan "


Sbastian menatap Mao


" Siap tuan "


Mao memberi hormat dan pergi mengambil sapu untuk membersihkan pecahan vas


" Pergilah temui Leon , jelaskan semua , dia tidak akan pernah bisa mengerti jika kamu tidak menjelaskan "


Pak Sam berdiri


" Biar ayah istirahat saja , Tian akan membawa Sean ke kamar "


Sbastian mengambil Sean dari pak Sam lalu pergi menaiki tangga


Sbastian masuk ke dalam kamar dan meletakkan Sean di atas tempat tidurnya lalu mengganti pakaiannya , juga pakaian Sean menjadi pakaian tidur bermotif ikan Nemo yang cantik


" Papa mau kemana "


Suara Sean membuat Sbastian menoleh


" Papa mau ke kamar kak Leon , kamu tidur saja nanti papa nyusul "


Sbastian membenarkan selimut Sean dan mencium kening Sean


" Baca doa dulu "


Sbastian meletakkan bantal di setiap sisi Sean


" Sudah "


Sean mengangguk


" Ini ikannya "


Sbastian memberikan boneka ikan lumba-lumba yang besar nya melebihi Sean


Setelah Sean menutup matanya , Sbastian keluar dari kamar dan menuju kamar Lion yang berada di lantai dua


*Tok..tok..tok


Sbastian mengetuk pintu , karena tidak ada jawaban , akhirnya Sbastian membuka pintu kamar Leon


" Hai "


Sbastian tersenyum melihat Leon yang menatap foto keluarga mereka , di sana ada papa dan Sbastian yang berdiri di belakang kursi merah memakai setelan jas abu-abu dengan lion yang juga memakai jas abu-abu sedang berdiri di tengah , mama duduk di kursi merah dengan pakaian putih sambil menggendong lion kecil yang memakai gaun putih indah dengan topi baret putih di kepalanya


" Rindu mama ya "


Sbastian masuk dan menutup pintu


* Tak


Lion meletakkan foto di atas meja dengan kasar dan berlalu pergi


" Apa kamu tau , kenapa kakak merahasiakan semua "


Sbastian berjalan dan duduk di tepi ranjang Lion


Lion berbalik dan tidur membelakangi Sbastian


" Mama dan papa tidak pernah memperlakukan kakak sepeti anak asuh , mama dan papa sangat menyayangi kalian , terutama kamu "


Sbastian naik dan tidur di atas ranjang Lion lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya


" Kenapa kakak menyembunyikan ini dari kami "


Lion berbicara namun tidak menoleh sama sekali


" Mama dan papa sebelum datangnya Sean , mereka memperlakukan kita bertiga sama saja , kakak di jadikan sebagai panutan yang baik , kamu di jadikan sebagai kakak yang baik untuk lili , dan lili di manja oleh mama selayaknya anak perempuan satu-satunya "


Sbastian tersenyum


" Apa maksudnya sejak kedatangan Sean "


Lion duduk dan menatap Sbastian meminta penjelasan


" Mama tidak tau bahwa putra kandung mama sudah tiada "

__ADS_1


Sbastian menatap lion


" Maksudnya aku punya kakak lain "


Lion mengerti maksud Sbastian


" Iya , dia juga laki-laki , umurnya sama dengan kakak , kata ayah umurnya hanya berbeda beberapa hari , namanya Leon "


Sbastian menarik turunkan alisnya


" Sama denganku "


Leon terkejut


" Yaps , tepat sekali "


Sbastian mengangguk


" Kenapa dia meninggal "


Leon mulai penasaran


" Dia meninggal karena kecelakaan "


Sbastian membuat Leon terkejut


" Kecelakaan itu membuat dia meninggal , mama waktu itu koma selama beberapa Minggu "


Sbastian memejamkan matanya


" Lalu , lalu apa yang terjadi , apa mama benar-benar tidak tau sampai sekarang dan bagaimana kakak tau semuanya "


Leon mengguncang Sbastian


" Iya iya "


