
Dua tahun sudah Sean tinggal di negara Swiss , kini Sbastian membawa Sean untuk bersiap karena mereka kembali ke Indonesia di sebabkan pendidikan yang akan di tempuh oleh Sean di bangku SD akan di lakukan di Indonesia , dan itu adalah pilihan Sean sendiri
" Apa papa mau meninggalkan ibu guru Clara "
Sean yang mengikuti Sbastian yang sedang berjalan berputar putar mengemasi barang-barang yang ada di kamarnya
" Kau tau kan , dia sudah ada tunangan "
Sbastian berhenti sejenak dan menghadap Sean lalu kembali mengemas barang
" Oh... Ayolah papa , sebelum janur kuning melengkung tidak ada yang tidak bisa "
Sean menaikkan kedua alisnya
" Kau anak kecil "
Sbastian menatap sebentar lalu melanjutkan mengemas barang
" Ish.... Papa , ayolah pa , jangan gampang nyerah gitu "
Sean mengikuti papanya keluar kamar
" Dia udah punya tunangan tau "
Sbastian masuk ke dalam lift dan di ikuti Sean
" Pukul berapa ini "
Sbastian mencari hp nya
" Pukul sembilan "
Sean memberikan hp Sbastian
" Oh terimakasih "
Sbastian memasukkan hp nya ke dalam sakunya
*Ting
Lift terbuka
" Papa lemah ah , gitu aja nyerah "
Sean mengambil jas kantor kecil yang di bawakan oleh pelayan
" Terimakasih "
Sean memberikan senyum kecil
" Papa ngak lemah , papa cuma ngak mau ngerusak hubungan mereka yang mungkin udah bahagia "
Sbastian berhenti sejenak dan sedikit tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya
" Kalo gini ya papa ngak akan maju "
Sean terus mengikuti langkah besar papanya
" Yah... Biarlah "
Sbastian berhenti sejenak di meja makan dan mendudukkan Sean di atas kursi makan
" Ini susumu , habiskan "
Sbastian memberikan susu coklat kepada Sean dan meminum kopinya
" Terimakasih "
Sean mengembalikan gelasnya
" Sama-sama "
Sbastian meletakkan gelas di tempat cuci piring lalu menurunkan Sean dari kursi
" Lalu papa sekarang mau apa "
Sean mengembil tas kecil yang di berikan salah satu maid
" Mau pulang ke Indonesia dan menjalani hidup dengan tenang dan damai "
Sbastian melemparkan tas kantornya kepada asisten John dan kembali berputar putar di dalam rumah
" Ish... Sean kan mau nyantren , kalau Sean ke pondok pesantren nanti papa sama siapa "
Sean menghentakkan kakinya
" Papa sendiri bisa , setiap hari papa akan jenguk kamu "
Sbastian memberikan senyum manisnya
" Itu bukan nyantren namanya pa "
Sean memonyongkan bibirnya
" Yah.... Setidaknya lebih baik di Indonesia , papa tidak akan melihat Clara "
Sbastian mengedikkan bahunya
" Papa gimana sih , kalau cinta itu di perjuangkan pa , bukan di tinggalkan , siapa tau Bu guru Clara ngak suka sama tunangannya "
Sean memberikan pendapat
" Masuk akal , tapi terimakasih "
Sbastian menggendong Sean dan masuk ke dalam mobil
" Bunda sama adek dimana "
Sbastian mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil
" Ada di mobil satunya tuan muda "
Pak supir menjawab
" Ayah di mana ya "
Sbastian keluar dari mobil
" Salam tuan , pak Sam berpesan agar tuan melanjutkan perjalanan terlebih dahulu , nanti pak Sam akan menyusul bersama bi Aini "
Salah satu maid membungkuk hormat
" Oh , baiklah "
Sbastian kembali masuk ke dalam mobil
" Di mana kakek "
__ADS_1
Sean bertanya
" Masih kemas-kemas barang "
Sbastian duduk dengan tenang
" Oh.. "
Sean ber oh ria
Tidak lama mobil yang selalu di isi perdebatan antara Sbastian dan Sean , akhirnya sampai di bandara internasional Swiss
" Oh... Ayolah pa , Sean kan pengen makan cake buatan sendiri "
Sean mengikuti papanya keluar dari mobil
" Beli aja ngak ribet "
Sbastian menolak permintaan Sean
" Ih... Papa ngak seru , Sean minta cake ngak boleh , minta permen ngak boleh , minta coklat ngak boleh "
Sean menggerutu
" Gigimu itu udah berlubang anak nakal "
Sbastian berkacak pinggang di depan Sean yang melipat tangannya di atas dada
" Dikiiiit aja "
Sean merayu
" Ngak boleh , tadi pagi udah makan coklat satu kotak "
Sbastian memelototi Sean
" Papa.... Ish.. "
Sean menghentakkan kaki
" Adek "
Sean berlari ke arah asisten John yang baru sampai bersama istrinya dan putranya yang masih berusia dua tahun kurang
" tatak "
Putra asisten John turun dari gendongan bundanya dan berjalan menghampiri Sean
" Halo halo halo "
Sean menciumi pipi gembul adik kecilnya
" Ayo John , sebentar lagi pesawatnya lepas landas "
Sbastian menghampiri
" Masih tiga jam lagi tuan "
Asisten John membuka hp nya dan menunjukkan jadwal keberangkatan pesawat di undur
