Aku Pangeran

Aku Pangeran
#38 { tidak bangun }


__ADS_3

" Nak... Tunggu sebentar sayang "


Sesampainya di rumah sakit Sbastian berlari keluar dari mobil langsung menuju meja resepsionis


" Dimana dokter aga "


Sbastian bertanya kepada salah satu resepsionis di sana menggunakan bahasa Jerman


" Di ruangannya tuan "


Resepsionis itu memberitahu


Tanpa permisi Sbastian berlari menuju ruangan dokter aga dan langsung membuka pintu tanpa permisi


" Siapa "


Dokter aga terkejut karena Sbastian menerobos masuk dengan dengan nafas yang memburu


" Tolong putraku "


Sbastian menatap dokter aga


" Baik tuan "


Dokter aga yang masih terkejut mengambil alih Sean yang ada di dalam gendongan Sbastian dan langsung masuk ke dalam IGD dan di ikuti oleh Sbastian , tidak lama masuklah beberapa perawat dan dokter spesialis anak dengan tergesa-gesa


Tidak lama setelah itu menyusullah supir Sbastian yang tadi di tinggalkannya di depan rumah sakit


" Tuan "


Pak supir membungkuk hormat


" Paman tolong pulang dan bilang pada Yuka untuk mengemas beberapa pakaian Sean dan pakaian saya lalu antarkan kemari "


Sbastian berbicara dengan cepat


" Saya mengerti tuan... Saya permisi "


Pak supir membungkuk hormat lalu melangkah pergi dari rumah sakit


Sbastian mondar mandir menunggu siapapun keluar dari ruangan


" Lindungilah anak ku ya Allah "


Sbastian bersandar di dinding sambil mengusap wajahnya dengan kasar


Sbastian sudah lima belas menit berdiri di samping pintu IGD dengan hati yang berdebar kencang , khawatir terjadi sesuatu pada putranya


" Jangan kamu menjemput bundamu nak"


Sbastian mengusap ujung matanya yang sudah siap untuk menetes


Setengah jam sudah Sbastian mondar mandir di depan pintu ruang IGD hingga pak Sam dan asisten John menghampiri


" Ada apa dengan Sean "


Pak Sam bertanya dengan panik


" Aku tidak tau , sudah setengah jam mereka di dalam dan tidak ada yang keluar"


Sbastian mencengkram rambutnya frustasi


" Tenanglah nak "


Pak Sam menuntun Sbastian duduk di bangku tunggu sambil menenangkannya


" Ini tuan "


Asisten John memberikan sendal untuk Sbastian


" Terimakasih "


Sbastian memakai sendal namun hatinya tidak bisa tenang


Tangan Sbastian meremas tangannya yang lain dan kakinya bergetar


Tidak lama dokter aga keluar dari ruangan dan langsung di sambut oleh Sbastian


" Bagaimana putraku "


Sbastian berlari mendekat


" Tuan muda tidak apa-apa , hanya saja trombositnya turun , tuan muda harus makan dengan teratur , tuan muda akan saya pindahkan ke lantai atas , anda bisa langsung kesana , saya permisi "


Dokter aga membungkuk dan berlalu pergi


" Alhamdulillah "


Sbastian langsung terduduk lemas di lantai dan tidak lama terdengar isakan kecil dari Sbastian


" Nak "


Pak Sam memeluk Sbastian dan Sbastian membalas pelukan itu dengan hangat


" Aku takut ayah...hiks..."


Sbastian makin erat memeluk pak Sam dan menenggelamkan wajahnya di pundak pak Sam


" Iya nak.. iya "


Pak Sam mengelus punggung Sbastian dengan sayang


" Ayo kita ke putraku "


Sbastian melepaskan pelukannya lalu berdiri di bantu oleh asisten John


Setelah sampai di lantai atas di dalam kamar Sean , Sbastian menghampiri Sean yang terlihat sangat pucat lalu mengusap keningnya

__ADS_1


" Papa sangat khawatir sayang "


Sbastian mencium kening Sean dengan sayang


Tidak lama setelah itu Sean tersadar


" Dimana ini "


Sean membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya tidak ada di rumahnya


" Kenapa aku di sini "


Sean duduk dan melihat sekitar


" Apaan.... Di mana papa "


Sean duduk celingukan mencari papanya


" Ini bukan kamar "


Sean berdiri dan berjalan sambil mengamati sekeliling


Tanah lapang yang luas dan indah yang penuhi bunga-bunga liar berwarna-warni


" Kenapa aku merinding ya "


Sean mengusap tengkuknya yang terasa dingin


" Halo "


Sebuah suara menyapa Sean dari arah belakang dan membuat Sean terkejut


" Makhluk apa lagi nih "


Sean menatap makhluk besar itu dengan intens


" Hahaha.... Aku ingin membawa siapapun untuk ku jadikan makanan.... Tapi siapa sangka anak kecil sepertimu yang tersedot ke dalam dimensiku hahahaha.... "


