Aku Pangeran

Aku Pangeran
#82 ( kekhawatiran papa )


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit , terlihat Mao sudah berdiri di pintu masuk


" Nona Mao "


Diablo menghampiri Mao


" dimana tuan muda Sean "


Mao langsung bertanya


" Di mobil kedua "


Diablo menunjuk mobil hitam setelah mobil yang dia tumpangi tadi


" Terimakasih "


Tanpa basa-basi lagi , Mao membuka pintu mobil yang Sean tumpangi


" Astaga tuan muda , kenapa anda tidak memberitahu saya "


Mao langsung membawa Sean ke dalam gendongannya


" Bintang "


Sean menunjuk mobil setelahnya


" Baiklah "


Mao membawa bintang ke dalam gendongannya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit , setelah itu, jasad pak supir di bawa ke ruang otopsi untuk di otopsi oleh dokter dokter lainnya


" Kita kemana Mao "


Sean bertanya


" Kita ke ruangan atas , anda akan saya periksa "


Mao membawa Sean menuju lantai atas dan meletakkan Mao dan bintang di kamar rawat khusus untuk keluarga


Di pintu masuk utama rumah sakit


" maaf , apa anda tuan Sbastian "


Diablo menghentikan Sbastian yang tiba bersama Rudi


" Ya , aku Sbastian , dimana putraku "


Sbastian langsung bertanya


" Anda sebaiknya istirahat dulu , anda terlihat pucat "


Diablo terlihat mengkhawatirkan Sbastian yang terlihat sangat pucat dan bergetar hebat


" KAMU TAU INI ANAKKU , KAMU MENYURUHKU ISTIRAHAT , DIAMANA SEAN "


Sbastian berteriak di depan Diablo


" Tenanglah tuan ini rumah sakit "


Aloe dan Rudi menenangkan Sbastian


Rudi terlihat tenang karena sudah di kabari bahwa putrinya baik-baik saja tanpa luka gores sedikitpun , sedangkan Sbastian yang tidak mendengarkan dengan seksama dan hanya mendengar bahwa putranya kecelakaan , langsung saja menjatuhkan telfonnya dan menggeret Aloe menuju rumah sakit


" Tuan Sean baik-baik saja , tuan Sean tidak terluka anda tenanglah "


Diablo membawa Sbastian untuk duduk


" Tidak mungkin , kecelakaan itu... "


Suara Sbastian terdengar lirih


" Kepalaku "


Sbastian memegangi kepalanya dan nafasnya menjadi tidak teratur


" Nanti saya jelaskan tentang kecelakaan itu"


Diablo menenangkan Sbastian


" Tuan Sean tidak terluka sedikitpun , minumlah tuan "


Diablo memberikan satu botol air mineral kepada Sbastian namun Sbastian hanya sibuk dengan kepalanya


" Tuan Sean ada di ruang rawat lantai atas , saya akan membawa anda kesana , anda jangan panik dulu , tenangkanlah diri anda "


Setelah Diablo berbicara seperti itu , Sbastian mulai memejamkan matanya


" Kepalaku pusing sekali "


Sbastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tunggu


Setelah beberapa saat Sbastian membuka matanya


" Bawa aku ke Sean "


Sbastian mencoba berdiri


" Hati-hati tuan "


Aloe dan Rudi membantu Sbastian berdiri di ikuti Diablo


" Saya ambilkan kursi roda ya "


Aloe menawari


" Tidak , itu akan lama , aku ingin segera menemui Sean "


Sbastian menolak


Sbastian di papah menuju lift hingga lantai atas dimana Sean di rawat


*Cklek


Pintu terbuka dan terlihat Sean juga bintang sedang tertidur di sana dengan posisi saling membelakangi


" Sean "


Sbastian melepaskan genggaman tangan Aloe dan Rudi


Rudi menghampiri bintang yang terlihat tidur dengan nyenyak


" Sayang "


Sbastian menciumi seluruh wajah Sean hingga membuat Sean terbangun


" Apa yang terjadi denganmu "


Sbastian memeluk Sean


" Papa Sean takut "


Sean memeluk Sbastian


" Tidak apa , papa di sini "


