
Setelah sampai di rumah sakit , terlihat Mao sudah berdiri di pintu masuk
" Nona Mao "
Diablo menghampiri Mao
" dimana tuan muda Sean "
Mao langsung bertanya
" Di mobil kedua "
Diablo menunjuk mobil hitam setelah mobil yang dia tumpangi tadi
" Terimakasih "
Tanpa basa-basi lagi , Mao membuka pintu mobil yang Sean tumpangi
" Astaga tuan muda , kenapa anda tidak memberitahu saya "
Mao langsung membawa Sean ke dalam gendongannya
" Bintang "
Sean menunjuk mobil setelahnya
" Baiklah "
Mao membawa bintang ke dalam gendongannya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit , setelah itu, jasad pak supir di bawa ke ruang otopsi untuk di otopsi oleh dokter dokter lainnya
" Kita kemana Mao "
Sean bertanya
" Kita ke ruangan atas , anda akan saya periksa "
Mao membawa Sean menuju lantai atas dan meletakkan Mao dan bintang di kamar rawat khusus untuk keluarga
Di pintu masuk utama rumah sakit
" maaf , apa anda tuan Sbastian "
Diablo menghentikan Sbastian yang tiba bersama Rudi
" Ya , aku Sbastian , dimana putraku "
Sbastian langsung bertanya
" Anda sebaiknya istirahat dulu , anda terlihat pucat "
Diablo terlihat mengkhawatirkan Sbastian yang terlihat sangat pucat dan bergetar hebat
" KAMU TAU INI ANAKKU , KAMU MENYURUHKU ISTIRAHAT , DIAMANA SEAN "
Sbastian berteriak di depan Diablo
" Tenanglah tuan ini rumah sakit "
Aloe dan Rudi menenangkan Sbastian
Rudi terlihat tenang karena sudah di kabari bahwa putrinya baik-baik saja tanpa luka gores sedikitpun , sedangkan Sbastian yang tidak mendengarkan dengan seksama dan hanya mendengar bahwa putranya kecelakaan , langsung saja menjatuhkan telfonnya dan menggeret Aloe menuju rumah sakit
" Tuan Sean baik-baik saja , tuan Sean tidak terluka anda tenanglah "
Diablo membawa Sbastian untuk duduk
" Tidak mungkin , kecelakaan itu... "
Suara Sbastian terdengar lirih
" Kepalaku "
Sbastian memegangi kepalanya dan nafasnya menjadi tidak teratur
" Nanti saya jelaskan tentang kecelakaan itu"
Diablo menenangkan Sbastian
" Tuan Sean tidak terluka sedikitpun , minumlah tuan "
Diablo memberikan satu botol air mineral kepada Sbastian namun Sbastian hanya sibuk dengan kepalanya
" Tuan Sean ada di ruang rawat lantai atas , saya akan membawa anda kesana , anda jangan panik dulu , tenangkanlah diri anda "
Setelah Diablo berbicara seperti itu , Sbastian mulai memejamkan matanya
" Kepalaku pusing sekali "
Sbastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tunggu
Setelah beberapa saat Sbastian membuka matanya
" Bawa aku ke Sean "
Sbastian mencoba berdiri
" Hati-hati tuan "
Aloe dan Rudi membantu Sbastian berdiri di ikuti Diablo
" Saya ambilkan kursi roda ya "
Aloe menawari
" Tidak , itu akan lama , aku ingin segera menemui Sean "
Sbastian menolak
Sbastian di papah menuju lift hingga lantai atas dimana Sean di rawat
*Cklek
Pintu terbuka dan terlihat Sean juga bintang sedang tertidur di sana dengan posisi saling membelakangi
" Sean "
Sbastian melepaskan genggaman tangan Aloe dan Rudi
Rudi menghampiri bintang yang terlihat tidur dengan nyenyak
" Sayang "
Sbastian menciumi seluruh wajah Sean hingga membuat Sean terbangun
" Apa yang terjadi denganmu "
Sbastian memeluk Sean
" Papa Sean takut "
Sean memeluk Sbastian
" Tidak apa , papa di sini "
Sbastian memeluk Sean dengan erat
" Papa kenapa "
