Aku Pangeran

Aku Pangeran
#96 ( sabuk pengaman )


__ADS_3

" Nona di belakang kenapa tidak di dudukkan di tempat yang sudah ada , itu berbahaya bagi keselamatan berkendara "


Pak pol menunjuk kursi khusus untuk Aniel


" Dia tadi menangis , jadi saya pangku agar tenang "


Sean memberikan alasannya


" bagaimanapun itu berbahaya , dan lagi anda menyalahi rambu rambu di sebelah sana "


Pak polisi menunjuk sebuah rambu rambu yang tidak terjangkau oleh pengelihatan


" Sudahlah paman , berikan saja "


Sean memberi solusi


" Ini "


Kelvin memberikan enam lembar uang merah


" Maaf tapi saya tidak bisa di sogok "


Polisi itu menolak uang yang di berikan Kelvin


" Aku akan urus , kamu pulang saja "


Kelvin melepaskan sabuk pengamannya


" Oke "


Sean melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil


" Tuan "


Salah satu bodyguard mendekati Sean


" Barangnya biar kami bawa "


Bodyguard yang lain membuka bagasi dan mengambil semua barang-barang Sean


" Makasih paman "


Sean menerima helm dari salah satu bodyguard dan memakainya dengan satu tangan


" Kakak "


Aniel membuka matanya karena suara bising kendaraan


*Jeng jeng


Aniel terkejut melihat sebuah kepala yang menghilang di balik kaca helm bulat yang di pakai Sean


" Hiks... Kakak huaaaaaa..... Kakak mana kakakku kakakku "


Aniel memberontak di dalam pelukan Sean dan memukul mukul kepala Sean


" Ini kakak Aniel "


Sean dengan susah payah melepaskan helm yang dia pakai


" Hiks... Kakak "


Aniel menatap wajah Sean sebentar memastikan itu kakaknya


" KAKAAAAAK "


Aniel memeluk leher Sean dengan erat


" Kenapa "


Kelvin menghampiri Sean


" Dia takut kalau aku pakek helm "


Sean memberikan helemnya kepada paman berkumis


" Aku telponin Diablo dulu "


Kelvin mengeluarkan hp nya


" Oh... Lihat lihat ada pak polisi "


Sean menunjuk para polisi


" Apa hiks... Polisi hiks.. "


Aniel mengangkat wajahnya


" Pak polisi itu tugasnya menertibkan lalu lintas "


Sean membawa Aniel mendekati para polisi


" Halo paman polisi "


Sean menyapa salah satu paman polisi


" Mau salim "


Sean membuat Aniel di gendong menghadap ke depan


" Halo cantik namanya siapa "


Pak polisi menoel pipi Aniel


" A..hisk.. Alinda "


Aniel memperkenalkan namanya dengan sedikit isakan kecil


" Namanya cantik , kamu kelas berapa "


Pak polisi mencoba berbasa-basi


" Ngak sekolah "


Aniel menggeleng


" Umurnya memang berapa "


Pak polisi bertanya


" Baru empat tahun paman "


Sean menjawab


" Ayah kemana memangnya "


Pak polisi bertanya lagi


" Papa sedang sakit , dan adik baru saja keluar dari rumah sakit hari ini , jadi agak rewel "


Sean menjelaskan


" Kamu ini anak nomer berapa "


Pak pol bertanya


" Saya yang pertama , dan adik ini nomer dua "


Sean


" Hei , Diablo sedang dalam perjalanan "


Kelvin menepuk pundak Sean


" Paman beneran mau ngurus ini "


Sean bertanya


" Iya , kamu bilang ke kakek kalau paman pulang telat jadi jangan di tunggu "


Kelvin memasukkan hp nya ke dalam saku


" Tapi paman ke rumah kan "


Sean memastikan


" Mungkin "


Kelvin mengangguk


" Kok mungkin , nanti kakek nungguin paman lho "


Sean menatap Diablo sinis


" Iya iya nanti paman pulang "


Kelvin menggosok rambut Sean kasar


" Itu Diablo , cepet banget "


Kelvin menunjuk mobil Diablo yang baru sampai


" Salim dong sayang "


Sean menuntun Aniel agar mencium tangan pak polisi dan Kelvin


" Ayo pulang "