Sbastian memeluk Sean dengan erat


" Papa kenapa "


Sean melepaskan pelukannya


" Tubuh papa pasti lemas , iya kan , papa sakit kan "


Sean mengguncang Sbastian


" Biarkan papa berbaring sebentar , badan papa lemas sekali "


Sbastian menaikkan kakinya dan berbaring sambil memeluk Sean


" Mao papaku kenapa "


Sean memanggil


" Permisi tuan "


Mao memeriksa Sbastian


" Tuan syok dan itu membuat tubuhnya langsung lemas , tuan akan pulih sebentar lagi "


Mao menenangkan Sean


" Makasih Mao "


Sean tersenyum


" Apa yang terjadi "


Rudi mengusap kepala bintang


" Ini rencana dari tuan besar kami "


Diablo membuat Sbastian terbangun


" Maksudnya "


Sbastian terkejut


" Saya pagi pagi sekali di telfon oleh tuan besar kami "


Diablo duduk di sofa di ikuti oleh Ariana


" Tuan besar memerintahkan kepada saya untuk memantau tuan muda mulai pagi hari hingga saat ini , tuan besar bilang bahwa akan ada sesuatu yang menimpa tuan muda pagi ini "


Diablo menjelaskan


" Tuan besar berpesan kepada saya bahwa saya harus menjaga tuan Sean hingga perintah di tarik langsung oleh tuan besar , tuan besar bilang preoritas utama kami adalah tuan Sbastian dan nona Aniel "


Diablo membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Memangnya siapa tuan besarmu itu "


Sbastian bertanya


" Kami tidak tau "


Diablo membuat Sbastian terkejut


" Tuan kami sungguh misterius , namun kami sangat menghormatinya , kami di perintahkan langsung oleh tuan besar kami untuk selalu ada di samping tuan Sbastian dan nona Aniel "


Diablo membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Kenapa tidak Sean "


Sbastian menatap Diablo dengan sedikit tatapan tidak suka


" Tuan besar kami bilang bahwa beliau mendatangkan seseorang untuk melindungi tuan Sean dalam pantauan bayangan , karena kegiatan tuan Sean di luar ruangan yang semakin banyak "


Diablo menjelaskan


" Papa "


Sean menarik lengan Sbastian


" Kenapa "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Sean mau bab , perutnya sakit "


Sean memegangi perutnya


" Ayo sama papa "


Sbastian menggendong Sean dan membawa Sean menuju kamar mandi


" Sean bisa sendiri , papa di luar aja "


Setelah Sbastian melepas celana Sean , Sean meminta Sbastian keluar


" Nanti panggil papa ya "


Sbastian mencium kening Sean dan berlalu keluar lalu menutup pintu


" Diablo sialan , udah di bilangin jangan kasih kabar buruk ke papa dulu "


Sean segera mengaktifkan jam tangannya


_____________________________


Anda :


Diablo ✓✓


Diablo :


Iya tuan ✓✓


Anda :


Jika tuan Sbastian menolak banyak bodyguard , maka minta izin untuk meletakkan satu penjaga di sisinya dan nona Aniel ✓✓


Diablo :


Baik tuan ✓✓


Anda :


Sampai di sini kamu mengerti kan harus berbuat apa ✓✓


Diablo :


Saya mengerti tuan , akan saya laksanakan sebaik mungkin ✓✓


Anda :


Baik , aku percaya padamu ✓✓


_______________________


" Awas ya kamu Diablo , aku beri hukuman kamu nanti "


Sean mematikan sambungan jam tangannya


" Papaaaaa "


Sean sedikit berteriak


" Iya sayang "


Sbastian membuka pintu


" Perut Sean sakit , tapi ngak bisa bab "


Sean membuat mimik wajah sedih


" Mungkin kamu masih terkejut , makanya ngak bisa bab "


Sbastian membersihkan Sean dan memakaikan kembali celana Sean


" Tapi perutnya sakit pa "


Sean memeluk Sbastian


" Iya , kita kasih minyak kayu putih ya "

__ADS_1


Sbastian membawa Sean keluar dan duduk di atas sofa


" Mao , ambilkan minyak kayu putih "