Sbastian terkekeh kecil


" Waktu kakak berumur tujuh belas tahun , aku mendengar percakapan pak Sam dan papa "


Sbastian


" Apa yang mereka bilang "


Lion semakin penasaran


" Haruskah kakak bercerita "


Sbastian menaikkan alisnya


" Ayolah "


Leon memukul Sbastian


" Ini akan menjadi flashback kembali "


Sbastian melirik Leon


" Cepat "


Leon memukul Sbastian dengan bantal yang dia pegang


Flashback on


Sore hari yang sejuk setelah hujan turun melanda , papa Sbastian datang membawa beberapa oleh-oleh dari Tiongkok untuk Sbastian , hadiah karena rasa rindu seorang ayah kepada anaknya yang tidak bisa di kiaskan , namun sore itu Sbastian masih di kantor dan belum pulang


" Sam "


Papa duduk di bangku taman


" Iya tuan besar "


Pak Sam yang sedang menyiram tanaman kini menghampiri papa yang duduk sendiri


" Sekarang umur Sbastian sudah tujuh belas tahun , apa aku perlu berbicara padanya "


Papa menatap pak Sam seakan meminta jawaban


" Itu terserah tuan saja "


Pak Sam memberi pendapat


" Duduklah dulu "


Pak Sam menunjuk kursi di depannya


" Apa aku perlu , aku memperhatikan dirinya selama ini , aku juga menyembunyikan semuanya selama ini , dan dia tidak tau apapun , apa aku harus memberitahu semuanya "


Papa menyandarkan kepalanya di kursi taman


" Memberi tahu apa "


Papa mendengar seseorang bertanya


" Bagaimana pak Sam ini , memberi tahu tentang Sbastian bukanlah putra kandung kami "


Papa tidak sadar bahwa papa tidak berbicara dengan pak Sam


" Apa maksudnya "


Suara Sbastian yang terdengar berat membuat papa sadar bahwa dirinya tidak berbicara dengan pak Sam


" Sbastian "


Papa melihat ke belakang dan Sbastian ada di sana , berdiri dengan nafas yang memburu di iringi manik mata yang berkilau , itu siap tumpah kapan saja


" Maksud papa aku bukan anak kandung papa "


Sbastian menggenggam erat tas ransel yang masih di bawanya


" Apa karena itu papa dan mama tidak memperhatikan aku "


Sbastian menatap papanya tajam


" Bukan seperti itu "


Papa berdiri


" Aku bukan anak papa "


Sbastian melemparkan tas miliknya yang berisi berkas-berkas kantor , laptop dan beberapa berkas penting ke dalam kolam


" Sbastian "


" Tunggu... Sbastian "


Papa berlari saat melihat Sbastian yang sudah meraih jaket dan kunci mobilnya


" Sbastian tunggu "


Teriakan papa tidak di hiraukan sama sekali oleh Sbastian


" TIAN BERHENTI DI SITU "


Suara pak Sam menggelegar di seluruh ruangan


Sbastian berhenti , menggenggam erat jaket miliknya , kakinya kembali melangkah , tangannya sudah memegang gagang pintu namun suara pak Sam kembali bergaung di telinganya


" JIKA BERANI KELUAR , KAMU TIDAK AKAN PERNAH MELIHAT AYAH DI SINI , AYAH AKAN MENINGGALKANMU , AYAH AKAN KEMBALI KE RUMAH AYAH SENDIRI "


Pak Sam mengancam , dan itu berhasil , Sbastian menjatuhkan jaket dan kunci mobilnya lalu berbalik , berlari melalui papa dan pak Sam , Sbastian pergi ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras


" Terimakasih Sam , perkataanmu lebih di dengarkan olehnya "


Papa memijat keningnya


" Aku akan berbicara dengannya "


Papa meninggalkan pak Sam dan berjalan menuju tangga yang amat panjang menuju kamar Sbastian di lantai dua


*Tok..tok..tok


Papa mengetuk pintu kamar Sbastian


" Sbastian , papa mau bicara denganmu "