Sean menyalami pak polisi dan Kelvin dan berlalu menuju Diablo yang sudah siap melajukan mobilnya


" Kita ke toko cake ya paman "


Sean duduk di bangku depan


" Siap "


Diablo melajukan mobilnya menuju toko cake di depan


" Ayo turun paman "


Sean keluar dari mobil


" Paman sekalian , taruh aja belanjanya di sini "


Sean membuka bagasi


" Baik tuan "


Mereka semua meletakkan kantung belanjaan di bagasi mobil


" Ayo masuk paman semua "


Sean mengajak


*Kling


Dentingan lonceng berbunyi


" Paman pesen aja , paman puas puasin makan di sini "


Sean mempersilahkan


" Terimakasih tuan "


Mereka semua membungkuk


Setelah Sean memesan cake dan minuman , Sean duduk dan membiarkan para penjaga memesan dan memakan cake pesanan mereka


" Kakak ngak mau "


Aniel memakan cake nya dengan lahap


" Kakak kenyang "


Sean membersihkan noda cake di pipi Aniel


" Minum "


Aniel menunjuk minuman di depannya


" Minum perlahan "


Sean membantu Aniel meminum jus buah kesukaan Aniel


Setelah makan besar di sana , Sean memesan seluruh cake yang ada di dalam etalase dan yang baru selesai di panggang untuk di bagi bagikan kepada seisi rumah saat pergantian sif jaga nanti


" Tolong kirim ya kakak , ini alamatnya "


Sean memberikan sebuah kertas


" Baik kakak , kami akan buatkan segera "


Kakak kasir tersenyum saat Sean keluar dari toko


" Kira-kira kapan sampainya ya "


Diablo berfikir


" Hahaha Sean tadi minta agar paling lambat nanti malam sebelum jam sepuluh , jadi mungkin mereka akan kebut mulai sekarang "


Sean terkekeh


" Cake nya enak "


Sean membelai lembut kepala Aniel


" Enak , Aniel mau lagi "


Aniel memonyongkan bibirnya


" Nanti ada lagi yang datang , aku juga menghubungi beberapa cake resto langganan , jadi semua orang akan dapat satu kotak "


Sean masuk ke dalam mobil saat Diablo membukakan pintu


" Jadi akan memesan banyak sekali cake "


Diablo menyimpulkan


" Yaps "


Sean mengangguk


" Itu apa kak "


Aniel mulai mengisi suasana yang sepi di dalam mobil dengan semua pertanyaannya


Selama perjalanan Aniel tidak pernah berhenti mengoceh tentang sesuatu yang dia ingat dulu sedikit berbeda sekarang


" Kita sampai "


Sean menunjuk pintu gerbang yang terbuka perlahan


" Ini rumah kita "


Aniel memperhatikan sekeliling


" Iya "


Sean mengangguk


" Masih sama kayak ingatan Aniel "


Aniel menempelkan wajahnya di kaca jendela


" Hahaha "


Sean tertawa melihat Aniel yang menatap sekeliling dengan semangat


" Kita sampai "


Sean membuka pintu


Di sana terlihat bi Aini , pak Sam dan banyak maid menyambut


" Bibi "


Sean menurunkan Aniel dan menyalami bi Aini dan pak Sam


" Nona muda "


Bi Aini berlutut di depan Aniel


" Bibi... Bibi cantik "


Aniel menyentuh hidung bi Aini


" Syukurlah nona saya sangat bersyukur "


Bi Aini memeluk Aniel dengan erat dan tidak lama air mata bi Aini menetes tanda bi Aini sangat bahagia dengan kesembuhan Aniel


" Kemarilah cantik "


Pak Sam memanggil


" Kakek Sam "


Aniel memeluk kaki pak Sam


" Dimana paman Kelvin "


Pak Sam membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Paman tadi di sana jauuuuh banget "


Aniel berceloteh ria di dalam gendongan pak Sam


" Ayo masuk kakek "


Sean menggiring pak Sam dan bi Aini agar duduk di sofa ruang tamu


" Aniel mau di sini apa ikut kakak "


Sean menawari


" Kakak mau ke papa "


Aniel bertanya


" Iya "


Sean mengangguk


" Mau ikut "