Sbastian membuka pakaian Sean di bagian perut


" Sakit pa hiks... "


Sean membuat sandiwara seakan perutnya memang sakit


" Iya iya , papa pijat ya "


Setelah Sbastian menerima minyak kayu putih dari Mao , Sbastian mengusap usap lembut perut Sean


" Tidurlah sayang "


Sbastian mencium kening Sean


" Kita pulang yok , Sean ngak mau di sini "


Sean memegangi tangan Sbastian yang masih memijit pelan perut Sean


" Iya , sebentar ya "


Sbastian tersenyum


" Aloe , ayo pulang "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berdiri


" Saya juga akan kembali "


Rudi membawa bintang ke dalam gendongannya


" Maaf ya paman Rudi , karena Sean bintang jadi kena seperti itu "


Sean mulai berkaca-kaca


" Tuan muda ngak salah , ini sudah tulisan , saya dengar tuan muda melindungi bintang , terimakasih untuk itu , saya yakin bintang tidak terlalu terkejut "


Rudi tersenyum


" Di dalam mobil bintang nangis , katanya takut hahaha "


Sean terkekeh


" Lalu apa putra papa ini menangis "


Sbastian mengambil tas sekolah Sean


" Biar saya bawa tuan "


Aloe mengambil tas sekolah Sean


" Tidak , Sean memeluk bintang , Sean bilang bintang ngak boleh takut pas paman supir itu bawa mobilnya kenceeeng banget terus sampai mobilnya ke kanan ke kiri "


Sean memperagakan bagaimana pak supir membawa mobil dengan mengebut


" Tiba tiba... Bum.. ada benda yang menutupi Sean dan bintang , terus karena bintang takut akhirnya bintang peluk Sean deh hahaha "


Sean memeluk Sbastian dengan kekehan kecil


" Tuan muda memang hebat "


Rudi memuji Sean


Percakapan panjang terjadi hingga mereka sudah sampai di lantai bawah rumah sakit


" Kursi roda Sean pasti rusak "


Sean berbicara dengan nada kecewa


" Nanti papa pesankan yang baru , Sean ngak perlu sedih ya "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Ayo Rudi , kita pulang "


Sbastian membawa Sean duduk di bangku belakang bersama Rudi yang menggendong bintang


" Saya yang akan membawa mobil "


Aloe masuk dan mulai melajukan mobil di iringi banyak sekali mobil hitam dan sepeda motor para penjaga


" Ayo beli cake pa "


Sean menunjuk cake resto kesukaannya


" Kita pulang saja , nanti papa pesankan , adek sendirian di rumah "


Sbastian menolak permintaan Sean


" Iya deh "


Sean mengangguk lesu


" Yasudah kita beli , Aloe belok "


Sbastian memerintahkan


" Ngak usah , nanti aja , ayo pulang aja Sean mau tidur sama adek "


Sean menolak


" Kita beli "


Sbastian menepuk pun pundak Aloe


" Baik tuan "


Aloe memutar balik mobil menuju cake resto kesukaan Sean


" Papa "


Sean menatap Sbastian


" Nanti beliin adek sekalian "


Sbastian memberikan sebuah senyuman kecil


" We tau ni papa rada sensi "


Sean membatin


" Kalau begitu Sean mau makan cake biru ya "


Sean tersenyum


" Iya sayang "


Sbastian mengusap kepala Sbastian


" Biar Aloe yang belikan "


Saat mobil berhenti , Sbastian memberikan dua lembar seratus ribu kepada Aloe


" Yang gambarnya Doraemon ya paman "


Sean memesan


" Adek tadi lagi tidur ya pa "


Sean bersandar di lengan Sbastian


" Iya , tadi adek lagi tidur , sekarang kakak yang tidur "


Sbastian mengusap mata Sean


Sean menatap Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian tersenyum


Aloe kembali membawa tiga kotak cake


" Kita antarkan bintang dulu lalu pulang "


Sbastian memerintahkan


" Saya mengerti tuan "


Aloe mengangguk


" Paman Rudi , nanti bawa satu ya kotak cake nya , ini perintah "