Papa mengetuk sekali lagi namun tidak ada sahutan dari dalam


*Cklek


Pintu terbuka dan papa tersenyum


" Sbastian "


Papa masuk dan melihat Sbastian masuk ke dalam kamar mandi


" Masih sama , saat merajuk pasti masuk ke kamar mandi "


Papa tersenyum dan berjalan duduk di sofa


Tidak lama Sbastian keluar , terlihat dia baru saja selesai mandi , rambutnya basah dan Sbastian hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih


" Kemarilah "


Papa melambaikan tangannya


" Hei.. papa mau bicara "


Papa membuat suaranya selembut mungkin agar Sbastian mendengarkan meski itu tidak mempan


" Papa mau memberitahu sesuatu tentang mama "


Kalimat papa berhasil membuat Sbastian menoleh


" Apa "


Sbastian hanya melirik papanya


" Mama punya sebuah penyakit "


Kalimat yang papa ucapkan membuat Sbastian terkejut bukan main


" Penyakit apa "


Sbastian menoleh


" Duduklah dulu "


Pak Sam menepuk sofa di sebelahnya


" Baik "


Sbastian berjalan dengan gontai , duduk di sebelah papa namun agak jauh , itu membuat papa tersenyum lembut


" mama punya penyakit jantung "


Papa membuat Sbastian terbelalak


" Maksud papa apa "


Sbastian menatap papanya dan duduk lebih dekat


" Dulu , sebelum kamu di sini , mama mengalami kecelakaan "


Papa mulai bercerita


" Mama kecelakaan saat usia kandungan anak pertama kami masih delapan bulan , mama keguguran , mama harus di operasi dan setelah operasi mama koma selama beberapa Minggu , kata dokter mama juga memiliki riwayat jantung , dokter bilang , jika mama tau bahwa putra pertamanya tidak ada , itu akan mempengaruhi jantung dan kesehatan mama "


Papa membelai kepala Sbastian


" Lalu apa yang papa lakukan "


Sbastian mendengarkan dengan seksama jika itu menyangkut mamanya


" papa sangat terpukul , di satu sisi papa telah kehilangan Leon , calon putra pertama kami , dia sangat mirip dengan si kembar , di sisi yang lain , papa takut akan terjadi sesuatu kepada mama jika mama tau tentang putranya "


Papa berhenti sejenak


" Karena papa sangat gelisah waktu itu , papa pergi ke pantai , di pantai adalah tempat yang tepat untuk melepas semua beban , papa menyusuri pasir pantai dan.."


Belum selesai papa bercerita Sbastian menyela


" papa menemukanku di sana "


Sbastian menebak


" Iya , papa melihatmu terdampar , kamu masih bayi waktu itu , kamu terkena dehidrasi dan terlalu banyak menelan air laut , papa berlari membawamu ke rumah sakit , papa membawamu ke dalam IGD , kamu di sana selama lima jam , hingga papa mengabaikan mama yang belum sadar "


Papa tersenyum mengingat pertama kali dirinya menggendong seorang bayi


" Kamu di sana hingga seorang dokter keluar , dia bilang kamu sudah ada di ruang bayi , papa berlari melihat kamu di sana dengan beberapa alat kedokteran yang masih melekat di tubuhmu , papa bersyukur kamu selamat "


Papa tersenyum

__ADS_1


" Itu mama sudah berapa hari koma "


Sbastian duduk bersila


" Mama sudah tiga Minggu koma , dan saat itu juga ada perawat yang datang dan bilang bahwa mama sudah sadar , papa berlari menuju kamar rawat mama , dan tidak lupa papa memerintahkan asisten papa untuk ada di sisimu sampai papa kembali "


Saat papa ingin melanjutkan kalimatnya Sbastian menyela


" Apa asisten papa ada bersama papa sejak awal "


