Aku Pangeran

Aku Pangeran
#53 ( pulang ke Indonesia )


__ADS_3

Dua tahun sudah Sean tinggal di negara Swiss , kini Sbastian membawa Sean untuk bersiap karena mereka kembali ke Indonesia di sebabkan pendidikan yang akan di tempuh oleh Sean di bangku SD akan di lakukan di Indonesia , dan itu adalah pilihan Sean sendiri


" Apa papa mau meninggalkan ibu guru Clara "


Sean yang mengikuti Sbastian yang sedang berjalan berputar putar mengemasi barang-barang yang ada di kamarnya


" Kau tau kan , dia sudah ada tunangan "


Sbastian berhenti sejenak dan menghadap Sean lalu kembali mengemas barang


" Oh... Ayolah papa , sebelum janur kuning melengkung tidak ada yang tidak bisa "


Sean menaikkan kedua alisnya


" Kau anak kecil "


Sbastian menatap sebentar lalu melanjutkan mengemas barang


" Ish.... Papa , ayolah pa , jangan gampang nyerah gitu "


Sean mengikuti papanya keluar kamar


" Dia udah punya tunangan tau "


Sbastian masuk ke dalam lift dan di ikuti Sean


" Pukul berapa ini "


Sbastian mencari hp nya


" Pukul sembilan "


Sean memberikan hp Sbastian


" Oh terimakasih "


Sbastian memasukkan hp nya ke dalam sakunya


*Ting


Lift terbuka


" Papa lemah ah , gitu aja nyerah "


Sean mengambil jas kantor kecil yang di bawakan oleh pelayan


" Terimakasih "


Sean memberikan senyum kecil


" Papa ngak lemah , papa cuma ngak mau ngerusak hubungan mereka yang mungkin udah bahagia "


Sbastian berhenti sejenak dan sedikit tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya


" Kalo gini ya papa ngak akan maju "


Sean terus mengikuti langkah besar papanya


" Yah... Biarlah "


Sbastian berhenti sejenak di meja makan dan mendudukkan Sean di atas kursi makan


" Ini susumu , habiskan "


Sbastian memberikan susu coklat kepada Sean dan meminum kopinya


" Terimakasih "


Sean mengembalikan gelasnya


" Sama-sama "


Sbastian meletakkan gelas di tempat cuci piring lalu menurunkan Sean dari kursi


" Lalu papa sekarang mau apa "


Sean mengembil tas kecil yang di berikan salah satu maid


" Mau pulang ke Indonesia dan menjalani hidup dengan tenang dan damai "


Sbastian melemparkan tas kantornya kepada asisten John dan kembali berputar putar di dalam rumah


" Ish... Sean kan mau nyantren , kalau Sean ke pondok pesantren nanti papa sama siapa "


Sean menghentakkan kakinya


" Papa sendiri bisa , setiap hari papa akan jenguk kamu "


Sbastian memberikan senyum manisnya


" Itu bukan nyantren namanya pa "


Sean memonyongkan bibirnya


" Yah.... Setidaknya lebih baik di Indonesia , papa tidak akan melihat Clara "


Sbastian mengedikkan bahunya


" Papa gimana sih , kalau cinta itu di perjuangkan pa , bukan di tinggalkan , siapa tau Bu guru Clara ngak suka sama tunangannya "


Sean memberikan pendapat


" Masuk akal , tapi terimakasih "


Sbastian menggendong Sean dan masuk ke dalam mobil


" Bunda sama adek dimana "


Sbastian mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil


" Ada di mobil satunya tuan muda "


Pak supir menjawab


" Ayah di mana ya "


Sbastian keluar dari mobil


" Salam tuan , pak Sam berpesan agar tuan melanjutkan perjalanan terlebih dahulu , nanti pak Sam akan menyusul bersama bi Aini "


Salah satu maid membungkuk hormat


" Oh , baiklah "


Sbastian kembali masuk ke dalam mobil


" Di mana kakek "

__ADS_1


Sean bertanya


" Masih kemas-kemas barang "


Sbastian duduk dengan tenang


" Oh.. "


Sean ber oh ria


Tidak lama mobil yang selalu di isi perdebatan antara Sbastian dan Sean , akhirnya sampai di bandara internasional Swiss


" Oh... Ayolah pa , Sean kan pengen makan cake buatan sendiri "


Sean mengikuti papanya keluar dari mobil


" Beli aja ngak ribet "


Sbastian menolak permintaan Sean


" Ih... Papa ngak seru , Sean minta cake ngak boleh , minta permen ngak boleh , minta coklat ngak boleh "


Sean menggerutu


" Gigimu itu udah berlubang anak nakal "


Sbastian berkacak pinggang di depan Sean yang melipat tangannya di atas dada


" Dikiiiit aja "


Sean merayu


" Ngak boleh , tadi pagi udah makan coklat satu kotak "


Sbastian memelototi Sean


" Papa.... Ish.. "


Sean menghentakkan kaki


" Adek "


Sean berlari ke arah asisten John yang baru sampai bersama istrinya dan putranya yang masih berusia dua tahun kurang


" tatak "


Putra asisten John turun dari gendongan bundanya dan berjalan menghampiri Sean


" Halo halo halo "


Sean menciumi pipi gembul adik kecilnya


" Ayo John , sebentar lagi pesawatnya lepas landas "


Sbastian menghampiri


" Masih tiga jam lagi tuan "


Asisten John membuka hp nya dan menunjukkan jadwal keberangkatan pesawat di undur


" Dari kapan ini di undur "


Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Sejak beberapa menit yang lalu , katanya ada kendala di cuaca "