Sean membuat Sbastian terkekeh


" Siap tuan muda "


Rudi memberikan sebuah hormat


Setelah beberapa saat akhirnya mobil berhenti di depan rumah Rudi


" Aku minta maaf untuk kejadian ini "


Sbastian memegang pundak Rudi


" Sudahlah tuan , tidak perlu di pikirkan , saya tau ini bukan yang tuan inginkan , anda jangan terlalu berpikir "


Rudi memberi nasehat


" Titip salam ke istrimu , bilang maaf untuk kejadian ini "


Sbastian mengulangi kalimatnya


" Iya tuan , saya permisi "


Rudi keluar dari mobil dan membungkuk hormat


" Papa , Sean takut kalau nanti ibunya bintang ngak ngebolehin Sean main lagi sama bintang "


Sean memeluk lengan Sbastian


" Tidak apa sayangku , kan masih ada papa"


Sbastian memeluk Sean dan meninabobokan Sean hingga Sean tertidur


Tidak lama mobil sudah masuk ke pelataran rumah adinda


" Biar saya bantu tuan "


Aloe menawari


" Bawa saja cake nya ke dapur , aku akan langsung istirahat "


Sbastian membawa Sean ke lantai atas


" Lao "


Sbastian memanggil saat melihat Lao baru keluar dari kamarnya


" Saya tuan "


Lao membungkuk


" Bagaimana Aniel "


Sbastian bertanya


" Demam nona sudah turun , sekarang nona baru saja bangun "


Lao membuka pintu untuk Sbastian


" Baiklah , buatkan dua porsi bubur ya "


Sbastian masuk


" Laksanakan tuan "


Lao turun dan Aloe naik lalu berjaga di depan pintu kamar Sbastian


" Sayang "


Sbastian membaringkan Sean dan menghampiri Aniel


" Papa ni na "


( Papa dari mana )


Aniel memegang tangan Sbastian


" Papa habis jemput kakak , kamu mau makan apa hm... Biar papa ambilkan "


Sbastian mengusap rambut Aniel


" Ndak pel , luk iel "


( Ngak laper , peluk Aniel )


Aniel menjulurkan tangannya


" Iya , sebentar ya "


Sbastian membenarkan posisi Sean dan Sbastian tidur di antara kedua anaknya


*Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu menggema


" Masuk saja "


Sbastian berteriak dan terlihat pak Sam membawa dua mangkuk bubur


" Tidurlah , Aniel sudah memejamkan mata "


Pak Sam melarang Sbastian yang hendak berdiri


" Bagaimana Sean "


Pak Sam duduk di samping Sean


" Baik-baik saja ayah , tidak ada yang terluka "


Sbastian duduk dan meletakkan Aniel di dalam pangkuannya


" Papa "


Aniel membuka matanya karena guncangan


" Tidurlah sayang "


Sbastian mengusap-usap hidung Aniel hingga Aniel tertidur kembali


" Bagaimana Aniel "


Pak Sam meletakkan bubur di atas nampan


" Demamnya turun , ini lebih baik "


Sbastian menepuk nepuk punggung Aniel


" Sbastian "

__ADS_1


Pak Sam membenarkan selimut Sean


" Iya ayah "


Sbastian menoleh


" Kenapa kamu memanggil Alinda dengan sebutan Aniel "


Pak Sam bertanya


" Ayah tau kan kalau Sbastian masih sangat sayang , cinta dan merindukan adinda "


Sbastian tersenyum


" Lalu "


Pak Sam memiringkan kepalanya


" Aniel berarti kerinduan , saat gadis kecil ini lahir , rasanya kerinduanku untuk adinda sedikit terobati , jadi Sbastian namakan dia Alinda dan memanggilnya Aniel "


Sbastian tersenyum sambil membelai lembut pipi Aniel


" Hm... Kamu memang tidak pernah berubah"


Pak Sam berdiri sambil geleng-geleng kepala


" Hahaha ayah tau aku kan "


Sbastian terkekeh


" Sangat hapal "


Pak Sam keluar dari kamar


Hari hari berlalu , kini sudah dua bulan sejak kejadian kecelakaan yang hanya merenggut nyawa pak supir