Sbastian menyela


" Iya , hanya kami berdua yang tau bahwa kamu bukan putra mama dan papa , setelah itu saat papa ada di ruangan mama , papa melihat mama yang sudah berlinang air mata memegangi perutnya yang sudah datar , papa segera menenangkan mama dan bilang bahwa putranya selamat , dia ada di ruang rawat anak sekarang , setelah papa mengatakan itu mamamu berhenti menangis dan ingin segera melihatmu , tentu saja papa terkejut , mamamu belum sembuh sepenuhnya dan ingin berjalan sendiri ke ruanganmu "


Papa terkekeh saat mengingat air mata mama yang langsung mengering


" Lalu... Apa mama tidak merasa aneh "


Sbastian memegang lengan papanya


" Tidak , papa membuat kebohongan sedikit demi membuat mamamu bahagia , setelah keluar dari rumah sakit , mama selalu membawamu kemanapun dia pergi , memamerkan ketanpananmu kepada setiap orang yang lewat di depannya , apalagi saat si kembar lahir , kebahagiaan mamamu berlipat ganda "


Papa sedikit terkekeh


" Lalu... Apa yang terjadi saat mama tau liona sakit "


Sbastian mengguncang papanya


" Mamamu tidak sedih sama sekali , mamamu bertekad untuk menyembuhkan liona apapun yang terjadi , mamamu merasa lengkap , ada kamu sebagai panutan untuk adik adikmu , ada lion sebagai kakak yang akan menjaga liona kemanapun dan ada lion yang akan selalu menjadi kesayangan mama dan papa , putri tunggal mama , mama sangat menyayangi kalian bertiga , mamamu tidak pernah membedakan antara kalian satu sama lain , dan alasan mamamu tidak bersedih karena liona adalah kamu , mamamu berfikir kamu masih membutuhkan kasih sayang mama , jadi mama akan sekuat tenaga tidak menunjukkan kesedihannya di depan anak anaknya "


Papa terkekeh kecil mengingat keegoisan mama yang sangat baik menurutnya


" ingat Sbastian , papa akan selalu menyayangimu , apalagi mama , tapi jangan beritahu mama ya , papa tidak ingin mama kenapa-kenapa "


Papa membelai rambut Sbastian


" Maaf ya pa , Sbastian janji akan selalu menurut apa kata mama dan Sbastian akan selalu patuh kepada mama "


Sbastian menunjukkan jari kelingkingnya


" Janji ya "


Papa menautkan jari kelingkingnya


" Janji janji "


Sbastian tertawa


" Kamu harapan papa "


Papa mencium kening Sbastian


" Oh ya , apa papa sudah makan , ayo kita makan siang "


Sbastian menarik papanya keluar ruangan menuju lantai bawah , saat akan sampai di dapur , suara anak kecil membuat Sbastian menoleh


" Mama "


Sbastian tersenyum dan berlari menyambut mamanya dan kedua adiknya yang baru sampai di pintu masuk


" Wah.... Anak mama sudah besar "


Mama mencium kening Sbastian


" Kemarikan adik adik ma "


Sbastian mengambil liona dan lion dari gendongan mamanya


Flashback off


" Jadi... Mama tidak tau sama sekali "


Leon menebak


" Sama sekali , jangan beritahu mama dan liona ya , ini cukup menjadi rahasia kita "


Sbastian membelai rambut lion


" Tidurlah sudah malam "


Sbastian berdiri dan meninggalkan kamar


Sbastian menutup pintu dan berjalan ke arah kamarnya


" Dimana anak-anak "


Suara Mama membuat Sbastian terkejut


" Mama "


Sbastian tersenyum dan menuruni tangga , Sbastian mencium punggung tangan mama dan papa yang saat itu sepertinya baru sampai


" Dimana adikmu "


Mama bertanya dengan lembut , seakan melupakan semua kebenciannya terhadap Sean yang menurutnya hanya menjadi beban


" Sedang tidur , apa mama mau tidur dengan liona malam ini , biar papa tidur dengan Leon atau Sbastian "


Sbastian merangkul mamanya


" Mama mau sama liona saja , mana anak gadis mama "