Asisten John menunjukkan chatnya dengan pak pilot


Sbastian menatap langit yang terlihat awan hitam mulai berjejer rapih


" Sepertinya akan ada badai petir "


Pak Sam ikut bergabung


" Ayah , membuat Tian terkejut saja "


Sbastian mengelus dada


" Kamu saja yang mudah terkejut "


Pak Sam memukul kening Sbastian dan melaluinya


" Hei cucu cucu kakek , kakek bawa camilan nih , ayo ke sana "


Pak Sam menarik perhatian Sean dan putra asisten John


" Ayo adik kecil , kakek memanggil "


Sean menuntun wafaul fiqih menghampiri pak Sam yang membawa banyak camilan ringan


Wafaul fiqih , putra asisten John dan sitter azza , bocah laki-laki tampan dengan pipi sebesar gentong dan langkah kecilnya yang tidak bisa menyamai langkah Sean membuatnya menarik perhatian seluruh bandara , di tambah dia memakai baju hangat bertemakan beruang Grizzly dan penutup kepala yang terlalu besar , sepatunya berwarna hitam dan dia kemanapun selalu menenteng tas kecil bertemakan beruang salju yang berisikan mainan dan beberapa coklat koin kesukaannya


" Tatak atu ngak bisa epet-epet alannya "


( Kakak aku ngak bisa cepet-cepet jalannya)


Wafaul fiqih atau yang sering di panggil wafi mencoba mengikuti langkah Sean


" Tuan muda , maaf saya terlambat "


Mao menghampiri Sean sambil berlari


" Woah... Tatak macan epet ampe "


( Woah... Kakak macan cepet Sampek )


Wafi menghampiri Mao yang berjongkok di hadapan Sean


" Salam tuan muda wafi "


Mao menundukkan kepalanya


" Calam "


Wafi membungkukkan kepalanya sedikit hingga topi beruangnya jatuh menutupi kepalanya


" Hahahaha kamu lucu "


Sean membenarkan topi beruang wafi dan berjalan melalui Mao yang masih berjongkok di depannya


" Ayo wafi "


Sean mengimbangi langkah kaki wafi yang berjalan selangkah selangkah hingga membuat Sean kesal


" Jangan lama lama "


Sean menggendong wafi dan berjalan menuju pak Sam

__ADS_1


" Awas jatoh dek "


Pak Sam memperingatkan


" Kyahahaha tatak lagi lagi "


( Kyahahaha kakak lagi lagi )


Wafi yang sudah di turunkan menarik-narik lengan Sean


" Sudah , kakak capek "


Sean merangkak naik ke atas bangku tunggu


" Mau aik mau aik , kaya tak ean "


( Mau naik mau naik , kayak kak Sean )


Wafi menepuk-nepuk kaki kakek


" Iya-iya , ayo naik "


Pak Sam mendudukkan wafi di samping Sean dan memberinya camilan ringan sambil menunggu pesawat bisa landing kembali


" Ini bakal lama , kalian nikmati aja dulu "


Sbastian duduk di samping Sean dan di ikuti asisten John dan sitter azza di sampingnya


" Woah... Ujan "


Sean menunjuk ke arah tembok kaca bandara


" Iya iya ada ail Dali lanit , aila tilun didit didit "


( Iya iya ada air dari langit , air turun dikit dikit )


Wafi antusias melihat gerimis kecil yang mulai turun dan menjadi semakin deras hingga Guntur dan petir menyertai


" Kyaaaaa "


Wafi memeluk Sean saat semua lampu di bandara padam


" Ngak papa ngak papa "


Sean memeluk beruang Grizzly kecilnya yang terasa hangat


" Wafi ngak sa liat , tatak ean diana "


( Wafi ngak bisa liat , kakak Sean di mana )


Wafi berteriak-teriak


" Wafi itu peluk kakak , kalo wafi lepas kakak terus buka mata pasti keliatan "


Sean melepaskan wafi dan membuka paksa mata wafi


" Oh iya hehehehe "


Wafi terkekeh


" Anakmu tuh "


Sbastian memukul asisten John


" Yang nyiksa anakku tuh anakmu "


Asisten John mendelik


" Sudah sudah , sini wafi , bobok dulu "


Sitter azza mengambil wafi dari pelukan Sean


" Apa kakak juga mau tidur sama bunda "


Sitter azza menawari


" Sean mau sama papa aja , nanti kalau Sean sama bunda nanti adek ngak bisa tidur "


Sean tersenyum lebar


" Anak pandai "


Sbastian mengelus kepala Sean dan memberikan beberapa camilan


" Hehehehe "


Sean naik ke atas pangkuan Sbastian dan mulai makan makanan ringan bersama


" Tatak ean ndak tidul "


( Kakak Sean ngak tidur )


Wafi iri melihat Sean yang masih makan camilan


" Ka..kakak tidur "


Sean meletakkan camilannya dan bersandar di lengan Sbastian


" Tuh kakak tidur , adek tidur ya "


Sitter azza meninabobokan wafi


" Tatak tidul ya "


( Kakak tidur ya )


Wafi menatap bundanya


" Iya , sekarang wafi tidur ya "


Sitter azza duduk dan mengusap-usap punggung wafi


" Dah tidur "


Sbastian menepuk kepala Sean


" Mana pa cemilan Sean "


Sean meminta


" Ini , makan pelan-pelan "


Sbastian menyuapi Sean hingga menghabiskan dua bungkus makanan ringan


" Oh iya pa , Sean kapan berangkat ke pesantren "


Sean bertanya

__ADS_1


" Nanti , masih lama "


Sbastian memakan beberapa cemilan.


__ADS_2