Malam ini , di dalam kamar Sean


____________________________


:Bagaimana bisa melakukan kesalahan sebanyak ini , bukankah aku sudah bilang untuk mengikuti rancangan yang aku siapkan :


Sean saat ini sedang menceramahi ke-lima belas tangan kanannya sejak satu jam yang lalu


: Maaf tuan kami bersalah :


Diablo mewakili rekan rekan lainnya yang sudah terlihat sudah sangat down karena Sean yang sedari tadi berbicara tanpa jeda


:Haissss lalu jika begini apa yang akan kalian lakukan :


Terlihat hologram siluet hitam Sean yang sedang memijit kepalanya membuat Diablo dan kawan-kawan merasa benar-benar bersalah


: Sudahlah Mao , aku mau istirahat , matikan hologramnya :


Sean melajukan kursi rodanya meninggalkan hologram yang masih menyala di atas meja belajar


: TUAN TUNGGU , KAMI MINTA MAAF :


Suara Matias tidak di hiraukan oleh Sean


: Maaf tuan dan nona , sepertinya tuan benar-benar tidak bisa di ganggu , jika nanti kondisi hati tuan sudah lebih baik akan saya hubungi kembali :


Mao mematikan penyamaran hologram Sean dan membuat ke-lima belas tangan kanan Sean bisa melihat isi meja belajar Sean yang penuh dengan berkas-berkas yang mereka kacaukan hari ini


______________________________


Mao mematikan jam tangan komunikasi Sean dan meletakkannya di atas meja


" Anda jangan terlalu memikirkan itu tuan , anda harus segera memulai terapi besok "


Mao membantu Sean naik ke atas tempat tidur


" Dimana penawarnya "


Sean tidak menghiraukan nasehat Mao


" Tuan , tolong dengarkan saya sekali ini saja , tidur ya tuan , anda harus bertenaga untuk besok "


Mao memberikan botol penawar racun kaki Sean yang sudah siap satu Minggu yang lalu


" Aku harus mengurusnya Mao , kasihan jika para karyawan kehilangan pekerjaannya nanti "


Sean meminum satu kapsul kecil tanpa air


" Tuan , anda harus istirahat "


Mao duduk di samping Sean


" Mao , nanti jika ada seorang anak yang tidak bisa makan karena orang tuanya kehilangan pekerjaannya bagaimana , kamu ini harus mengerti bagaimana susahnya mencari uang di luar sana "


Sean mengusap kepala Mao membuat Mao mengeluarkan ekor dan telinga harimau miliknya


" Maaf tuan , Mao akan menurut "


Mao menunduk


" Tidurlah , aku akan tidur sebentar "


Sean memejamkan matanya sambil duduk dan memeluk boneka panda kecilnya


Mao turun dari atas tempat tidur dan merebahkan diri di atas karpet bulu kesukaannya


" Sean "


Sbastian tiba-tiba masuk membuat Sean terkejut namun tidak sampai membuka mata


" Kok bisa kamu tidur sambil duduk begini "


Sbastian membenarkan posisi tidur Sean dan menyelimutinya


" Selamat malam my sweet heart "


Sbastian mencium kening Sean


" Papa "


Terlihat Aniel berdiri di ambang pintu


" Kenapa hm.. "


Sbastian menghampiri Aniel


" Iel au pipis , ti iel atut "


( Aniel mau pipis , tapi Aniel takut )


Aniel terlihat menyeret boneka Teddy bear putih besar


" Ayo sama papa "


Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya dan menutup pintu kamar Sean


" Hm... "


Sean membuka matanya dan berusaha menggerakkan kakinya


" Syarafnya mulai bekerja...huek... "


Sean mulai mual


Mao menggendong Sean ke dalam kamar mandi


" Huek.... Hah..hah... Huek... "


Sean memuntahkan banyak sekali darah hitam di wastafel


Setelah beberapa saat


" Sudah Mao "


Sean berbicara dengan lirih


" Saya nyalakan kran airnya dulu tuan "


Mao meletakkan Sean di lantai dan menyalakan kran air untuk mengisi bak mandi


" Mari tuan "