Makhluk besar itu tertawa terbahak-bahak melihat Sean kecil


" Kamu gila ya "


Sean keceplosan dan langsung menutup mulutnya


" Apa kamu bilang "


Makhluk itu mendekatkan wajahnya kepada Sean


" Hahahaha "


Sean tertawa dengan suara khas anak kecil saat merasakan hembusan angin dari hidung monster besar itu


" Kenapa kamu tertawa "


Makhluk itu menjauhkan kepalanya


" Kamu lucu "


" Kamu tidak takut padaku "


Suara makhluk itu menggelegar


" Untuk apa takut "


Sean menjawab pertanyaan dengan pertanyaan


" Biasanya.... Orang yang masuk ke sini akan langsung berlari menjauh ketika melakukan hat diriku yang seram dan kuat ini , lihatlah ototku "


Makhluk itu menunjukkan barisan ototnya yang ada di sekujur tubuhnya


" Itu ngak keren.... itu.... "


Sean menatap makhluk itu sinis


" Itu apa "


Makhluk itu memajukan wajahnya mendekati Sean


" Ngak ... Ngak papa "


Sean mengalihkan pandangannya melihat Padang bunga yang indah


" Itu menjijikkan "


Sean berbicara dalam hati


" Apa ini semua kamu yang tanam "


Sean bertanya dengan penasaran


" Tidak "


Makhluk itu menjawab


" Lalu siapa yang menanam "


Sean menaikkan alisnya


" Hahahaha "


Tawa makhluk itu menggelegar hingga membuat Sean menutup telinganya


" Kamu itu tidak seperti anak kecil pada umumnya "


Mahluk itu menundukkan kepalanya


" Maksudnya "

__ADS_1


Sean menatap mata makhluk itu yang sepuluh kali lipat lebih sebesar dari tubuhnya


" Hehehe memang kamu bisa melihatku jika aku ada di bawah matamu"


Sean tertawa kikuk


" Aku tidak melihatmu... Aku melihat ke depan , jika aku melihatmu seperti ini , rasanya seperti melihat seekor burung kecil yang tiba-tiba melintas di depan mataku "


Makhluk itu menggumam tidak jelas


" Kamu tidak jadi memakanku "


Sean bertanya dan membuat makhluk itu terkejut


" Kamu mau benar-benar mati ya hahaha"


Makhluk itu sedikit tertawa


" Jika kamu memakanku... Maka aku bisa membunuhmu dari dalam tubuhmu "


Sean berbicara dengan santai


" Hahahaha cuma kamu yang bisa membuatku tertawa setelah sekian lama anak kecil "


Makhluk itu mengangkat kepalanya dari tanah


" Bisakah kamu berdiri "


Sean menatap makhluk itu yang sedang mengangkat kepalanya


" Kamu mau lihat "


Makhluk itu melihat Sean


" Mau "


Jawab Sean dengan antusias


" Baiklah "


Makhluk itu berdiri perlahan


" Woah..... "


Sean terkejut bukan main , makhluk itu saat berdiri kepalanya tidak terlihat bahkan hanya terlihat kakinya


" Sean hanya sebesar kuku kakinya "


Sean melihat kuku kaki makhluk itu yang sebesar dirinya


" Makhluk apa dia "


Sean menggumam


" Naiklah "


Makhluk itu menurunkan ekornya


" Baiklah "


Sean naik ke atas ekor bersisik itu dan memegangi sisik hewan itu agar tidak terjatuh


" Apa kau sudah naik... Aku akan mengangkatnya "


Makhluk itu menunggu beberapa saat karena tidak bisa mendengar suara Sean


" Aku naikkan ekorku "


Makhluk itu kembali berbicara lalu mengangkat ekornya yang di tunggangi oleh Sean


" Woah..... "


Sean ternganga melihat bahwa dunia itu di penuhi dengan banyak bunga warna-warni


Makhluk itu mendekatkan ekornya ke samping telinganya agar bisa mendengar manusia kecil yang duduk di ekornya jika saja dia berbicara


" Kenapa gunungnya cuma setengah "


Sean melihat gunung dan sekitarnya yang terlihat memiliki garis tepi


" Itu batas dunia ini... Ini bukanlah dunia asli , ini hanyalah dunia buatan dari energi tuanku yang terdahulu "


Makhluk itu memberitahu


" Siapa tuan mu "


Sean berbicara dengan berteriak


" Tuanku sudah lama meninggal "


Makhluk itu menjawab dengan sedih


" Ouh.... Maafkan aku "


Sean mengelus kepala makhluk itu yang mampu di jangkaunya


*Deg...*


Makhluk besar itu seketika menjatuhkan Sean dari ekornya


" PAPAAAAAA "


Sean berteriak dengan keras hingga membuat makhluk besar itu terkejut


" Astaga "


Makhluk itu mencoba menangkap Sean namun Sean jatuh melewati sela-sela jarinya

__ADS_1


" PAPAAAAA "


Sean berteriak semakin keras


__ADS_2