" Dari kapan ini di undur "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Sejak beberapa menit yang lalu , katanya ada kendala di cuaca "
Asisten John menunjukkan chatnya dengan pak pilot
Sbastian menatap langit yang terlihat awan hitam mulai berjejer rapih
" Sepertinya akan ada badai petir "
Pak Sam ikut bergabung
" Ayah , membuat Tian terkejut saja "
Sbastian mengelus dada
" Kamu saja yang mudah terkejut "
Pak Sam memukul kening Sbastian dan melaluinya
" Hei cucu cucu kakek , kakek bawa camilan nih , ayo ke sana "
Pak Sam menarik perhatian Sean dan putra asisten John
" Ayo adik kecil , kakek memanggil "
Sean menuntun wafaul fiqih menghampiri pak Sam yang membawa banyak camilan ringan
Wafaul fiqih , putra asisten John dan sitter azza , bocah laki-laki tampan dengan pipi sebesar gentong dan langkah kecilnya yang tidak bisa menyamai langkah Sean membuatnya menarik perhatian seluruh bandara , di tambah dia memakai baju hangat bertemakan beruang Grizzly dan penutup kepala yang terlalu besar , sepatunya berwarna hitam dan dia kemanapun selalu menenteng tas kecil bertemakan beruang salju yang berisikan mainan dan beberapa coklat koin kesukaannya
" Tatak atu ngak bisa epet-epet alannya "
( Kakak aku ngak bisa cepet-cepet jalannya)
Wafaul fiqih atau yang sering di panggil wafi mencoba mengikuti langkah Sean
" Tuan muda , maaf saya terlambat "
Mao menghampiri Sean sambil berlari
" Woah... Tatak macan epet ampe "
( Woah... Kakak macan cepet Sampek )
Wafi menghampiri Mao yang berjongkok di hadapan Sean
" Salam tuan muda wafi "
Mao menundukkan kepalanya
" Calam "
Wafi membungkukkan kepalanya sedikit hingga topi beruangnya jatuh menutupi kepalanya
" Hahahaha kamu lucu "
Sean membenarkan topi beruang wafi dan berjalan melalui Mao yang masih berjongkok di depannya
" Ayo wafi "
Sean mengimbangi langkah kaki wafi yang berjalan selangkah selangkah hingga membuat Sean kesal
" Jangan lama lama "
Sean menggendong wafi dan berjalan menuju pak Sam
__ADS_1
" Awas jatoh dek "
Pak Sam memperingatkan
" Kyahahaha tatak lagi lagi "
( Kyahahaha kakak lagi lagi )
Wafi yang sudah di turunkan menarik-narik lengan Sean
" Sudah , kakak capek "
Sean merangkak naik ke atas bangku tunggu
" Mau aik mau aik , kaya tak ean "
( Mau naik mau naik , kayak kak Sean )
Wafi menepuk-nepuk kaki kakek
" Iya-iya , ayo naik "
Pak Sam mendudukkan wafi di samping Sean dan memberinya camilan ringan sambil menunggu pesawat bisa landing kembali
" Ini bakal lama , kalian nikmati aja dulu "
Sbastian duduk di samping Sean dan di ikuti asisten John dan sitter azza di sampingnya
" Woah... Ujan "
Sean menunjuk ke arah tembok kaca bandara
" Iya iya ada ail Dali lanit , aila tilun didit didit "
( Iya iya ada air dari langit , air turun dikit dikit )
Wafi antusias melihat gerimis kecil yang mulai turun dan menjadi semakin deras hingga Guntur dan petir menyertai
" Kyaaaaa "
Wafi memeluk Sean saat semua lampu di bandara padam
" Ngak papa ngak papa "
Sean memeluk beruang Grizzly kecilnya yang terasa hangat
" Wafi ngak sa liat , tatak ean diana "
( Wafi ngak bisa liat , kakak Sean di mana )
Wafi berteriak-teriak
" Wafi itu peluk kakak , kalo wafi lepas kakak terus buka mata pasti keliatan "
Sean melepaskan wafi dan membuka paksa mata wafi
" Oh iya hehehehe "
Wafi terkekeh
" Anakmu tuh "
Sbastian memukul asisten John
" Yang nyiksa anakku tuh anakmu "
Asisten John mendelik
" Sudah sudah , sini wafi , bobok dulu "
Sitter azza mengambil wafi dari pelukan Sean
" Apa kakak juga mau tidur sama bunda "
Sitter azza menawari
" Sean mau sama papa aja , nanti kalau Sean sama bunda nanti adek ngak bisa tidur "
Sean tersenyum lebar
" Anak pandai "
Sbastian mengelus kepala Sean dan memberikan beberapa camilan
" Hehehehe "
Sean naik ke atas pangkuan Sbastian dan mulai makan makanan ringan bersama
" Tatak ean ndak tidul "
( Kakak Sean ngak tidur )
Wafi iri melihat Sean yang masih makan camilan
" Ka..kakak tidur "
Sean meletakkan camilannya dan bersandar di lengan Sbastian
" Tuh kakak tidur , adek tidur ya "
Sitter azza meninabobokan wafi
" Tatak tidul ya "
( Kakak tidur ya )
Wafi menatap bundanya
" Iya , sekarang wafi tidur ya "
Sitter azza duduk dan mengusap-usap punggung wafi
" Dah tidur "
Sbastian menepuk kepala Sean
" Mana pa cemilan Sean "
Sean meminta
" Ini , makan pelan-pelan "
Sbastian menyuapi Sean hingga menghabiskan dua bungkus makanan ringan
" Oh iya pa , Sean kapan berangkat ke pesantren "
Sean bertanya
__ADS_1
" Nanti , masih lama "
Sbastian memakan beberapa cemilan.