
" Nona di belakang kenapa tidak di dudukkan di tempat yang sudah ada , itu berbahaya bagi keselamatan berkendara "
Pak pol menunjuk kursi khusus untuk Aniel
" Dia tadi menangis , jadi saya pangku agar tenang "
Sean memberikan alasannya
" bagaimanapun itu berbahaya , dan lagi anda menyalahi rambu rambu di sebelah sana "
Pak polisi menunjuk sebuah rambu rambu yang tidak terjangkau oleh pengelihatan
" Sudahlah paman , berikan saja "
Sean memberi solusi
" Ini "
Kelvin memberikan enam lembar uang merah
" Maaf tapi saya tidak bisa di sogok "
Polisi itu menolak uang yang di berikan Kelvin
" Aku akan urus , kamu pulang saja "
Kelvin melepaskan sabuk pengamannya
" Oke "
Sean melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil
" Tuan "
Salah satu bodyguard mendekati Sean
" Barangnya biar kami bawa "
Bodyguard yang lain membuka bagasi dan mengambil semua barang-barang Sean
" Makasih paman "
Sean menerima helm dari salah satu bodyguard dan memakainya dengan satu tangan
" Kakak "
Aniel membuka matanya karena suara bising kendaraan
*Jeng jeng
Aniel terkejut melihat sebuah kepala yang menghilang di balik kaca helm bulat yang di pakai Sean
" Hiks... Kakak huaaaaaa..... Kakak mana kakakku kakakku "
Aniel memberontak di dalam pelukan Sean dan memukul mukul kepala Sean
" Ini kakak Aniel "
Sean dengan susah payah melepaskan helm yang dia pakai
" Hiks... Kakak "
Aniel menatap wajah Sean sebentar memastikan itu kakaknya
" KAKAAAAAK "
Aniel memeluk leher Sean dengan erat
" Kenapa "
Kelvin menghampiri Sean
" Dia takut kalau aku pakek helm "
Sean memberikan helemnya kepada paman berkumis
" Aku telponin Diablo dulu "
Kelvin mengeluarkan hp nya
" Oh... Lihat lihat ada pak polisi "
Sean menunjuk para polisi
" Apa hiks... Polisi hiks.. "
Aniel mengangkat wajahnya
" Pak polisi itu tugasnya menertibkan lalu lintas "
Sean membawa Aniel mendekati para polisi
" Halo paman polisi "
Sean menyapa salah satu paman polisi
" Mau salim "
Sean membuat Aniel di gendong menghadap ke depan
" Halo cantik namanya siapa "
Pak polisi menoel pipi Aniel
" A..hisk.. Alinda "
Aniel memperkenalkan namanya dengan sedikit isakan kecil
" Namanya cantik , kamu kelas berapa "
Pak polisi mencoba berbasa-basi
" Ngak sekolah "
Aniel menggeleng
" Umurnya memang berapa "
Pak polisi bertanya
" Baru empat tahun paman "
Sean menjawab
" Ayah kemana memangnya "
Pak polisi bertanya lagi
" Papa sedang sakit , dan adik baru saja keluar dari rumah sakit hari ini , jadi agak rewel "
Sean menjelaskan
" Kamu ini anak nomer berapa "
Pak pol bertanya
" Saya yang pertama , dan adik ini nomer dua "
Sean
" Hei , Diablo sedang dalam perjalanan "
Kelvin menepuk pundak Sean
" Paman beneran mau ngurus ini "
Sean bertanya
" Iya , kamu bilang ke kakek kalau paman pulang telat jadi jangan di tunggu "
Kelvin memasukkan hp nya ke dalam saku
" Tapi paman ke rumah kan "
Sean memastikan
" Mungkin "
Kelvin mengangguk
" Kok mungkin , nanti kakek nungguin paman lho "
Sean menatap Diablo sinis
" Iya iya nanti paman pulang "
Kelvin menggosok rambut Sean kasar
" Itu Diablo , cepet banget "
Kelvin menunjuk mobil Diablo yang baru sampai
" Salim dong sayang "
Sean menuntun Aniel agar mencium tangan pak polisi dan Kelvin
" Ayo pulang "
Sean menyalami pak polisi dan Kelvin dan berlalu menuju Diablo yang sudah siap melajukan mobilnya