Aniel menjulurkan tangannya dan Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Bibi akan siapkan makan malam yang enak "


Bi Aini berdiri


" Kakek di sini tunggu paman "

__ADS_1


Pak Sam tersenyum


" Hahaha kakek selalu saja "


Sean tertawa


Sean membawa Aniel menaiki lift dan masuk ke dalam kamar rawat


" Lao , Aloe , key "


Sean memanggil


" Tuan "


Lao , Aloe dan key mendekati Sean


" Papa "


Aniel di turunkan di samping Sbastian


" Papa "


Aniel menatap Sean


" Iya ini papa "


Sean duduk di samping Aniel


" Papa sedang istilahat "


Aniel memegang tangan Sbastian


" Aniel mau cium papa "


Aniel meminta


" Iya boleh "


Sean membantu Aniel mencium pipi tirus Sbastian


" Aniel di sini "


Aniel menunjuk tempat di antara lengan dan tubuh Sbastian


" Iya , kamu kalau tidur di sini "


Sean tersenyum


" Aniel kangen papa "


Aniel duduk sambil memegang lengan Sbastian


" Kakak juga kangen sama papa "


Sean memeluk Aniel


" Papa sakit apa "


Aniel mendongak menatap Sean


" Papa sekarang harus istirahat sampai sembuh , Aniel doa ya biar papa cepet bangun "


Sean mencium pipi gembul Aniel


" Papa Aniel sayang papa "


Aniel meletakkan kepalanya di atas lengan Sbastian


" Aniel mau tidur sama papa "


Aniel merebahkan dirinya di dalam pelukan Sbastian


" Kapan papa bangun "


Aniel menatap Sean


" Sebentar lagi sayang "


Sean membelai lembut kepala Aniel yang tertutup hijab


" Mau lepas "


Aniel melepaskan hijabnya


" Sini "


Sean mengambil hijab Aniel dan membenarkan rambut panjang Aniel yang berantakan


" Tidurlah "


Sean menaikkan selimut kecil Aniel


" Dimana Mao "


Sean bertanya


" Kakak senior sedang ke kamar mandi "


Aloe menjawab


" Apakah ada masalah selama aku pergi "


Sean mencium kening Sbastian


" Beberapa pembunuh bayaran datang "


Lao menjawab


" Tuan "


Mao masuk dari luar


" Apa perkembangan papa "


Sean duduk di atas sofa


" Tuan lebih baik dari yang lalu "


Mao menjawab


" Apa ada laporan penting "


Sean memijit pelipisnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa


" Iya "


Mao keluar sebentar dan kembali lagi


" Tuan harus melihat ini "


Mao menyerahkan sebuah berkas


" Huft... "


Sean menghela nafas panjang dan membuka berkasnya


Kata demi kata Sean baca , kalimat demi kalimat di telaah oleh mata tajam Sean hingga akhir kalimat yang menyatakan bahwa itu adalah laporan yang akurat dan sudah di selidiki tiga kali dengan hasil yang sama


" Syukurlah "


Air mata Sean menetes membasahi kertas yang dia pegang


" Tuan "


Mao duduk di samping Sean


" Aku tau itu dia Mao "


Sean memeluk erat Mao dan menumpahkan semua apa yang dia rasakan


" Lalu harus bagaimana sekarang tuan , kami hanya menunggu perintah anda "


Mao mengusap punggung Sean


" Apakah keadaannya sudah aman untuk sekarang "


Sean melepaskan pelukannya


" Sudah tuan "


Mao mengusap air mata Sean


" Panggil Diablo kesini , minta paman Kelvin untuk cepat pulang , aku ingin berbicara "


Sean berdiri


" Akan ku tunggu di ruang kerjaku "


Sean menghampiri Aniel


" Sayang "


Sean membangunkan Aniel


" Kakak "


Aniel membuka matanya


" Kakak akan bekerja di ruang kerja , nanti minta kak key antarkan kamu ke sana ya "


Sean membenarkan posisi tidur Aniel


" Kakak mau kerja "


" Kakak usahakan akan cepat selesai , tapi jika belum selesai panggil kakak ya "


Sean tersenyum


" Iya , sekarang Aniel mau sama papa aja "


Aniel memeluk lengan Sbastian


" Tidurlah yang nyenyak gadis kecil "