Mao tanpa melepas pakaian Sean , memasukkan Sean ke dalam bak mandi


" Keluarlah Mao , nanti aku panggil "


Sean mengambil aroma terapi dan menuangkan banyak aroma terapi ke dalam bak mandi


" Ini kedua kalinya aku muntah , untung saja papa sudah keluar "


Sean melepaskan pakaiannya dan kembali muntah di luar bak mandi


Sean meraih shower di dekatnya dan menyalakannya untuk membasuh wajah dan kedua tangannya yang berlumuran darah hitam


" Huh... Syukurlah papa ngak tau , iuh... Darahnya bau banget "


Sean menutup hidungnya dan membasuh seluruh bagian tubuhnya yang terkena darah


" Rendeman gini lama bet , baunya ngak ilang-ilang "


Sean mencium bau badannya yang selalu mengeluarkan bau tidak sedap saat selesai meminum


Setelah hampir setengah jam , akhirnya Sean sudah selesai dengan acara berendamnya


Sean menguras air di bak mandinya dan membasuh tubuhnya namun tetap berada di dalam bak mandi , setelah itu Sean mengambil baju mandinya dan memakainya lalu merapihkannya


" Mao "


Sean berteriak


" Iya tuan "


Mao masuk dan membawa Sean keluar dari kamar mandi


" Maaf ya Mao , aku merepotkanmu "


Sean seakan sungkan dengan Mao


" Saya ini berhutang budi dengan ayah leluhur tuan , saya ini datang ke sini karena masih mencium darah dari tuan terdahulu , karena saya belum sempat membalas budi , jadi saya datang kepada anda , tidak perlu di pikirkan "


Mao meletakkan Sean di atas tempat tidur


" Saya permisi tuan "


Mao masuk kembali ke dalam kamar mandi dan membersihkan darah hitam Sean yang berceceran di wastafel


*Tuuut...tuuut


Terdengar dering jam komunikasi Sean dari atas meja


" Siapa yang berani menelfon "


Sean menarik kursi rodanya dan perlahan naik dengan bantuan robot yang sudah di modifikasi di dalam kursi rodanya


" Kunci dulu pintunya "


Sean mengunci pintu kamarnya dan melajukan kursi roda menuju meja belajarnya


___________________


: Halo :


Sean mengenakan semua penyamarannya


: Tuan , ini saya :


Hologram Diablo keluar


: Kenapa :


Sean berbicara dengan malas


: Biar saya tangani saja , anda jangan turun tangan , saya mohon , untuk menebus kesalahan saya :


Diablo memohon


: Aku akan menanganinya sendiri , kamu hanya perlu mengikuti arahanku :


Sean menjawab dengan malas


: Tuan , saya benar benar meminta maaf saya bersalah , saya mohon :


Diablo merasa dirinya telah membuat kesalahan yang cukup besar di mata Sean


: Arrghh :


Sean memegangi kepalanya


: Tuan :


Mao langsung menghampiri Sean dan membuat jam tangan hologram Sean terbalik menghadap langit-langit kamar


: Tuan.. tuan :


Diablo


: Anda mimisan :


Mao mengusap hidung Sean


: Tuan , anda kenapa :


Suara Diablo membuat Sean tersadar


: Matikan Mao :


Sean menunjuk jam tangannya


: Saya antar istirahat dulu :


Mao hendak membawa Sean namun Sean menghentikan tangan Mao


: Aku muak , matikan Mao :


Suara Sean terdengar lirih


: Baik tuan :


Mao mematikan jam tangan Sean


________________________


" Anda jangan memaksakan diri , saya mohon , istirahat untuk malam ini saja , sudah dua hari anda tidak tidur "


Mao membersihkan darah mimisan Sean


" Kenapa darahnya hitam "


Sean menyadari bahwa darah mimisannya hitam


" Ini juga racun tuan , anda tidak perlu khawatir , jika seperti ini maka racun di dalam tubuh anda akan perlahan keluar dalam jangka waktu yang pendek "


Mao tersenyum


" Padahal aku baru saja mandi "


Sean memijit keningnya

__ADS_1


__ADS_2