Sean melepaskan pelukannya
" Tubuh papa pasti lemas , iya kan , papa sakit kan "
Sean mengguncang Sbastian
" Biarkan papa berbaring sebentar , badan papa lemas sekali "
Sbastian menaikkan kakinya dan berbaring sambil memeluk Sean
" Mao papaku kenapa "
Sean memanggil
" Permisi tuan "
Mao memeriksa Sbastian
" Tuan syok dan itu membuat tubuhnya langsung lemas , tuan akan pulih sebentar lagi "
Mao menenangkan Sean
" Makasih Mao "
Sean tersenyum
" Apa yang terjadi "
Rudi mengusap kepala bintang
" Ini rencana dari tuan besar kami "
Diablo membuat Sbastian terbangun
" Maksudnya "
Sbastian terkejut
" Saya pagi pagi sekali di telfon oleh tuan besar kami "
Diablo duduk di sofa di ikuti oleh Ariana
" Tuan besar memerintahkan kepada saya untuk memantau tuan muda mulai pagi hari hingga saat ini , tuan besar bilang bahwa akan ada sesuatu yang menimpa tuan muda pagi ini "
Diablo menjelaskan
" Tuan besar berpesan kepada saya bahwa saya harus menjaga tuan Sean hingga perintah di tarik langsung oleh tuan besar , tuan besar bilang preoritas utama kami adalah tuan Sbastian dan nona Aniel "
Diablo membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Memangnya siapa tuan besarmu itu "
Sbastian bertanya
" Kami tidak tau "
Diablo membuat Sbastian terkejut
" Tuan kami sungguh misterius , namun kami sangat menghormatinya , kami di perintahkan langsung oleh tuan besar kami untuk selalu ada di samping tuan Sbastian dan nona Aniel "
Diablo membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Kenapa tidak Sean "
Sbastian menatap Diablo dengan sedikit tatapan tidak suka
" Tuan besar kami bilang bahwa beliau mendatangkan seseorang untuk melindungi tuan Sean dalam pantauan bayangan , karena kegiatan tuan Sean di luar ruangan yang semakin banyak "
Diablo menjelaskan
" Papa "
Sean menarik lengan Sbastian
" Kenapa "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Sean mau bab , perutnya sakit "
Sean memegangi perutnya
" Ayo sama papa "
Sbastian menggendong Sean dan membawa Sean menuju kamar mandi
" Sean bisa sendiri , papa di luar aja "
Setelah Sbastian melepas celana Sean , Sean meminta Sbastian keluar
" Nanti panggil papa ya "
Sbastian mencium kening Sean dan berlalu keluar lalu menutup pintu
" Diablo sialan , udah di bilangin jangan kasih kabar buruk ke papa dulu "
Sean segera mengaktifkan jam tangannya
_____________________________
Anda :
Diablo ✓✓
Diablo :
Iya tuan ✓✓
Anda :
Jika tuan Sbastian menolak banyak bodyguard , maka minta izin untuk meletakkan satu penjaga di sisinya dan nona Aniel ✓✓
Diablo :
Baik tuan ✓✓
Anda :
Sampai di sini kamu mengerti kan harus berbuat apa ✓✓
Diablo :
Saya mengerti tuan , akan saya laksanakan sebaik mungkin ✓✓
Anda :
Baik , aku percaya padamu ✓✓
_______________________
" Awas ya kamu Diablo , aku beri hukuman kamu nanti "
Sean mematikan sambungan jam tangannya
" Papaaaaa "
Sean sedikit berteriak
" Iya sayang "
Sbastian membuka pintu
" Perut Sean sakit , tapi ngak bisa bab "
Sean membuat mimik wajah sedih
" Mungkin kamu masih terkejut , makanya ngak bisa bab "
Sbastian membersihkan Sean dan memakaikan kembali celana Sean
" Tapi perutnya sakit pa "
Sean memeluk Sbastian
" Iya , kita kasih minyak kayu putih ya "
__ADS_1
Sbastian membawa Sean keluar dan duduk di atas sofa
" Mao , ambilkan minyak kayu putih "