Sean mencium kening Aniel


" Babay kakak "


Aniel melambaikan tangannya saat Sean berdiri


" Babay "


Sean berlalu pergi


" Paman Rudi "


Sean memanggil


" Iya "


Rudi mendekat


" Bisakah paman beritahu kak Rohit untuk segera ke ruang kerja Sean "


Sean meminta tolong


" Saya telfonkan "


Rudi mengangguk


" Terimakasih paman "


Sean tersenyum


" Sudah tugas saya tuan "


Rudi mengangguk


Sean masuk ke dalam ruang kerjanya dan langsung mengambil air wudhu lalu melakukan kewajibannya sebagai muslim


*Tok..tok..tok


Suara pintu di ketuk tepat saat Sean melaksanakan salam terakhir


" Masuk "


Sean berdiri dan mengemas alat ibadahnya


" Kami di sini tuan "


Semua orang berdiri di pintu


" Silahkan duduk "


Sean mempersilahkan


" Siapa yang menyelidiki masalah ini paman"


Sean menunjukkan berkas yang tadi


" Ini saya minta Yulias dan Ariana karena mereka kebetulan ada di markas pusat "


Diablo menjawab


" Sean mau bertemu dengan mereka sekarang apa bisa , maksud Sean apakah musuh bisa di kendalikan "


Sean duduk di hadapan mereka berempat


" Musuh dalam kendali , Luis bilang dia akan menangani sesuai perintah anda "


Diablo menjawab


" Dimana Luis sekarang "


Sean menyandarkan punggungnya di sandaran sofa


" Luis ada di markas utama , dia sedang mengamati gerak gerik musuh "


Rohit menjawab


" Kalau begitu Sean mau kesana sekarang "


Sean berdiri dan mengambil jas kerjanya yang bertengger di kursi kerjanya


" Saya akan siapkan heli kopter agar lebih cepat "


Diablo berdiri


" Saya akan hubungi tim elit untuk bersiap "


Rohit berdiri


" Saya akan siapkan perlengkapan anda "


Mao keluar dari ruangan di ikuti Diablo dan Rohit


" Apa aku terlalu gegabah "


Sean menggenggam erat jas kerjanya


" Tidak... Aku harus bergerak sekarang sebelum mereka tau "


Sean memakai jas miliknya dan mengambil koper yang berisi beberapa tanda bukti


Sean keluar dan naik ke lantai tiga untuk berpamitan kepada Sbastian


" Papa sayang , Sean sudah menemukan semuanya , Sean minta doa restu papa "


Sean mencium kening Sbastian


*Dut


jari Sbastian berkedut


" Sean tau papa selalu ada untuk Sean "


Sean tersenyum dan mencium punggung tangan Sbastian


" Tuan , semuanya sudah siap "


Mao masuk ke dalam ruangan


" Key , Aloe dan Lao , aku minta untuk menjaga Aniel dan papa , mungkin aku akan pulang telat , jika Aniel bangun segera telfon"


Sean mencium kening Aniel


" Saya mengerti tuan "


Key mengangguk


" Aku pergi "


Sean berjalan keluar dari kamar rawat


" Kita ke markas utama dulu baru pergi ke lokasi "


Sean berjalan menuruni tangga di iringi Mao


" Tuan "


Diablo menghampiri Sean


" Dua menit lagi helikopter siap di atap "


Diablo memberitahu


" Aku akan pergi ke kakek dulu "


*Tok..tok..tok


Sean mengetuk pintu kamar


" Masuk "


Suara dari dalam mempersilahkan


" Ini Sean kek "


Sean masuk dan menghampiri pak Sam yang sedang duduk di kursi goyang


" Kakek... Sean menemukan ini "


Sean menunjukkan sebuah gambar dari handphonenya


" Memang cantik "


Pak Sam tersenyum


" Bukan kek , Sean menemukan keduanya , mereka ada kek "


Sean membuat pak Sam mematung

__ADS_1


" Kamu serius "


Pak Sam memegang pundak Sean


" Sean ngak pernak main main dengan hal seperti ini kek "


Sean berlutut di depan pak Sam


" Lalu waktu itu apa "