" Kita ke toko cake ya paman "
Sean duduk di bangku depan
" Siap "
Diablo melajukan mobilnya menuju toko cake di depan
" Ayo turun paman "
Sean keluar dari mobil
" Paman sekalian , taruh aja belanjanya di sini "
Sean membuka bagasi
" Baik tuan "
Mereka semua meletakkan kantung belanjaan di bagasi mobil
" Ayo masuk paman semua "
Sean mengajak
*Kling
Dentingan lonceng berbunyi
" Paman pesen aja , paman puas puasin makan di sini "
Sean mempersilahkan
" Terimakasih tuan "
Mereka semua membungkuk
Setelah Sean memesan cake dan minuman , Sean duduk dan membiarkan para penjaga memesan dan memakan cake pesanan mereka
" Kakak ngak mau "
Aniel memakan cake nya dengan lahap
" Kakak kenyang "
Sean membersihkan noda cake di pipi Aniel
" Minum "
Aniel menunjuk minuman di depannya
" Minum perlahan "
Sean membantu Aniel meminum jus buah kesukaan Aniel
Setelah makan besar di sana , Sean memesan seluruh cake yang ada di dalam etalase dan yang baru selesai di panggang untuk di bagi bagikan kepada seisi rumah saat pergantian sif jaga nanti
" Tolong kirim ya kakak , ini alamatnya "
Sean memberikan sebuah kertas
" Baik kakak , kami akan buatkan segera "
Kakak kasir tersenyum saat Sean keluar dari toko
" Kira-kira kapan sampainya ya "
Diablo berfikir
" Hahaha Sean tadi minta agar paling lambat nanti malam sebelum jam sepuluh , jadi mungkin mereka akan kebut mulai sekarang "
Sean terkekeh
" Cake nya enak "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Enak , Aniel mau lagi "
Aniel memonyongkan bibirnya
" Nanti ada lagi yang datang , aku juga menghubungi beberapa cake resto langganan , jadi semua orang akan dapat satu kotak "
Sean masuk ke dalam mobil saat Diablo membukakan pintu
" Jadi akan memesan banyak sekali cake "
Diablo menyimpulkan
" Yaps "
Sean mengangguk
" Itu apa kak "
Aniel mulai mengisi suasana yang sepi di dalam mobil dengan semua pertanyaannya
Selama perjalanan Aniel tidak pernah berhenti mengoceh tentang sesuatu yang dia ingat dulu sedikit berbeda sekarang
" Kita sampai "
Sean menunjuk pintu gerbang yang terbuka perlahan
" Ini rumah kita "
Aniel memperhatikan sekeliling
" Iya "
Sean mengangguk
" Masih sama kayak ingatan Aniel "
Aniel menempelkan wajahnya di kaca jendela
" Hahaha "
Sean tertawa melihat Aniel yang menatap sekeliling dengan semangat
" Kita sampai "
Sean membuka pintu
Di sana terlihat bi Aini , pak Sam dan banyak maid menyambut
" Bibi "
Sean menurunkan Aniel dan menyalami bi Aini dan pak Sam
" Nona muda "
Bi Aini berlutut di depan Aniel
" Bibi... Bibi cantik "
Aniel menyentuh hidung bi Aini
" Syukurlah nona saya sangat bersyukur "
Bi Aini memeluk Aniel dengan erat dan tidak lama air mata bi Aini menetes tanda bi Aini sangat bahagia dengan kesembuhan Aniel
" Kemarilah cantik "
Pak Sam memanggil
" Kakek Sam "
Aniel memeluk kaki pak Sam
" Dimana paman Kelvin "
Pak Sam membawa Aniel ke dalam pelukannya
" Paman tadi di sana jauuuuh banget "
Aniel berceloteh ria di dalam gendongan pak Sam
" Ayo masuk kakek "
Sean menggiring pak Sam dan bi Aini agar duduk di sofa ruang tamu
" Aniel mau di sini apa ikut kakak "
Sean menawari
" Kakak mau ke papa "
Aniel bertanya
" Iya "
Sean mengangguk
" Mau ikut "
Aniel menjulurkan tangannya dan Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Bibi akan siapkan makan malam yang enak "