Mama membalas pelukan Sbastian


" Mama "


Suara Leon membuat mereka menoleh


" Mama "


Leon menuruni tangga dengan cepat dan langsung memeluk mamanya


" Wah... Anak mama belum tidur , kenapa belum tidur "


Mama mengusap kepala Leon


" Mama , aku kan udah SMP kelas tiga , aku bukan anak kecil "


Leon menghentakkan kakinya kesal


" Hahaha "


Sbastian dan papa tertawa


" Au ah , aku marah sama mama "


Leon melipat tangannya di atas dada


" Dasar anak kecil "


Sbastian menggosok kuat kepala Leon


" Sakit kak "


Leon memukul lengan Sbastian


" Sudah sudah ini sudah malam , mama akan tidur dengan liona "


Mama berjalan terlebih dahulu ke dalam kamar liona


" Ayo Sbastian papa mau bicara soal perusahaan "


Papa menarik Sbastian dan Leon ke dalam kamar Sbastian


Setelah sampai di dalam kamar , Sbastian menutup pintu dan papa Sbastian duduk di tepi ranjang


" Papa merasa Sean benar-benar mirip dengan mu "


Papa menatap Sean tajam


" Mereka bilang juga begitu , kata ayah karena aku sering bertukar nafas dengan Sean saat tidur , itu membuatnya mirip denganku "


Sbastian duduk di samping ayah


" Bukankah dia memang mirip kakak "


Leon menyisihkan bantal di punggung Sean dan tiduran di sana


" Memang , kakak juga heran , sampai sekarang kakak masih belum menemukan dimana keluarganya tinggal , aku benar-benar merasa ada yang janggal tentang ini "


Sbastian membenarkan selimut Sean


" Oh ya pa "


Leon membuat Sbastian dan papa menoleh


" Apa Leon "


Papa bertanya karena Leon tidak kunjung mengeluarkan suara


" Ngak jadi deh "


Leon memeluk Sean dan boneka besar Sean


" Papaaaaa panas ah "


Sean tanpa membuka matanya menendang Leon menjauh


*Bug


Leon mengambil dan membuang boneka Sean menjauh


" Papaa"


Sean membuka matanya dan melihat papanya duduk di sampingnya dengan kakeknya


" Papa "


Sean menatap papanya dengan mata yang setengah terpejam


" Kak Leon "


Sean terkejut saat melihat Leon memejamkan matanya di sebelahnya


" KAKAK JAHAT "


Sean berteriak sambil menendang nendang Leon


" Pergi ah , Sean mau tidur , mana bubu Sean "


Sean berdiri dengan gontai mencari bonekanya yang ada di lantai


" Bubu jauhnya kamu "


Sean berjalan dengan gontai menuju boneka Lumba-lumba miliknya


Sean turun dari atas tempat tidur lalu menyeret bonekanya pergi


" Kemana dek "


Sbastian berdiri


" Ada kak Leon , Sean ngak bisa tidur , nanti bubu Sean di makan sama kak Leon "


Sean menjawab dengan setengah sadar


Sean berjalan sambil menyeret boneka Lumba-lumba miliknya yang benar-benar besar


*Brak


Sean menabrak pintu kamar dan langsung duduk di atas lumba-lumbanya


" Hahaha "


Leon tertawa terbahak-bahak melihat Sean yang terduduk dan terjatuh ke belakang sedangkan Sbastian berlari dan berlutut di samping Sean


" Apa yang sakit "


Sbastian mendudukkan Sean yang terlentang dengan kakinya yang ada di atas kepala lumba-lumba dan kepalanya di bawah


" Sakit.. "


Sean memegangi keningnya yang memerah


*Cling


Kilauan air mata Sena mulai terlihat


" Papa.. Hiks sakit.. huaaa "


" Ouch... Anak papa cup cup anak tampan ngak boleh nangis "


Sbastian menggendong Sean dan menepuk-nepuk punggung Sean pelan

__ADS_1


__ADS_2