Sbastian membuka pakaian Sean di bagian perut
" Sakit pa hiks... "
Sean membuat sandiwara seakan perutnya memang sakit
" Iya iya , papa pijat ya "
Setelah Sbastian menerima minyak kayu putih dari Mao , Sbastian mengusap usap lembut perut Sean
" Tidurlah sayang "
Sbastian mencium kening Sean
" Kita pulang yok , Sean ngak mau di sini "
Sean memegangi tangan Sbastian yang masih memijit pelan perut Sean
" Iya , sebentar ya "
Sbastian tersenyum
" Aloe , ayo pulang "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya dan berdiri
" Saya juga akan kembali "
Rudi membawa bintang ke dalam gendongannya
" Maaf ya paman Rudi , karena Sean bintang jadi kena seperti itu "
Sean mulai berkaca-kaca
" Tuan muda ngak salah , ini sudah tulisan , saya dengar tuan muda melindungi bintang , terimakasih untuk itu , saya yakin bintang tidak terlalu terkejut "
Rudi tersenyum
" Di dalam mobil bintang nangis , katanya takut hahaha "
Sean terkekeh
" Lalu apa putra papa ini menangis "
Sbastian mengambil tas sekolah Sean
" Biar saya bawa tuan "
Aloe mengambil tas sekolah Sean
" Tidak , Sean memeluk bintang , Sean bilang bintang ngak boleh takut pas paman supir itu bawa mobilnya kenceeeng banget terus sampai mobilnya ke kanan ke kiri "
Sean memperagakan bagaimana pak supir membawa mobil dengan mengebut
" Tiba tiba... Bum.. ada benda yang menutupi Sean dan bintang , terus karena bintang takut akhirnya bintang peluk Sean deh hahaha "
Sean memeluk Sbastian dengan kekehan kecil
" Tuan muda memang hebat "
Rudi memuji Sean
Percakapan panjang terjadi hingga mereka sudah sampai di lantai bawah rumah sakit
" Kursi roda Sean pasti rusak "
Sean berbicara dengan nada kecewa
" Nanti papa pesankan yang baru , Sean ngak perlu sedih ya "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Ayo Rudi , kita pulang "
Sbastian membawa Sean duduk di bangku belakang bersama Rudi yang menggendong bintang
" Saya yang akan membawa mobil "
Aloe masuk dan mulai melajukan mobil di iringi banyak sekali mobil hitam dan sepeda motor para penjaga
" Ayo beli cake pa "
Sean menunjuk cake resto kesukaannya
" Kita pulang saja , nanti papa pesankan , adek sendirian di rumah "
Sbastian menolak permintaan Sean
" Iya deh "
Sean mengangguk lesu
" Yasudah kita beli , Aloe belok "
Sbastian memerintahkan
" Ngak usah , nanti aja , ayo pulang aja Sean mau tidur sama adek "
Sean menolak
" Kita beli "
Sbastian menepuk pun pundak Aloe
" Baik tuan "
Aloe memutar balik mobil menuju cake resto kesukaan Sean
" Papa "
Sean menatap Sbastian
" Nanti beliin adek sekalian "
Sbastian memberikan sebuah senyuman kecil
" We tau ni papa rada sensi "
Sean membatin
" Kalau begitu Sean mau makan cake biru ya "
Sean tersenyum
" Iya sayang "
Sbastian mengusap kepala Sbastian
" Biar Aloe yang belikan "
Saat mobil berhenti , Sbastian memberikan dua lembar seratus ribu kepada Aloe
" Yang gambarnya Doraemon ya paman "
Sean memesan
" Adek tadi lagi tidur ya pa "
Sean bersandar di lengan Sbastian
" Iya , tadi adek lagi tidur , sekarang kakak yang tidur "
Sbastian mengusap mata Sean
Sean menatap Sbastian
" Iya sayang "
Sbastian tersenyum
Aloe kembali membawa tiga kotak cake
" Kita antarkan bintang dulu lalu pulang "
Sbastian memerintahkan
" Saya mengerti tuan "
Aloe mengangguk
" Paman Rudi , nanti bawa satu ya kotak cake nya , ini perintah "