Bi Aini berdiri
" Kakek di sini tunggu paman "
__ADS_1
Pak Sam tersenyum
" Hahaha kakek selalu saja "
Sean tertawa
Sean membawa Aniel menaiki lift dan masuk ke dalam kamar rawat
" Lao , Aloe , key "
Sean memanggil
" Tuan "
Lao , Aloe dan key mendekati Sean
" Papa "
Aniel di turunkan di samping Sbastian
" Papa "
Aniel menatap Sean
" Iya ini papa "
Sean duduk di samping Aniel
" Papa sedang istilahat "
Aniel memegang tangan Sbastian
" Aniel mau cium papa "
Aniel meminta
" Iya boleh "
Sean membantu Aniel mencium pipi tirus Sbastian
" Aniel di sini "
Aniel menunjuk tempat di antara lengan dan tubuh Sbastian
" Iya , kamu kalau tidur di sini "
Sean tersenyum
" Aniel kangen papa "
Aniel duduk sambil memegang lengan Sbastian
" Kakak juga kangen sama papa "
Sean memeluk Aniel
" Papa sakit apa "
Aniel mendongak menatap Sean
" Papa sekarang harus istirahat sampai sembuh , Aniel doa ya biar papa cepet bangun "
Sean mencium pipi gembul Aniel
" Papa Aniel sayang papa "
Aniel meletakkan kepalanya di atas lengan Sbastian
" Aniel mau tidur sama papa "
Aniel merebahkan dirinya di dalam pelukan Sbastian
" Kapan papa bangun "
Aniel menatap Sean
" Sebentar lagi sayang "
Sean membelai lembut kepala Aniel yang tertutup hijab
" Mau lepas "
Aniel melepaskan hijabnya
" Sini "
Sean mengambil hijab Aniel dan membenarkan rambut panjang Aniel yang berantakan
" Tidurlah "
Sean menaikkan selimut kecil Aniel
" Dimana Mao "
Sean bertanya
" Kakak senior sedang ke kamar mandi "
Aloe menjawab
" Apakah ada masalah selama aku pergi "
Sean mencium kening Sbastian
" Beberapa pembunuh bayaran datang "
Lao menjawab
" Tuan "
Mao masuk dari luar
" Apa perkembangan papa "
Sean duduk di atas sofa
" Tuan lebih baik dari yang lalu "
Mao menjawab
" Apa ada laporan penting "
Sean memijit pelipisnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa
" Iya "
Mao keluar sebentar dan kembali lagi
" Tuan harus melihat ini "
Mao menyerahkan sebuah berkas
" Huft... "
Sean menghela nafas panjang dan membuka berkasnya
Kata demi kata Sean baca , kalimat demi kalimat di telaah oleh mata tajam Sean hingga akhir kalimat yang menyatakan bahwa itu adalah laporan yang akurat dan sudah di selidiki tiga kali dengan hasil yang sama
" Syukurlah "
Air mata Sean menetes membasahi kertas yang dia pegang
" Tuan "
Mao duduk di samping Sean
" Aku tau itu dia Mao "
Sean memeluk erat Mao dan menumpahkan semua apa yang dia rasakan
" Lalu harus bagaimana sekarang tuan , kami hanya menunggu perintah anda "
Mao mengusap punggung Sean
" Apakah keadaannya sudah aman untuk sekarang "
Sean melepaskan pelukannya
" Sudah tuan "
Mao mengusap air mata Sean
" Panggil Diablo kesini , minta paman Kelvin untuk cepat pulang , aku ingin berbicara "
Sean berdiri
" Akan ku tunggu di ruang kerjaku "
Sean menghampiri Aniel
" Sayang "
Sean membangunkan Aniel
" Kakak "
Aniel membuka matanya
" Kakak akan bekerja di ruang kerja , nanti minta kak key antarkan kamu ke sana ya "
Sean membenarkan posisi tidur Aniel
" Kakak mau kerja "
" Kakak usahakan akan cepat selesai , tapi jika belum selesai panggil kakak ya "
Sean tersenyum
" Iya , sekarang Aniel mau sama papa aja "
Aniel memeluk lengan Sbastian
" Tidurlah yang nyenyak gadis kecil "
Sean mencium kening Aniel
" Babay kakak "
Aniel melambaikan tangannya saat Sean berdiri
" Babay "