Pak Sam menatap Sean


" Hanya manekin kek , itu sesuatu yang sudah di rancang dengan sempurna , berkali-kali mereka berusaha untuk mencelakai papa , tapi baru sekarang mereka bisa , namun semua yang mereka lakukan itu sia-sia "


Sean menatap mata pak Sam yang mulai berkilau


" Karena sudah ada kamu dan Aniel "


Pak Sam menebak


" Iya , apalagi dengan adanya Aniel membuat semua yang mereka lakukan semakin sulit "


Sean meletakkan kepalanya di atas pangkuan pak Sam


" kakek tidak percaya "


Pak Sam mengelus kepala Sean


" Sean akan pergi untuk memastikan "


Sean mengangkat kepalanya


" Jika itu salah "


Pak Sam memberikan kemungkinan terburuk


" Kita tidak boleh kecewa "


Sean tersenyum


" Kamu sangat hebat cucuku "


Pak Sam mencium kening Sean


" Apapun untuk kalian "


Sean memeluk pak Sam sebentar


" Sean harus pergi kakek "


Sean mencium tangan pak Sam


" Doa kakek selalu untukmu "


Pak Sam mengusap kepala Sean


" Sean tau kek "


Sean tersenyum


" Sean berangkat "


Sean beranjak dari tempatnya dan menuju pintu


" Sean akan pulang terlambat "


Sean berdiri di ambang pintu


" Kakek akan jaga Aniel "


Pak Sam tersenyum


" Terimakasih kakek "


Sean menutup pintu


" Tuan "


Rohit datang dari lantai bawah


" Coba lihat apa yang saya temukan "


Rohit menunjuk lantai dasar yang terlihat empat orang di ikat dengan mulut tersumpal


" Siapa yang mengirim "


Sean menuruni tangga dan berdiri di depan keempat orang yang terikat dan sudah lebam tidak berbentuk


" Otak yang mengirim mereka "


Rohit menjawab


" Hm... Satu wanita "


Sean memperhatikan satu maid yang asing di matanya


" Kapan dia masuk "


Sean mencengkram pipi maid yang ada di depannya


" Baru tadi pagi dan sudah mencoba masuk ke lantai tiga "


Rohit menjawab


" Berani sekali ya haha "


Sean terkekeh


" Saya harus mengirim mereka kemana tuan "


Rohit bertanya


" Ke markas besar saja , di markas pusat sudah penuh "


Sean melepaskan cengkramannya dan mengusap jari jarinya dengan sapu tangan yang di berikan salah satu Maiden di sana


" Makamkan mereka dengan layak di TPU "


Sean berjalan menuju lift di ikuti Mao dan Diablo


" Saya akan mengurusnya tuan "


Rohit di ikuti yang lain membungkuk hormat


" Keamanan di sana sudah di perketat kan "


Sean memastikan


" Sudah tuan , mata mata di sana sudah saya amankan "


Diablo menunjukkan beberapa foto para tahanan


" Apa sudah meletakkan penjagaan di sana"


*Ting


Lift terbuka


" Sudah benar-benar saya amankan , semuanya dalam kendali "


Diablo meyakinkan


" Apa lokasinya dekat dengan perusahaan di sana "


Sean melihat jam tangannya


" Lumayan jauh karena tinggalnya agak di pedesaan di sekitar pantai "


Diablo menunjukkan foto lokasinya


" Kenapa sangat jauh dari tempat terakhir bertemu "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Menurut laporan di sana adalah tempat bekerja sehari-hari "


Diablo kembali menunjukkan foto yang lain


" Kenapa sangat jauh "


Sean menatap Diablo


" Menurut laporan otak dari kejadian memang sengaja melakukan itu agar kita tidak bisa melacak keberadaan mereka "


Diablo menjelaskan


" Apa aman jika aku bawa kesini "


*Ting


Lift terbuka


" Jika di bawa secara diam-diam itu akan aman , jika tidak mungkin akan ada penyerangan di perjalanan "


Diablo memberikan kemungkinan


" Mari tuan "


Diablo mempersilahkan Sean masuk ke dalam heli


" Agak susah mengambil keputusan seperti ini "


Sean duduk dan mengenakan perlengkapan di sana


" Diablo "


Sean memanggil


" Saya tuan "