Sean membuat Sbastian terkekeh
" Siap tuan muda "
Rudi memberikan sebuah hormat
Setelah beberapa saat akhirnya mobil berhenti di depan rumah Rudi
" Aku minta maaf untuk kejadian ini "
Sbastian memegang pundak Rudi
" Sudahlah tuan , tidak perlu di pikirkan , saya tau ini bukan yang tuan inginkan , anda jangan terlalu berpikir "
Rudi memberi nasehat
" Titip salam ke istrimu , bilang maaf untuk kejadian ini "
Sbastian mengulangi kalimatnya
" Iya tuan , saya permisi "
Rudi keluar dari mobil dan membungkuk hormat
" Papa , Sean takut kalau nanti ibunya bintang ngak ngebolehin Sean main lagi sama bintang "
Sean memeluk lengan Sbastian
" Tidak apa sayangku , kan masih ada papa"
Sbastian memeluk Sean dan meninabobokan Sean hingga Sean tertidur
Tidak lama mobil sudah masuk ke pelataran rumah adinda
" Biar saya bantu tuan "
Aloe menawari
" Bawa saja cake nya ke dapur , aku akan langsung istirahat "
Sbastian membawa Sean ke lantai atas
" Lao "
Sbastian memanggil saat melihat Lao baru keluar dari kamarnya
" Saya tuan "
Lao membungkuk
" Bagaimana Aniel "
Sbastian bertanya
" Demam nona sudah turun , sekarang nona baru saja bangun "
Lao membuka pintu untuk Sbastian
" Baiklah , buatkan dua porsi bubur ya "
Sbastian masuk
" Laksanakan tuan "
Lao turun dan Aloe naik lalu berjaga di depan pintu kamar Sbastian
" Sayang "
Sbastian membaringkan Sean dan menghampiri Aniel
" Papa ni na "
( Papa dari mana )
Aniel memegang tangan Sbastian
" Papa habis jemput kakak , kamu mau makan apa hm... Biar papa ambilkan "
Sbastian mengusap rambut Aniel
" Ndak pel , luk iel "
( Ngak laper , peluk Aniel )
Aniel menjulurkan tangannya
" Iya , sebentar ya "
Sbastian membenarkan posisi Sean dan Sbastian tidur di antara kedua anaknya
*Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu menggema
" Masuk saja "
Sbastian berteriak dan terlihat pak Sam membawa dua mangkuk bubur
" Tidurlah , Aniel sudah memejamkan mata "
Pak Sam melarang Sbastian yang hendak berdiri
" Bagaimana Sean "
Pak Sam duduk di samping Sean
" Baik-baik saja ayah , tidak ada yang terluka "
Sbastian duduk dan meletakkan Aniel di dalam pangkuannya
" Papa "
Aniel membuka matanya karena guncangan
" Tidurlah sayang "
Sbastian mengusap-usap hidung Aniel hingga Aniel tertidur kembali
" Bagaimana Aniel "
Pak Sam meletakkan bubur di atas nampan
" Demamnya turun , ini lebih baik "
Sbastian menepuk nepuk punggung Aniel
" Sbastian "
__ADS_1
Pak Sam membenarkan selimut Sean
" Iya ayah "
Sbastian menoleh
" Kenapa kamu memanggil Alinda dengan sebutan Aniel "
Pak Sam bertanya
" Ayah tau kan kalau Sbastian masih sangat sayang , cinta dan merindukan adinda "
Sbastian tersenyum
" Lalu "
Pak Sam memiringkan kepalanya
" Aniel berarti kerinduan , saat gadis kecil ini lahir , rasanya kerinduanku untuk adinda sedikit terobati , jadi Sbastian namakan dia Alinda dan memanggilnya Aniel "
Sbastian tersenyum sambil membelai lembut pipi Aniel
" Hm... Kamu memang tidak pernah berubah"
Pak Sam berdiri sambil geleng-geleng kepala
" Hahaha ayah tau aku kan "
Sbastian terkekeh
" Sangat hapal "
Pak Sam keluar dari kamar
Hari hari berlalu , kini sudah dua bulan sejak kejadian kecelakaan yang hanya merenggut nyawa pak supir
Malam ini , di dalam kamar Sean