Sean berlalu pergi
" Paman Rudi "
Sean memanggil
" Iya "
Rudi mendekat
" Bisakah paman beritahu kak Rohit untuk segera ke ruang kerja Sean "
Sean meminta tolong
" Saya telfonkan "
Rudi mengangguk
" Terimakasih paman "
Sean tersenyum
" Sudah tugas saya tuan "
Rudi mengangguk
Sean masuk ke dalam ruang kerjanya dan langsung mengambil air wudhu lalu melakukan kewajibannya sebagai muslim
*Tok..tok..tok
Suara pintu di ketuk tepat saat Sean melaksanakan salam terakhir
" Masuk "
Sean berdiri dan mengemas alat ibadahnya
" Kami di sini tuan "
Semua orang berdiri di pintu
" Silahkan duduk "
Sean mempersilahkan
" Siapa yang menyelidiki masalah ini paman"
Sean menunjukkan berkas yang tadi
" Ini saya minta Yulias dan Ariana karena mereka kebetulan ada di markas pusat "
Diablo menjawab
" Sean mau bertemu dengan mereka sekarang apa bisa , maksud Sean apakah musuh bisa di kendalikan "
Sean duduk di hadapan mereka berempat
" Musuh dalam kendali , Luis bilang dia akan menangani sesuai perintah anda "
Diablo menjawab
" Dimana Luis sekarang "
Sean menyandarkan punggungnya di sandaran sofa
" Luis ada di markas utama , dia sedang mengamati gerak gerik musuh "
Rohit menjawab
" Kalau begitu Sean mau kesana sekarang "
Sean berdiri dan mengambil jas kerjanya yang bertengger di kursi kerjanya
" Saya akan siapkan heli kopter agar lebih cepat "
Diablo berdiri
" Saya akan hubungi tim elit untuk bersiap "
Rohit berdiri
" Saya akan siapkan perlengkapan anda "
Mao keluar dari ruangan di ikuti Diablo dan Rohit
" Apa aku terlalu gegabah "
Sean menggenggam erat jas kerjanya
" Tidak... Aku harus bergerak sekarang sebelum mereka tau "
Sean memakai jas miliknya dan mengambil koper yang berisi beberapa tanda bukti
Sean keluar dan naik ke lantai tiga untuk berpamitan kepada Sbastian
" Papa sayang , Sean sudah menemukan semuanya , Sean minta doa restu papa "
Sean mencium kening Sbastian
*Dut
jari Sbastian berkedut
" Sean tau papa selalu ada untuk Sean "
Sean tersenyum dan mencium punggung tangan Sbastian
" Tuan , semuanya sudah siap "
Mao masuk ke dalam ruangan
" Key , Aloe dan Lao , aku minta untuk menjaga Aniel dan papa , mungkin aku akan pulang telat , jika Aniel bangun segera telfon"
Sean mencium kening Aniel
" Saya mengerti tuan "
Key mengangguk
" Aku pergi "
Sean berjalan keluar dari kamar rawat
" Kita ke markas utama dulu baru pergi ke lokasi "
Sean berjalan menuruni tangga di iringi Mao
" Tuan "
Diablo menghampiri Sean
" Dua menit lagi helikopter siap di atap "
Diablo memberitahu
" Aku akan pergi ke kakek dulu "
*Tok..tok..tok
Sean mengetuk pintu kamar
" Masuk "
Suara dari dalam mempersilahkan
" Ini Sean kek "
Sean masuk dan menghampiri pak Sam yang sedang duduk di kursi goyang
" Kakek... Sean menemukan ini "
Sean menunjukkan sebuah gambar dari handphonenya
" Memang cantik "
Pak Sam tersenyum
" Bukan kek , Sean menemukan keduanya , mereka ada kek "
Sean membuat pak Sam mematung
__ADS_1
" Kamu serius "
Pak Sam memegang pundak Sean
" Sean ngak pernak main main dengan hal seperti ini kek "
Sean berlutut di depan pak Sam
" Lalu waktu itu apa "
Pak Sam menatap Sean
" Hanya manekin kek , itu sesuatu yang sudah di rancang dengan sempurna , berkali-kali mereka berusaha untuk mencelakai papa , tapi baru sekarang mereka bisa , namun semua yang mereka lakukan itu sia-sia "