Diablo berteriak karena suara baling-baling yang lumayan keras


" Kita berhenti di kantor dekat sana saja , dan minta siapkan satu sepeda motor untukku "


Sean membuat Diablo terbelalak


" Anda serius tuan "


Diablo memegang pundak Sean


" Aku tidak pernah main-main "


Sean tersenyum


" Anda memang aneh tuan "


Diablo menggerutu


" Aku dengar lho "


Sean melirik Diablo


" Kan emang benar "


Diablo membenarkan kalimatnya


" Semua sudah siap tuan "


Mao duduk di samping Sean


" Kita berangkat "


Diablo menepuk pundak sang sopir heli


" Baik tuan "


Sang sopir heli mengangguk


Selama perjalanan Sean memperhatikan setiap penjuru kota yang terlihat dari tempatnya


" Aku baru pertama naik heli , jika membawa Aniel pasti menyenangkan haha"


Sean terkekeh saat memikirkan Aniel yang akan sangat senang dengan helikopter saat sudah lepas landas


Setelah satu jam perjalanan , akhirnya helikopter mendarat di atap gedung tinggi milik Sean di kota itu


" Mari tuan "


Diablo turun bersama Mao di susul Sean yang masih memperhatikan potret terbaru yang di kirim oleh anak buahnya


" Salam tuan "


Aldo yang kebetulan ada di perusahaan menyambut kedatangan Sean... Sebenarnya kedatangan Diablo


" Apa kendaraan yang aku minta sudah di siapkan "


Diablo menghampiri Aldo


" Sesuai yang anda minta "


Aldo mengangguk


" Oh ya , ini di mana "


Sean menepuk pundak Diablo


" Itu di lokasi tuan "


Diablo menjawab


" Di sana keamanan sudah benar-benar ketat kan "


Sean memastikan kembali


" Sudah tuan "


Diablo menjawab


" Aku akan pergi dengan Mao , kamu bawa motor sendiri saja "


Sean berjalan terlebih dahulu di ikuti Mao


" Tuan yakin "


Diablo memastikan


" Apanya "


Sean melirik Diablo


" Anda kan tidak pernah bawa sepeda motor"


Diablo membicarakan kenyataan


" Kau saja yang tidak tau haha "


Sean terkekeh


" Siapa anak muda itu , dia sangat di hormati oleh tuan Diablo "


Aldo membatin


Sean turun dari atap menuju lantai paling atas


" Kantor anda di sini tuan "


Diablo menunjukkan ruang kerja milik Sean


" Astaga... jangan bilang dia tuan besar "


Diablo membatin


Di setiap kantor Sean memiliki ruang khusus yang bertuliskan riang CEO , ruang CEO tidak dapat di masuki sembarang orang dan selalu mendapat keamanan yang ketat memaki sang CEO tidak pernah hadir di perusahaan


" Wah rapih sekali , dan bersih "


Sean kagum dengan nuansa hitam putih ruang kerja barunya


" Ini baru benar "


Sean meletakkan satu foto dimana ada dirinya , Sbastian dan Aniel


" Dia benar-benar tuan besar "


Aldo menjadi pucat dan bergetar hebat


" Paman Aldo "


Sean duduk di kursinya


" Sa..saya tuan besar "


Aldo membungkuk


" Tidak perlu begitu , aku tidak gila hormat"


Sean terkekeh


" Papa memang tampan dan Aniel sangat cantik hahaha "


Sean terkekeh sendiri melihat foto dirinya beberapa tahun silam


" Ini berkas yang anda harus tau tuan "


Aldo memberikan beberapa berkas


" Hm.... "


Sean membuka berkasnya satu persatu


" Kita berangkat sekarang "


Sean berdiri


" Baik "


Diablo memberikan satu pakaian kasual untuk Sean


Sean masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaian resminya dengan Hoodie putih dan celana hitam


" Tujuanku mampir di sini hanya meletakkan ini , aku tidak boleh buang-buang waktu "


Sean membelai foto yang dia letakkan di atas meja


" Tuan kami benar-benar masih muda "


Aldo membatin


Sean bergegas turun dari lantai paling atas menggunakan lift khusus CEO yang selalu di rawat namun tidak pernah di pakai siapapun


*Ting

__ADS_1


Lift terbuka di lantai paling dasar perusahaan


__ADS_2