____________________________
:Bagaimana bisa melakukan kesalahan sebanyak ini , bukankah aku sudah bilang untuk mengikuti rancangan yang aku siapkan :
Sean saat ini sedang menceramahi ke-lima belas tangan kanannya sejak satu jam yang lalu
: Maaf tuan kami bersalah :
Diablo mewakili rekan rekan lainnya yang sudah terlihat sudah sangat down karena Sean yang sedari tadi berbicara tanpa jeda
:Haissss lalu jika begini apa yang akan kalian lakukan :
Terlihat hologram siluet hitam Sean yang sedang memijit kepalanya membuat Diablo dan kawan-kawan merasa benar-benar bersalah
: Sudahlah Mao , aku mau istirahat , matikan hologramnya :
Sean melajukan kursi rodanya meninggalkan hologram yang masih menyala di atas meja belajar
: TUAN TUNGGU , KAMI MINTA MAAF :
Suara Matias tidak di hiraukan oleh Sean
: Maaf tuan dan nona , sepertinya tuan benar-benar tidak bisa di ganggu , jika nanti kondisi hati tuan sudah lebih baik akan saya hubungi kembali :
Mao mematikan penyamaran hologram Sean dan membuat ke-lima belas tangan kanan Sean bisa melihat isi meja belajar Sean yang penuh dengan berkas-berkas yang mereka kacaukan hari ini
______________________________
Mao mematikan jam tangan komunikasi Sean dan meletakkannya di atas meja
" Anda jangan terlalu memikirkan itu tuan , anda harus segera memulai terapi besok "
Mao membantu Sean naik ke atas tempat tidur
" Dimana penawarnya "
Sean tidak menghiraukan nasehat Mao
" Tuan , tolong dengarkan saya sekali ini saja , tidur ya tuan , anda harus bertenaga untuk besok "
Mao memberikan botol penawar racun kaki Sean yang sudah siap satu Minggu yang lalu
" Aku harus mengurusnya Mao , kasihan jika para karyawan kehilangan pekerjaannya nanti "
Sean meminum satu kapsul kecil tanpa air
" Tuan , anda harus istirahat "
Mao duduk di samping Sean
" Mao , nanti jika ada seorang anak yang tidak bisa makan karena orang tuanya kehilangan pekerjaannya bagaimana , kamu ini harus mengerti bagaimana susahnya mencari uang di luar sana "
Sean mengusap kepala Mao membuat Mao mengeluarkan ekor dan telinga harimau miliknya
" Maaf tuan , Mao akan menurut "
Mao menunduk
" Tidurlah , aku akan tidur sebentar "
Sean memejamkan matanya sambil duduk dan memeluk boneka panda kecilnya
Mao turun dari atas tempat tidur dan merebahkan diri di atas karpet bulu kesukaannya
" Sean "
Sbastian tiba-tiba masuk membuat Sean terkejut namun tidak sampai membuka mata
" Kok bisa kamu tidur sambil duduk begini "
Sbastian membenarkan posisi tidur Sean dan menyelimutinya
" Selamat malam my sweet heart "
Sbastian mencium kening Sean
" Papa "
Terlihat Aniel berdiri di ambang pintu
" Kenapa hm.. "
Sbastian menghampiri Aniel
" Iel au pipis , ti iel atut "
( Aniel mau pipis , tapi Aniel takut )
Aniel terlihat menyeret boneka Teddy bear putih besar
" Ayo sama papa "
Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya dan menutup pintu kamar Sean
" Hm... "
Sean membuka matanya dan berusaha menggerakkan kakinya
" Syarafnya mulai bekerja...huek... "
Sean mulai mual
Mao menggendong Sean ke dalam kamar mandi
" Huek.... Hah..hah... Huek... "
Sean memuntahkan banyak sekali darah hitam di wastafel
Setelah beberapa saat
" Sudah Mao "
Sean berbicara dengan lirih
" Saya nyalakan kran airnya dulu tuan "
Mao meletakkan Sean di lantai dan menyalakan kran air untuk mengisi bak mandi
" Mari tuan "