Sean menatap mata pak Sam yang mulai berkilau
" Karena sudah ada kamu dan Aniel "
Pak Sam menebak
" Iya , apalagi dengan adanya Aniel membuat semua yang mereka lakukan semakin sulit "
Sean meletakkan kepalanya di atas pangkuan pak Sam
" kakek tidak percaya "
Pak Sam mengelus kepala Sean
" Sean akan pergi untuk memastikan "
Sean mengangkat kepalanya
" Jika itu salah "
Pak Sam memberikan kemungkinan terburuk
" Kita tidak boleh kecewa "
Sean tersenyum
" Kamu sangat hebat cucuku "
Pak Sam mencium kening Sean
" Apapun untuk kalian "
Sean memeluk pak Sam sebentar
" Sean harus pergi kakek "
Sean mencium tangan pak Sam
" Doa kakek selalu untukmu "
Pak Sam mengusap kepala Sean
" Sean tau kek "
Sean tersenyum
" Sean berangkat "
Sean beranjak dari tempatnya dan menuju pintu
" Sean akan pulang terlambat "
Sean berdiri di ambang pintu
" Kakek akan jaga Aniel "
Pak Sam tersenyum
" Terimakasih kakek "
Sean menutup pintu
" Tuan "
Rohit datang dari lantai bawah
" Coba lihat apa yang saya temukan "
Rohit menunjuk lantai dasar yang terlihat empat orang di ikat dengan mulut tersumpal
" Siapa yang mengirim "
Sean menuruni tangga dan berdiri di depan keempat orang yang terikat dan sudah lebam tidak berbentuk
" Otak yang mengirim mereka "
Rohit menjawab
" Hm... Satu wanita "
Sean memperhatikan satu maid yang asing di matanya
" Kapan dia masuk "
Sean mencengkram pipi maid yang ada di depannya
" Baru tadi pagi dan sudah mencoba masuk ke lantai tiga "
Rohit menjawab
" Berani sekali ya haha "
Sean terkekeh
" Saya harus mengirim mereka kemana tuan "
Rohit bertanya
" Ke markas besar saja , di markas pusat sudah penuh "
Sean melepaskan cengkramannya dan mengusap jari jarinya dengan sapu tangan yang di berikan salah satu Maiden di sana
" Makamkan mereka dengan layak di TPU "
Sean berjalan menuju lift di ikuti Mao dan Diablo
" Saya akan mengurusnya tuan "
Rohit di ikuti yang lain membungkuk hormat
" Keamanan di sana sudah di perketat kan "
Sean memastikan
" Sudah tuan , mata mata di sana sudah saya amankan "
Diablo menunjukkan beberapa foto para tahanan
" Apa sudah meletakkan penjagaan di sana"
*Ting
Lift terbuka
" Sudah benar-benar saya amankan , semuanya dalam kendali "
Diablo meyakinkan
" Apa lokasinya dekat dengan perusahaan di sana "
Sean melihat jam tangannya
" Lumayan jauh karena tinggalnya agak di pedesaan di sekitar pantai "
Diablo menunjukkan foto lokasinya
" Kenapa sangat jauh dari tempat terakhir bertemu "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Menurut laporan di sana adalah tempat bekerja sehari-hari "
Diablo kembali menunjukkan foto yang lain
" Kenapa sangat jauh "
Sean menatap Diablo
" Menurut laporan otak dari kejadian memang sengaja melakukan itu agar kita tidak bisa melacak keberadaan mereka "
Diablo menjelaskan
" Apa aman jika aku bawa kesini "
*Ting
Lift terbuka
" Jika di bawa secara diam-diam itu akan aman , jika tidak mungkin akan ada penyerangan di perjalanan "
Diablo memberikan kemungkinan
" Mari tuan "
Diablo mempersilahkan Sean masuk ke dalam heli
" Agak susah mengambil keputusan seperti ini "
Sean duduk dan mengenakan perlengkapan di sana
" Diablo "
Sean memanggil
" Saya tuan "
Diablo berteriak karena suara baling-baling yang lumayan keras
" Kita berhenti di kantor dekat sana saja , dan minta siapkan satu sepeda motor untukku "