Mao tanpa melepas pakaian Sean , memasukkan Sean ke dalam bak mandi
" Keluarlah Mao , nanti aku panggil "
Sean mengambil aroma terapi dan menuangkan banyak aroma terapi ke dalam bak mandi
" Ini kedua kalinya aku muntah , untung saja papa sudah keluar "
Sean melepaskan pakaiannya dan kembali muntah di luar bak mandi
Sean meraih shower di dekatnya dan menyalakannya untuk membasuh wajah dan kedua tangannya yang berlumuran darah hitam
" Huh... Syukurlah papa ngak tau , iuh... Darahnya bau banget "
Sean menutup hidungnya dan membasuh seluruh bagian tubuhnya yang terkena darah
" Rendeman gini lama bet , baunya ngak ilang-ilang "
Sean mencium bau badannya yang selalu mengeluarkan bau tidak sedap saat selesai meminum
Setelah hampir setengah jam , akhirnya Sean sudah selesai dengan acara berendamnya
Sean menguras air di bak mandinya dan membasuh tubuhnya namun tetap berada di dalam bak mandi , setelah itu Sean mengambil baju mandinya dan memakainya lalu merapihkannya
" Mao "
Sean berteriak
" Iya tuan "
Mao masuk dan membawa Sean keluar dari kamar mandi
" Maaf ya Mao , aku merepotkanmu "
Sean seakan sungkan dengan Mao
" Saya ini berhutang budi dengan ayah leluhur tuan , saya ini datang ke sini karena masih mencium darah dari tuan terdahulu , karena saya belum sempat membalas budi , jadi saya datang kepada anda , tidak perlu di pikirkan "
Mao meletakkan Sean di atas tempat tidur
" Saya permisi tuan "
Mao masuk kembali ke dalam kamar mandi dan membersihkan darah hitam Sean yang berceceran di wastafel
*Tuuut...tuuut
Terdengar dering jam komunikasi Sean dari atas meja
" Siapa yang berani menelfon "
Sean menarik kursi rodanya dan perlahan naik dengan bantuan robot yang sudah di modifikasi di dalam kursi rodanya
" Kunci dulu pintunya "
Sean mengunci pintu kamarnya dan melajukan kursi roda menuju meja belajarnya
___________________
: Halo :
Sean mengenakan semua penyamarannya
: Tuan , ini saya :
Hologram Diablo keluar
: Kenapa :
Sean berbicara dengan malas
: Biar saya tangani saja , anda jangan turun tangan , saya mohon , untuk menebus kesalahan saya :
Diablo memohon
: Aku akan menanganinya sendiri , kamu hanya perlu mengikuti arahanku :
Sean menjawab dengan malas
: Tuan , saya benar benar meminta maaf saya bersalah , saya mohon :
Diablo merasa dirinya telah membuat kesalahan yang cukup besar di mata Sean
: Arrghh :
Sean memegangi kepalanya
: Tuan :
Mao langsung menghampiri Sean dan membuat jam tangan hologram Sean terbalik menghadap langit-langit kamar
: Tuan.. tuan :
Diablo
: Anda mimisan :
Mao mengusap hidung Sean
: Tuan , anda kenapa :
Suara Diablo membuat Sean tersadar
: Matikan Mao :
Sean menunjuk jam tangannya
: Saya antar istirahat dulu :
Mao hendak membawa Sean namun Sean menghentikan tangan Mao
: Aku muak , matikan Mao :
Suara Sean terdengar lirih
: Baik tuan :
Mao mematikan jam tangan Sean
________________________
" Anda jangan memaksakan diri , saya mohon , istirahat untuk malam ini saja , sudah dua hari anda tidak tidur "
Mao membersihkan darah mimisan Sean
" Kenapa darahnya hitam "
Sean menyadari bahwa darah mimisannya hitam
" Ini juga racun tuan , anda tidak perlu khawatir , jika seperti ini maka racun di dalam tubuh anda akan perlahan keluar dalam jangka waktu yang pendek "
Mao tersenyum
" Padahal aku baru saja mandi "
Sean memijit keningnya
__ADS_1