Sean membuat Diablo terbelalak
" Anda serius tuan "
Diablo memegang pundak Sean
" Aku tidak pernah main-main "
Sean tersenyum
" Anda memang aneh tuan "
Diablo menggerutu
" Aku dengar lho "
Sean melirik Diablo
" Kan emang benar "
Diablo membenarkan kalimatnya
" Semua sudah siap tuan "
Mao duduk di samping Sean
" Kita berangkat "
Diablo menepuk pundak sang sopir heli
" Baik tuan "
Sang sopir heli mengangguk
Selama perjalanan Sean memperhatikan setiap penjuru kota yang terlihat dari tempatnya
" Aku baru pertama naik heli , jika membawa Aniel pasti menyenangkan haha"
Sean terkekeh saat memikirkan Aniel yang akan sangat senang dengan helikopter saat sudah lepas landas
Setelah satu jam perjalanan , akhirnya helikopter mendarat di atap gedung tinggi milik Sean di kota itu
" Mari tuan "
Diablo turun bersama Mao di susul Sean yang masih memperhatikan potret terbaru yang di kirim oleh anak buahnya
" Salam tuan "
Aldo yang kebetulan ada di perusahaan menyambut kedatangan Sean... Sebenarnya kedatangan Diablo
" Apa kendaraan yang aku minta sudah di siapkan "
Diablo menghampiri Aldo
" Sesuai yang anda minta "
Aldo mengangguk
" Oh ya , ini di mana "
Sean menepuk pundak Diablo
" Itu di lokasi tuan "
Diablo menjawab
" Di sana keamanan sudah benar-benar ketat kan "
Sean memastikan kembali
" Sudah tuan "
Diablo menjawab
" Aku akan pergi dengan Mao , kamu bawa motor sendiri saja "
Sean berjalan terlebih dahulu di ikuti Mao
" Tuan yakin "
Diablo memastikan
" Apanya "
Sean melirik Diablo
" Anda kan tidak pernah bawa sepeda motor"
Diablo membicarakan kenyataan
" Kau saja yang tidak tau haha "
Sean terkekeh
" Siapa anak muda itu , dia sangat di hormati oleh tuan Diablo "
Aldo membatin
Sean turun dari atap menuju lantai paling atas
" Kantor anda di sini tuan "
Diablo menunjukkan ruang kerja milik Sean
" Astaga... jangan bilang dia tuan besar "
Diablo membatin
Di setiap kantor Sean memiliki ruang khusus yang bertuliskan riang CEO , ruang CEO tidak dapat di masuki sembarang orang dan selalu mendapat keamanan yang ketat memaki sang CEO tidak pernah hadir di perusahaan
" Wah rapih sekali , dan bersih "
Sean kagum dengan nuansa hitam putih ruang kerja barunya
" Ini baru benar "
Sean meletakkan satu foto dimana ada dirinya , Sbastian dan Aniel
" Dia benar-benar tuan besar "
Aldo menjadi pucat dan bergetar hebat
" Paman Aldo "
Sean duduk di kursinya
" Sa..saya tuan besar "
Aldo membungkuk
" Tidak perlu begitu , aku tidak gila hormat"
Sean terkekeh
" Papa memang tampan dan Aniel sangat cantik hahaha "
Sean terkekeh sendiri melihat foto dirinya beberapa tahun silam
" Ini berkas yang anda harus tau tuan "
Aldo memberikan beberapa berkas
" Hm.... "
Sean membuka berkasnya satu persatu
" Kita berangkat sekarang "
Sean berdiri
" Baik "
Diablo memberikan satu pakaian kasual untuk Sean
Sean masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaian resminya dengan Hoodie putih dan celana hitam
" Tujuanku mampir di sini hanya meletakkan ini , aku tidak boleh buang-buang waktu "
Sean membelai foto yang dia letakkan di atas meja
" Tuan kami benar-benar masih muda "
Aldo membatin
Sean bergegas turun dari lantai paling atas menggunakan lift khusus CEO yang selalu di rawat namun tidak pernah di pakai siapapun
*Ting
__ADS_1
Lift terbuka di lantai paling dasar perusahaan